Tag Archives: life

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 2.1

Standard

Halo, temen-temen! Sekarang saya mau melanjutkan lagi cerita tentang stereotip yang saya alami ketika tinggal di Jepang. Nah kenapa judulnya Part 2.1, akan saya ceritakan di akhir ya. Bagi yang belum membaca part 1-nya, bisa dibaca di sini ya. Kali ini juga masih sama dengan post sebelumnya, saya ingin bercerita tentang anggapan salah yang saya miliki terhadap bangsa atau ras tertentu.

Berkuliah di kampus yang cukup banyak menerima mahasiswa asing membuat saya dapat bertemu teman-teman dari berbagai belahan dunia. Lagi-lagi termakan oleh apa yang selama ini diberitakan media, saya memiliki anggapan tertentu terhadap beberapa etnis budaya. Sebagai contoh, mereka yang berasal India atau Singapura pasti cenderung lebih pandai dari yang lainnya, dan sebaliknya, mereka yang berasal dari negara-negara Afrika dan berkulit hitam pasti cenderung lebih terbelakang pendidikannya. Tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa anggapan ini akan dipatahkan mentah-mentah oleh pengalaman yang akan saya ceritakan di post kali ini.

Sebut saja S. Dia adalah penerima beasiswa Monbusho G2G angkatan 2013, sama seperti saya dan teman saya J yang saya ceritakan di post sebelumnya. Dia juga seorang Muslim, berasal dari negara S di Afrika, dan berkulit hitam. S ini satu jurusan dengan saya di kampus, tapi berbeda lab.

Semua penerima beasiswa Monbusho G2G harus mengikuti kelas Bahasa Jepang selama 1 tahun sebelum memulai pendidikan S2. Ada sekitar 20-an penerima beasiswa Monbusho G2G di kampus saya pada tahun 2013 itu, dan kami dibagi jadi 2 kelas Bahasa Jepang. Satu kelas berisi 7 orang (termasuk saya) adalah kelas bagi kami yang sudah pernah mempelajari Bahasa Jepang sebelum datang ke Jepang. Kelas ini disebut kelas B. Dan satu kelas lagi adalah kelas bagi mereka yang belum pernah belajar Bahasa Jepang sama sekali. Kelas ini disebut kelas A, dan S ada di kelas tersebut. Oya FYI juga, semua teman saya yang berkulit hitam ada di kelas itu termasuk J dan S ini.

Di tahun pertama ini, kami juga akan mengikuti tes masuk ke jurusan masing-masing, sama seperti mahasiswa lulusan S1 Jepang pada tahun itu. Tes ini diadakan pada bulan Agustus, sementara tahun ajaran baru dimulai bulan April tahun depannya. Jadi jika kami lolos tes masuk ini, kami punya satu semester kosong sebelum memulai perkuliahan.

Mendekati ujian masuk, saya pun sibuk belajar mempersiapkannya dengan mengerjakan soal-soal yang pernah dikeluarkan tahun-tahun sebelumnya. Sama ya dengan calon mahasiswa di Indonesia 🙂 Jujur aja, soal tes masuk kampus saya ini susah banget. Hampir sama tingkat kesulitannya kayak lomba. Saya jadi harus baca-baca lagi teori dari buku pelajaran (atau dalam hal ini search di google sih sebenernya 😀 ).

Suatu hari saya sedang belajar di jam istirahat kelas Bahasa Jepang bareng temen sekelas yang juga satu jurusan dengan saya, sebut saja F, dan dia ini juga cowo (maklumlah kalau teman saya kebanyakan cowo, jurusan saya memang jurusan yang didominasi oleh para pria). Di salah satu soal, saya dan F mengalami kesulitan dan stuck. Kemudian salah satu teman kami dari kelas A main ke kelas kami dan melihat kami sedang stuck. Dia pun menyarankan, “Go ask S, he’s very genius!” Kami (saya dan F) yang tidak tahu menahu bahwa S adalah seorang jenius karena kami tidak sekelas bahasa dengannya sehingga jarang mengobrol dengan dia, mencoba menanyakan soal tsb ke S. Dan benar saja, he solved it in no time!

Sejak saat itu, kami selalu belajar bareng S. Usut punya usut, ternyata S ini memang benar-benar pinteeerrr banget dalam bidang keilmuan kami. Kayaknya isi buku kalkulus, matematika teknik, dan pemrograman udah ditelen mentah-mentah sama dia, karena dia ini nggak hanya pandai dalam hal yang bisa dinalar dengan logika, namun juga dia hapal semua teorema, prinsip, dan rumus dalam matematika. Kebayang kan pinternya kayak gimana?

Hingga akhirnya tibalah musim panas pertama saya di Jepang. Ternyata, rasanya berat sekali belajar untuk persiapan ujian masuk di musim panas ini, yang suhu dan kelembapan rata-rata per harinya lebih tinggi daripada di Indonesia. Selain karena udaranya yang panas dan pengap, hawanya memang sangat hawa liburan, karena anak-anak sekolah libur selama 3 bulan. Sedangkan mahasiswa, meskipun tidak ada kuliah selama 3 bulan, lab dan kampus tetap buka 24 jam seperti biasa.

