Category Archives: Daily

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 1

Standard

Stereotype, atau dalam bahasa Indonesia disebut stereotip, menurut KBBI daring memiliki makna:

n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman berharga yang saya dapatkan berkaitan dengan stereotip ini. Pengalaman ini terjadi saat saya masih tinggal di Jepang, namun hikmahnya masih saya rasakan hingga sekarang.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 3 part, setiap partnya akan menceritakan seseorang yang saya kenal saat saya tinggal di Jepang, yang bantuannya tidak akan pernah saya lupakan.

Pertama kali saya tiba di Jepang untuk tinggal dalam waktu yang lama adalah pada tahun 2013. Bagi yang tidak mengikuti blog ini sejak dulu mungkin tidak tahu, jadi akan saya ceritakan sedikit penyebab saya tinggal di Jepang.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho atau disingkat Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang keberangkatan tahun 2013. Cerita lengkapnya sudah saya tuliskan di blog ini, silakan bagi yang ingin membaca bisa klik tab ‘monbusho’ di blog saya ini.

Saat tinggal di Jepang inilah pertama kalinya saya akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, mengingat kampus saya merupakan kampus negeri yang banyak menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar Jepang, sehingga menerima banyak sekali mahasiswa asing tiap tahunnya. Sebelum ini, saya hanyalah seorang pelajar biasa yang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang homogen. SD dan SMP saya di Balikpapan bersekolah di sekolah swasta yang siswa-siswanya berasal dari kalangan tertentu, saat SMA saya bersekolah asrama di madrasah aaliyah (otomatis teman-teman saya Muslim semua), dan saat S1 saya kuliah di kampus teknik (lagi-lagi bergaul dengan teman-teman yang memiliki keilmuan serupa). Sangat jarang saya bertemu dan berteman dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Mungkin nanti setelah teman-teman selesai membaca tulisan saya ini, teman-teman akan berpikir bahwa saya polos sekali, namun memang begitulah saya, terutama saat kedatangan saya pertama kalinya untuk tinggal di Jepang. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah belajar lebih banyak 🙂

Besar di lingkungan yang homogen membuat saya memiliki stereotip terhadap orang yang saya anggap ‘berbeda’ dari saya. Stereotip ini terjadi sebagai akibat dari hal-hal yang saya lihat, yang menyebabkan saya memiliki anggapan khusus terhadap kalangan tertentu. Sebagai contoh: orang Jepang disiplin dan tepat waktu, orang Amerika pasti berkulit putih, orang yang berwajah India pasti berasal dari negara India, orang Afrika pasti berkulit hitam, dan yang terakhir, inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini, orang berkulit hitam memiliki sifat kasar. Beberapa stereotip ini ada yang benar, namun ada juga yang tidak.

Saya yang dari kecil memperoleh hiburan dari film-film barat, sering sekali melihat orang berkulit hitam yang menjadi penjahat, pengkhianat dari suatu badan, polisi yang semena-mena, pokoknya orang berkulit hitam selalu menjadi antagonis di film-film tersebut. Dari sini saya melihat bahwa tak dapat dipungkiri, media memegang peran penting akan terbentuknya stereotip ini. Ditambah dengan pertama kalinya saya tinggal di LUAR NEGERI sendirian yang mengakibatkan saya menjadi ekstra hati-hati dalam bertindak, saya menjadi agak takut untuk bergaul dengan mereka yang berkulit hitam saat pertama saya bertemu dengan mereka.

Setibanya di Jepang, saya harus belajar Bahasa Jepang selama satu tahun, selama 5 hari dalam seminggu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, sebelum memulai pendidikan S2. Di kelas Bahasa Jepang, saya sekelas dengan teman-teman penerima beasiswa Monbusho dari negara lainnya. Mereka ada yang berasal dari Asia, Amerika latin, dan juga Afrika. Teman yang berasa dari Afrika ini ada lebih dari satu orang, dan mereka semua berkulit hitam.

