Category Archives: Japan

Day 13: Thing I am Excited About

Standard

Sebenernya saya agak bingung, apa ya bedanya “thing I am excited about” dengan “things that make me really happy”. Toh keduanya sama-sama membuat senang atau bersemangat 😀 Karena buat saya yg membuat saya senang itu ya otomatis membuat saya semangat, begitupun sebaliknya 😀

Mungkin temen2 di sini yg sudah ngikutin 30 day writing challenge ini dari awal, sudah cukup hapal dengan beberapa hobi saya, yaitu traveling dan making itinerary. Basically, hal-hal inilah yg selalu membuat saya bersemangat dalam menyongsong hari-hari saya #eeaa. Ketika saya tahu saya akan berlibur ke suatu tempat, maka mulai dari persiapannya hingga hari demi hari menuju the D-Day itu benar-benar penuh dengan penantian yg menggembirakan.

Namun, rasa-rasanya saya sudah cukup sering dan banyak mengupas tentang hobi jalan-jalan ini, sehingga sepertinya sudah tidak ada yg bisa dituliskan lagi (untuk saat ini). Akhirnya, setelah berpikir keraass, saya menemukan juga hal yg membuat saya bersemangat namun tidak otomatis membuat saya senang. He he. Karena hal yg membuat bersemangat ini terkadang juga penuh dengan aral lintangan serta cobaan berliku. Eeaa.

So without further a do, here it is…

Baru-baru ini saya menemukan hobi baru mencoba membangkitkan kembali hobi lama saya yaitu berjualan. Awalnya saya kira berjualan itu mudah ya kayak gitu aja, cari supplier, posting foto-foto yg bagus, membuat kata-kata yg mengundang, terkadang memberi diskon pada event-event tertentu, menjadi contact person yg ramah bagi pembeli. Sudah. Setelah saya mempraktikkannya selama beberapa waktu, ternyata berjualan is not easy AT ALL! Not even close ><

Saya jadi ketemu berbagai tipe customer dan jadi belajar bagaimana cara menghandle-nya (psst, tidak semua customer menganggap penjual itu juga manusia yg punya rasa punya hati loh >< ). Saya jadi tahu cara promosi toko itu tidak hanya melalui cara-cara yg gratis, terkadang ada sedikit yg harus kita korbankan demi hasil yg lebih besar lagi. Dan masih banyak lagi.

Herannya, mempelajari trik-trik berjualan ini membuat saya bersemangat, walaupun sebenarnya jatuh-bangun juga, sering bapernya, dan saya jadi pernah merasakan ditusuk dari belakang oleh teman sendiri. Oh yes, life is hard, kawan T_T

Dengan berjualan, saya jadi lebih bisa merasakan bahwa “rejeki itu tidak akan tertukar”. Udah titik. Tapiii bukan berarti kita diam saja menunggu rejeki yg memang sudah ditakdirkan untuk kita itu. Kita harus berusaha semaksimal mungkin meraihnya dengan cara-cara yg kita bisa dan tentunya juga harus halal caranya 🙂

Selain itu, sebisa mungkin apa yg kita jual harus dapat bermanfaat bagi sekitar. Atau minimal hasil dari penjualan kita, kita sisihkan juga bagi yg membutuhkan. Memberi dulu, baru menerima 🙂

Rasa-rasanya sejak benar-benar men-seriusi jualan, saya jadi merasa makin keciilll banget di hadapan Allah. Berbeda dengan ketika saya dulu mendapat “rejeki” yg rutin per bulan dengan jumlah yg sama, saya dulu rasa-rasanya menjalani hidup dengan monoton dan kurang bersemangat. Karena ada perasaan toh tiap bulan saya juga pasti akan dapat segitu (ini sih sayanya aja ya yg cetek imannya, insya Allah temen2 nggak kayak gitu ya 🙂 ). Tapi sejak merasakan tertatih-tatihnya jualan, saya jadi merasa setiap hari saya harus melakukan sesuatu jika ingin dapur terus ngebul toko saya bisa terus buka dan terus memberikan manfaat untuk sekitar.

Mohon doanya ya kawan, semoga saya bisa selalu istiqomah, dan juga bisa lebih bermanfaat lagi bagi orang lain dengan hal yg saya bisa 🙂

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini, sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya ^_^

*****

PS: Untuk yg bertanya-tanya, apa sih yg saya jual, he he, karena postingan ini ceritanya bukan untuk mempromosikan toko saya, saya nggak ingin mencantumkan link menuju toko saya. But since you were asking (emangnya ada gitu yg nanya? 😛 ), saya sekarang punya dua toko online. Yang satu menjual jilbab dengan berbagai ukuran dan banyaakk warna yg insya Allah menutup dada, bisa dicek di http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse . Yang satunya lagi menjual snack impor Jepang yg halal dan juga barang2 lucu unik dari Jepang, bisa dicek di http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

Please kindly check my online store that sells hijab at http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse and sells Japanese halal snacks and unique goodies at http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

meiji-matcha

One of Michiko Goodies’ product 🙂

 

We are Ready to Back on Track!

