Category Archives: Wisdom

Day 11: What If…

Standard

Udah hari ke-11, saya makin bingung harus mengawali setiap postingan dengan kalimat apa 😀 Tapi alhamdulillah, nggak nyangka, ternyata saya masih semangat menulis hingga hari ke-11 ini 🙂 yay!

Tema hari ini adalah, “sesuatu yang kita selalu merasa “kalau aja…”” Hmm..sejujurnya, banyaakkk banget yg saya kepikiran “kalau aja” ini >< Duh, emang ya manusia, selalu aja ga puas sama apa yg dimiliki, selalu aja rumput tetangga kelihatan lebih hijau 😦 Saya sadar sih kita seharusnya nggak boleh seperti ini. Rasulullah sendiri melarang umatnya untuk berandai-andai bukan?

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Jadi selama ini sih, meskipun ada selentingan perasaan ”kalau aja” di hati saya, saya selalu berusaha menyingkirkannya. Karena saya juga merasa, kita sebagai manusia tidak pernah tahu yg mana yg terbaik untuk kita. Segala yg terjadi di hidup kita, sudah pasti atas takdir Allah semata.

Jadiiii…supaya postingan ini nggak tersia-sia, saya mau ngebalik deh konotasi “kalau aja”-nya 😀 Bukan “kalau aja saya begini”, tapi “kalau aja saya nggak begini”, kayaknya akan lebih menimbulkan semangat positif ya 🙂 Mudah-mudahan… 🙂

Yang pertama, kalau aja saya nggak sekolah SMA di MAN Insan Cendekia Serpong (IC), kayaknya saya nggak akan tahu gimana saya bisa mewujudkan impian saya buat melihat salju, karena kalau saya nggak sekolah di IC, saya mungkin ga akan tahu informasi beasiswa sekolah di luar negeri.

Yang kedua, kalau aja saya nggak kuliah di ITB, saya mungkin juga ga akan bisa bener-bener sampai ke Jepang, karena dengan saya berkuliah di ITB, saya jd bisa les bahasa Jepang di BLCI yg notabenenya deket kampus, jadi ketemu sama temen-temen yg juga tertarik buat ke Jepang, jd punya pengalaman nge-guide mahasiswa Jepang, dan lain sebagainya. Dan kalau saya nggak kuliah di ITB, saya juga ga akan ketemu sama suami saya ><

Yang ketiga, kalau aja saya nggak ke Jepang, saya mungkin ga akan pernah nyadar bahwa bumi Allah itu luaass banget >< Saya mungkin ga akan ketemu temen-temen luar biasa yg banyak menginspirasi. Saya mungkin nggak akan ketemu temen-temen Monbusho yg foreigner, yg walaupun bukan Muslim tapi sangat sangat menghormati keterbatasan saya sebagai seorang Muslim :’) Wah, kalau saya disuruh ngelist hal-hal yg saya syukuri dengan rejeki Allah mencicipi Jepang kemarin, kayaknya akan butuh postingan tersendiri :’)

Untuk saat ini, saya mau mensyukuri dulu kembalinya saya ke Indonesia. Walaupun culture shock (sebagian besar temen saya yg kembali dari Jepang ke Indonesia rata-rata merasakan yg sama 😛 ), tapi di mana pun sama-sama di bumi Allah kan? Yang penting, apa pun aktivitas kita, dapat memberikan keberkahan bagi diri sendiri maupun sekitar. Lagipula, walaupun Indonesia ini semrawut, kalau dibandingkan dengan negara konflik, masih jauh lebih mending kan? Kita masih bisa tidur tanpa ketakutan akan melihat matahari lagi nggak besok 😥

Baiklaahh..demikian kontemplasi hari ini. Sampai ketemu di postingan hari berikutnya :’)

Day 10: Something for Which I Feel Strongly

Standard

Halo, semua!

Kembali lagi dengan Nadine di sini. Alhamdulillah, sudah sepertiga jalan melalui tantangan ini ^_^ Tema hari ini adalah (kalau diterjemahin kira-kira) “sesuatu yang kita yakini” atau bisa juga “sesuatu yang kita pegang teguh” kali yah.

