Tag Archives: life

Day 12: Five Blessings in My Life

Standard

Halo, semuanya!!

Kyaaa sudah hampir 2 minggu saya nggak nulis apa-apa di sini T_T Bener-bener dalam 2 minggu ini saya ga sempat buka laptop dalam waktu cukup lama. Jadi ceritanya, saya ada acara keluarga saat Natal kemarin, adik suami saya nikah. Jadi mulai beberapa hari sebelum hari H pernikahannya, kami sekeluarga sudah keluar kota, yaitu ke rumah orang tua suami a.k.a kota asal sang adik di mana ia akan melangsungkan pernikahan.

Kemudian sepulang dari acara pernikahan, saya dan anak saya yg masih berumur 4 bulan sama-sama sakit. Si kecil baru pertama kali naik pesawat disambung kereta. Alhasil, kecapeanlah dia, dan selama di perjalanan kita kan tidak bisa mencegah dia terpapar banyak orang. Akibatnya terkaparlah kami berdua sampai beberapa hari bahkan hingga tahun baru. Barulah pada hari ini kondisi kami sudah agak baikan, jadi saya bisa punya waktu buat buka laptop lagi dan melanjutkan tantangan menulis ini. Fiuuhh..

 Baiklah, langsung aja ke tema hari ini yah, lima berkah dalam hidup saya.

Hmm, sebenarnya, saya merasa banyaakk sekali berkah yang Allah kasih hingga 26 tahun hidup saya sekarang ini. Kalau disuruh milih 5 pastinya susah banget. Dan pada akhirnya,, poin-poin yang saya tuliskan di sini insya Allah ga ada maksud untuk pamer ya >< Insya Allah tujuan saya hanya untuk menyelesaikan tantangan menulis ini mensyukuri apa yg sudah Allah berikan ke saya.

Merasakan tinggal di negara 4 musim

Sebelum saya tinggal di Jepang, saya hanya “melihat” negara 4 musim dari buku bacaan atau film2. Yang saya lihat tentu hanya yg indah-indahnya saja, seperti bagaimana cantiknya bunga-bunga saat musim semi, atau serunya bermain bola salju saat musim dingin.

Setelah mengalami langsung, saya jadi tahu bahwa tinggal di negara 4 musim justru memiliki tantangan yg jauuhh lebih besar daripada negara tropis. Itulah sebabnya orang-orang di negara 4 musim lebih bersemangat dan bekerja keras dalam menghadapi hidup, tidak seperti orang-orang dari negara tropis yg cenderung lay back.

Sebagai contoh, saat musim dingin, tidak semua tanaman bisa tumbuh. Apalagi daerah dengan curah salju yg tinggi, boro-boro bisa ditanami, sawahnya aja ketutupan salju. Memang jika dilihat dengan mata, pemandangan hamparan salju di padang kosong terlihat indah, namun nyatanya, hal itu menyebabkan mereka yg mata pencahariannya bertani, otomatis tidak dapat melakukan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan, negara 4 musim harus mengimpor sayur-sayuran, buah-buahan, dan juga beras dari negara lain. Hal ini berdampak juga ke kami sebagai kosumen. Kerasa banget lho harga sayur dan buah jadi mahal saat musim dingin.

Kemudian pakaian juga harus menyesuaikan musimnya. Lagi-lagi, mungkin mengenakan coat dan sepatu boot terlihat keren bagi kita yg hidup di negara tropis ini. Di Indonesia sih mana mungkin bisa pakai baju kayak gitu kan. Namun kenyataannya, pakai baju-baju kayak gitu tuh ribet lho. Pakai baju kayak gitu kan tidak hanya saat kita lagi jalan-jalan dan foto-foto cantik aja. Mau keluar ke warung dekat rumah aja kita harus pake baju berlapis-lapis ><

Yah demikianlah sebagian struggle yg kami rasakan dengan hidup di negara 4 musim. Lho, bukannya tadi judulnya blessing ya, kok jadi struggle 😀 Iya, dengan hidup di negara 4 musim ini, saya jadi lebih open-mind, jadi tau bahwa hidup di Indonesia itu enaakk banget. Tapi kalau ditanya mau atau ga balik ke negara 4 musim, jawabannya tentu saja, MAU BANGET!! ><

