Category Archives: Japan

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 2.1

Standard

Halo, temen-temen! Sekarang saya mau melanjutkan lagi cerita tentang stereotip yang saya alami ketika tinggal di Jepang. Nah kenapa judulnya Part 2.1, akan saya ceritakan di akhir ya. Bagi yang belum membaca part 1-nya, bisa dibaca di sini ya. Kali ini juga masih sama dengan post sebelumnya, saya ingin bercerita tentang anggapan salah yang saya miliki terhadap bangsa atau ras tertentu.

Berkuliah di kampus yang cukup banyak menerima mahasiswa asing membuat saya dapat bertemu teman-teman dari berbagai belahan dunia. Lagi-lagi termakan oleh apa yang selama ini diberitakan media, saya memiliki anggapan tertentu terhadap beberapa etnis budaya. Sebagai contoh, mereka yang berasal India atau Singapura pasti cenderung lebih pandai dari yang lainnya, dan sebaliknya, mereka yang berasal dari negara-negara Afrika dan berkulit hitam pasti cenderung lebih terbelakang pendidikannya. Tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa anggapan ini akan dipatahkan mentah-mentah oleh pengalaman yang akan saya ceritakan di post kali ini.

Sebut saja S. Dia adalah penerima beasiswa Monbusho G2G angkatan 2013, sama seperti saya dan teman saya J yang saya ceritakan di post sebelumnya. Dia juga seorang Muslim, berasal dari negara S di Afrika, dan berkulit hitam. S ini satu jurusan dengan saya di kampus, tapi berbeda lab.

Semua penerima beasiswa Monbusho G2G harus mengikuti kelas Bahasa Jepang selama 1 tahun sebelum memulai pendidikan S2. Ada sekitar 20-an penerima beasiswa Monbusho G2G di kampus saya pada tahun 2013 itu, dan kami dibagi jadi 2 kelas Bahasa Jepang. Satu kelas berisi 7 orang (termasuk saya) adalah kelas bagi kami yang sudah pernah mempelajari Bahasa Jepang sebelum datang ke Jepang. Kelas ini disebut kelas B. Dan satu kelas lagi adalah kelas bagi mereka yang belum pernah belajar Bahasa Jepang sama sekali. Kelas ini disebut kelas A, dan S ada di kelas tersebut. Oya FYI juga, semua teman saya yang berkulit hitam ada di kelas itu termasuk J dan S ini.

Di tahun pertama ini, kami juga akan mengikuti tes masuk ke jurusan masing-masing, sama seperti mahasiswa lulusan S1 Jepang pada tahun itu. Tes ini diadakan pada bulan Agustus, sementara tahun ajaran baru dimulai bulan April tahun depannya. Jadi jika kami lolos tes masuk ini, kami punya satu semester kosong sebelum memulai perkuliahan.

Mendekati ujian masuk, saya pun sibuk belajar mempersiapkannya dengan mengerjakan soal-soal yang pernah dikeluarkan tahun-tahun sebelumnya. Sama ya dengan calon mahasiswa di Indonesia 🙂 Jujur aja, soal tes masuk kampus saya ini susah banget. Hampir sama tingkat kesulitannya kayak lomba. Saya jadi harus baca-baca lagi teori dari buku pelajaran (atau dalam hal ini search di google sih sebenernya 😀 ).

Suatu hari saya sedang belajar di jam istirahat kelas Bahasa Jepang bareng temen sekelas yang juga satu jurusan dengan saya, sebut saja F, dan dia ini juga cowo (maklumlah kalau teman saya kebanyakan cowo, jurusan saya memang jurusan yang didominasi oleh para pria). Di salah satu soal, saya dan F mengalami kesulitan dan stuck. Kemudian salah satu teman kami dari kelas A main ke kelas kami dan melihat kami sedang stuck. Dia pun menyarankan, “Go ask S, he’s very genius!” Kami (saya dan F) yang tidak tahu menahu bahwa S adalah seorang jenius karena kami tidak sekelas bahasa dengannya sehingga jarang mengobrol dengan dia, mencoba menanyakan soal tsb ke S. Dan benar saja, he solved it in no time!

Sejak saat itu, kami selalu belajar bareng S. Usut punya usut, ternyata S ini memang benar-benar pinteeerrr banget dalam bidang keilmuan kami. Kayaknya isi buku kalkulus, matematika teknik, dan pemrograman udah ditelen mentah-mentah sama dia, karena dia ini nggak hanya pandai dalam hal yang bisa dinalar dengan logika, namun juga dia hapal semua teorema, prinsip, dan rumus dalam matematika. Kebayang kan pinternya kayak gimana?

Hingga akhirnya tibalah musim panas pertama saya di Jepang. Ternyata, rasanya berat sekali belajar untuk persiapan ujian masuk di musim panas ini, yang suhu dan kelembapan rata-rata per harinya lebih tinggi daripada di Indonesia. Selain karena udaranya yang panas dan pengap, hawanya memang sangat hawa liburan, karena anak-anak sekolah libur selama 3 bulan. Sedangkan mahasiswa, meskipun tidak ada kuliah selama 3 bulan, lab dan kampus tetap buka 24 jam seperti biasa.

Walaupun berat, saya sendiri memang tipenya tidak tenang kalau tidak belajar setiap hari untuk ujian yang penting seperti ini. Namun lama kelamaan semangat F agak menurun untuk belajar karena musim panas ini memang susah banget buat bikin otak konsentrasi. Bawaannya pengen tidur-tiduran di depan kipas angin terus sambil makan es loli. Alhasil tinggal saya dan S yang lebih sering belajar bareng, atau lebih tepatnya, saya yang meminta S menemani saya belajar hampir setiap hari.

Kenapa saya bilang “lebih tepatnya S yang menemani saya belajar”, karena sebenernya S ini sudah tidak perlu belajar lagi menurut saya. Semua soal tahun-tahun sebelumnya bisa dia kerjakan dalam waktu singkat. Kalau ada yang sedikit susah, dia akan bilang, “Let me finish it and then I’ll tell you how to solve it,” dan biasanya soal-soal kayak gini pun dia selesaikan dalam waktu paling lama 1 jam, lalu dia akan mengajari saya.

