Tag Archives: jepang

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 1

Standard

Stereotype, atau dalam bahasa Indonesia disebut stereotip, menurut KBBI daring memiliki makna:

nΒ konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman berharga yang saya dapatkan berkaitan dengan stereotip ini. Pengalaman ini terjadi saat saya masih tinggal di Jepang, namun hikmahnya masih saya rasakan hingga sekarang.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 3 part, setiap partnya akan menceritakan seseorang yang saya kenal saat saya tinggal di Jepang, yang bantuannya tidak akan pernah saya lupakan.

Pertama kali saya tiba di Jepang untuk tinggal dalam waktu yang lama adalah pada tahun 2013. Bagi yang tidak mengikuti blog ini sejak dulu mungkin tidak tahu, jadi akan saya ceritakan sedikit penyebab saya tinggal di Jepang.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho atau disingkat Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang keberangkatan tahun 2013. Cerita lengkapnya sudah saya tuliskan di blog ini, silakan bagi yang ingin membaca bisa klik tab ‘monbusho’ di blog saya ini.

Saat tinggal di Jepang inilah pertama kalinya saya akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, mengingat kampus saya merupakan kampus negeri yang banyak menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar Jepang, sehingga menerima banyak sekali mahasiswa asing tiap tahunnya. Sebelum ini, saya hanyalah seorang pelajar biasa yang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang homogen. SD dan SMP saya di Balikpapan bersekolah di sekolah swasta yang siswa-siswanya berasal dari kalangan tertentu, saat SMA saya bersekolah asrama di madrasah aaliyah (otomatis teman-teman saya Muslim semua), dan saat S1 saya kuliah di kampus teknik (lagi-lagi bergaul dengan teman-teman yang memiliki keilmuan serupa). Sangat jarang saya bertemu dan berteman dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Mungkin nanti setelah teman-teman selesai membaca tulisan saya ini, teman-teman akan berpikir bahwa saya polos sekali, namun memang begitulah saya, terutama saat kedatangan saya pertama kalinya untuk tinggal di Jepang. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah belajar lebih banyak πŸ™‚

Besar di lingkungan yang homogen membuat saya memiliki stereotip terhadap orang yang saya anggap ‘berbeda’ dari saya. Stereotip ini terjadi sebagai akibat dari hal-hal yang saya lihat, yang menyebabkan saya memiliki anggapan khusus terhadap kalangan tertentu. Sebagai contoh: orang Jepang disiplin dan tepat waktu, orang Amerika pasti berkulit putih, orang yang berwajah India pasti berasal dari negara India, orang Afrika pasti berkulit hitam, dan yang terakhir, inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini, orang berkulit hitam memiliki sifat kasar. Beberapa stereotip ini ada yang benar, namun ada juga yang tidak.

Saya yang dari kecil memperoleh hiburan dari film-film barat, sering sekali melihat orang berkulit hitam yang menjadi penjahat, pengkhianat dari suatu badan, polisi yang semena-mena, pokoknya orang berkulit hitam selalu menjadi antagonis di film-film tersebut. Dari sini saya melihat bahwa tak dapat dipungkiri, media memegang peran penting akan terbentuknya stereotip ini. Ditambah dengan pertama kalinya saya tinggal di LUAR NEGERI sendirian yang mengakibatkan saya menjadi ekstra hati-hati dalam bertindak, saya menjadi agak takut untuk bergaul dengan mereka yang berkulit hitam saat pertama saya bertemu dengan mereka.

Setibanya di Jepang, saya harus belajar Bahasa Jepang selama satu tahun, selama 5 hari dalam seminggu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, sebelum memulai pendidikan S2. Di kelas Bahasa Jepang, saya sekelas dengan teman-teman penerima beasiswa Monbusho dari negara lainnya. Mereka ada yang berasal dari Asia, Amerika latin, dan juga Afrika. Teman yang berasa dari Afrika ini ada lebih dari satu orang, dan mereka semua berkulit hitam.

Saat pertama kalinya saya bertemu dengan teman dari Afrika ini, saya sangat ingat saya berusaha untuk tidak berada di dekat mereka, karena saya sangat takut untuk bergaul dengan mereka. Hingga suatu ketika salah satu dari mereka menyapa saya terlebih dahulu. Oh ya, teman ini laki-laki, sebut saja J.

Dia menyapa dengan, “Salam ‘alaikum.” Saat itu saya terdiam sambil menoleh ke arahnya karena saya tidak menyangka akan disapa duluan. Lagipula saya juga bingung, mengapa dia menyapa saya dengan ucapan demikian, itu ‘kan hanya ucapan yang disampaikan kepada sesama Muslim. “Mengapa dia bisa tahu ucapan itu? Oh mungkin karena saya mengenakan hijab,” pikir saya waktu itu.

Karena terlalu kaget, I end up didn’t answer his greeting at all but only starred at him with blank face. Untungnya J ini tidak berubah menjadi menjauhi saya walaupun saya tidak menjawab salamnya. Dia malah bertanya, “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Bahkan saya tidak menanyakan balik dia dari negara mana saking sebegitu jaga jaraknya saya 😦

And then he said, “You are Muslim, right? You wear hijab. I am Muslim, too.” Dan saya langsung shocked. Ternyata dia Muslim juga walaupun berkulit hitam. Saya saat itu benar-benar tidak menyangka ada orang berkulit hitam yang Muslim. Saya benar-benar tidak tahu bahwa sebagian besar negara di Afrika utara berpenduduk mayoritas Muslim 😦 Maklum, terakhir belajar Geografi saat SMP, dan seingat saya waktu SMA tidak ada pelajaran yang membahas negara-negara di seluruh dunia 😦

Maka sejak dia menyapa saya terlebih dahulu itu, saya mulai membuka hati terhadap teman-teman berkulit hitam di kelas Bahasa Jepang saya lainnya. And turned out they are just as normal as we all are. Tidak ada satu pun yang kasar seperti yang saya lihat di film-film. Mereka juga ramah, bisa bergurau, belajar bareng, juga jalan-jalan bareng.

Karena saya selalu bersama teman-teman ini sebagian besar dalam waktu hidup saya selama satu tahun awal di Jepang, kami jadi benar-benar dekat seperti saudara. Karena kami juga satu asrama (tentu saja laki-laki dan perempuan dipisah, namun bersebalahan gedungnya), kami sering melakukan aktivitas bersama di luar waktu belajar. Dan pertemanan saya dengan J pun semakin normal, semakin seperti saya berteman dengan teman-teman di Indonesia saja. Dia (juga teman laki-laki lainnya) sopan kok terhadap perempuan, jadi saya tidak merasa takut diajak pergaulan yang aneh-aneh seperti yang saya lihat di film (lagi-lagi menyalahkan film πŸ˜€ ).

Singkat cerita, tibalah bulan Ramadhan pertama saya di Jepang. Alhamdulillah, terdapat satu masjid yang terletak cukup dekat dengan asrama saya. Kalau naik sepeda memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar, NAMUN harus melewati jalan yang sangat sepi dan pinggirnya terdapat hutan, sawah, dan lahan kosong. Kalau malam, hanya satu dua mobil saja yang melintasi jalanannya.

Sebagai informasi, karena Ramadhan tahun itu bertepatan dengan musim panas (yang mana siang lebih panjang daripada malam), waktu maghrib jatuh pada sekitar pukul 7 malam, isya pukul setengah 9 malam, dan subuh pukul setengah 3 pagi. Tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan menghabiskan bacaan 1 juz Al Qur’an setiap harinya. Oleh sebab itu, karena isya baru pukul setengah 9 malam, shalat tarawih selalu selesai pukul setengah 11, naik sepeda 30 menit, sampai rumah pukul 11 malam. Maka, saya selalu ke masjid beramai-ramai dengan teman Indonesia lainnya (mengingat jalanannya yang sepi seperti yang tadi sudah saya sebutkan dan waktu yang sangat larut). Dan kalau berencana sahur, maka harus bangun jam 2 pagi. Beginilah jadwal saya setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Di masjid ini terdapat kebiasaan di bulan Ramadhan yang hingga kini saya rindukan (selain tentu saja agenda shalat tarawih), yaitu adanya jadwal buka puasa bersama pada hari-hari tertentu, dan yang menyiapkan bergantian setiap negara/komunitas. Misal hari ini komunitas Arab menyiapkan buka puasa, kemudian 3 hari lagi komunitas Pakistan, lalu 3 hari lagi komunitas Mesir, dan tentu saja ada komunitas Indonesia, dan masih banyak negara lainnya.