Saat pertama kalinya saya bertemu dengan teman dari Afrika ini, saya sangat ingat saya berusaha untuk tidak berada di dekat mereka, karena saya sangat takut untuk bergaul dengan mereka. Hingga suatu ketika salah satu dari mereka menyapa saya terlebih dahulu. Oh ya, teman ini laki-laki, sebut saja J.

Dia menyapa dengan, “Salam ‘alaikum.” Saat itu saya terdiam sambil menoleh ke arahnya karena saya tidak menyangka akan disapa duluan. Lagipula saya juga bingung, mengapa dia menyapa saya dengan ucapan demikian, itu ‘kan hanya ucapan yang disampaikan kepada sesama Muslim. “Mengapa dia bisa tahu ucapan itu? Oh mungkin karena saya mengenakan hijab,” pikir saya waktu itu.

Karena terlalu kaget, I end up didn’t answer his greeting at all but only starred at him with blank face. Untungnya J ini tidak berubah menjadi menjauhi saya walaupun saya tidak menjawab salamnya. Dia malah bertanya, “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Bahkan saya tidak menanyakan balik dia dari negara mana saking sebegitu jaga jaraknya saya 😦

And then he said, “You are Muslim, right? You wear hijab. I am Muslim, too.” Dan saya langsung shocked. Ternyata dia Muslim juga walaupun berkulit hitam. Saya saat itu benar-benar tidak menyangka ada orang berkulit hitam yang Muslim. Saya benar-benar tidak tahu bahwa sebagian besar negara di Afrika utara berpenduduk mayoritas Muslim 😦 Maklum, terakhir belajar Geografi saat SMP, dan seingat saya waktu SMA tidak ada pelajaran yang membahas negara-negara di seluruh dunia 😦

Maka sejak dia menyapa saya terlebih dahulu itu, saya mulai membuka hati terhadap teman-teman berkulit hitam di kelas Bahasa Jepang saya lainnya. And turned out they are just as normal as we all are. Tidak ada satu pun yang kasar seperti yang saya lihat di film-film. Mereka juga ramah, bisa bergurau, belajar bareng, juga jalan-jalan bareng.

Karena saya selalu bersama teman-teman ini sebagian besar dalam waktu hidup saya selama satu tahun awal di Jepang, kami jadi benar-benar dekat seperti saudara. Karena kami juga satu asrama (tentu saja laki-laki dan perempuan dipisah, namun bersebalahan gedungnya), kami sering melakukan aktivitas bersama di luar waktu belajar. Dan pertemanan saya dengan J pun semakin normal, semakin seperti saya berteman dengan teman-teman di Indonesia saja. Dia (juga teman laki-laki lainnya) sopan kok terhadap perempuan, jadi saya tidak merasa takut diajak pergaulan yang aneh-aneh seperti yang saya lihat di film (lagi-lagi menyalahkan film 😀 ).

Singkat cerita, tibalah bulan Ramadhan pertama saya di Jepang. Alhamdulillah, terdapat satu masjid yang terletak cukup dekat dengan asrama saya. Kalau naik sepeda memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar, NAMUN harus melewati jalan yang sangat sepi dan pinggirnya terdapat hutan, sawah, dan lahan kosong. Kalau malam, hanya satu dua mobil saja yang melintasi jalanannya.