Buat temen-temen yang jurusan kuliahnya IPA pasti sering kan mengerjakan soal yang harus ditulis cara mendapatkan jawabannya. Nah S ini pun sangat rapi dan runut dalam menuliskan jawaban dari soal-soal ujian ini, sehingga membuat saya mudah dalam memahami cara mengerjakannya. Kalau melihat S ini kayaknya dia bener-bener cocok jadi penulis buku teorema matematika, karena nggak cuma pinter, dia juga bisa mengajarkan orang lain sampai orang tersebut paham.

Singkat cerita waktu ujian pun tiba. Alhamdulillah saya lumayan bisa mengerjakan soal yang diberikan karena memang mirip sekali polanya dengan soal tahun-tahun sebelumnya. Setelah ujian, maka kami tinggal menunggu tahun ajaran baru pada bulan April tahun berikutnya.

Wah saya tidak menyangka ternyata sudah sepanjang ini tulisannya, cerita tentang S belum selesai. Insya Allah saya lanjutkan lagi di Part 2.2 ya ^^

Untuk post ini segini dulu. Semoga ada yang bisa temen-temen ambil dari cerita kali ini 🙂 Sampai ketemu di post selanjutnya! Semoga belum bosan ya!

Advertisements

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 1

Standard

Stereotype, atau dalam bahasa Indonesia disebut stereotip, menurut KBBI daring memiliki makna:

n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman berharga yang saya dapatkan berkaitan dengan stereotip ini. Pengalaman ini terjadi saat saya masih tinggal di Jepang, namun hikmahnya masih saya rasakan hingga sekarang.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 3 part, setiap partnya akan menceritakan seseorang yang saya kenal saat saya tinggal di Jepang, yang bantuannya tidak akan pernah saya lupakan.

Pertama kali saya tiba di Jepang untuk tinggal dalam waktu yang lama adalah pada tahun 2013. Bagi yang tidak mengikuti blog ini sejak dulu mungkin tidak tahu, jadi akan saya ceritakan sedikit penyebab saya tinggal di Jepang.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho atau disingkat Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang keberangkatan tahun 2013. Cerita lengkapnya sudah saya tuliskan di blog ini, silakan bagi yang ingin membaca bisa klik tab ‘monbusho’ di blog saya ini.

Saat tinggal di Jepang inilah pertama kalinya saya akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, mengingat kampus saya merupakan kampus negeri yang banyak menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar Jepang, sehingga menerima banyak sekali mahasiswa asing tiap tahunnya. Sebelum ini, saya hanyalah seorang pelajar biasa yang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang homogen. SD dan SMP saya di Balikpapan bersekolah di sekolah swasta yang siswa-siswanya berasal dari kalangan tertentu, saat SMA saya bersekolah asrama di madrasah aaliyah (otomatis teman-teman saya Muslim semua), dan saat S1 saya kuliah di kampus teknik (lagi-lagi bergaul dengan teman-teman yang memiliki keilmuan serupa). Sangat jarang saya bertemu dan berteman dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Mungkin nanti setelah teman-teman selesai membaca tulisan saya ini, teman-teman akan berpikir bahwa saya polos sekali, namun memang begitulah saya, terutama saat kedatangan saya pertama kalinya untuk tinggal di Jepang. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah belajar lebih banyak 🙂

Besar di lingkungan yang homogen membuat saya memiliki stereotip terhadap orang yang saya anggap ‘berbeda’ dari saya. Stereotip ini terjadi sebagai akibat dari hal-hal yang saya lihat, yang menyebabkan saya memiliki anggapan khusus terhadap kalangan tertentu. Sebagai contoh: orang Jepang disiplin dan tepat waktu, orang Amerika pasti berkulit putih, orang yang berwajah India pasti berasal dari negara India, orang Afrika pasti berkulit hitam, dan yang terakhir, inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini, orang berkulit hitam memiliki sifat kasar. Beberapa stereotip ini ada yang benar, namun ada juga yang tidak.

Saya yang dari kecil memperoleh hiburan dari film-film barat, sering sekali melihat orang berkulit hitam yang menjadi penjahat, pengkhianat dari suatu badan, polisi yang semena-mena, pokoknya orang berkulit hitam selalu menjadi antagonis di film-film tersebut. Dari sini saya melihat bahwa tak dapat dipungkiri, media memegang peran penting akan terbentuknya stereotip ini. Ditambah dengan pertama kalinya saya tinggal di LUAR NEGERI sendirian yang mengakibatkan saya menjadi ekstra hati-hati dalam bertindak, saya menjadi agak takut untuk bergaul dengan mereka yang berkulit hitam saat pertama saya bertemu dengan mereka.

Setibanya di Jepang, saya harus belajar Bahasa Jepang selama satu tahun, selama 5 hari dalam seminggu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, sebelum memulai pendidikan S2. Di kelas Bahasa Jepang, saya sekelas dengan teman-teman penerima beasiswa Monbusho dari negara lainnya. Mereka ada yang berasal dari Asia, Amerika latin, dan juga Afrika. Teman yang berasa dari Afrika ini ada lebih dari satu orang, dan mereka semua berkulit hitam.

Saat pertama kalinya saya bertemu dengan teman dari Afrika ini, saya sangat ingat saya berusaha untuk tidak berada di dekat mereka, karena saya sangat takut untuk bergaul dengan mereka. Hingga suatu ketika salah satu dari mereka menyapa saya terlebih dahulu. Oh ya, teman ini laki-laki, sebut saja J.

Dia menyapa dengan, “Salam ‘alaikum.” Saat itu saya terdiam sambil menoleh ke arahnya karena saya tidak menyangka akan disapa duluan. Lagipula saya juga bingung, mengapa dia menyapa saya dengan ucapan demikian, itu ‘kan hanya ucapan yang disampaikan kepada sesama Muslim. “Mengapa dia bisa tahu ucapan itu? Oh mungkin karena saya mengenakan hijab,” pikir saya waktu itu.

Karena terlalu kaget, I end up didn’t answer his greeting at all but only starred at him with blank face. Untungnya J ini tidak berubah menjadi menjauhi saya walaupun saya tidak menjawab salamnya. Dia malah bertanya, “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Bahkan saya tidak menanyakan balik dia dari negara mana saking sebegitu jaga jaraknya saya 😦

And then he said, “You are Muslim, right? You wear hijab. I am Muslim, too.” Dan saya langsung shocked. Ternyata dia Muslim juga walaupun berkulit hitam. Saya saat itu benar-benar tidak menyangka ada orang berkulit hitam yang Muslim. Saya benar-benar tidak tahu bahwa sebagian besar negara di Afrika utara berpenduduk mayoritas Muslim 😦 Maklum, terakhir belajar Geografi saat SMP, dan seingat saya waktu SMA tidak ada pelajaran yang membahas negara-negara di seluruh dunia 😦

Maka sejak dia menyapa saya terlebih dahulu itu, saya mulai membuka hati terhadap teman-teman berkulit hitam di kelas Bahasa Jepang saya lainnya. And turned out they are just as normal as we all are. Tidak ada satu pun yang kasar seperti yang saya lihat di film-film. Mereka juga ramah, bisa bergurau, belajar bareng, juga jalan-jalan bareng.