Standard

Di beberapa postingan terdahulu, saya sempat cerita bahwa saya dan suami punya youtube channel yang membahas halal tourism di Jepang. Long story short, sejak September 2015 lalu, karena kami merasa masih kurangnya kesadaran umat Muslim tentang pentingnya kehalalan suatu makanan, dan karena kami melihat bahwa Jepang masih merupakan tujuan wisata populer di kalangan umat Muslim, saya dan suami pun memulai youtube channel yang bernama Halaljapanlife https://www.youtube.com/halaljapanlife (go check it out!). Alhamdulillah, sambutan pemirsa (caelaa) sangat baik ^_^ Senang rasanya informasi yang kami berikan di sana bisa bermanfaat untuk semua.

Bulan April 2016 lalu, Alhamdulillah, our youtube channel was featured on Majalah Cahaya Hati. Semoga dengan adanya artikel di majalah tersebut, semangat untuk selalu berusaha mencari makanan halal bisa menular ke temen-temen semua yg baca artikelnya ya 🙂

Dan tanpa disangka-sangka, hari ini kami mendapat email dari http://www.tripfez.com, sebuah website untuk memesan hotel yg Muslim-friendly. Dalam email tersebut, kami diberi tahu bahwa lagi-lagi kanal youtube kami di-feature di website mereka. Ini linknya. Ketika saya membuka link yang mereka berikan, saya terharu sekali melihat judulnya. “7 Youtube channels Every Muslim Traveler Should Subscribe To!” :’) Sungguh tidak menyangka bahwa hal sederhana yang kami lakukan diapresiasi begitu besar oleh orang lain :”) Dan yang lebih membuat saya terharu lagi, nomor 1 dalam list tersebut adalah Dina Tokio!!! Dan 5 kanal youtube lainnya juga sangat keren kereeenn!!! Apalahhh kami ini dibanding youtubers-youtubers ituuuu T_T

Kejutan hari ini seakan mengingatkan saya untuk tidak pernah berhenti berkarya dalam hal apa pun yang kita bisa, dan terutama untuk terus berusaha menebar manfaat bagi orang lain :”) Sejujurnya, dalam waktu dekat ini kami berencana mengaktifkan kembali kanal youtube kami. Sudah ada beberapa video yang kami siapkan, dan hanya tinggal menunggu ketersediaan kuota internet untuk meng-upload 😄

Selain itu, guess what? Ada hal spesial lain yang sedang kami siapkan untuk temen-temen semua! Dijamin temen-temen bakal sukaaaa banget dan juga insya Allah bermanfaat yaa.. Bismillah..insha Allah we are ready to back on track again!!

picsart_11-09-06-24-46

Menanggapi Ajakan Minum-minum

Standard

Ajakan minum-minum atau nomikai rasanya adalah suatu keniscayaan yang akan kita hadapi ketika kita tinggal di Jepang. Nomikai memang tidak bisa dipisahkan dari budaya Jepang. Bagi orang Jepang, nomikai merupakan sarana untuk melepas lelah dan bergaul dengan leluasa. Hampir semua acara pertemuan disandingkan dengan nomikai, sebagai contoh: pesta akhir tahun, acara penyambutan murid baru di lab, acara kelulusan, acara perpisahan, dan bahkan acara santai semacam camp bersama teman lab pun kemungkinan besar akan ada acara nomikai malamnya. Contoh-contoh ini nyata dan berasal dari pengalaman saya sendiri, yang akan saya ceritakan lebih lengkap di bawah.

Menurut cerita yang saya dengar dari mereka yang pernah menghadiri nomikai, orang Jepang biasanya lebih ceria, terbuka, dan mudah bercanda jika mereka berada dalam keadaan sedikit mabuk. Itulah mengapa nomikai bagi mereka (orang Jepang) adalah cara untuk mingle dengan kolega-kolega mereka.

Lalu, bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim?

Hmm, memang sih membicarakan nomikai ini rasa-rasanya agak sensitif >_< Saya yakin pasti banyak di antara teman-teman yang sebetulnya merasa jengah jika harus kumpul-kumpul dengan mereka yang minum-minum. Tapi karena merasa nggak enak menolak ajakan teman lab, sensei, atau bos, jadi terpaksa datang. Padahal di hati ada perasaan risau dan nggak nyaman. Tidak apa-apa, jika teman-teman sudah merasa risau, itu pertanda bagus, artinya solat teman-teman tidak sia-sia 🙂 Karena solatlah yang mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, dan solat juga yang membedakan orang muslim dan orang kafir.

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

“Barang siapa yang menjaga sholat maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan di Hari Kiamat, dan barang siapa yang tidak menjaga sholatnya maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada Hari Kiamat dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang baik, jayyid.)

Perasaan risau ketika merasa sudah melakukan dosa itulah ‘cahaya’ yang Allah janjikan 🙂

Mengenai bagaimana hukumnya dalam Islam, karena saya bukan ahli fiqh, pertama-tama, silakan baca di tautan berikut ini mulai halaman 11.

Dari artikel di atas, sudah jelas yaaa dapat disimpulkan bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim menghadiri acara di mana disediakan minuman keras di acara tsb.

