Siapa yang Tidak Ingin Traveling Gratis?

Standard

Seharusnya postingan kali ini adalah melanjutkan cerita saya tentang stereotip di Jepang. Namun, saya ingin berbagi sedikit kesan saya setelah membaca sebuah buku karya penulis favorit saya, sekaligus salah seorang inspirasi yang bisa dibilang membentuk pribadi saya hingga seperti sekarang ini. Beliau adalah Kak Trinity.

Saya yakin pasti teman-teman pun sudah tahu siapa sosok Kak Trinity ini. Beliau adalah seorang travel blogger. Namun uniknya dari Kak Trinity adalah, di saat para travel blogger kebanyakan membahas dengan detail bagaimana ‘cara’ jalan-jalan di suatu tempat, Kak Trinity lebih sering membahas hal-hal lucu dan unik dari perjalanan yang pernah ia alami. Sebagai pembaca bukunya, kita serasa ikut mengalami hal-hal tersebut dan jadi ingin juga pergi ke tempat-tempat yang pernah beliau datangi.

Saya ingat pertama kali saya membaca “The Naked Traveler” (buku seri cerita perjalanan Kak Trinity) adalah pada saat saya kuliah. Saat itu saya menjadi benar-benar terinspirasi untuk bisa banyak jalan-jalan dan menuliskan perjalanan saya. Dan karena itulah blog ini lahir :’) Bisa dibilang, Kak Trinity dan karyanya memiliki kedekatan emosional dengan saya dan blog ini (ih ngaku-ngaku 😛 ).

Berkat Kak Trinity dan cerita-ceritanya, saat (kuliah) itu saya makin yakin bahwa saya harus melihat bumi Allah yang begitu luas ini lebih banyak lagi. Singkat cerita, saya yang memang bercita-cita ingin sekali melihat negara Jepang sejak kecil, jadi semakin mantap mengikuti seleksi beasiswa Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang, karena saya sadar saya tidak berasal dari keluarga berlebih, maka saya harus mencari cara agar bisa ke Jepang gratis tanpa memberatkan orang tua.

Baru-baru ini, Kak Trinity merilis sebuah buku terbaru berjudul “69 Cara Traveling Gratis”. Sebagai emak-emak yang sudah punya anak dan jadi lebih sering di rumah, sebenarnya hobi jalan-jalan saya tidak pernah padam ataupun menurun dibandingkan dengan saat masih single dulu. Saya tahu saya harus baca buku ini. Saya harus bisa jalan-jalan (gratis) lagi!

Buku kali ini agak berbeda style-nya dengan buku-buku Kak Trinity sebelumnya. Buku kali ini sengaja dibuat berilustrasi full-colour karena diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia sekarang untuk lebih cinta buku dan tentu saja lebih cinta traveling!

Nah, siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Ada sih, tapi anggap aja sebagian besar BANGET orang suka jalan-jalan ya (maksa), apalagi kalau gratis. Ya kan? Namun tentu saja, namanya manusia itu hidup, pasti punya tanggung jawab yang harus dilakukan sehari-hari, yang menyebabkan kita harus menunggu waktu cuti/libur untuk bisa traveling atau jalan-jalan (kecuali kalau kamu anak konglomerat yang Sabtu-Minggu aja mainnya ke Singapura ya). Lalu bagaimana supaya kita bisa jalan-jalan terus, dan terutama gratis?

Jawabannya mudah saja. Pilihlah profesi yang menyebabkan kamu bisa banyak jalan-jalan! Jika kamu bisa traveling karena tugas dari profesimu itu, maka kamu tidak perlu membayar (setidaknya sebagian) biaya yang normalnya kamu keluarkan untuk traveling pada umumnya. Profesi apa saja itu? Jawabannya ada di buku ini.

Sesuai judulnya, Kak Trinity (dan Kak Yasmin, partner-in-crime per-traveling-an Kak Trinity), menjabarkan berbagai profesi yang berpotensi untuk sering traveling. Dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu-lucu, buku ini sangat ringan dibaca, dan saya pun selesai membacanya hanya dalam beberapa jam saja (sambil diselingi mengasuh anak).

Alhamdulillah, saya pernah mengalami dari beberapa profesi yang disebutkan di buku ini. Dan tak dapat dipungkiri, waktu-waktu ketika saya menjalani profesi ini adalah waktu-waktu terbaik dalam hidup saya.

Pertama, beasiswa. Dengan kesempatan berkuliah dan tinggal di negara orang, saya jadi dapat kesempatan untuk mengeksplor negara tersebut selama beberapa tahun, sehingga sangat banyak tempat-tempat yang saya datangi, yang mungkin tidak bisa saya kunjungi jika saya hanya berlibur ke negara itu. Dan dengan tinggal di negaranya, saya juga merasakan menjadi bagian dari penduduk negara tersebut, yang secara tidak langsung, membuat saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai budaya dan kebiasaan.

Kedua, KKN, atau dalam kasus saya disebut KP (Kerja Praktek). Sebenarnya saya KP sengaja di kota kelahiran agar bisa tinggal di rumah. Saya KP di salah satu foreign oil & gas company di kota kelahiran saya, Balikpapan. Saat itu saya ditugaskan untuk memeriksa sebuah alat di salah satu tempat pengeboran minyak yang terletak di tengah laut. Maka saya pun berkesempatan naik chopper (helikopter) untuk menuju tempat tersebut dan menginap di sana selama 5 hari! Saat itu saya benar-benar wanita sendirian selama 5 hari di antara bapak-bapak dan mas-mas XD Akibatnya, saya mendapat perlakuan istimewa, dong. Dikasih tempat tidur di satu-satunya kamar di kilang minyak itu dengan kamar mandi pribadi (asalnya kamar ini milik pemimpin kilang, tapi bapaknya jadi ngalah sama saya selama saya menginap di sana). Pegawai biasa yang lain tidur di bunk bed di kamar berisi 3 bunk bed dengan kamar mandi luar bareng-bareng.

