Tag Archives: tokyo

Shibazakura Festival at Mount Fuji Hill : Tips and Experience (May 2015)

Standard

Kembali lagi dengan cerita jalan-jalan di Jepang 🙂

Bagi para wisatawan yang ke Jepang, dapat melihat, berfoto bersama, atau mendaki Gunung Fuji mungkin merupakan salah satu point penting di cek list perjalanan kita yang tak boleh terlewatkan.Tidak harus wisatawan aja sih, kami yang sedang tinggal di Jepang pun tak setiap hari dapat menikmati indahnya Gunung Fuji, dan berfoto bersamanya pun hanya dapat -dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. Sudah banyak website yang membahas spot-spot di mana kita dapat melihat Gunung Fuji dengan jelas. Salah satunya ada di website ini.

Saya sendiri selama dua tahun lebih tinggal di sini, sudah melakukan banyak attempt untuk dapat foto-foto bersama si gunung yang terkenal ini 😀 Dua kali saya ke Hakone, Gunung Fujinya tertutup kabut, padahal cuaca relatif cerah. Ketiga kalinya, alhamdulillah saya bisa melihat Gunung Fuji dengan jelas melalui jendela shinkansen waktu perjalanan dari Tokyo ke Kyoto 🙂 Dan keempat kalinya adalah saat saya ke Shibazakura Festival ini 🙂

Shibazakura Festival adalah festival melihat bunga shibazakura, atau pink moss dalam bahasa Inggris. Di Jepang sendiri sebenarnya banyak spot festival shibazakura, seperti dua tahun lalu saat Golden Week 2013, alhamdulillah saya berkesempatan ke festival shibazakura di Chichibu.

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Salah satu festival Shibazakura yang recommended tentu saja yang di kaki Gunung Fuji ini, karena tidak hanya dapat melihat indahnya bunga pink moss, kita juga dapat menikmati hamparan bunga pink moss ini berdampingan dengan Gunung Fuji nya sendiri. Dobel deh untungnya 🙂

Shibazakura Festival tahun 2015 ini diadakan mulai tanggal 18 April sampai 31 Mei 2015. Biasanya tiap tahun tidak berubah terlalu jauh jadwalnya, a.k.a. sekitar pertangahan April sampai akhir Mei. Berdasarkan riset yang telah saya lakukan sebelum berangkat, waktu terbaik untuk mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei, dan tidak saat weekend 😀

Access/ How to get there

Terdapat beberapa pilihan transportasi menuju Shibazakura, ada yang menggunakan kereta, bus, atau mobil. Karena kami tidak punya mobil, pilihan transportasi kami yaitu antara kereta dan bus, dan tentu saja naik bus lebih murah 🙂 Karena itu saya hanya akan menjelaskan cara ke sana dengan naik bus.

Sebenarnya banyak sekali jalur bus yang menuju Shibazakura ini. Informasi lebih lengkapnya bisa diperoleh di sini. Namun karena alasan kepraktisan dari tempat tinggal kami, kami memilih menaiki Highway Bus dari Shinjuku. Tiket bus menuju Shibazakura ini dapat dibeli secara online di website ini. Sebenarnya bisa juga kita beli langsung di counternya saat hari H. Namun mengingat festival ini yang diadakan hanya di waktu yang terbatas, kita tidak dapat memastikan bisa dapat seat di bus kalau baru beli saat hari H. Jadi saya merekomendasikan untuk beli tiket jauh-jauh hari sebelumnya, dan berangkat sepagi mungkin supaya bisa menikmati festivalnya lebih lama 🙂