Karena saya selalu bersama teman-teman ini sebagian besar dalam waktu hidup saya selama satu tahun awal di Jepang, kami jadi benar-benar dekat seperti saudara. Karena kami juga satu asrama (tentu saja laki-laki dan perempuan dipisah, namun bersebalahan gedungnya), kami sering melakukan aktivitas bersama di luar waktu belajar. Dan pertemanan saya dengan J pun semakin normal, semakin seperti saya berteman dengan teman-teman di Indonesia saja. Dia (juga teman laki-laki lainnya) sopan kok terhadap perempuan, jadi saya tidak merasa takut diajak pergaulan yang aneh-aneh seperti yang saya lihat di film (lagi-lagi menyalahkan film 😀 ).

Singkat cerita, tibalah bulan Ramadhan pertama saya di Jepang. Alhamdulillah, terdapat satu masjid yang terletak cukup dekat dengan asrama saya. Kalau naik sepeda memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar, NAMUN harus melewati jalan yang sangat sepi dan pinggirnya terdapat hutan, sawah, dan lahan kosong. Kalau malam, hanya satu dua mobil saja yang melintasi jalanannya.

Sebagai informasi, karena Ramadhan tahun itu bertepatan dengan musim panas (yang mana siang lebih panjang daripada malam), waktu maghrib jatuh pada sekitar pukul 7 malam, isya pukul setengah 9 malam, dan subuh pukul setengah 3 pagi. Tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan menghabiskan bacaan 1 juz Al Qur’an setiap harinya. Oleh sebab itu, karena isya baru pukul setengah 9 malam, shalat tarawih selalu selesai pukul setengah 11, naik sepeda 30 menit, sampai rumah pukul 11 malam. Maka, saya selalu ke masjid beramai-ramai dengan teman Indonesia lainnya (mengingat jalanannya yang sepi seperti yang tadi sudah saya sebutkan dan waktu yang sangat larut). Dan kalau berencana sahur, maka harus bangun jam 2 pagi. Beginilah jadwal saya setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Di masjid ini terdapat kebiasaan di bulan Ramadhan yang hingga kini saya rindukan (selain tentu saja agenda shalat tarawih), yaitu adanya jadwal buka puasa bersama pada hari-hari tertentu, dan yang menyiapkan bergantian setiap negara/komunitas. Misal hari ini komunitas Arab menyiapkan buka puasa, kemudian 3 hari lagi komunitas Pakistan, lalu 3 hari lagi komunitas Mesir, dan tentu saja ada komunitas Indonesia, dan masih banyak negara lainnya.

Suatu hari, saya sedang ‘berhalangan’ (biasalah wanita), padahal hari itu ada jadwal buka puasa dari komunitas negara lain. Biasanya saat ada jadwal buka puasa bersama ini, makanan di masjid selalu berlebih dan tidak habis sehingga sering dibawa pulang oleh peserta tarawih. Saya sih senang saja makanannya jadi bisa dimakan untuk sahur lagi. Bahkan saking banyaknya, kadang dimakan sahur pun masih tidak habis.

Awalnya saya mau tetap ke masjid bersama dengan teman Indonesia lainnya, tapi tiba-tiba saya galau karena merasa tidak enak mengambil makanan gratis padahal tidak berpuasa, jadi saya batalkan janji saya dengan teman Indonesia tersebut, sehingga teman tersebut berangkat ke masjid duluan naik sepeda. Setelah teman saya pergi, saya masih di luar asrama dengan sepeda, muncul-lah J ini dari asrama laki-laki, dan sepertinya dia mau berangkat ke masjid.

Seperti biasa dia menyapa duluan, “Salam’alaikum, Nadine, are you going to the masjid?” Duh saya bingung harus jawab apa, kalau tidak ke masjid, saya terpaksa harus bilang alasan saya, padahal malu banget bilang lagi ‘berhalangan’ ke temen cowok gitu. Kalau saya bilang mau ke masjid, pasti dia ngajak bareng naik sepeda. Akhirnya saya pun jujur saja, “No, I’m not going to the masjid today.” Terus dia nanya lagi, “Why? There’s ifthar schedule today. It’s such a waste if you didn’t come.”

Karena dia bertanya dan saya juga tidak punya alasan lain, akhirnya saya jujur saja ke dia, “Actually I’m not fasting today. You know..that woman thing..” Dan untungnya dia langsung paham. “Ah I see. But it’s okay if you just come to get the food. There are so many leftovers everyday,” said him. Yaa bener juga sih, daripada makanannya terbuang percuma, mendingan saya bantu menghabiskan. Tapi saya tetap bingung bagaimana pulangnya, karena saya takut naik sepeda malam-malam melewati jalanan sepi tersebut.

Saya pun bilang lagi, “But I’m not doing tarawih prayer. I can’t go home alone after dinner since it would be too late and the road is kinda creepy,” ‘Late’ di sini maksudnya ‘sudah larut malam’. Jadi saya bilang ke dia, bagaimana saya bisa pulang habis makan malam, kan sudah malem banget padahal harus melewati jalanan sepi, gitu..

Lalu dia bilang lagi, “It’s ok. Just message me when you want to go home, I’ll go with you,” What??? Jadi dia menawarkan untuk mengantar saya pulang 😥

Ya sudahlah since he insisted (dan karena saya juga lapar 😀 ) saya terima saja ajakan dia ke masjid. Sepanjang perjalanan ke masjid seingat saya kami tidak mengobrol terlalu banyak. Sesampainya di masjid, dia masuk ke ruangan untuk laki-laki, dan saya masuk ke ruangan untuk perempuan.

Oh ya, jangan bayangkan masjid ini berbentuk masjid seperti di Indonesia yang berbentuk lantai luas dengan barisan laki-laki di depan barisan perempuan serta langit-langitnya tinggi ada kubahnya. Masjid kami tidak seperti Masjid Camii di Tokyo, atau Masjid Kobe yang berbentuk layaknya masjid di Indonesia. Masjid kami ini hanyalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa ruangan. Jadi ada ruangan yang dipakai oleh jamaah laki-laki dan ada yang untuk jamaah perempuan.