Walaupun ini disebut kilang minyak, namun jangan salah, fasilitasnya top notch, karena mereka juga sering kedatangan ekspat yang inspeksi ke kilang. Makan tiga kali sehari lengkap dengan pembuka, inti, dan penutup yang dibuatkan oleh chef beneran. Bisa pilih mau Indonesian style atau western style (demi mengantisipasi jika ada bule yang lagi datang dan tidak cocok dengan makanan Indonesia). Makannya pun bisa tambah sepuasnya, bisa request dibikinin telor berbagai macem. Uniknya, saat malam menjelang, kadang kamar saya terasa bergetar jika ombak sedang kencang. Hiii…

Ketiga, lomba. Sejak SD, SMP, dan SMA, saya sering dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat atau pun olimpiade bidang mata pelajaran Matematika dan Fisika. Akibatnya, saya pun beberapa kali dikirim keluar kota untuk mewakili sekolah saya. Bahkan saat SMP, saya pernah masuk TV lokal provinsi untuk mengikuti cerdas cermat tersebut. Salah satu puncaknya, saat SMP, saya mengikuti Olimpiade Sains Nasional dan alhamdulillah lolos dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dan mewakili provinsi saya di tingkat nasional tersebut. Saat itu puncak olimpiade dilaksanakan di Kota Pekanbaru, Riau. Saya yang tidak memiliki kerabat di Kota Pekanbaru, tidak pernah terpikir bisa ke sana, jika bukan karena lomba ini.

Keempat, nikah (bukan jadi simpanan orang kaya, lho ya). Karena suami saya berasal dari kota yang sangaaat jauh dari kota asal saya, saya jadi punya kesempatan berlibur di sekitar kota kelahiran suami, yaitu Ciamis. Salah satu tempat yang berkesan adalah Green Canyon, saat itu kami melakukan body rafting di sungainya. Jika biasanya rafting dengan naik boat, ini hanya badan kita berlapis pelampung telempar-lempar oleh arus sungai. Seru banget! Kalau tidak karena mengenal suami saya, mungkin saya nggak akan seniat ini buat jalan-jalan sampai ke Green Canyon.

Kelima, outing kantor, atau dalam kasus saya outing bersama teman-teman lab saat kuliah S2 di Jepang. Di lab kami ada sebuah tradisi setiap musim panas untuk menginap di penginapan ala Jepang untuk membahas riset sekaligus berlibur, dengan tujuan refreshing agar tidak terlalu mumet membahas riset di lab terus-menerus. Umumnya penginapan ini tidak terletak di kota-kota besar di Jepang, melainkan di kota kecil dan bahkan pedesaan. Jika bukan karena outing lab ini, saya mungkin tidak tahu kota ini ada. Alhamdulillah saya jadi pernah mengunjungi kota-kota non-touristy di Jepang, yang sebenarnya tak kalah indah dengan kota yang sering kamu dengar namanya.

Keenam, peneliti. Masih saat saya S2 di Jepang, sebagai mahasiswa S2, kami juga bagian dari peneliti di lab kami. Beberapa kali kami mengadakan konferensi kecil dan bertemu dengan peneliti dari universitas lain untuk saling bertukar ide dan pemikiran, juga menjalin koneksi.

Di luar keenam ‘profesi’ ini, sebenarnya masih ada lagi seperti kunjungan keluarga/berlibur bersama keluarga. Namun tentu saja teman-teman pernah mengalami ini juga, kan?

Setelah ditulis seperti ini, saya jadi bersyukur sekali akan rejeki jalan-jalan yang sudah Allah kasih ke saya hingga saat ini. Namun, selama masih ada umur, saya masih ingin terus berjalan-jalan dan mengalami berbagai hal unik yang tidak bisa saya dapatkan jika hanya berdiam di rumah saja. Dan dari membaca buku “69 Cara Traveling Gratis” ini, saya menjadi tersadar masih banyak cari lain yang belum pernah saya coba. Saya berjanji akan mencobanya juga mulai sekarang. Saya yakin berkeluarga dan memiliki anak tidak menjadi hambatan kan? Mohon doanya, ya!

Untuk teman-teman yang suka jalan-jalan juga, coba baca buku ini deh, siapa tau ternyata teman-teman juga sudah tanpa sadar mengalami yang dituliskan di buku ini. Kalau malas beli di toko buku, belinya online aja di www.bentangpustaka.com.

Untuk adik-adik yang masih di bawah SMA usianya dan pengen jalan-jalan gratis juga, yuk baca buku ini supaya kalian bisa dapat inspirasi profesi apa yang akan kalian pilih jika sudah dewasa nanti dan bisa mempersiapkannya dari sekarang sesuai bakat dan minat adik-adik, karena tidak pernah terlalu dini untuk merencanakan masa depan. Percayalah pada kakak! *atau ‘tante’ ya? 😦

******

Psst, siapa yang sudah baca buku ini selain saya? Nyadar nggak kalau urutan penulisan profesinya berdasarkan abjad? 🙂

Advertisements

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 1

Standard

Stereotype, atau dalam bahasa Indonesia disebut stereotip, menurut KBBI daring memiliki makna:

n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman berharga yang saya dapatkan berkaitan dengan stereotip ini. Pengalaman ini terjadi saat saya masih tinggal di Jepang, namun hikmahnya masih saya rasakan hingga sekarang.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 3 part, setiap partnya akan menceritakan seseorang yang saya kenal saat saya tinggal di Jepang, yang bantuannya tidak akan pernah saya lupakan.

