Category Archives: Traveling

Siapa yang Tidak Ingin Traveling Gratis?

Standard

Seharusnya postingan kali ini adalah melanjutkan cerita saya tentang stereotip di Jepang. Namun, saya ingin berbagi sedikit kesan saya setelah membaca sebuah buku karya penulis favorit saya, sekaligus salah seorang inspirasi yang bisa dibilang membentuk pribadi saya hingga seperti sekarang ini. Beliau adalah Kak Trinity.

Saya yakin pasti teman-teman pun sudah tahu siapa sosok Kak Trinity ini. Beliau adalah seorang travel blogger. Namun uniknya dari Kak Trinity adalah, di saat para travel blogger kebanyakan membahas dengan detail bagaimana ‘cara’ jalan-jalan di suatu tempat, Kak Trinity lebih sering membahas hal-hal lucu dan unik dari perjalanan yang pernah ia alami. Sebagai pembaca bukunya, kita serasa ikut mengalami hal-hal tersebut dan jadi ingin juga pergi ke tempat-tempat yang pernah beliau datangi.

Saya ingat pertama kali saya membaca “The Naked Traveler” (buku seri cerita perjalanan Kak Trinity) adalah pada saat saya kuliah. Saat itu saya menjadi benar-benar terinspirasi untuk bisa banyak jalan-jalan dan menuliskan perjalanan saya. Dan karena itulah blog ini lahir :’) Bisa dibilang, Kak Trinity dan karyanya memiliki kedekatan emosional dengan saya dan blog ini (ih ngaku-ngaku 😛 ).

Berkat Kak Trinity dan cerita-ceritanya, saat (kuliah) itu saya makin yakin bahwa saya harus melihat bumi Allah yang begitu luas ini lebih banyak lagi. Singkat cerita, saya yang memang bercita-cita ingin sekali melihat negara Jepang sejak kecil, jadi semakin mantap mengikuti seleksi beasiswa Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang, karena saya sadar saya tidak berasal dari keluarga berlebih, maka saya harus mencari cara agar bisa ke Jepang gratis tanpa memberatkan orang tua.

Baru-baru ini, Kak Trinity merilis sebuah buku terbaru berjudul “69 Cara Traveling Gratis”. Sebagai emak-emak yang sudah punya anak dan jadi lebih sering di rumah, sebenarnya hobi jalan-jalan saya tidak pernah padam ataupun menurun dibandingkan dengan saat masih single dulu. Saya tahu saya harus baca buku ini. Saya harus bisa jalan-jalan (gratis) lagi!

Buku kali ini agak berbeda style-nya dengan buku-buku Kak Trinity sebelumnya. Buku kali ini sengaja dibuat berilustrasi full-colour karena diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia sekarang untuk lebih cinta buku dan tentu saja lebih cinta traveling!

Nah, siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Ada sih, tapi anggap aja sebagian besar BANGET orang suka jalan-jalan ya (maksa), apalagi kalau gratis. Ya kan? Namun tentu saja, namanya manusia itu hidup, pasti punya tanggung jawab yang harus dilakukan sehari-hari, yang menyebabkan kita harus menunggu waktu cuti/libur untuk bisa traveling atau jalan-jalan (kecuali kalau kamu anak konglomerat yang Sabtu-Minggu aja mainnya ke Singapura ya). Lalu bagaimana supaya kita bisa jalan-jalan terus, dan terutama gratis?

Jawabannya mudah saja. Pilihlah profesi yang menyebabkan kamu bisa banyak jalan-jalan! Jika kamu bisa traveling karena tugas dari profesimu itu, maka kamu tidak perlu membayar (setidaknya sebagian) biaya yang normalnya kamu keluarkan untuk traveling pada umumnya. Profesi apa saja itu? Jawabannya ada di buku ini.

Sesuai judulnya, Kak Trinity (dan Kak Yasmin, partner-in-crime per-traveling-an Kak Trinity), menjabarkan berbagai profesi yang berpotensi untuk sering traveling. Dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu-lucu, buku ini sangat ringan dibaca, dan saya pun selesai membacanya hanya dalam beberapa jam saja (sambil diselingi mengasuh anak).

Alhamdulillah, saya pernah mengalami dari beberapa profesi yang disebutkan di buku ini. Dan tak dapat dipungkiri, waktu-waktu ketika saya menjalani profesi ini adalah waktu-waktu terbaik dalam hidup saya.

Pertama, beasiswa. Dengan kesempatan berkuliah dan tinggal di negara orang, saya jadi dapat kesempatan untuk mengeksplor negara tersebut selama beberapa tahun, sehingga sangat banyak tempat-tempat yang saya datangi, yang mungkin tidak bisa saya kunjungi jika saya hanya berlibur ke negara itu. Dan dengan tinggal di negaranya, saya juga merasakan menjadi bagian dari penduduk negara tersebut, yang secara tidak langsung, membuat saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai budaya dan kebiasaan.

Kedua, KKN, atau dalam kasus saya disebut KP (Kerja Praktek). Sebenarnya saya KP sengaja di kota kelahiran agar bisa tinggal di rumah. Saya KP di salah satu foreign oil & gas company di kota kelahiran saya, Balikpapan. Saat itu saya ditugaskan untuk memeriksa sebuah alat di salah satu tempat pengeboran minyak yang terletak di tengah laut. Maka saya pun berkesempatan naik chopper (helikopter) untuk menuju tempat tersebut dan menginap di sana selama 5 hari! Saat itu saya benar-benar wanita sendirian selama 5 hari di antara bapak-bapak dan mas-mas XD Akibatnya, saya mendapat perlakuan istimewa, dong. Dikasih tempat tidur di satu-satunya kamar di kilang minyak itu dengan kamar mandi pribadi (asalnya kamar ini milik pemimpin kilang, tapi bapaknya jadi ngalah sama saya selama saya menginap di sana). Pegawai biasa yang lain tidur di bunk bed di kamar berisi 3 bunk bed dengan kamar mandi luar bareng-bareng.

Walaupun ini disebut kilang minyak, namun jangan salah, fasilitasnya top notch, karena mereka juga sering kedatangan ekspat yang inspeksi ke kilang. Makan tiga kali sehari lengkap dengan pembuka, inti, dan penutup yang dibuatkan oleh chef beneran. Bisa pilih mau Indonesian style atau western style (demi mengantisipasi jika ada bule yang lagi datang dan tidak cocok dengan makanan Indonesia). Makannya pun bisa tambah sepuasnya, bisa request dibikinin telor berbagai macem. Uniknya, saat malam menjelang, kadang kamar saya terasa bergetar jika ombak sedang kencang. Hiii…

Ketiga, lomba. Sejak SD, SMP, dan SMA, saya sering dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat atau pun olimpiade bidang mata pelajaran Matematika dan Fisika. Akibatnya, saya pun beberapa kali dikirim keluar kota untuk mewakili sekolah saya. Bahkan saat SMP, saya pernah masuk TV lokal provinsi untuk mengikuti cerdas cermat tersebut. Salah satu puncaknya, saat SMP, saya mengikuti Olimpiade Sains Nasional dan alhamdulillah lolos dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dan mewakili provinsi saya di tingkat nasional tersebut. Saat itu puncak olimpiade dilaksanakan di Kota Pekanbaru, Riau. Saya yang tidak memiliki kerabat di Kota Pekanbaru, tidak pernah terpikir bisa ke sana, jika bukan karena lomba ini.