Nah kembali ke cara memesan tiket secara online di website yang sudah saya sebutkan di atas. Seperti yang sudah disebutkan dengan jelas di website tersebut, untuk menuju Shibazakura, kita harus menaiki bus yang menuju Kawaguchiko Station. Baru dari situ kita sambung naik bus Shibazakura liner yang tiketnya hanya dapat dibeli di Kawaguchiko Station bus terminal no 7 (dapat berubah sewaktu-waktu, karena ini hanya berdasarkan pengalaman saya kemarin). Perlu diingat bahwa Shibazakura liner ini hanya ada setiap 30 menit sekali, dan perjalanan dari Kawaguchiko Station ke spot Shibazakuranya sendiri juga memakan waktu 30 menit. Karena itu sangat penting untuk datang sepagi mungkin karena jika terlewat beberapa detik saja bus sebelumnya, kita harus menunggu 30 menit untuk bus selanjutnya ditambah 30 menit lagi perjalanan menuju Shibazakura 😦

Untuk ringkasnya, berikut ini ringkasan perjalanan menuju Shibazakura:

  1. Beli tiket online, pilih jalur Shinjuku ke Kawaguchiko Station, 1750 yen per orang sekali jalan. Sebaiknya beli langsung tiket round trip saja.
  2. Dari Shinjuku Station, keluar di West Exit, menuju terminal Highway Bus. Jika kita memesan online, akan ada peta letak terminal bus yang dikirim ke email kita. Jika ingin membeli langsung, counter bus ini terletak dekat dengan Yodobashi.
  3. Perjalanan dari Shinjuku ke Kawaguchiko Station, kurang lebih 1,5 sampai 2 jam jika lalu lintas lancar.
  4. Sampai Kawaguchiko Station, menuju terminal bus Shibazakura Liner, beli tiket bus, 1900 round trip, sudah termasuk tiket masuk spot Shibazakura.
  5. Sekitar 1 jam sampai 45 menit sebelum waktu bus pulang dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku, sudah menuju terminal bus Shibazakura Liner menuju Kawaguchiko Station. Ingat, perjalanan dari Shibazakura ke Kawaguchiko Station memakan waktu 30 menit, nggak mau dong ketinggalan bus pulang ke Shinjuku gara-gara mepet-mepet pulang dari Shibazakuranya 🙂

Our Experience

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, waktu terbaik mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei. Minggu pertama bulan Mei adalah Golden Week, jadi sudah dapat dipastikan jalanan akan macet (yes, di Jepang juga bisa macet kok) dan di mana-mana penuh sama wisatawan lokal, maka kami pun menghindari minggu pertama. Minggu kedua, kebetulan ada acara festival internasional di Tsukuba. Karena kami jadi panitia, maka kami pun tidak dapat pergi pada minggu kedua. Kesempatan terakhir kami adalah sepanjang minggu ketiga Mei.

Setelah mengecek ramalan cuaca, pada akhir minggu ketiga bulan Mei diperkirakan hujan. Karena ini (mungkin) akan menjadi tahun terkhir saya di Jepang, saya bertekad untuk datang ke festival ini di saat terbaiknya >< Beruntungnya lab saya adalah tipe lab yang tidak harus ke lab setiap hari. Maka kami pun memutuskan pergi di hari Rabu minggu ketiga Mei 🙂

Kami baru memesan tiket online hari Seninnya, alhasil kami dapat bus yang jam 10.40 dari Shinjuku. Cukup siang, tapi alhamdulillah masih dapat tiket bus, karena beberapa detik setelah kami memesan tiket bus ini, yang jam 10.40 sudah penuh juga. Ketat sekali persaingan, sodara sodaraahh…

Hari Rabu, kami berangkat naik bus dari Tsukuba pukul 07.45, sampai di Tokyo Station jam 09.30. Disambung naik kereta dari Tokyo ke Shinjuku sekitar 20 menit, alhamdulillah kami sampai di Shinjuku Station pukul 10.00. Masih ada waktu istirahat sebelum menuju terminal bus.

