Category Archives: Sharing

Day 11: What If…

Standard

Udah hari ke-11, saya makin bingung harus mengawali setiap postingan dengan kalimat apa 😀 Tapi alhamdulillah, nggak nyangka, ternyata saya masih semangat menulis hingga hari ke-11 ini 🙂 yay!

Tema hari ini adalah, “sesuatu yang kita selalu merasa “kalau aja…”” Hmm..sejujurnya, banyaakkk banget yg saya kepikiran “kalau aja” ini >< Duh, emang ya manusia, selalu aja ga puas sama apa yg dimiliki, selalu aja rumput tetangga kelihatan lebih hijau 😦 Saya sadar sih kita seharusnya nggak boleh seperti ini. Rasulullah sendiri melarang umatnya untuk berandai-andai bukan?

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Jadi selama ini sih, meskipun ada selentingan perasaan ”kalau aja” di hati saya, saya selalu berusaha menyingkirkannya. Karena saya juga merasa, kita sebagai manusia tidak pernah tahu yg mana yg terbaik untuk kita. Segala yg terjadi di hidup kita, sudah pasti atas takdir Allah semata.

Jadiiii…supaya postingan ini nggak tersia-sia, saya mau ngebalik deh konotasi “kalau aja”-nya 😀 Bukan “kalau aja saya begini”, tapi “kalau aja saya nggak begini”, kayaknya akan lebih menimbulkan semangat positif ya 🙂 Mudah-mudahan… 🙂

Yang pertama, kalau aja saya nggak sekolah SMA di MAN Insan Cendekia Serpong (IC), kayaknya saya nggak akan tahu gimana saya bisa mewujudkan impian saya buat melihat salju, karena kalau saya nggak sekolah di IC, saya mungkin ga akan tahu informasi beasiswa sekolah di luar negeri.

Yang kedua, kalau aja saya nggak kuliah di ITB, saya mungkin juga ga akan bisa bener-bener sampai ke Jepang, karena dengan saya berkuliah di ITB, saya jd bisa les bahasa Jepang di BLCI yg notabenenya deket kampus, jadi ketemu sama temen-temen yg juga tertarik buat ke Jepang, jd punya pengalaman nge-guide mahasiswa Jepang, dan lain sebagainya. Dan kalau saya nggak kuliah di ITB, saya juga ga akan ketemu sama suami saya ><

Yang ketiga, kalau aja saya nggak ke Jepang, saya mungkin ga akan pernah nyadar bahwa bumi Allah itu luaass banget >< Saya mungkin ga akan ketemu temen-temen luar biasa yg banyak menginspirasi. Saya mungkin nggak akan ketemu temen-temen Monbusho yg foreigner, yg walaupun bukan Muslim tapi sangat sangat menghormati keterbatasan saya sebagai seorang Muslim :’) Wah, kalau saya disuruh ngelist hal-hal yg saya syukuri dengan rejeki Allah mencicipi Jepang kemarin, kayaknya akan butuh postingan tersendiri :’)

Untuk saat ini, saya mau mensyukuri dulu kembalinya saya ke Indonesia. Walaupun culture shock (sebagian besar temen saya yg kembali dari Jepang ke Indonesia rata-rata merasakan yg sama 😛 ), tapi di mana pun sama-sama di bumi Allah kan? Yang penting, apa pun aktivitas kita, dapat memberikan keberkahan bagi diri sendiri maupun sekitar. Lagipula, walaupun Indonesia ini semrawut, kalau dibandingkan dengan negara konflik, masih jauh lebih mending kan? Kita masih bisa tidur tanpa ketakutan akan melihat matahari lagi nggak besok 😥

Baiklaahh..demikian kontemplasi hari ini. Sampai ketemu di postingan hari berikutnya :’)

Day 6: Five Ways to Win My Heart

Standard

Hello, everyone!

Today’s theme is, as you’ve might known from the title, five ways to win my heart. Umm, actually, I am bit confused with the term “win” here. Is it supposed to be winning in a romantic way, I mean like attraction between man and woman? Or just in general? Because I think what a friend did to me can win my heart too. But finally, I decided to write about winning in a romantic way (even though I am married now so who cares 😄 ), just because 😛

Care. It doesn’t have to be necessarily care about me solely, but about other people too.For example, before speaking, he always think whether it will hurt other people’s feeling or not. Or, care to tell his girl friends (not girlfriend) to not going home late, and if they do, he makes sure they go home with some other people to ensure their safety.