Singkat cerita, tibalah waktu ifthar, lalu shalat maghrib (saya melipir di pojokan karena tidak shalat), lalu makan malam. Setelah makan malam saya pun mengirim pesan melalui Line ke J, “J, I’m finished. I think I want to go home now.” Tadinya saya tidak berekspektasi di akan membalas. Mungkin dia sudah sibuk ngobrol dengan jamaah laki-laki lainnya jadi tidak akan sering-sering mengecek hpnya. Eh, tidak disangka dia langsung membalas, “Okay, let’s meet outside.”

Kami pun bertemu di luar masjid lalu naik sepeda menuju asrama. Sepanjang perjalanan pulang dia bersepeda dengan jarak sekitar 2 meter di belakang saya dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, which I really appreciate. Biar bagaimana pun juga dia bukan muhrim, tapi saya takut juga kalau pulang sendirian, dan sepertinya dia juga paham hal ini :’)

Begitu kami sudah sampai di jalanan yang agak ramai, saya bilang ke dia,”I think you can leave me here,” soalnya saya nggak enak juga sama dia yang masih harus balik ke masjid untuk shalat tarawih. Dia bertanya, “is it really okay?” “Yeah, it’s okay. And thank you so much,” jawab saya. Kami pun berpamitan dan dia bersepeda balik ke arah masjid.

Hingga saat ini this one particular episode masih sangat teringat jelas di ingatan saya, karena saya merasa mendapat bantuan yang tidak disangka-sangka and even from the least likely person, ditambah bahkan saya pernah su’udzon duluan ke dia 😥 Kalau dipikir-pikir, sampai saya meninggalkan Jepang, saya belum pernah benar-benar membalas perbuatan baiknya. Hhh.. I should’ve treated him better.. Well, I just pray that Allah will repay his good deeds.. Aamiin..

Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini hingga selesai 🙂 Sampai jupa di part 2 yang insya Allah nggak kalah seru ceritanya. Di part 2 teman-teman akan tahu the real struggle of studying in Japan. Kehidupan di Jepang itu tidak melulu seindah pepohonan yang menguning di kala musim gugur, seputih salju di musim dingin, apalagi secerah matahari yang jatuh di antara ranting bunga sakura di musim semi.

Eeaa..

PS: Sekadar informasi, tahun 2015, J sudah menikah dan saat ini telah memiliki seorang anak.

Day 13: Thing I am Excited About

Standard

Sebenernya saya agak bingung, apa ya bedanya “thing I am excited about” dengan “things that make me really happy”. Toh keduanya sama-sama membuat senang atau bersemangat 😀 Karena buat saya yg membuat saya senang itu ya otomatis membuat saya semangat, begitupun sebaliknya 😀

Mungkin temen2 di sini yg sudah ngikutin 30 day writing challenge ini dari awal, sudah cukup hapal dengan beberapa hobi saya, yaitu traveling dan making itinerary. Basically, hal-hal inilah yg selalu membuat saya bersemangat dalam menyongsong hari-hari saya #eeaa. Ketika saya tahu saya akan berlibur ke suatu tempat, maka mulai dari persiapannya hingga hari demi hari menuju the D-Day itu benar-benar penuh dengan penantian yg menggembirakan.

Namun, rasa-rasanya saya sudah cukup sering dan banyak mengupas tentang hobi jalan-jalan ini, sehingga sepertinya sudah tidak ada yg bisa dituliskan lagi (untuk saat ini). Akhirnya, setelah berpikir keraass, saya menemukan juga hal yg membuat saya bersemangat namun tidak otomatis membuat saya senang. He he. Karena hal yg membuat bersemangat ini terkadang juga penuh dengan aral lintangan serta cobaan berliku. Eeaa.

So without further a do, here it is…

Baru-baru ini saya menemukan hobi baru mencoba membangkitkan kembali hobi lama saya yaitu berjualan. Awalnya saya kira berjualan itu mudah ya kayak gitu aja, cari supplier, posting foto-foto yg bagus, membuat kata-kata yg mengundang, terkadang memberi diskon pada event-event tertentu, menjadi contact person yg ramah bagi pembeli. Sudah. Setelah saya mempraktikkannya selama beberapa waktu, ternyata berjualan is not easy AT ALL! Not even close ><

Saya jadi ketemu berbagai tipe customer dan jadi belajar bagaimana cara menghandle-nya (psst, tidak semua customer menganggap penjual itu juga manusia yg punya rasa punya hati loh >< ). Saya jadi tahu cara promosi toko itu tidak hanya melalui cara-cara yg gratis, terkadang ada sedikit yg harus kita korbankan demi hasil yg lebih besar lagi. Dan masih banyak lagi.

Herannya, mempelajari trik-trik berjualan ini membuat saya bersemangat, walaupun sebenarnya jatuh-bangun juga, sering bapernya, dan saya jadi pernah merasakan ditusuk dari belakang oleh teman sendiri. Oh yes, life is hard, kawan T_T

Dengan berjualan, saya jadi lebih bisa merasakan bahwa “rejeki itu tidak akan tertukar”. Udah titik. Tapiii bukan berarti kita diam saja menunggu rejeki yg memang sudah ditakdirkan untuk kita itu. Kita harus berusaha semaksimal mungkin meraihnya dengan cara-cara yg kita bisa dan tentunya juga harus halal caranya 🙂

Selain itu, sebisa mungkin apa yg kita jual harus dapat bermanfaat bagi sekitar. Atau minimal hasil dari penjualan kita, kita sisihkan juga bagi yg membutuhkan. Memberi dulu, baru menerima 🙂

Rasa-rasanya sejak benar-benar men-seriusi jualan, saya jadi merasa makin keciilll banget di hadapan Allah. Berbeda dengan ketika saya dulu mendapat “rejeki” yg rutin per bulan dengan jumlah yg sama, saya dulu rasa-rasanya menjalani hidup dengan monoton dan kurang bersemangat. Karena ada perasaan toh tiap bulan saya juga pasti akan dapat segitu (ini sih sayanya aja ya yg cetek imannya, insya Allah temen2 nggak kayak gitu ya 🙂 ). Tapi sejak merasakan tertatih-tatihnya jualan, saya jadi merasa setiap hari saya harus melakukan sesuatu jika ingin dapur terus ngebul toko saya bisa terus buka dan terus memberikan manfaat untuk sekitar.