Untuk saya, hmm, saya adalah orang yang selalu berpegang pada impian dalam melalui hari-hari saya #eeaa. Sebagai contoh, dulu saya mimpi pengen liat salju gara-gara baca buku cerita anak-anak yg ngegambarin salju dan juga nonton film natal anak-anak yg selalu aja settingnya lagi winter bersalju. Selama belasan tahun ada satu perkataan yang selalu saya ingat dan membuat saya bersemangat dalam menggapai mimpi saya itu,

“Bermimpilah setinggi langit, karena jika kamu terjatuh, kamu masih akan berada di antara bintang-bintang”

Perkataan ini jika dimaknai secara harfiah artinya walaupun kita terjatuh, kita masih akan melihat sesuatu yg indah yaitu bintang-bintang. Dan jika dimaknai secara implisit, jika punya impian, sekalian yg tinggi aja, karena walaupun impian yg tinggi itu tidak terkabul, kita masih akan memperoleh hal lain yg juga tidak kalah indahnya.

Oleh sebab itu, saya pegang terus impian sederhana masa kecil saya itu. Nggak tau caranya, pokoknya suatu saat saya harus bisa melihat salju dengan mata kepala saya sendiri.

Long story short, mulai dari SMA, saya semakin melihat peluang ke luar negeri bukan hal yg  mustahil. Oya, sekadar gambaran saja, saya berasal dari keluarga menengah, jadi jalan-jalan keluar negeri (bahkan “cuma” ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia) bukan tujuan utama liburan kami. Apalagi ke negara yg bisa lihat salju. Selain itu, jaman saya remaja dulu, traveling keluar negeri belum banyak pilihan murahnya seperti sekarang. Nah sejak SMA, saya jadi semakin diperkenalkan akan adanya beasiswa studi keluar negeri. Perlahan-lahan saya semakin melihat bahwa impian saya bisa jadi kenyataan.

Alhamdulillah, setelah berbagai perjuangan meraih beasiswa saya lalui, ternyata ke Jepang melalui beasiswa MEXT/ Monbusho lah rejeki saya. Tentu saja rejeki ini tak lepas dari takdir Allah, namun mungkin jika dulu saya nggak pernah bermimpi bisa melihat salju, saya nggak akan kepikiran untuk keluar negeri sama sekali.

Karena itu, untuk adik-adik di luar sana yg kebetulan sampai di artikel ini, bermimpilah setinggi-tingginya, lalu kerahkan usaha maksimalmu untuk meraih mimpi itu. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha 🙂

ski

I miss skiing so badly 😥

Day 9: Some Words of Wisdom that Speak to Me

Standard

Tema hari ini adalah “kata-kata bijak yg mengena di hati”. Jujur saja, saya termasuk orang yang sering berpegang ke kata-kata penyemangat kalau lagi galau. Dengan baca-baca kata-kata penyemangat itu lagi, saya jadi lebih bisa kuat dalam mengarungi hidup ini #eeaa

Salah satu kata bijak yg selalu saya ingat adalah sebuah hadits berikut ini:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Hadits tersebut bener-bener menunjukkan bahwa kita sebagai orang mukmin sungguh sangat beruntung. Tidak ada perkara yg buruk yg terjadi dalam hidup kita. Yang ada hanyalah bagaimana kita menyikapinya. Kalau saja kita selalu ingat ini dalam setiap episode kehidupan yg kita lalui, niscaya kita akan selalu bersyukur kepada-Nya.

Setiap Orang Punya ‘Waktu’nya Masing-masing

Standard

Beberapa waktu yang lalu, Kak Maisya membuat tulisan yang rupanya Alhamdulillah goes viral tentang pertanyaan yang lebih susah dijawab daripada soal ujian masuk ITB, “Udah ‘isi’?”. Buat yang belum baca, ini linknya https://maisyafarhati.wordpress.com/2015/09/19/udah-isi/. Ternyata banyak yang merasa sehati dengan tulisan Kak Maisya tersebut (termasuk saya). Tadinya saya mau menanggapi dengan membuat postingan status di fb sekaligus ngeshare link-nya Kak Maisya. Tapi sepertinya sayang kalau curhatan saya ini nantinya akan susah saya cari di kemudian hari, jadi saya memutuskan menuliskannya di blog saya saja.

Pengalaman Saya

Alhamdulillah Allah pun memberi saya pengalaman sering pernah ditanya pertanyaan serupa. Di antara peristiwa-peristiwa yang pernah saya alami, sejujurnya ada beberapa peristiwa yang cukup lucu dan membuat saya jadi senyum-senyum sendiri kalau ingat, namun juga memberi saya pelajaran agar saya tidak menanyakan atau mengeluarkan kalimat serupa kepada siapa pun suatu saat nanti.