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Pukul 10.40 bus berangkat sesuai rencana, dan sesampainya kami di Kawaguchiko station, sekitar jam 12.30 lebih sedikit, bus Shibazakura Liner yang jam 12.20 baru saja berangkat T_T karena itu kami harus menunggu bus yang jam 12.50. Sambil menunggu bus, dari terminal bus ternyata Gunung Fujinya sudah terlihat bergitu dekat 🙂

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Pukul 12.50 kami naik bus, sampai di Shibazakura sekitar pukul 13.30. Alhamdulillah cuaca cerah namun angin cukup sejuk. Kami pun berfoto-foto dengan bantuan tongsis dan para pengunjung lain yang berbaik hati memfotokan kami 🙂

Shibazakura dan Gunung Fuji

Shibazakura dan Gunung Fuji

Karena selalu jalan-jalan cuma berdua saja, sekarang kami sudah tahu bagaimana cara meminta bantuan wisatawan lain untuk memfotokan kami. Pertama, salah satu di antara kami berdiri di spot yang diinginkan, kemudian yang satunya mengatur kamera agar menangkap angle yang paling bagus. Kemudian cari wisatawan yang jalan-jalan berdua juga, karena biasanya mereka lebih ramah dalam membantu pasangan lainnya (senasib gitu lho 😀 ). Lalu meminta wisatawan tersebut untuk memfotokan dengan menunjukkan angle yang sudah diatur sebelumnya. Berikut salah satu hasil foto terbaik yang kami dapatkan 😀

IMG_2430Ga ketinggalan foto-foto pake tongsis juga 😀

20150513_140116Di spot festival ini juga ada beberapa stand makanan. Kami sendiri sebenarnya sudah menyiapkan bekal dari rumah karena khawatir tidak ada yang bisa dimakan di sini. Tapi ternyata ada yang jual taiyaki dan pancake udang. Kami pun mencoba pancake udangnya yang alhamdulillah lumayan enak dan nambah-nambahin variasi bekal makan siang kami.

Bus yang akan membawa kami dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku dijadwalkan pukul 17.10, maka pukul 15.30 kami sudah menuju terminal bus Shibazakura, dan berhasil naik bus yang pukul 16.00. Sampai lagi di Kawaguchiko Station pukul 16.30, kami sempat istirahat ke toilet dan membeli souvenir sebelum menaiki bus pulang.

*****

Alhamdulillah, perjalanan hari ini bisa dikategorikan sebagai sukses dan lancar. Lalu lintas tidak macet, cuaca cerah, Gunung Fuji tidak tertutup kabut, dan berhasil mendapatkan beberapa foto yang bagus dan bisa menjadi kenang-kenangan di masa tua 🙂 Sampai jumpa di cerita jalan-jalan berikutnya!

Advertisements

New Halal Restaurants in Japan – Review

Standard

Alhamdulillah, in only this month (February 2015), I had the opportunity to visit three new halal restaurants in Japan, due to accompany some of my guests who were on vacation here. I am really glad that the growth of Islam in Japan shows promising direction, despite some not-so-good news about Islam that are still airing sometimes in national television stations here. I’m also very grateful that public services in Japan always treat foreigners indiscriminately. However, I know that in some places out there, there are still some difficulties for us to do our religious obligations, but I myself couldn’t thank Allah more that I never be in such condition, and hopefully won’t ever be. Amen.

So far, actually, there were already a lot of halal restaurant in Japan. However, most of them are Indian, Pakistan, or Turkish Restaurants. There are also some Indonesian and Malaysian restaurants of course, but fortunately, recently, many more kinds of halal restaurants open, such as Italian, Chinese, and even Japanese. The more the merrier, right? 🙂

Ok, without further ado, here are my reviews about those restaurants.

Ippin

Japanese food – 15 minutes walk from Ebisu station, west exit

Fifteen minutes walk for me is not so close, and we also have to pass some small hills to reach this restaurant.

Nama Ippin sendiri berasal dari Upin-Ipin dengan mencari kanji yang bisa terbaca mirip dengan "ipin" :)

Name “Ippin” came from “Upin-Ipin” by finding Chinese character (kanji) that can be read similar to “Ipin” 🙂

Some of the menu. There are some more but I forgot to take the picture of them.

This is the menu that I ordered that time. It is called Japanese Genovese style chicken shiso flavor, price 900 yen. It includes the chicken, a small bowl of rice, salad, and miso soup.