Mohon doanya ya kawan, semoga saya bisa selalu istiqomah, dan juga bisa lebih bermanfaat lagi bagi orang lain dengan hal yg saya bisa 🙂

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini, sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya ^_^

*****

PS: Untuk yg bertanya-tanya, apa sih yg saya jual, he he, karena postingan ini ceritanya bukan untuk mempromosikan toko saya, saya nggak ingin mencantumkan link menuju toko saya. But since you were asking (emangnya ada gitu yg nanya? 😛 ), saya sekarang punya dua toko online. Yang satu menjual jilbab dengan berbagai ukuran dan banyaakk warna yg insya Allah menutup dada, bisa dicek di http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse . Yang satunya lagi menjual snack impor Jepang yg halal dan juga barang2 lucu unik dari Jepang, bisa dicek di http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

Please kindly check my online store that sells hijab at http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse and sells Japanese halal snacks and unique goodies at http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

meiji-matcha

One of Michiko Goodies’ product 🙂

 

We are Ready to Back on Track!

Standard

Di beberapa postingan terdahulu, saya sempat cerita bahwa saya dan suami punya youtube channel yang membahas halal tourism di Jepang. Long story short, sejak September 2015 lalu, karena kami merasa masih kurangnya kesadaran umat Muslim tentang pentingnya kehalalan suatu makanan, dan karena kami melihat bahwa Jepang masih merupakan tujuan wisata populer di kalangan umat Muslim, saya dan suami pun memulai youtube channel yang bernama Halaljapanlife https://www.youtube.com/halaljapanlife (go check it out!). Alhamdulillah, sambutan pemirsa (caelaa) sangat baik ^_^ Senang rasanya informasi yang kami berikan di sana bisa bermanfaat untuk semua.

Bulan April 2016 lalu, Alhamdulillah, our youtube channel was featured on Majalah Cahaya Hati. Semoga dengan adanya artikel di majalah tersebut, semangat untuk selalu berusaha mencari makanan halal bisa menular ke temen-temen semua yg baca artikelnya ya 🙂

Dan tanpa disangka-sangka, hari ini kami mendapat email dari http://www.tripfez.com, sebuah website untuk memesan hotel yg Muslim-friendly. Dalam email tersebut, kami diberi tahu bahwa lagi-lagi kanal youtube kami di-feature di website mereka. Ini linknya. Ketika saya membuka link yang mereka berikan, saya terharu sekali melihat judulnya. “7 Youtube channels Every Muslim Traveler Should Subscribe To!” :’) Sungguh tidak menyangka bahwa hal sederhana yang kami lakukan diapresiasi begitu besar oleh orang lain :”) Dan yang lebih membuat saya terharu lagi, nomor 1 dalam list tersebut adalah Dina Tokio!!! Dan 5 kanal youtube lainnya juga sangat keren kereeenn!!! Apalahhh kami ini dibanding youtubers-youtubers ituuuu T_T

Kejutan hari ini seakan mengingatkan saya untuk tidak pernah berhenti berkarya dalam hal apa pun yang kita bisa, dan terutama untuk terus berusaha menebar manfaat bagi orang lain :”) Sejujurnya, dalam waktu dekat ini kami berencana mengaktifkan kembali kanal youtube kami. Sudah ada beberapa video yang kami siapkan, dan hanya tinggal menunggu ketersediaan kuota internet untuk meng-upload XD

Selain itu, guess what? Ada hal spesial lain yang sedang kami siapkan untuk temen-temen semua! Dijamin temen-temen bakal sukaaaa banget dan juga insya Allah bermanfaat yaa.. Bismillah..insha Allah we are ready to back on track again!!

picsart_11-09-06-24-46

Menanggapi Ajakan Minum-minum

Standard

Ajakan minum-minum atau nomikai rasanya adalah suatu keniscayaan yang akan kita hadapi ketika kita tinggal di Jepang. Nomikai memang tidak bisa dipisahkan dari budaya Jepang. Bagi orang Jepang, nomikai merupakan sarana untuk melepas lelah dan bergaul dengan leluasa. Hampir semua acara pertemuan disandingkan dengan nomikai, sebagai contoh: pesta akhir tahun, acara penyambutan murid baru di lab, acara kelulusan, acara perpisahan, dan bahkan acara santai semacam camp bersama teman lab pun kemungkinan besar akan ada acara nomikai malamnya. Contoh-contoh ini nyata dan berasal dari pengalaman saya sendiri, yang akan saya ceritakan lebih lengkap di bawah.

Menurut cerita yang saya dengar dari mereka yang pernah menghadiri nomikai, orang Jepang biasanya lebih ceria, terbuka, dan mudah bercanda jika mereka berada dalam keadaan sedikit mabuk. Itulah mengapa nomikai bagi mereka (orang Jepang) adalah cara untuk mingle dengan kolega-kolega mereka.

Lalu, bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim?

Hmm, memang sih membicarakan nomikai ini rasa-rasanya agak sensitif >_< Saya yakin pasti banyak di antara teman-teman yang sebetulnya merasa jengah jika harus kumpul-kumpul dengan mereka yang minum-minum. Tapi karena merasa nggak enak menolak ajakan teman lab, sensei, atau bos, jadi terpaksa datang. Padahal di hati ada perasaan risau dan nggak nyaman. Tidak apa-apa, jika teman-teman sudah merasa risau, itu pertanda bagus, artinya solat teman-teman tidak sia-sia 🙂 Karena solatlah yang mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, dan solat juga yang membedakan orang muslim dan orang kafir.

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

“Barang siapa yang menjaga sholat maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan di Hari Kiamat, dan barang siapa yang tidak menjaga sholatnya maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada Hari Kiamat dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang baik, jayyid.)

Perasaan risau ketika merasa sudah melakukan dosa itulah ‘cahaya’ yang Allah janjikan 🙂

Mengenai bagaimana hukumnya dalam Islam, karena saya bukan ahli fiqh, pertama-tama, silakan baca di tautan berikut ini mulai halaman 11.

Dari artikel di atas, sudah jelas yaaa dapat disimpulkan bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim menghadiri acara di mana disediakan minuman keras di acara tsb.