Pertama kali saya tiba di Jepang untuk tinggal dalam waktu yang lama adalah pada tahun 2013. Bagi yang tidak mengikuti blog ini sejak dulu mungkin tidak tahu, jadi akan saya ceritakan sedikit penyebab saya tinggal di Jepang.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho atau disingkat Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang keberangkatan tahun 2013. Cerita lengkapnya sudah saya tuliskan di blog ini, silakan bagi yang ingin membaca bisa klik tab ‘monbusho’ di blog saya ini.

Saat tinggal di Jepang inilah pertama kalinya saya akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, mengingat kampus saya merupakan kampus negeri yang banyak menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar Jepang, sehingga menerima banyak sekali mahasiswa asing tiap tahunnya. Sebelum ini, saya hanyalah seorang pelajar biasa yang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang homogen. SD dan SMP saya di Balikpapan bersekolah di sekolah swasta yang siswa-siswanya berasal dari kalangan tertentu, saat SMA saya bersekolah asrama di madrasah aaliyah (otomatis teman-teman saya Muslim semua), dan saat S1 saya kuliah di kampus teknik (lagi-lagi bergaul dengan teman-teman yang memiliki keilmuan serupa). Sangat jarang saya bertemu dan berteman dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Mungkin nanti setelah teman-teman selesai membaca tulisan saya ini, teman-teman akan berpikir bahwa saya polos sekali, namun memang begitulah saya, terutama saat kedatangan saya pertama kalinya untuk tinggal di Jepang. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah belajar lebih banyak 🙂

Besar di lingkungan yang homogen membuat saya memiliki stereotip terhadap orang yang saya anggap ‘berbeda’ dari saya. Stereotip ini terjadi sebagai akibat dari hal-hal yang saya lihat, yang menyebabkan saya memiliki anggapan khusus terhadap kalangan tertentu. Sebagai contoh: orang Jepang disiplin dan tepat waktu, orang Amerika pasti berkulit putih, orang yang berwajah India pasti berasal dari negara India, orang Afrika pasti berkulit hitam, dan yang terakhir, inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini, orang berkulit hitam memiliki sifat kasar. Beberapa stereotip ini ada yang benar, namun ada juga yang tidak.

Saya yang dari kecil memperoleh hiburan dari film-film barat, sering sekali melihat orang berkulit hitam yang menjadi penjahat, pengkhianat dari suatu badan, polisi yang semena-mena, pokoknya orang berkulit hitam selalu menjadi antagonis di film-film tersebut. Dari sini saya melihat bahwa tak dapat dipungkiri, media memegang peran penting akan terbentuknya stereotip ini. Ditambah dengan pertama kalinya saya tinggal di LUAR NEGERI sendirian yang mengakibatkan saya menjadi ekstra hati-hati dalam bertindak, saya menjadi agak takut untuk bergaul dengan mereka yang berkulit hitam saat pertama saya bertemu dengan mereka.

Setibanya di Jepang, saya harus belajar Bahasa Jepang selama satu tahun, selama 5 hari dalam seminggu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, sebelum memulai pendidikan S2. Di kelas Bahasa Jepang, saya sekelas dengan teman-teman penerima beasiswa Monbusho dari negara lainnya. Mereka ada yang berasal dari Asia, Amerika latin, dan juga Afrika. Teman yang berasa dari Afrika ini ada lebih dari satu orang, dan mereka semua berkulit hitam.

Saat pertama kalinya saya bertemu dengan teman dari Afrika ini, saya sangat ingat saya berusaha untuk tidak berada di dekat mereka, karena saya sangat takut untuk bergaul dengan mereka. Hingga suatu ketika salah satu dari mereka menyapa saya terlebih dahulu. Oh ya, teman ini laki-laki, sebut saja J.

Dia menyapa dengan, “Salam ‘alaikum.” Saat itu saya terdiam sambil menoleh ke arahnya karena saya tidak menyangka akan disapa duluan. Lagipula saya juga bingung, mengapa dia menyapa saya dengan ucapan demikian, itu ‘kan hanya ucapan yang disampaikan kepada sesama Muslim. “Mengapa dia bisa tahu ucapan itu? Oh mungkin karena saya mengenakan hijab,” pikir saya waktu itu.

Karena terlalu kaget, I end up didn’t answer his greeting at all but only starred at him with blank face. Untungnya J ini tidak berubah menjadi menjauhi saya walaupun saya tidak menjawab salamnya. Dia malah bertanya, “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Bahkan saya tidak menanyakan balik dia dari negara mana saking sebegitu jaga jaraknya saya 😦

And then he said, “You are Muslim, right? You wear hijab. I am Muslim, too.” Dan saya langsung shocked. Ternyata dia Muslim juga walaupun berkulit hitam. Saya saat itu benar-benar tidak menyangka ada orang berkulit hitam yang Muslim. Saya benar-benar tidak tahu bahwa sebagian besar negara di Afrika utara berpenduduk mayoritas Muslim 😦 Maklum, terakhir belajar Geografi saat SMP, dan seingat saya waktu SMA tidak ada pelajaran yang membahas negara-negara di seluruh dunia 😦

Maka sejak dia menyapa saya terlebih dahulu itu, saya mulai membuka hati terhadap teman-teman berkulit hitam di kelas Bahasa Jepang saya lainnya. And turned out they are just as normal as we all are. Tidak ada satu pun yang kasar seperti yang saya lihat di film-film. Mereka juga ramah, bisa bergurau, belajar bareng, juga jalan-jalan bareng.