Suatu ketika, saya dan suami tengah menghadiri pernikahan seorang kawan. Di antara yang hadir tentu banyak teman-teman kami. Saya pun saat itu kumpul dengan temen-temen wanita, dan suami kumpul dengan temen-temen prianya.

Di antara temen yang saat itu sedang kumpul dan ngobrol-ngobrol, salah satu temen kami ada yang datang membawa baby-nya. Kami pun asik mengerubungi si baby yg lagi lucu-lucunya dan ngobrol dengan sang bunda tentang kelucuan-kelucuan si baby. Ujug-ujug, salah satu temen saya yang lagi ngumpul itu ada yg nyeletuk,

“Nadine pasti udah pengen banget ya (punya anak-red)?” dengan wajah mengasihani saya, di depan banyak temen-temen yang lain itu yang lagi ngerubungin si baby.

Saya saat itu langsung melongo karena bingung mau jawab apa. Dalam sepersekian detik otak saya mencoba memproses, kenapa dia harus bertanya dengan wajah seperti itu ya? Apa mungkin dia berekspresi seperti itu untuk menunjukkan empati karena saya belum punya anak? Tapi bukankah itu adalah empati yang tidak semestinya diungkapkan (terutama di depan banyak orang)? Kalau saya boleh kasih contoh yang serupa, misal Anda adalah seseorang yang belum menikah. Saat itu Anda datang ke pernikahan teman Anda, dan Anda sedang berkumpul dengan teman-teman lainnya. Lalu salah seorang teman Anda nyeletuk, “Kamu pasti udah pengen banget nikah ya?” dengan wajah mengasihani Anda. Bingung ga sih harus jawab apa atau bereaksi seperti apa? Begitulah perasaan saya saat itu. Ya saya pengen punya anak, ga perlu ada embel-embel ‘banget’, ya cuma pengen, titik. Dan bukankah saya juga tidak dapat melawan takdir Allah seberapa pun kepengennya saya?

Manusia semakin dewasa semakin menyembunyikan perasaannya. Tidak seperti bayi yang dengan mudah mengungkapkan keinginannya, manusia dewasa cenderung memilih kepada siapa ia akan berbagi. Apalagi jika meminjam istilah Kak Maisya tentang “lingkaran pertemanan”, ketika kita sedang berada di kerumunan temen-temen yang sebetulnya hanya teman biasa, tentu kita tidak merasa perlu curhat apa yang kita rasakan kepada mereka. Saat itu, tidak mungkin kan saya jawab, “Ya pengen sih, tapi ga pake banget juga, biasa aja,” di depan semua temen tersebut. Atau ga mungkin juga saya jawab, “Nggak pengen-pengen banget, biasa aja,” karena jawaban-jawaban tersebut mungkin dapat terlihat kurang ramah atau arogan. Akhirnya saya cuma bisa jawab dengan jawaban default, “Doakan saja,” sambil tersenyum canggung.

Pertanyaan Selanjutnya

Peristiwa lainnya, saat itu saya dan seorang teman yang sedang mengandung bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Melihat teman saya yang sedang mengandung, tentu saja teman lama tersebut bertanya-tanya kabar kandungan teman ini. Di tengah-tengah asik ngobrol, tiba-tiba sang teman lama bertanya ke saya,

“Kalau Nadine sudah ‘isi’ belum?”

Sebenarnya wajar saja kok teman lama menanyakan kabar kita yang sudah lama tidak bertemu. Saya pun juga tidak serta-merta sensi begitu ditanya pertanyaan demikian, maka langsung saja saya jawab dengan santai, “Belum, hehe.”

Kemudian sang teman lama melanjutkan, “Padahal duluan Nadine kan ya yang nikah?”

Kembali lagi otak saya bingung memproses kalimat teman lama saya ini harus saya beri reaksi apa >_< Oke, mari kita berpikir positif dahulu. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu, beliau memang lupa siapa yang duluan nikah, dan pertanyaan tersebut murni hanya untuk konfirmasi saja. Tapi..tapi..memangnya kenapa masalah siapa yang duluan nikah berhubungan dengan sudah “isi” atau belum? >_<

Kalau saya boleh kasih contoh lain yang serupa lagi, apakah orang yang terlahir duluan pasti juga akan “berpulang” duluan? Siapa yang menikah duluan dan siapa yang punya anak duluan itu tidak ada hubungan kronologisnya, sama seperti lahir dan wafatnya manusia di bumi ini. Semuanya sudah tertulis bahkan sebelum tiap individu dari kita ditiupkan ruhnya ke rahim ibu kita. Kita hanya manusia yang begitu lemah, yang tidak sanggup mempercepat atau memperlambat datangnya takdir kita.

