Tag Archives: japan

Day 13: Thing I am Excited About

Standard

Sebenernya saya agak bingung, apa ya bedanya “thing I am excited about” dengan “things that make me really happy”. Toh keduanya sama-sama membuat senang atau bersemangat 😀 Karena buat saya yg membuat saya senang itu ya otomatis membuat saya semangat, begitupun sebaliknya 😀

Mungkin temen2 di sini yg sudah ngikutin 30 day writing challenge ini dari awal, sudah cukup hapal dengan beberapa hobi saya, yaitu traveling dan making itinerary. Basically, hal-hal inilah yg selalu membuat saya bersemangat dalam menyongsong hari-hari saya #eeaa. Ketika saya tahu saya akan berlibur ke suatu tempat, maka mulai dari persiapannya hingga hari demi hari menuju the D-Day itu benar-benar penuh dengan penantian yg menggembirakan.

Namun, rasa-rasanya saya sudah cukup sering dan banyak mengupas tentang hobi jalan-jalan ini, sehingga sepertinya sudah tidak ada yg bisa dituliskan lagi (untuk saat ini). Akhirnya, setelah berpikir keraass, saya menemukan juga hal yg membuat saya bersemangat namun tidak otomatis membuat saya senang. He he. Karena hal yg membuat bersemangat ini terkadang juga penuh dengan aral lintangan serta cobaan berliku. Eeaa.

So without further a do, here it is…

Baru-baru ini saya menemukan hobi baru mencoba membangkitkan kembali hobi lama saya yaitu berjualan. Awalnya saya kira berjualan itu mudah ya kayak gitu aja, cari supplier, posting foto-foto yg bagus, membuat kata-kata yg mengundang, terkadang memberi diskon pada event-event tertentu, menjadi contact person yg ramah bagi pembeli. Sudah. Setelah saya mempraktikkannya selama beberapa waktu, ternyata berjualan is not easy AT ALL! Not even close ><

Saya jadi ketemu berbagai tipe customer dan jadi belajar bagaimana cara menghandle-nya (psst, tidak semua customer menganggap penjual itu juga manusia yg punya rasa punya hati loh >< ). Saya jadi tahu cara promosi toko itu tidak hanya melalui cara-cara yg gratis, terkadang ada sedikit yg harus kita korbankan demi hasil yg lebih besar lagi. Dan masih banyak lagi.

Herannya, mempelajari trik-trik berjualan ini membuat saya bersemangat, walaupun sebenarnya jatuh-bangun juga, sering bapernya, dan saya jadi pernah merasakan ditusuk dari belakang oleh teman sendiri. Oh yes, life is hard, kawan T_T

Dengan berjualan, saya jadi lebih bisa merasakan bahwa “rejeki itu tidak akan tertukar”. Udah titik. Tapiii bukan berarti kita diam saja menunggu rejeki yg memang sudah ditakdirkan untuk kita itu. Kita harus berusaha semaksimal mungkin meraihnya dengan cara-cara yg kita bisa dan tentunya juga harus halal caranya 🙂

Selain itu, sebisa mungkin apa yg kita jual harus dapat bermanfaat bagi sekitar. Atau minimal hasil dari penjualan kita, kita sisihkan juga bagi yg membutuhkan. Memberi dulu, baru menerima 🙂

Rasa-rasanya sejak benar-benar men-seriusi jualan, saya jadi merasa makin keciilll banget di hadapan Allah. Berbeda dengan ketika saya dulu mendapat “rejeki” yg rutin per bulan dengan jumlah yg sama, saya dulu rasa-rasanya menjalani hidup dengan monoton dan kurang bersemangat. Karena ada perasaan toh tiap bulan saya juga pasti akan dapat segitu (ini sih sayanya aja ya yg cetek imannya, insya Allah temen2 nggak kayak gitu ya 🙂 ). Tapi sejak merasakan tertatih-tatihnya jualan, saya jadi merasa setiap hari saya harus melakukan sesuatu jika ingin dapur terus ngebul toko saya bisa terus buka dan terus memberikan manfaat untuk sekitar.

Mohon doanya ya kawan, semoga saya bisa selalu istiqomah, dan juga bisa lebih bermanfaat lagi bagi orang lain dengan hal yg saya bisa 🙂

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini, sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya ^_^

*****

PS: Untuk yg bertanya-tanya, apa sih yg saya jual, he he, karena postingan ini ceritanya bukan untuk mempromosikan toko saya, saya nggak ingin mencantumkan link menuju toko saya. But since you were asking (emangnya ada gitu yg nanya? 😛 ), saya sekarang punya dua toko online. Yang satu menjual jilbab dengan berbagai ukuran dan banyaakk warna yg insya Allah menutup dada, bisa dicek di http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse . Yang satunya lagi menjual snack impor Jepang yg halal dan juga barang2 lucu unik dari Jepang, bisa dicek di http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

Please kindly check my online store that sells hijab at http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse and sells Japanese halal snacks and unique goodies at http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

meiji-matcha

One of Michiko Goodies’ product 🙂

 

Shibazakura Festival at Mount Fuji Hill : Tips and Experience (May 2015)

Standard

Kembali lagi dengan cerita jalan-jalan di Jepang 🙂

Bagi para wisatawan yang ke Jepang, dapat melihat, berfoto bersama, atau mendaki Gunung Fuji mungkin merupakan salah satu point penting di cek list perjalanan kita yang tak boleh terlewatkan.Tidak harus wisatawan aja sih, kami yang sedang tinggal di Jepang pun tak setiap hari dapat menikmati indahnya Gunung Fuji, dan berfoto bersamanya pun hanya dapat -dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. Sudah banyak website yang membahas spot-spot di mana kita dapat melihat Gunung Fuji dengan jelas. Salah satunya ada di website ini.

Saya sendiri selama dua tahun lebih tinggal di sini, sudah melakukan banyak attempt untuk dapat foto-foto bersama si gunung yang terkenal ini 😀 Dua kali saya ke Hakone, Gunung Fujinya tertutup kabut, padahal cuaca relatif cerah. Ketiga kalinya, alhamdulillah saya bisa melihat Gunung Fuji dengan jelas melalui jendela shinkansen waktu perjalanan dari Tokyo ke Kyoto 🙂 Dan keempat kalinya adalah saat saya ke Shibazakura Festival ini 🙂

Shibazakura Festival adalah festival melihat bunga shibazakura, atau pink moss dalam bahasa Inggris. Di Jepang sendiri sebenarnya banyak spot festival shibazakura, seperti dua tahun lalu saat Golden Week 2013, alhamdulillah saya berkesempatan ke festival shibazakura di Chichibu.