Walaupun berat, saya sendiri memang tipenya tidak tenang kalau tidak belajar setiap hari untuk ujian yang penting seperti ini. Namun lama kelamaan semangat F agak menurun untuk belajar karena musim panas ini memang susah banget buat bikin otak konsentrasi. Bawaannya pengen tidur-tiduran di depan kipas angin terus sambil makan es loli. Alhasil tinggal saya dan S yang lebih sering belajar bareng, atau lebih tepatnya, saya yang meminta S menemani saya belajar hampir setiap hari.

Kenapa saya bilang “lebih tepatnya S yang menemani saya belajar”, karena sebenernya S ini sudah tidak perlu belajar lagi menurut saya. Semua soal tahun-tahun sebelumnya bisa dia kerjakan dalam waktu singkat. Kalau ada yang sedikit susah, dia akan bilang, “Let me finish it and then I’ll tell you how to solve it,” dan biasanya soal-soal kayak gini pun dia selesaikan dalam waktu paling lama 1 jam, lalu dia akan mengajari saya.

Buat temen-temen yang jurusan kuliahnya IPA pasti sering kan mengerjakan soal yang harus ditulis cara mendapatkan jawabannya. Nah S ini pun sangat rapi dan runut dalam menuliskan jawaban dari soal-soal ujian ini, sehingga membuat saya mudah dalam memahami cara mengerjakannya. Kalau melihat S ini kayaknya dia bener-bener cocok jadi penulis buku teorema matematika, karena nggak cuma pinter, dia juga bisa mengajarkan orang lain sampai orang tersebut paham.

Singkat cerita waktu ujian pun tiba. Alhamdulillah saya lumayan bisa mengerjakan soal yang diberikan karena memang mirip sekali polanya dengan soal tahun-tahun sebelumnya. Setelah ujian, maka kami tinggal menunggu tahun ajaran baru pada bulan April tahun berikutnya.

Wah saya tidak menyangka ternyata sudah sepanjang ini tulisannya, cerita tentang S belum selesai. Insya Allah saya lanjutkan lagi di Part 2.2 ya ^^

Untuk post ini segini dulu. Semoga ada yang bisa temen-temen ambil dari cerita kali ini 🙂 Sampai ketemu di post selanjutnya! Semoga belum bosan ya!

Advertisements

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 1

Standard

Stereotype, atau dalam bahasa Indonesia disebut stereotip, menurut KBBI daring memiliki makna:

n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman berharga yang saya dapatkan berkaitan dengan stereotip ini. Pengalaman ini terjadi saat saya masih tinggal di Jepang, namun hikmahnya masih saya rasakan hingga sekarang.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 3 part, setiap partnya akan menceritakan seseorang yang saya kenal saat saya tinggal di Jepang, yang bantuannya tidak akan pernah saya lupakan.

Pertama kali saya tiba di Jepang untuk tinggal dalam waktu yang lama adalah pada tahun 2013. Bagi yang tidak mengikuti blog ini sejak dulu mungkin tidak tahu, jadi akan saya ceritakan sedikit penyebab saya tinggal di Jepang.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho atau disingkat Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang keberangkatan tahun 2013. Cerita lengkapnya sudah saya tuliskan di blog ini, silakan bagi yang ingin membaca bisa klik tab ‘monbusho’ di blog saya ini.

Saat tinggal di Jepang inilah pertama kalinya saya akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, mengingat kampus saya merupakan kampus negeri yang banyak menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar Jepang, sehingga menerima banyak sekali mahasiswa asing tiap tahunnya. Sebelum ini, saya hanyalah seorang pelajar biasa yang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang homogen. SD dan SMP saya di Balikpapan bersekolah di sekolah swasta yang siswa-siswanya berasal dari kalangan tertentu, saat SMA saya bersekolah asrama di madrasah aaliyah (otomatis teman-teman saya Muslim semua), dan saat S1 saya kuliah di kampus teknik (lagi-lagi bergaul dengan teman-teman yang memiliki keilmuan serupa). Sangat jarang saya bertemu dan berteman dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Mungkin nanti setelah teman-teman selesai membaca tulisan saya ini, teman-teman akan berpikir bahwa saya polos sekali, namun memang begitulah saya, terutama saat kedatangan saya pertama kalinya untuk tinggal di Jepang. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah belajar lebih banyak 🙂

Besar di lingkungan yang homogen membuat saya memiliki stereotip terhadap orang yang saya anggap ‘berbeda’ dari saya. Stereotip ini terjadi sebagai akibat dari hal-hal yang saya lihat, yang menyebabkan saya memiliki anggapan khusus terhadap kalangan tertentu. Sebagai contoh: orang Jepang disiplin dan tepat waktu, orang Amerika pasti berkulit putih, orang yang berwajah India pasti berasal dari negara India, orang Afrika pasti berkulit hitam, dan yang terakhir, inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini, orang berkulit hitam memiliki sifat kasar. Beberapa stereotip ini ada yang benar, namun ada juga yang tidak.