Tips menghindarinya

Saya sendiri pun tak luput dari undangan menghadiri acara serupa. Dari awal saya datang ke Jepang, saya sudah diajak nomikai sebagai penyambutan mahasiswa baru. Sebenarnya saat pertama saya datang ke sini, saya belum pernah baca artikel di atas. Jadi saat itu saya cuma bertanya-tanya ke senior yang sudah lebih dulu berada di Jepang, bagaimana sikap mereka saat diajak nomikai. Di antara  yang saya tanya ada yang tetap datang namun tidak minum, ada pula yang bilang datang di awal tapi  pas mereka mulai minum-minum pamit duluan.

Saya sendiri saat ajakan pertama itu, saya menolak datang dengan cara yang halus, begini caranya. Jadi sebelum menentukan tanggal, panitia acara meminta calon peserta acara untuk mengisi voting online waktu-waktu di mana kami kosong. Simpel saja, dari hasil voting online tersebut, akan dipilih waktu yang paling banyak pemilihnya. Ketika itu, saya bilang ke panitianya, “Karena saya nggak bisa minum-minum, tidak perlu menunggu voting dari saya.” Tapi saya TIDAK bilang “Saya akan ngikut hasil terbanyak.” Kemudian ketika hasil voting telah keluar, saya bilang “Wah mohon maaf saya sudah ada acara pada waktu tersebut” dan lalu saya mencari-cari hal yang bisa saya lakukan pada waktu tsb supaya saya nggak bohong 😀 (Boleh disontek lho cara ini 😀 )

Saya memutuskan untuk speak up

Lambat laun mereka tidak pernah lagi mengajak saya ke acara nomikai. Saya pun mulai merasa tenang 😀 Sampai suatu ketika, lab saya mengadakan acara camp rutin setiap musim panas. Di acara camp ini, semua anggota lab saya plus sensei akan menginap di cottage atau ryokan di pedesaan Jepang. Akan ada acara belajar bersama, diskusi, dan juga acara santai-santai seperti main kembang api dan jalan-jalan di sekitar ryokan. Saya sendiri sebenarnya sangat menikmati acara camp ini, karena saya jadi ada alasan untuk jalan-jalan ke daerah Jepang yang lebih tenang dan melihat pemandangan pengunungan, sawah, sungai, maupun pedesaan yang jarang bisa saya lihat sehari-hari. Dan juga kegiatan diskusi menjadi tidak bosan dengan adanya suasana baru.

Camp ini berlangsung selama 3 hari 2 malam dan jadwal acara baru dibagikan saat hari H. Siang hari selalu digunakan untuk belajar, dan malam hari selalu digunakan untuk acara santai. Malam pertama jadwalnya adalah main kembang api, dan malam kedua jadwalnya adalah…bisa ditebak, nomikai.

Nah loh, bingung kan saya. Kalau saya lagi nggak berada di tempat yang sama dengan mereka saya sih bisa menghindar dengan bilang ada acara lain seperti yang udah saya ceritain di atas. Tapi ini keadaannya saya kan berada di atap yang sama dengan mereka, mau menghindar ke mana saya? >_<

Saat itulah saya mendapat artikel yang saya berikan link-nya di atas. Alhamdulillah ya artikel itu datang di saat yang tepat. Setelah membaca artikel itu, saya pikir sudah tidak perlu lagi saya mencari-cari alasan untuk menghindari acara nomikai. Just ‘simply’ because I am a Muslim, I don’t attend an event where alcoholic drinks are served. Saya benar-benar merasa sudah saatnya saya speak up sekaligus memberikan pernyataan jelas kepada teman-teman lab saya, orang seperti apa saya.

Akhirnya sebelum malam di mana nomikai itu tiba, saya bilang ke teman-teman lab saya, “Mohon maaf ya saya nggak ikut kumpul-kumpul malam ini. Sebetulnya, saya tidak boleh menghadiri acara yang ada minuman kerasnya.” Tentu saja mengumpulkan nyali untuk bilang ini tidak mudah, namun jawaban teman-teman lab benar-benar membuat saya lega. Ternyata mereka menanggapi pernyataan saya simpel aja, “Oh ya? Wah maaf banget ya kami nggak tau. Terus kamu mau ngapain sekarang?” Saya bilang saja, “Nggak apa-apa kok, saya di kamar aja.” Lalu mereka bilang lagi, “Oh ya udah kalo gitu. Tapi kamu nggak apa-apa sendirian? Selamat tidur ya.”

Udah. Beres.

Ternyata sesimpel itu aja yang harus kita lalui untuk menghindari acara nomikai. Tinggal bilang kita nggak bisa hadir, kemudian tinggal masuk telinga kanan keluar telinga kiri apa pun tanggapan mereka >_<

Beberapa hal yang menjadi penguat saya

Mungkin banyak di antara temen-temen yang baca ini yang bilang saya berani banget ngomong gitu di depan semuanya. Pertama-tama, tentu saja alhamdulillah, laa haulaa wa laa kuwwata illa billah. Hanya Allah pemberi kekuatan. Dan sebenernya sebelum saya bilang itu saya pun deg-degannya ampun-ampunan kok >_< Banyak yang saya pikirin sebelum akhirnya saya memutuskan udahlah biarin aja dianggap aneh, pokoknya saya nggak mau dateng ke acara nomikai dan saya harus bilang itu. Mungkin alasan-alasan di bawah ini bisa dijadikan inspirasi oleh teman-teman semua.