Karena saya selalu bersama teman-teman ini sebagian besar dalam waktu hidup saya selama satu tahun awal di Jepang, kami jadi benar-benar dekat seperti saudara. Karena kami juga satu asrama (tentu saja laki-laki dan perempuan dipisah, namun bersebalahan gedungnya), kami sering melakukan aktivitas bersama di luar waktu belajar. Dan pertemanan saya dengan J pun semakin normal, semakin seperti saya berteman dengan teman-teman di Indonesia saja. Dia (juga teman laki-laki lainnya) sopan kok terhadap perempuan, jadi saya tidak merasa takut diajak pergaulan yang aneh-aneh seperti yang saya lihat di film (lagi-lagi menyalahkan film 😀 ).

Singkat cerita, tibalah bulan Ramadhan pertama saya di Jepang. Alhamdulillah, terdapat satu masjid yang terletak cukup dekat dengan asrama saya. Kalau naik sepeda memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar, NAMUN harus melewati jalan yang sangat sepi dan pinggirnya terdapat hutan, sawah, dan lahan kosong. Kalau malam, hanya satu dua mobil saja yang melintasi jalanannya.

Sebagai informasi, karena Ramadhan tahun itu bertepatan dengan musim panas (yang mana siang lebih panjang daripada malam), waktu maghrib jatuh pada sekitar pukul 7 malam, isya pukul setengah 9 malam, dan subuh pukul setengah 3 pagi. Tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan menghabiskan bacaan 1 juz Al Qur’an setiap harinya. Oleh sebab itu, karena isya baru pukul setengah 9 malam, shalat tarawih selalu selesai pukul setengah 11, naik sepeda 30 menit, sampai rumah pukul 11 malam. Maka, saya selalu ke masjid beramai-ramai dengan teman Indonesia lainnya (mengingat jalanannya yang sepi seperti yang tadi sudah saya sebutkan dan waktu yang sangat larut). Dan kalau berencana sahur, maka harus bangun jam 2 pagi. Beginilah jadwal saya setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Di masjid ini terdapat kebiasaan di bulan Ramadhan yang hingga kini saya rindukan (selain tentu saja agenda shalat tarawih), yaitu adanya jadwal buka puasa bersama pada hari-hari tertentu, dan yang menyiapkan bergantian setiap negara/komunitas. Misal hari ini komunitas Arab menyiapkan buka puasa, kemudian 3 hari lagi komunitas Pakistan, lalu 3 hari lagi komunitas Mesir, dan tentu saja ada komunitas Indonesia, dan masih banyak negara lainnya.

Suatu hari, saya sedang ‘berhalangan’ (biasalah wanita), padahal hari itu ada jadwal buka puasa dari komunitas negara lain. Biasanya saat ada jadwal buka puasa bersama ini, makanan di masjid selalu berlebih dan tidak habis sehingga sering dibawa pulang oleh peserta tarawih. Saya sih senang saja makanannya jadi bisa dimakan untuk sahur lagi. Bahkan saking banyaknya, kadang dimakan sahur pun masih tidak habis.

Awalnya saya mau tetap ke masjid bersama dengan teman Indonesia lainnya, tapi tiba-tiba saya galau karena merasa tidak enak mengambil makanan gratis padahal tidak berpuasa, jadi saya batalkan janji saya dengan teman Indonesia tersebut, sehingga teman tersebut berangkat ke masjid duluan naik sepeda. Setelah teman saya pergi, saya masih di luar asrama dengan sepeda, muncul-lah J ini dari asrama laki-laki, dan sepertinya dia mau berangkat ke masjid.

Seperti biasa dia menyapa duluan, “Salam’alaikum, Nadine, are you going to the masjid?” Duh saya bingung harus jawab apa, kalau tidak ke masjid, saya terpaksa harus bilang alasan saya, padahal malu banget bilang lagi ‘berhalangan’ ke temen cowok gitu. Kalau saya bilang mau ke masjid, pasti dia ngajak bareng naik sepeda. Akhirnya saya pun jujur saja, “No, I’m not going to the masjid today.” Terus dia nanya lagi, “Why? There’s ifthar schedule today. It’s such a waste if you didn’t come.”

Karena dia bertanya dan saya juga tidak punya alasan lain, akhirnya saya jujur saja ke dia, “Actually I’m not fasting today. You know..that woman thing..” Dan untungnya dia langsung paham. “Ah I see. But it’s okay if you just come to get the food. There are so many leftovers everyday,” said him. Yaa bener juga sih, daripada makanannya terbuang percuma, mendingan saya bantu menghabiskan. Tapi saya tetap bingung bagaimana pulangnya, karena saya takut naik sepeda malam-malam melewati jalanan sepi tersebut.

Saya pun bilang lagi, “But I’m not doing tarawih prayer. I can’t go home alone after dinner since it would be too late and the road is kinda creepy,” ‘Late’ di sini maksudnya ‘sudah larut malam’. Jadi saya bilang ke dia, bagaimana saya bisa pulang habis makan malam, kan sudah malem banget padahal harus melewati jalanan sepi, gitu..

Lalu dia bilang lagi, “It’s ok. Just message me when you want to go home, I’ll go with you,” What??? Jadi dia menawarkan untuk mengantar saya pulang 😥

Ya sudahlah since he insisted (dan karena saya juga lapar 😀 ) saya terima saja ajakan dia ke masjid. Sepanjang perjalanan ke masjid seingat saya kami tidak mengobrol terlalu banyak. Sesampainya di masjid, dia masuk ke ruangan untuk laki-laki, dan saya masuk ke ruangan untuk perempuan.