Saya yang dari kecil memperoleh hiburan dari film-film barat, sering sekali melihat orang berkulit hitam yang menjadi penjahat, pengkhianat dari suatu badan, polisi yang semena-mena, pokoknya orang berkulit hitam selalu menjadi antagonis di film-film tersebut. Dari sini saya melihat bahwa tak dapat dipungkiri, media memegang peran penting akan terbentuknya stereotip ini. Ditambah dengan pertama kalinya saya tinggal di LUAR NEGERI sendirian yang mengakibatkan saya menjadi ekstra hati-hati dalam bertindak, saya menjadi agak takut untuk bergaul dengan mereka yang berkulit hitam saat pertama saya bertemu dengan mereka.

Setibanya di Jepang, saya harus belajar Bahasa Jepang selama satu tahun, selama 5 hari dalam seminggu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, sebelum memulai pendidikan S2. Di kelas Bahasa Jepang, saya sekelas dengan teman-teman penerima beasiswa Monbusho dari negara lainnya. Mereka ada yang berasal dari Asia, Amerika latin, dan juga Afrika. Teman yang berasa dari Afrika ini ada lebih dari satu orang, dan mereka semua berkulit hitam.

Saat pertama kalinya saya bertemu dengan teman dari Afrika ini, saya sangat ingat saya berusaha untuk tidak berada di dekat mereka, karena saya sangat takut untuk bergaul dengan mereka. Hingga suatu ketika salah satu dari mereka menyapa saya terlebih dahulu. Oh ya, teman ini laki-laki, sebut saja J.

Dia menyapa dengan, “Salam ‘alaikum.” Saat itu saya terdiam sambil menoleh ke arahnya karena saya tidak menyangka akan disapa duluan. Lagipula saya juga bingung, mengapa dia menyapa saya dengan ucapan demikian, itu ‘kan hanya ucapan yang disampaikan kepada sesama Muslim. “Mengapa dia bisa tahu ucapan itu? Oh mungkin karena saya mengenakan hijab,” pikir saya waktu itu.

Karena terlalu kaget, I end up didn’t answer his greeting at all but only starred at him with blank face. Untungnya J ini tidak berubah menjadi menjauhi saya walaupun saya tidak menjawab salamnya. Dia malah bertanya, “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Bahkan saya tidak menanyakan balik dia dari negara mana saking sebegitu jaga jaraknya saya 😦

And then he said, “You are Muslim, right? You wear hijab. I am Muslim, too.” Dan saya langsung shocked. Ternyata dia Muslim juga walaupun berkulit hitam. Saya saat itu benar-benar tidak menyangka ada orang berkulit hitam yang Muslim. Saya benar-benar tidak tahu bahwa sebagian besar negara di Afrika utara berpenduduk mayoritas Muslim 😦 Maklum, terakhir belajar Geografi saat SMP, dan seingat saya waktu SMA tidak ada pelajaran yang membahas negara-negara di seluruh dunia 😦

Maka sejak dia menyapa saya terlebih dahulu itu, saya mulai membuka hati terhadap teman-teman berkulit hitam di kelas Bahasa Jepang saya lainnya. And turned out they are just as normal as we all are. Tidak ada satu pun yang kasar seperti yang saya lihat di film-film. Mereka juga ramah, bisa bergurau, belajar bareng, juga jalan-jalan bareng.

Karena saya selalu bersama teman-teman ini sebagian besar dalam waktu hidup saya selama satu tahun awal di Jepang, kami jadi benar-benar dekat seperti saudara. Karena kami juga satu asrama (tentu saja laki-laki dan perempuan dipisah, namun bersebalahan gedungnya), kami sering melakukan aktivitas bersama di luar waktu belajar. Dan pertemanan saya dengan J pun semakin normal, semakin seperti saya berteman dengan teman-teman di Indonesia saja. Dia (juga teman laki-laki lainnya) sopan kok terhadap perempuan, jadi saya tidak merasa takut diajak pergaulan yang aneh-aneh seperti yang saya lihat di film (lagi-lagi menyalahkan film 😀 ).

Singkat cerita, tibalah bulan Ramadhan pertama saya di Jepang. Alhamdulillah, terdapat satu masjid yang terletak cukup dekat dengan asrama saya. Kalau naik sepeda memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar, NAMUN harus melewati jalan yang sangat sepi dan pinggirnya terdapat hutan, sawah, dan lahan kosong. Kalau malam, hanya satu dua mobil saja yang melintasi jalanannya.