Dianugerahi keluarga yg baik dan saling menguatkan

Saya bersyukur sekali dilahirkan dari ayah dan ibu saya ini, juga punya saudara laki-laki yg alhamdulillah nyambung banget walaupun terpaut usia yg jauh (9 tahun lho hehe). Dan juga sekarang setelah saya membina keluarga sendiri, saya bersyukur dipertemukan dengan suami yg banyak mengajak saya dalam kebaikan. Juga dianugerahi amanah buah hati yg insya Allah menjadi penyejuk mata dan hati. Semoga teman-teman yg membaca artikel ini juga dapat mensyukuri keluarga yg sudah ditakdirkan Allah ya. Aamiin 🙂

Diberikan lingkungan pergaulan yg baik

Lingkungan pergaulan yg baik itu mahal sekali lho harganya, bahkan mungkin tak ternilai oleh uang. Teman-teman sayalah yang membentuk diri saya. Dan mungkin saya tidak akan sampai di titik ini kalau tidak bergaul dengan teman-teman saya sekarang, baik itu teman-teman di Balikpapan dulu (yg alhamdulillah sampai sekarang banyak yg masih keep contact), teman-teman di IC (terima kasih sudah jadi pembuka hidayah untuk saya yg pengetahuan agamanya cetek banget), teman-teman ITB (terima kasih sudah jadi contoh dan panutan bagi saya untuk berkarya di berbagai bidang), dan juga teman-teman di Jepang (terima kasih telah menjadi keluarga di tanah rantau).

Bisa bangun setiap hari tanpa bingung mau makan apa dan tanpa perasaan takut akan bahaya mengancam

Akhir-akhir ini dengan banyaknya berita peperangan di negara lain, kadang saya suka sedih dan miris sendiri, di sini kita bisa menjalani kehidupan normal dengan tenang, sementara di belahan bumi lain ada saudara kita yg mendengar ledakan bom seperti makan 3x sehari. Mungkin mereka setiap hari bangun dengan perasaan was-was, akankah mereka kehilangan anggota keluarganya hari ini, ataukah mereka yg akan meninggalkan anggota keluarganya ><

Kita kan tidak bisa memilih dilahirkan sebagai warga negara apa. Jadi saya bersyukur sekali dilahirkan sebagai orang Indonesia di mana saya bisa mengenal Islam dengan mudahnya. Bagaimana kalau saya lahir jadi orang Palestina, yg negaranya direbut oleh orang lain? Lalu bagaimana kalau saya lahir jadi orang Jepang, okelah saya terlahir di negara maju dan aman dari perang, namun akankah saya bertemu Islam hingga akhir hayat saya?   ><

Tubuh yang sehat

Dan yang terakhir adalah nikmat kesehatan yg seringkali kita sepelekan. Banyak sekali orang yg kondisi fisiknya tidak sebaik saya, namun mereka tetap bersemangat hidup dan bisa berkarya dengan segala keterbatasan yang mereka punya. Kita sebagai orang yg dikaruniai kesehatan dan tubuh yg berfungsi sebagaimana mestinya, seharusnya bisa lebih bersyukur dan juga tidak mau kalah bersemangat dalam menjalani hidup 🙂

Advertisements

初めて皮膚科に行った (Pertama Kali ke Dokter Kulit)

Standard

Sebelum bercerita mengenai dokter kulit, saya mau bercerita sedikit mengenai pelajaran bahasa Jepang yang saya terima di sini.

Seperti sudah saya bahas sekilas di postingan sebelumnya, selama 6 bulan ini saya mendapat kelas intensif bahasa Jepang. Nah kalau biasanya kursus bahasa Jepang di Indonesia (sepengalaman saya), kita ‘hanya’ belajar grammar, vocabulary, dan kanji, lain halnya dengan kelas bahasa Jepang yang saya dapat di sini. Selain belajar hal-hal di atas, terdapat juga bab khusus mengenai ‘penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa Jepang dalam aplikasi kehidupan sehari-hari’. Keren kan kedengerannya? 😀

Pada bab ini, kami biasanya diperlihatkan video yang berisikan film singkat penggunaan ungkapan tersebut yang diperankan oleh orang Jepang dan orang asing yang ceritanya lagi belajar di Jepang. Pada video ini, terdapat beberapa pilihan, yaitu ungkapan dalam situasi formal dan kasual. Jadi kami bisa melihat dan mempelajari bagaimana jika menghadapi kedua situasi tersebut. Dan tak hanya menonton video, kami juga mempraktekkan dialog-dialog tersebut di kelas.