Satu. Kita mulai dari yang sederhana dulu. Jika kita menghadiri nomikai, kita harus patungan untuk konsumsinya. Patungan ini biasanya berkisar antara 3000-5000 yen. Dan bisa ditebak ke mana sebagian besar uang itu dipakai? Ya beli minuman keras. Bayangin kita bayar 3000 yen tapi cuma bisa minum jus padahal jus itu bisa dibeli di mini market harganya 100 yen-an sekotak. Rugi banget kan >_<

Lagipula disebutkan juga dalam sebuah riwayat

“Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

(Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/10/10/minuman-keras-dan-narkoba-arakkhamar-itu-haram/)

Jadi, sudah jelas juga jangan sampai uang kita digunakan untuk membeli minuman keras. Pokoknya jangan deket-deket dan jangan berhubungan deehh sama minuman keras >_<

Dua. Di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita di dunia SENDIRIAN. Ya, sendirian. Nggak akan ada temen-temen lab dan sensei kita yang akan belain kita karena udah ngajak kita ke acara nomikai >_< Impact dari ketidakikutan saya dalam nomikai ini sih nyata banget, saya dan temen-temen lab saya jadi nggak terlalu dekat dan nggak kayak temen banget. Tapi ya sudahlah, saya mengambil resiko nggak terlalu deket dan nggak punya temen daripada saya harus mendapat dosa yang sama seperti minum-minum (dengan menghadiri acara nomikai) hueee takut bangeett. Yang pasti, kita masih bisa kok berbuat baik sama temen-temen lab. Insya Allah kita ga akan dicap buruk hanya karena nggak ikut nomikai 🙂 Kalo dicap aneh sih…sudah biasa hehehe

Sikap positif orang Jepang

Alhamdulillah bangeettt setelah saya bilang kalo saya sebenernya nggak bisa menghadiri acara nomikai, ternyata temen-temen lab dan sensei saya sangat-sangat menerima kok. Saya tidak tahu apakah saya bisa men-generalisasi atau nggak tapi orang Jepang itu sangat toleran terhadap kepercayaan yang kita anut. Kalau kita sudah bilang saya nggak makan ini atau itu, mereka nggak akan mengganggu gugat. Kemudian mereka akan konsisten membantu kita menghindari apa yang nggak bisa kita makan itu. Ini yang membuat saya benar-benar kagum sama orang Jepang. Kalau sudah mengetahui suatu peraturan, mereka pasti akan menjalaninya.

Berikut ini, saya mau cerita pengalaman saya lagi setelah saya speak up.

Tahun ini tibalah juga saatnya acara perpisahan saya dengan lab saya, karena masa studi saya telah selesai. Acara perpisahan ini juga rutin tiap tahun dan tahun-tahun lalu selalu diadakan di izakaya a.k.a bar-nya orang Jepang. Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah ikut, tapi tahun ini tidak mungkin kan saya tidak ikut padahal saya yang diperpisahkan?

Akhirnya saya coba komunikasikan kebimbangan saya tentang acara perpisahan ini ke salah satu lab member saya. Tersebutlah seorang temen cewek berinisial W-san, orang Jepang. Saya bilang, “W-san, saya kan ga bisa ikutan acara nomikai. Kalo nanti perpisahan ada acara nomikainya, mohon maaf lagi ya saya tidak bisa ikut. Tapi saya tetep pengen ada acara perpisahan sama temen-temen lab. Apa di waktu lain saya masak-masak aja trus kita makan-makan di lab?”

Ternyata oh ternyata, alhamdulillah W-san nya bilang gini, “Oh tenang aja Nadine-san, kita ga akan ngadain di izakaya kok. Malah kita mau ngadain di Ali’s kebab (salah satu restoran halal di Tsukuba). Gimana?”

Jelas saja saya sangat berterima kasih, tapi FYI, tidak semua resto halal bebas alkohol, dan di Ali’s kebab ini tetap disediakan alkohol walaupun resto halal. Jadi saya bilang ke W-san lagi, “Wah iya terima kasih banget kalo mau ngadain di Ali’s kebab. Tapi nanti kalau sudah mau mulai acara minum-minumnya saya pulang duluan ya.”

Dan W-san nya malah bilang lagi, “Oh ga apa2 kok, Nadine-san. Nanti ga akan ada minum-minum.”

Dan benar saja, alhamdulillah acara perpisahan untuk saya (dan mahasiswa tahun terakhir lainnya) telah terlaksana bulan Februari lalu, dan berhasil dilalui tanpa ada acara minum-minum.

Begitulah orang Jepang, mereka sangat mudah untuk patuh terhadap peraturan. Bahkan dalam kondisi acara perpisahan kemarin ini, mereka semua mau mengalah terhadap kebutuhan saya atau hal yang saya anut meskipun saya hanya satu orang di antara mereka >_<

Yang penting adalah komunikasi bukan kompromi

Jadi ternyata, setelah saya memberanikan diri menolak ajakan-ajakan nomikai dari mereka, saya jadi menyadari bahwa ketakutan atau perasaan nggak enak nolak itu murni hanya asumsi kita saja.