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Salah satu festival Shibazakura yang recommended tentu saja yang di kaki Gunung Fuji ini, karena tidak hanya dapat melihat indahnya bunga pink moss, kita juga dapat menikmati hamparan bunga pink moss ini berdampingan dengan Gunung Fuji nya sendiri. Dobel deh untungnya 🙂

Shibazakura Festival tahun 2015 ini diadakan mulai tanggal 18 April sampai 31 Mei 2015. Biasanya tiap tahun tidak berubah terlalu jauh jadwalnya, a.k.a. sekitar pertangahan April sampai akhir Mei. Berdasarkan riset yang telah saya lakukan sebelum berangkat, waktu terbaik untuk mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei, dan tidak saat weekend 😀

Access/ How to get there

Terdapat beberapa pilihan transportasi menuju Shibazakura, ada yang menggunakan kereta, bus, atau mobil. Karena kami tidak punya mobil, pilihan transportasi kami yaitu antara kereta dan bus, dan tentu saja naik bus lebih murah 🙂 Karena itu saya hanya akan menjelaskan cara ke sana dengan naik bus.

Sebenarnya banyak sekali jalur bus yang menuju Shibazakura ini. Informasi lebih lengkapnya bisa diperoleh di sini. Namun karena alasan kepraktisan dari tempat tinggal kami, kami memilih menaiki Highway Bus dari Shinjuku. Tiket bus menuju Shibazakura ini dapat dibeli secara online di website ini. Sebenarnya bisa juga kita beli langsung di counternya saat hari H. Namun mengingat festival ini yang diadakan hanya di waktu yang terbatas, kita tidak dapat memastikan bisa dapat seat di bus kalau baru beli saat hari H. Jadi saya merekomendasikan untuk beli tiket jauh-jauh hari sebelumnya, dan berangkat sepagi mungkin supaya bisa menikmati festivalnya lebih lama 🙂

Nah kembali ke cara memesan tiket secara online di website yang sudah saya sebutkan di atas. Seperti yang sudah disebutkan dengan jelas di website tersebut, untuk menuju Shibazakura, kita harus menaiki bus yang menuju Kawaguchiko Station. Baru dari situ kita sambung naik bus Shibazakura liner yang tiketnya hanya dapat dibeli di Kawaguchiko Station bus terminal no 7 (dapat berubah sewaktu-waktu, karena ini hanya berdasarkan pengalaman saya kemarin). Perlu diingat bahwa Shibazakura liner ini hanya ada setiap 30 menit sekali, dan perjalanan dari Kawaguchiko Station ke spot Shibazakuranya sendiri juga memakan waktu 30 menit. Karena itu sangat penting untuk datang sepagi mungkin karena jika terlewat beberapa detik saja bus sebelumnya, kita harus menunggu 30 menit untuk bus selanjutnya ditambah 30 menit lagi perjalanan menuju Shibazakura 😦

Untuk ringkasnya, berikut ini ringkasan perjalanan menuju Shibazakura:

  1. Beli tiket online, pilih jalur Shinjuku ke Kawaguchiko Station, 1750 yen per orang sekali jalan. Sebaiknya beli langsung tiket round trip saja.
  2. Dari Shinjuku Station, keluar di West Exit, menuju terminal Highway Bus. Jika kita memesan online, akan ada peta letak terminal bus yang dikirim ke email kita. Jika ingin membeli langsung, counter bus ini terletak dekat dengan Yodobashi.
  3. Perjalanan dari Shinjuku ke Kawaguchiko Station, kurang lebih 1,5 sampai 2 jam jika lalu lintas lancar.
  4. Sampai Kawaguchiko Station, menuju terminal bus Shibazakura Liner, beli tiket bus, 1900 round trip, sudah termasuk tiket masuk spot Shibazakura.
  5. Sekitar 1 jam sampai 45 menit sebelum waktu bus pulang dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku, sudah menuju terminal bus Shibazakura Liner menuju Kawaguchiko Station. Ingat, perjalanan dari Shibazakura ke Kawaguchiko Station memakan waktu 30 menit, nggak mau dong ketinggalan bus pulang ke Shinjuku gara-gara mepet-mepet pulang dari Shibazakuranya 🙂

Our Experience

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, waktu terbaik mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei. Minggu pertama bulan Mei adalah Golden Week, jadi sudah dapat dipastikan jalanan akan macet (yes, di Jepang juga bisa macet kok) dan di mana-mana penuh sama wisatawan lokal, maka kami pun menghindari minggu pertama. Minggu kedua, kebetulan ada acara festival internasional di Tsukuba. Karena kami jadi panitia, maka kami pun tidak dapat pergi pada minggu kedua. Kesempatan terakhir kami adalah sepanjang minggu ketiga Mei.

Setelah mengecek ramalan cuaca, pada akhir minggu ketiga bulan Mei diperkirakan hujan. Karena ini (mungkin) akan menjadi tahun terkhir saya di Jepang, saya bertekad untuk datang ke festival ini di saat terbaiknya >< Beruntungnya lab saya adalah tipe lab yang tidak harus ke lab setiap hari. Maka kami pun memutuskan pergi di hari Rabu minggu ketiga Mei 🙂

Kami baru memesan tiket online hari Seninnya, alhasil kami dapat bus yang jam 10.40 dari Shinjuku. Cukup siang, tapi alhamdulillah masih dapat tiket bus, karena beberapa detik setelah kami memesan tiket bus ini, yang jam 10.40 sudah penuh juga. Ketat sekali persaingan, sodara sodaraahh…

Hari Rabu, kami berangkat naik bus dari Tsukuba pukul 07.45, sampai di Tokyo Station jam 09.30. Disambung naik kereta dari Tokyo ke Shinjuku sekitar 20 menit, alhamdulillah kami sampai di Shinjuku Station pukul 10.00. Masih ada waktu istirahat sebelum menuju terminal bus.