Terkadang, bisa dibilang sebenarnya bagian yang paling horor sulit itu adalah pertanyaan selanjutnya dari pertanyaan “Udah isi?” tadi. Terkadang ada yang melanjutkan dengan, “Kenapa kok belum isi juga?” atau “Kapan dong mau mulai?”

Pertanyaan yang Tidak Dapat Dijawab

Terkait dengan “pertanyaan selanjutnya” di atas, ketika seseorang dihadapkan dengan kalimat “Kenapa kok belum isi juga?”, “Kapan hamil?”, atau “Kapan nyusul si fulanah?” misalnya, most likely orang tersebut juga tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Orang tersebut juga sama tidak tahunya dengan penanya, kapan takdir Allah untuk menitipkan rejeki berupa keturunan akan datang kepada dia. Walaupun sebagai penanya mungkin merasa tidak ada yang serius dari pertayaan itu, atau hanya basa-basi semata, belum tentu yang ditanya juga merasa santai. Apalagi mengingat yang bertanya tak hanya satu dua orang, mungkin dia tiap minggu ditanya pertanyaan serupa oleh orang yang berbeda. Apakah kita tega membuat saudara kita sendiri gundah gulana hatinya karena satu kalimat “ringan” dari kita?

Pertanyaan yang Tidak Ingin Dijawab

Contoh kalimat lainnya yang biasanya sepaket sama kalimat “Udah isi?” tadi misalnya “Kapan mau mulai?” atau “Kapan mulai memprogramnya?” Tentu saja ini pertanyaan yang tak semua orang ingin menjawabnya. Tak semua orang merasa perlu menceritakan rencana-rencananya kepada siapa pun. Banyak sekali orang yang lebih suka berecana dalam diam, yang lebih suka tidak menggembar-gemborkan harapannya. Karena toh seberapa pun kita berusaha, pada akhirnya takdir Allah-lah yang akan berlaku kan?

Masalah kapan mulai pemrograman, saya rasa setiap orang tidak perlu melakukan progress report tentang ‘program’ yang satu ini. Kecuali saya, terpaksa saya progress report rutin ke Sensei tentang program yang saya buat (saya mahasiswa jurusan computer science-red) *abaikan* 😀

Bentuk Perhatian dan Doa

Ah, mungkin saya saja yang baper dengan kalimat-kalimat tersebut. Sebenarnya kawan-kawan tersebut hanya care saja dengan kita dan ingin mengetahui kabar kita. Masalah bagaimana kepedulian mereka terwujud dalam bentuk kalimat sebenarnya tidak perlu terlalu diambil hati.

Namun, apakah kita lupa bahwa jika kita benar-benar peduli, tidak mungkin kita bertanya-tanya hal pribadi di depan orang banyak. Jika kita benar-benar ingin tahu kabar teman lama kita, tanyakanlah hanya kepada dia saat tak ada orang lain. Jika kita benar-benar berharap yang terbaik bagi teman kita, doakanlah ia dalam diam. Bukankah doa yang terkabul itu adalah ketika kita mendoakan saudara kita sedangkan mereka tidak mengetahuinya?

Alhamdulillah, Allah benar-benar mengaruniai saya dengan teman-teman yang baik. Seorang senior yang sudah lama tidak saling berkabar pernah menjapri saya via Line, menanyakan kabar apakah saya sudah hamil atau belum. Saat saya jawab belum, beliau mendoakan dengan berkata, “Semoga Nadine hamil di saat yang tepat ya.” Masya Allah, rasanya adem sekali didoakan seperti itu. Karena kita tidak pernah tahu kan saat yang tepat buat kita itu kapan, sedangkan Allah tidak pernah salah menentukan takdirnya.

Di kesempatan lain, seorang sahabat juga pernah mendoakan, “Semoga Nadine bisa menjadi madrasah terbaik buat anak-anaknya kelak, ya.” Masya Allah, tidak ada yang lebih saya inginkan selain mengamini doa ini. Tidak penting sekarang atau nanti, yang terpenting saat kita dititipkan rejeki berupa keturunan, kita dapat mendidik dan memberikan yang terbaik buat anak-anak kita, ya kan?