Sebagai muslim kan kita memiliki peraturan yang tidak bisa dikompromikan, namun, jika kita sudah berusaha meng-komunikasikan dengan baik, insya Allah mereka pasti akan menerima dan bahkan membantu kita mematuhi peraturan itu lho.

Tetapi ketika sedang berusaha mengkomunikasikan, usahakan ada alternatif dari kita, sehingga menunjukkan bahwa kita tak hanya ingin dimengerti, tapi yuk sama-sama bikin acara yang saya bisa ikut dan mereka pun bisa menikmati. Misalnya kasus saya tadi ketika menawarkan untuk memasak di acara perpisahan. Jika sudah demikian, mereka pasti juga akan melihat usaha kita untuk mendekat ke mereka.

Semoga temen-temen semua juga diberikan kemudahan dan kemantapan hati untuk bisa selalu menjalankan syariat-Nya meskipun sedang menjadi kaum minoritas, ya. Aamiin 🙂

Hal-hal di Indonesia yang Bisa Bikin Kaget Orang Jepang

Standard

Rasanya tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa Jepang merupakan salah satu negara yang penduduknya sangat-sangat mematuhi peraturan. Pemahaman bahwa peraturan yang dibuat itu adalah untuk kepentingan bersama memang sudah ditanamkan sejak dini. Di Jepang, pendidikan utama terhadap anak-anak bukanlah calistung, melainkan pendidikan moral, seperti membiasakan mengurus diri sendiri, budaya mengantre, mengucapkan maaf dan terima kasih, dan lain-lain. Akibatnya, tidak mengherankan jika Jepang memiliki tingkat kriminalitas yang rendah (walaupun tidak nol sama sekali).

Sebelum saya tinggal di Jepang 3 tahun lalu, saya sempat beberapa kali berkenalan dengan orang Jepang yang sedang berkunjung ke Indonesia, lebih khususnya ke Bandung. Saya pun sempat mengantar teman-teman Jepang saya itu bepergian selama di Bandung. Ketika berjalan-jalan dengan mereka, sempat beberapa kali teman saya itu melontarkan kekagetan terhadap yang ia lihat di jalan raya 😄 Dulu saya pikir dia kaget hanya karena tidak terbiasa melihat yang ia lihat itu di Jepang. Saya pikir, wajar saja jika terdapat beberapa perbedaan antar satu negara dengan negara lain. Dulu bahkan saya sempat merasa bangga lho dengan ‘keunikan’ Indonesia ini. Namun, setelah saya merasakan tinggal di Jepang dan mau tidak mau jadi ikut mematuhi peraturan di Jepang, saya jadi malu sendiri kalau ingat hal-hal berikut ini yang masih sering sekali terjadi di Indonesia.

Jarak antar kendaraan

Seperti yang kita semua tahu, di Indonesia jarak antar kendaraan di jalan raya sangatlah mepet. Pokoknya selama masih ada space, sayang banget kalo nggak diisi. Kita semua juga tahu bahwa sebenarnya ini sangat-sangat berbahaya. Bagaimana jika terjadi sesuatu di depan kita yang mengharuskan kita menyetir mundur kendaraan kita, sementara jarak kita dengan kendaraan di belakang terlalu dekat? Berbahaya sekali kan >_<

Di Jepang, jarak antar kendaraan sangatlah jauh. Saya kurang paham sih standarnya harus bereapa meter, tapi kalo saya perhatikan jaraknya antara setengah sampe satu buah mobil. Dan bahkan motor aja nggak nyelip di antara mobil atau berhenti di samping mobil. Motor dan mobil berada pada satu garis lurus yang sama. Nggak heran waktu temen saya orang Jepang yang saya ajak jalan-jalan di Bandung naik mobil dulu sampe kaget banget ketika tiba-tiba ada motor yang stop di samping mobil saya 😀

Naik motor lebih dari 2 orang

Mungkin kita maklum kalau ada orang Jepang yang kaget motor di Indonesia dinaiki oleh 3 orang, dan bahkan kadang-kadang ada anak kecil yang duduk di depan bapaknya yang lagi nyupir motor. Tapi ternyata, orang Jepang kagetnya lebih-lebih karena di Jepang sendiri, motor itu hanya diperuntukkan bagi satu orang. Jadi panjang jok untuk duduknya itu hanya cukup untuk satu setengah orang, yang setengahnya lagi biasanya untuk naroh barang.

Di Jepang, sepeda (maupun motor kalau tidak salah) terlarang dinaiki oleh dua orang. Untuk sepeda saya yakin 100% terlarang, tapi untuk motor sebenarnya saya belum crosscheck lagi secara hukum, tapi begitulah yang saya dengar. Dan memang saya belum pernah melihat orang berboncengan naik motor di jalan raya, plus ukuran joknya tadi yang memang tidak memungkinkan bagi dua orang.