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Pukul 10.40 bus berangkat sesuai rencana, dan sesampainya kami di Kawaguchiko station, sekitar jam 12.30 lebih sedikit, bus Shibazakura Liner yang jam 12.20 baru saja berangkat T_T karena itu kami harus menunggu bus yang jam 12.50. Sambil menunggu bus, dari terminal bus ternyata Gunung Fujinya sudah terlihat bergitu dekat 🙂

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Pukul 12.50 kami naik bus, sampai di Shibazakura sekitar pukul 13.30. Alhamdulillah cuaca cerah namun angin cukup sejuk. Kami pun berfoto-foto dengan bantuan tongsis dan para pengunjung lain yang berbaik hati memfotokan kami 🙂

Shibazakura dan Gunung Fuji

Shibazakura dan Gunung Fuji

Karena selalu jalan-jalan cuma berdua saja, sekarang kami sudah tahu bagaimana cara meminta bantuan wisatawan lain untuk memfotokan kami. Pertama, salah satu di antara kami berdiri di spot yang diinginkan, kemudian yang satunya mengatur kamera agar menangkap angle yang paling bagus. Kemudian cari wisatawan yang jalan-jalan berdua juga, karena biasanya mereka lebih ramah dalam membantu pasangan lainnya (senasib gitu lho 😀 ). Lalu meminta wisatawan tersebut untuk memfotokan dengan menunjukkan angle yang sudah diatur sebelumnya. Berikut salah satu hasil foto terbaik yang kami dapatkan 😀

IMG_2430Ga ketinggalan foto-foto pake tongsis juga 😀

20150513_140116Di spot festival ini juga ada beberapa stand makanan. Kami sendiri sebenarnya sudah menyiapkan bekal dari rumah karena khawatir tidak ada yang bisa dimakan di sini. Tapi ternyata ada yang jual taiyaki dan pancake udang. Kami pun mencoba pancake udangnya yang alhamdulillah lumayan enak dan nambah-nambahin variasi bekal makan siang kami.

Bus yang akan membawa kami dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku dijadwalkan pukul 17.10, maka pukul 15.30 kami sudah menuju terminal bus Shibazakura, dan berhasil naik bus yang pukul 16.00. Sampai lagi di Kawaguchiko Station pukul 16.30, kami sempat istirahat ke toilet dan membeli souvenir sebelum menaiki bus pulang.

*****

Alhamdulillah, perjalanan hari ini bisa dikategorikan sebagai sukses dan lancar. Lalu lintas tidak macet, cuaca cerah, Gunung Fuji tidak tertutup kabut, dan berhasil mendapatkan beberapa foto yang bagus dan bisa menjadi kenang-kenangan di masa tua 🙂 Sampai jumpa di cerita jalan-jalan berikutnya!

New Halal Restaurants in Japan – Review

Standard

Alhamdulillah, in only this month (February 2015), I had the opportunity to visit three new halal restaurants in Japan, due to accompany some of my guests who were on vacation here. I am really glad that the growth of Islam in Japan shows promising direction, despite some not-so-good news about Islam that are still airing sometimes in national television stations here. I’m also very grateful that public services in Japan always treat foreigners indiscriminately. However, I know that in some places out there, there are still some difficulties for us to do our religious obligations, but I myself couldn’t thank Allah more that I never be in such condition, and hopefully won’t ever be. Amen.

So far, actually, there were already a lot of halal restaurant in Japan. However, most of them are Indian, Pakistan, or Turkish Restaurants. There are also some Indonesian and Malaysian restaurants of course, but fortunately, recently, many more kinds of halal restaurants open, such as Italian, Chinese, and even Japanese. The more the merrier, right? 🙂

Ok, without further ado, here are my reviews about those restaurants.

Ippin

Japanese food – 15 minutes walk from Ebisu station, west exit

Fifteen minutes walk for me is not so close, and we also have to pass some small hills to reach this restaurant.

Nama Ippin sendiri berasal dari Upin-Ipin dengan mencari kanji yang bisa terbaca mirip dengan "ipin" :)

Name “Ippin” came from “Upin-Ipin” by finding Chinese character (kanji) that can be read similar to “Ipin” 🙂

Some of the menu. There are some more but I forgot to take the picture of them.

This is the menu that I ordered that time. It is called Japanese Genovese style chicken shiso flavor, price 900 yen. It includes the chicken, a small bowl of rice, salad, and miso soup.

IMG_0347[1]

Menu I ordered

The meal was actually delicious and has that authentic Japanese flavor. So for you who want to taste the real Japanese food and halal, this menu is recommended. However, the portion was a bit small, so I didn’t feel full enough after eating it.

There are also some wagyu meet menus and they were amazingly delicious. My friend ordered that, the price was over 1000 yen and the size was the same as the rice bowl of the picture above >_< I tried a teeny tiny small bite of the meat, and it did melt inside my mouth (drooling-red).

My other friend ordered a chicken ramen and fortunately this time, the portion was big!

The chicken ramen

The chicken ramen

I tasted it also and it was very tasty and authentic. So if you are very hungry at the time you come to this restaurant, I recommend you to try the ramen. Where else we could find halal ramen, right?

Good: the service is good, the waiters are nice, the foods are delicious, and the place is cozy.

Not-so-good: because the location is not so close from the station, and the portions are not so big, all of us already felt hungry again after we were back to the station 😛 Even some of my friends planned to eat again at another restaurant!

Tokyo Chinese Muslim Restaurant

Chinese food – 2 minutes walk from Kinshicho station, south exit

In front of the entrance

In front of the entrance

They have sooooo many variations of food you could imagine and most of them are under 1000 yen. I came here with my husband and we took so long to choose the meals. We finally decided to order a kind of chicken menu, a kind of vegetable menu (we chose stir-fried eggplant with their special sauce), a beef skewer, a lamb skewer, and aone portion of their famous vegetable dumpling.

Our orders before the dumplings came

Our orders before the dumplings came

The vegetable dumplings

The vegetable dumplings

You can spot the different of their rice portion and Ippin’s rice portion, can’t you? And for all of these, we only have to pay 3000 something yen!

We just love them too much

We just love them too much

Good: Very near to the station, the portion of the foods are big, taste yummy and satisfying, have many kinds of variations you can choose, and they even have a small praying space. This restaurant is absolutely my favorite and I want to go back since there are still so many foods I haven’t tried yet 🙂

IMG_0390

Praying space for one people

Not-so-good: While we were there, there were only two other guests beside us, and after they finished cooking our orders, the cooks slept on one empty table (when I said slept here means literally laying their body down on the chairs), and the waitress ate on another empty table. I understand that they must be really tired, but I think this was not a very good attitude in front of customers. This is forgivable but I hope they won’t do the same things in the future.