Remember small details. I think I mentioned before that I don’t have very good memory about particular episodes in my life, but, if I am attracted to someone, I will remember every detail about him. So I expect he also remember small details about me, or something I’ve ever told him.

Click in conversation. We don’t have to be having similar interest or hobby, but you know you had a good conversation when you didn’t notice where time has gone, right?

Initiative. Initiative to help even though he is not asked to, or initiative to apologize even if he knows he did nothing wrong 😛

Well-groomed. It shows that he has good manners toward others, because he doesn’t want other people to see him in untidy appearance.

*****

For boys who read this list, I hope you find it helpful for you to win your lady’s heart 😀

Day 4: Someone Who Inspires Me

Standard

Halo, semua!

Maaf ya, saya nggak ngepost apa-apa selama 2 hari kemarin. Kebetulan ada acara seharian terus, dan lagi pengen family time juga, jadi sengaja nggak buka laptop kecuali mendesak banget 🙂

Oke, masih melanjutkan 30 day writing challenge, hari ke-4 ini temanya adalah seseorang yang menginspirasi. Sejujurnya, banyak banget orang yg menginspirasi saya dalam hidup saya. Setiap orang tersebut menginspirasi dengan value mereka masing-masing. Tapi karena disuruh menuliskan satu saja, saya mau menuliskan tentang orang ini. Bukan berarti dia paling menginspirasi saya dibanding yg lainnya. Hanya saja, dia yg menginspirasi saya akhir-akhir ini.

Namanya adalah Muhammad Al Fatih, seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Konstantinopel. Kalau mau baca profil dan sejarah lengkapnya, banyak kok, ada di wikipedia. Kalau saya tulis di sini, nanti jadi kayak mengulang isi wikipedia, jadi googling sendiri aja ya 🙂

Saya pribadi ngefans banget sama beliau karena beliau adalah seorang pakar di berbagai bidang (seperti sains, matematika, dan peperangan) dan menguasai banyak bahasa pada usia sangat muda. Kalau aja saya tau kisah beliau dari saya kecil, mungkin saya bakal lebih rajin dalam les yg dulu saya ikuti. Saya sendiri adalah orang yg sangat suka mempelajari bahasa. Dulu waktu kecil saya les bahasa Prancis, tapi kemudian terputus di tengah jalan karena susah hehe. Kemudian, karena saya SMA di madrasah, saya jadi belajar bahasa Arab. Alhamdulillah karena belajar bahasa Arab, saya merasa jadi lebih mudah menghapal Al Qur’an, karena kita tahu yang mana subjek, predikat, objek, jadi menghapalnya seperti menghapal cerita. Lalu, waktu kuliah saya juga belajar bahasa Jepang. Alhamdulillah, kemampuan bahasa Jepang ini yg masih terpakai sampai sekarang. Terus karena saya suka nonton drama korea, saya jadi bisa baca hangeul. Dan karena grammar Korea itu sama persis dengan Jepang, saya jadi agak paham bahasa Korea (bukan berarti bisa, hanya sekadar tahu susunan subjek, predikat, dan objeknya. Hehe).

Terus saya juga les renang, tapi  putus juga di tengah jalan karena nggak mau badannya gosong kena matahari 😀 Nyesel banget nggak nerusin les renang, padahal itu kan salah satu keterampilan yg dianjurkan dalam hadits 😦 Alhamdulillah sih sampai sekarang masih sekadar bisa ngambang dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain kalau di kolam renang. Hehehe.

Karena saya ngefans sama Al Fatih inilah saya memberi nama anak saya Fatih (nama lengkapnya Abizar Fatih Pratama, panggilannya Abizar sih bukan Fatih-nya), karena saya ingin anak saya mencontoh Al Fatih. Saya tahu dan paham, kita sebagai orang tua tidak boleh memaksakan kehendak anak. Jadi saya nggak akan memaksa Abizar untuk belajar bahasa ini itu atau les ini itu kalau dia memang nggak suka. Tapi saya ingin Abizar mencontoh semangat Al Fatih dalam membekali diri dengan berbagai keterampilan. Dan biarkan Abizar sendiri yg memutuskan mau ahli di keterampilan yg mana yg dia suka, selama itu positif.