Keempat, nikah (bukan jadi simpanan orang kaya, lho ya). Karena suami saya berasal dari kota yang sangaaat jauh dari kota asal saya, saya jadi punya kesempatan berlibur di sekitar kota kelahiran suami, yaitu Ciamis. Salah satu tempat yang berkesan adalah Green Canyon, saat itu kami melakukan body rafting di sungainya. Jika biasanya rafting dengan naik boat, ini hanya badan kita berlapis pelampung telempar-lempar oleh arus sungai. Seru banget! Kalau tidak karena mengenal suami saya, mungkin saya nggak akan seniat ini buat jalan-jalan sampai ke Green Canyon.

Kelima, outing kantor, atau dalam kasus saya outing bersama teman-teman lab saat kuliah S2 di Jepang. Di lab kami ada sebuah tradisi setiap musim panas untuk menginap di penginapan ala Jepang untuk membahas riset sekaligus berlibur, dengan tujuan refreshing agar tidak terlalu mumet membahas riset di lab terus-menerus. Umumnya penginapan ini tidak terletak di kota-kota besar di Jepang, melainkan di kota kecil dan bahkan pedesaan. Jika bukan karena outing lab ini, saya mungkin tidak tahu kota ini ada. Alhamdulillah saya jadi pernah mengunjungi kota-kota non-touristy di Jepang, yang sebenarnya tak kalah indah dengan kota yang sering kamu dengar namanya.

Keenam, peneliti. Masih saat saya S2 di Jepang, sebagai mahasiswa S2, kami juga bagian dari peneliti di lab kami. Beberapa kali kami mengadakan konferensi kecil dan bertemu dengan peneliti dari universitas lain untuk saling bertukar ide dan pemikiran, juga menjalin koneksi.

Di luar keenam ‘profesi’ ini, sebenarnya masih ada lagi seperti kunjungan keluarga/berlibur bersama keluarga. Namun tentu saja teman-teman pernah mengalami ini juga, kan?

Setelah ditulis seperti ini, saya jadi bersyukur sekali akan rejeki jalan-jalan yang sudah Allah kasih ke saya hingga saat ini. Namun, selama masih ada umur, saya masih ingin terus berjalan-jalan dan mengalami berbagai hal unik yang tidak bisa saya dapatkan jika hanya berdiam di rumah saja. Dan dari membaca buku “69 Cara Traveling Gratis” ini, saya menjadi tersadar masih banyak cari lain yang belum pernah saya coba. Saya berjanji akan mencobanya juga mulai sekarang. Saya yakin berkeluarga dan memiliki anak tidak menjadi hambatan kan? Mohon doanya, ya!

Untuk teman-teman yang suka jalan-jalan juga, coba baca buku ini deh, siapa tau ternyata teman-teman juga sudah tanpa sadar mengalami yang dituliskan di buku ini. Kalau malas beli di toko buku, belinya online aja di www.bentangpustaka.com.

Untuk adik-adik yang masih di bawah SMA usianya dan pengen jalan-jalan gratis juga, yuk baca buku ini supaya kalian bisa dapat inspirasi profesi apa yang akan kalian pilih jika sudah dewasa nanti dan bisa mempersiapkannya dari sekarang sesuai bakat dan minat adik-adik, karena tidak pernah terlalu dini untuk merencanakan masa depan. Percayalah pada kakak! *atau ‘tante’ ya? 😦

******

Psst, siapa yang sudah baca buku ini selain saya? Nyadar nggak kalau urutan penulisan profesinya berdasarkan abjad? 🙂

Advertisements

Day 5: Five Places I Want to Visit

Standard

Hello, everyone!

It seems like I’m still on my track on doing this challenge. Yay! 🙂 So here we go the day 5: five places I want to visit.

UK, or to be more specific, all Harry Potter filming locations in UK. You might have bored listening to me talking about how I like all about HP world, so sorry, I have to mention this again 😦 UK is definitely on the top of my travel bucket list. I already have the list of places I want to go to if I had a chance to go UK. I don’t know when this dream will come true, since it’s quite far from Indonesia, my husband now is working in a company, and my son is still too small. But, who knows? Luckily, my husband’s travel bucket list is also UK, since he loves football (not American football, but soccer) and Sherlock Holmes. So UK is on the very top of our dream destinations 🙂

alnwick_castle

Alnwick Castle, where Harry learnt to fly for the first time

NORWAY. In term of natural phenomenon, I really want to see aurora or northern lights in Norway. For me, aurora is very special since it can’t be seen everywhere. For example you can see snow in most of sub-tropical countries, you can see sea in any coastal areas, but aurora can be seen only in northern countries. That’s why Norway is also on my bucket list.

aurora

Aurora spotted in Norway

SANTORINI, Greece. Because the place is so pretty and has that romantic vibe. Enough said.

santorini

No caption needed

NETHERLANDS (or Holland? I don’t know 😦 ) Ever since I was a kid, my mom always read bedtime stories for me. I have a whole rack of children’s books with stories from around the world. You know, books with stories on the left side, and illustrations on the right side. I think that’s when my love for books grew. I always love reading books and going to the library near my house. And I think that’s also when my dream to travel the world arose. On one (or some) of those bedtime stories, I saw a very pretty illustration of windmill with tulip field and dutch house. And also pretty dutch ladies with dress and klompen (dutch shoes, also called clogs). Since then, I’ve always wanted to see them with my own eyes.

neth1

Windmill with tulip field and dutch houses

neth2

Cute klompen

MAKKAH and MADINAH to do pilgrimage. I’ve been there before but only to do umrah. Insha Allah I will go there again to do pilgrimage or hajj. Amen.

msjd-hrm

Masjidil Haram in Makkah, a city that never sleep

*****

Actually, as someone who loves to travel, there are many more places I want to visit. I even haven’t mentioned some in Indonesia, my own country. But I think, currently these five are on the very top of my bucket list.

See you on the next day! 🙂

PS: picture credit goes to Google

Halal Restaurant Manhattan Fish Market and Halal Souvenir at LAOX Shinjuku

Standard

Assalamu’alaykum 🙂

A few months ago, I posted a review about some new halal restaurants in Japan (https://atashinohanashi.wordpress.com/2015/02/23/new-halal-restaurants-in-japan-review/) and many people seem to find that article helpful, Alhamdulillah. So in this post, I’m going to be reviewing another new halal restaurant plus halal souvenir store in Japan.