Sekai Cafe

International food – Asakusa station, 50 meters walk from Kaminarimon

This cafe was just open on November 11th, 2014 ago. It is very easy to reach and exactly inside the crowd of Asakusa and Sensoji Temple. Just as its name, (sekai means world in Japanese), this cafe provides not very specific kind of food, so let’s say it provides international foods.

Since its location is inside the main attraction of Asakusa, adding the fact that it provides halal foods, it is understandable that the price is rather expensive for just a cafe. And unfortunately, they don’t have many variations of menu.

I went here with my husband and one of his friend. So when we were contemplating thinking which menu we should choose (among those not so many options), we thought that because the price of yakisoba and grilled lamb is the same (1000 yen), the yakisoba must be in a giant portion, and there might be some chops of chicken or meat inside it. But, when it came, not only the portion is so-so, the taste was not exceptionally delicious, and there were only noodles, salt, and paprika inside it. I just wasted my 1000 yen for 250 yen raw noodles I could buy at the supermarket and I could cook by myself!! 😦 T_T

My husband and his friend ordered the grilled lamb with focaccia bread (1000 yen also). I can say that the price is acceptable since the meat portion is quite big and it didn’t smell bad as usual lamb. But acceptable here doesn’t mean that we want to order the same thing in the future (maybe).

We also ordered two kinds of smoothies, strawberry and apple pie, 500 yen each, inside 200 ml glass bottle. I still feel they were pricey for that size, but I did accept it since the smoothies tasted yummy and refreshing. But again, I might don’t want to order it for the second time.

Left: Apple pie smoothies, right: strawberry smoothies

Left: Apple pie smoothies, right: strawberry smoothies

Our orders

Our orders

Good: the location is easy to find, the place is cozy and youthful, the service is good, and we thought we met the owner at that time, and the owner was very nice, and he even informed us another halal restaurant around Asakusa. Another good thing is, when we were there, there was a Muslim waitress (she wore hijab). I guessed she’s from Malaysia, and I was right when I talked to her. On her apron, there was a sign with “Sorry, I can’t touch beer” written on it! I really appreciate this detail and I do hope other Halal restaurants will do the same thing from now on 🙂

Not-so-good:

Still about the waitress, at the first time I talked to her, I tried to speak in Malay language, since I felt we are neighbor, no need to talk in other languages. But she couldn’t reply with Malay, too. Maybe she was surprised or nervous, she looked confuse and in the end only answering with one or two words and very soft voice. On the second attempt, I tried to ask her in Japanese, because I think she must be good in Japanese since she’s working there, right? I was only asking what inside their pizza menu is, but she couldn’t explain in Japanese, too. In the end she answered with English. When she brought our dishes to our table, she looked very confuse where to put the plate, fork, and knife. I can see that she must be a trainee, and I accept her nervousness. I just want to say good luck for her and don’t be afraid of costumer’s questions 🙂

Another not-so-good point of this cafe, there is no detail explanation of what’s inside every menu, and not all menu have picture of them. When I was there, there was a sign of “today’s special pizza”, and “vegetable pizza”, but when I asked the waitress what’s inside the “today’s special pizza”, she said that they only have one kind of pizza. So I find that pizza sign is confusing and they’d better not to write two kinds of pizza if they only have one kind.

However, I want to give my sincere appreciation to this cafe, since they respect the fact that Muslim not only can’t drink beer, but we also can’t touch it. I hope they can improve their services, add some more menu, and add the specialty or their signature to every menu so that even if we have to pay a bit more expensive, we will still feel very satisfy after eating them. I do hope the best for Sekai Cafe in the future! 🙂

*****

So that’s gonna be all for this review. I hope you find this helpful to know more options of halal restaurants in Japan, and I somehow hope the management of the restaurants I mentioned here read this review by accident, so that they can improve their services to the customers 🙂

#DIY: The Power of Kepepet

Standard

Judulnya mainstream yah. Hehe. Tapi semoga isinya ga mainstream dan bisa menginspirasi teman-teman yang sedang dalam keadaan kepepet seperti saya hari ini.

Jadi ceritanya hari ini saya bawa bento untuk makan malam di lab. Ternyata oh ternyata, saya lupa bawa sendok, guys.

Sebenarnya di dekat gedung lab saya ada kantin yang jual sup yang bisa saya makan. Dan jika beli sup itu, saya akan mendapatkan sendok plastik yang bisa saya pakai untuk makan bento saya. Namun sejujurnya saya lagi pengen ngirit dan malas turun ke bawah (lab saya ada di lantai 3-red) untuk menuju kantin itu.

Seperti banyak orang bilang, kemampuan manusia bisa tak terduga saat dalam keadaan kepepet. Dengan berbekal bekas bungkus cemilan Happy Tan, lakban yang kebetulan ada di lab, dan penggaris

Bahan yang diperlukan (plus gunting untuk memotong lakban, lupa difoto)

Bahan yang diperlukan (plus gunting untuk memotong lakban, lupa difoto)

Jadilah sendok dadakan seperti berikut ini

Selamat makan!!

Selamat makan!!

Demikian update singkat hari ini. Semoga bermanfaat, paling nggak, bisa bikin senyum yang baca lah ya 🙂

Disclaimer: Saya biasanya ga bawa bento semengenaskan ini kok. Cuma kebetulan hari ini aja >_<

The Wizarding World of Harry Potter: Review and Tips

Standard

Unlike my other posts in this blog, I’m using English for this post especially for all Harry Potter fans out there who want to really enjoy their visit to The Wizarding World of Harry Potter. I know that some of you might want to read a review or tips before your visit, because I would do the same if I were you. The Wizarding World of Harry Potter that I will do a review on this post is the one in Universal Studio Osaka, Japan.

This autumn I finally went all the way to Osaka from Tsukuba (the place where I live now) just to reminisce my childhood memories, the story that never really leave us *I know you all feel the same way :”), the place where the magic happened, The Wizarding World of Harry Potter.

