Tag Archives: traveling

Day 10: Something for Which I Feel Strongly

Standard

Halo, semua!

Kembali lagi dengan Nadine di sini. Alhamdulillah, sudah sepertiga jalan melalui tantangan ini ^_^ Tema hari ini adalah (kalau diterjemahin kira-kira) “sesuatu yang kita yakini” atau bisa juga “sesuatu yang kita pegang teguh” kali yah.

Untuk saya, hmm, saya adalah orang yang selalu berpegang pada impian dalam melalui hari-hari saya #eeaa. Sebagai contoh, dulu saya mimpi pengen liat salju gara-gara baca buku cerita anak-anak yg ngegambarin salju dan juga nonton film natal anak-anak yg selalu aja settingnya lagi winter bersalju. Selama belasan tahun ada satu perkataan yang selalu saya ingat dan membuat saya bersemangat dalam menggapai mimpi saya itu,

“Bermimpilah setinggi langit, karena jika kamu terjatuh, kamu masih akan berada di antara bintang-bintang”

Perkataan ini jika dimaknai secara harfiah artinya walaupun kita terjatuh, kita masih akan melihat sesuatu yg indah yaitu bintang-bintang. Dan jika dimaknai secara implisit, jika punya impian, sekalian yg tinggi aja, karena walaupun impian yg tinggi itu tidak terkabul, kita masih akan memperoleh hal lain yg juga tidak kalah indahnya.

Oleh sebab itu, saya pegang terus impian sederhana masa kecil saya itu. Nggak tau caranya, pokoknya suatu saat saya harus bisa melihat salju dengan mata kepala saya sendiri.

Long story short, mulai dari SMA, saya semakin melihat peluang ke luar negeri bukan hal yg  mustahil. Oya, sekadar gambaran saja, saya berasal dari keluarga menengah, jadi jalan-jalan keluar negeri (bahkan “cuma” ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia) bukan tujuan utama liburan kami. Apalagi ke negara yg bisa lihat salju. Selain itu, jaman saya remaja dulu, traveling keluar negeri belum banyak pilihan murahnya seperti sekarang. Nah sejak SMA, saya jadi semakin diperkenalkan akan adanya beasiswa studi keluar negeri. Perlahan-lahan saya semakin melihat bahwa impian saya bisa jadi kenyataan.

Alhamdulillah, setelah berbagai perjuangan meraih beasiswa saya lalui, ternyata ke Jepang melalui beasiswa MEXT/ Monbusho lah rejeki saya. Tentu saja rejeki ini tak lepas dari takdir Allah, namun mungkin jika dulu saya nggak pernah bermimpi bisa melihat salju, saya nggak akan kepikiran untuk keluar negeri sama sekali.

Karena itu, untuk adik-adik di luar sana yg kebetulan sampai di artikel ini, bermimpilah setinggi-tingginya, lalu kerahkan usaha maksimalmu untuk meraih mimpi itu. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha 🙂

ski

I miss skiing so badly 😥

Advertisements

From Japan to Korea (Pre-preparation)

Standard

Yeay, akhirnya bisa nulis blog lagi! Dan kembali lagi di cerita jalan-jalan saya berikutnya 🙂

Setelah suami saya kembali ke Indonesia pada tanggal 8 April, kehidupan saya pun berjalan seperti biasa lagi. Bahkan setelah memasuki semester baru ini, saya langsung sibuk dengan kuliah, tugas-tugas, dan tentu saja penelitian >_< Tanpa terasa sebulan pun berlalu dengan cepatnya.

Memasuki bulan Mei, ada sebuah pekan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Jepang. Pada pekan ini, bisa dipastikan tidak ada jadwal sekolah, kuliah, lab, maupun kantoran. Ia adalah…. GOLDEN WEEK!!!

Ya, Golden Week adalah satu-satunya liburan tanggal merah terpanjang di Jepang >_< Meskipun Jepang memiliki Summer Holiday, Winter Holiday, maupun Spring Recess, sebenarnya pada waktu-waktu tersebut lab-lab tetap saja bekerja 😦 Jadi kami para mahasiswa S2 dan peneliti cuma bisa benar-benar libur saat Golde Week ini >_<

Selalu sama tiap tahunnya, golden week ini jatuh pada tanggal 29 April dan 3-6 Mei. Kebayang kan kalau hari di antara tanggl 29 hingga tanggal 2 tersebut adalah sabtu dan minggu, bisa dipastikan kita mendapat seminggu penuh libur. Namun sayangnya, tahun ini tanggal 29 April adalah hari Selasa, dan tanggal 3 Mei adalah hari Sabtu. Jadi kami tetap memiliki jadwal kuliah di antara hari tersebut 😦