Oh ya, jangan bayangkan masjid ini berbentuk masjid seperti di Indonesia yang berbentuk lantai luas dengan barisan laki-laki di depan barisan perempuan serta langit-langitnya tinggi ada kubahnya. Masjid kami tidak seperti Masjid Camii di Tokyo, atau Masjid Kobe yang berbentuk layaknya masjid di Indonesia. Masjid kami ini hanyalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa ruangan. Jadi ada ruangan yang dipakai oleh jamaah laki-laki dan ada yang untuk jamaah perempuan.

Singkat cerita, tibalah waktu ifthar, lalu shalat maghrib (saya melipir di pojokan karena tidak shalat), lalu makan malam. Setelah makan malam saya pun mengirim pesan melalui Line ke J, “J, I’m finished. I think I want to go home now.” Tadinya saya tidak berekspektasi di akan membalas. Mungkin dia sudah sibuk ngobrol dengan jamaah laki-laki lainnya jadi tidak akan sering-sering mengecek hpnya. Eh, tidak disangka dia langsung membalas, “Okay, let’s meet outside.”

Kami pun bertemu di luar masjid lalu naik sepeda menuju asrama. Sepanjang perjalanan pulang dia bersepeda dengan jarak sekitar 2 meter di belakang saya dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, which I really appreciate. Biar bagaimana pun juga dia bukan muhrim, tapi saya takut juga kalau pulang sendirian, dan sepertinya dia juga paham hal ini :’)

Begitu kami sudah sampai di jalanan yang agak ramai, saya bilang ke dia,”I think you can leave me here,” soalnya saya nggak enak juga sama dia yang masih harus balik ke masjid untuk shalat tarawih. Dia bertanya, “is it really okay?” “Yeah, it’s okay. And thank you so much,” jawab saya. Kami pun berpamitan dan dia bersepeda balik ke arah masjid.

Hingga saat ini this one particular episode masih sangat teringat jelas di ingatan saya, karena saya merasa mendapat bantuan yang tidak disangka-sangka and even from the least likely person, ditambah bahkan saya pernah su’udzon duluan ke dia 😥 Kalau dipikir-pikir, sampai saya meninggalkan Jepang, saya belum pernah benar-benar membalas perbuatan baiknya. Hhh.. I should’ve treated him better.. Well, I just pray that Allah will repay his good deeds.. Aamiin..

Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini hingga selesai 🙂 Sampai jupa di part 2 yang insya Allah nggak kalah seru ceritanya. Di part 2 teman-teman akan tahu the real struggle of studying in Japan. Kehidupan di Jepang itu tidak melulu seindah pepohonan yang menguning di kala musim gugur, seputih salju di musim dingin, apalagi secerah matahari yang jatuh di antara ranting bunga sakura di musim semi.

Eeaa..

PS: Sekadar informasi, tahun 2015, J sudah menikah dan saat ini telah memiliki seorang anak.

Sorry

Standard

I feel so sorry that I left this blog for quite a long time. I didn’t even finish the 30-day writing challenge I promise myself to finish. Ini semua bermula sejak saya pindah ke kota baru, di mana saya harus mengurus rumah dan anak saya sendirian tanpa ada yang membantu sama sekali. Alhasil, saya tidak bisa menemukan waktu untuk menulis (atau memang niat saya kurang kuat saja). Saat anak tidur dan rumah sudah selesai diurus, saya lebih sering merasa kelelahan dan akhirnya ikut tidur juga.

Things have become better by now. I finally found my regular schedule as my son grows up. That’s why I want to go back here. I still have a lot of drafts I haven’t finished yet 😦 And also many things I want to write that I hope can be useful for ones who read them.

Would you let me start all over again? 😥

Day 13: Thing I am Excited About

Standard

Sebenernya saya agak bingung, apa ya bedanya “thing I am excited about” dengan “things that make me really happy”. Toh keduanya sama-sama membuat senang atau bersemangat 😀 Karena buat saya yg membuat saya senang itu ya otomatis membuat saya semangat, begitupun sebaliknya 😀

Mungkin temen2 di sini yg sudah ngikutin 30 day writing challenge ini dari awal, sudah cukup hapal dengan beberapa hobi saya, yaitu traveling dan making itinerary. Basically, hal-hal inilah yg selalu membuat saya bersemangat dalam menyongsong hari-hari saya #eeaa. Ketika saya tahu saya akan berlibur ke suatu tempat, maka mulai dari persiapannya hingga hari demi hari menuju the D-Day itu benar-benar penuh dengan penantian yg menggembirakan.

Namun, rasa-rasanya saya sudah cukup sering dan banyak mengupas tentang hobi jalan-jalan ini, sehingga sepertinya sudah tidak ada yg bisa dituliskan lagi (untuk saat ini). Akhirnya, setelah berpikir keraass, saya menemukan juga hal yg membuat saya bersemangat namun tidak otomatis membuat saya senang. He he. Karena hal yg membuat bersemangat ini terkadang juga penuh dengan aral lintangan serta cobaan berliku. Eeaa.

So without further a do, here it is…

Baru-baru ini saya menemukan hobi baru mencoba membangkitkan kembali hobi lama saya yaitu berjualan. Awalnya saya kira berjualan itu mudah ya kayak gitu aja, cari supplier, posting foto-foto yg bagus, membuat kata-kata yg mengundang, terkadang memberi diskon pada event-event tertentu, menjadi contact person yg ramah bagi pembeli. Sudah. Setelah saya mempraktikkannya selama beberapa waktu, ternyata berjualan is not easy AT ALL! Not even close ><

Saya jadi ketemu berbagai tipe customer dan jadi belajar bagaimana cara menghandle-nya (psst, tidak semua customer menganggap penjual itu juga manusia yg punya rasa punya hati loh >< ). Saya jadi tahu cara promosi toko itu tidak hanya melalui cara-cara yg gratis, terkadang ada sedikit yg harus kita korbankan demi hasil yg lebih besar lagi. Dan masih banyak lagi.

