Tag Archives: travel

Day 12: Five Blessings in My Life

Standard

Halo, semuanya!!

Kyaaa sudah hampir 2 minggu saya nggak nulis apa-apa di sini T_T Bener-bener dalam 2 minggu ini saya ga sempat buka laptop dalam waktu cukup lama. Jadi ceritanya, saya ada acara keluarga saat Natal kemarin, adik suami saya nikah. Jadi mulai beberapa hari sebelum hari H pernikahannya, kami sekeluarga sudah keluar kota, yaitu ke rumah orang tua suami a.k.a kota asal sang adik di mana ia akan melangsungkan pernikahan.

Kemudian sepulang dari acara pernikahan, saya dan anak saya yg masih berumur 4 bulan sama-sama sakit. Si kecil baru pertama kali naik pesawat disambung kereta. Alhasil, kecapeanlah dia, dan selama di perjalanan kita kan tidak bisa mencegah dia terpapar banyak orang. Akibatnya terkaparlah kami berdua sampai beberapa hari bahkan hingga tahun baru. Barulah pada hari ini kondisi kami sudah agak baikan, jadi saya bisa punya waktu buat buka laptop lagi dan melanjutkan tantangan menulis ini. Fiuuhh..

 Baiklah, langsung aja ke tema hari ini yah, lima berkah dalam hidup saya.

Hmm, sebenarnya, saya merasa banyaakk sekali berkah yang Allah kasih hingga 26 tahun hidup saya sekarang ini. Kalau disuruh milih 5 pastinya susah banget. Dan pada akhirnya,, poin-poin yang saya tuliskan di sini insya Allah ga ada maksud untuk pamer ya >< Insya Allah tujuan saya hanya untuk menyelesaikan tantangan menulis ini mensyukuri apa yg sudah Allah berikan ke saya.

Merasakan tinggal di negara 4 musim

Sebelum saya tinggal di Jepang, saya hanya “melihat” negara 4 musim dari buku bacaan atau film2. Yang saya lihat tentu hanya yg indah-indahnya saja, seperti bagaimana cantiknya bunga-bunga saat musim semi, atau serunya bermain bola salju saat musim dingin.

Setelah mengalami langsung, saya jadi tahu bahwa tinggal di negara 4 musim justru memiliki tantangan yg jauuhh lebih besar daripada negara tropis. Itulah sebabnya orang-orang di negara 4 musim lebih bersemangat dan bekerja keras dalam menghadapi hidup, tidak seperti orang-orang dari negara tropis yg cenderung lay back.

Sebagai contoh, saat musim dingin, tidak semua tanaman bisa tumbuh. Apalagi daerah dengan curah salju yg tinggi, boro-boro bisa ditanami, sawahnya aja ketutupan salju. Memang jika dilihat dengan mata, pemandangan hamparan salju di padang kosong terlihat indah, namun nyatanya, hal itu menyebabkan mereka yg mata pencahariannya bertani, otomatis tidak dapat melakukan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan, negara 4 musim harus mengimpor sayur-sayuran, buah-buahan, dan juga beras dari negara lain. Hal ini berdampak juga ke kami sebagai kosumen. Kerasa banget lho harga sayur dan buah jadi mahal saat musim dingin.

Kemudian pakaian juga harus menyesuaikan musimnya. Lagi-lagi, mungkin mengenakan coat dan sepatu boot terlihat keren bagi kita yg hidup di negara tropis ini. Di Indonesia sih mana mungkin bisa pakai baju kayak gitu kan. Namun kenyataannya, pakai baju-baju kayak gitu tuh ribet lho. Pakai baju kayak gitu kan tidak hanya saat kita lagi jalan-jalan dan foto-foto cantik aja. Mau keluar ke warung dekat rumah aja kita harus pake baju berlapis-lapis ><