*****

Alhamdulillah, selama dua tahun pernikahan ini, Allah memberi saya berbagai macam pengalaman yang tak semua orang mungkin pernah mengalaminya. Mengingat masa-masa LDR membuat saya bersyukur hanya dengan keberadaan suami saya dalam jarak pandang saya, membuat saya lebih mudah bersyukur asalkan bisa bertemu suami saya. Kemudian setelah lima bulan akhirnya bisa bersama, Allah masih memberi kami rejeki berupa waktu untuk mengenal lebih dekat satu sama lain tanpa adanya pihak ketiga (anak-red). Ternyata banyak sekali yang belum saya ketahui tentang suami saya padahal sudah dua tahun menikah 🙂 Dan dengan ini pula, ketika tiba saatnya nanti si dia hadir di antara kami, insya Allah kami tidak akan take his/ her presence for granted 🙂

Setiap orang punya ‘waktu’nya masing-masing, yang berbeda-beda satu sama lain. Dan ‘waktu’ ini terkait sangat erat dengan urusan takdir-Nya. Jika guratan takdir kita layaknya sebuah buku, tidakkah lebih indah jika kita nikmati halaman per halaman kisah yang tertulis di dalamnya dengan penuh syukur, seakan kita tak ingin sebuah novel yang teramat seru berakhir? 

 

Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 2)

Standard

Melanjutkan postingan sebelumnya

Belum begitu lama setelah “tamparan” itu berlalu dan masih membekas di benak saya, suatu ketika saya sedang mengobrol santai dengan sahabat seiya-sekata saya di sini, Kak Riska 😉 Ketika itu yang kami bicarakan adalah tentang fashion 😀 Kak Riska ini sama seperti saya, seorang jilbaber juga, yang juga punya prinsip sama dengan saya untuk selalu mengenakan jilbab panjang menutup dada dan tidak transparan. Bedanya dengan saya, pakaian Kak Riska selalu warna-warni. Maklumlah, beliau berasal dari universitas dan jurusan yang mayoritas mahasiswanya adalah wanita. Sedangkan saya, jurusan Teknik Elektro yang wanitanya hanya sekian belas dari jumlah keseluruhan mahasiswa 100-an lebih, ditambah beban kuliah, praktikum, dan tugas-tugas yang menyita pikiran, tidak pernah membuat saya merasa punya waktu lebih untuk tampil stylish. Hehe..

Bukan berarti saya tidak feminin dan tidak bisa mix-and-match baju. Saya juga suka pakai rok, tapi baru saya sadari, rok yang saya miliki dominan berbahan jeans dan berwarna navy, hitam, atau abu-abu, alias warna-warna yang bisa dipakai dengan baju apa saja. Jadi biasanya saya hanya mix-and-match atasan dan jilbabnya. Jika saya pakai baju warna pink, jilbabnya juga pink. Hanya begitu saja.

Memang dalam Islam kita tidak diwajibkan memakai pakaian matching from head to toe. Di mata Allah yang penting menutup aurat dengan sempurna. Tapi ternyata, memakai pakaian yang lebih cerah berpengaruh ke mood juga ya. Entah kenapa lebih ada perasaan terbawa optimis dan ceria jika melihat orang yang berpakaian menarik. Semua ini baru saya sadari setelah saya mengenal Kak Riska, yang bajunya macem-macem namun tetap dalam “koridor” 😀

Pembicaraan pun berlanjut ke perkembangan  fashion hijab di Indonesia yang semakin variatif dengan makin banyaknya desainer yang masing-masing punya karakter sendiri. Jadi kita tinggal pilih yang sesuai dengan selera kita. Hingga tiba-tiba Kak Riska menyebutkan suatu brand baju muslimah yang punya tagline “Syar’i dan Stylish”. Herannya, saya kok belum pernah denger sebelumnya >_< Kak Riska pun menunjukkan akun instagram brand tersebut, dan sampailah saya pada instagram dan blog founder sekaligus desainernya, Kak Fitri Aulia.

Pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta. Hehe.. Karena benar seperti tagline-nya, Kak Fitri sendiri selalu pakai baju yang stylish namun tetap syar’i. Beliau selalu memakai pakaian longgar dengan jilbab panjang yang tidak transparan dan menutup dada serta punggung.