Suatu hari, saya sedang ‘berhalangan’ (biasalah wanita), padahal hari itu ada jadwal buka puasa dari komunitas negara lain. Biasanya saat ada jadwal buka puasa bersama ini, makanan di masjid selalu berlebih dan tidak habis sehingga sering dibawa pulang oleh peserta tarawih. Saya sih senang saja makanannya jadi bisa dimakan untuk sahur lagi. Bahkan saking banyaknya, kadang dimakan sahur pun masih tidak habis.

Awalnya saya mau tetap ke masjid bersama dengan teman Indonesia lainnya, tapi tiba-tiba saya galau karena merasa tidak enak mengambil makanan gratis padahal tidak berpuasa, jadi saya batalkan janji saya dengan teman Indonesia tersebut, sehingga teman tersebut berangkat ke masjid duluan naik sepeda. Setelah teman saya pergi, saya masih di luar asrama dengan sepeda, muncul-lah J ini dari asrama laki-laki, dan sepertinya dia mau berangkat ke masjid.

Seperti biasa dia menyapa duluan, “Salam’alaikum, Nadine, are you going to the masjid?” Duh saya bingung harus jawab apa, kalau tidak ke masjid, saya terpaksa harus bilang alasan saya, padahal malu banget bilang lagi ‘berhalangan’ ke temen cowok gitu. Kalau saya bilang mau ke masjid, pasti dia ngajak bareng naik sepeda. Akhirnya saya pun jujur saja, “No, I’m not going to the masjid today.” Terus dia nanya lagi, “Why? There’s ifthar schedule today. It’s such a waste if you didn’t come.”

Karena dia bertanya dan saya juga tidak punya alasan lain, akhirnya saya jujur saja ke dia, “Actually I’m not fasting today. You know..that woman thing..” Dan untungnya dia langsung paham. “Ah I see. But it’s okay if you just come to get the food. There are so many leftovers everyday,” said him. Yaa bener juga sih, daripada makanannya terbuang percuma, mendingan saya bantu menghabiskan. Tapi saya tetap bingung bagaimana pulangnya, karena saya takut naik sepeda malam-malam melewati jalanan sepi tersebut.

Saya pun bilang lagi, “But I’m not doing tarawih prayer. I can’t go home alone after dinner since it would be too late and the road is kinda creepy,” ‘Late’ di sini maksudnya ‘sudah larut malam’. Jadi saya bilang ke dia, bagaimana saya bisa pulang habis makan malam, kan sudah malem banget padahal harus melewati jalanan sepi, gitu..

Lalu dia bilang lagi, “It’s ok. Just message me when you want to go home, I’ll go with you,” What??? Jadi dia menawarkan untuk mengantar saya pulang πŸ˜₯

Ya sudahlah since he insisted (dan karena saya juga lapar πŸ˜€ ) saya terima saja ajakan dia ke masjid. Sepanjang perjalanan ke masjid seingat saya kami tidak mengobrol terlalu banyak. Sesampainya di masjid, dia masuk ke ruangan untuk laki-laki, dan saya masuk ke ruangan untuk perempuan.

Oh ya, jangan bayangkan masjid ini berbentuk masjid seperti di Indonesia yang berbentuk lantai luas dengan barisan laki-laki di depan barisan perempuan serta langit-langitnya tinggi ada kubahnya. Masjid kami tidak seperti Masjid Camii di Tokyo, atau Masjid Kobe yang berbentuk layaknya masjid di Indonesia. Masjid kami ini hanyalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa ruangan. Jadi ada ruangan yang dipakai oleh jamaah laki-laki dan ada yang untuk jamaah perempuan.

Singkat cerita, tibalah waktu ifthar, lalu shalat maghrib (saya melipir di pojokan karena tidak shalat), lalu makan malam. Setelah makan malam saya pun mengirim pesan melalui Line ke J, “J, I’m finished. I think I want to go home now.” Tadinya saya tidak berekspektasi di akan membalas. Mungkin dia sudah sibuk ngobrol dengan jamaah laki-laki lainnya jadi tidak akan sering-sering mengecek hpnya. Eh, tidak disangka dia langsung membalas, “Okay, let’s meet outside.”

Kami pun bertemu di luar masjid lalu naik sepeda menuju asrama. Sepanjang perjalanan pulang dia bersepeda dengan jarak sekitar 2 meter di belakang saya dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, which I really appreciate. Biar bagaimana pun juga dia bukan muhrim, tapi saya takut juga kalau pulang sendirian, dan sepertinya dia juga paham hal ini :’)

Begitu kami sudah sampai di jalanan yang agak ramai, saya bilang ke dia,”I think you can leave me here,” soalnya saya nggak enak juga sama dia yang masih harus balik ke masjid untuk shalat tarawih. Dia bertanya, “is it really okay?” “Yeah, it’s okay. And thank you so much,” jawab saya. Kami pun berpamitan dan dia bersepeda balik ke arah masjid.

Hingga saat ini this one particular episode masih sangat teringat jelas di ingatan saya, karena saya merasa mendapat bantuan yang tidak disangka-sangka and even from the least likely person, ditambah bahkan saya pernah su’udzon duluan ke dia πŸ˜₯ Kalau dipikir-pikir, sampai saya meninggalkan Jepang, saya belum pernah benar-benar membalas perbuatan baiknya. Hhh.. I should’ve treated him better.. Well, I just pray that Allah will repay his good deeds.. Aamiin..

Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini hingga selesai πŸ™‚ Sampai jupa di part 2 yang insya Allah nggak kalah seru ceritanya. Di part 2 teman-teman akan tahu the real struggle of studying in Japan. Kehidupan di Jepang itu tidak melulu seindah pepohonan yang menguning di kala musim gugur, seputih salju di musim dingin, apalagi secerah matahari yang jatuh di antara ranting bunga sakura di musim semi.

Eeaa..

PS: Sekadar informasi, tahun 2015, J sudah menikah dan saat ini telah memiliki seorang anak.

Advertisements

#DIY: The Power of Kepepet

Standard

Judulnya mainstream yah. Hehe. Tapi semoga isinya ga mainstream dan bisa menginspirasi teman-teman yang sedang dalam keadaan kepepet seperti saya hari ini.

Jadi ceritanya hari ini saya bawa bento untuk makan malam di lab. Ternyata oh ternyata, saya lupa bawa sendok, guys.

Sebenarnya di dekat gedung lab saya ada kantin yang jual sup yang bisa saya makan. Dan jika beli sup itu, saya akan mendapatkan sendok plastik yang bisa saya pakai untuk makan bento saya. Namun sejujurnya saya lagi pengen ngirit dan malas turun ke bawah (lab saya ada di lantai 3-red) untuk menuju kantin itu.

Seperti banyak orang bilang, kemampuan manusia bisa tak terduga saat dalam keadaan kepepet. Dengan berbekal bekas bungkus cemilan Happy Tan, lakban yang kebetulan ada di lab, dan penggaris

Bahan yang diperlukan (plus gunting untuk memotong lakban, lupa difoto)

Bahan yang diperlukan (plus gunting untuk memotong lakban, lupa difoto)

Jadilah sendok dadakan seperti berikut ini

Selamat makan!!

Selamat makan!!

Demikian update singkat hari ini. Semoga bermanfaat, paling nggak, bisa bikin senyum yang baca lah ya πŸ™‚

Disclaimer: Saya biasanya ga bawa bento semengenaskan ini kok. Cuma kebetulan hari ini aja >_<

Pindahan Rumah

Standard

Halo!

Kali ini saya ingin membagikan cerita mengenai proses pindahan saya dari asrama kampus ke apartemen (atau apato dalam bahasa Jepang). Semoga bisa memberikan gambaran bagi penduduk baru di Jepang mengenai tahap-tahap pindahan maupun mencari apato yang tepat dan hemat πŸ˜€

Honeymoon Part 2 – 28 Maret sampai 2 April 2014

Kunjungan suami saya kali ini memang tujuan utamanya adalah membantu saya pindahan πŸ˜€ Soalnya saya nggak mau ngangkat-ngangkat barang saya yang banyak ini sendiri *manja* dan merasa agak kurang nyaman juga kalau merepotkan bapak-bapak atau mas-mas di sini πŸ˜€ Jadi lebih baik merepotkan “mas” sendiri πŸ˜›

Asrama saya sekarang ini memang cuma boleh saya tempati selama setahun, terhitung mulai 2 April 2013-31 Maret 2014. Karena itu saya terpaksa harus mencari tempat tinggal lain selepas bulan Maret kemarin. Pilihannya adalah pindah ke asrama kampus dengan tipe berbeda atau ke apato.

Memilih Antara Asrama atau Apato

Sebenarnya terdapat berbagai tipe asrama yang disediakan oleh kampus saya, seperti asrama family, asrama couple, dll. Namun yang paling mungkin saya tempati sebagai seorang singel lokal adalah asrama bertipe single πŸ˜€ Jika ingin tinggal di asrama family, tentu harus ada visa dependen dari family yang ikut tinggal bersama kita. Karena suami saya tidak tinggal di sini, saya tidak dapat apply asrama tipe ini. Asrama bertipe single sendiri ada dua jenis. Mari kita bahas secara singkat satu per satu.