Yah demikianlah sebagian struggle yg kami rasakan dengan hidup di negara 4 musim. Lho, bukannya tadi judulnya blessing ya, kok jadi struggle 😀 Iya, dengan hidup di negara 4 musim ini, saya jadi lebih open-mind, jadi tau bahwa hidup di Indonesia itu enaakk banget. Tapi kalau ditanya mau atau ga balik ke negara 4 musim, jawabannya tentu saja, MAU BANGET!! ><

Dianugerahi keluarga yg baik dan saling menguatkan

Saya bersyukur sekali dilahirkan dari ayah dan ibu saya ini, juga punya saudara laki-laki yg alhamdulillah nyambung banget walaupun terpaut usia yg jauh (9 tahun lho hehe). Dan juga sekarang setelah saya membina keluarga sendiri, saya bersyukur dipertemukan dengan suami yg banyak mengajak saya dalam kebaikan. Juga dianugerahi amanah buah hati yg insya Allah menjadi penyejuk mata dan hati. Semoga teman-teman yg membaca artikel ini juga dapat mensyukuri keluarga yg sudah ditakdirkan Allah ya. Aamiin 🙂

Diberikan lingkungan pergaulan yg baik

Lingkungan pergaulan yg baik itu mahal sekali lho harganya, bahkan mungkin tak ternilai oleh uang. Teman-teman sayalah yang membentuk diri saya. Dan mungkin saya tidak akan sampai di titik ini kalau tidak bergaul dengan teman-teman saya sekarang, baik itu teman-teman di Balikpapan dulu (yg alhamdulillah sampai sekarang banyak yg masih keep contact), teman-teman di IC (terima kasih sudah jadi pembuka hidayah untuk saya yg pengetahuan agamanya cetek banget), teman-teman ITB (terima kasih sudah jadi contoh dan panutan bagi saya untuk berkarya di berbagai bidang), dan juga teman-teman di Jepang (terima kasih telah menjadi keluarga di tanah rantau).

Bisa bangun setiap hari tanpa bingung mau makan apa dan tanpa perasaan takut akan bahaya mengancam

Akhir-akhir ini dengan banyaknya berita peperangan di negara lain, kadang saya suka sedih dan miris sendiri, di sini kita bisa menjalani kehidupan normal dengan tenang, sementara di belahan bumi lain ada saudara kita yg mendengar ledakan bom seperti makan 3x sehari. Mungkin mereka setiap hari bangun dengan perasaan was-was, akankah mereka kehilangan anggota keluarganya hari ini, ataukah mereka yg akan meninggalkan anggota keluarganya ><

Kita kan tidak bisa memilih dilahirkan sebagai warga negara apa. Jadi saya bersyukur sekali dilahirkan sebagai orang Indonesia di mana saya bisa mengenal Islam dengan mudahnya. Bagaimana kalau saya lahir jadi orang Palestina, yg negaranya direbut oleh orang lain? Lalu bagaimana kalau saya lahir jadi orang Jepang, okelah saya terlahir di negara maju dan aman dari perang, namun akankah saya bertemu Islam hingga akhir hayat saya?   ><

Tubuh yang sehat

Dan yang terakhir adalah nikmat kesehatan yg seringkali kita sepelekan. Banyak sekali orang yg kondisi fisiknya tidak sebaik saya, namun mereka tetap bersemangat hidup dan bisa berkarya dengan segala keterbatasan yang mereka punya. Kita sebagai orang yg dikaruniai kesehatan dan tubuh yg berfungsi sebagaimana mestinya, seharusnya bisa lebih bersyukur dan juga tidak mau kalah bersemangat dalam menjalani hidup 🙂

Day 10: Something for Which I Feel Strongly

Standard

Halo, semua!

Kembali lagi dengan Nadine di sini. Alhamdulillah, sudah sepertiga jalan melalui tantangan ini ^_^ Tema hari ini adalah (kalau diterjemahin kira-kira) “sesuatu yang kita yakini” atau bisa juga “sesuatu yang kita pegang teguh” kali yah.