Nah sekian cerita tentang orang yg menginspirasi saya. Sampai ketemu di postingan hari ke-5!

Day 3: My Top Three Pet Peeves

Standard

Yay! Ever since I read the list of 30 day writing challenge titles, I knew what I want to write for this one right away. It is as easy as abc!

Oh and FYI, according to https://www.merriam-webster.com, pet peeve is something that annoys or bothers a person very much.

Ok, so here they are..

SPOILERS. Ugh I hate spoilers to the bottom of my heart. And it happened just last night! As a witch trapped in a Muggle body Harry Potter geek, I read not only the book but also Pottermore, Harry Potter wikia, and sometimes I watch YouTube videos about HP facts. Last night, when I was watching a video about Fantastic Beasts, without warning, the people on the video spilled an important plot of The Cursed Child! I haven’t even finished reading the book yet 😦 Before this, when I was reading a fact about The Malfoys, I also accidentally bumped into an important fact that will be revealed on The Cursed Child book. Whoever reading this, please don’t spoil anymore thing from The Cursed Child… ><

cursed-child

Thanks to my best friend, Wia, who gave this as a birthday present for me straight from the UK 🙂

TARDINESS without effort to be punctual. I accept tardiness with a credible reason, but some people just don’t value punctuality that much. Even when I was studying in Japan (a country famous for its punctuality), one of my lab mates was always late to our lab meeting. He is a kind person, but he’s just always late. And the other lab members sometimes talk about his habit behind him. You do know some of your friends who are always late, don’t you?

People DISCUSSING ABOUT MOVIE they are watching inside the theater. Hello, there are other people who are also watching the same movie around you. Can’t you just talk inside your head? -_- And sometimes they also spill some of their knowledge about the movie! Ugh 😦

What are your pet peeves? Do you have the same ones as me?

Day 2: Something That Someone Told Me About Myself That I Never Forgot

Standard

Halo, teman-teman!

Hari kedua ini temanya adalah menuliskan tentang “perkataan seseorang tentang saya yg tidak pernah saya lupakan”. Waduh, baru hari kedua aja udah susah temanya >< Jujur, saya ini memiliki ingatan seperti Dory di Finding Nemo. Hehe, tidak sependek itu sih, tapi saya bukan orang yg mudah ingat hal-hal kecil atau obrolan yg hanya selintasan. Jadi susah sekali untuk saya mengingat-ingat perkataan orang tentang diri saya.

Akhirnya, setelah saya menggali-gali ke lubuk memori saya yang terdalam, saya jadi ingat suatu kejadian yg agak membekas, yg tanpa saya sadari, it shaped how I am today. Kejadian ini bukan kejadian yg cukup positif, jadi sebenarnya saya tidak ingin terjebak di nostalgia hal ini mempengaruhi sikap saya. Well, at least I’m working on it right now.

Sebagai prolog, saya bukan orang yg hobi masak. Bukan berarti saya tidak bisa masak sama sekali, saya hanya tidak merasakan kenikmatan dalam aktivitas memasak. Saya masak, ya hanya supaya suami saya bisa makan 😀 Tapi alhamdulillah, kalau masaknya sambil melihat resep, rasa masakan saya lumayan lah. Cukup untuk nambah sepiring lagi, hehe.

Suatu masa dalam hidup saya, saya masak suatu makanan. Kemudian saya mengundang beberapa orang makan bareng. Kalau diingat-ingat, itu sepertinya pertama kali saya mengundang orang makan hasil masakan saya. Berarti mestinya saya pede dong ya dengan masakan saya saat itu. Dan saya ingat juga, saya udah beberapa kali masak menu tersebut dan setiap saya masak selalu seperti itu dan perasaan saya sih makanan itu kalau dimasak ya harusnya memang kayak gitu (halah belibet).