Sebagai informasi, karena Ramadhan tahun itu bertepatan dengan musim panas (yang mana siang lebih panjang daripada malam), waktu maghrib jatuh pada sekitar pukul 7 malam, isya pukul setengah 9 malam, dan subuh pukul setengah 3 pagi. Tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan menghabiskan bacaan 1 juz Al Qur’an setiap harinya. Oleh sebab itu, karena isya baru pukul setengah 9 malam, shalat tarawih selalu selesai pukul setengah 11, naik sepeda 30 menit, sampai rumah pukul 11 malam. Maka, saya selalu ke masjid beramai-ramai dengan teman Indonesia lainnya (mengingat jalanannya yang sepi seperti yang tadi sudah saya sebutkan dan waktu yang sangat larut). Dan kalau berencana sahur, maka harus bangun jam 2 pagi. Beginilah jadwal saya setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Di masjid ini terdapat kebiasaan di bulan Ramadhan yang hingga kini saya rindukan (selain tentu saja agenda shalat tarawih), yaitu adanya jadwal buka puasa bersama pada hari-hari tertentu, dan yang menyiapkan bergantian setiap negara/komunitas. Misal hari ini komunitas Arab menyiapkan buka puasa, kemudian 3 hari lagi komunitas Pakistan, lalu 3 hari lagi komunitas Mesir, dan tentu saja ada komunitas Indonesia, dan masih banyak negara lainnya.

Suatu hari, saya sedang ‘berhalangan’ (biasalah wanita), padahal hari itu ada jadwal buka puasa dari komunitas negara lain. Biasanya saat ada jadwal buka puasa bersama ini, makanan di masjid selalu berlebih dan tidak habis sehingga sering dibawa pulang oleh peserta tarawih. Saya sih senang saja makanannya jadi bisa dimakan untuk sahur lagi. Bahkan saking banyaknya, kadang dimakan sahur pun masih tidak habis.

Awalnya saya mau tetap ke masjid bersama dengan teman Indonesia lainnya, tapi tiba-tiba saya galau karena merasa tidak enak mengambil makanan gratis padahal tidak berpuasa, jadi saya batalkan janji saya dengan teman Indonesia tersebut, sehingga teman tersebut berangkat ke masjid duluan naik sepeda. Setelah teman saya pergi, saya masih di luar asrama dengan sepeda, muncul-lah J ini dari asrama laki-laki, dan sepertinya dia mau berangkat ke masjid.

Seperti biasa dia menyapa duluan, “Salam’alaikum, Nadine, are you going to the masjid?” Duh saya bingung harus jawab apa, kalau tidak ke masjid, saya terpaksa harus bilang alasan saya, padahal malu banget bilang lagi ‘berhalangan’ ke temen cowok gitu. Kalau saya bilang mau ke masjid, pasti dia ngajak bareng naik sepeda. Akhirnya saya pun jujur saja, “No, I’m not going to the masjid today.” Terus dia nanya lagi, “Why? There’s ifthar schedule today. It’s such a waste if you didn’t come.”

Karena dia bertanya dan saya juga tidak punya alasan lain, akhirnya saya jujur saja ke dia, “Actually I’m not fasting today. You know..that woman thing..” Dan untungnya dia langsung paham. “Ah I see. But it’s okay if you just come to get the food. There are so many leftovers everyday,” said him. Yaa bener juga sih, daripada makanannya terbuang percuma, mendingan saya bantu menghabiskan. Tapi saya tetap bingung bagaimana pulangnya, karena saya takut naik sepeda malam-malam melewati jalanan sepi tersebut.

Saya pun bilang lagi, “But I’m not doing tarawih prayer. I can’t go home alone after dinner since it would be too late and the road is kinda creepy,” ‘Late’ di sini maksudnya ‘sudah larut malam’. Jadi saya bilang ke dia, bagaimana saya bisa pulang habis makan malam, kan sudah malem banget padahal harus melewati jalanan sepi, gitu..

Lalu dia bilang lagi, “It’s ok. Just message me when you want to go home, I’ll go with you,” What??? Jadi dia menawarkan untuk mengantar saya pulang 😥

Ya sudahlah since he insisted (dan karena saya juga lapar 😀 ) saya terima saja ajakan dia ke masjid. Sepanjang perjalanan ke masjid seingat saya kami tidak mengobrol terlalu banyak. Sesampainya di masjid, dia masuk ke ruangan untuk laki-laki, dan saya masuk ke ruangan untuk perempuan.

Oh ya, jangan bayangkan masjid ini berbentuk masjid seperti di Indonesia yang berbentuk lantai luas dengan barisan laki-laki di depan barisan perempuan serta langit-langitnya tinggi ada kubahnya. Masjid kami tidak seperti Masjid Camii di Tokyo, atau Masjid Kobe yang berbentuk layaknya masjid di Indonesia. Masjid kami ini hanyalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa ruangan. Jadi ada ruangan yang dipakai oleh jamaah laki-laki dan ada yang untuk jamaah perempuan.