Untuk saya, hmm, saya adalah orang yang selalu berpegang pada impian dalam melalui hari-hari saya #eeaa. Sebagai contoh, dulu saya mimpi pengen liat salju gara-gara baca buku cerita anak-anak yg ngegambarin salju dan juga nonton film natal anak-anak yg selalu aja settingnya lagi winter bersalju. Selama belasan tahun ada satu perkataan yang selalu saya ingat dan membuat saya bersemangat dalam menggapai mimpi saya itu,

“Bermimpilah setinggi langit, karena jika kamu terjatuh, kamu masih akan berada di antara bintang-bintang”

Perkataan ini jika dimaknai secara harfiah artinya walaupun kita terjatuh, kita masih akan melihat sesuatu yg indah yaitu bintang-bintang. Dan jika dimaknai secara implisit, jika punya impian, sekalian yg tinggi aja, karena walaupun impian yg tinggi itu tidak terkabul, kita masih akan memperoleh hal lain yg juga tidak kalah indahnya.

Oleh sebab itu, saya pegang terus impian sederhana masa kecil saya itu. Nggak tau caranya, pokoknya suatu saat saya harus bisa melihat salju dengan mata kepala saya sendiri.

Long story short, mulai dari SMA, saya semakin melihat peluang ke luar negeri bukan hal yg  mustahil. Oya, sekadar gambaran saja, saya berasal dari keluarga menengah, jadi jalan-jalan keluar negeri (bahkan “cuma” ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia) bukan tujuan utama liburan kami. Apalagi ke negara yg bisa lihat salju. Selain itu, jaman saya remaja dulu, traveling keluar negeri belum banyak pilihan murahnya seperti sekarang. Nah sejak SMA, saya jadi semakin diperkenalkan akan adanya beasiswa studi keluar negeri. Perlahan-lahan saya semakin melihat bahwa impian saya bisa jadi kenyataan.

Alhamdulillah, setelah berbagai perjuangan meraih beasiswa saya lalui, ternyata ke Jepang melalui beasiswa MEXT/ Monbusho lah rejeki saya. Tentu saja rejeki ini tak lepas dari takdir Allah, namun mungkin jika dulu saya nggak pernah bermimpi bisa melihat salju, saya nggak akan kepikiran untuk keluar negeri sama sekali.

Karena itu, untuk adik-adik di luar sana yg kebetulan sampai di artikel ini, bermimpilah setinggi-tingginya, lalu kerahkan usaha maksimalmu untuk meraih mimpi itu. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha 🙂

ski

I miss skiing so badly 😥

Day 5: Five Places I Want to Visit

Standard

Hello, everyone!

It seems like I’m still on my track on doing this challenge. Yay! 🙂 So here we go the day 5: five places I want to visit.

UK, or to be more specific, all Harry Potter filming locations in UK. You might have bored listening to me talking about how I like all about HP world, so sorry, I have to mention this again 😦 UK is definitely on the top of my travel bucket list. I already have the list of places I want to go to if I had a chance to go UK. I don’t know when this dream will come true, since it’s quite far from Indonesia, my husband now is working in a company, and my son is still too small. But, who knows? Luckily, my husband’s travel bucket list is also UK, since he loves football (not American football, but soccer) and Sherlock Holmes. So UK is on the very top of our dream destinations 🙂

alnwick_castle

Alnwick Castle, where Harry learnt to fly for the first time

NORWAY. In term of natural phenomenon, I really want to see aurora or northern lights in Norway. For me, aurora is very special since it can’t be seen everywhere. For example you can see snow in most of sub-tropical countries, you can see sea in any coastal areas, but aurora can be seen only in northern countries. That’s why Norway is also on my bucket list.

aurora

Aurora spotted in Norway

SANTORINI, Greece. Because the place is so pretty and has that romantic vibe. Enough said.