Sebagai informasi, karena Ramadhan tahun itu bertepatan dengan musim panas (yang mana siang lebih panjang daripada malam), waktu maghrib jatuh pada sekitar pukul 7 malam, isya pukul setengah 9 malam, dan subuh pukul setengah 3 pagi. Tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan menghabiskan bacaan 1 juz Al Qur’an setiap harinya. Oleh sebab itu, karena isya baru pukul setengah 9 malam, shalat tarawih selalu selesai pukul setengah 11, naik sepeda 30 menit, sampai rumah pukul 11 malam. Maka, saya selalu ke masjid beramai-ramai dengan teman Indonesia lainnya (mengingat jalanannya yang sepi seperti yang tadi sudah saya sebutkan dan waktu yang sangat larut). Dan kalau berencana sahur, maka harus bangun jam 2 pagi. Beginilah jadwal saya setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Di masjid ini terdapat kebiasaan di bulan Ramadhan yang hingga kini saya rindukan (selain tentu saja agenda shalat tarawih), yaitu adanya jadwal buka puasa bersama pada hari-hari tertentu, dan yang menyiapkan bergantian setiap negara/komunitas. Misal hari ini komunitas Arab menyiapkan buka puasa, kemudian 3 hari lagi komunitas Pakistan, lalu 3 hari lagi komunitas Mesir, dan tentu saja ada komunitas Indonesia, dan masih banyak negara lainnya.

Suatu hari, saya sedang ‘berhalangan’ (biasalah wanita), padahal hari itu ada jadwal buka puasa dari komunitas negara lain. Biasanya saat ada jadwal buka puasa bersama ini, makanan di masjid selalu berlebih dan tidak habis sehingga sering dibawa pulang oleh peserta tarawih. Saya sih senang saja makanannya jadi bisa dimakan untuk sahur lagi. Bahkan saking banyaknya, kadang dimakan sahur pun masih tidak habis.

Awalnya saya mau tetap ke masjid bersama dengan teman Indonesia lainnya, tapi tiba-tiba saya galau karena merasa tidak enak mengambil makanan gratis padahal tidak berpuasa, jadi saya batalkan janji saya dengan teman Indonesia tersebut, sehingga teman tersebut berangkat ke masjid duluan naik sepeda. Setelah teman saya pergi, saya masih di luar asrama dengan sepeda, muncul-lah J ini dari asrama laki-laki, dan sepertinya dia mau berangkat ke masjid.

Seperti biasa dia menyapa duluan, “Salam’alaikum, Nadine, are you going to the masjid?” Duh saya bingung harus jawab apa, kalau tidak ke masjid, saya terpaksa harus bilang alasan saya, padahal malu banget bilang lagi ‘berhalangan’ ke temen cowok gitu. Kalau saya bilang mau ke masjid, pasti dia ngajak bareng naik sepeda. Akhirnya saya pun jujur saja, “No, I’m not going to the masjid today.” Terus dia nanya lagi, “Why? There’s ifthar schedule today. It’s such a waste if you didn’t come.”

Karena dia bertanya dan saya juga tidak punya alasan lain, akhirnya saya jujur saja ke dia, “Actually I’m not fasting today. You know..that woman thing..” Dan untungnya dia langsung paham. “Ah I see. But it’s okay if you just come to get the food. There are so many leftovers everyday,” said him. Yaa bener juga sih, daripada makanannya terbuang percuma, mendingan saya bantu menghabiskan. Tapi saya tetap bingung bagaimana pulangnya, karena saya takut naik sepeda malam-malam melewati jalanan sepi tersebut.

Saya pun bilang lagi, “But I’m not doing tarawih prayer. I can’t go home alone after dinner since it would be too late and the road is kinda creepy,” ‘Late’ di sini maksudnya ‘sudah larut malam’. Jadi saya bilang ke dia, bagaimana saya bisa pulang habis makan malam, kan sudah malem banget padahal harus melewati jalanan sepi, gitu..

Lalu dia bilang lagi, “It’s ok. Just message me when you want to go home, I’ll go with you,” What??? Jadi dia menawarkan untuk mengantar saya pulang 😥

Ya sudahlah since he insisted (dan karena saya juga lapar 😀 ) saya terima saja ajakan dia ke masjid. Sepanjang perjalanan ke masjid seingat saya kami tidak mengobrol terlalu banyak. Sesampainya di masjid, dia masuk ke ruangan untuk laki-laki, dan saya masuk ke ruangan untuk perempuan.