foto motor jepang

Foto motor di parkiran kampus. Kecil kan joknya 😀

Tidak memakai helm

Untuk yang satu ini bahkan bagi orang Indonesia aja sebenernya sudah merupakan isu yang sering dibahas. Harusnya kita tahu ya bahwa helm itu bukan sekedar aksesoris dalam perjalanan, namun untuk kepentingan kita sendiri. Saya sendiri heran kenapa ada orang yang bisa dengan sok gagahnya naik motor tanpa helm walaupun dekat. Kalau memang ga mau pake helm dalam jarak dekat, kenapa ga jalan kaki aja sih? Kan katanya dekat? Sepertinya sosialisasi akan pentingnya helm masih jadi PR untuk kita semua ya…

Seorang temen Jepang saya bener-bener pernah sampe berkali-kali bilang “it’s very dangerous”  waktu melihat beberapa pengendara motor Indonesia yang tidak memakai helm di jalan raya. Pasti mereka heran banget ya sama Indonesia kok bisa se-ngegampangin itu sama peraturan yang padahal untuk kepentingan sendiri. Sayangnya, mungkin sanksi yang diberikan jika tidk memakai helm belum cukup membuat jera. Ditambah lagi penegakan hukum yang belum tegas merata di semua daerah. Tidak seperti di Jepang, kalau denda sekian ya bener-bener harus dibayar sekian itu.

*****

Kayaknya kalau membandingkan Indonesia sama Jepang memang terlalu jauh ya >_< Mungkin beberapa puluh tahun lagi Indonesia baru bisa menyamai Jepang dalam sisi penegakan peraturan. Tapi gak apa-apa, yang penting kita nggak boleh menyerah dalam menyampaikan kebenaran. Minimal dari diri sendiri, lalu keluarga kita sendiri 🙂

Halal Restaurant Manhattan Fish Market and Halal Souvenir at LAOX Shinjuku

Standard

Assalamu’alaykum 🙂

A few months ago, I posted a review about some new halal restaurants in Japan (https://atashinohanashi.wordpress.com/2015/02/23/new-halal-restaurants-in-japan-review/) and many people seem to find that article helpful, Alhamdulillah. So in this post, I’m going to be reviewing another new halal restaurant plus halal souvenir store in Japan.

Manhattan Fish Market

Access: Ikebukuro Station, address: Sankei 33 Building B1F, 1 Chome-4-2 Higashi-Ikebukuro

Manhattan Fish Market (MFM) is an American style restaurant that has more than 50 branches all over Asia. MFM in Japan is halal certified and no alcohol served, so you can enjoy dining here comfortably. They also have Muslim staff, English menu, and when I was there, I felt like all the staffs were willing to speak English (unlike many other restaurants in Japan). The menus are mostly seafood, but they also have chicken. Check their website here: http://www.manhattanfishmarket.com/japan.html

The place is very cozy, they have many kinds of meals and beverages and they are all very delicious, the staffs are very friendly, I don’t really have any complaint or negative review about this restaurant 😀 I definitely want to come back again next time to try other menus 🙂

Muslim Friendly Facilites at LAOX Shinjuku

After going to MFM, we went to LAOX Shinjuku. For you who doesn’t know what LAOX is, LAOX is a department store that sell many kinds of goods, from electronics to jewelry, from snacks to Japanese traditional crafts, and many more. They provide tax free for tourists, therefore this place is very recommended for you who needs one stop shopping center while traveling to Japan. They have many branches all over Japan, but the one we went to was the one in Shinjuku. Check their website here: http://www.laox.co.jp/en/stores/shinjuku/

Alhamdulillah, this past decades Japan’s government is getting aware and considerate about Muslim’s needs. Here in LAOX Shinjuku, they provide decent corner for praying (seperated between male and female) and designated corner for halal souvenirs. They sell many kinds of halal souvenirs such as snacks, crackers, instant ramen, biscuit, and so on. You don’t have to be worry if you are shopping for halal souvenirs here 🙂

*****

To see more detail about MFM and LAOX, take a look at inside them, and where to locate them, please kindly check our video on youtube below 🙂 I hope this article is helpful for you who are planning to go to Japan in near future 🙂

Menjadi Muslim di Jepang

Standard

Assalamu’alaykum!

Menjadi penduduk Muslim di Jepang, di mana pemeluk agama Islam masih menjadi minoritas, tentu tidak mudah. Tidak sembarang makanan dapat kita konsumsi, tidak semua tempat menyediakan fasilitas solat, dan sebagainya. Tidak hanya penduduk saja yang terkadang merasakan sulitnya, begitu juga dengan pelancong yang hanya datang sesekali. Keinginan membeli oleh-oleh berupa makanan sering terhambat disebabkan bahan-bahan pembuatnya yang meragukan.

Namun tidak berarti kita tidak bisa sama sekali menikmati makanan Jepang ataupun berlibur dengan tenang di Jepang. Alhamdulillah dengan semakin meningkatnya keterbukaan pemeritah Jepang terhadap warga/ pendatang asing terutama Muslim, semakin ke sini semakin banyak penyedia makanan Halal maupun fasilitas beribadah di Jepang.

Dengan misi ingin berbagi informasi seputar kemudahan bagi Muslim di Jepang, sekaligus juga meningkatkan kesadaran Muslim dalam berhati-hati terhadap penganan-penganan yang tersedia di Jepang, dan secara umum memperkenalkan tempat-tempat wisata di Jepang bagi siapa saja, saya dan suami mengelola sebuah akun Youtube bernama “Halal Japan Life” 🙂

Di sana, kami berharap pembaca semua dapat memperoleh berbagai informasi di mana dapat membeli makanan/ oleh-oleh halal di Jepang, bahan-bahan makanan yang harus dihindari, serta inspirasi jalan-jalan di Jepang.