santorini

No caption needed

NETHERLANDS (or Holland? I don’t know 😦 ) Ever since I was a kid, my mom always read bedtime stories for me. I have a whole rack of children’s books with stories from around the world. You know, books with stories on the left side, and illustrations on the right side. I think that’s when my love for books grew. I always love reading books and going to the library near my house. And I think that’s also when my dream to travel the world arose. On one (or some) of those bedtime stories, I saw a very pretty illustration of windmill with tulip field and dutch house. And also pretty dutch ladies with dress and klompen (dutch shoes, also called clogs). Since then, I’ve always wanted to see them with my own eyes.

neth1

Windmill with tulip field and dutch houses

neth2

Cute klompen

MAKKAH and MADINAH to do pilgrimage. I’ve been there before but only to do umrah. Insha Allah I will go there again to do pilgrimage or hajj. Amen.

msjd-hrm

Masjidil Haram in Makkah, a city that never sleep

*****

Actually, as someone who loves to travel, there are many more places I want to visit. I even haven’t mentioned some in Indonesia, my own country. But I think, currently these five are on the very top of my bucket list.

See you on the next day! 🙂

PS: picture credit goes to Google

Shibazakura Festival at Mount Fuji Hill : Tips and Experience (May 2015)

Standard

Kembali lagi dengan cerita jalan-jalan di Jepang 🙂

Bagi para wisatawan yang ke Jepang, dapat melihat, berfoto bersama, atau mendaki Gunung Fuji mungkin merupakan salah satu point penting di cek list perjalanan kita yang tak boleh terlewatkan.Tidak harus wisatawan aja sih, kami yang sedang tinggal di Jepang pun tak setiap hari dapat menikmati indahnya Gunung Fuji, dan berfoto bersamanya pun hanya dapat -dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. Sudah banyak website yang membahas spot-spot di mana kita dapat melihat Gunung Fuji dengan jelas. Salah satunya ada di website ini.

Saya sendiri selama dua tahun lebih tinggal di sini, sudah melakukan banyak attempt untuk dapat foto-foto bersama si gunung yang terkenal ini 😀 Dua kali saya ke Hakone, Gunung Fujinya tertutup kabut, padahal cuaca relatif cerah. Ketiga kalinya, alhamdulillah saya bisa melihat Gunung Fuji dengan jelas melalui jendela shinkansen waktu perjalanan dari Tokyo ke Kyoto 🙂 Dan keempat kalinya adalah saat saya ke Shibazakura Festival ini 🙂

Shibazakura Festival adalah festival melihat bunga shibazakura, atau pink moss dalam bahasa Inggris. Di Jepang sendiri sebenarnya banyak spot festival shibazakura, seperti dua tahun lalu saat Golden Week 2013, alhamdulillah saya berkesempatan ke festival shibazakura di Chichibu.

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Salah satu festival Shibazakura yang recommended tentu saja yang di kaki Gunung Fuji ini, karena tidak hanya dapat melihat indahnya bunga pink moss, kita juga dapat menikmati hamparan bunga pink moss ini berdampingan dengan Gunung Fuji nya sendiri. Dobel deh untungnya 🙂

Shibazakura Festival tahun 2015 ini diadakan mulai tanggal 18 April sampai 31 Mei 2015. Biasanya tiap tahun tidak berubah terlalu jauh jadwalnya, a.k.a. sekitar pertangahan April sampai akhir Mei. Berdasarkan riset yang telah saya lakukan sebelum berangkat, waktu terbaik untuk mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei, dan tidak saat weekend 😀

Access/ How to get there

Terdapat beberapa pilihan transportasi menuju Shibazakura, ada yang menggunakan kereta, bus, atau mobil. Karena kami tidak punya mobil, pilihan transportasi kami yaitu antara kereta dan bus, dan tentu saja naik bus lebih murah 🙂 Karena itu saya hanya akan menjelaskan cara ke sana dengan naik bus.