Singkat cerita, tibalah waktu ifthar, lalu shalat maghrib (saya melipir di pojokan karena tidak shalat), lalu makan malam. Setelah makan malam saya pun mengirim pesan melalui Line ke J, “J, I’m finished. I think I want to go home now.” Tadinya saya tidak berekspektasi di akan membalas. Mungkin dia sudah sibuk ngobrol dengan jamaah laki-laki lainnya jadi tidak akan sering-sering mengecek hpnya. Eh, tidak disangka dia langsung membalas, “Okay, let’s meet outside.”

Kami pun bertemu di luar masjid lalu naik sepeda menuju asrama. Sepanjang perjalanan pulang dia bersepeda dengan jarak sekitar 2 meter di belakang saya dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, which I really appreciate. Biar bagaimana pun juga dia bukan muhrim, tapi saya takut juga kalau pulang sendirian, dan sepertinya dia juga paham hal ini :’)

Begitu kami sudah sampai di jalanan yang agak ramai, saya bilang ke dia,”I think you can leave me here,” soalnya saya nggak enak juga sama dia yang masih harus balik ke masjid untuk shalat tarawih. Dia bertanya, “is it really okay?” “Yeah, it’s okay. And thank you so much,” jawab saya. Kami pun berpamitan dan dia bersepeda balik ke arah masjid.

Hingga saat ini this one particular episode masih sangat teringat jelas di ingatan saya, karena saya merasa mendapat bantuan yang tidak disangka-sangka and even from the least likely person, ditambah bahkan saya pernah su’udzon duluan ke dia 😥 Kalau dipikir-pikir, sampai saya meninggalkan Jepang, saya belum pernah benar-benar membalas perbuatan baiknya. Hhh.. I should’ve treated him better.. Well, I just pray that Allah will repay his good deeds.. Aamiin..

Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini hingga selesai 🙂 Sampai jupa di part 2 yang insya Allah nggak kalah seru ceritanya. Di part 2 teman-teman akan tahu the real struggle of studying in Japan. Kehidupan di Jepang itu tidak melulu seindah pepohonan yang menguning di kala musim gugur, seputih salju di musim dingin, apalagi secerah matahari yang jatuh di antara ranting bunga sakura di musim semi.

Eeaa..

PS: Sekadar informasi, tahun 2015, J sudah menikah dan saat ini telah memiliki seorang anak.

Sorry

Standard

I feel so sorry that I left this blog for quite a long time. I didn’t even finish the 30-day writing challenge I promise myself to finish. Ini semua bermula sejak saya pindah ke kota baru, di mana saya harus mengurus rumah dan anak saya sendirian tanpa ada yang membantu sama sekali. Alhasil, saya tidak bisa menemukan waktu untuk menulis (atau memang niat saya kurang kuat saja). Saat anak tidur dan rumah sudah selesai diurus, saya lebih sering merasa kelelahan dan akhirnya ikut tidur juga.

Things have become better by now. I finally found my regular schedule as my son grows up. That’s why I want to go back here. I still have a lot of drafts I haven’t finished yet 😦 And also many things I want to write that I hope can be useful for ones who read them.

Would you let me start all over again? 😥

Day 12: Five Blessings in My Life

Standard

Halo, semuanya!!

Kyaaa sudah hampir 2 minggu saya nggak nulis apa-apa di sini T_T Bener-bener dalam 2 minggu ini saya ga sempat buka laptop dalam waktu cukup lama. Jadi ceritanya, saya ada acara keluarga saat Natal kemarin, adik suami saya nikah. Jadi mulai beberapa hari sebelum hari H pernikahannya, kami sekeluarga sudah keluar kota, yaitu ke rumah orang tua suami a.k.a kota asal sang adik di mana ia akan melangsungkan pernikahan.

Kemudian sepulang dari acara pernikahan, saya dan anak saya yg masih berumur 4 bulan sama-sama sakit. Si kecil baru pertama kali naik pesawat disambung kereta. Alhasil, kecapeanlah dia, dan selama di perjalanan kita kan tidak bisa mencegah dia terpapar banyak orang. Akibatnya terkaparlah kami berdua sampai beberapa hari bahkan hingga tahun baru. Barulah pada hari ini kondisi kami sudah agak baikan, jadi saya bisa punya waktu buat buka laptop lagi dan melanjutkan tantangan menulis ini. Fiuuhh..

 Baiklah, langsung aja ke tema hari ini yah, lima berkah dalam hidup saya.

Hmm, sebenarnya, saya merasa banyaakk sekali berkah yang Allah kasih hingga 26 tahun hidup saya sekarang ini. Kalau disuruh milih 5 pastinya susah banget. Dan pada akhirnya,, poin-poin yang saya tuliskan di sini insya Allah ga ada maksud untuk pamer ya >< Insya Allah tujuan saya hanya untuk menyelesaikan tantangan menulis ini mensyukuri apa yg sudah Allah berikan ke saya.

Merasakan tinggal di negara 4 musim

Sebelum saya tinggal di Jepang, saya hanya “melihat” negara 4 musim dari buku bacaan atau film2. Yang saya lihat tentu hanya yg indah-indahnya saja, seperti bagaimana cantiknya bunga-bunga saat musim semi, atau serunya bermain bola salju saat musim dingin.