Tips menghindarinya

Saya sendiri pun tak luput dari undangan menghadiri acara serupa. Dari awal saya datang ke Jepang, saya sudah diajak nomikai sebagai penyambutan mahasiswa baru. Sebenarnya saat pertama saya datang ke sini, saya belum pernah baca artikel di atas. Jadi saat itu saya cuma bertanya-tanya ke senior yang sudah lebih dulu berada di Jepang, bagaimana sikap mereka saat diajak nomikai. Di antara  yang saya tanya ada yang tetap datang namun tidak minum, ada pula yang bilang datang di awal tapi  pas mereka mulai minum-minum pamit duluan.

Saya sendiri saat ajakan pertama itu, saya menolak datang dengan cara yang halus, begini caranya. Jadi sebelum menentukan tanggal, panitia acara meminta calon peserta acara untuk mengisi voting online waktu-waktu di mana kami kosong. Simpel saja, dari hasil voting online tersebut, akan dipilih waktu yang paling banyak pemilihnya. Ketika itu, saya bilang ke panitianya, “Karena saya nggak bisa minum-minum, tidak perlu menunggu voting dari saya.” Tapi saya TIDAK bilang “Saya akan ngikut hasil terbanyak.” Kemudian ketika hasil voting telah keluar, saya bilang “Wah mohon maaf saya sudah ada acara pada waktu tersebut” dan lalu saya mencari-cari hal yang bisa saya lakukan pada waktu tsb supaya saya nggak bohong 😀 (Boleh disontek lho cara ini 😀 )

Saya memutuskan untuk speak up

Lambat laun mereka tidak pernah lagi mengajak saya ke acara nomikai. Saya pun mulai merasa tenang 😀 Sampai suatu ketika, lab saya mengadakan acara camp rutin setiap musim panas. Di acara camp ini, semua anggota lab saya plus sensei akan menginap di cottage atau ryokan di pedesaan Jepang. Akan ada acara belajar bersama, diskusi, dan juga acara santai-santai seperti main kembang api dan jalan-jalan di sekitar ryokan. Saya sendiri sebenarnya sangat menikmati acara camp ini, karena saya jadi ada alasan untuk jalan-jalan ke daerah Jepang yang lebih tenang dan melihat pemandangan pengunungan, sawah, sungai, maupun pedesaan yang jarang bisa saya lihat sehari-hari. Dan juga kegiatan diskusi menjadi tidak bosan dengan adanya suasana baru.

Camp ini berlangsung selama 3 hari 2 malam dan jadwal acara baru dibagikan saat hari H. Siang hari selalu digunakan untuk belajar, dan malam hari selalu digunakan untuk acara santai. Malam pertama jadwalnya adalah main kembang api, dan malam kedua jadwalnya adalah…bisa ditebak, nomikai.

Nah loh, bingung kan saya. Kalau saya lagi nggak berada di tempat yang sama dengan mereka saya sih bisa menghindar dengan bilang ada acara lain seperti yang udah saya ceritain di atas. Tapi ini keadaannya saya kan berada di atap yang sama dengan mereka, mau menghindar ke mana saya? >_<

Saat itulah saya mendapat artikel yang saya berikan link-nya di atas. Alhamdulillah ya artikel itu datang di saat yang tepat. Setelah membaca artikel itu, saya pikir sudah tidak perlu lagi saya mencari-cari alasan untuk menghindari acara nomikai. Just ‘simply’ because I am a Muslim, I don’t attend an event where alcoholic drinks are served. Saya benar-benar merasa sudah saatnya saya speak up sekaligus memberikan pernyataan jelas kepada teman-teman lab saya, orang seperti apa saya.

Akhirnya sebelum malam di mana nomikai itu tiba, saya bilang ke teman-teman lab saya, “Mohon maaf ya saya nggak ikut kumpul-kumpul malam ini. Sebetulnya, saya tidak boleh menghadiri acara yang ada minuman kerasnya.” Tentu saja mengumpulkan nyali untuk bilang ini tidak mudah, namun jawaban teman-teman lab benar-benar membuat saya lega. Ternyata mereka menanggapi pernyataan saya simpel aja, “Oh ya? Wah maaf banget ya kami nggak tau. Terus kamu mau ngapain sekarang?” Saya bilang saja, “Nggak apa-apa kok, saya di kamar aja.” Lalu mereka bilang lagi, “Oh ya udah kalo gitu. Tapi kamu nggak apa-apa sendirian? Selamat tidur ya.”

Udah. Beres.

Ternyata sesimpel itu aja yang harus kita lalui untuk menghindari acara nomikai. Tinggal bilang kita nggak bisa hadir, kemudian tinggal masuk telinga kanan keluar telinga kiri apa pun tanggapan mereka >_<

Beberapa hal yang menjadi penguat saya

Mungkin banyak di antara temen-temen yang baca ini yang bilang saya berani banget ngomong gitu di depan semuanya. Pertama-tama, tentu saja alhamdulillah, laa haulaa wa laa kuwwata illa billah. Hanya Allah pemberi kekuatan. Dan sebenernya sebelum saya bilang itu saya pun deg-degannya ampun-ampunan kok >_< Banyak yang saya pikirin sebelum akhirnya saya memutuskan udahlah biarin aja dianggap aneh, pokoknya saya nggak mau dateng ke acara nomikai dan saya harus bilang itu. Mungkin alasan-alasan di bawah ini bisa dijadikan inspirasi oleh teman-teman semua.

Satu. Kita mulai dari yang sederhana dulu. Jika kita menghadiri nomikai, kita harus patungan untuk konsumsinya. Patungan ini biasanya berkisar antara 3000-5000 yen. Dan bisa ditebak ke mana sebagian besar uang itu dipakai? Ya beli minuman keras. Bayangin kita bayar 3000 yen tapi cuma bisa minum jus padahal jus itu bisa dibeli di mini market harganya 100 yen-an sekotak. Rugi banget kan >_<

Lagipula disebutkan juga dalam sebuah riwayat

“Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

(Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/10/10/minuman-keras-dan-narkoba-arakkhamar-itu-haram/)

Jadi, sudah jelas juga jangan sampai uang kita digunakan untuk membeli minuman keras. Pokoknya jangan deket-deket dan jangan berhubungan deehh sama minuman keras >_<