Belum banyak yang dapat kami berikan, tapi semoga yanng sedikit ini dapat bermanfaat untuk semua! 🙂 Kalau ada pertanyaan atau permintaan terkait hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, boleh banget disampaikan ke kami ya!

Wassalamu’alaykum!

-Halal Japan Life-

Menjadi Asisten Kelas Praktikum Komputer

Standard

Jadi ceritanya, saya memang berniat menghabiskan kuliah wajib saya di satu tahun pertama masa perkuliahan S2 saya ini, karena saya berniat pada tahun kedua fokus di riset dan menjadi asisten kuliah atau melakukan part time job dan juga mengambil kelas bahasa Jepang lagi.

Tentu saja awalnya saya berniat menjadi asisten untuk kelas yang diadakan dalam bahasa Inggris saja. Saya pun mengirim email pada beberapa sensei yang saya kenal yang juga merupakan foreigner untuk menanyakan apakah ada peluang menjadi asisten beliau untuk semester ini. Alhamdulillah dari 3 orang sensei yang saya kirimi email, 1 orang menerima saya, sedangkan 2 orang lagi mengatakan tidak memerlukan asisten untuk kelasnya.

Tidak lama setelah itu, saya mendapat kiriman email dari milis jurusan bahwa sedang dibuka pendaftaran untuk asisten kuliah Sistem Informasi bagi mahasiswa S1 tahun pertama. Tentu saja email ini pun dalam bahasa Jepang dan kuliah pun akan diadakan dalam bahasa Jepang. Setelah saya pikir-pikir, kayaknya menarik juga jika punya pengalaman ngasisten kelas Jepang, jadi saya pun mendaftar.

Semester lalu saya mendapat mahasiswa jurusan sosial, sedangkan semester ini saya mendapat mahasiswa jurusan science. Alhamdulillah jadi macem-macem pengalaman yang dirasakan 😀

proglanguages

Photo courtesy Google 😀

Pertama-tama, saya mau cerita dulu tentang materi kelasnya. Jadi, seperti judulnya, di kelas ini diajarkan tentang Sistem Informasi, mulai dari penggunaan jaringan kampus, Ms. Word, Ms. Excel, PPT, dan yang terakhir pemrograman.

Nah mendengar penggunaan Ms. Office sekeluarga itu mungkin awalnya kita pikir mudah karena sudah biasa pakai juga. Ternyata yang diajarkan di sini benar-benar detail sampai penggunaan fungsi menu-menu yang ternyata memudahkan sekali dalam pembuatan berbagai macam dokumen. Banyak sekali yang saya juga baru tau, jadi ketika sensei-nya menjelaskan, saya ikut mendengarkan juga dan saya pun jadi belajar juga 😀 Alhamdulillah, 勉強になりました!

Tapi ternyata, untuk penggunaan Ms. Office, berdasarkan pengalaman saya setahun ini, di antara mahasiswa kelas sosial, banyak sekali pemakaian simpel-simpel yang mereka juga belum bisa. Jadi tiap ngasisten, banyak sekali yang bertanya ke saya. Mungkin dulu dari SD sampe SMP ada beberapa sekolah yang tidak terlalu banyak memakai komputer kali ya.Saya pikir, ternyata tepat juga ada pelajar komputer dari awal banget seperti ini, supaya menyamaratakan dulu kemampuan seluruh mahasiswa.

Namun ketika saya ngasisten anak-anak science, ga banyak yang nanya ke saya, bahkan yang nanya ke sensei juga ga banyak. Jadi di setengah semester ini saya agak gabut. Hehe

Saya jadi teringat bahwa di Jepang ini sistem sekolahannya agak berbeda dengan Indonesia. Selain ada SD sampe SMA seperti kita, setelah lulus SMA ada yang namanya Kosen, kalo di Indonesia semacam D1 sampai D3. Kosen ini juga ada jurusan2nya. Nah berbeda dengan di Indonesia, kebanyakan yang ambil D3 ya sudah sampai D3 saja, setelah lulus langsung kerja. Tapi kalo di Jepang, sangat umum melanjutkan dari D3 ke S1. Jadi urutannya SD-SMP-SMA-Kosen-S1. Nah saya jadi menyimpulkan sendiri, mungkin yang dari Kosen science sudah banyak belajar komputer waktu di Kosen, berbeda dengan yang dari Kosen jurusan sosial.