Manhattan Fish Market

Access: Ikebukuro Station, address: Sankei 33 Building B1F, 1 Chome-4-2 Higashi-Ikebukuro

Manhattan Fish Market (MFM) is an American style restaurant that has more than 50 branches all over Asia. MFM in Japan is halal certified and no alcohol served, so you can enjoy dining here comfortably. They also have Muslim staff, English menu, and when I was there, I felt like all the staffs were willing to speak English (unlike many other restaurants in Japan). The menus are mostly seafood, but they also have chicken. Check their website here: http://www.manhattanfishmarket.com/japan.html

The place is very cozy, they have many kinds of meals and beverages and they are all very delicious, the staffs are very friendly, I don’t really have any complaint or negative review about this restaurant 😀 I definitely want to come back again next time to try other menus 🙂

Muslim Friendly Facilites at LAOX Shinjuku

After going to MFM, we went to LAOX Shinjuku. For you who doesn’t know what LAOX is, LAOX is a department store that sell many kinds of goods, from electronics to jewelry, from snacks to Japanese traditional crafts, and many more. They provide tax free for tourists, therefore this place is very recommended for you who needs one stop shopping center while traveling to Japan. They have many branches all over Japan, but the one we went to was the one in Shinjuku. Check their website here: http://www.laox.co.jp/en/stores/shinjuku/

Alhamdulillah, this past decades Japan’s government is getting aware and considerate about Muslim’s needs. Here in LAOX Shinjuku, they provide decent corner for praying (seperated between male and female) and designated corner for halal souvenirs. They sell many kinds of halal souvenirs such as snacks, crackers, instant ramen, biscuit, and so on. You don’t have to be worry if you are shopping for halal souvenirs here 🙂

*****

To see more detail about MFM and LAOX, take a look at inside them, and where to locate them, please kindly check our video on youtube below 🙂 I hope this article is helpful for you who are planning to go to Japan in near future 🙂

Six Hours Layover Time in Korea

Standard

Bulan Februari 2015 lalu, saya berkesampatan pulang ke Indonesia untuk mengurus kepindahan suami saya ke Jepang liburan musim semi dengan menaiki pesawat Korean Air, dan karenanya harus transit di bandara Incheon di Seoul, Korea. Pada penerbangan dari Jepang ke Indonesia, saya mendapat waktu transit selama enam jam, dan saat kembali dari Indonesia  ke Jepang, waktu transit saya hanya satu jam.

Waktu transit enam jam ini sebenarnya bisa saja dihabiskan hanya di bandara, karena bandara Incheon merupakan salah satu bandara terbaik di dunia dengan beragam fasilitas yang mendukung para calon penumpang. Tapi, karena saya ingin melihat Seoul lagi, plus ingin makan ttokpokki Jaws yang terkenal banget itu (yg obviously nggak ada di dalam bandara Incheon), saya memutuskan buat jalan-jalan di luar bandara saja.

Sebelumnya, saya memastikan dulu apakah saya bisa keluar bandara selama waktu transit tersebut. Saya pun menelepon kedutaan besar Korea di Jepang (http://www.embassypages.com/missions/embassy21301/). Mbak yang menerima teleponnya bisa bahasa Korea, Jepang, dan Inggris, sehingga tidak ada masalah. Saat menelepon, saya ceritakan bahwa saya warga negara Indonesia yang memiliki resident card Jepang, dan saya akan transit selama enam jam di Incheon, lalu saya bertanya apakah saya bisa keluar bandara. Ternyata bisa! \^_^/ Saya tidak perlu visa on arrival. Tinggal menunjukkan resident card saya kepada petugas imigrasi di Korea nanti.

Sayang sekali, kali ini, teman saya yang tinggal di Korea (Millaty, yang dulu juga menemani saya jalan-jalan di Seoul), tidak dapat menemani saya jalan-jalan. Alhasil, saya akan jalan-jalan sendirian kali ini 😀

Sebagai persiapannya, karena saya tidak akan punya akses wifi saat jalan-jalan nanti, saya bertanya dulu ke Millaty, kalau mau makan ttokpokki Jaws yang paling deket dari bandara di mana dan bagaimana cara ke sananya. Alhamdulillah, salah satu kedai Jaws ada di Myeongdong. Kebetulan sekali, saya pun ingin membeli lagi beberapa kosmetik yang sudah hampir habis, yang dulu saya beli di Korea dan cocok dengan kulit saya, dan Myeongdong adalah surganya para pemburu kosmetik 😀 Dari Incheon airport ke Myeongdong tinggal naik kereta KTX Airport Railroad ke Seoul Station, lalu ganti line 4 menuju Myeongdong Station. Kemudian, tidak lupa juga saya ngeprint peta lokasi kedai Jaws tersebut di Myeongdong. Sebenernya Myeongdong itu kecil, tapi banyak jalan-jalan kecilnya yang berpotensi menyesatkan kalau tidak terbiasa. Ini alamat kedai Jawsnya 59-5 Myeongdong 1(il)-ga, Jung-gu, Seoul, South Korea.

Persiapan selanjutnya, saya bertanya juga ke Millaty, menu apa saja yang bisa kita makan di Jaws. Intinya kita cuma bisa makan ttokpokki, tempura nori dan seafood, serta odeng. Saya pun mencatat kosa kata menu-menu tersebut dalam bahasa Korea dan juga saya print biar nanti tinggal saya tunjukin ke pelayannya.

Yosh..persiapan beres, saatnya eksekusi! (Segitunya ya 😀 )

Hari keberangkatan pun tiba. Singkat cerita, sesampainya di Incheon, saya pun langsung menanyakan ke petugas bandara, jika ingin keluar bandara harus ke mana. Petugas bandara pun mengarahkan saya ke konter imigrasi yang bukan untuk penumpang transit, melainkan penumpang yang akan turun di Korea. Di konter tersebut, saya menunjukkan paspor, ressident card Jepang, dan boarding pass saya. Alhamdulillah tidak ada masalah, saya pun bisa keluar dari bandara! Yeah!! Petualangan pun dimulai!!

IMG_0731

Dari bandara menuju KTX Airport Railroad tidak susah, hanya tinggal mengikuti petunjuk yang sudah tertera dengan sangat jelas.

IMG_2028

Perjalanan Incheon airport – Seoul station memakan waktu satu jam. Karena itu saya hanya punya waktu jalan-jalan di Myeongdong paling lama tiga jam untuk sampai kembali di Incheon Airport dengan tenang.

IMG_0733

Sampai juga di Seoul station!!

Langsung lanjut naik line 4, turun di Myeongdong. Kalau berdasarkan peta, pintu exit terdekat dengan kedai Jaws adalah exit 5. Oh ya, mengetahui harus keluar lewat exit mana sangat penting jika kita berada di Myeongdong station, karena Myeongdong station ini terletak di bawah tanah dan sangaaattt luas jadi jika salah keluar, bakal jauh banget munculnya saat di permukaan tanah. Hehe…

IMG_0735

Ini penampakan exitnya di permukaan tanah. Sengaja saya foto supaya saya tidak lupa dan bisa tanya orang di jalan kalau nyasar.

Langsung saja saya menuju kedai Jaws dengan mengikuti peta yang sudah saya print. Hmm, ternyata agak susah juga nyarinya. Setengah jam saya muter-muter di Myeongdong tidak sampai-sampai. Tiba-tiba saya melihat sekelompok mas-mas dan mbak-mbak yang nampaknya bertugas sebagai information center. Mereka memakai seragam dan ada tulisan semacam “information” gitu. Langsung saja saya dekati mereka, awalnya saya menanyakan titik di peta di tempat alamat Jaws tadi. Alhamdulillah mereka bisa bahasa Inggri. Lalu mbak yang melayani saya malah bertanya saya mau ke mana, saya jawab aja mau ke Jaws ttokpokki. Dan dia langsung tau dan langsung ngasih tau jalannya yang ternyata sudah dekat dengan tempat information center itu! Mungkin sebelumnya banyak yang sudah nanya Jaws itu di mana kali ya..hehe..

Alhamdulillah, sampai juga di kedai Jaws!

IMG_2053

Tadinya saya berniat pesan dan makan di tempat. Tapi karena saya kelamaan nyari tempatnya dan belum lagi nyari beberapa kosmetik yang saya perlukan, akhirnya saya minta take out saja. Alhamdulillah pelayannya ngerti waktu saya bilang “teik aute” (take out dengan aksen Korea). Ga rugi memang nonton variety-variety show itu untuk mengetahui akse orang Korea dalam pengucapan kata-kata bahasa Inggris 😀

Di dalam kedai Jaws. Kedainya kecil banget ternyata.