Dua. Di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita di dunia SENDIRIAN. Ya, sendirian. Nggak akan ada temen-temen lab dan sensei kita yang akan belain kita karena udah ngajak kita ke acara nomikai >_< Impact dari ketidakikutan saya dalam nomikai ini sih nyata banget, saya dan temen-temen lab saya jadi nggak terlalu dekat dan nggak kayak temen banget. Tapi ya sudahlah, saya mengambil resiko nggak terlalu deket dan nggak punya temen daripada saya harus mendapat dosa yang sama seperti minum-minum (dengan menghadiri acara nomikai) hueee takut bangeett. Yang pasti, kita masih bisa kok berbuat baik sama temen-temen lab. Insya Allah kita ga akan dicap buruk hanya karena nggak ikut nomikai 🙂 Kalo dicap aneh sih…sudah biasa hehehe

Sikap positif orang Jepang

Alhamdulillah bangeettt setelah saya bilang kalo saya sebenernya nggak bisa menghadiri acara nomikai, ternyata temen-temen lab dan sensei saya sangat-sangat menerima kok. Saya tidak tahu apakah saya bisa men-generalisasi atau nggak tapi orang Jepang itu sangat toleran terhadap kepercayaan yang kita anut. Kalau kita sudah bilang saya nggak makan ini atau itu, mereka nggak akan mengganggu gugat. Kemudian mereka akan konsisten membantu kita menghindari apa yang nggak bisa kita makan itu. Ini yang membuat saya benar-benar kagum sama orang Jepang. Kalau sudah mengetahui suatu peraturan, mereka pasti akan menjalaninya.

Berikut ini, saya mau cerita pengalaman saya lagi setelah saya speak up.

Tahun ini tibalah juga saatnya acara perpisahan saya dengan lab saya, karena masa studi saya telah selesai. Acara perpisahan ini juga rutin tiap tahun dan tahun-tahun lalu selalu diadakan di izakaya a.k.a bar-nya orang Jepang. Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah ikut, tapi tahun ini tidak mungkin kan saya tidak ikut padahal saya yang diperpisahkan?

Akhirnya saya coba komunikasikan kebimbangan saya tentang acara perpisahan ini ke salah satu lab member saya. Tersebutlah seorang temen cewek berinisial W-san, orang Jepang. Saya bilang, “W-san, saya kan ga bisa ikutan acara nomikai. Kalo nanti perpisahan ada acara nomikainya, mohon maaf lagi ya saya tidak bisa ikut. Tapi saya tetep pengen ada acara perpisahan sama temen-temen lab. Apa di waktu lain saya masak-masak aja trus kita makan-makan di lab?”

Ternyata oh ternyata, alhamdulillah W-san nya bilang gini, “Oh tenang aja Nadine-san, kita ga akan ngadain di izakaya kok. Malah kita mau ngadain di Ali’s kebab (salah satu restoran halal di Tsukuba). Gimana?”

Jelas saja saya sangat berterima kasih, tapi FYI, tidak semua resto halal bebas alkohol, dan di Ali’s kebab ini tetap disediakan alkohol walaupun resto halal. Jadi saya bilang ke W-san lagi, “Wah iya terima kasih banget kalo mau ngadain di Ali’s kebab. Tapi nanti kalau sudah mau mulai acara minum-minumnya saya pulang duluan ya.”

Dan W-san nya malah bilang lagi, “Oh ga apa2 kok, Nadine-san. Nanti ga akan ada minum-minum.”

Dan benar saja, alhamdulillah acara perpisahan untuk saya (dan mahasiswa tahun terakhir lainnya) telah terlaksana bulan Februari lalu, dan berhasil dilalui tanpa ada acara minum-minum.

Begitulah orang Jepang, mereka sangat mudah untuk patuh terhadap peraturan. Bahkan dalam kondisi acara perpisahan kemarin ini, mereka semua mau mengalah terhadap kebutuhan saya atau hal yang saya anut meskipun saya hanya satu orang di antara mereka >_<

Yang penting adalah komunikasi bukan kompromi

Jadi ternyata, setelah saya memberanikan diri menolak ajakan-ajakan nomikai dari mereka, saya jadi menyadari bahwa ketakutan atau perasaan nggak enak nolak itu murni hanya asumsi kita saja.

Sebagai muslim kan kita memiliki peraturan yang tidak bisa dikompromikan, namun, jika kita sudah berusaha meng-komunikasikan dengan baik, insya Allah mereka pasti akan menerima dan bahkan membantu kita mematuhi peraturan itu lho.

Tetapi ketika sedang berusaha mengkomunikasikan, usahakan ada alternatif dari kita, sehingga menunjukkan bahwa kita tak hanya ingin dimengerti, tapi yuk sama-sama bikin acara yang saya bisa ikut dan mereka pun bisa menikmati. Misalnya kasus saya tadi ketika menawarkan untuk memasak di acara perpisahan. Jika sudah demikian, mereka pasti juga akan melihat usaha kita untuk mendekat ke mereka.

Semoga temen-temen semua juga diberikan kemudahan dan kemantapan hati untuk bisa selalu menjalankan syariat-Nya meskipun sedang menjadi kaum minoritas, ya. Aamiin 🙂

Hal-hal di Indonesia yang Bisa Bikin Kaget Orang Jepang

Standard

Rasanya tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa Jepang merupakan salah satu negara yang penduduknya sangat-sangat mematuhi peraturan. Pemahaman bahwa peraturan yang dibuat itu adalah untuk kepentingan bersama memang sudah ditanamkan sejak dini. Di Jepang, pendidikan utama terhadap anak-anak bukanlah calistung, melainkan pendidikan moral, seperti membiasakan mengurus diri sendiri, budaya mengantre, mengucapkan maaf dan terima kasih, dan lain-lain. Akibatnya, tidak mengherankan jika Jepang memiliki tingkat kriminalitas yang rendah (walaupun tidak nol sama sekali).

Sebelum saya tinggal di Jepang 3 tahun lalu, saya sempat beberapa kali berkenalan dengan orang Jepang yang sedang berkunjung ke Indonesia, lebih khususnya ke Bandung. Saya pun sempat mengantar teman-teman Jepang saya itu bepergian selama di Bandung. Ketika berjalan-jalan dengan mereka, sempat beberapa kali teman saya itu melontarkan kekagetan terhadap yang ia lihat di jalan raya XD Dulu saya pikir dia kaget hanya karena tidak terbiasa melihat yang ia lihat itu di Jepang. Saya pikir, wajar saja jika terdapat beberapa perbedaan antar satu negara dengan negara lain. Dulu bahkan saya sempat merasa bangga lho dengan ‘keunikan’ Indonesia ini. Namun, setelah saya merasakan tinggal di Jepang dan mau tidak mau jadi ikut mematuhi peraturan di Jepang, saya jadi malu sendiri kalau ingat hal-hal berikut ini yang masih sering sekali terjadi di Indonesia.