*****

Kemudian proporsi materi praktikumnya juga berbeda. Di kelas sosial semester lalu, materi pemrogramannya hanya 2 pertemuan terakhir. Sedangkan di kelas science sekarang ini ada 6 pertemuan terakhir dari 11 pertemuan. Untuk mahasiswa sosial, bahasa pemrograman yang diajarkan Visual Basic, dan untuk mahasiswa science belajar Processing. Sudah jelas ya tingkat kesulitannya pun berbeda 😀

Nah sayangnya, sebelum masuk ke belajar pemrograman, mereka tidak diajarkan algoritma dulu. Padahal, pemahaman algoritma kan dasarnya pemrograman banget. Dari Algoritma, kita belajar bagaimana memproses sebuah kejadian yang kita inginkan menjadi kalimat-kalimat yang dapat dituliskan dalam rumus atau logika matematika. Kalo belajar pemrograman tiba-tiba diajarkan bahasanya, kita ga bakal ngerti proses apa sebenernya yang terjadi di balik itu. Kalo kita belajar Algoritma dulu, mau bahasanya diganti-ganti insya Allah cepet bisanya. Yah setidaknya ini yang saya rasakan hehe bener ga ya yang lain juga merasa demikian? Ternyata ga sia-sia ya dulu di TPB ITB belajar Algoritma, ga salah juga kurikulumnya belajar Algoritma dulu baru pemrograman. Ternyata terpakai sampai sekarang 🙂 Buat dosen-dosen yang dulu ngajarin saya, subhanallah banget pahala amal jariyahnya. Saya jadi bisa ngajarin yang lain juga :’)

Back to topic. Jadi, karena tidak belajar Algoritma dulu, banyak di antara mahasiswa yang bener-bener ga ngerti harus mulai nulis dari mana ketika disuruh membuat program dari awal. Ada juga memang beberapa yang langsung bisa, tapi banyak yang ketika bertanya ke saya harus saya jelaskan dari awal. Bagaimana mengubah “suatu kondisi” jadi ungkapan “if”, bagaimana menuliskan sesuatu berkali-kali jadi ungkapan “for”, apa yang harus dituliskan di dalam for tadi, dan sebagainya. Lalu, karena program-program contoh sudah diberikan oleh sensei, kebanyakan hanya copy-paste tanpa tahu fungsinya apa, jadi saya harus menjelaskan lagi kenapa hal itu ditulis seperti itu, dan sebagainya. Tapi alhamdulillah, seneng juga jadi merasa berguna, dan jadi tantangan juga buat menjelaskan dalam bahasa Jepang 🙂

*****

Hal lain lagi yang sebenernya saya merasa kasihan sama mahasiswa2 ini, jadi, kalo belajar Visual Basic, sudah ada versi bahasa Jepangnya. Kalo di software kan misal kode kita ada yang salah, nah itu kan diberi tahu salahnya di mana, misal kurang tanda baca “;”, dst. Jadi untuk mahasiswa sosial kemarin mereka bisa belajar sendiri dari kesalahan yang mereka lakukan.

Tapi untuk software Processing belum ada versi bahasa Jepangnya. Jadi ketika ada pesan kesalahan yang keluar, mereka tidak tahu salahnya apa (secara pada ga bisa bahasa Inggris) >_< Jadi banyak di antara mereka yang bertanya hanya karena kesalahan-kesalahan yang simpel. Tapi ya akibatnya mereka jadi ga bisa belajar sendiri, jadi ga bisa meng-improve diri sendiri dari kesalahan yang dilakukan.

Selain itu, sebagian besar dari mereka suka takut untuk menuliskan sesuatu dalam program. Padahal kan namanya belajar pemrograman ya harus berani coba-coba berasarkan pemikiran sendiri. Misal, bener ga ya kalo kondisi seperti ini ditulisnya if (x<6), kalo misal program yang dijalankan ga sesuai harapan, oh mungkin harusnya if (x<=6). Nah mereka ini kurang berani buat coba-coba. Jadi sering sekali bertanya, “ini ditulisnya gini ya?”. Ya sebagai guru yang baik, saya ga pernah menjawab langsung pertanyaan dengan iya atau tidak, karena nanti mereka jadi tidak belajar, mereka nanti jadi tidak tahu kenapa hal ini begini dan kenapa hal itu begitu. Jadi biasanya kalo ditanya seperti itu, saya selalu jawab “coba aja ditulis dulu, nanti lihat salah atau nggak” kemudian kalau salah, saya coba jelaskan lagi kondisinya seharusnya bagaimana, tapi tetep, mahasiswanya sendiri yang harus menuliskannya dalam bentuk kode pemrograman.

*****

Alhamdulillahnya, memang orang Jepang ini sangat menghargai orang lain. Kalo udah dibantu, mereka akan dengan sungguh-sungguh bilang terima kasih. Pernah ada seorang murid yang karena saya tungguin sampai selesai, pas sudah di luar kelas sampai bilang terima kasih berkali-kali. Saya jadi ga enak sendiri, hehe. Tapi alhamdulillah, senang karena merasa bisa membantu yang lain.

Hari ini adalah hari terakhir kelas ini. Bahkan saya nulis ini masih di kelasnya, hehe. Mumpung perasaannya masih membekas, harus segera dituliskan biar ga keburu lupa 😀 Udah gitu, di akhir kelas tadi, banyak mahasiswa yang mengucapkan “Selamat Tahun Baru” ke saya dan sensei. Alhamdulillah bersyukur juga dapat pengalaman seperti ini. Nggak tahu di masa akan datang bakal punya pengalaman serupa lagi atau tidak, tapi yang pasti, pengalaman ini sudah saya tuliskan di sini biar bisa diingat-ingat lagi suatu saat nanti 🙂