IMG_0347[1]

Menu I ordered

The meal was actually delicious and has that authentic Japanese flavor. So for you who want to taste the real Japanese food and halal, this menu is recommended. However, the portion was a bit small, so I didn’t feel full enough after eating it.

There are also some wagyu meet menus and they were amazingly delicious. My friend ordered that, the price was over 1000 yen and the size was the same as the rice bowl of the picture above >_< I tried a teeny tiny small bite of the meat, and it did melt inside my mouth (drooling-red).

My other friend ordered a chicken ramen and fortunately this time, the portion was big!

The chicken ramen

The chicken ramen

I tasted it also and it was very tasty and authentic. So if you are very hungry at the time you come to this restaurant, I recommend you to try the ramen. Where else we could find halal ramen, right?

Good: the service is good, the waiters are nice, the foods are delicious, and the place is cozy.

Not-so-good: because the location is not so close from the station, and the portions are not so big, all of us already felt hungry again after we were back to the station 😛 Even some of my friends planned to eat again at another restaurant!

Tokyo Chinese Muslim Restaurant

Chinese food – 2 minutes walk from Kinshicho station, south exit

In front of the entrance

In front of the entrance

They have sooooo many variations of food you could imagine and most of them are under 1000 yen. I came here with my husband and we took so long to choose the meals. We finally decided to order a kind of chicken menu, a kind of vegetable menu (we chose stir-fried eggplant with their special sauce), a beef skewer, a lamb skewer, and aone portion of their famous vegetable dumpling.

Our orders before the dumplings came

Our orders before the dumplings came

The vegetable dumplings

The vegetable dumplings

You can spot the different of their rice portion and Ippin’s rice portion, can’t you? And for all of these, we only have to pay 3000 something yen!

We just love them too much

We just love them too much

Good: Very near to the station, the portion of the foods are big, taste yummy and satisfying, have many kinds of variations you can choose, and they even have a small praying space. This restaurant is absolutely my favorite and I want to go back since there are still so many foods I haven’t tried yet 🙂

IMG_0390

Praying space for one people

Not-so-good: While we were there, there were only two other guests beside us, and after they finished cooking our orders, the cooks slept on one empty table (when I said slept here means literally laying their body down on the chairs), and the waitress ate on another empty table. I understand that they must be really tired, but I think this was not a very good attitude in front of customers. This is forgivable but I hope they won’t do the same things in the future.

Sekai Cafe

International food – Asakusa station, 50 meters walk from Kaminarimon

This cafe was just open on November 11th, 2014 ago. It is very easy to reach and exactly inside the crowd of Asakusa and Sensoji Temple. Just as its name, (sekai means world in Japanese), this cafe provides not very specific kind of food, so let’s say it provides international foods.

Since its location is inside the main attraction of Asakusa, adding the fact that it provides halal foods, it is understandable that the price is rather expensive for just a cafe. And unfortunately, they don’t have many variations of menu.

I went here with my husband and one of his friend. So when we were contemplating thinking which menu we should choose (among those not so many options), we thought that because the price of yakisoba and grilled lamb is the same (1000 yen), the yakisoba must be in a giant portion, and there might be some chops of chicken or meat inside it. But, when it came, not only the portion is so-so, the taste was not exceptionally delicious, and there were only noodles, salt, and paprika inside it. I just wasted my 1000 yen for 250 yen raw noodles I could buy at the supermarket and I could cook by myself!! 😦 T_T

My husband and his friend ordered the grilled lamb with focaccia bread (1000 yen also). I can say that the price is acceptable since the meat portion is quite big and it didn’t smell bad as usual lamb. But acceptable here doesn’t mean that we want to order the same thing in the future (maybe).

We also ordered two kinds of smoothies, strawberry and apple pie, 500 yen each, inside 200 ml glass bottle. I still feel they were pricey for that size, but I did accept it since the smoothies tasted yummy and refreshing. But again, I might don’t want to order it for the second time.