Eh tapi nggak disangka-sangka, orang yg saya undang itu komentar seperti ini, “kok ini-nya keras sih?” di depan orang-orang. Waaa, langsung lah hancur hati saya berkeping-keping. Sejak saat itu, saya jadi trauma masak makanan itu lagi, dan saya juga trauma mengundang orang untuk makan masakan saya >< Saya yg memang sudah dasarnya nggak hobi masak, jadi makin ga pede untuk masak lagi 😦

Saya jadi teringat Rasulullah yg tidak pernah berkomentar kurang baik pada suatu makanan. Jika tidak suka, ya diam saja. Ternyata memang dampak psikologisnya lumayan yah. Saya sendiri mengalami sampai trauma hehe. Kalaupun memang ada yg kurang dan ingin memberi masukan, ada baiknya disampaikan di saat tidak ada orang lain dan juga pastinya dengan bahasa yg tidak menjatuhkan.

Yah demikianlah ceritanya. Setelah dibaca-baca lagi, jadi kayak bukan “about myself” yah, tapi lebih ke “perkataan orang yg memorable bagi saya”. Soalnya kalau yg “about myself” banget, rata-rata orang komentar yg sama tentang saya, seperti saya orangnya terencana, rapi, golongan darah O yg menjelma jadi A, dan yg semacamnya. Karena banyak yg bilang seperti itu ke saya, jadi bukan sesuatu yg hanya terjadi sekali dan teringat terus.

Semoga besok masih konsisten nulisnya. Perjalanan masih panjang! 😀

Menanggapi Ajakan Minum-minum

Standard

Ajakan minum-minum atau nomikai rasanya adalah suatu keniscayaan yang akan kita hadapi ketika kita tinggal di Jepang. Nomikai memang tidak bisa dipisahkan dari budaya Jepang. Bagi orang Jepang, nomikai merupakan sarana untuk melepas lelah dan bergaul dengan leluasa. Hampir semua acara pertemuan disandingkan dengan nomikai, sebagai contoh: pesta akhir tahun, acara penyambutan murid baru di lab, acara kelulusan, acara perpisahan, dan bahkan acara santai semacam camp bersama teman lab pun kemungkinan besar akan ada acara nomikai malamnya. Contoh-contoh ini nyata dan berasal dari pengalaman saya sendiri, yang akan saya ceritakan lebih lengkap di bawah.

Menurut cerita yang saya dengar dari mereka yang pernah menghadiri nomikai, orang Jepang biasanya lebih ceria, terbuka, dan mudah bercanda jika mereka berada dalam keadaan sedikit mabuk. Itulah mengapa nomikai bagi mereka (orang Jepang) adalah cara untuk mingle dengan kolega-kolega mereka.

Lalu, bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim?

Hmm, memang sih membicarakan nomikai ini rasa-rasanya agak sensitif >_< Saya yakin pasti banyak di antara teman-teman yang sebetulnya merasa jengah jika harus kumpul-kumpul dengan mereka yang minum-minum. Tapi karena merasa nggak enak menolak ajakan teman lab, sensei, atau bos, jadi terpaksa datang. Padahal di hati ada perasaan risau dan nggak nyaman. Tidak apa-apa, jika teman-teman sudah merasa risau, itu pertanda bagus, artinya solat teman-teman tidak sia-sia 🙂 Karena solatlah yang mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, dan solat juga yang membedakan orang muslim dan orang kafir.

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

“Barang siapa yang menjaga sholat maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan di Hari Kiamat, dan barang siapa yang tidak menjaga sholatnya maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada Hari Kiamat dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang baik, jayyid.)

Perasaan risau ketika merasa sudah melakukan dosa itulah ‘cahaya’ yang Allah janjikan 🙂

Mengenai bagaimana hukumnya dalam Islam, karena saya bukan ahli fiqh, pertama-tama, silakan baca di tautan berikut ini mulai halaman 11.

Dari artikel di atas, sudah jelas yaaa dapat disimpulkan bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim menghadiri acara di mana disediakan minuman keras di acara tsb.

Tips menghindarinya

Saya sendiri pun tak luput dari undangan menghadiri acara serupa. Dari awal saya datang ke Jepang, saya sudah diajak nomikai sebagai penyambutan mahasiswa baru. Sebenarnya saat pertama saya datang ke sini, saya belum pernah baca artikel di atas. Jadi saat itu saya cuma bertanya-tanya ke senior yang sudah lebih dulu berada di Jepang, bagaimana sikap mereka saat diajak nomikai. Di antara  yang saya tanya ada yang tetap datang namun tidak minum, ada pula yang bilang datang di awal tapi  pas mereka mulai minum-minum pamit duluan.