Asrama tipe single yang pertama. Kamar berukuran 2×4 meter persegi, dilengkapi tempat tidur, meja belajar, kursi, dan wastafel. Tidak ada kamar mandi dan dapur dalam. Toilet luar sharing bertipe western (yang duduk, bukan jongkok tipe Jepang), hanya dilengkapi tissue pembersih. Shower bertipe koin. Maksudnya adalah, untuk dapat mandi, kita harus memasukkan koin 100 yen ke slot yang tersedia, dan air pun akan keluar selama 9 menit. Mesin cuci dan pengering baju juga bertipe koin. Dapur sharing. Biaya sewa per bulan sekitar 14000 yen. Murah bukan? πŸ˜€

Yang membuat saya tidak cenderung tinggal di sini adalah, saya tidak bisa sharing toilet >_< Saya adalah orang yang sangat parno terhadap kebersihan. Jadi saya tidak mungkin duduk di toilet yang bekas diduduki orang lain membuang hajat. Dan saya ini juga sangat Indonesia sekali yang setiap habis buang air harus membersihkan dengan air dulu baru dengan tissue. Jadi, mengingat urusan buang-membuang ini merupakan salah satu syarat kenyamanan hidup saya, saya mengeliminasi asrama ini dari pilihan.

Asrama tipe single yang kedua. Saya kurang paham ukurannya, namun kamar ini sudah lengkap dengan dapur, toilet, dan shower di dalamnya. Disediakan juga kasur, meja belajar, kursi, sebuah lemari, dan AC! Mesin cuci dan pengering baju sama dengan sebelumnya yaitu bertipe koin. Biaya sewa per bulannya kurang lebih 30000 yen.

Sebenarnya asrama ini sudah memenuhi kualifikasi kenyamanan hidup saya. Namun apa daya, asrama yang bagus memenuhi standar kenyamanan di sini hanya boleh ditempati selama setahun, sama dengan asrama yang saya tempati selama setahun kemarin. Padahal saya masih di sini insya Allah dua tahun lagi. Artinya jika saya pindah ke sini, tahun depan saya harus pidah lagi. Oh no… 😦

Baiklah dengan ini disimpulkan, saya tidak dapat pindah ke pilihan asrama mana pun yang disediakan kampus saya. Maka sudah saatnya lah saya berburu apato.

Memilih Apato

Saya sudah harus pindah pada akhir bulan Maret, maka mulai bulan Januari saya mulai bertanya-tanya pada rekan-rekan di sini yang tinggal di apato untuk membanding-bandingkan antara apato yang satu dengan yang lain. Saya pribadi memiliki requirement: ada AC, kamar mandi dalam dan dapur, kamar mandinya digabung antara toilet dan shower, dekat dengan bus stop, dengan kisaran biaya sewa per bulan di bawah 30.000 yen. Alhamdulilah, di Tsukuba memang kisaran biaya apatonya mulai dari 20.000 yen pun ada, jadi tidak susah mencari yang biayanya di bawah 30.000 yen.

Apato pertama yang saya survei memiliki semua kualifikasi di atas, dengan harga 20.000, namun ternyata tidak memiliki balkon untuk menjemur pakaian, ukurannya pun juga sangaatt kecil. Ya wajar memang dengan harga segitu πŸ˜€ Maka apato ini pun dieliminasi.

Apato kedua memiliki semua kualifikasi di atas, dengan biaya sewa 30.000 belum termasuk internet. Ukuran kamar jauh lebih besar dari apato pertama, cukup lah buat sendirian. Maka apato ini di-keep dulu πŸ˜€

Apato ketiga merupakan apato yang sudah ditinggali salah satu teman di sini. Apato ini juga memenuhi kualifikasi di atas dengan harga 27.000, ada balkon dan ada mesin cuci koin, jadi saya tidak perlu mencari mesin cuci lagi. Dan lagi, harga 27.000 ini sudah termasuk internet dan air. Ukuran kamar memang lebih kecil dari apato kedua. Namun dengan mempertimbangkan harga dan semua fasilitas yang disediakan, akhirnya saya memilih apato ini πŸ™‚

Teken Kontrak

Ternyata tidak sulit untuk teken kontrak dengan apato di Jepang. Salah satu yang menjadi kekhawatiran tentu saja uang pangkalnya 😦 Memang uang pangkal untuk sewa apato di Jepang ini sangatlah mahal. Jangan dirupiahin kalau nggak mau sakit hati 😦 Namun Alhamdulillah karena saat teken kontrak saya bersama teman yang jago bahasa Jepang dan teman yang sudah duluan tinggal di apato ini, saya jadi bisa menawar uang pangkalnya hingga lebih murah sampai 30.000 yen >_<

Secara umum tidak ada hal khusus yang harus disiapkan. Saya hanya diminta surat guarantor dari kampus yang harus ditandatangi profesor saya. Surat ini bertujuan sebagai penjamin agar kita tidak mangkir dari membayar apato πŸ˜€ Selebihanya saya hanya mengisi form-form yang dijelaskan oleh agen apatonya. Nah dalam proses teken kontrak dan penjelasan-penjelasan ini saya memang ditemani oleh teman yang jago bahasa Jepangnya. Saya tidak tahu apakah mereka akan berusaha menjelaskan dengan bahasa Inggris jika kita tidak bisa bahasa Jepang. Namun kalau saran saya. lebih baik bersama teman yang jago bahasa Jepang supaya tidak ada yang miskom dan kita benar-benar detail akan hal-hal yang wajib kita bayar apa, yang tidak wajib yang mana supaya dapat dieliminasi.

Pindahan!!

Pindahan adalah hal yang paling mendokusai menurut saya, karena kita harus mengepak barang-barang dengan rapi agar mudah dibawa, dan kemudian mengeluarkanya dan menatanya lagi dengan rapi -.-”

Sebenarnya saya punya suatu sifat, saya ga tahu ini positif atau negatif, yaitu terlalu attached dengan lingkungan where I used to be. Akibatnya saya jadi mellow harus meninggalkan kamar yang sudah menjadi tempat saya bernaung selama setahun ke belakang. Saking susahnya move on, saya jadi menunda-nunda packing sampai suami saya datang πŸ˜€

Berkat bantuan suami, berhasil juga saya membereskan semua barang-barang yang ada di dorm saya, kemudian mengangkutnya ke apato baru saya. Untuk mengangkutnya ini, saya meminjam mobil masjid dan disupiri oleh salah seorang rekan di sini yang punya SIM Jepang.

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi :P

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi πŸ˜›

Ga kebayang pindahan tanpa orang satu ini >_< Makasih udah bantuin ngepakin barang, angkut-angkutin ke mobil lagi hujan-hujanan, ngeluarin lagi dari mobil dan masukin ke kamar, dan udah bantuin ngedesain dan menata kamar juga :)γŠη–²γ‚Œζ§˜γ§γ—γŸ!!

Naik-naik ke Puncak Gunung

Standard

Minggu lalu, saya dan Dea iseng-iseng jalan ke Tsukuba san atau Mount Tsukuba. Selama ini saya sering jalan-jalan ke tempat wisata di Tokyo, Tokyo pinggiran, bahkan sampai ke daerah Kansai, masa tempat wisata di dalam kota tempat tinggal sendiri belum pernah didatangin πŸ˜€ Jadilah saya minta Dea nemenin saya jalan-jalan kali ini πŸ™‚

Dulu ketika saya baru datang ke Tsukuba, saya bertanya kepada senpai-senpai, tempat wisata apa yang recommended di sini. Dan jawabannya salah satunya Tsukuba san. Setiap weekend kalau kebetulan lewat terminal bus di Tsukuba Senta, memang benar, antrian di bus menuju Tsukuba san selalu panjang mengular. Dari anak kecil sampe kakek-nenek pada semangat hiking semua lho. Jadi penasaran ada apa sih di sini. Tapi karena saya dan Dea males, jadi kami ga berniat hiking, melainkan hanya ingin naik cable car πŸ˜›

Informasi mengenai Tsukuba san bisa dibaca di sini, atau googling juga pasti menemukan banyak link lain yang memberi informasi detail.

So, pagi ini kami berangkat dari Ichinoya jam 10 πŸ˜€ (bukan pagi lagi ya berarti..hehe..maklumlah, hanya ingin jalan-jalan santai). Naik campus loop bus, sampe Tsukuba Senta hampir jam setengah 11, dan sesuai dugaan, antrian sudah panjang, sementara bus ke Tsukuba san berikutnya jam 10.30. Karena tidak kebagian seat di bis yang jam tersebut, akhirnya kami naik bis yg jam 11.