Left: Apple pie smoothies, right: strawberry smoothies

Left: Apple pie smoothies, right: strawberry smoothies

Our orders

Our orders

Good: the location is easy to find, the place is cozy and youthful, the service is good, and we thought we met the owner at that time, and the owner was very nice, and he even informed us another halal restaurant around Asakusa. Another good thing is, when we were there, there was a Muslim waitress (she wore hijab). I guessed she’s from Malaysia, and I was right when I talked to her. On her apron, there was a sign with “Sorry, I can’t touch beer” written on it! I really appreciate this detail and I do hope other Halal restaurants will do the same thing from now on 🙂

Not-so-good:

Still about the waitress, at the first time I talked to her, I tried to speak in Malay language, since I felt we are neighbor, no need to talk in other languages. But she couldn’t reply with Malay, too. Maybe she was surprised or nervous, she looked confuse and in the end only answering with one or two words and very soft voice. On the second attempt, I tried to ask her in Japanese, because I think she must be good in Japanese since she’s working there, right? I was only asking what inside their pizza menu is, but she couldn’t explain in Japanese, too. In the end she answered with English. When she brought our dishes to our table, she looked very confuse where to put the plate, fork, and knife. I can see that she must be a trainee, and I accept her nervousness. I just want to say good luck for her and don’t be afraid of costumer’s questions 🙂

Another not-so-good point of this cafe, there is no detail explanation of what’s inside every menu, and not all menu have picture of them. When I was there, there was a sign of “today’s special pizza”, and “vegetable pizza”, but when I asked the waitress what’s inside the “today’s special pizza”, she said that they only have one kind of pizza. So I find that pizza sign is confusing and they’d better not to write two kinds of pizza if they only have one kind.

However, I want to give my sincere appreciation to this cafe, since they respect the fact that Muslim not only can’t drink beer, but we also can’t touch it. I hope they can improve their services, add some more menu, and add the specialty or their signature to every menu so that even if we have to pay a bit more expensive, we will still feel very satisfy after eating them. I do hope the best for Sekai Cafe in the future! 🙂

*****

So that’s gonna be all for this review. I hope you find this helpful to know more options of halal restaurants in Japan, and I somehow hope the management of the restaurants I mentioned here read this review by accident, so that they can improve their services to the customers 🙂

Museum Doraemon dan Madam Tussauds Tokyo

Standard

Halo!

Setelah tiga minggu yang hectic dengan pindahan dan persiapan menjadi mahasiswa, akhirnya saya bisa kembali meninggalkan jejak di sini 🙂 Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami saya yang dengan peluh keringat namun tanpa rasa lelah telah membantu saya angkut-angkut barang dan menata apato baru saya. It’s officially our first team-work! 😀

Ya, Alhamdulillah dua minggu terakhir ini suami saya berkesempatan datang ke sini, khusus untuk membantu pindahan, dan memanfaatkan momen liburan musim semi sekaligus jalan-jalan dan foto-foto dengan pemandangan indah bunga sakura 😀 Karena sejak menikah kami langsung LDR-an, pertemuan kali ini serasa honeymoon kedua, dan kami pun seperti jadi penganten baru lagi 😛

Jadi pada beberapa postingan ke depan, saya akan menceritakan tentang tempat-tempat yang kami kunjungi selama suami saya di sini. Semoga bisa menambah referensi jalan-jalan pembaca semua ke Jepang 🙂

Honeymoon Part 2 Day 1 – 27 Maret 2014

Suami saya mendarat di Bandara Haneda pada tanggal 26 Maret pukul 22.00 JST. Maklumlah, karena low cost airline, jadi sampainya di waktu yang kurang convenience 😀 Karena saya sudah rindu sekali dengannya, saya pun menjemput ke bandara, dan kami berencana menginap sampai pagi di sana, dan besoknya, tanggal 27, langsung jalan-jalan. Karena saya tinggal di Tsukuba, pilihan seperti ini sangat praktis, karena saya jadi bisa menghemat ongkos ke Tokyo, dibandingkan jika suami saya pulang dulu ke Tsukuba lalu hari lain kami kembali ke Tokyo lagi untuk jalan-jalan. Pembaca juga bisa nyontek trik ini ya 🙂

Hari pertama honeymoon kedua ini (honeymoon pertamanya dulu bulan September sewaktu habis menikah ke daerah Kansai) kami berencana jalan-jalan ke Museum Doraemon dan Madam Tussauds. Pertimbangan ini kami ambil, karena kami berpikir bahwa suami saya pasti lelah setelah perjalanan jauh, jadi sebaiknya kami tidak jalan ke tempat yang terlalu jauh atau membutuhkan jalan kaki yang banyak.