Sebenarnya banyak sekali jalur bus yang menuju Shibazakura ini. Informasi lebih lengkapnya bisa diperoleh di sini. Namun karena alasan kepraktisan dari tempat tinggal kami, kami memilih menaiki Highway Bus dari Shinjuku. Tiket bus menuju Shibazakura ini dapat dibeli secara online di website ini. Sebenarnya bisa juga kita beli langsung di counternya saat hari H. Namun mengingat festival ini yang diadakan hanya di waktu yang terbatas, kita tidak dapat memastikan bisa dapat seat di bus kalau baru beli saat hari H. Jadi saya merekomendasikan untuk beli tiket jauh-jauh hari sebelumnya, dan berangkat sepagi mungkin supaya bisa menikmati festivalnya lebih lama 🙂

Nah kembali ke cara memesan tiket secara online di website yang sudah saya sebutkan di atas. Seperti yang sudah disebutkan dengan jelas di website tersebut, untuk menuju Shibazakura, kita harus menaiki bus yang menuju Kawaguchiko Station. Baru dari situ kita sambung naik bus Shibazakura liner yang tiketnya hanya dapat dibeli di Kawaguchiko Station bus terminal no 7 (dapat berubah sewaktu-waktu, karena ini hanya berdasarkan pengalaman saya kemarin). Perlu diingat bahwa Shibazakura liner ini hanya ada setiap 30 menit sekali, dan perjalanan dari Kawaguchiko Station ke spot Shibazakuranya sendiri juga memakan waktu 30 menit. Karena itu sangat penting untuk datang sepagi mungkin karena jika terlewat beberapa detik saja bus sebelumnya, kita harus menunggu 30 menit untuk bus selanjutnya ditambah 30 menit lagi perjalanan menuju Shibazakura 😦

Untuk ringkasnya, berikut ini ringkasan perjalanan menuju Shibazakura:

  1. Beli tiket online, pilih jalur Shinjuku ke Kawaguchiko Station, 1750 yen per orang sekali jalan. Sebaiknya beli langsung tiket round trip saja.
  2. Dari Shinjuku Station, keluar di West Exit, menuju terminal Highway Bus. Jika kita memesan online, akan ada peta letak terminal bus yang dikirim ke email kita. Jika ingin membeli langsung, counter bus ini terletak dekat dengan Yodobashi.
  3. Perjalanan dari Shinjuku ke Kawaguchiko Station, kurang lebih 1,5 sampai 2 jam jika lalu lintas lancar.
  4. Sampai Kawaguchiko Station, menuju terminal bus Shibazakura Liner, beli tiket bus, 1900 round trip, sudah termasuk tiket masuk spot Shibazakura.
  5. Sekitar 1 jam sampai 45 menit sebelum waktu bus pulang dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku, sudah menuju terminal bus Shibazakura Liner menuju Kawaguchiko Station. Ingat, perjalanan dari Shibazakura ke Kawaguchiko Station memakan waktu 30 menit, nggak mau dong ketinggalan bus pulang ke Shinjuku gara-gara mepet-mepet pulang dari Shibazakuranya 🙂

Our Experience

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, waktu terbaik mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei. Minggu pertama bulan Mei adalah Golden Week, jadi sudah dapat dipastikan jalanan akan macet (yes, di Jepang juga bisa macet kok) dan di mana-mana penuh sama wisatawan lokal, maka kami pun menghindari minggu pertama. Minggu kedua, kebetulan ada acara festival internasional di Tsukuba. Karena kami jadi panitia, maka kami pun tidak dapat pergi pada minggu kedua. Kesempatan terakhir kami adalah sepanjang minggu ketiga Mei.

Setelah mengecek ramalan cuaca, pada akhir minggu ketiga bulan Mei diperkirakan hujan. Karena ini (mungkin) akan menjadi tahun terkhir saya di Jepang, saya bertekad untuk datang ke festival ini di saat terbaiknya >< Beruntungnya lab saya adalah tipe lab yang tidak harus ke lab setiap hari. Maka kami pun memutuskan pergi di hari Rabu minggu ketiga Mei 🙂

Kami baru memesan tiket online hari Seninnya, alhasil kami dapat bus yang jam 10.40 dari Shinjuku. Cukup siang, tapi alhamdulillah masih dapat tiket bus, karena beberapa detik setelah kami memesan tiket bus ini, yang jam 10.40 sudah penuh juga. Ketat sekali persaingan, sodara sodaraahh…

Hari Rabu, kami berangkat naik bus dari Tsukuba pukul 07.45, sampai di Tokyo Station jam 09.30. Disambung naik kereta dari Tokyo ke Shinjuku sekitar 20 menit, alhamdulillah kami sampai di Shinjuku Station pukul 10.00. Masih ada waktu istirahat sebelum menuju terminal bus.