Saya sendiri saat ajakan pertama itu, saya menolak datang dengan cara yang halus, begini caranya. Jadi sebelum menentukan tanggal, panitia acara meminta calon peserta acara untuk mengisi voting online waktu-waktu di mana kami kosong. Simpel saja, dari hasil voting online tersebut, akan dipilih waktu yang paling banyak pemilihnya. Ketika itu, saya bilang ke panitianya, “Karena saya nggak bisa minum-minum, tidak perlu menunggu voting dari saya.” Tapi saya TIDAK bilang “Saya akan ngikut hasil terbanyak.” Kemudian ketika hasil voting telah keluar, saya bilang “Wah mohon maaf saya sudah ada acara pada waktu tersebut” dan lalu saya mencari-cari hal yang bisa saya lakukan pada waktu tsb supaya saya nggak bohong 😀 (Boleh disontek lho cara ini 😀 )

Saya memutuskan untuk speak up

Lambat laun mereka tidak pernah lagi mengajak saya ke acara nomikai. Saya pun mulai merasa tenang 😀 Sampai suatu ketika, lab saya mengadakan acara camp rutin setiap musim panas. Di acara camp ini, semua anggota lab saya plus sensei akan menginap di cottage atau ryokan di pedesaan Jepang. Akan ada acara belajar bersama, diskusi, dan juga acara santai-santai seperti main kembang api dan jalan-jalan di sekitar ryokan. Saya sendiri sebenarnya sangat menikmati acara camp ini, karena saya jadi ada alasan untuk jalan-jalan ke daerah Jepang yang lebih tenang dan melihat pemandangan pengunungan, sawah, sungai, maupun pedesaan yang jarang bisa saya lihat sehari-hari. Dan juga kegiatan diskusi menjadi tidak bosan dengan adanya suasana baru.

Camp ini berlangsung selama 3 hari 2 malam dan jadwal acara baru dibagikan saat hari H. Siang hari selalu digunakan untuk belajar, dan malam hari selalu digunakan untuk acara santai. Malam pertama jadwalnya adalah main kembang api, dan malam kedua jadwalnya adalah…bisa ditebak, nomikai.

Nah loh, bingung kan saya. Kalau saya lagi nggak berada di tempat yang sama dengan mereka saya sih bisa menghindar dengan bilang ada acara lain seperti yang udah saya ceritain di atas. Tapi ini keadaannya saya kan berada di atap yang sama dengan mereka, mau menghindar ke mana saya? >_<

Saat itulah saya mendapat artikel yang saya berikan link-nya di atas. Alhamdulillah ya artikel itu datang di saat yang tepat. Setelah membaca artikel itu, saya pikir sudah tidak perlu lagi saya mencari-cari alasan untuk menghindari acara nomikai. Just ‘simply’ because I am a Muslim, I don’t attend an event where alcoholic drinks are served. Saya benar-benar merasa sudah saatnya saya speak up sekaligus memberikan pernyataan jelas kepada teman-teman lab saya, orang seperti apa saya.

Akhirnya sebelum malam di mana nomikai itu tiba, saya bilang ke teman-teman lab saya, “Mohon maaf ya saya nggak ikut kumpul-kumpul malam ini. Sebetulnya, saya tidak boleh menghadiri acara yang ada minuman kerasnya.” Tentu saja mengumpulkan nyali untuk bilang ini tidak mudah, namun jawaban teman-teman lab benar-benar membuat saya lega. Ternyata mereka menanggapi pernyataan saya simpel aja, “Oh ya? Wah maaf banget ya kami nggak tau. Terus kamu mau ngapain sekarang?” Saya bilang saja, “Nggak apa-apa kok, saya di kamar aja.” Lalu mereka bilang lagi, “Oh ya udah kalo gitu. Tapi kamu nggak apa-apa sendirian? Selamat tidur ya.”

Udah. Beres.