Pukul 6 pagi tanggal 27 kami keluar bandara, langsung naik kereta untuk menuju Akihabara. Di Akihabara kami menitipkan koper besar suami saya di loker agar kami bisa jalan-jalan dengan bebas. Kenapa Akihabara? Pertama, karena Akihabara merupakan stasiun besar, sehingga banyak sekali loker di sana. Kedua, karena untuk menuju Tsukuba dari Tokyo, paling praktis dari Akihabara. Dan kenapa jam 6 pagi udah keluar bandara padahal museum juga baru buka jam 10? Karena, loker yang berukuran paling besar jumlahnya lebih sedikit dibanding loker berukuran sedang, sehingga loker tersebut seringkali tidak bersisa. Kami nggak mau dong jalan-jalan tapi diribetkan dengan koper, jadi kami niat banget deh pagi-pagi buta nitipin kopernya 🙂

Museum Doraemon

Walaupun kita lebih sering menyebutnya dengan Museum Doraemon, sebenarnya nama aslinya adalah Museum Fujiko F. Fujio, karena di museum ini dipajang karya-karya Pak Fujio yang tidak cuma Doraemon saja.

Akses : Dari stasiun Shinjuku, ke West Exit, naik Odakyu Line, turun di stasiun Noborito. Dari Noborito, naik shuttle bus tujuan Museum Fujiko F. Fuji dari depan stasiun.

Tiket : Dewasa 1000 yen, SMP dan SMA 700 yen, anak-anak 4 tahun ke atas 500 yen, anak-anak di bawah 4 tahun gratis. Tiket tidak dapat dibeli di tempat, melainkan di Lawson di seluruh Jepang.

Jam masuk : 10.00, 12.00, 14.00, 16.00. Kita boleh memilih masuk pada jam berapa saja, namun tiap jam ada batasan pengunjungnya. Tapi jika sudah di dalam, kita bebas bermain sampai jam berapa saja.

Karena Bandara Haneda yang letaknya agak di pinggiran kota Tokyo, perjalanan dari Haneda ke Akihabara untuk naroh koper, ditambah rush-nya transportasi weekday kereta di pagi hari kota Tokyo yang penuh orang-orang hendak berangkat beraktivitas, kami sampai Shinjuku pukul 07.30. Kebetulan saat ke Odakyu line ada kereta express menuju Noborito yang akan berangkat sebentar lagi. Kami pun langsung menaiki kereta tersebut. Jika kami terlewat kereta express tersebut, kami bisa saja kebagian kereta lokal yang jauh lebih lama 😦

Sampai di Noborito, suasananya sudah Doraemon sekali. Banyak gambar-gambar ikon Doraemon di mana-mana.

Dekorasi bertemakan Doremon

Dekorasi stasiun bertemakan Doremon

Dekorasi di halte bisnya juga lucu banget.

Juga dekorasi bisnya 😀

IMG_5100

Arah kaki menunjukkan jalur mengantrinya

IMG_5105

IMG_5107

Review :

Untuk dapat menikmati koleksi yang ada di museum ini, disediakan fasilitas audio berbentuk seperti walki-talki yang dapat dibawa-bawa. Penjelasan pada audio ini tersedia dalam bahasa Jepang, Inggris, Cina, dan Korea. Kita tinggal memencet nomor yang tertera pada suatu koleksi yang ingin kita ketahui keterangannya. Sayangnya semua komik maupun poster yang dipajang berbahasa Jepang dan tidak ada terjemahnya (riweuh juga kali ya nerjemahin karya sebanyak itu), jadi tidak semua koleksi bisa kami pahami jalan ceritanya.