Terdapat 3 pemberhentian pada jalur bus ini, yaitu Numata, Tsukuba san jinja iriguchi, dan Tsutsujigaoka. Saya kurang tahu ada apa di Numata, tapi sepertinya hanya rumah-rumah penduduk. Bagi yang ingin naik cable car ke puncak, bisa turun di Tsukuba san jinja iriguchi, dan bagi yang ingin naik ropeway bisa turun di Tsutsujigaoka. Sedangkan yang ingin hiking pada umumnya turun di Tsukuba san jinja iriguchi. Dari sini ke puncak dengan jalan kaki (bukan dengan cable car) memakan waktu 1,5 sampai 2 jam (menurut website di atas).

Perjalanan normal dengan traffic lancar seharusnya memakan waktu 45 menit saja dari Tsukuba Senta ke Tsukuba san jinja iriguchi. Namun di luar dugaan, hari ini jalanan macet sekali. Mungkin karena hari Minggu dan kabarnya bunga-bunga mulai bermekaran di puncak. Perjalanan kami pun memakan waktu 1,5 jam. Kami membayar tiket sebesar 700 yen. Mengenai tiket ini, ada yang membeli tiket di tiket uriba di Tsukuba senta, namun dapat juga dibayar langsung sebelum turun dari bis.

Setelah sampai, yang pertama kami lakukan adalah ke Tourism Information Center untuk mengambil peta dan informasi lainnya agar dapat memutuskan akan jalan-jalan ke mana saja.

Tourism Information Center

Tourism Information Center

Peta sekitar Tsukuba san

Peta sekitar Tsukuba san

Kemudian kami pun berjalan-jalan santai saja di sekitar situ sambil mencari tulisan arah menuju cable car. Di tengah jalan, kami membeli soft ice cream. Soft ice cream ini sepertinya memang jajanan yang pasti ada di tempat wisata di Jepang. Rasanya pun sangat variatif. Kali ini Dea membeli rasa Ume (bunga yang baru saja tumbuh di Tsukuba san), dan saya membeli mixberry.

IMG_3470

Dari bus stop, kami jalan melalui gerbang oren ini, lalu cari saja tulisan β€œγ‚±γƒΌγƒ–γƒ«γ‚«γƒΌβ€œ

photo

Tulisan arah jalan ini mengarahkan kami untuk melalui dan memasuki Tsukuba san jinja terlebih dulu sebelum sampai ke stasiun cable car-nya sendiri.

Tsukuba san Jinja

Tsukuba san Jinja

Dan dari sinilah kami menaiki cable car.

Di gerbang belakang ada tulisan "筑泒山ケーブルカー" atau "Tsukuba san Cable Car"

Di gerbang belakang ada tulisan “筑泒山ケーブルカー” atau “Tsukuba san Cable Car”

IMG_3505

Rel kereta dari tempat menunggu

Cable Car yang miring mengikuti kemiringan rel

Cable Car yang miring mengikuti kemiringan rel

Harga tiket cable car ini 560 yen sekali jalan, sedangkan kalau bolak-balik 1020 yen. Kami membeli tiket yang bolak-balik. Ini memang lebih hemat, tapi jika ingin merasakan naik cable car dan ropeway, lebih baik membeli 1 tiket saja di sini. Nanti setelah sampai puncak, hiking ke Nyotaisan Top, dan naik ropeway dari sana.

Perjalanan ke puncak memakan waktu kurang lebih 8 menit. Pemandangan di kiri-kanan sebenarnya biasa saja karena cable car ini berada di tengah hutan. Namun pemandangan dari rel keretanya persis naik jet coaster yang sangat curam. Sepertinya kemiringan kereta dan relnya lebih dari 45 derajat >_<

IMG_3527

Setelah sampai, bisa dibilang ini miriipp banget sama puncak-puncak di Indonesia, cuma kurang bandrek, wedang jahe, ama jadah tempe aja nih >_< Orang-orang pada makan cup noodle sambil duduk-duduk menikmati pemandangan. Bahkan ada yang bawa noodle boiler portable loh. Jadi apinya mirip banget sama kompor gas portable tapi ukurannya jauh lebih kecil. Sayang saya ga punya fotonya, soalnya ga enak ngefoto bawaan orang πŸ˜›

Dari sini, ada dua pilihan puncak lagi yang bisa didaki yaitu Nyotaisan (ε₯³δ½“ε±±) dan Nantaisan (男体山). Kami memilih mendaki Nantaisan karena jaraknya lebih dekat (300 meter) πŸ˜€ Sementara, jika kalian ingin pulang menaiki ropeway, harus mendaki Nyotaisan (berjarak 600 meter) karena ropeway-nya turun dari sana, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya.

300 meter itu kalau jalan kaki sepertinya ringan, ternyata kalau hiking, capek dan ngos-ngosan juga >_< Ditambah lagi jalan mendakinya tidak mudah, beberapa tempat penuh dengan batu-batu berserakan. Jadi inget film 5 cm πŸ˜€ Saking lambatnya kami berdua jalan, pendakian ini memakan waktu 20 menit.

Jalan mendaki yang penuh batu terjal

Jalan mendaki yang penuh batu terjal

Begitu sampai puncak, kami langsung disambut pemandangan indah kota Tsukuba.

Sampaaiii

Sampaaiii…

Agak berkabut

Agak berkabut

Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kami pun turun ke dekat stasiun cable car, solat, dan langsung turun dengan cable car ke stasiun awal.

Setelah ini, kami pun memutuskan berjalan-jalan ke ζ’…γΎγ€γ‚Š (Ume Matsuri). Ini merupakan taman yang penuh ditumbuhi dengan bunga ume atau plum. Dari gerbang oren tadi, jalan terus turun saja mengikuti petunjuk bertulisanζ’…γΎγ€γ‚Štadi sekitar 5 menit.

Begitu sampai, ada the plum gratis. Rasanya aneh, asin, seperti sup πŸ˜› Saya dan Dea sih kurang suka, akhirnya saya buang tehnya >_<

Foto bubuk teh sebelum diberi air

Foto bubuk teh sebelum diberi air

Kami pun mengambil foto-foto sejenak.

White Plum

White Plum

Magenta Plum

Magenta Plum

Pink Plum

Pink Plum

Sekitar pukul 16.30 kami memutuskan sudah saatnya pulang, karena 2 bis terakir adalah jam 16.40 dan 17.10. Berbeda dengan saat pergi tadi yang bus stopnya ada 3, di jalur pulang, ada bus stop tambahan tepat di seberang pintu keluar Ume Matsuri. Jadi kami tidak perlu naik ke atas lagi. Perjalanan pulang ini sangat melelahkan karena kami tidak dapat tempat duduk dan bis sangat penuh penumpang >_<

Alhamdulillah lalu lintas di perjalanan pulang lancar dan kami pun kembali ke Tsukuba cukup cepat. Ga nyangka, di kota yang isinya sekolahan dan tempat riset seperti ini, ada juga tempat wisata yang lumayan bisa sedikit melepas penat dari aktivitas sehari-hari πŸ™‚

Allah ta’ala berfirman dalam surat al-ghasiyah:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (17). Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19). Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21).
*****

NB: Sekedar informasi tambahan, waktu-waktu terbaik untuk mengunjungi Tsukuba san adalah saat Spring karena bunga-bunga tumbuh mekar, dan saat Autumn karena pemandangan daun berwarna kuning, merah, dan coklatnya sangat indah.

Another Chapter of My Life – From “駐車禁歒” to “No Parking”

Standard

So now I try to write this post in English because this post is dedicated to all my Japanese teacher and Japanese classmates. And because my Japanese writing skill is still not good enough, so instead of writing this in Japanese, I prefer to write this in English. Enjoy reading! πŸ˜€

Actually before coming to Japan, I was aiming to post at least 3 posts a month. I really wanted to share all episodes I experienced here because I’m sure there will be many interesting story to tell about. But apparently, I was so busy doing many things so even if I had free time, I’d rather sleep or going somewhere interesting than posting something on my blog.Β But now, I have to write this thought as long as it’s still in my mind. Or else I will forget again >_<

Important Japanese

Like written on my previous posts (but it’s written in Indonesian language so never mind), in this past 4 months I was studying Japanese in Intensive Course. So because it was ‘intensive’, everyday we studied from 8.40 am until 3.00 pm, from Monday to Friday, for 15 weeks. It was like a our major is Japanese. Because after class we still have a lot of homework and tasks, so we often studied together outside class.

You know many people says that you can’t live in Japan without having Japanese skill because people here rarely speak English. But at first I didn’t think it’s true. Two years ago I came here for short conference and trip, and at that time, I didn’t have Japanese skill at all, and Alhamdulillah I managed to go to many places just by following the instruction from map I took at the station (and with the help from my friend who was good in reading map actually πŸ˜€ ). So in my opinion you still can go everywhere in Japan even if you can’t speak Japanese.