Setelah mengalami langsung, saya jadi tahu bahwa tinggal di negara 4 musim justru memiliki tantangan yg jauuhh lebih besar daripada negara tropis. Itulah sebabnya orang-orang di negara 4 musim lebih bersemangat dan bekerja keras dalam menghadapi hidup, tidak seperti orang-orang dari negara tropis yg cenderung lay back.

Sebagai contoh, saat musim dingin, tidak semua tanaman bisa tumbuh. Apalagi daerah dengan curah salju yg tinggi, boro-boro bisa ditanami, sawahnya aja ketutupan salju. Memang jika dilihat dengan mata, pemandangan hamparan salju di padang kosong terlihat indah, namun nyatanya, hal itu menyebabkan mereka yg mata pencahariannya bertani, otomatis tidak dapat melakukan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan, negara 4 musim harus mengimpor sayur-sayuran, buah-buahan, dan juga beras dari negara lain. Hal ini berdampak juga ke kami sebagai kosumen. Kerasa banget lho harga sayur dan buah jadi mahal saat musim dingin.

Kemudian pakaian juga harus menyesuaikan musimnya. Lagi-lagi, mungkin mengenakan coat dan sepatu boot terlihat keren bagi kita yg hidup di negara tropis ini. Di Indonesia sih mana mungkin bisa pakai baju kayak gitu kan. Namun kenyataannya, pakai baju-baju kayak gitu tuh ribet lho. Pakai baju kayak gitu kan tidak hanya saat kita lagi jalan-jalan dan foto-foto cantik aja. Mau keluar ke warung dekat rumah aja kita harus pake baju berlapis-lapis ><

Yah demikianlah sebagian struggle yg kami rasakan dengan hidup di negara 4 musim. Lho, bukannya tadi judulnya blessing ya, kok jadi struggle 😀 Iya, dengan hidup di negara 4 musim ini, saya jadi lebih open-mind, jadi tau bahwa hidup di Indonesia itu enaakk banget. Tapi kalau ditanya mau atau ga balik ke negara 4 musim, jawabannya tentu saja, MAU BANGET!! ><

Dianugerahi keluarga yg baik dan saling menguatkan

Saya bersyukur sekali dilahirkan dari ayah dan ibu saya ini, juga punya saudara laki-laki yg alhamdulillah nyambung banget walaupun terpaut usia yg jauh (9 tahun lho hehe). Dan juga sekarang setelah saya membina keluarga sendiri, saya bersyukur dipertemukan dengan suami yg banyak mengajak saya dalam kebaikan. Juga dianugerahi amanah buah hati yg insya Allah menjadi penyejuk mata dan hati. Semoga teman-teman yg membaca artikel ini juga dapat mensyukuri keluarga yg sudah ditakdirkan Allah ya. Aamiin 🙂

Diberikan lingkungan pergaulan yg baik

Lingkungan pergaulan yg baik itu mahal sekali lho harganya, bahkan mungkin tak ternilai oleh uang. Teman-teman sayalah yang membentuk diri saya. Dan mungkin saya tidak akan sampai di titik ini kalau tidak bergaul dengan teman-teman saya sekarang, baik itu teman-teman di Balikpapan dulu (yg alhamdulillah sampai sekarang banyak yg masih keep contact), teman-teman di IC (terima kasih sudah jadi pembuka hidayah untuk saya yg pengetahuan agamanya cetek banget), teman-teman ITB (terima kasih sudah jadi contoh dan panutan bagi saya untuk berkarya di berbagai bidang), dan juga teman-teman di Jepang (terima kasih telah menjadi keluarga di tanah rantau).

Bisa bangun setiap hari tanpa bingung mau makan apa dan tanpa perasaan takut akan bahaya mengancam

Akhir-akhir ini dengan banyaknya berita peperangan di negara lain, kadang saya suka sedih dan miris sendiri, di sini kita bisa menjalani kehidupan normal dengan tenang, sementara di belahan bumi lain ada saudara kita yg mendengar ledakan bom seperti makan 3x sehari. Mungkin mereka setiap hari bangun dengan perasaan was-was, akankah mereka kehilangan anggota keluarganya hari ini, ataukah mereka yg akan meninggalkan anggota keluarganya ><

Kita kan tidak bisa memilih dilahirkan sebagai warga negara apa. Jadi saya bersyukur sekali dilahirkan sebagai orang Indonesia di mana saya bisa mengenal Islam dengan mudahnya. Bagaimana kalau saya lahir jadi orang Palestina, yg negaranya direbut oleh orang lain? Lalu bagaimana kalau saya lahir jadi orang Jepang, okelah saya terlahir di negara maju dan aman dari perang, namun akankah saya bertemu Islam hingga akhir hayat saya?   ><

Tubuh yang sehat

Dan yang terakhir adalah nikmat kesehatan yg seringkali kita sepelekan. Banyak sekali orang yg kondisi fisiknya tidak sebaik saya, namun mereka tetap bersemangat hidup dan bisa berkarya dengan segala keterbatasan yang mereka punya. Kita sebagai orang yg dikaruniai kesehatan dan tubuh yg berfungsi sebagaimana mestinya, seharusnya bisa lebih bersyukur dan juga tidak mau kalah bersemangat dalam menjalani hidup 🙂

初めて皮膚科に行った (Pertama Kali ke Dokter Kulit)

Standard

Sebelum bercerita mengenai dokter kulit, saya mau bercerita sedikit mengenai pelajaran bahasa Jepang yang saya terima di sini.