Herannya, mempelajari trik-trik berjualan ini membuat saya bersemangat, walaupun sebenarnya jatuh-bangun juga, sering bapernya, dan saya jadi pernah merasakan ditusuk dari belakang oleh teman sendiri. Oh yes, life is hard, kawan T_T

Dengan berjualan, saya jadi lebih bisa merasakan bahwa “rejeki itu tidak akan tertukar”. Udah titik. Tapiii bukan berarti kita diam saja menunggu rejeki yg memang sudah ditakdirkan untuk kita itu. Kita harus berusaha semaksimal mungkin meraihnya dengan cara-cara yg kita bisa dan tentunya juga harus halal caranya 🙂

Selain itu, sebisa mungkin apa yg kita jual harus dapat bermanfaat bagi sekitar. Atau minimal hasil dari penjualan kita, kita sisihkan juga bagi yg membutuhkan. Memberi dulu, baru menerima 🙂

Rasa-rasanya sejak benar-benar men-seriusi jualan, saya jadi merasa makin keciilll banget di hadapan Allah. Berbeda dengan ketika saya dulu mendapat “rejeki” yg rutin per bulan dengan jumlah yg sama, saya dulu rasa-rasanya menjalani hidup dengan monoton dan kurang bersemangat. Karena ada perasaan toh tiap bulan saya juga pasti akan dapat segitu (ini sih sayanya aja ya yg cetek imannya, insya Allah temen2 nggak kayak gitu ya 🙂 ). Tapi sejak merasakan tertatih-tatihnya jualan, saya jadi merasa setiap hari saya harus melakukan sesuatu jika ingin dapur terus ngebul toko saya bisa terus buka dan terus memberikan manfaat untuk sekitar.

Mohon doanya ya kawan, semoga saya bisa selalu istiqomah, dan juga bisa lebih bermanfaat lagi bagi orang lain dengan hal yg saya bisa 🙂

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini, sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya ^_^

*****

PS: Untuk yg bertanya-tanya, apa sih yg saya jual, he he, karena postingan ini ceritanya bukan untuk mempromosikan toko saya, saya nggak ingin mencantumkan link menuju toko saya. But since you were asking (emangnya ada gitu yg nanya? 😛 ), saya sekarang punya dua toko online. Yang satu menjual jilbab dengan berbagai ukuran dan banyaakk warna yg insya Allah menutup dada, bisa dicek di http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse . Yang satunya lagi menjual snack impor Jepang yg halal dan juga barang2 lucu unik dari Jepang, bisa dicek di http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

Please kindly check my online store that sells hijab at http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse and sells Japanese halal snacks and unique goodies at http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

meiji-matcha

One of Michiko Goodies’ product 🙂

 

Day 12: Five Blessings in My Life

Standard

Halo, semuanya!!

Kyaaa sudah hampir 2 minggu saya nggak nulis apa-apa di sini T_T Bener-bener dalam 2 minggu ini saya ga sempat buka laptop dalam waktu cukup lama. Jadi ceritanya, saya ada acara keluarga saat Natal kemarin, adik suami saya nikah. Jadi mulai beberapa hari sebelum hari H pernikahannya, kami sekeluarga sudah keluar kota, yaitu ke rumah orang tua suami a.k.a kota asal sang adik di mana ia akan melangsungkan pernikahan.

Kemudian sepulang dari acara pernikahan, saya dan anak saya yg masih berumur 4 bulan sama-sama sakit. Si kecil baru pertama kali naik pesawat disambung kereta. Alhasil, kecapeanlah dia, dan selama di perjalanan kita kan tidak bisa mencegah dia terpapar banyak orang. Akibatnya terkaparlah kami berdua sampai beberapa hari bahkan hingga tahun baru. Barulah pada hari ini kondisi kami sudah agak baikan, jadi saya bisa punya waktu buat buka laptop lagi dan melanjutkan tantangan menulis ini. Fiuuhh..

 Baiklah, langsung aja ke tema hari ini yah, lima berkah dalam hidup saya.

Hmm, sebenarnya, saya merasa banyaakk sekali berkah yang Allah kasih hingga 26 tahun hidup saya sekarang ini. Kalau disuruh milih 5 pastinya susah banget. Dan pada akhirnya,, poin-poin yang saya tuliskan di sini insya Allah ga ada maksud untuk pamer ya >< Insya Allah tujuan saya hanya untuk menyelesaikan tantangan menulis ini mensyukuri apa yg sudah Allah berikan ke saya.

Merasakan tinggal di negara 4 musim

Sebelum saya tinggal di Jepang, saya hanya “melihat” negara 4 musim dari buku bacaan atau film2. Yang saya lihat tentu hanya yg indah-indahnya saja, seperti bagaimana cantiknya bunga-bunga saat musim semi, atau serunya bermain bola salju saat musim dingin.

Setelah mengalami langsung, saya jadi tahu bahwa tinggal di negara 4 musim justru memiliki tantangan yg jauuhh lebih besar daripada negara tropis. Itulah sebabnya orang-orang di negara 4 musim lebih bersemangat dan bekerja keras dalam menghadapi hidup, tidak seperti orang-orang dari negara tropis yg cenderung lay back.