Karena ketertarikan saya yang begitu besar pada brand ini, saya pun mulai membaca setiap postingan di blog Kak Fitri hingga awal mula blog tersebut dibuat. Bahkan saya jadi menonton semua video youtube yang ada Kak Fitrinya >_<

Saya jadi tahu bahwa beliau memiliki mimpi untuk berkarya di bidang yang ia minati yaitu fashion, dengan tetap mengedepankan syariat Islam. Dan saya kagum dengan konsistensi Kak Fitri dalam mengembangkan bisnis ini bersama suaminya. Dari blog beliau saya jadi mengikuti brand-nya yang sejak awal berdiri hanya berupa online shop hingga sekarang sudah punya toko sendiri, dari yang pegawainya masih sedikit hingga sekarang sudah banyak. Saya jadi tahu kalau tim Kak Fitri punya kegiatan pengajian mingguan (bener ga, Kak?). Saya sangat terinspirasi akan kegiatan positif yang beliau terapkan pada pegawai yang tidak melulu soal bisnis, namun juga sesekali mengadakan tadabbur alam. Dan yang lebih mengena lagi, Kak Fitri ternyata baru mengenakan jilbab pada tahun 2008, namun sekarang sudah dapat memberikan manfaat bagi pengguna jilbab lainnya. Sementara saya yang sudah berjilbab dari SMP ini tidak pernah terpikir melakukan yang sama T_T

Ada satu kesamaan saya dan beliau. Beliau dan suaminya menikah di umur yang sama dengan saya dan suami saya menikah. Saya 22 tahun dan suami saya 24 tahun. “Hanya” dalam kurun waktu 3 tahun dari pernikahan mereka, dengan ikhtiar bersama, mereka dapat membangun sebuah brand yang kini mulai dikenal masyarakat. Hal ini membuat saya jadi mewek kangen suami di tanah air ingin membangun sesuatu yang bermanfaat bersama suami saya juga kelak. Terbayang betapa menyenangkannya merajut mimpi bersama dan berikhtiar bersama mewujudkannya 🙂

Setelah “tamparan” beberapa waktu lalu, ditambah dengan inspirasi yang saya dapat dari membaca blog Kak Fitri, saya semakin menyadari bahwa tiap orang dapat bermanfaat dengan cara dan kekuatannya sendiri. Dan ketika kita sudah menetapkan jalan dalam meraih mimpi yang kita cita-citakan, konsistenlah dalam melaksanakannya.

Saya jadi teringat kembali niat saya membuat blog ini hampir 2 tahun yang lalu.

Saya sangat hobi traveling. Hal yang lebih menyenangkan dari traveling adalah merencanakan traveling itu sendiri. Awal-awal saya menulis di blog ini saya begitu rajin menuliskan tips-tips jalan-jalan dan juga report dari jalan-jalan yang pernah saya lakukan. Alhamdulillah, jika melihat “Top Post dan Pages” dari blog saya, sebagian besar orang-orang membaca postingan saya tentang trip yang pernah saya lakukan. Dan jika melihat “Search Engine Terms”, kebanyakan orang menemukan blog saya karena kata kunci beberapa tempat yang pernah saya kunjungi. Namun, seiring dengan pindahnya saya ke Jepang, meskipun saya melakukan trip minimal 1 bulan sekali, saya jarang sekali menuliskannya karena kesibukan studi saya di sini >_<

Sekarang saya jadi bersemangat kembali untuk terus update cerita jalan-jalan saya, dan juga menuliskan perjalanan terdahulu yang belum sempat saya tulis, insya Allah. Seperti yang saya lihat di salah satu video wawancara Kak Fitri ketika ditanya tips sukses menjadi blogger, yaitu dengan konsisten untuk terus meng-update blog kita itu sendiri 🙂

Bismillah, insya Allah tidak ada yang terlambat dalam memulai sesuatu yang baik! ^_^

Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 1)

Standard

Beberapa minggu lalu, seperti biasa saya mengikuti pengajian pekanan muslimah yg pesertanya adalah mbak-mbak dan ibu-ibu yang tinggal di sini. Pengajian ini selalu diadakan setiap hari jumat malam mulai pukul 19.00 waktu Jepang. Setelah makan malam, acara dilajutkan dengan peserta masing-masing tilawah setengah halaman, kemudian masuk ke acara utama yaitu materi atau kultum yg diberikan bergantian oleh semua peserta tiap minggunya. Kali itu materinya adalah tentang “Merancang Mimpi”.

Mungkin sebenarnya terdengar klise dan kita pun sudah sering mendapatkan materi ini di pengajian atau acara motivasi lainnya. Apalagi di masa-masa setelah lulus kuliah, pasti banyak di antara kita yang sudah mulai merancang masa depan kita, dan mungkin banyak juga yang sudah rutin menuliskan goal-goal per-tahunnya setiap tahun baru. Namun Alhamdulillah ada hal baru yang saya dapat dari materi ini.