Contoh-contoh peristiwa yang sudah saya pelajari sejauh ini antara lain bagaimana memesan makanan di restoran, bagaimana meminta barang yang sesuai keinginan di departemen store, bagaimana memesan buku di toko buku, bagaimana cara menanyakan dan memberi tahu letak suatu tempat, bagaimana jika kehilangan suatu barang di suatu tempat, dan lain-lain. Dan tentu saja, yang mau saya bahas di sini, bagaimana cara ke rumah sakit atau ke dokter dan membaca keterangan dalam resep obat.

Mungkin hal-hal di atas terlihat sepele dan mungkin juga ada yang berpikir, ah kalau sudah mengerti grammar-grammar dasar, pasti juga bisa kok melakukan tanpa diajari secara langsung seperti ini. Tapi tidak halnya jika kamu sudah berada di Jepang. Semua terasa begitu berbeda.

Bagi saya yang majornya bukan bahasa Jepang dan hanya mempelajari bahasa Jepang melalui kursus bahasa di Indonesia, pertama kali saya datang ke Jepang, ternyata tidak semudah itu mengaplikasikan grammar dasar yang sudah dipelajari ke kehidupan sehari-hari di sini. Ternyata banyak sekali ungkapan yang (saat itu) belum pernah saya pelajari sepanjang sejarah saya belajar bahasa Jepang (kayak udah lama aja belajarnya 😛 ) Dan saya benar-benar merasakan manfaat belajar ungkapan sehari-hari tersebut saat saya mengalaminya langsung di sini.

Jadi ceritanya sudah sebulan ini kaki saya gatal-gatal. Ada satu bagian yang paling gatal dan sepertinya tidak sengaja saya garuk hingga luka. Kemudian luka tersebut saya olesi minyak tawon karena sepengalaman saya minyak tawon bisa menyembuhkan hampir semua penyakit kulit. Akhirnya luka tersebut mengering dan membentuk koreng. Lama kelamaan koreng tersebut mengelupas dengan sendirinya dan membentuk bagian kulit yang agak tipis dibanding bagian yang tidak ada korengnya (kebayang ga sih?).

Saat itu terjadi, saya senang karena saya pikir akhirnya kaki saya sembuh juga. Tapi tidak disangka-sangka dua hari yang lalu, bekas luka tersebut kembali mengeras dan membentuk permukaan kasar. Dan lebih parah lagi, tangan saya sekarang ikut gatal-gatal 😦

Ah sudahlah ini tak bisa dibiarkan seperti ini terus, pikir saya. Sudah sebulan tidak sembuh-sembuh dan makin parah sudah saatnya meminta pertolongan ahlinya. Akhirnya kemarin saya berniat ke klinik kampus hari ini setelah kelas bahasa Jepang. Namun karena saya belum pede harus menerangkan penyakit saya ini dalam bahasa Jepang, saya minta tolong kak Nagisa menemani saya. Kak Nagisa ini sama-sama penerima beasiswa Monbusho G2G dan berangkatnya juga bareng saya, tapi jurusannya bahasa Jepang, jadi tidak perlu diragukan lagi kemampuan bahasa Jepangnya 🙂

So, pergilah kami ke klinik kampus sore ini jam 3 setelah kelas bahasa Jepang. Sesampainya di klinik, kak Nagisa menanyakan ke uketsuke (resepsionis), kalau gatal-gatal, harus pergi ke dokter mana. Ternyata dokter umumnya klinik lagi libur sampai hari ini, hahaha, ga jodoh banget saya sama dokternya. Jadi besok baru terima pasien lagi. Terus sama uketsuke-nya kami diberitahu klinik khusus kulit yang sangat dekat dengan kampus, bahkan kami diberi peta menuju ke sana. Begitu melihat petanya, saya takjub sendiri, ga nyangka ternyata banyak kanji yang sudah bisa saya baca dan saya bisa memahami peta tersebut dengan baik 😥 Terharu…

photo

Dan pergilah kami ke klinik kulit tersebut yang memang terletak sangat dekat dengan kampus. Oya, klinik kulit ini dalam bahasa Jepang disebut ‘hifuka’ yang kanjinya ada di judul postingan ini (皮膚科).