Di dalam kedai Jaws. Ada daftar menu dalam bahasa Jepang. Dan kedainya kecil banget ternyata.

Ini loh ttokpokki yang bikin ngidam itu :P

Ini loh ttokpokki yang bikin ngidam itu 😛

Setelah menerima menu dan membayar, saya pun langsung cabs dan mulai berburu kosmetik.

Ternyata tidak mudah berburu kosmetik yang padahal saya sudah tau bentuknya hanya tinggal mencari saja. Saat saya melihat-lihat, penjaga tokonya pada jutek dan ngikutin terus serta nanya-nanya mau beli apa dalam bahasa Korea. Padahal saya kan tidak bisa berbahasa Korea. Saya jawab pake bahasa Inggris mereka juga nggak ngerti. Eh pas saya jawab pake bahasa Jepang, baru deh mereka ngerti. Zzz -_-”

Surganya pemburu kosmetik Korea

Surganya pemburu kosmetik Korea

Ada mbak Song Ji Hyo. Sayangnya kosmetiknya mbak Ji Hyo ini rada mahal, jadi nggak ada yang saya beli deh.

Ada mbak Song Ji Hyo. Sayangnya kosmetiknya mbak Ji Hyo ini rada mahal, jadi nggak ada yang saya beli deh.

Setelah semua kosmetik yang saya butuhkan dapet semua (plus beberapa kosmetik baru pastinya 😛 ), saya pun langsung kembali ke Incheon airport dengan jalur yang sama. Alhamdulillah, saya sampai sekitar 1,5 jam sebelum berangkat lagi. Langsung saja saya check in dan melewati konter imigrasi, dan setelah itu jalan-jalan di area duty free-nya Incheon Airport.

Dalam waktu 1,5 jam itu, alhamdulillah saya sempat menikmati parade orang-orang berbaju Korea dan sempat belanja (lagi) di duty free-nya >_<

Di sini kita bisa coba membuat kerajinan tangan khas Korea dan bisa dibawa pulang.

Di sini kita bisa coba membuat kerajinan tangan khas Korea dan bisa dibawa pulang.

Parade hanbok

Parade hanbok

Oh ya, ternyata ada prayer room juga di Incheon Airport.

IMG_2074

*****

Alhamdulillah, misi 6 jam transit di Seoul, seong-gong!! Sampe ketemu di cerita jalan-jalan berikutnya!

Ini hasil perburuan kosmetiknya, plus coklat yang bungkus kotaknya ada foto Kim Soo Hyun

Ini hasil perburuan kosmetiknya, plus coklat yang bungkus kotaknya ada foto Kim Soo Hyun

Halal in-Flights Meals Review (ANA, Korean Air, JAL)

Standard

Kali ini, saya ingin membagikan pengalaman saya mendapat pelayanan makanan halal di beberapa penerbangan yang pernah saya tumpangi dalam perjalanan saya bolak-balik Indonesia-Jepang. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Dalam memilih flight yang akan saya tumpangi ke mana pun, hal pertama yang selalu saya pastikan adalah tentu saja ada tidaknya halal meals service. Perjalanan Indonesia-Jepang yang lama (kalau direct saja antara 7-8 jam, apalagi kalau tidak direct) akan lebih baik bagi kita untuk tetap mengisi tenaga selama di perjalanan. Sangat disayangkan, banyak saudara-saudara kita yang kurang ngeh dengan adanya fasilitas halal meals ini dan akibatnya menerima begitu saja makanan yang disediakan di dalam pesawat. Semoga kita tidak termasuk di antaranya ya, karena menjaga kehalalan makanan itu sangat penting bagi kesehatan, tidak semata-mata kesehatan jasmani, namun juga kesahatan rohani kita 🙂

Selama dua tahun saya tinggal di Jepang ini, 3x pulang terakhir, saya selalu cari tiket di http://www.onetravel.com berkat contekan salah seorang rekan di sini yang bilang bahwa dari website tersebut bisa dapet tiket muraahh banget tapi bukan low cost airlines 🙂 Sejauh ini Alhamdulillah memang benar adanya, saya dapat 3x tiket PP murah untuk penerbangan ANA (All Nippon Airways), Korean Air, dan JAL (Japan Airlines) ^_^/

Kalau ditanya kenapa tidak naik Air Asia saja yg memang terkenal murah, sebab, kalau naik Air Asia mostly harus nyari tiket dari jauh-jauh hari kalau mau dapat murah. Sementara dengan onetravel ini, 2x pulang yang terakhir saya beli tiketnya 1 bulan dan 3 minggu sebelum hari H, masih tetap banyak pilihan tiket murahnya. Lagipula, siapa yang nolak tiket murah dari pesawat non-low cost airlines kan?

Nah, langsung aja deh yuk saya ceritain review saya terhadap halal meals dari tiga penerbangan ini.

ANA

Selain melalui onetravel.com, sebenarnya kita juga dapat memperoleh tiket ANA murah dari webste ANA sendiri yaitu https://www.ana.co.jp/asw/wws/ind/e/ . Jika sudah masuk ke website tersebut, nanti setelah memillih keberangkatan dan tujuan tinggal klik “Economy (Discounted Fares)”.

Kembali lagi ke pengalaman saya memesan tiket melalui onetravel.com, saat pemesanan Alhamdulillah tidak ada masalah. ANA adalah company milik Jepang jadi saya tidak perlu transit di mana pun, alias langsung ke Jakarta. Saat memesan tiket ini, kita sebenarnya sudah dapat memilih special meals berupa Halal Meal, atau yang disebut MOML (Moslem Meal), namun kita tetap harus menghubungi langsung pihak layanan konsumen ANA dengan cara menelepon untuk memesan MOML secara official. Lihat keterangan lengkapnya di sini http://www.ana.co.jp/wws/us/e/asw_common/departure/inflight/spmeal/ .

Saat kepulangan pun tiba. Sesaat setelah semua penumpang sudah di dalam pesawat, para pramugari mendatangi beberapa penumpang yang teah memesan special meals sebelumnya, termasuk saya. Pramugari menanyakan apakah betul saya memesan MOML, lalu menempelkan stiker seperti ini di atas kursi saya.

Stiker penanda bagi penumpang yang memsan special meals

Stiker penanda bagi penumpang yang memesan special meals

Pada penerbangan ini, in-flight meals disediakan dua kali, beberapa saat setelah take off, dan beberapa saat sebelum landing. Makanan yang disediakan pertama kali adalah makanan lengkap seperti ini.

Penampakan awal

Penampakan awal makanan

Penampakan box utama

Penampakan box utama

Tersedia menu lengkap nasi-ayam-tumis buncis, seafood, kacang-kacangan, roti-butter puding, dan air mineral. Di gelas kosong di kanan atas akan disediakan soft drink sesuai pilihan kita. Alhamdulillah mengenyangkan dan secara rasa juga cocok dengan selera Indonesia. Selain ini, selama perjalanan, pramugari bolak-balik menawarkan minuman hangat maupun dingin jadi kita tidak perlu khawatir kehausan.

Kemudian sesaat sebelum mendarat, saya dibagikan lagi makanan, namun kali ini hanya berupa snack saja seperti ini.

Snack menjelang pendaratan

Snack menjelang pendaratan

Mohon maaf saya lupa isinya apa, tapi secara tekstur snack ini seperti panada kalau di Indonesia.