Ternyata sesimpel itu aja yang harus kita lalui untuk menghindari acara nomikai. Tinggal bilang kita nggak bisa hadir, kemudian tinggal masuk telinga kanan keluar telinga kiri apa pun tanggapan mereka >_<

Beberapa hal yang menjadi penguat saya

Mungkin banyak di antara temen-temen yang baca ini yang bilang saya berani banget ngomong gitu di depan semuanya. Pertama-tama, tentu saja alhamdulillah, laa haulaa wa laa kuwwata illa billah. Hanya Allah pemberi kekuatan. Dan sebenernya sebelum saya bilang itu saya pun deg-degannya ampun-ampunan kok >_< Banyak yang saya pikirin sebelum akhirnya saya memutuskan udahlah biarin aja dianggap aneh, pokoknya saya nggak mau dateng ke acara nomikai dan saya harus bilang itu. Mungkin alasan-alasan di bawah ini bisa dijadikan inspirasi oleh teman-teman semua.

Satu. Kita mulai dari yang sederhana dulu. Jika kita menghadiri nomikai, kita harus patungan untuk konsumsinya. Patungan ini biasanya berkisar antara 3000-5000 yen. Dan bisa ditebak ke mana sebagian besar uang itu dipakai? Ya beli minuman keras. Bayangin kita bayar 3000 yen tapi cuma bisa minum jus padahal jus itu bisa dibeli di mini market harganya 100 yen-an sekotak. Rugi banget kan >_<

Lagipula disebutkan juga dalam sebuah riwayat

“Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

(Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/10/10/minuman-keras-dan-narkoba-arakkhamar-itu-haram/)

Jadi, sudah jelas juga jangan sampai uang kita digunakan untuk membeli minuman keras. Pokoknya jangan deket-deket dan jangan berhubungan deehh sama minuman keras >_<

Dua. Di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita di dunia SENDIRIAN. Ya, sendirian. Nggak akan ada temen-temen lab dan sensei kita yang akan belain kita karena udah ngajak kita ke acara nomikai >_< Impact dari ketidakikutan saya dalam nomikai ini sih nyata banget, saya dan temen-temen lab saya jadi nggak terlalu dekat dan nggak kayak temen banget. Tapi ya sudahlah, saya mengambil resiko nggak terlalu deket dan nggak punya temen daripada saya harus mendapat dosa yang sama seperti minum-minum (dengan menghadiri acara nomikai) hueee takut bangeett. Yang pasti, kita masih bisa kok berbuat baik sama temen-temen lab. Insya Allah kita ga akan dicap buruk hanya karena nggak ikut nomikai 🙂 Kalo dicap aneh sih…sudah biasa hehehe

Sikap positif orang Jepang

Alhamdulillah bangeettt setelah saya bilang kalo saya sebenernya nggak bisa menghadiri acara nomikai, ternyata temen-temen lab dan sensei saya sangat-sangat menerima kok. Saya tidak tahu apakah saya bisa men-generalisasi atau nggak tapi orang Jepang itu sangat toleran terhadap kepercayaan yang kita anut. Kalau kita sudah bilang saya nggak makan ini atau itu, mereka nggak akan mengganggu gugat. Kemudian mereka akan konsisten membantu kita menghindari apa yang nggak bisa kita makan itu. Ini yang membuat saya benar-benar kagum sama orang Jepang. Kalau sudah mengetahui suatu peraturan, mereka pasti akan menjalaninya.

Berikut ini, saya mau cerita pengalaman saya lagi setelah saya speak up.

Tahun ini tibalah juga saatnya acara perpisahan saya dengan lab saya, karena masa studi saya telah selesai. Acara perpisahan ini juga rutin tiap tahun dan tahun-tahun lalu selalu diadakan di izakaya a.k.a bar-nya orang Jepang. Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah ikut, tapi tahun ini tidak mungkin kan saya tidak ikut padahal saya yang diperpisahkan?

Akhirnya saya coba komunikasikan kebimbangan saya tentang acara perpisahan ini ke salah satu lab member saya. Tersebutlah seorang temen cewek berinisial W-san, orang Jepang. Saya bilang, “W-san, saya kan ga bisa ikutan acara nomikai. Kalo nanti perpisahan ada acara nomikainya, mohon maaf lagi ya saya tidak bisa ikut. Tapi saya tetep pengen ada acara perpisahan sama temen-temen lab. Apa di waktu lain saya masak-masak aja trus kita makan-makan di lab?”