Terdapat juga animasi 3D yang menjelaskan cara membuat komik. Walaupun penjelasannya dalam bahasa Jepang, alurnya cukup dapat dimengerti kok dengan hanya melihat animasinya.

Sebagian besar ruangan yang memajang karya-karya Pak Fujio tidak boleh difoto. Namun disediakan spot-spot khusus untuk foto-foto. Kalau orang berkunjung ke museum ini, pasti foto-foto di spot-spot berikut ini

Pintu ke mana saja

Pintu ke mana saja

Bersama dinosaurus pisuke

Bersama dinosaurus Pisuke

Taman bermain dekat rumah Nobita

Taman bermain dekat rumah Nobita

Dan masih banyak lagi spot foto lainnya, yang indoor juga ada. Karena hujan, pihak museum menyediakan payung transparan yang kami pakai di atas, untuk berjalan-jalan di spot foto outdoor.

Oleh-oleh yang dijual juga semua bertemakan Doraemon. Sayang sekali, hampir semua cemilannya mengandung bahan yang tidak dapat kami makan, jadi kami tidak membeli satu pun.

Roti penghafal

Roti penghafal

Dorayaki kesukaan Doraemon

Dorayaki kesukaan Doraemon

Oh iya, jangan lupa juga kunjungi teaternya yang menyuguhkan animasi karya Pak Fujio. Sebenernya saya ga paham apakah animasinya juga Pak Fujio yang buat (karena sekarang beliau sudah wafat), atau hanya karakternya namun dibuatkan animasi oleh orang lain.

Bagi saya dan suami yang memang penikmat karya-karya Pak Fujio sejak kecil, museum ini worth it sekali untuk mengenang masa kecil 🙂 Rasanya terharu melihat lagi karakter-karakter favorit kami dan membaca melihat-lihat komiknya yang tidak semuanya ada di Indonesia. Jadi ingin kembali jadi anak-anak lagi, saat hidup terasa ringan dan beban pikiran begitu sederhana 😀

Madam Tussauds

Tujuan kami berikutnya adalah Madam Tussauds Tokyo yang terletak di Odaiba. Dari Museum Doreamon kami pun kembali ke stasiun Noborito dengan shuttle bus langsung dari depan museum.

Jika ke Odaiba, saya ingin merekomendasikan restoran halal kepada pembaca, yaitu restoran India yang bernama “Khazana”. Restoran ini terletak di lantai 5 Decks Mall. Dari restoran ini, pemandangan di luar jendelanya adalah Rainbow Bridge. Di bagian luar restorannya juga disediakan tempat duduk. Kebayang kalau makan malam di sini sama suami, saat lampu Rainbow Bridge nyala semua, pasti romantis banget 😀 Tapi walaupun saat ini kami makan siang, tetap tidak kalah romantisnya kok. Hehe.. Alhamdulillah, saya dan suami sangat puas dengan makanan dan pelayanan di restoran ini.

Pemandangan dari luar restoran. Ignore his "sok cool" face :P

Pemandangan dari luar restoran dengan Rainbow Bridge di latar belakang. Ignore his “sok cool” face 😛

Akses : Kereta Yurikamome Line turun di stasiun Odaiba-kaihinkoen, museum ini terletak di Decks Mall.

Tiket : 2000 yen jika beli langsung di tempat, 1500 yen jika membeli secara online. Ada hal yang agak ribet jika membeli online. Bagi pengunjung yang membeli tiket online, diwajibkan membawa ID card dan kartu kredit yang dipake untuk bayar. Jika pake kartu kredit orang lain, wajib membawa surat bertanda tangan pemilik kartu >_< Karena saya belum punya kartu kredit, saya pinjam punya teman saya di sini, dan terpaksalah saya membawa surat bertanda tangan dia. Ternyata waktu sampai di tempat, penjaganya sama sekali tidak menanyakan id maupun kartu kredit -_-” Saya kurang tahu apakah selalu seperti ini atau kebetulan saya saja yang sedang beruntung.