Lalu saat hendak kembali ke Jepang, sama seperti saat pulang, saya mendapat makanan dua kali. Menu lengkapnya adalah kentang, scrambled-egg, brokoli, jamur, buah-buahan, roti dan butter, yogurt Meiji, jus jeruk, dan soft drink pilihan.

Penampakan awal

Penampakan awal

Penampakan saat boxnya dibuka

Penampakan saat boxnya dibuka

Karena saya berangkat dari Indonesia malam hari, saya sampai di Jepang pagi hari, jadi menu kedua yang merupakan snack sebelum pendaratan berfungsi juga sebagai sarapan. Kali ini, saya mendapat sandwhich ikan dan air mineral seperti ini.

Menu sarapan

Menu sarapan

Sayang sekali, untuk menu kali ini agak mengecewakan. Rotinya agak dingin dan keras, ikannya pun masih banyak durinya, jadi susah sekali makannya sambil beberapa kali membuang duri dari mulut. Lalu rasanya sangat pedas >_< FYI, saya penggemar makanan pedas, jadi kalau saya bilang suatu makanan pedas, itu berarti pedas banget. Dan benar saja, saat sampai di apartemen kembali di Jepang, saya langsung diare karena pagi-pagi sudah makan makanan pedas 😦

Korean Air

Kepulangan kali ini merupakan kepulangan yang saya tunggu-tunggu karena penerbangannya yang sangat spesial, yaitu Korean Air!! Kenapa spesial? Tentu saja, karena Korean Air merupakan company milik Korea, itu artinya saya akan transit di Korea! Yeaahh!! ^_^/

Yang membuat lebih spesial lagi adalah, dalam perjalanan pulang ke Indonesia, saya kebagian transit selama 6 jam. Jika bagi sebagian orang transit 6 jam itu membosankan, tidak bagi saya 🙂 Apalagi kali ini saya akan transit di Incheon Airport, salah satu bandara terbaik di dunia.

Nah cerita lengkap tentang transit ini akan saya ceritakan secara terpisah, because it worth one whole post for itself 😀 Sekarang, back to topic, saya hanya akan menceritakan makanan halal yang disediakan Korean Air.

Sama seperti ANA, kita harus menelepon ke layanan konsumen Korean Air untuk memesan Halal Meal secara official. Lihat info lengkapnya di sini https://www.koreanair.com/content/koreanair/global/en/traveling/classes-of-service.html#_ .

Kesan pertama saya terhadap Korean Air adalah pesawat tercantik yang pernah saya naiki. Am I too biased? >_< But, seriously, desain interiornya membawa kesan hangat dengan perpaduan warna biru dan putih, seragam pramugarinya juga cantik banget kombinasi warna biru mudah-putih dan ada hiasan di kepala pramugarinya seperti set pakaian Hanbok. Pokoknya rasanya Korea banget dan membuat kita siap buat istirahat sepanjang perjalanan karena suasana nyaman yang terbangun dari kombinasi warnanya 😀

Karena saya nggak enak kalau ngefoto pramugarinya, saya ngefoto layar di tv di depan kursi saya saja.

Kira-kira seperti ini seragam pramugarinya

Kira-kira seperti ini seragam pramugarinya

Seperti saat menaiki ANA, sesaat setelah naik ke pesawat, saya juga didatangi seorang pramugari yang memastikan apakah benar saya memesan halal meal (juga disebut MOML di sini). Kemudian kursi saya juga ditempeli stiker. Penerbangan pertama ini akan membawa saya dari Jepang menuju Seoul Incheon terlebih dahulu. Karena perjalanan hanya berlangsung 2 jam, saya hanya disuguhkan satu kali makan.

Penampakan awal

Penampakan awal

Penampakan isi box utama

Penampakan isi box utama

Menu utama ini berisi nasi dengan taburan kismis dan kacang mete, kari ayam, kemudian yang di sebelah kiri itu saya lupa apa 😀 , puding, air mineral, roti-butter, dan green tea.

Penerbangan berikutnya dari Seoul Incheon ke Jakarta berlangsung sekitar 9 jam. Kali ini saya mendapat makanan agak lebih banyak. Pertama, saya mendapat makan set lengkap seperti sebelumnya.

Penampakan awal

Penampakan awal

Setelah boxnya dibuka

Setelah boxnya dibuka

Kali ini saya mendapat nasi briyani, kari daging sapi, brokoli-wortel rebus, salad, buah, yogurt, air mineral, jus, dan roti-butter. Tidak berapa lama kemudian saya mendapat cheesecake seperti ini.

IMG_2082

Alhamdulillah kenyang banget. Saatnya tidur nonton film gratis. FYI, saya jarang tidur sejauh apa pun perjalanan, karena rasanya sayang sudah bayar mahal kalau in-flight entertainment-nya tidak dinikmati dengan maksimal 😀

Kemudian, sesaat sebelum mendarat, saya dapat snack yang sebenarnya cukup besar untuk dikategorikan sebagai snack >_<

Semacam sandwhich berisi sayuran dan lupa apa lagi

Semacam sandwhich berisi sayuran dan lupa apa lagi

Saat perjalanan kembali dari Indonesia, saya rupanya tidak memfoto makanan yang saya terima. Tapi komposisinya masih sama, saat perjalanan Jakarta-Seoul Incheon, saya mendapat dua set makanan, serta perjalanan Seoul Incheon-Tokyo satu set makanan. Nah tapi ada yang sedikit insiden dari perjalanan saya dari Seoul ke Tokyo.

Jadi ceritanya waktu transit saya kali ini hanya 1 jam. Sebenarnya, waktu ini cukup unntuk turun dari pesawat, melewati imigrasi, lalu langsung check in untuk penerbangan berikutnya. Sayangnya, pesawat saya dari Indonesia agak terlambat dari schedule sampai di Seoul-nya. Akibatnya, begitu turun dari pesawat, saya langsung didatangi petugas bandara yang menyampaikan bahwa saya dipindahkan ke penerbangan berikutnya yang menuju Jakarta karena penerbangan yang seharusnya saya naiki sudah tidak mungkin saya kejar. Kemudian saya pun menerima boarding pass baru dan di boarding pass tersebut tertulis “MOML ok”. Dari situ saya berpikir bahwa tidak akan ada masalah dengan makanan yang sudah saya pesan. Saya pun melewati imigrasi dan check in seperti biasa.

Ketika menaiki pesawat, saya heran karena tidak ada pramugari yang mendatangi saya seperti biasa. Saya mulai curiga. Dan benar saja, saat tiba saatnya makanan dibagikan, pramugari langsung memberikan saya makanan yang sama dengan penumpang lain. Kemudian saya bilang bahwa saya sudah memsan MOML, dan saya juga menceritakan perubahan penerbangan yang saya alami serta boarding pass baru yang saya terima. Rupanya benar saja, MOML saya tidak sampai ke penerbangan ini.

Para pramugari Korean Air sangat merasa bersalah dan berkali-kali meminta maaf ke saya. Bahkan (yang sepertinya) head pramugari sampai mendatangi saya dan minta maaf juga. Alhamdulillah karena penerbangan ini hanya 2 jam, dan sebelumnya saya juga sudah cukup kenyang, saya merasa tidak terlalu bermasalah atau pun kelaparan. Dan saya juga sangat menghargai itikad mereka yang sampai meminta maaf berkali-kali. Lalu sebagai gantinya, saya diberikan banyak sekali cemilan (berkali-kali lipat dari penumpang lainnya), yang insya Allah bisa dimakan berdasarkan daftar ingredients di bungkusnya. Jadi secara umum, saya tidak terlalu merasa dirugikan.