And I was right. You CAN GO everywhere in Japan without having Japanese skill, but you CAN’T LIVE in Japan without having Japanese skill. (Nandanari, 2013) <- quotation γΏγŸγ„:P It’s just my opinion by the way, or at least it’s my experience.

When you live here, you will do everything that is related to Japanese. When you go shopping, sometimes you have to communicate with the people at the market to ask something. When you read an announcement in public places, it might be an important announcement so you have to understand the meaning. And you may face problem here, like sickness, problem related to money so you have to go to the bank, or post office, and many many public places don’t have English translation nor people who can’t speak English to explain everything to you.

Before I came to Japan, actually I have studied Japanese for a year, so I thought I will have enough skill to begin my life in Japan. But I was wrong. The first time I got here, I couldn’t understand when Japanese people talk in Japanese, at all. They talked so fast and sometimes omit the particles or syllables, and they didn’t use ‘masu’ form like I studied in Indonesia. It was even worse when they tried to talk in Keigo because at that time I didn’t know Keigo at all.

Then I did Japanese placement test to be able to enter Japanese class, and I was placed in this Intensive Course.

In this Intensive Course, we studied all of basic grammar in Japanese and all of our Senseis always explain everything in easy Japanese (they rarely used English). The grammar and vocabulary they used will increase along with the grammar and vocabulary we studied at class, so after we studied the theory, we can directly used it in daily life, so that grammar or vocab will stay in our mind. Moreover, if there’s a vocab we didn’t know, they always rephrase it with other easier vocab in Japanese also.

Besides that, we were also taught very useful expressions that we can use in daily life, like my previous story. We were taught how to ask direction in a proper way, how to go to a hospital, and many more. And there was one episode of my life here that I experienced exactly the same episode I studied at class (from that link also), so I was so excited >_<

So by hearing Japanese everyday and using it in daily life, gradually my Japanese skill is increasing. And I can use that expressions in my daily life here. So I found that the curriculum they made is very good and useful. They taught us many important Japanese we can use. And maybe if I weren’t placed in this Intensive Course, I couldn’t increase my Japanese skill this much. I mean, Β now I’m still not fluent in Japanese of course. Because there’s to much grammar I studied in this past 4 months, I sometimes get confuse which grammar should I use when I want to say something. There’s still so many things I have to learn. But the difference between the first time I got here and now is so far. That’s the thing I most thankful about.

Japan’s Culture

In this intensive course we didn’t only study grammar and vocab, of course, because it would be so boring if it was so. Senseis also provide us other special program which was about Japan’s culture. This period maybe one of our favorite time because we can refresh a bit after having attacked by a bunch of grammar and kanji everyday πŸ˜›

Japan’s manner. Actually Indonesia and Japan has many similar manner so it’s not so new for me. But for my friend from western country it was really new. They aren’t used to take off their shoes when entering house, they aren’t used to sit on the floor with Japanese style, they aren’t used to traffic in Japan because here cars going in left side of the street (so lucky Indonesia has the same system too!), and many more. But some manners also new for me, such as you can’t share food from one chopstick to another chopstick (because it’s a custom while attending funeral), for woman it’s not good to sit cross-legged, when you enter the house you can’t take off your shoes while facing your back to the host, and so on.

Karuta. I never knew this kind of game before. We played with two sets of card. On the first set of card, one hiragana is written as well as a drawing of some situation. On the second set of the card, there’s one sentence that start with one hiragana. So these cards are pairs. There will be one person reading the card that full of sentence, and the other set was spread over the floor, and some other people sitting around these cards. When you hear a sentence that start with one hiragana, you have to look for the card with that hiragana and take it as fast as you can. You win if you take the most cards. This game is so fun and refreshing. But unfortunately I completely forgot to take a picture when we played this game. Maybe I’ll ask Sensei some pictures. (unimportant fact: I won when we played this game πŸ™‚ )

Rakugoka.Β One day we had a chance to meet Rakugoka.Β Rakugoka is one kind of comedian in Japan. This comedian will tell us funny conversations and play role as some people at the same time, so they have ability to speak in many different accents, such as old man, old woman, kids, adult man, adult woman, etc. The special things are they just sit on a pillow while tell us the funny conversations, and their equipment only one hand-fan. So with those equipments and their facial expressions, they can make us imagine what kind of situation is happening now. The day before we met the Rakugoka, me and my classmates submit one funny conversation in Japanese. And this rakugoka chose my story to be presented in front of the audience! So I tried to become funny while using Japanese. Only some people laughed though πŸ˜› I don’t know why, it’s either they didn’t understand my Japanese, or I wasn’t funny at all πŸ˜› But it was an amazing experience πŸ™‚

Rakugoka and classmates

Rakugoka and classmates

Shodou. Shodou is Japan’s calligraphy. On our kanji class, we sometimes learn how to write kanji Β in calligraphy style. It wasn’t easy at all! >_< But is was so fun. We keep asking Sensei to do calligraphy instead of studying kanji only πŸ˜› Because our kanji Sensei is very nice, she always granted our wishes. Sensei, thank you very much for making kanji class so fun! ^_^

2

Our works

Fun Trip

As a part of Intensive Course, we had one day trip to interesting place in Japan for free πŸ˜€ Alhamdulillah. So when Sensei asked us months ago about where do we want to go if we had trip, I suggest Nikko because I always wanted to go to Nikko since two years ago when I came to Japan, but I still didn’t have time. Fortunately, Sensei accepted my suggestion!! Sensei said that usually from year to year, students from Intensive Course only went to Tsukuba-san (Mount Tsukuba) which is near university. So we were very lucky! ^_^

June 28th, 2013. This was a one-day trip. We went to Nikko early in the morning (not so early for Indonesian actually) by bus. The bus was very nice. There were two columns and two seats on each column, but the bus was very big so everybody didn’t have to share seats. We could have two seats for us and our belongings.

kursi

On the bus there was also a guide-lady like I saw on dorama! That guide wore a uniform and talked in the bus using microphone. The guide gave us many information about the way we took to go there and also about what we would see there.

IMG_0913

When we arrived at Nikko, we have to walk a bit from the parking lot to Toshogu area. The guide-lady walked while holding a flag. Really looked like in dorama πŸ˜€

IMG_0931

In Toshogu area, there was another guide-lady who guide us inside Toshogu. This guide explained everything about Toshogu history, and the good thing was she explained it in English so we can understand easily.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

After going around Toshogu, we had lunch in the restaurant near the parking lot. In this restaurant most of us ordered Yuba Set, which is famous product in Nikko. Yuba is made of tofu, and on this Yuba Set, all was made of tofu and vegetable πŸ™‚

IMG_1017

After eating, we had a very little time of buying souvenir >_< And because I didn’t know what to buy, I only bought castella, which is another famous product from Nikko.

photo (1)

The next stop was Mashiko Yaki. This was a place for making yakimono or pottery. We were taught by a trainer how to make a pottery. Actually it was so easy and just like when we were kids playing plasticine. I made a bowl that looked like a hat, one of my friend said >_<

photo (3)

This bowl still haven’t finished yet. After the shape was complete, we left them all there to be burn and dried by the worker in that place. Around one month after that (Sensei said it will be around August 12th), they will send all of our works to International Student Center so that we can take them. Looking forward! πŸ™‚

photo (4)

All of our works

This trip was so special, because, if I go there by myself, I won’t have enough money to pay a high-class bus, a guide, and a trainer to teach me how to make pottery. I feel so lucky to be given this experience πŸ™‚

New Skill

On this past 4 months, I feel that I gain so many skills and experiences that probably I wouldn’t be able to gain if I was not in Intensive Course.

Shodou. We had so many chances to write calligraphy again and again. Our kanji Sensei is very nice. When we wanted to write a complicated kanji, She always taught us how to write it properly by holding our brush together. She also taught us how to make our own ink from water! πŸ˜€

Going to a doctor. Yes, it is also not an easy skill for me because no one speak English at the clinic. How to register at the receptionist, how to tell the doctor our problem, how to understand doctor’s explanation, and finally how to understand pharmacist explanation about medicine we must take. All this skill I learnt at class and surprisingly I experience a same episode as on the video we watched at class πŸ™‚

Yakimono. It was a really nice experience. Just a few days before our trip to Nikko, I watched a korean variety show where the actor and actress made a yakimono, and I said (to myself) that I wanted to make a yakimono also. And my wish became true unintentionally. And the step by step of making yakimono taught by the trainer was exactly the same as the one that I watched on the variety show! >_<

Rakugo. While ‘Rakugoka’ is the person/comedian, ‘Rakugo’ is the type of comedy itself. As I said before, my ‘funny’ story was chosen by the Rakugoka to be presented in front of audience. So yeah, I tried my best to become funny πŸ˜› And know I became know how to do it πŸ˜€

Presentation. And yeah, last but not least, I gain presentation skill conducted in Japanese! Around June, our class had finished studying all of basic grammar, so Sensei decided to give us more challenge for the next one month. The next thing we must study is writing grammar. In Japanese, speaking grammar is different from writing grammar. Sensei thought that maybe after this we will have to read some articles, thesis, or papers written in Japanese, so studying writing grammar is also important.