Just after I got off at the nearest station from the Universal Studio, Universal City Station, I was welcomed by Harry Potter posters every where. It is understandable since this Harry Potter theme is rather new (it was opened for public on July 15th, 2014). And just after we entered the main road towards the main gate of Universal Studio, Harry Potter soundtrack can be heard. At that time I thought I could cry of happiness and excitement T_T

IMG_0352

Main entrance of USJ

Well, I don’t want to spoil too many things, because I’m sure it would feel different when you enjoy it the first time without knowing anything about it 😀

So what are my review and tips for a day out at The Wizarding World of Harry Potter?

IMG_0410

Main entrance of WWHP

1. Come as early as possible

As we know in any theme park in the world, there are some regions related to a certain theme that we can enjoy in one theme park. In case of Universal Studio Japan (USJ), they have Hollywood, New York, Jurassic Park, Amity Village, Waterworld, Wonderland, and also our main highlight, The Wizarding Word of Harry Potter (WWHP). The system to enter WWHP is a bit different. Unlike other regions, you can’t just enter WWHP after you get your ticket from the main entrance. First, you have to take an entrance ticket to WWHP which you can get freely from a machine located exactly at the center of USJ (you can see the location from the map the staff will give you at the main entrance).

Why do you have to come earlier, because the line to take this entrance ticket is just like crazy. The machine will distribute a ticket with the time you can enter WWHP written on it. In my case, I came to the ticket machine at 9.15, and I got entrance time 11.20-12.20, which means I can enter WWHP during that time. But after we enter WWHP, actually we can enjoy it as long as we want. So the earlier you take the entrance ticket, the earlier you can enter WWHP, the more time you can enjoy it.

Note that they also have visitors limitation everyday. If the number of visitors reach that limit, the machine won’t distribute the ticket anymore. You don’t want to go home empty handed, right?

Actually you can also guarantee your entry to WWHP by buying special ticket at the main entrance. That ticket costs around 2000 yen. So if you want to buy it, you have to pay the ticket to enter USJ itself (6980 yen) plus special entry ticket (2000 something yen). If you have this ticket, you don’t have to line up for the ticket machine, and you can go in and out WWHP as you wish. You can find detail information about it from this website: http://www.usj.co.jp/e/attraction/att_detail/the-wizarding-world-of-harry-potter.html

2. After you enter WWHP, go straight to the main rides

WWHP consists of Hogsmeade and Hogwarts Castle. In Hogsmeade, you can find all those fancy shops that sell authentic and iconic souvenirs from the Harry Potter series, for example Zonko, Honeydukes, Owl Post and Owlery, Dervish and Banges, and so on.

IMG_0428

IMG_0433

In Hogwarts Castle, there are two main rides, “Harry Potter and The Forbidden Journey” and “Flight of The Hippogriff”. Trust me when I say it, the line of these rides are insane. Therefore, after you enter WWHP, don’t take pictures yet, don’t shop nor wandering around, you will have plenty of time to do it later. Just go straight to the rides so you can shorten your waiting time. FYI, when I first came to the ride, the waiting time was already 3 hours. When I was about to leave WWHP area, the waiting time became 4 hours! Gosh!

IMG_0524

3. Try Hogwarts Castle Walk

If you don’t have too many time in WWHP area because you also want to enjoy other areas, or you don’t want to line up for more than 2 hours for a ride, you can try Hogwarts Castle Walk. While visitors lining up to enter “Harry Potter and The Forbidden Journey” ride, they will enter Hogwarts Castle so that they can wait while enjoying the castle’s interior. The interior was absolutely beautiful, and consists of some important iconic props from the movie, for example the talking paintings, the house points counter, Dumbledore’s office, The Defense Against The Dark Arts classroom, and so on (again, I don’t want to spoil too much!).

So in Hogwarts Castle Walk, you can enter different line to be able to enter the castle, without having to line up for the “Harry Potter and The Forbidden Journey” ride. Good alternative, eh? Trust me, you don’t want to miss wandering around the castle.

4. Enjoy the street performances

There are two street performances, Frog Choir and Triwizard Spirit Rally. The performances were very beautiful. I enjoyed the choir so much, they sang some soundtracks from the movie with acapella style. And the Beauxbatons students wore the same uniforms they wore on the movie. Very pretty!

5. Flight of The Hippogriff

This ride is basically a usual typical roller coaster you can find anywhere. There is nothing special from this roller coaster, but if you want to stay only at WWHP area, it is worth a try. But if you will go to other areas, I recommend you to try roller coaster from Hollywood area because they are more challenging. And, if you have limited time in WWHP and it is not possible for you to ride both rides, you’d better choose The Forbidden Journey.

6. Take pictures of every detail

I thanked USJ management for making WWHP as detail as I could imagine. The buildings, interior decoration, some iconic properties (I don’t want to mention any of them here because I felt really surprise to find some stuffs that I didn’t expect to be there, and I want you to feel the same excitement as me 😀 ). So make sure to take pictures of all of them as they could be a lifetime souvenirs, too 🙂

7. Try the Butterbeer

Butterbeer is only sold at 3 places in the world, and USJ is one of them. It is sold in some stalls around the WWHP area so the line is not that long. You can buy it together with the mug souvenir, or only the Butterbeer with plastic cup. It is non-alcoholic, and the taste is like a soda drink (maybe root beer, I’m not sure) with float on top of it.

IMG_0488

Butterbeer with mug souvenir

8. Don’t mind other regions and stay until night

If you are a truly Harry Potter fans (just like me), I want to say that, don’t mind other areas, but just spend your time in WWHP until the USJ is closed. In my opinion, the rides at other areas are not that challenging nor exciting. I don’t know why, but maybe because I’ve been to Disneyland, Disneysea, and Fujikyu Highland, the rides in USJ are just typical. Especially Fujikyu Highland has more challenging rides, and Disney Resort offers more rides that you and your family (if you travel with kids) can choose.

And what so special about WWHP?

  • Obviously this is the only one WWHP in Asia, so if you live in Asia, this is the nearest WWHP you can choose.
  • Since WWHP area is new, there are so many people also visit it, and the line for the rides, restaurant, shops’ cashiers, and even toilet are horrible, so I’m sure most of our time here will be spent queuing. Therefore we need a whole day to explore every detail in WWHP area. We even will need a lot of time to choose what souvenirs we want to buy because all of them are very iconic and authentic ’till I wish I could buy all of them >_<
  • At night, there will be light up around Hogwarts Castle, so the castle will look even prettier than during the day. I didn’t stay until night in WWHP so I didn’t have any picture of it, but when I search #wizardingworldofharrypotter on Instagram, there are some people posts the picture of Hogwarts Castle at night, and it is so beautiful. I regret that I didn’t stay until late, so now I’m even planning to go there again for the second time before I leave Japan for goods 😀
See you again, Hogwarts!