Sebenarnya, pada awalnya saya tidak berniat pergi ke mana-mana Golden Week kali ini. Ke mana-mana itu literally, di kamar saja maksudnya, mengingat pengalaman Golden Week tahun lalu. Secara Golden Week adalah waktu liburan panjangnya orang Jepang, semuaaaaa orang jalan-jalan ke tempat wisata. Alhasil, di mana-mana penuh sama orang, dan yang ada malah ga bisa menikmati tempat wisatanya. Mau naik kereta jadi ngantri panjang, di kereta belum tentu dapat tempat duduk, dan susah nyari spot foto yang bagus. Fiuh.

Hingga tiba-tiba, tepat 2 minggu sebelum Golden Week, yaitu hari Kamis, 17 April, ada seorang teman yang bertanya, udah ada rencana ke mana Golden Week nanti? Dan tiba-tiba saya pun merasa sangat sayang melewatkan liburan panjang seperti ini hanya diam di rumah. Bukan saya banget! Katanya hobi traveling? Liburan sesempit apa pun harus banget lah dipake jalan-jalan. Hehe 🙂

Mengingat Jepang yang di mana-mana bakal penuh saaat Golden Week, entah dapat ilham dari mana, saya langsung kepikiran, oke, saya mau ke Korea!

Hwaa random banget yah! Baru kali ini saya memutuskan pergi segitu “jauh” hanya dalam waktu singkat. Benar-benar cuma satu hari 😀

Well, sebenernya Korea-Jepang emang ga bisa dibilang jauh. Secara naik pesawat cuma 2 jam kurang, rasanya cuma kayak ke provinsi lain di Indonesia deh 😀 Namun karena ini judulnya adalah ke negara lain, tetep aja ada beberapa hal yang perlu dicek sebelum bener-bener beli tiket dan capcus 😀

Nah jadi kali ini, karena judul postingan ini pun masih “Pre-preparation”, saya akan membagikan “Tips Bepergian Mendadak ke Luar Negeri”. Semoga bermanfaat 😀

Tips Bepergian Mendadak ke Luar Negeri

Oke, jadi tips ini sebenarnya hanya berlaku bagi traveler independen dan orang “biasa” seperti saya. Hehe. Makudnya orang “biasa” ini adalah, saya bukan pejabat, bukan artis, bukan orang yang sangat kaya, bukan bepergian dalam rangka tugas dari kantor, dan tidak punya hubungan dengan embassy mana pun di dunia ini. Karena kalau untuk orang-orang dengan kriteria di atas kayaknya mau pergi besok juga bisa aja sih 😀

Satu. Pertama-tama, menurut saya pribadi (jadi silakan aja kalo ada yang ga setuju ya. hehe.), kamu boleh memutuskan secara mendadak untuk traveling ke luar negeri kalau kamu memenuhi salah satu kriteria berikut ini 😀

  1. Sudah pernah ke luar negeri sebelumnya.Karena apa? Agar kamu sudah pernah punya pengalaman bagaimana mengurus visa (kalau memang ke negara yang butuh visa), bagaimana melalui pemeriksaan di imigrasi di bandara, barang-barang apa yang sebaiknya dihindari dibawa, dan bagaimana ketika berhadapan dengan atmosfer baru di negara tersebut.
  2. Kalau kamu belum pernah ke luar negeri sebelumnya, tenang, kamu tetap boleh bepergian mendadak, asal kamu adalah orang yang nekad, cepat beradaptasi, dan berani menghadapi tantangan apa pun yang mungkin munculselama traveling. Remember, traveling is full of surprising thing you never expect 😀

Nah kalau kamu memenuhi salah satu kriteria di atas, selamat! The world is waiting for you to explore 😉

Dua. Pastikan apakah kamu butuh visa atau tidak untuk ke negara tersebut, dan jika butuh visa, apakah persyaratannya mudah dipenuhi. Coba cek website kedutaan besar negara bersangkutan. Di sana tercantum dokumen-dokumen apa saja yang dibutuhkan. Banyak sekali negara yang mengharuskan kita sebagai warga Indonesia untuk membuat visa dengan banyaaakk sekali dokumen yang harus dikumpulkan. Kemudian, bisa juga telepon langsung embassy negara tersebut untuk bertanya, biasanya visanya bisa jadi dalam berapa hari. Jika kamu punya waktu hanya 2 minggu seperti saya, dan kamu bukan pengangguran, coba perhitungkan apakah sempat untuk mempersiapkan semua dokumennya, plus bolak-balik ke embassy negara tersebut.