Seperti sudah saya bahas sekilas di postingan sebelumnya, selama 6 bulan ini saya mendapat kelas intensif bahasa Jepang. Nah kalau biasanya kursus bahasa Jepang di Indonesia (sepengalaman saya), kita ‘hanya’ belajar grammar, vocabulary, dan kanji, lain halnya dengan kelas bahasa Jepang yang saya dapat di sini. Selain belajar hal-hal di atas, terdapat juga bab khusus mengenai ‘penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa Jepang dalam aplikasi kehidupan sehari-hari’. Keren kan kedengerannya? 😀

Pada bab ini, kami biasanya diperlihatkan video yang berisikan film singkat penggunaan ungkapan tersebut yang diperankan oleh orang Jepang dan orang asing yang ceritanya lagi belajar di Jepang. Pada video ini, terdapat beberapa pilihan, yaitu ungkapan dalam situasi formal dan kasual. Jadi kami bisa melihat dan mempelajari bagaimana jika menghadapi kedua situasi tersebut. Dan tak hanya menonton video, kami juga mempraktekkan dialog-dialog tersebut di kelas.

Contoh-contoh peristiwa yang sudah saya pelajari sejauh ini antara lain bagaimana memesan makanan di restoran, bagaimana meminta barang yang sesuai keinginan di departemen store, bagaimana memesan buku di toko buku, bagaimana cara menanyakan dan memberi tahu letak suatu tempat, bagaimana jika kehilangan suatu barang di suatu tempat, dan lain-lain. Dan tentu saja, yang mau saya bahas di sini, bagaimana cara ke rumah sakit atau ke dokter dan membaca keterangan dalam resep obat.

Mungkin hal-hal di atas terlihat sepele dan mungkin juga ada yang berpikir, ah kalau sudah mengerti grammar-grammar dasar, pasti juga bisa kok melakukan tanpa diajari secara langsung seperti ini. Tapi tidak halnya jika kamu sudah berada di Jepang. Semua terasa begitu berbeda.

Bagi saya yang majornya bukan bahasa Jepang dan hanya mempelajari bahasa Jepang melalui kursus bahasa di Indonesia, pertama kali saya datang ke Jepang, ternyata tidak semudah itu mengaplikasikan grammar dasar yang sudah dipelajari ke kehidupan sehari-hari di sini. Ternyata banyak sekali ungkapan yang (saat itu) belum pernah saya pelajari sepanjang sejarah saya belajar bahasa Jepang (kayak udah lama aja belajarnya 😛 ) Dan saya benar-benar merasakan manfaat belajar ungkapan sehari-hari tersebut saat saya mengalaminya langsung di sini.

Jadi ceritanya sudah sebulan ini kaki saya gatal-gatal. Ada satu bagian yang paling gatal dan sepertinya tidak sengaja saya garuk hingga luka. Kemudian luka tersebut saya olesi minyak tawon karena sepengalaman saya minyak tawon bisa menyembuhkan hampir semua penyakit kulit. Akhirnya luka tersebut mengering dan membentuk koreng. Lama kelamaan koreng tersebut mengelupas dengan sendirinya dan membentuk bagian kulit yang agak tipis dibanding bagian yang tidak ada korengnya (kebayang ga sih?).

Saat itu terjadi, saya senang karena saya pikir akhirnya kaki saya sembuh juga. Tapi tidak disangka-sangka dua hari yang lalu, bekas luka tersebut kembali mengeras dan membentuk permukaan kasar. Dan lebih parah lagi, tangan saya sekarang ikut gatal-gatal 😦

Ah sudahlah ini tak bisa dibiarkan seperti ini terus, pikir saya. Sudah sebulan tidak sembuh-sembuh dan makin parah sudah saatnya meminta pertolongan ahlinya. Akhirnya kemarin saya berniat ke klinik kampus hari ini setelah kelas bahasa Jepang. Namun karena saya belum pede harus menerangkan penyakit saya ini dalam bahasa Jepang, saya minta tolong kak Nagisa menemani saya. Kak Nagisa ini sama-sama penerima beasiswa Monbusho G2G dan berangkatnya juga bareng saya, tapi jurusannya bahasa Jepang, jadi tidak perlu diragukan lagi kemampuan bahasa Jepangnya 🙂