See you again, Hogwarts!

Fujikyu Highland

Standard

Setelah sibuk membereskan apato hingga layak huni, sekarang saatnya jalan-jalan lagi menikmati sisa Spring Recess yang tinggal kurang dari seminggu 😦 Karena kami sama-sama menyukai amusement park, sementara Disney Resort sudah pernah kami kunjungi, maka kali ini tempat yang kami pilih adalah Fujikyu Highland.

Honeymoon Part 2 – 3 April 2014

Bagi penyuka amusement park, saya yakin Fujikyu Highland akan memberikan pengalaman berbeda dari amusement park lainnya 🙂

Dalam bahasa Jepang, Fujikyu ditulis sebagai 富士急 (富士dibaca fuji dan 急 dibaca kyuu). Sesuai namanya, amusement park ini terletak dekat dengan Gunung Fuji. Jika cuaca cerah, kita dapat bermain-main di sini sekaligus menikmati pemandangan Gunung Fuji di latar belakangnya. Indah sekali 🙂 Kemudian kanji 急 berarti fast atau cepat, dan inilah yang menjadi daya tarik utama park ini. Fujikyu menawarkan wahana-wahana ekstrim yang memiliki kecepatan lebih (maupun tingkat ke-ekstrim-an lainnya) daripada wahana yang pernah ada di park-park lain.

Akses : Dari stasiun Shinjuku, naik Highway Bus dari west exit. Tiket dapat dipesan secara online di website ini http://www.fujiq.jp/en/qpack/. Dapat juga dibeli langsung di counter Highway Bus tersebut yang ada di west exit juga.

Tiket : Untuk masuk ke Fujikyu Highland, kita dapat membeli tiket terusan maupun tidak. Harga tiket terusan untuk dewasa 5200 yen, dengan tiket ini kita bisa masuk wahana apa pun sepuasnya. Harga tiket tidak terusan untuk dewasa 1400 yen. Dengan tiket ini, kita hanya membayar masuknya saja, nanti untuk main di wahana-wahananya, akan ada harga yang berbeda dari masing-masing wahana.

Terdapat juga tiket Q-Pack, yaitu tiket masuk terusan plus Highway Bus round trip. Waktu saya ke sana, harga tiket ini satu orang 7000 yen. Sekarang saat saya cek di website di atas, harganya menjadi 7300 yen. Mungkin memang sudah naik disebabkan naiknya pajak di Jepang yang mempengaruhi harga semua barang.

IMG_4007

Ya, bisa dilihat di foto di atas, sewaktu kami ke sini, cuaca sedang hujan 😦 Namun karena sisa waktu suami saya di sini tinggal sampai tanggal 8 dan hari-hari setelah ini jadwal kami sudah padat lagi, kami pun memutuskan tetap pergi. Alhamdulillah karena hujan, tidak terlalu banyak yang datang hari ini 😀

Kembali ke wahana-wahana Fujikyu. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Fujikyu menawarkan wahana-wahana ekstrim, beberapa yang terkenal yaitu

IMG_4083

Takabisha, roller coaster with “the steepest drop in the world at 121°

Fujiyama, the "KING OF COASTERS"

Fujiyama, the “KING OF COASTERS”

“Eejanaika” yang disebut sebagai 4th dimension roller coaster karena selain mengikuti rel roller coasternya, kursi kita juga akan diputar-putar +_+ Dan masih banyak lagi silakan cek di sini http://www.fujiq.jp/en/attraction/ 😀

Ketika kami sampai di sini sekitar pukul 10.00, hujan masih agak lebat, akibatnya wahana-wahana ekstrim ini tidak ada yang dibuka. Saat hendak menukarkan tiket yang dibeli di Shunjuku West Exit dengan tiket yang ada barcode-nya di sini, petugasnya bertanya, apakah mau tetap menukarkan tiketnya meskipun hujan. Ternyata tiket ini masih berlaku hingga seminggu ke depan. Jadi jika kami berubah pikiran, kami masih masih bisa kembali lagi di hari lain saat cuaca cerah. Namun karena keterbatasan waktu kami, kami tetap menukarkan tiket pada hari ini.

Alhamdulillah, masih banyak wahana-wahana lain yang dapat dinikmati meskipun hujan, yaitu wahana indoor dan wahana outdoor yang tidak terlalu ekstrim.

Wahana pertama yang kami masuki yaitu Evangelion. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang wahana, secara isinya hanya semacam museum figur-figur dari anime Evangelion. Jika kamu mengikuti anime ini, worth it banget masuk sini karena banyak spot-spot foto yang nampak seperti real.

Dari dulu pengen jadi pemain piano tapi ga kesampean :D

Dari dulu pengen jadi pemain piano tapi ga kesampean 😀

Wahana kedua adalah Ultimate Fort. Di wahana ini, ceritanya kita terjebak di suatu penjara, dan kita harus memecahkan kode-kode yang ada untuk dapat kabur dari penjara tersebut. Suami saya yang awalnya semangat sekali masuk wahana ini, karena telah membaca ulasannya di internet bahwa ini bukan bohong-bohongan. Saya sendiri awalnya tidak terlalu percaya bahwa akan sulit teka-tekinya.

Selama mengantre, terdapat beberapa monitor yang menjelaskan stage-stage yang harus dilalui dalam wahana ini. Total ada 4 stage. Masing-masing stage ada batas waktunya, jadi jika kita tidak berhasil memecahkan teka-teki di satu stage, kita tidak dapat melanjutkan ke stage berikutnya. Di monitor ini, ditampilkan gambaran umum stage 1 sampai stage 3, sedangkan stage 4 “is a mistery world” katanya, kita tidak diberi tahu apa yang akan kita hadapi di stage 4.

Di stage 1, kita diberi kartu seperti ini.

photo

Kartu ini harus kita masukkan ke slot tersembunyi seperti di mesin ATM. Nanti di kartu tersebut akan di-print gambar-gambar tertentu pada baris pertama. Kemudian kita harus mencari slot lain dan kita harus mendapatkan gambar yang sama persis di kolom yang sama. Jika kita memasukkan ke mesin yang salah, gambar kita akan dicoret, yang artinya kita harus mengulang mencari lagi sampai benar-benar ketemu 3 buah gambar yang sama persis dengan gambar di baris 1.