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Pukul 10.40 bus berangkat sesuai rencana, dan sesampainya kami di Kawaguchiko station, sekitar jam 12.30 lebih sedikit, bus Shibazakura Liner yang jam 12.20 baru saja berangkat T_T karena itu kami harus menunggu bus yang jam 12.50. Sambil menunggu bus, dari terminal bus ternyata Gunung Fujinya sudah terlihat bergitu dekat 🙂

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Pukul 12.50 kami naik bus, sampai di Shibazakura sekitar pukul 13.30. Alhamdulillah cuaca cerah namun angin cukup sejuk. Kami pun berfoto-foto dengan bantuan tongsis dan para pengunjung lain yang berbaik hati memfotokan kami 🙂

Shibazakura dan Gunung Fuji

Shibazakura dan Gunung Fuji

Karena selalu jalan-jalan cuma berdua saja, sekarang kami sudah tahu bagaimana cara meminta bantuan wisatawan lain untuk memfotokan kami. Pertama, salah satu di antara kami berdiri di spot yang diinginkan, kemudian yang satunya mengatur kamera agar menangkap angle yang paling bagus. Kemudian cari wisatawan yang jalan-jalan berdua juga, karena biasanya mereka lebih ramah dalam membantu pasangan lainnya (senasib gitu lho 😀 ). Lalu meminta wisatawan tersebut untuk memfotokan dengan menunjukkan angle yang sudah diatur sebelumnya. Berikut salah satu hasil foto terbaik yang kami dapatkan 😀

IMG_2430Ga ketinggalan foto-foto pake tongsis juga 😀

20150513_140116Di spot festival ini juga ada beberapa stand makanan. Kami sendiri sebenarnya sudah menyiapkan bekal dari rumah karena khawatir tidak ada yang bisa dimakan di sini. Tapi ternyata ada yang jual taiyaki dan pancake udang. Kami pun mencoba pancake udangnya yang alhamdulillah lumayan enak dan nambah-nambahin variasi bekal makan siang kami.

Bus yang akan membawa kami dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku dijadwalkan pukul 17.10, maka pukul 15.30 kami sudah menuju terminal bus Shibazakura, dan berhasil naik bus yang pukul 16.00. Sampai lagi di Kawaguchiko Station pukul 16.30, kami sempat istirahat ke toilet dan membeli souvenir sebelum menaiki bus pulang.

*****

Alhamdulillah, perjalanan hari ini bisa dikategorikan sebagai sukses dan lancar. Lalu lintas tidak macet, cuaca cerah, Gunung Fuji tidak tertutup kabut, dan berhasil mendapatkan beberapa foto yang bagus dan bisa menjadi kenang-kenangan di masa tua 🙂 Sampai jumpa di cerita jalan-jalan berikutnya!

Another Seminar, Another Japanese Friend, Another Traveling

Standard

Insya Allah tanggal 17-23 September mendatang, saya akan berpartisipasi pada sebuah acara bertemakan community development yang diadakan oleh KM ITB. Acara tersebut bertajuk “International University Exchange Seminar 2012”, sebuah acara seminar yang dilaksanakan atas kerja sama ITB dengan Toyohashi University of Technology (TUT).

Duh, udah setua ini masih aja “iseng” ikut acara beginian ya? Di antara teman-teman yang lagi sibuk nyari-nyari kerja, atau S2, atau pasangan hidup mungkin (?), saya malah ikut acara seminar yang kebanyakan pesertanya angkatan 2009 dan 2010 (2008-nya cuma 4 orang dari 20 peserta. hehe)

Eh tapi, jangan salah, ternyata acara ini keren juga setelah saya mengikuti technical meeting-nya tadi sore.