JAL

Alhamdulillah, lebaran kemarin (17 Juli 2015) saya dan suami berkesempatan pulang ke Indonesia. Masih melalui onetravel.com, sekitar 2 minggu sebelum kepulangan, kami masih mendapat tiket yang sangat murah. Malahan paling murah di antara 3 penerbangan ini.

Pada saat keberangkatan dari Jepang ke Indonesia, kami mendapat dua set makanan juga, makanan utama dan snack. Tapi ternyata saya lupa ngefoto snack-nya apa. Jadi ini foto makanan utamanya aja ya. hehe

IMG_2587

IMG_2588

Menu kali ini berupa nasi kuning, rebusan sayur-sayuran, ikan rebus, roti, buah, beberapa jenis salad, soft drink pilihan, dan air mineral. Secara rasa agak standar sih sebenarnya, tapi Alhamdulillah yang penting halal dan insya Allah sehat 🙂

Kebiasaan saya saat makanan telah dibagikan ke semua penumpang, saya sering memperhatikan makanan yang diterima penumpang lain. Saat itu, saya melihat penumpang dengan makanan non-halal, selain menerima set makanan lengkap seperti yang kami terima, mereka juga mendapat ice cream hagen dazs. Menurut saya, tumben sekali penumpang tidk mendapat jumlah makanan yang sama. Normalnya, meskipun jenis makana berbeda (halal dan non-halal), semua penumpang mendapat varian yang sama, misal jika penumpang non-halal mendapat dessert, penumpang yg memesan halal meal akan mendapat dessert lain yang halal. Karena penasaran (plus saya memang kepingin makan ice cream), saya pun bertanya ke salah seorang pramugari, mengapa kami tidak mendapat ice cream. Ternyata menurut pramugari tsb, ice cream ini memang tidak termasuk di set menu kami. Meskipun sedikit kecewa, kami pun merelakan saja, mungkin ice cream tsb tidak halal.

Eh tidak berapa lama kemudian, pramugari yang sama datang ke kursi kami dan memberikan 2 ice cream hagen dazs karena ada penumpang yang menolak jatahnya. Alhamdulillah, berdasarkan ingredients ice cream-nya bisa dimakan. Ternyata, memang tidak salah ya pepatah malu bertanya sesat di jalan. Lebih baik malu-maluin (dengan minta makanan) yang penting tidak tersesat kenyang deh 😛

Di perjalanan pulang, herannya kami hanya mendapat satu set makan. Mungkin karena penerbangan kami yang take off hampir tengah malam, diasumsikan penumpang langsung ingin beristirahat di pesawat. Padahal menurut saya sebaiknya tetap diberikan minimal satu jenis snack.

Sesaat sebelum sampai di Jepang, kami mendapat set menu lengkap yang berfungsi sebagai sarapan.

Penampakan awal

Penampakan awal

Box makanan utama

Box makanan utama

Di set ini kami mendapat nasi goreng, daging-bumbu kacang yang rasanya seperti sate tapi tanpa tusukan, sawi rebus, roti-butter, yakult Indonesia, soft drink pilihan, buah, puding, salad tomat-ikan. Alhamdulillah semuanya enak dan pas untuk sarapan 🙂

*****

Dari ketiga penerbangan ini, kalau disuruh memilih, secara rasa dan jumlah makanan saya paling suka Korean Air. Namun sayangnya, karena harus transit di Korea, perjalanan terasa lama sekali. Kalau antara ANA dan JAL yang direct ke Indonesia, saya lebih memilih ANA karena makanannya yang lebih banyak. Hehe..

Secara umum, saya sangat merekomendasikan menggunakan onetravel.com karena tidak perlu cari tiket jauh-jauh hari untuk dapat tiket murah. Memang tergantung keberuntungan juga sih, bisa saja kalau mepet-mepet keberangkatan, tiket berharga murah tsb sudah habis.

Nah, selamat bepergian, have a safe flight, dan tidak lupa untuk tetap mempraktikkan syariat-Nya di mana pun kita berada 🙂

Shibazakura Festival at Mount Fuji Hill : Tips and Experience (May 2015)

Standard

Kembali lagi dengan cerita jalan-jalan di Jepang 🙂

Bagi para wisatawan yang ke Jepang, dapat melihat, berfoto bersama, atau mendaki Gunung Fuji mungkin merupakan salah satu point penting di cek list perjalanan kita yang tak boleh terlewatkan.Tidak harus wisatawan aja sih, kami yang sedang tinggal di Jepang pun tak setiap hari dapat menikmati indahnya Gunung Fuji, dan berfoto bersamanya pun hanya dapat -dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. Sudah banyak website yang membahas spot-spot di mana kita dapat melihat Gunung Fuji dengan jelas. Salah satunya ada di website ini.

Saya sendiri selama dua tahun lebih tinggal di sini, sudah melakukan banyak attempt untuk dapat foto-foto bersama si gunung yang terkenal ini 😀 Dua kali saya ke Hakone, Gunung Fujinya tertutup kabut, padahal cuaca relatif cerah. Ketiga kalinya, alhamdulillah saya bisa melihat Gunung Fuji dengan jelas melalui jendela shinkansen waktu perjalanan dari Tokyo ke Kyoto 🙂 Dan keempat kalinya adalah saat saya ke Shibazakura Festival ini 🙂

Shibazakura Festival adalah festival melihat bunga shibazakura, atau pink moss dalam bahasa Inggris. Di Jepang sendiri sebenarnya banyak spot festival shibazakura, seperti dua tahun lalu saat Golden Week 2013, alhamdulillah saya berkesempatan ke festival shibazakura di Chichibu.

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Shibazakura Festival, Chichibu, Mei 2013

Salah satu festival Shibazakura yang recommended tentu saja yang di kaki Gunung Fuji ini, karena tidak hanya dapat melihat indahnya bunga pink moss, kita juga dapat menikmati hamparan bunga pink moss ini berdampingan dengan Gunung Fuji nya sendiri. Dobel deh untungnya 🙂

Shibazakura Festival tahun 2015 ini diadakan mulai tanggal 18 April sampai 31 Mei 2015. Biasanya tiap tahun tidak berubah terlalu jauh jadwalnya, a.k.a. sekitar pertangahan April sampai akhir Mei. Berdasarkan riset yang telah saya lakukan sebelum berangkat, waktu terbaik untuk mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei, dan tidak saat weekend 😀

Access/ How to get there

Terdapat beberapa pilihan transportasi menuju Shibazakura, ada yang menggunakan kereta, bus, atau mobil. Karena kami tidak punya mobil, pilihan transportasi kami yaitu antara kereta dan bus, dan tentu saja naik bus lebih murah 🙂 Karena itu saya hanya akan menjelaskan cara ke sana dengan naik bus.