Besides writing grammar, Sensei also taught us more complicated vocabulary related to our major. Sensei looked for our supervisor’s paper that is written in Japanese and told us some important words that might we use or hear a lot in the future. At first this was so hard because we jumped from basic level to upper-intermediate level. Me and my classmates often felt tired because of too much thinking at the class instead of doing interesting things like when we were studying basic grammar. But now I can see the benefit.

On the last day of our class, we were given a challenge to present our research theme, in Japanese, by using all vocab and grammar we learnt so far. At first I was so shocked, what will I say, and how can I say it in Japanese. But Sensei said, there’s no way you can’t do it. So I became motivated by hearing that.

The last three days of class, I didn’t sleep that much (and I’m sure my classmates too). We prepared for the presentation and a present for each of our Senseis. Β We made very big posters from powerpoint that we print. This is my poster

photo (5)

ζΌ’ε­—γ„γ£γ±γ„γ§γ™γ‚ˆ! Even I didn’t realize now I know some kanji and vocab related to my major. And I can’t believe that in the end, I passed this challenge. I can present my research in front of people. Maybe it wasn’t perfect, still did many mistakes, but people understand what I said and I could answer their questions, is already a big achievement for myself πŸ™‚

Interesting Facts

I’m sorry this post become this long because I want to summarize all I got on these past 4 months in one post (my mistake to not write regularly >_< ).

Inside and outside class we often talked about many things with our Senseis. And I found some interesting facts that I want to share to you who read this until this part πŸ˜›

Live overseas. So from chatting with some Senseis (almost all I think), I came to know that almost of our Senseis have ever lived abroad. So that’s why our Senseis are different from normal Japanese. Lol πŸ˜€ What so different?

First, our Senseis can speak English even though they didn’t use it that much while talking with us. Sometimes when we wanted to ask something and didn’t know how to ask in Japanese, we asked them in English and they understood and answered it in Japanese, which is good for us to train our listening skill.

Second, our Senseis are very open-minded. I think Senseis can deal with different kinds of student. It’s not just about how different character of one student to another student but because we came from different countries, we also have many different customs. Since I come from eastern country, I rarely have difficulty to adapt with Japan’s custom. But many of my friends come from western countries and they have many different custom too. Sometimes I saw them doing something that I think they shouldn’t do in front of Senseis, but Senseis never angry or offended.

Third, our Senseis are very patient. Even some of us sometimes came late to class or not doing homework (which I know it’s not Japanese’s character), Senseis just gave us reminder without making us feel uncomfortable. If I were a Sensei, maybe I couldn’t become as patient as this >_<

Fourth, Senseis have so wide knowledge in many different areas. One of my Sensei even remind me about Ramadan one week before it started >_< I wonder how he found out that Ramadan was about to start. Another Sensei has interests in Latin’s culture so she can talk about many things with my friends from Latin America. Another Sensei knows many things about Indonesia! So I can see that Senseis who teach us have interests in many different countries or culture. Maybe that’s why they are assigned to teach foreigner πŸ˜€

Japanese Japanese. It’s hard to translate that sentence. In Japanese I mean “nihonjin no nihongo” πŸ˜› I heard from one of our Sensei, normal Japanese didn’t study Japanese grammar at school. So they don’t know such things as ‘te-form’, ‘ta-form’, ‘dictionary-form’, ‘i-adjective’, ‘na-adjective’, and all that we learnt at class. Now I know why long long time ago, when I was still in Indonesia, I have a friend who had live in Japan for 5 years when she was a kid. I asked her about verb in group 2, and she didn’t know what group 1, 2 and 3 are! She said that she never heard such thing. And I was surprise (shock maybe) at that time, and now it all makes sense πŸ˜€

Still about ‘nihonjin no nihongo’, I can see that there aren’t so many Japanese who can communicate well with foreigners who are new in studying Japanese. As a beginner, our vocab is still limited, there are some words that have many translation in Japanese, and maybe we only know one word, but not the other word. So Japanese who can communicate with foreigner, they can rephrase difficult word with easier one, or they can explain that word with an easy explanation in Japanese. But for Japanese who don’t have this skill, they can’t rephrase it and become confuse how to explain that word. The other thing is, there are too many slang words in Japanese (same as Indonesian actually πŸ˜› ). So normal Japanese often speak using that slang words, that are difficult to understand by beginners >_<

*****

Now without realizing, this amazing experience has come to an end. It’s like once again, another chapter of my life is closed, and all I can do is just look back and feel the benefits from what I got so far.

On the farewell party, one Sensei told me a story. Years ago, she also taught in one Japanese Class. One day, one of her student called her after a long time no seeing each other. On that call, the student told Sensei that her dream came true. She was graduated and was about to come home to her country. Sensei said that it was one of the best time of her life, knowing her student reached her succeed. And Sensei also told me, “Nadine-san, before I get old, reach your goals as fast as you can, and please call me when your dreams come true.”

Another Sensei also told me, “Now you get scholarship to study in Japan. Here, there are so many chances you can get. You can study your major, and you can also study Japanese. Make sure to catch all of those chances and use them well in your future.”

Another advice from another Sensei, “Here you might be facing many hardships. But it’s life. The longer you live, the more challenges you will faces. But don’t worry, after you passed one step, it means you deserve to be on the next step, on the higher step.”

(Ok, now my eyes watery) T_T

To all of our Senseis, I can’t express how thankful I am to teach us so many things in a very short time. Thank you for all stories and advice you gave us. Thank you for choosing me as one of Intensive Class’s members, because I know, if I weren’t on this class, I wouldn’t get the same experience.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

at Nikko

(not all ) Senseis and our presents

(not all) Senseis and our presents

Seleksi Wawancara Monbusho G2G 2013

Standard

Tahap sebelumnya : Ujian Tertulis

Sebetulnya saya sudah agak merasa putus asa dan tidak berani berharap banyak gara-gara tes bahasa Inggris yang cukup susah kemarin. Tapi, harapan itu masih ada sih walaupun cuma secuil. Pokoknya, doa yang tak henti saya ucapkan kala itu, ” Ya Allah, berikanlah yang terbaik saja menurut-Mu”. Alhamdulillah, berkat doa itu, hati ini menjadi cukup tenang menghadapi apa pun hasilnya nanti.

Tidak disangka-sangka, 2 minggu setelah tes tulis, tepatnya tanggal 4 Juli 2012, tiba-tiba seorang teman meng-sms saya, “Din, cek website!” Wah, kalo smsnya kayak gini, mestinya sih kabar baik (udah GR gitu πŸ˜› ) Saya pun lagi-lagi membuka website kedubes dengan hati dokidoki >_<

Daann.. Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos ujian tertulis bersama sekitar 90-an pelamar lainnya. Rasanya bener-bener ga nyangka dan speechless. Segala puji hanya untuk Allah saja yang sudah membawa saya hingga sejauh ini πŸ™‚

Saat itu, pengumuman yang lolos ujian tertulis langsung disertai dengan jadwal wawancaranya. Saya kebagian wawancara hari Rabu tanggal 18 Juli 2012 sesi pagi. What?! itu kan cuma 4 hari setelah wisuda >_< yang mana saya sudah merencanakan untuk berlibur dengan orang tua, adik, dan sepupu saya di Bandung. Namun takdir berkata lain, terpaksa rencana liburannya jadi dipadatkan hingga hari Selasa saja.