So, pergilah kami ke klinik kampus sore ini jam 3 setelah kelas bahasa Jepang. Sesampainya di klinik, kak Nagisa menanyakan ke uketsuke (resepsionis), kalau gatal-gatal, harus pergi ke dokter mana. Ternyata dokter umumnya klinik lagi libur sampai hari ini, hahaha, ga jodoh banget saya sama dokternya. Jadi besok baru terima pasien lagi. Terus sama uketsuke-nya kami diberitahu klinik khusus kulit yang sangat dekat dengan kampus, bahkan kami diberi peta menuju ke sana. Begitu melihat petanya, saya takjub sendiri, ga nyangka ternyata banyak kanji yang sudah bisa saya baca dan saya bisa memahami peta tersebut dengan baik 😥 Terharu…

photo

Dan pergilah kami ke klinik kulit tersebut yang memang terletak sangat dekat dengan kampus. Oya, klinik kulit ini dalam bahasa Jepang disebut ‘hifuka’ yang kanjinya ada di judul postingan ini (皮膚科).

Sampai di hifuka, kami disambut kembali di uketsuke, dan kalimat pertama yang diucapkan kak Nagisa, benar-benar sama persis dengan yang saya pelajari di kelas >_< “Kami baru pertama kali datang, harus bagaimana ya?” Sebenarnya dalam bahasa Jepang cuma “hajimete nan desu kedo…” kemudian biarkanlah kalimat tersebut menggantung, hahaha…

Dan seperti yang dialami si pemeran dalam video yang saya tonton di kelas, saya juga disuruh mengisi form bagi pasien yang baru pertama datang. Dari form ini kemudian kami akan dibuatkan kartu pasien klinik kulit ini. Kemudian saya diminta menunjukkan kartu asuransi kesehatan (hokenshou) yang sudah saya buat pada minggu pertama saya tiba di Jepang. Dengan kartu asuransi ini, kita hanya perlu membayar 30% dari biaya asli berobatnya. Alhamdulillah…

Kemudian resepsionisnya meminta saya untuk menunggu di kursi ruang tunggu yang tersedia. Sekitar 30 menit kemudian, nama saya dipanggil. Aaa..benar-benar seperti di video yang saya tonton di kelas, haha. Saya jadi excited sendiri.

Masuk ke ruang dokter, saya mencoba menjelaskan sendiri tanpa bantuan kak Nagisa. Saya bilang tangan dan kaki saya gatal-gatal. Yang kaki sudah gatal dari sebulan lalu, sedangkan yang di tangan baru dua hari yang lalu. Kemudian kak Nagisa menambahkan, kira-kira gatalnya kenapa ya dok, apa karena alergi, atau terkena kutu.

Kemudian dokter menjelaskan analisisnya dalam bahasa Jepang. Namun ada yang istimewa dari dokter ini. Selagi menjelaskan, beliau juga menuliskan penjelasannya tersebut dalam bahasa Inggris di secarik kertas, dan hebatnya, tulisannya bisa dibaca! >_<

photo (1)

Wow, ternyata sebagian penjelasan dokter bisa saya mengerti selagi mendengarkan sekaligus membaca terjemahannya. Namun tetap ada juga sebagian informasi yang ditambahkan oleh kak Nagisa. Wah senang sekali rasanya ternyata saya sudah bisa juga pergi ke dokter tanpa benar-benar blank dengan penjelasan dokternya 🙂 Ternyata kata dokter ini bukan karena kutu atau jamur, tapi kemungkinan karena kering, jadi gatal lalu digaruk, akhirnya lapisan kulitnya menebal dan kasar.

Setelah itu saya membayar biaya konsultasi dokter lalu pergi ke apotek (yakkyoku) yang terletak di gedung yang sama dengan hifuka. Di apotek saya ditanya apakah punya ‘kusuri techou’ alias ‘catatan obat’. Wah apa ya kusuri techou itu? Kak Nagisa juga ga tau, akhirnya saya bilang saja belum punya. Dan saya diminta mengisi form yang menanyakan riwayat penyakit yang pernah saya derita. Mungkin kusuri techou itu catatan obat-obat yang pernah kita gunakan selama ini kali ya.

Tidak lama kemudian saya pun diberikan salep dan dijelaskan cara menggunakannya. Wah ternyata hal ini pun sudah pernah saya pelajari di kelas jadi Alhamdulillah saya sudah tidak asing dengan beberapa istilahnya dan bisa memahami penjelasan mbak-mbak apoteknya dengan baik 🙂

photo (2)

Ini bungkus obatnya. Menurut tulisan di covernya ini obat luar, dipakainya 2 kali sehari dengan cara dioleskan. Hiks, tapi nulis namanya salah, padahal waktu ngisi formnya saya udah nulis katakana-nya juga lho 😦

Yeay, Alhamdulillah hari ini saya memperoleh skill baru yaitu pergi ke dokter. Senang sekali rasanya jika apa yang kita pelajari di kelas benar-benar bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata memang benar ya, cara terbaik mempelajari suatu bahasa adalah dengan merasakan tinggal di negara yang menggunakan bahasa tersebut 🙂

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?