Jadi lebih tepatnya, judul dari materi ini adalah “Writing SMART Goals”. SMART sendiri merupakan singkatan dari

Specific : Tujuan harus dengan jelas mendefinisikan apa yang akan kita lakukan. Apa mimpi atau rencana kita, mengapa, dan bagaimana kita mencapainya.

Measurable : Tujuan harus terukur jadi kita dapat melihat ketercapaiannya. Misal, pada 30 April 2014 saya sudah menambah hafalan Al Qur’an sebanyak 1 juz. Sehingga kita bisa melihat pada tanggal yang kita tentukan tadi apakah hafalan 1 juz tercapai? Atau seberapa banyak hafalan yang bertambah hingga tanggal tersebut? Dari sini kita dapat mengevaluasi diri kita sendiri.

Achievable : Tujuan harus sesuatu yang sesuai kemampuan kita, namun ia juga harus cukup menantang sehingga ada usaha lebih yang kita lakukan untuk dapat mencapainya. Jadi jangan juga menetapkan tujuan yang terlalu mudah.

Results-focused : Tujuan harus berfokus pada hasil, bukan aktivitas untuk mencapai hasil tersebut. Nah ini yang agak berbeda dari yang selama ini kita (atau saya) tahu. Biasanya untuk menghibur diri, kita sering sekali bilang, “yah walaupun belum bisa mencapai ini, Alhamdulillah yang penting saya sudah berusaha melakukan ini dan ini”. Nah ini sebenarnya kurang tepat. Bersyukur akan adanya sesuatu yang dapat dilakukan itu benar, namun ketidakmampuan kita mencapai tujuan kita sebenarnya menunjukkan kita kurang disiplin dalam usaha mencapainya.

Time-bound : Tujuan harus terikat oleh waktu agar kita benar-benar merasakan adanya urgensi untuk mencapainya seiring dengan berjalannya waktu mendekati deadline yang sudah kita tetapkan di awal.

Kira-kira ini sebagian dari isi utama materi kultum pengajiannya. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca postingan ini  dan membantu bagi yang baru akan merancang mimpi masa depannya 🙂 Namun inti yang ingin saya bagikan di postingan kali ini sebenarnya belum saya sampaikan 😀

Di akhir kultum, seperti biasa dibuka sesi diskusi. Setelah berdiskusi dalam beberapa tanya-jawab, tidak disangka –sangka pemateri kultum merequest sesuatu, “Coba dong yuk kita semua bergiliran ceritain apa sih mimpi jangka panjang yang ingin kita capai di masa depan. Bukan untuk pamer atau gimana, tapi supaya kita juga bisa saling mengingatkan, menyemangati, dan mendoakan.”

Wah jujur saya kaget ditembak pertanyaan seperti itu. Karena kebetulan saya duduk berdekatan dengan pemateri, setelah pemateri menceritakan mimpi beliau, tibalah giliran saya. Dan ketika itu saya tidak punya jawaban, jadi saya minta di-skip dulu, biar yang lain duluan yang cerita.

Akhirnya saya pun mendengarkan peserta pengajian satu persatu menceritakan mimpinya. Ada yang mau buka usaha kuliner, ada yang mau jadi direktur di organisasi X, ada yang mau buka pesantren, ada yang mau buka bisnis les, ada yang mau membangun desa dengan penelitian yang sedang dilakukannya, dll. Wah semuanya masya Allah sekali mimpinya. Dan yang lebih penting lagi, semuanya adalah mimpi yang berorientasi pada kebermanfaatan bagi orang lain. Seiring saya mendengarkan mereka satu per satu menceritakan mimpi mereka, saya makin menyadari saya tidak punya mimpi seperti itu T_T

Memang saya punya plan dalam beberapa tahun ke depan, sebagai contoh saya sudah punya target kapan naik haji bersama suami saya. Karena itu mulai sekarang saya sudah menabung untuk itu, baca-baca bekal ilmu dan amalan berkaitan haji sendiri, dan tentu saja senantiasa berdoa agar Allah benar-benar memanggil saya ke tanah sucinya. Karena biar bagaimana pun, hanya Allah yang dapat memanggil hamba-Nya untuk dapat melaksanakan ibadah yang satu ini. Namun saya benar-benar tersadar, saya belum punya mimpi atau rencana yang dapat bermanfaat bagi banyak orang maupun agama T_T Kebanyakan rencana-rencana yang sudah saya tuliskan itu hanya bermanfaat bagi diri saya sendiri atau minimal keluarga saya.