Persiapan

Sejak mengetahui pengumuman bahwa saya lolos ujian tertulis, dan mengetahui kenyataan bahwa mendekati wisuda pasti heboh dengan persiapannya, saya pun berlatih untuk menghadapi wawancara ini sedini mungkin. Waktu itu, saya langsung searching pengalaman wawancara Monbusho dari senior-senior dan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang mungkin keluar. Saya bahkan membuat cheatsheetΒ rencana jawaban yang akan saya sampaikan jika memang pertanyaan itu keluar πŸ˜›

Berikut isi dari cheatsheet saya:

Perkenalan diri

  • Saya lahir di mana, background keluarga, pekerjaan orang tua, serta riwayat pendidikan saya dari SD hingga kuliah
  • Saya tekankan bahwa saya sudah terbiasa jauh dari orang tua sejak SMA karena tinggal di asrama, lalu ketika kuliah saya juga ngekos di Bandung (memberikan kesan kepada pewawancara bahwa kita tidak akan masalah tinggal berjauhan dari keluarga)
  • Saya sebutkan kelebihan serta kekurangan saya, serta bagaimana cara saya menghadapi kekurangan itu (menunjukkan bahwa kita mengenal diri kita dengan baik dan tahu cara meminimalisasi kekurangan)

Tentang riset

  • Saya cerita abstrak riset saya dengan bahasa yang lebih santai daripada yang tertulis di paper
  • Dari mana saya dapat ide untuk melakukan riset ini
  • Apa keuntungannya jika riset ini dikembangkan
  • Langkah-langkah apa saja yang sudah saya pikirkan untuk mewujudkan riset ini (menunjukkan bahwa kita tahu apa yang mau kita lakukan saat riset kelak)
  • Saya juga siapkan handout yang berisi bagan riset saya untuk diberikan kepada peawancara kelak (menunjukkan bahwa kita melakukan persiapan untuk menghadapi wawancara nanti)

Seputar Jepang

  • Apa saja yang saya ketahui tentang Jepang. Karena tahun 2011 Alhamdulillah kebetulan saya mendapat kesempatan untuk ke Jepang, saya ceritakan saja hal-hal baik yang saya rasakan dari kunjungan ke Jepang tsb.
  • Saya juga cerita bahwa saat ini sedang les bahasa Jepang
  • Sudah bisa masak beberapa makanan Jepang (padahal yang gampang-gampang doang πŸ˜› )
  • Kenapa memilih Jepang sebagai tempat menuntut ilmu daripada negara-negara lainnya
  • Sudah kontak dengan profesor Jepang atau belum

Pertanyaan trivial

  • Perdana menteri Jepang, menteri2 di Indonesia
  • Isu-isu yang lagi hangat sekarang di Jepang maupun Indonesia
  • Kenapa mereka harus memilih saya dibanding pelamar lainnya

Yah kira-kira seperti itu isinya. Karena wawancara nanti akan menggunakan bahasa Inggris, semuanya saya tulis dalam bahasa Inggris lalu saya hapalkan. Hehe. Niat banget yak. Saya cuman ga mau tiba-tiba lupa bahasa Inggrisnya apa trus jadi gagap di depan pewawancara kelak >_<

18 Juli 2012

Hari H

Sehari sebelumnya, saya, orang tua, serta adik saya yang kala itu sedang di Bandung untuk menghadiri wisuda saya, bersama-sama menginap di rumah om saya di Bekasi. Ortu dan adik saya akan pulang ke Balikpapan hari Kamis melalui bandara Soekarno-Hatta, jadi sekalian menemani saya wawancara hari Rabu-nya.

Wawancara akan diadakan di Kantor Kedubes Jepang di Thamrin mulai pukul 08.00. Berbekal pengalaman buruk pernah terlambat datang wawancara di suatu gedung lain di daerah Thamrin juga karena berangkat dari Bekasi pukul 05.45, dan langsung menyebabkan saya tidak lolos wawancara lain tsb, kali ini saya tidak mau lagi fail wawancara karena datang terlambat. Nggak banget! >_< Apalagi ini hal yang sudah saya impikan sejak lama.

Maka, pagi itu saya, om saya yang mengantar dengan mobil, ortu dan adik saya sebagai cheerleader, bersama-sama kami berangkat pukul 05.15. Dan tahu tidak sodara-sodara, pukul 06.00 saya udah sampai di Thamrin! siiinng…koak koak..sepiiii bangeett.. Berangkat 05.15 jam 06.00 udah sampe. Dulu berangkat 05.45, sampai jam 08.30! Beda banget! Dasar Jakarta! Macetnya ga bisa ditebak! Beruntung saya bukan orang Jakarta >_<

Alhasil, kami menunggu di parkiran depan EX Plaza yang untungnya sudah buka karena pagi-pagi memang banyak yang nge-gym di situ. Sambil menunggu, kami pun sarapan dengan bekal yang dibawa dari rumah, dan saya mengulang-ulang lagi hapalan cheatsheet saya. Sekitar pukul 07.30 kami memutuskan ke sebelah, ke gedung kedubes Jepang.

Alhamdulillah sudah ada beberapa orang yg menunggu pintu dibuka. Sekitar jam 08.00, peserta wawancara dipersilakan masuk, sedangkan om, ortu, serta adik saya berencana menunggu di McD Sarinah yang buka 24 jam.

Untuk shift pagi ini, ada 7 orang yang akan diwawancara. Pertama-tama kami diajak ke perpustakaan bagian pendidikan. Di situ, kami dibagikan beberapa rangkap dokumen yang harus kita kumpulkan kembali ke kedubes jika kita dinyatakan lolos wawancara. Setelah itu, kami diajak masuk ke bagian kantor melalui pintu berlapis 2 yang cuma bisa dimasukin oleh mereka yang memiliki kartu dengan chip khusus. Benar-benar ketat ya pengamanannya.

Kami dipersilakan menunggu di sebuah ruang tunggu. Rupanya ruangan itu berbagi dengan musola. Di bagian kiri ruangan terdapat beberapa sofa, dan di sebelah kanannya merupakan musola yang diberi batasan berupa partisi. Di situ kami dijelaskan bahwa wawancara akan dilakukan antara 20-30 menit tiap orang. Saya mendapat urutan ke-3 (atau ke-4 ya, saya lupa). Sembari menunggu giliran, saya pun menyempatkan solat dhuha untuk menenangkan hati dan supaya diberikan kelancaran dalam menjawab pertanyaan kelak.

Dari obrolan dengan sesama peserta wawancara, ketahuanlah ternyata saya yang paling muda. Yang lainnya pada udah kerja, dan ada beberapa yang sudah pernah sekolah di Jepang sebelumnya, maka bisa dipastikan bahasa Jepangnya lumayan lancar semua >_< Huhu..saya minder banget deh kala itu. Pokoknya di dalam hati saya terus berdoa mohon diberikan yang terbaik saja sama Allah. Apa pun hasilnya, saya cuma minta sama Allah supaya ga gagap saat menjawab pertanyaan nanti.

Tibalah giliran saya. Tiap langkah menuju ruangan sama beratnya dengan angkat barbel, dan tiap hela nafas sama sesaknya dengan mendaki gunung (lebay doang sih ini). Tiba di ruangan, saya mengetuk pintu dan dibukakan oleh mas-mas Jepang yang ramah banget. Saya pun dipersilakan duduk.

Ruangan wawancaranya ternyata kecil banget. Di dalamnya dimasukin sebuah meja besar dengan 6 buah kursi yang mengelilingi, 1 untuk saya, 5 lainnya untuk pewawancara di hadapan saya. Saya sebenarnya bingung, gimana bisa meja sebesar ini dimasukin melalui pintu yang sempit itu ya? (intermezzo πŸ˜€ )

Saat saya masuk, salah seorang pewawancara tidak ada. Yang ada hanya 2 orang bapak orang Indonesia, seorang bapak orang Jepang yang sudah cukup tua, dan seorang lagi mas-mas Jepang tadi.

Pertanyaan pertama (saya lupa siapa yang menanyakan), “Good Morning. Nadine, right? So please tell us about yourself, Nadine.” Alhamdulillaaahh…pertanyaan pertama sesuai dugaan, dan jawaban pun mengalir sesuai hapalan saya. Ditambah acting dikit-dikit biar ga keliatan kayak menghapal banget. Hehe πŸ˜€ Alhamdulillah berkat pertanyaan pertama yang bisa dijawab dengan lancar ini, perlahan-lahan rasa gugup ini hilang dan saya mulai merasa percaya diri.

Berikutnya, saya diminta menjelaskan seputar rencana tesis saya. Saya pun membagikanΒ handoutΒ yang sudah saya buat dan menjelaskan sesuai bagan diΒ handoutΒ tersebut. Pertanyaan-pertanyaannya yang masih saya ingat antara lain:

  • Kenapa kamu pikir riset ini penting dan harus dilakukan?
  • Apa keuntungannya bagi Jepang dan Indonesia?
  • Apakah bisa mempererat kerjasama antara Jepang dan Indonesia?

Alhamdulillah, saya tidak terlalu dibantai saat menjelaskan tentang tesis ini >_< Tapi salah satu bapak yang dari Indonesia agak galak dan jutek saat menanyakannya, sementara 2 orang Jepang bahasa Inggrisnya sangat susah dicerna.