Ternyata oh ternyata, alhamdulillah W-san nya bilang gini, “Oh tenang aja Nadine-san, kita ga akan ngadain di izakaya kok. Malah kita mau ngadain di Ali’s kebab (salah satu restoran halal di Tsukuba). Gimana?”

Jelas saja saya sangat berterima kasih, tapi FYI, tidak semua resto halal bebas alkohol, dan di Ali’s kebab ini tetap disediakan alkohol walaupun resto halal. Jadi saya bilang ke W-san lagi, “Wah iya terima kasih banget kalo mau ngadain di Ali’s kebab. Tapi nanti kalau sudah mau mulai acara minum-minumnya saya pulang duluan ya.”

Dan W-san nya malah bilang lagi, “Oh ga apa2 kok, Nadine-san. Nanti ga akan ada minum-minum.”

Dan benar saja, alhamdulillah acara perpisahan untuk saya (dan mahasiswa tahun terakhir lainnya) telah terlaksana bulan Februari lalu, dan berhasil dilalui tanpa ada acara minum-minum.

Begitulah orang Jepang, mereka sangat mudah untuk patuh terhadap peraturan. Bahkan dalam kondisi acara perpisahan kemarin ini, mereka semua mau mengalah terhadap kebutuhan saya atau hal yang saya anut meskipun saya hanya satu orang di antara mereka >_<

Yang penting adalah komunikasi bukan kompromi

Jadi ternyata, setelah saya memberanikan diri menolak ajakan-ajakan nomikai dari mereka, saya jadi menyadari bahwa ketakutan atau perasaan nggak enak nolak itu murni hanya asumsi kita saja.

Sebagai muslim kan kita memiliki peraturan yang tidak bisa dikompromikan, namun, jika kita sudah berusaha meng-komunikasikan dengan baik, insya Allah mereka pasti akan menerima dan bahkan membantu kita mematuhi peraturan itu lho.

Tetapi ketika sedang berusaha mengkomunikasikan, usahakan ada alternatif dari kita, sehingga menunjukkan bahwa kita tak hanya ingin dimengerti, tapi yuk sama-sama bikin acara yang saya bisa ikut dan mereka pun bisa menikmati. Misalnya kasus saya tadi ketika menawarkan untuk memasak di acara perpisahan. Jika sudah demikian, mereka pasti juga akan melihat usaha kita untuk mendekat ke mereka.

Semoga temen-temen semua juga diberikan kemudahan dan kemantapan hati untuk bisa selalu menjalankan syariat-Nya meskipun sedang menjadi kaum minoritas, ya. Aamiin 🙂

Hal-hal di Indonesia yang Bisa Bikin Kaget Orang Jepang

Standard

Rasanya tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa Jepang merupakan salah satu negara yang penduduknya sangat-sangat mematuhi peraturan. Pemahaman bahwa peraturan yang dibuat itu adalah untuk kepentingan bersama memang sudah ditanamkan sejak dini. Di Jepang, pendidikan utama terhadap anak-anak bukanlah calistung, melainkan pendidikan moral, seperti membiasakan mengurus diri sendiri, budaya mengantre, mengucapkan maaf dan terima kasih, dan lain-lain. Akibatnya, tidak mengherankan jika Jepang memiliki tingkat kriminalitas yang rendah (walaupun tidak nol sama sekali).

Sebelum saya tinggal di Jepang 3 tahun lalu, saya sempat beberapa kali berkenalan dengan orang Jepang yang sedang berkunjung ke Indonesia, lebih khususnya ke Bandung. Saya pun sempat mengantar teman-teman Jepang saya itu bepergian selama di Bandung. Ketika berjalan-jalan dengan mereka, sempat beberapa kali teman saya itu melontarkan kekagetan terhadap yang ia lihat di jalan raya 😄 Dulu saya pikir dia kaget hanya karena tidak terbiasa melihat yang ia lihat itu di Jepang. Saya pikir, wajar saja jika terdapat beberapa perbedaan antar satu negara dengan negara lain. Dulu bahkan saya sempat merasa bangga lho dengan ‘keunikan’ Indonesia ini. Namun, setelah saya merasakan tinggal di Jepang dan mau tidak mau jadi ikut mematuhi peraturan di Jepang, saya jadi malu sendiri kalau ingat hal-hal berikut ini yang masih sering sekali terjadi di Indonesia.