Sebagai contoh, saat musim dingin, tidak semua tanaman bisa tumbuh. Apalagi daerah dengan curah salju yg tinggi, boro-boro bisa ditanami, sawahnya aja ketutupan salju. Memang jika dilihat dengan mata, pemandangan hamparan salju di padang kosong terlihat indah, namun nyatanya, hal itu menyebabkan mereka yg mata pencahariannya bertani, otomatis tidak dapat melakukan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan, negara 4 musim harus mengimpor sayur-sayuran, buah-buahan, dan juga beras dari negara lain. Hal ini berdampak juga ke kami sebagai kosumen. Kerasa banget lho harga sayur dan buah jadi mahal saat musim dingin.

Kemudian pakaian juga harus menyesuaikan musimnya. Lagi-lagi, mungkin mengenakan coat dan sepatu boot terlihat keren bagi kita yg hidup di negara tropis ini. Di Indonesia sih mana mungkin bisa pakai baju kayak gitu kan. Namun kenyataannya, pakai baju-baju kayak gitu tuh ribet lho. Pakai baju kayak gitu kan tidak hanya saat kita lagi jalan-jalan dan foto-foto cantik aja. Mau keluar ke warung dekat rumah aja kita harus pake baju berlapis-lapis ><

Yah demikianlah sebagian struggle yg kami rasakan dengan hidup di negara 4 musim. Lho, bukannya tadi judulnya blessing ya, kok jadi struggle 😀 Iya, dengan hidup di negara 4 musim ini, saya jadi lebih open-mind, jadi tau bahwa hidup di Indonesia itu enaakk banget. Tapi kalau ditanya mau atau ga balik ke negara 4 musim, jawabannya tentu saja, MAU BANGET!! ><

Dianugerahi keluarga yg baik dan saling menguatkan

Saya bersyukur sekali dilahirkan dari ayah dan ibu saya ini, juga punya saudara laki-laki yg alhamdulillah nyambung banget walaupun terpaut usia yg jauh (9 tahun lho hehe). Dan juga sekarang setelah saya membina keluarga sendiri, saya bersyukur dipertemukan dengan suami yg banyak mengajak saya dalam kebaikan. Juga dianugerahi amanah buah hati yg insya Allah menjadi penyejuk mata dan hati. Semoga teman-teman yg membaca artikel ini juga dapat mensyukuri keluarga yg sudah ditakdirkan Allah ya. Aamiin 🙂

Diberikan lingkungan pergaulan yg baik

Lingkungan pergaulan yg baik itu mahal sekali lho harganya, bahkan mungkin tak ternilai oleh uang. Teman-teman sayalah yang membentuk diri saya. Dan mungkin saya tidak akan sampai di titik ini kalau tidak bergaul dengan teman-teman saya sekarang, baik itu teman-teman di Balikpapan dulu (yg alhamdulillah sampai sekarang banyak yg masih keep contact), teman-teman di IC (terima kasih sudah jadi pembuka hidayah untuk saya yg pengetahuan agamanya cetek banget), teman-teman ITB (terima kasih sudah jadi contoh dan panutan bagi saya untuk berkarya di berbagai bidang), dan juga teman-teman di Jepang (terima kasih telah menjadi keluarga di tanah rantau).

Bisa bangun setiap hari tanpa bingung mau makan apa dan tanpa perasaan takut akan bahaya mengancam

Akhir-akhir ini dengan banyaknya berita peperangan di negara lain, kadang saya suka sedih dan miris sendiri, di sini kita bisa menjalani kehidupan normal dengan tenang, sementara di belahan bumi lain ada saudara kita yg mendengar ledakan bom seperti makan 3x sehari. Mungkin mereka setiap hari bangun dengan perasaan was-was, akankah mereka kehilangan anggota keluarganya hari ini, ataukah mereka yg akan meninggalkan anggota keluarganya ><

Kita kan tidak bisa memilih dilahirkan sebagai warga negara apa. Jadi saya bersyukur sekali dilahirkan sebagai orang Indonesia di mana saya bisa mengenal Islam dengan mudahnya. Bagaimana kalau saya lahir jadi orang Palestina, yg negaranya direbut oleh orang lain? Lalu bagaimana kalau saya lahir jadi orang Jepang, okelah saya terlahir di negara maju dan aman dari perang, namun akankah saya bertemu Islam hingga akhir hayat saya?   ><

Tubuh yang sehat

Dan yang terakhir adalah nikmat kesehatan yg seringkali kita sepelekan. Banyak sekali orang yg kondisi fisiknya tidak sebaik saya, namun mereka tetap bersemangat hidup dan bisa berkarya dengan segala keterbatasan yang mereka punya. Kita sebagai orang yg dikaruniai kesehatan dan tubuh yg berfungsi sebagaimana mestinya, seharusnya bisa lebih bersyukur dan juga tidak mau kalah bersemangat dalam menjalani hidup 🙂

Day 11: What If…

Standard

Udah hari ke-11, saya makin bingung harus mengawali setiap postingan dengan kalimat apa 😀 Tapi alhamdulillah, nggak nyangka, ternyata saya masih semangat menulis hingga hari ke-11 ini 🙂 yay!

Tema hari ini adalah, “sesuatu yang kita selalu merasa “kalau aja…”” Hmm..sejujurnya, banyaakkk banget yg saya kepikiran “kalau aja” ini >< Duh, emang ya manusia, selalu aja ga puas sama apa yg dimiliki, selalu aja rumput tetangga kelihatan lebih hijau 😦 Saya sadar sih kita seharusnya nggak boleh seperti ini. Rasulullah sendiri melarang umatnya untuk berandai-andai bukan?

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Jadi selama ini sih, meskipun ada selentingan perasaan ”kalau aja” di hati saya, saya selalu berusaha menyingkirkannya. Karena saya juga merasa, kita sebagai manusia tidak pernah tahu yg mana yg terbaik untuk kita. Segala yg terjadi di hidup kita, sudah pasti atas takdir Allah semata.