Sebelumnya, saya mau cerita dulu awalnya gimana sampe saya bisa tiba-tiba berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Jadi ceritanya, saya punya temen angkatan 2008 juga yg jadi panitia acara ini. Singkat cerita, waktu lagi iseng ngobrol-ngobrol sama doi, doi jadi tau kalo saya seneng ikut acara-acara yg berbau internasional dan ada peserta yang datang dari berbagai negara, apalagi kalo ada negara Jepangnya.
“Eh kebetulan banget, ga lama lagi ada oprek IUES,” katanya. “Tapi terbatas cuma buat 20 peserta. Ntar klo udah buka opreknya, ikutan aja ya Din seleksinya. Cuma bikin-bikin essay gitu kok”.

Okelah sejak itu saya mengazzamkan diri mau coba iseng2 ikutan seleksi IUES. Kalo lolos kan lumayan, bisa ngisi waktu luang dengan hal bermanfaat sekaligus nambah lagi temen yang orang Jepang asli. Sebenernya motivasi utama ikut acara ini cuma gara2 ada peserta Jepangnya 😀 Niatnya pengen memperlancar bahasa Jepang yg selama ini udah dipelajari. hehe..niat yang mulia ya 🙂

Singkat cerita lagi, opreknya pun dibuka pada tanggal 1-10 Agustus 2012. Saya pun nyempet2in bikin essaynya di tengah2 ke-hectic-an mau pulkam lebaran dan ngurus beberapa dokumen Monbusho yang harus dikirim ke Kedubes Jepang (tentang Monbusho ini, insya Allah akan saya ceritakan di kesempatan mendatang).

Karena bikin essaynya agak ga serius waktu itu, sebenernya ga terlalu berharap bakal terpilih jadi 20 orang peserta. Tapi biasanya mah, kalo ga terlalu berharap malah dapet. Dan beneran lah, waktu pengumuman, ternyata saya terpilih jadi 20 orang beruntung itu. Alhamdulillah 🙂

Nah, kembali ke technical meeting. Jadi, tadi kami seluruh peserta dijelasin bakal ngapain aja selama seminggu acara ini. Dan ternyata, acaranya banyakan jalan-jalannya daripada seminar di dalam ruangannya! Seneng banget! *emang dasar hobinya jalan2 wae 😀

Jadi hari pertama kami bakal mengunjungi JICA di Tanjung Priok. Agak ga ngeh sih di sini bakal ngapain 😛 , tapi yang pasti JICA itu kepanjangannya “Japan International Cooperation Agency”, jadi mungkin di sana bakal dijelasin kegiatannya JICA itu ngapain aja kali ya.. (?)

Trus ntar bakal ada juga jalan-jalan ke Desa Mitra-nya HMM dan Himatek. Kenapa ga ke Desa Mitra-nya HME, mungkin karena kajuahan kali (?). Asiikk jalan2 ke desaa..liat sawah dan pemandangan hijau!! 😀 *taunya ntar malah liat lumpur gimana? wkwkwk 😀

Wah belum cukup? Masih ada lagi, kita juga bakal diajak jalan2 ke Karawang, kota industri itu! Yah, walopun panas jalan2 ke pabrik, tetep aja judulnya jalan2, plus bareng temen2 Jepang, pasti exciting lah! ^^d

Eh, belum selesai ternyata. Masih ada jalan2 ke Kawah Putih, Bandung city tour, gala dinner, dan farewell party!! Daann, semua biaya mulai dari transport, tiket masuk tempat2, dan makan ditanggung panitiaa.. Waahh, ternyata saya bener2 beruntung bisa kepilih jadi peserta acara ini. bisa jalan2 dan makan gratis selama seminggu 😀 Alhamdulillah!!

Well, can’t wait until the D-Day!! Hopefully can make good friends, colleagues, experience, and so on!! ^^d