Sebenarnya banyak sekali jalur bus yang menuju Shibazakura ini. Informasi lebih lengkapnya bisa diperoleh di sini. Namun karena alasan kepraktisan dari tempat tinggal kami, kami memilih menaiki Highway Bus dari Shinjuku. Tiket bus menuju Shibazakura ini dapat dibeli secara online di website ini. Sebenarnya bisa juga kita beli langsung di counternya saat hari H. Namun mengingat festival ini yang diadakan hanya di waktu yang terbatas, kita tidak dapat memastikan bisa dapat seat di bus kalau baru beli saat hari H. Jadi saya merekomendasikan untuk beli tiket jauh-jauh hari sebelumnya, dan berangkat sepagi mungkin supaya bisa menikmati festivalnya lebih lama 🙂

Nah kembali ke cara memesan tiket secara online di website yang sudah saya sebutkan di atas. Seperti yang sudah disebutkan dengan jelas di website tersebut, untuk menuju Shibazakura, kita harus menaiki bus yang menuju Kawaguchiko Station. Baru dari situ kita sambung naik bus Shibazakura liner yang tiketnya hanya dapat dibeli di Kawaguchiko Station bus terminal no 7 (dapat berubah sewaktu-waktu, karena ini hanya berdasarkan pengalaman saya kemarin). Perlu diingat bahwa Shibazakura liner ini hanya ada setiap 30 menit sekali, dan perjalanan dari Kawaguchiko Station ke spot Shibazakuranya sendiri juga memakan waktu 30 menit. Karena itu sangat penting untuk datang sepagi mungkin karena jika terlewat beberapa detik saja bus sebelumnya, kita harus menunggu 30 menit untuk bus selanjutnya ditambah 30 menit lagi perjalanan menuju Shibazakura 😦

Untuk ringkasnya, berikut ini ringkasan perjalanan menuju Shibazakura:

  1. Beli tiket online, pilih jalur Shinjuku ke Kawaguchiko Station, 1750 yen per orang sekali jalan. Sebaiknya beli langsung tiket round trip saja.
  2. Dari Shinjuku Station, keluar di West Exit, menuju terminal Highway Bus. Jika kita memesan online, akan ada peta letak terminal bus yang dikirim ke email kita. Jika ingin membeli langsung, counter bus ini terletak dekat dengan Yodobashi.
  3. Perjalanan dari Shinjuku ke Kawaguchiko Station, kurang lebih 1,5 sampai 2 jam jika lalu lintas lancar.
  4. Sampai Kawaguchiko Station, menuju terminal bus Shibazakura Liner, beli tiket bus, 1900 round trip, sudah termasuk tiket masuk spot Shibazakura.
  5. Sekitar 1 jam sampai 45 menit sebelum waktu bus pulang dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku, sudah menuju terminal bus Shibazakura Liner menuju Kawaguchiko Station. Ingat, perjalanan dari Shibazakura ke Kawaguchiko Station memakan waktu 30 menit, nggak mau dong ketinggalan bus pulang ke Shinjuku gara-gara mepet-mepet pulang dari Shibazakuranya 🙂

Our Experience

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, waktu terbaik mengunjungi festival ini adalah 3 minggu pertama bulan Mei. Minggu pertama bulan Mei adalah Golden Week, jadi sudah dapat dipastikan jalanan akan macet (yes, di Jepang juga bisa macet kok) dan di mana-mana penuh sama wisatawan lokal, maka kami pun menghindari minggu pertama. Minggu kedua, kebetulan ada acara festival internasional di Tsukuba. Karena kami jadi panitia, maka kami pun tidak dapat pergi pada minggu kedua. Kesempatan terakhir kami adalah sepanjang minggu ketiga Mei.

Setelah mengecek ramalan cuaca, pada akhir minggu ketiga bulan Mei diperkirakan hujan. Karena ini (mungkin) akan menjadi tahun terkhir saya di Jepang, saya bertekad untuk datang ke festival ini di saat terbaiknya >< Beruntungnya lab saya adalah tipe lab yang tidak harus ke lab setiap hari. Maka kami pun memutuskan pergi di hari Rabu minggu ketiga Mei 🙂

Kami baru memesan tiket online hari Seninnya, alhasil kami dapat bus yang jam 10.40 dari Shinjuku. Cukup siang, tapi alhamdulillah masih dapat tiket bus, karena beberapa detik setelah kami memesan tiket bus ini, yang jam 10.40 sudah penuh juga. Ketat sekali persaingan, sodara sodaraahh…

Hari Rabu, kami berangkat naik bus dari Tsukuba pukul 07.45, sampai di Tokyo Station jam 09.30. Disambung naik kereta dari Tokyo ke Shinjuku sekitar 20 menit, alhamdulillah kami sampai di Shinjuku Station pukul 10.00. Masih ada waktu istirahat sebelum menuju terminal bus.

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Highway Bus menuju Kawaguchiko Station

Pukul 10.40 bus berangkat sesuai rencana, dan sesampainya kami di Kawaguchiko station, sekitar jam 12.30 lebih sedikit, bus Shibazakura Liner yang jam 12.20 baru saja berangkat T_T karena itu kami harus menunggu bus yang jam 12.50. Sambil menunggu bus, dari terminal bus ternyata Gunung Fujinya sudah terlihat bergitu dekat 🙂

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Kawaguchiko Station berlatar belakang Gunung Fuji

Pukul 12.50 kami naik bus, sampai di Shibazakura sekitar pukul 13.30. Alhamdulillah cuaca cerah namun angin cukup sejuk. Kami pun berfoto-foto dengan bantuan tongsis dan para pengunjung lain yang berbaik hati memfotokan kami 🙂

Shibazakura dan Gunung Fuji

Shibazakura dan Gunung Fuji

Karena selalu jalan-jalan cuma berdua saja, sekarang kami sudah tahu bagaimana cara meminta bantuan wisatawan lain untuk memfotokan kami. Pertama, salah satu di antara kami berdiri di spot yang diinginkan, kemudian yang satunya mengatur kamera agar menangkap angle yang paling bagus. Kemudian cari wisatawan yang jalan-jalan berdua juga, karena biasanya mereka lebih ramah dalam membantu pasangan lainnya (senasib gitu lho 😀 ). Lalu meminta wisatawan tersebut untuk memfotokan dengan menunjukkan angle yang sudah diatur sebelumnya. Berikut salah satu hasil foto terbaik yang kami dapatkan 😀

IMG_2430Ga ketinggalan foto-foto pake tongsis juga 😀

20150513_140116Di spot festival ini juga ada beberapa stand makanan. Kami sendiri sebenarnya sudah menyiapkan bekal dari rumah karena khawatir tidak ada yang bisa dimakan di sini. Tapi ternyata ada yang jual taiyaki dan pancake udang. Kami pun mencoba pancake udangnya yang alhamdulillah lumayan enak dan nambah-nambahin variasi bekal makan siang kami.

Bus yang akan membawa kami dari Kawaguchiko Station ke Shinjuku dijadwalkan pukul 17.10, maka pukul 15.30 kami sudah menuju terminal bus Shibazakura, dan berhasil naik bus yang pukul 16.00. Sampai lagi di Kawaguchiko Station pukul 16.30, kami sempat istirahat ke toilet dan membeli souvenir sebelum menaiki bus pulang.

*****

Alhamdulillah, perjalanan hari ini bisa dikategorikan sebagai sukses dan lancar. Lalu lintas tidak macet, cuaca cerah, Gunung Fuji tidak tertutup kabut, dan berhasil mendapatkan beberapa foto yang bagus dan bisa menjadi kenang-kenangan di masa tua 🙂 Sampai jumpa di cerita jalan-jalan berikutnya!

New Halal Restaurants in Japan – Review

Standard

Alhamdulillah, in only this month (February 2015), I had the opportunity to visit three new halal restaurants in Japan, due to accompany some of my guests who were on vacation here. I am really glad that the growth of Islam in Japan shows promising direction, despite some not-so-good news about Islam that are still airing sometimes in national television stations here. I’m also very grateful that public services in Japan always treat foreigners indiscriminately. However, I know that in some places out there, there are still some difficulties for us to do our religious obligations, but I myself couldn’t thank Allah more that I never be in such condition, and hopefully won’t ever be. Amen.