Hingga semua orang sudah menceritakan mimpinya, saya akhirnya menyerah dan tidak menceritakan apa-apa. Materi hari ini benar-benar menjadi sebuah tamparan keras  yang menyadarkan saya bahwa hidup ini singkat dan terlalu singkat untuk dihabiskan bagi diri sendiri. Saya HARUS melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Tangan di atas akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah

karena tangan di atas akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah

…bersambung…

Hikmah Sepotong Tangan

Standard

Kemarin tiba-tiba saya merasa bahu kiri saya agak sakit setiap saya menggerakkan tangan. Seperti terkilir. Kayaknya ada engsel yang tergeser, mungkin waktu tidur sempat tertindih oleh badan saya. Tapi sampai siang sakitnya tidak seberapa.

Sore pukul setengah 5 saya punya jadwal aerobik. Ya sudah, saya pikir mungkin jika digerak-gerakkan sedikit, engselnya bisa kembali ke tempat semula. Saya pun aerobik dengan bersemangat seperti biasa.

Tapi ternyata setelah aerobik, sakitnya malah semakin parah. Saat mengangkat tangan dan mengangkat barang rasanya sakit sekali. Akhirnya ibu saya pun memanggil tukang pijat yang tinggal tak jauh dari rumah. Namanya Bu Maya. Saat dipijat oleh Bu Maya rasanya benar-benar sakit. Ini pertama kalinya saya pijat karena terkilir dan rasanya benar-benar sakit tak tertahankan, terutama saat menyentuh pusat rasa sakit yang di bahu kiri tersebut.

Setelah dipijat, saya sudah dapat menggerakkan tangan dengan normal lagi tanpa merasa sakit. Tapi malamnya, tiba-tiba tangan saya bengkak dan timbul banyak lebam-lebam bekas pijatan Bu Maya. Kata ibu saya itu namanya njarem kalau bahasa jawa, atau singkal kalau bahasa banjar. Ternyata kata bibi yang kerja di rumah yang sudah pernah dipijat Bu Maya, memang seperti itu kalau habis dipijat. Tapi nanti rasanya enak kalau sudah sembuh. Katanya rasa sakitnya bisa bertahan sampai seminggu 😦

Sekarang tangan saya masih sakit, tapi bukan sakit seperti terkilir, tapi sakit karena bengkak dan bekas dipijat. Saya jadi susah mengenakan pakaian, tapi Alhamdulillah masih bisa memakai sendiri tanpa bantuan orang, namun butuh waktu sangat lama saat mandi dan berganti baju. Semua hal yang tadinya bisa saya lakukan dengan sekejap, sekarang harus saya lakukan pelan-pelan karena rasanya sakit sekali. Tapi sekali lagi, masih alhamdulillah yang sakit tangan kiri, bukan tangan kanan.

Saat saya mengetik postingan ini, tangan kanan saya harus mengangkat tangan kiri saya agar letaknya sejajar dengan keyboard, karena susah sekali menggerakkan tangan kiri secara otomatis. Tapi sekali lagi saya bersyukur, saya sakit ini saat masih di Indonesia. Gimana coba kalo saya sakit waktu di Jepang. Mana ada tukang urut? Mana ada orang tua yang memberikan perhatian? 😦

Gara-gara sakit ini, saya jadi benar-benar menyadari bahwa saya membutuhkan dua tangan ini dengan normal. Saya jadi menyadari bahwa selama ini kurang bersyukur sama pemberian Allah yang luar biasa ini. Bahkan saya tidak menyadari bahwa kesehatan ini begitu berharga. Sehari yg lalu saya sehat wal ‘afiat, tiba-tiba sekarang ‘hanya’ gara-gara satu tangan tidak berfungsi normal, semua kegiatan saya langsung terhambat. Saya baru sadar kalau saya kurang bersyukur akhir-akhir ini dan lebih banyak mengeluh akan hal-hal sepele.

Terkadang Ia menguji kita dengan kesakitan, supaya kita menyadari, ada begitu banyak yang sudah Ia berikan kepada kita yang patut kita syukuri.

Hanya berharap semoga sakit ini dapat menjadi penggugur dosa yang telah lalu.. Astaghfirullah…

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QS. Al-Baqaroh : 155-157).