Jadiiii…supaya postingan ini nggak tersia-sia, saya mau ngebalik deh konotasi “kalau aja”-nya 😀 Bukan “kalau aja saya begini”, tapi “kalau aja saya nggak begini”, kayaknya akan lebih menimbulkan semangat positif ya 🙂 Mudah-mudahan… 🙂

Yang pertama, kalau aja saya nggak sekolah SMA di MAN Insan Cendekia Serpong (IC), kayaknya saya nggak akan tahu gimana saya bisa mewujudkan impian saya buat melihat salju, karena kalau saya nggak sekolah di IC, saya mungkin ga akan tahu informasi beasiswa sekolah di luar negeri.

Yang kedua, kalau aja saya nggak kuliah di ITB, saya mungkin juga ga akan bisa bener-bener sampai ke Jepang, karena dengan saya berkuliah di ITB, saya jd bisa les bahasa Jepang di BLCI yg notabenenya deket kampus, jadi ketemu sama temen-temen yg juga tertarik buat ke Jepang, jd punya pengalaman nge-guide mahasiswa Jepang, dan lain sebagainya. Dan kalau saya nggak kuliah di ITB, saya juga ga akan ketemu sama suami saya ><

Yang ketiga, kalau aja saya nggak ke Jepang, saya mungkin ga akan pernah nyadar bahwa bumi Allah itu luaass banget >< Saya mungkin ga akan ketemu temen-temen luar biasa yg banyak menginspirasi. Saya mungkin nggak akan ketemu temen-temen Monbusho yg foreigner, yg walaupun bukan Muslim tapi sangat sangat menghormati keterbatasan saya sebagai seorang Muslim :’) Wah, kalau saya disuruh ngelist hal-hal yg saya syukuri dengan rejeki Allah mencicipi Jepang kemarin, kayaknya akan butuh postingan tersendiri :’)

Untuk saat ini, saya mau mensyukuri dulu kembalinya saya ke Indonesia. Walaupun culture shock (sebagian besar temen saya yg kembali dari Jepang ke Indonesia rata-rata merasakan yg sama 😛 ), tapi di mana pun sama-sama di bumi Allah kan? Yang penting, apa pun aktivitas kita, dapat memberikan keberkahan bagi diri sendiri maupun sekitar. Lagipula, walaupun Indonesia ini semrawut, kalau dibandingkan dengan negara konflik, masih jauh lebih mending kan? Kita masih bisa tidur tanpa ketakutan akan melihat matahari lagi nggak besok 😥

Baiklaahh..demikian kontemplasi hari ini. Sampai ketemu di postingan hari berikutnya :’)

Day 10: Something for Which I Feel Strongly

Standard

Halo, semua!

Kembali lagi dengan Nadine di sini. Alhamdulillah, sudah sepertiga jalan melalui tantangan ini ^_^ Tema hari ini adalah (kalau diterjemahin kira-kira) “sesuatu yang kita yakini” atau bisa juga “sesuatu yang kita pegang teguh” kali yah.

Untuk saya, hmm, saya adalah orang yang selalu berpegang pada impian dalam melalui hari-hari saya #eeaa. Sebagai contoh, dulu saya mimpi pengen liat salju gara-gara baca buku cerita anak-anak yg ngegambarin salju dan juga nonton film natal anak-anak yg selalu aja settingnya lagi winter bersalju. Selama belasan tahun ada satu perkataan yang selalu saya ingat dan membuat saya bersemangat dalam menggapai mimpi saya itu,

“Bermimpilah setinggi langit, karena jika kamu terjatuh, kamu masih akan berada di antara bintang-bintang”

Perkataan ini jika dimaknai secara harfiah artinya walaupun kita terjatuh, kita masih akan melihat sesuatu yg indah yaitu bintang-bintang. Dan jika dimaknai secara implisit, jika punya impian, sekalian yg tinggi aja, karena walaupun impian yg tinggi itu tidak terkabul, kita masih akan memperoleh hal lain yg juga tidak kalah indahnya.

Oleh sebab itu, saya pegang terus impian sederhana masa kecil saya itu. Nggak tau caranya, pokoknya suatu saat saya harus bisa melihat salju dengan mata kepala saya sendiri.

Long story short, mulai dari SMA, saya semakin melihat peluang ke luar negeri bukan hal yg  mustahil. Oya, sekadar gambaran saja, saya berasal dari keluarga menengah, jadi jalan-jalan keluar negeri (bahkan “cuma” ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia) bukan tujuan utama liburan kami. Apalagi ke negara yg bisa lihat salju. Selain itu, jaman saya remaja dulu, traveling keluar negeri belum banyak pilihan murahnya seperti sekarang. Nah sejak SMA, saya jadi semakin diperkenalkan akan adanya beasiswa studi keluar negeri. Perlahan-lahan saya semakin melihat bahwa impian saya bisa jadi kenyataan.

Alhamdulillah, setelah berbagai perjuangan meraih beasiswa saya lalui, ternyata ke Jepang melalui beasiswa MEXT/ Monbusho lah rejeki saya. Tentu saja rejeki ini tak lepas dari takdir Allah, namun mungkin jika dulu saya nggak pernah bermimpi bisa melihat salju, saya nggak akan kepikiran untuk keluar negeri sama sekali.

Karena itu, untuk adik-adik di luar sana yg kebetulan sampai di artikel ini, bermimpilah setinggi-tingginya, lalu kerahkan usaha maksimalmu untuk meraih mimpi itu. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha 🙂

ski

I miss skiing so badly 😥