So far, actually, there were already a lot of halal restaurant in Japan. However, most of them are Indian, Pakistan, or Turkish Restaurants. There are also some Indonesian and Malaysian restaurants of course, but fortunately, recently, many more kinds of halal restaurants open, such as Italian, Chinese, and even Japanese. The more the merrier, right? 🙂

Ok, without further ado, here are my reviews about those restaurants.

Ippin

Japanese food – 15 minutes walk from Ebisu station, west exit

Fifteen minutes walk for me is not so close, and we also have to pass some small hills to reach this restaurant.

Nama Ippin sendiri berasal dari Upin-Ipin dengan mencari kanji yang bisa terbaca mirip dengan "ipin" :)

Name “Ippin” came from “Upin-Ipin” by finding Chinese character (kanji) that can be read similar to “Ipin” 🙂

Some of the menu. There are some more but I forgot to take the picture of them.

This is the menu that I ordered that time. It is called Japanese Genovese style chicken shiso flavor, price 900 yen. It includes the chicken, a small bowl of rice, salad, and miso soup.

IMG_0347[1]

Menu I ordered

The meal was actually delicious and has that authentic Japanese flavor. So for you who want to taste the real Japanese food and halal, this menu is recommended. However, the portion was a bit small, so I didn’t feel full enough after eating it.

There are also some wagyu meet menus and they were amazingly delicious. My friend ordered that, the price was over 1000 yen and the size was the same as the rice bowl of the picture above >_< I tried a teeny tiny small bite of the meat, and it did melt inside my mouth (drooling-red).

My other friend ordered a chicken ramen and fortunately this time, the portion was big!

The chicken ramen

The chicken ramen

I tasted it also and it was very tasty and authentic. So if you are very hungry at the time you come to this restaurant, I recommend you to try the ramen. Where else we could find halal ramen, right?

Good: the service is good, the waiters are nice, the foods are delicious, and the place is cozy.

Not-so-good: because the location is not so close from the station, and the portions are not so big, all of us already felt hungry again after we were back to the station 😛 Even some of my friends planned to eat again at another restaurant!

Tokyo Chinese Muslim Restaurant

Chinese food – 2 minutes walk from Kinshicho station, south exit

In front of the entrance

In front of the entrance

They have sooooo many variations of food you could imagine and most of them are under 1000 yen. I came here with my husband and we took so long to choose the meals. We finally decided to order a kind of chicken menu, a kind of vegetable menu (we chose stir-fried eggplant with their special sauce), a beef skewer, a lamb skewer, and aone portion of their famous vegetable dumpling.

Our orders before the dumplings came

Our orders before the dumplings came

The vegetable dumplings

The vegetable dumplings

You can spot the different of their rice portion and Ippin’s rice portion, can’t you? And for all of these, we only have to pay 3000 something yen!

We just love them too much

We just love them too much

Good: Very near to the station, the portion of the foods are big, taste yummy and satisfying, have many kinds of variations you can choose, and they even have a small praying space. This restaurant is absolutely my favorite and I want to go back since there are still so many foods I haven’t tried yet 🙂

IMG_0390

Praying space for one people

Not-so-good: While we were there, there were only two other guests beside us, and after they finished cooking our orders, the cooks slept on one empty table (when I said slept here means literally laying their body down on the chairs), and the waitress ate on another empty table. I understand that they must be really tired, but I think this was not a very good attitude in front of customers. This is forgivable but I hope they won’t do the same things in the future.

Sekai Cafe

International food – Asakusa station, 50 meters walk from Kaminarimon

This cafe was just open on November 11th, 2014 ago. It is very easy to reach and exactly inside the crowd of Asakusa and Sensoji Temple. Just as its name, (sekai means world in Japanese), this cafe provides not very specific kind of food, so let’s say it provides international foods.

Since its location is inside the main attraction of Asakusa, adding the fact that it provides halal foods, it is understandable that the price is rather expensive for just a cafe. And unfortunately, they don’t have many variations of menu.

I went here with my husband and one of his friend. So when we were contemplating thinking which menu we should choose (among those not so many options), we thought that because the price of yakisoba and grilled lamb is the same (1000 yen), the yakisoba must be in a giant portion, and there might be some chops of chicken or meat inside it. But, when it came, not only the portion is so-so, the taste was not exceptionally delicious, and there were only noodles, salt, and paprika inside it. I just wasted my 1000 yen for 250 yen raw noodles I could buy at the supermarket and I could cook by myself!! 😦 T_T

My husband and his friend ordered the grilled lamb with focaccia bread (1000 yen also). I can say that the price is acceptable since the meat portion is quite big and it didn’t smell bad as usual lamb. But acceptable here doesn’t mean that we want to order the same thing in the future (maybe).

We also ordered two kinds of smoothies, strawberry and apple pie, 500 yen each, inside 200 ml glass bottle. I still feel they were pricey for that size, but I did accept it since the smoothies tasted yummy and refreshing. But again, I might don’t want to order it for the second time.

Left: Apple pie smoothies, right: strawberry smoothies

Left: Apple pie smoothies, right: strawberry smoothies

Our orders

Our orders

Good: the location is easy to find, the place is cozy and youthful, the service is good, and we thought we met the owner at that time, and the owner was very nice, and he even informed us another halal restaurant around Asakusa. Another good thing is, when we were there, there was a Muslim waitress (she wore hijab). I guessed she’s from Malaysia, and I was right when I talked to her. On her apron, there was a sign with “Sorry, I can’t touch beer” written on it! I really appreciate this detail and I do hope other Halal restaurants will do the same thing from now on 🙂

Not-so-good:

Still about the waitress, at the first time I talked to her, I tried to speak in Malay language, since I felt we are neighbor, no need to talk in other languages. But she couldn’t reply with Malay, too. Maybe she was surprised or nervous, she looked confuse and in the end only answering with one or two words and very soft voice. On the second attempt, I tried to ask her in Japanese, because I think she must be good in Japanese since she’s working there, right? I was only asking what inside their pizza menu is, but she couldn’t explain in Japanese, too. In the end she answered with English. When she brought our dishes to our table, she looked very confuse where to put the plate, fork, and knife. I can see that she must be a trainee, and I accept her nervousness. I just want to say good luck for her and don’t be afraid of costumer’s questions 🙂

Another not-so-good point of this cafe, there is no detail explanation of what’s inside every menu, and not all menu have picture of them. When I was there, there was a sign of “today’s special pizza”, and “vegetable pizza”, but when I asked the waitress what’s inside the “today’s special pizza”, she said that they only have one kind of pizza. So I find that pizza sign is confusing and they’d better not to write two kinds of pizza if they only have one kind.

However, I want to give my sincere appreciation to this cafe, since they respect the fact that Muslim not only can’t drink beer, but we also can’t touch it. I hope they can improve their services, add some more menu, and add the specialty or their signature to every menu so that even if we have to pay a bit more expensive, we will still feel very satisfy after eating them. I do hope the best for Sekai Cafe in the future! 🙂

*****

So that’s gonna be all for this review. I hope you find this helpful to know more options of halal restaurants in Japan, and I somehow hope the management of the restaurants I mentioned here read this review by accident, so that they can improve their services to the customers 🙂