Jarak antar kendaraan

Seperti yang kita semua tahu, di Indonesia jarak antar kendaraan di jalan raya sangatlah mepet. Pokoknya selama masih ada space, sayang banget kalo nggak diisi. Kita semua juga tahu bahwa sebenarnya ini sangat-sangat berbahaya. Bagaimana jika terjadi sesuatu di depan kita yang mengharuskan kita menyetir mundur kendaraan kita, sementara jarak kita dengan kendaraan di belakang terlalu dekat? Berbahaya sekali kan >_<

Di Jepang, jarak antar kendaraan sangatlah jauh. Saya kurang paham sih standarnya harus bereapa meter, tapi kalo saya perhatikan jaraknya antara setengah sampe satu buah mobil. Dan bahkan motor aja nggak nyelip di antara mobil atau berhenti di samping mobil. Motor dan mobil berada pada satu garis lurus yang sama. Nggak heran waktu temen saya orang Jepang yang saya ajak jalan-jalan di Bandung naik mobil dulu sampe kaget banget ketika tiba-tiba ada motor yang stop di samping mobil saya 😀

Naik motor lebih dari 2 orang

Mungkin kita maklum kalau ada orang Jepang yang kaget motor di Indonesia dinaiki oleh 3 orang, dan bahkan kadang-kadang ada anak kecil yang duduk di depan bapaknya yang lagi nyupir motor. Tapi ternyata, orang Jepang kagetnya lebih-lebih karena di Jepang sendiri, motor itu hanya diperuntukkan bagi satu orang. Jadi panjang jok untuk duduknya itu hanya cukup untuk satu setengah orang, yang setengahnya lagi biasanya untuk naroh barang.

Di Jepang, sepeda (maupun motor kalau tidak salah) terlarang dinaiki oleh dua orang. Untuk sepeda saya yakin 100% terlarang, tapi untuk motor sebenarnya saya belum crosscheck lagi secara hukum, tapi begitulah yang saya dengar. Dan memang saya belum pernah melihat orang berboncengan naik motor di jalan raya, plus ukuran joknya tadi yang memang tidak memungkinkan bagi dua orang.

foto motor jepang

Foto motor di parkiran kampus. Kecil kan joknya 😀

Tidak memakai helm

Untuk yang satu ini bahkan bagi orang Indonesia aja sebenernya sudah merupakan isu yang sering dibahas. Harusnya kita tahu ya bahwa helm itu bukan sekedar aksesoris dalam perjalanan, namun untuk kepentingan kita sendiri. Saya sendiri heran kenapa ada orang yang bisa dengan sok gagahnya naik motor tanpa helm walaupun dekat. Kalau memang ga mau pake helm dalam jarak dekat, kenapa ga jalan kaki aja sih? Kan katanya dekat? Sepertinya sosialisasi akan pentingnya helm masih jadi PR untuk kita semua ya…

Seorang temen Jepang saya bener-bener pernah sampe berkali-kali bilang “it’s very dangerous”  waktu melihat beberapa pengendara motor Indonesia yang tidak memakai helm di jalan raya. Pasti mereka heran banget ya sama Indonesia kok bisa se-ngegampangin itu sama peraturan yang padahal untuk kepentingan sendiri. Sayangnya, mungkin sanksi yang diberikan jika tidk memakai helm belum cukup membuat jera. Ditambah lagi penegakan hukum yang belum tegas merata di semua daerah. Tidak seperti di Jepang, kalau denda sekian ya bener-bener harus dibayar sekian itu.

*****

Kayaknya kalau membandingkan Indonesia sama Jepang memang terlalu jauh ya >_< Mungkin beberapa puluh tahun lagi Indonesia baru bisa menyamai Jepang dalam sisi penegakan peraturan. Tapi gak apa-apa, yang penting kita nggak boleh menyerah dalam menyampaikan kebenaran. Minimal dari diri sendiri, lalu keluarga kita sendiri 🙂

Halal Restaurant Manhattan Fish Market and Halal Souvenir at LAOX Shinjuku

Standard

Assalamu’alaykum 🙂

A few months ago, I posted a review about some new halal restaurants in Japan (https://atashinohanashi.wordpress.com/2015/02/23/new-halal-restaurants-in-japan-review/) and many people seem to find that article helpful, Alhamdulillah. So in this post, I’m going to be reviewing another new halal restaurant plus halal souvenir store in Japan.

Manhattan Fish Market

Access: Ikebukuro Station, address: Sankei 33 Building B1F, 1 Chome-4-2 Higashi-Ikebukuro

Manhattan Fish Market (MFM) is an American style restaurant that has more than 50 branches all over Asia. MFM in Japan is halal certified and no alcohol served, so you can enjoy dining here comfortably. They also have Muslim staff, English menu, and when I was there, I felt like all the staffs were willing to speak English (unlike many other restaurants in Japan). The menus are mostly seafood, but they also have chicken. Check their website here: http://www.manhattanfishmarket.com/japan.html

The place is very cozy, they have many kinds of meals and beverages and they are all very delicious, the staffs are very friendly, I don’t really have any complaint or negative review about this restaurant 😀 I definitely want to come back again next time to try other menus 🙂

Muslim Friendly Facilites at LAOX Shinjuku

After going to MFM, we went to LAOX Shinjuku. For you who doesn’t know what LAOX is, LAOX is a department store that sell many kinds of goods, from electronics to jewelry, from snacks to Japanese traditional crafts, and many more. They provide tax free for tourists, therefore this place is very recommended for you who needs one stop shopping center while traveling to Japan. They have many branches all over Japan, but the one we went to was the one in Shinjuku. Check their website here: http://www.laox.co.jp/en/stores/shinjuku/

Alhamdulillah, this past decades Japan’s government is getting aware and considerate about Muslim’s needs. Here in LAOX Shinjuku, they provide decent corner for praying (seperated between male and female) and designated corner for halal souvenirs. They sell many kinds of halal souvenirs such as snacks, crackers, instant ramen, biscuit, and so on. You don’t have to be worry if you are shopping for halal souvenirs here 🙂

*****

To see more detail about MFM and LAOX, take a look at inside them, and where to locate them, please kindly check our video on youtube below 🙂 I hope this article is helpful for you who are planning to go to Japan in near future 🙂