Nah tapi sekarang sudah banyak sekali agen travel yang bisa membantu kita mengurus visa ini. Namun tetap saja kita harus mempersiapkan dokumennya, dan jika ada dokumen yang tidak lengkap, tetap saja dapat menghambat kepergian kita.

Tiga. Pastikan kamu tahu akan tinggal di mana selama di sana. Terutama untuk wanita dan apalagi seorang muslimah berhijab seperti saya, kita tidak bisa begitu saja pergi ke negara orang terus ntar tidur sembarangan di pinggir jalan. Hehe. Kita harus punya tempat bernaung yang proper karena kebutuhan kita untuk menutup aurat. Atau jika kamu wanita tidak berhijab pun, tetap saya tidak bisa tidur di tempat sembarangan 🙂

Untuk tempat tinggal ini, kamu bisa coba cari tumpangan ke teman yang tinggal di negara tersebut #eh 😀 Atau tentu saja mulai searching-searching hostel atau hotel murah sesuai budget dan preferensimu.

*****

Yah sepertinya sekian saja tips-tips dari saya. Sedikit kan? Memang traveling itu gampang dan sama sekali nggak ribet kok. Asal ada niat, diikuti dengan usaha mencari tahu (contohnya kalau kamu nyasar ke blog ini, berarti kamu sudah melakukan usaha mencari tahu ini 😀 ), kemudian usaha menabung (jalan-jalan butuh uang juga walopun ga mesti mahal 😉 ), dan tentu saja berdoa, karena tanpa seijin-Nya, kita tak akan punya daya dan upaya 🙂

Okay, sampai jumpa di postingan berikutnya tentang “Persiapan Jalan-jalan ke Korea dari Jepang” 🙂 Stay tunned!

IMG_5782

Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 2)

Standard

Melanjutkan postingan sebelumnya

Belum begitu lama setelah “tamparan” itu berlalu dan masih membekas di benak saya, suatu ketika saya sedang mengobrol santai dengan sahabat seiya-sekata saya di sini, Kak Riska 😉 Ketika itu yang kami bicarakan adalah tentang fashion 😀 Kak Riska ini sama seperti saya, seorang jilbaber juga, yang juga punya prinsip sama dengan saya untuk selalu mengenakan jilbab panjang menutup dada dan tidak transparan. Bedanya dengan saya, pakaian Kak Riska selalu warna-warni. Maklumlah, beliau berasal dari universitas dan jurusan yang mayoritas mahasiswanya adalah wanita. Sedangkan saya, jurusan Teknik Elektro yang wanitanya hanya sekian belas dari jumlah keseluruhan mahasiswa 100-an lebih, ditambah beban kuliah, praktikum, dan tugas-tugas yang menyita pikiran, tidak pernah membuat saya merasa punya waktu lebih untuk tampil stylish. Hehe..

Bukan berarti saya tidak feminin dan tidak bisa mix-and-match baju. Saya juga suka pakai rok, tapi baru saya sadari, rok yang saya miliki dominan berbahan jeans dan berwarna navy, hitam, atau abu-abu, alias warna-warna yang bisa dipakai dengan baju apa saja. Jadi biasanya saya hanya mix-and-match atasan dan jilbabnya. Jika saya pakai baju warna pink, jilbabnya juga pink. Hanya begitu saja.

Memang dalam Islam kita tidak diwajibkan memakai pakaian matching from head to toe. Di mata Allah yang penting menutup aurat dengan sempurna. Tapi ternyata, memakai pakaian yang lebih cerah berpengaruh ke mood juga ya. Entah kenapa lebih ada perasaan terbawa optimis dan ceria jika melihat orang yang berpakaian menarik. Semua ini baru saya sadari setelah saya mengenal Kak Riska, yang bajunya macem-macem namun tetap dalam “koridor” 😀

Pembicaraan pun berlanjut ke perkembangan  fashion hijab di Indonesia yang semakin variatif dengan makin banyaknya desainer yang masing-masing punya karakter sendiri. Jadi kita tinggal pilih yang sesuai dengan selera kita. Hingga tiba-tiba Kak Riska menyebutkan suatu brand baju muslimah yang punya tagline “Syar’i dan Stylish”. Herannya, saya kok belum pernah denger sebelumnya >_< Kak Riska pun menunjukkan akun instagram brand tersebut, dan sampailah saya pada instagram dan blog founder sekaligus desainernya, Kak Fitri Aulia.

Pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta. Hehe.. Karena benar seperti tagline-nya, Kak Fitri sendiri selalu pakai baju yang stylish namun tetap syar’i. Beliau selalu memakai pakaian longgar dengan jilbab panjang yang tidak transparan dan menutup dada serta punggung.

Karena ketertarikan saya yang begitu besar pada brand ini, saya pun mulai membaca setiap postingan di blog Kak Fitri hingga awal mula blog tersebut dibuat. Bahkan saya jadi menonton semua video youtube yang ada Kak Fitrinya >_<

Saya jadi tahu bahwa beliau memiliki mimpi untuk berkarya di bidang yang ia minati yaitu fashion, dengan tetap mengedepankan syariat Islam. Dan saya kagum dengan konsistensi Kak Fitri dalam mengembangkan bisnis ini bersama suaminya. Dari blog beliau saya jadi mengikuti brand-nya yang sejak awal berdiri hanya berupa online shop hingga sekarang sudah punya toko sendiri, dari yang pegawainya masih sedikit hingga sekarang sudah banyak. Saya jadi tahu kalau tim Kak Fitri punya kegiatan pengajian mingguan (bener ga, Kak?). Saya sangat terinspirasi akan kegiatan positif yang beliau terapkan pada pegawai yang tidak melulu soal bisnis, namun juga sesekali mengadakan tadabbur alam. Dan yang lebih mengena lagi, Kak Fitri ternyata baru mengenakan jilbab pada tahun 2008, namun sekarang sudah dapat memberikan manfaat bagi pengguna jilbab lainnya. Sementara saya yang sudah berjilbab dari SMP ini tidak pernah terpikir melakukan yang sama T_T

Ada satu kesamaan saya dan beliau. Beliau dan suaminya menikah di umur yang sama dengan saya dan suami saya menikah. Saya 22 tahun dan suami saya 24 tahun. “Hanya” dalam kurun waktu 3 tahun dari pernikahan mereka, dengan ikhtiar bersama, mereka dapat membangun sebuah brand yang kini mulai dikenal masyarakat. Hal ini membuat saya jadi mewek kangen suami di tanah air ingin membangun sesuatu yang bermanfaat bersama suami saya juga kelak. Terbayang betapa menyenangkannya merajut mimpi bersama dan berikhtiar bersama mewujudkannya 🙂

Setelah “tamparan” beberapa waktu lalu, ditambah dengan inspirasi yang saya dapat dari membaca blog Kak Fitri, saya semakin menyadari bahwa tiap orang dapat bermanfaat dengan cara dan kekuatannya sendiri. Dan ketika kita sudah menetapkan jalan dalam meraih mimpi yang kita cita-citakan, konsistenlah dalam melaksanakannya.

Saya jadi teringat kembali niat saya membuat blog ini hampir 2 tahun yang lalu.

Saya sangat hobi traveling. Hal yang lebih menyenangkan dari traveling adalah merencanakan traveling itu sendiri. Awal-awal saya menulis di blog ini saya begitu rajin menuliskan tips-tips jalan-jalan dan juga report dari jalan-jalan yang pernah saya lakukan. Alhamdulillah, jika melihat “Top Post dan Pages” dari blog saya, sebagian besar orang-orang membaca postingan saya tentang trip yang pernah saya lakukan. Dan jika melihat “Search Engine Terms”, kebanyakan orang menemukan blog saya karena kata kunci beberapa tempat yang pernah saya kunjungi. Namun, seiring dengan pindahnya saya ke Jepang, meskipun saya melakukan trip minimal 1 bulan sekali, saya jarang sekali menuliskannya karena kesibukan studi saya di sini >_<

Sekarang saya jadi bersemangat kembali untuk terus update cerita jalan-jalan saya, dan juga menuliskan perjalanan terdahulu yang belum sempat saya tulis, insya Allah. Seperti yang saya lihat di salah satu video wawancara Kak Fitri ketika ditanya tips sukses menjadi blogger, yaitu dengan konsisten untuk terus meng-update blog kita itu sendiri 🙂

Bismillah, insya Allah tidak ada yang terlambat dalam memulai sesuatu yang baik! ^_^