Dan ternyata tidak mudah sama sekali mencari slot ini! Banyak slot-slot jebakan, dan tentu saja jika salah, harus mengulang lagi >_< Hasilnya bisa ditebak, saya dan suami tidak dapat menyelesaikan misi ini dalam batas waktu yang ditentukan. Bisa dilihat bahwa kami tidak berhasil mendapat gambar “map”, dan gambar “lilin” serta “baju” yang sudah kami dapatkan dengan benar juga ikut disilang. Kami dan (ternyata) semua pengunjung lain pun gagal di stage 1 >_<

Sekeluarnya dari wahana ini, kami pun penasaran, lalu iseng mencari ulasannya di internet. Siapa tahu ada yang pernah berhasil dan menuliskan kunci jawabannya atau trik-triknya 😀 Dan ternyata saudara-saudara,  sejauh ini baru 2 orang yang berhasil sampai stage 4 dan lolos dari “penjara” (menurut website ini http://kitsuneverse.blogspot.jp/2013/08/japancan-you-escape-ultimate-fort.html), dan itu pun setelah mencoba ribuan kali. Oke, jadi memang wahana ini tidak main-main, dan wajib dicoba buat kamu yang suka dengan teka-teki 😀 Dan tebak apa, karena penasaran, kami pun masuk ke wahana ini sekali lagi dengan membawa kartu yang sudah kita gunakan di percobaan pertama, untuk dicoba lagi dimasukkan ke slot-slot lain. Tapi kami pun masih gagal di percobaan kedua ini 😛

Wahana lain yang kami naiki antara lain Tondemina, dan Nagashimasuka yang basah banget jadi kalau tidak mau basah-basahan, jangan ke wahana ini di awal. Dalam kasus kami, karena kami sudah basah karena hujan, jadi tidak terlalu berpengaruh 😀

Satu lagi wahana yang ingin saya ulas adalah “Super Scary Labyrint of Fear”. Lagi-lagi suami saya duluan yang sudah membaca ulasannya di internet, yaitu bahwa wahana ini pernah didatangi oleh personel JKT48, dan sekeluarnya dari wahana ini, mereka pada nangis 😀 Wow, sepertinya memang benar-benar seram ya. Sayang sekali, kami tidak sempat mencoba wahana ini karena wahana ini memiliki batas waktu. Wahana ini hanya dibuka hingga pukul 16.30 dan saat kami mendatangi wahana ini sudah pukul 16.45 sehingga sudah ditutup 😦 Gedung wahana ini didesain seperti bangunan rumah sakit lama yang sudah bobrok, lengkap dengan burung gagak bohong-bohongan khas cerita-cerita horor.

IMG_4053

*****

Saya sangat merekomendasikan amusement park ini bagi kamu yang suka wahana-wahana menantang yang menguji adrenalin. Tapi, untuk yang ingin jalan-jalan dengan membawa anak kecil, rasanya kurang worth it kalau jauh-jauh ke sini, karena meskipun memang ada wahana yang diperuntukkan bagi anak-anak, wahana tersebut sangat standar dan bisa ditemukan di amusement park mana pun di tengah kota (tidak perlu jauh-jauh ke Gunung Fuji). Restoran dan toko souvenirnya pun biasa banget karena amusement park ini tidak memiliki tokoh yang iconic seperti layaknya Disneyland. Akhir kata, wahana favorit saya dan suami adalah “Ultimate Fort”. Bahkan kami berencana ke sini lagi suatu saat nanti untuk mencobanya lagi 😀

Naik-naik ke Puncak Gunung

Standard

Minggu lalu, saya dan Dea iseng-iseng jalan ke Tsukuba san atau Mount Tsukuba. Selama ini saya sering jalan-jalan ke tempat wisata di Tokyo, Tokyo pinggiran, bahkan sampai ke daerah Kansai, masa tempat wisata di dalam kota tempat tinggal sendiri belum pernah didatangin 😀 Jadilah saya minta Dea nemenin saya jalan-jalan kali ini 🙂

Dulu ketika saya baru datang ke Tsukuba, saya bertanya kepada senpai-senpai, tempat wisata apa yang recommended di sini. Dan jawabannya salah satunya Tsukuba san. Setiap weekend kalau kebetulan lewat terminal bus di Tsukuba Senta, memang benar, antrian di bus menuju Tsukuba san selalu panjang mengular. Dari anak kecil sampe kakek-nenek pada semangat hiking semua lho. Jadi penasaran ada apa sih di sini. Tapi karena saya dan Dea males, jadi kami ga berniat hiking, melainkan hanya ingin naik cable car 😛

Informasi mengenai Tsukuba san bisa dibaca di sini, atau googling juga pasti menemukan banyak link lain yang memberi informasi detail.

So, pagi ini kami berangkat dari Ichinoya jam 10 😀 (bukan pagi lagi ya berarti..hehe..maklumlah, hanya ingin jalan-jalan santai). Naik campus loop bus, sampe Tsukuba Senta hampir jam setengah 11, dan sesuai dugaan, antrian sudah panjang, sementara bus ke Tsukuba san berikutnya jam 10.30. Karena tidak kebagian seat di bis yang jam tersebut, akhirnya kami naik bis yg jam 11.

Terdapat 3 pemberhentian pada jalur bus ini, yaitu Numata, Tsukuba san jinja iriguchi, dan Tsutsujigaoka. Saya kurang tahu ada apa di Numata, tapi sepertinya hanya rumah-rumah penduduk. Bagi yang ingin naik cable car ke puncak, bisa turun di Tsukuba san jinja iriguchi, dan bagi yang ingin naik ropeway bisa turun di Tsutsujigaoka. Sedangkan yang ingin hiking pada umumnya turun di Tsukuba san jinja iriguchi. Dari sini ke puncak dengan jalan kaki (bukan dengan cable car) memakan waktu 1,5 sampai 2 jam (menurut website di atas).