Jarak antar kendaraan

Seperti yang kita semua tahu, di Indonesia jarak antar kendaraan di jalan raya sangatlah mepet. Pokoknya selama masih ada space, sayang banget kalo nggak diisi. Kita semua juga tahu bahwa sebenarnya ini sangat-sangat berbahaya. Bagaimana jika terjadi sesuatu di depan kita yang mengharuskan kita menyetir mundur kendaraan kita, sementara jarak kita dengan kendaraan di belakang terlalu dekat? Berbahaya sekali kan >_<

Di Jepang, jarak antar kendaraan sangatlah jauh. Saya kurang paham sih standarnya harus bereapa meter, tapi kalo saya perhatikan jaraknya antara setengah sampe satu buah mobil. Dan bahkan motor aja nggak nyelip di antara mobil atau berhenti di samping mobil. Motor dan mobil berada pada satu garis lurus yang sama. Nggak heran waktu temen saya orang Jepang yang saya ajak jalan-jalan di Bandung naik mobil dulu sampe kaget banget ketika tiba-tiba ada motor yang stop di samping mobil saya 😀

Naik motor lebih dari 2 orang

Mungkin kita maklum kalau ada orang Jepang yang kaget motor di Indonesia dinaiki oleh 3 orang, dan bahkan kadang-kadang ada anak kecil yang duduk di depan bapaknya yang lagi nyupir motor. Tapi ternyata, orang Jepang kagetnya lebih-lebih karena di Jepang sendiri, motor itu hanya diperuntukkan bagi satu orang. Jadi panjang jok untuk duduknya itu hanya cukup untuk satu setengah orang, yang setengahnya lagi biasanya untuk naroh barang.

Di Jepang, sepeda (maupun motor kalau tidak salah) terlarang dinaiki oleh dua orang. Untuk sepeda saya yakin 100% terlarang, tapi untuk motor sebenarnya saya belum crosscheck lagi secara hukum, tapi begitulah yang saya dengar. Dan memang saya belum pernah melihat orang berboncengan naik motor di jalan raya, plus ukuran joknya tadi yang memang tidak memungkinkan bagi dua orang.

foto motor jepang

Foto motor di parkiran kampus. Kecil kan joknya 😀

Tidak memakai helm

Untuk yang satu ini bahkan bagi orang Indonesia aja sebenernya sudah merupakan isu yang sering dibahas. Harusnya kita tahu ya bahwa helm itu bukan sekedar aksesoris dalam perjalanan, namun untuk kepentingan kita sendiri. Saya sendiri heran kenapa ada orang yang bisa dengan sok gagahnya naik motor tanpa helm walaupun dekat. Kalau memang ga mau pake helm dalam jarak dekat, kenapa ga jalan kaki aja sih? Kan katanya dekat? Sepertinya sosialisasi akan pentingnya helm masih jadi PR untuk kita semua ya…

Seorang temen Jepang saya bener-bener pernah sampe berkali-kali bilang “it’s very dangerous”  waktu melihat beberapa pengendara motor Indonesia yang tidak memakai helm di jalan raya. Pasti mereka heran banget ya sama Indonesia kok bisa se-ngegampangin itu sama peraturan yang padahal untuk kepentingan sendiri. Sayangnya, mungkin sanksi yang diberikan jika tidk memakai helm belum cukup membuat jera. Ditambah lagi penegakan hukum yang belum tegas merata di semua daerah. Tidak seperti di Jepang, kalau denda sekian ya bener-bener harus dibayar sekian itu.

*****

Kayaknya kalau membandingkan Indonesia sama Jepang memang terlalu jauh ya >_< Mungkin beberapa puluh tahun lagi Indonesia baru bisa menyamai Jepang dalam sisi penegakan peraturan. Tapi gak apa-apa, yang penting kita nggak boleh menyerah dalam menyampaikan kebenaran. Minimal dari diri sendiri, lalu keluarga kita sendiri 🙂