Review :

Sedikit sejarah mengenai Madam Tussauds, beliau adalah seorang pemahat lilin yang berasal dari Prancis. Nama “Tussauds” sendiri merupakan nama suaminya. Latar belakang dibuatnya patung-patung public figure oleh Madam Tussauds merupakan cerita tragis penuh pertumpahan darah *lebay 😛 Singkat cerita, awalnya beliau membuat replika tokoh masyarakat yang dihukum mati dengan cara dipenggal >_< Pada umur 41 tahun, beliau pindah ke London dan memulai pameran-pameran patung lilinnya di sana. Itulah sebabnya Museum Madam Tussauds yang pertama berdiri di London.

Di museum ini (seperti yang mungkin pembaca sudah tau) dipajang patung-patung orang terkenal, mulai dari tokoh perdamaian, atlet olahraga, penyanyi, aktor/aktris, dan juga tokoh film yang tidak nyata. Patung-patung ini benar-benar serupa dengan aslinya, seperti tinggi badan, warna mata, rambut, dan detail lain pada tubuh sang tokoh seperti tato (Angelina Jolie tatonya banyak banget loh 😀 ). Saya pribadi benar-benar kagum dengan rambutnya yang terlihat seperti rambut manusia asli dan bulu mata yang benar-benar terlihat seperti tumbuh dari dalam kulit. Dan saya pun jadi menyadari kalau tokoh-tokoh terkenal ini kebanyakan badannya tinggi-tinggi ya. Hehe..

These are some of the pictures other visitors took for us. Nggak enaknya jalan berdua doang itu ya gini, minta tolong orang lain fotoin belum tentu bagus, bawa tripod ga selalu bisa digunakan, apalagi di museum yang penuh orang. Udah saatnya punya tongsis nih kayaknya biar bisa foto berdua 😀

Marilyn Monroe

Marilyn Monroe

Johny Depp

Johny Depp

Ternyata 1D cukup terkenal lho di Jepang. Mereka jd duta beberapa produk di sini.

Ternyata 1D cukup terkenal lho di Jepang. Mereka jadi duta beberapa produk di sini.

Beberapa tokoh lain selain artis-artis

Royal of British Kingdom. Tinggi banget kan mereka.

Royal of British Kingdom. Tinggi banget kan mereka.

IMG_3698

Terdapat juga beberapa mainan interaktif. Favorit saya yang ini, karena skor saya lebih tinggi daripada suami saya 😀 Jadi terdapat sebuah layar yang sudah dilengkapi sensor pendeteksi gerak. Pengunjung berpura-pura menjadi pemain baseball yang akan melemparkan bola. Kita harus melemparkan sekuat-kuatnya supaya bola tidak terpukul oleh pemukul dari tim lawan kita (ga ngerti istilahnya apa 😀 ).

Merasakan jadi pemain baseball :D

Merasakan jadi pemain baseball 😀

Ada juga tokoh yang bukan manusia, salah satunya E.T. Berasa seperti di poster filmnya yang terkenal itu 🙂

With the famous E.T.

With the famous E.T.

*****

Tanpa terasa hari sudah malam, padahal kami hanya jalan-jalan ke dua tempat ini. Oya di awal tadi saya menyebutkan bahwa kami hanya ingin jalan-jalan di museum supaya tidak terlalu capek. Kenyataannya sama sekali tidak demikian >_< Malahan kami capek sekali karena di museum full jalan atau berdiri saat melihat koleksi atau berfoto-foto. Jadi rasanya sama capeknya dengan berjalan jauh juga >_< Malahan lebih lelah daripada “hiking” di Tsukuba san kemarin lho! Namun Alhamdulillah acara jalan-jalan hari ini sesuai rencana dan tetap menyenangkan walaupun hujan seharian 🙂

Dari Madam Tussauds kami langsung ke Akihabara, mengambil koper, dan pulang menuju Tsukuba. Sampai jumpa di jalan-jalan kami berikutnya ya!