Setelah itu, 2 orang Jepang menanyakan hal seputar Jepang dan budaya Jepang apa saja yang sudah saya ketahui. Alhamdulillah, walaupun bahasa Inggris mereka agak susah didengar, pertanyaannya ga susah-susah, jadi bisa saya jawab dengan lancar.Β Setelah saya cerita-cerita tentang ketertarikan saya terhadap Jepang, eh malah jadi ngobrol-ngobrol sama bapak-bapak tersebut.Lalu saya juga disuruh mempraktekkan kemampuan bahasa Jepang saya. Waktu itu, saya cuma menceritakan hal-hal yang saya alami waktu jalan-jalan ke Jepang tahun 2011 lalu. Ternyata mereka ber-4 ramah-ramah aja kok, dan bahkan kami sempat tertawa-tawa (lupa karena ngobrolin apa) πŸ˜€

Alhamdulillah, secara keseluruhan, saya merasa wawancara ini berlangsung dengan sangat baik dan lancar. Saya pun keluar ruangan dengan langkah kaki jauh lebih ringan. Begitu sampai di ruangan tunggu dan bertemu peserta wawancara lainnya, mereka bilang saya wawancaranya lama banget. Dan benar saja, ternyata saya menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sementara orang-orang sebelum saya kalau tidak salah hanya 20 menit.

Berdasarkan nasihat dari seseorang, jika dalam suatu wawancara kamu diwawancara dalam waktu yang lama, it’s a good sign. Artinya pewawancara tertarik denganmu dan ingin menggali seperti apa kamu lebih jauh lagi. Jika kamu diwawancara sebentar, sebaliknya, mungkin pewawancara sudah tidak tertarik denganmu dan sudah tidak tahu mau bertanya apa lagi. Dan sekarang saya sudah mengalami keduanya.

Wawancara terdahulu (bukan wawancara Monbusho) yang saya ceritakan di atas saya gagal gara-gara terlambat datang, saat wawancara, hal pertama yg dibahas sama pewawancaranya adalah “Nadine tadi datang terlambat ya?”. Bapak itu nanyanya santai aja sih, tapi dia langsung menceramahi saya mengenai keterlambatan tersebut. Dan benar saja, wawancara saya singkat banget! Cuma 30 menit, sementara orang-orang lain sejam sampai satu setengah jam. Dan saya tidak lolos dalam wawancara tersebut.

Sementara yang terjadi di wawancara Monbusho ini sebaliknya. Saya diwawancara cukup lama dan Alhamdulillah, pada tanggal 31 Juli 2012, saya mendapat pengumuman bahwa saya lolos seleksi wawancara, yang artinya saya lolos Primary Screening! ^_^ Alhamdulillah…

Dari 90-an peserta tes wawancara, hanya 35 peserta yang dinyatakan lolos Primary Screening ini. Langkah berikutnya yang harus kami lakukan adalah mengisi form yang sudah dibagikan tadi serta mengumpulkan Letter of AcceptanceΒ (LA) dari profesor di Jepang. Apa itu LA? Tunggu lanjutan ceritanya ya! πŸ™‚

Tahap selanjutnya : Melengkapi dokumen lagi

Ujian Tertulis Monbusho G2G 2013

Standard

Tahap sebelumnya : Seleksi Dokumen

Sekitar 2 bulan sejak batas akhir pengiriman dokumen, bersiap-siaplah, karena mungkin saja pengumuman siapa yang lolos untuk mengikuti ujian tertulis akan segera terpampang nyata di website kedubes. Hehehe.. πŸ˜€

Memasuki bulan Juni 2012, hampir setiap hari saya mengecek website kedubes dengan hati berdebar-debar. Tidak lupa juga saling mengingatkan dengan sesama pelamar Monbusho lain yang saya tahu jika memang sudah ada pengumumannya. Lalu sekitar tanggal 9 atau 10 Juni 2012 (saya lupa pastinya karena lupa mencatat :P) keluarlah pengumuman tersebut.Β Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos dokumen bersama sekitar 120-an pelamar lainnya, dan diminta datang untuk melaksanakan ujian tertulis.

18 Juni 2012

Ujian tertulis dilaksanakan di Fakultas Sastra Jepang UI. Sehari sebelumnya saya sudah menginap di rumah tante saya di Depok, yang memang sangat dekat dengan tempat tes ini dilaksanakan. Pagi-pagi pukul 06.30 saya berangkat dari rumah dengan diantar tante saya menggunakan motor supaya cepat dan bisa nyelip sana-sini. Ternyata jam segitu memang belum terlalu macet, dan lagi tante saya tahu jalan tikus menuju Fakultas Sastra Jepang UI. Akhirnya “cuma” setengah jam perjalanan saya sudah sampai lokasi dan baru ada sekitar 5 orang lain yg sudah datang juga.

Persiapan

Persiapan saya dalam menghadapi tes tertulis ini ya mencoba mengerjakan soal-soal tahun sebelumnya. Soal-soal tersebut bisa didonlod di sini.

Jika kita merupakan pelamar yang mengirim nilai TOEFL, utamakan belajar bahasa Inggrisnya. Pengalaman saya dari mengerjakan soal-soal sebelumnya, bahasa Inggrisnya lumayan susah. Banyak kosa kata dan frase baru yang saya pelajari. Untuk bahasa Jepangnya, saat tes ini berlangsung, kalo ga salah saya baru level 3 les bahasa Jepang di BLCI. Jadi saya hanya memantapkan pelajaran yang sudah saya pelajari ditambah menghapal beberapa kosa kata serta kanji baru.

Hari H

Ujian tertulis ini dilaksanakan di sebuah ruangan yang bentuknya seperti bioskop atau teater, dengan kursi yang makin ke belakang makin tinggi, dan di bagian paling depan ada stage yang biasanya tempat artis-artisnya nampil. Kalau sekarang, di bagian depan terletak sebuah meja panjang dengan tumpukan soal dan beberapa orang pengawas duduk di belakangnya.

Sebelum ujian mulai, pelamar yang mengumpulkan nilai JLPT diminta duduk di 2 baris paling depan, sedangkan sisanya sampai baris paling belakang terisi oleh pelamar yang mengumpulkan nilai TOEFL.

Ujian pertama adalah bahasa Inggris. Untuk pelamar dengan nilai JLPT, hanya diberi waktu 1 jam, sedangkan pelamar dengan nilai TOEFL diberi waktu 2 jam. Sebaliknya untuk ujian bahasa Jepang-nya. Oleh sebab itu, setelah 1 jam ujian bahasa Inggris berlangsung, 2 baris paling depan diminta mengumpulkan jawabannya, dan langsung dibagikan soal bahasa Jepang. Setelah itu, baru 1 jam kemudian, pelamar dengan nilai TOEFL diminta mengumpulkan jawaban bahasa Inggris, dan diberikan soal bahasa Jepang.

Mengenai soal bahasa Inggrisnya, lumayan susah menurut saya, haha. Soal-soalnya banyak menggunakan kosa kata yang lebih formal dan tidak umum digunakan dalam bahasa obrolan sehari-hari. Selain itu, bagian pertanyaan bacaannya, saya bahkan merasa lebih ngerti novel bahasa Inggris Harry Potter daripada soal ini >_< Pokoknya susah deh. Tapi mungkin bagi kamu yang sudah biasa baca novel bahasa Inggris bakal bisa-bisa aja mengerjakannya.

Soal bahasa Jepangnya terdiri dari 3 bagian: basic, intermediate, dan advance. Untuk soal bahasa Jepang ini, bagi yang belum bisa bahasa Jepang sama sekali, diperkenankan hanya menulis nama dan no identitas, namun diharapkan untuk menunggu 20 menit sebelum mengumpulkan lembar jawaban.

Saat itu Alhamdulillah bagian basic bisa saya kerjakan dengan baik, untuk intermediate hanya saya kerjakan sebagian karena banyak sekali grammar yang belum saya pelajari, sedangkan untuk advance, saya benar-benar tidak bisa mengerjakan karena semua soalnya tertulis dalam kanji yang belum pernah saya hapalkan juga. Alhamdulillah saya termasuk bagian dari mereka yang bertahan mengerjakan soal-soal tersebut selama 1 jam πŸ˜€

Sekitar jam 13.00 ujian pun selesai dan saya bersama beberapa orang teman kembali ke Bandung dengan menggunakan bus Budiman dari terminal Depok.

*****

Nah ada yang berbeda dari seleksi ujian tertulis dan wawancara yang saya alami dengan pengalaman senior pada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, 2 ujian ini merupakan sepaket, sehingga yang lolos seleksi dokumen pasti akan langsung mengikuti 2 ujian ini (tertulis dan wawancara). Namun tidak demikian halnya dengan angkatan saya. Dari sekitar 120-an orang yang ikut ujian tertulis, hanya 90-nya yang mendapat kesempatan wawancara 1 bulan setelahnya.

Mengenai seleksi wawancara, kita lanjutkan di posting berikutnya ya πŸ™‚

Tahap selanjutnya : Seleksi Wawancara