Sampai di hifuka, kami disambut kembali di uketsuke, dan kalimat pertama yang diucapkan kak Nagisa, benar-benar sama persis dengan yang saya pelajari di kelas >_< “Kami baru pertama kali datang, harus bagaimana ya?” Sebenarnya dalam bahasa Jepang cuma “hajimete nan desu kedo…” kemudian biarkanlah kalimat tersebut menggantung, hahaha…

Dan seperti yang dialami si pemeran dalam video yang saya tonton di kelas, saya juga disuruh mengisi form bagi pasien yang baru pertama datang. Dari form ini kemudian kami akan dibuatkan kartu pasien klinik kulit ini. Kemudian saya diminta menunjukkan kartu asuransi kesehatan (hokenshou) yang sudah saya buat pada minggu pertama saya tiba di Jepang. Dengan kartu asuransi ini, kita hanya perlu membayar 30% dari biaya asli berobatnya. Alhamdulillah…

Kemudian resepsionisnya meminta saya untuk menunggu di kursi ruang tunggu yang tersedia. Sekitar 30 menit kemudian, nama saya dipanggil. Aaa..benar-benar seperti di video yang saya tonton di kelas, haha. Saya jadi excited sendiri.

Masuk ke ruang dokter, saya mencoba menjelaskan sendiri tanpa bantuan kak Nagisa. Saya bilang tangan dan kaki saya gatal-gatal. Yang kaki sudah gatal dari sebulan lalu, sedangkan yang di tangan baru dua hari yang lalu. Kemudian kak Nagisa menambahkan, kira-kira gatalnya kenapa ya dok, apa karena alergi, atau terkena kutu.

Kemudian dokter menjelaskan analisisnya dalam bahasa Jepang. Namun ada yang istimewa dari dokter ini. Selagi menjelaskan, beliau juga menuliskan penjelasannya tersebut dalam bahasa Inggris di secarik kertas, dan hebatnya, tulisannya bisa dibaca! >_<

photo (1)

Wow, ternyata sebagian penjelasan dokter bisa saya mengerti selagi mendengarkan sekaligus membaca terjemahannya. Namun tetap ada juga sebagian informasi yang ditambahkan oleh kak Nagisa. Wah senang sekali rasanya ternyata saya sudah bisa juga pergi ke dokter tanpa benar-benar blank dengan penjelasan dokternya 🙂 Ternyata kata dokter ini bukan karena kutu atau jamur, tapi kemungkinan karena kering, jadi gatal lalu digaruk, akhirnya lapisan kulitnya menebal dan kasar.

Setelah itu saya membayar biaya konsultasi dokter lalu pergi ke apotek (yakkyoku) yang terletak di gedung yang sama dengan hifuka. Di apotek saya ditanya apakah punya ‘kusuri techou’ alias ‘catatan obat’. Wah apa ya kusuri techou itu? Kak Nagisa juga ga tau, akhirnya saya bilang saja belum punya. Dan saya diminta mengisi form yang menanyakan riwayat penyakit yang pernah saya derita. Mungkin kusuri techou itu catatan obat-obat yang pernah kita gunakan selama ini kali ya.

Tidak lama kemudian saya pun diberikan salep dan dijelaskan cara menggunakannya. Wah ternyata hal ini pun sudah pernah saya pelajari di kelas jadi Alhamdulillah saya sudah tidak asing dengan beberapa istilahnya dan bisa memahami penjelasan mbak-mbak apoteknya dengan baik 🙂

photo (2)

Ini bungkus obatnya. Menurut tulisan di covernya ini obat luar, dipakainya 2 kali sehari dengan cara dioleskan. Hiks, tapi nulis namanya salah, padahal waktu ngisi formnya saya udah nulis katakana-nya juga lho 😦

Yeay, Alhamdulillah hari ini saya memperoleh skill baru yaitu pergi ke dokter. Senang sekali rasanya jika apa yang kita pelajari di kelas benar-benar bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata memang benar ya, cara terbaik mempelajari suatu bahasa adalah dengan merasakan tinggal di negara yang menggunakan bahasa tersebut 🙂

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?