Perjalanan normal dengan traffic lancar seharusnya memakan waktu 45 menit saja dari Tsukuba Senta ke Tsukuba san jinja iriguchi. Namun di luar dugaan, hari ini jalanan macet sekali. Mungkin karena hari Minggu dan kabarnya bunga-bunga mulai bermekaran di puncak. Perjalanan kami pun memakan waktu 1,5 jam. Kami membayar tiket sebesar 700 yen. Mengenai tiket ini, ada yang membeli tiket di tiket uriba di Tsukuba senta, namun dapat juga dibayar langsung sebelum turun dari bis.

Setelah sampai, yang pertama kami lakukan adalah ke Tourism Information Center untuk mengambil peta dan informasi lainnya agar dapat memutuskan akan jalan-jalan ke mana saja.

Tourism Information Center

Tourism Information Center

Peta sekitar Tsukuba san

Peta sekitar Tsukuba san

Kemudian kami pun berjalan-jalan santai saja di sekitar situ sambil mencari tulisan arah menuju cable car. Di tengah jalan, kami membeli soft ice cream. Soft ice cream ini sepertinya memang jajanan yang pasti ada di tempat wisata di Jepang. Rasanya pun sangat variatif. Kali ini Dea membeli rasa Ume (bunga yang baru saja tumbuh di Tsukuba san), dan saya membeli mixberry.

IMG_3470

Dari bus stop, kami jalan melalui gerbang oren ini, lalu cari saja tulisan “ケーブルカー“

photo

Tulisan arah jalan ini mengarahkan kami untuk melalui dan memasuki Tsukuba san jinja terlebih dulu sebelum sampai ke stasiun cable car-nya sendiri.

Tsukuba san Jinja

Tsukuba san Jinja

Dan dari sinilah kami menaiki cable car.

Di gerbang belakang ada tulisan "筑波山ケーブルカー" atau "Tsukuba san Cable Car"

Di gerbang belakang ada tulisan “筑波山ケーブルカー” atau “Tsukuba san Cable Car”

IMG_3505

Rel kereta dari tempat menunggu

Cable Car yang miring mengikuti kemiringan rel

Cable Car yang miring mengikuti kemiringan rel

Harga tiket cable car ini 560 yen sekali jalan, sedangkan kalau bolak-balik 1020 yen. Kami membeli tiket yang bolak-balik. Ini memang lebih hemat, tapi jika ingin merasakan naik cable car dan ropeway, lebih baik membeli 1 tiket saja di sini. Nanti setelah sampai puncak, hiking ke Nyotaisan Top, dan naik ropeway dari sana.

Perjalanan ke puncak memakan waktu kurang lebih 8 menit. Pemandangan di kiri-kanan sebenarnya biasa saja karena cable car ini berada di tengah hutan. Namun pemandangan dari rel keretanya persis naik jet coaster yang sangat curam. Sepertinya kemiringan kereta dan relnya lebih dari 45 derajat >_<

IMG_3527

Setelah sampai, bisa dibilang ini miriipp banget sama puncak-puncak di Indonesia, cuma kurang bandrek, wedang jahe, ama jadah tempe aja nih >_< Orang-orang pada makan cup noodle sambil duduk-duduk menikmati pemandangan. Bahkan ada yang bawa noodle boiler portable loh. Jadi apinya mirip banget sama kompor gas portable tapi ukurannya jauh lebih kecil. Sayang saya ga punya fotonya, soalnya ga enak ngefoto bawaan orang 😛

Dari sini, ada dua pilihan puncak lagi yang bisa didaki yaitu Nyotaisan (女体山) dan Nantaisan (男体山). Kami memilih mendaki Nantaisan karena jaraknya lebih dekat (300 meter) 😀 Sementara, jika kalian ingin pulang menaiki ropeway, harus mendaki Nyotaisan (berjarak 600 meter) karena ropeway-nya turun dari sana, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya.

300 meter itu kalau jalan kaki sepertinya ringan, ternyata kalau hiking, capek dan ngos-ngosan juga >_< Ditambah lagi jalan mendakinya tidak mudah, beberapa tempat penuh dengan batu-batu berserakan. Jadi inget film 5 cm 😀 Saking lambatnya kami berdua jalan, pendakian ini memakan waktu 20 menit.

Jalan mendaki yang penuh batu terjal

Jalan mendaki yang penuh batu terjal

Begitu sampai puncak, kami langsung disambut pemandangan indah kota Tsukuba.

Sampaaiii

Sampaaiii…

Agak berkabut

Agak berkabut

Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kami pun turun ke dekat stasiun cable car, solat, dan langsung turun dengan cable car ke stasiun awal.

Setelah ini, kami pun memutuskan berjalan-jalan ke 梅まつり (Ume Matsuri). Ini merupakan taman yang penuh ditumbuhi dengan bunga ume atau plum. Dari gerbang oren tadi, jalan terus turun saja mengikuti petunjuk bertulisan梅まつりtadi sekitar 5 menit.

Begitu sampai, ada the plum gratis. Rasanya aneh, asin, seperti sup 😛 Saya dan Dea sih kurang suka, akhirnya saya buang tehnya >_<

Foto bubuk teh sebelum diberi air

Foto bubuk teh sebelum diberi air

Kami pun mengambil foto-foto sejenak.

White Plum

White Plum

Magenta Plum

Magenta Plum

Pink Plum

Pink Plum

Sekitar pukul 16.30 kami memutuskan sudah saatnya pulang, karena 2 bis terakir adalah jam 16.40 dan 17.10. Berbeda dengan saat pergi tadi yang bus stopnya ada 3, di jalur pulang, ada bus stop tambahan tepat di seberang pintu keluar Ume Matsuri. Jadi kami tidak perlu naik ke atas lagi. Perjalanan pulang ini sangat melelahkan karena kami tidak dapat tempat duduk dan bis sangat penuh penumpang >_<

Alhamdulillah lalu lintas di perjalanan pulang lancar dan kami pun kembali ke Tsukuba cukup cepat. Ga nyangka, di kota yang isinya sekolahan dan tempat riset seperti ini, ada juga tempat wisata yang lumayan bisa sedikit melepas penat dari aktivitas sehari-hari 🙂

Allah ta’ala berfirman dalam surat al-ghasiyah:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (17). Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19). Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21).
*****

NB: Sekedar informasi tambahan, waktu-waktu terbaik untuk mengunjungi Tsukuba san adalah saat Spring karena bunga-bunga tumbuh mekar, dan saat Autumn karena pemandangan daun berwarna kuning, merah, dan coklatnya sangat indah.