Oh ya, jangan bayangkan masjid ini berbentuk masjid seperti di Indonesia yang berbentuk lantai luas dengan barisan laki-laki di depan barisan perempuan serta langit-langitnya tinggi ada kubahnya. Masjid kami tidak seperti Masjid Camii di Tokyo, atau Masjid Kobe yang berbentuk layaknya masjid di Indonesia. Masjid kami ini hanyalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa ruangan. Jadi ada ruangan yang dipakai oleh jamaah laki-laki dan ada yang untuk jamaah perempuan.

Singkat cerita, tibalah waktu ifthar, lalu shalat maghrib (saya melipir di pojokan karena tidak shalat), lalu makan malam. Setelah makan malam saya pun mengirim pesan melalui Line ke J, “J, I’m finished. I think I want to go home now.” Tadinya saya tidak berekspektasi di akan membalas. Mungkin dia sudah sibuk ngobrol dengan jamaah laki-laki lainnya jadi tidak akan sering-sering mengecek hpnya. Eh, tidak disangka dia langsung membalas, “Okay, let’s meet outside.”

Kami pun bertemu di luar masjid lalu naik sepeda menuju asrama. Sepanjang perjalanan pulang dia bersepeda dengan jarak sekitar 2 meter di belakang saya dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, which I really appreciate. Biar bagaimana pun juga dia bukan muhrim, tapi saya takut juga kalau pulang sendirian, dan sepertinya dia juga paham hal ini :’)

Begitu kami sudah sampai di jalanan yang agak ramai, saya bilang ke dia,”I think you can leave me here,” soalnya saya nggak enak juga sama dia yang masih harus balik ke masjid untuk shalat tarawih. Dia bertanya, “is it really okay?” “Yeah, it’s okay. And thank you so much,” jawab saya. Kami pun berpamitan dan dia bersepeda balik ke arah masjid.

Hingga saat ini this one particular episode masih sangat teringat jelas di ingatan saya, karena saya merasa mendapat bantuan yang tidak disangka-sangka and even from the least likely person, ditambah bahkan saya pernah su’udzon duluan ke dia 😥 Kalau dipikir-pikir, sampai saya meninggalkan Jepang, saya belum pernah benar-benar membalas perbuatan baiknya. Hhh.. I should’ve treated him better.. Well, I just pray that Allah will repay his good deeds.. Aamiin..

Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini hingga selesai 🙂 Sampai jupa di part 2 yang insya Allah nggak kalah seru ceritanya. Di part 2 teman-teman akan tahu the real struggle of studying in Japan. Kehidupan di Jepang itu tidak melulu seindah pepohonan yang menguning di kala musim gugur, seputih salju di musim dingin, apalagi secerah matahari yang jatuh di antara ranting bunga sakura di musim semi.

Eeaa..

PS: Sekadar informasi, tahun 2015, J sudah menikah dan saat ini telah memiliki seorang anak.

Advertisements

Day 13: Thing I am Excited About

Standard

Sebenernya saya agak bingung, apa ya bedanya “thing I am excited about” dengan “things that make me really happy”. Toh keduanya sama-sama membuat senang atau bersemangat 😀 Karena buat saya yg membuat saya senang itu ya otomatis membuat saya semangat, begitupun sebaliknya 😀

Mungkin temen2 di sini yg sudah ngikutin 30 day writing challenge ini dari awal, sudah cukup hapal dengan beberapa hobi saya, yaitu traveling dan making itinerary. Basically, hal-hal inilah yg selalu membuat saya bersemangat dalam menyongsong hari-hari saya #eeaa. Ketika saya tahu saya akan berlibur ke suatu tempat, maka mulai dari persiapannya hingga hari demi hari menuju the D-Day itu benar-benar penuh dengan penantian yg menggembirakan.

Namun, rasa-rasanya saya sudah cukup sering dan banyak mengupas tentang hobi jalan-jalan ini, sehingga sepertinya sudah tidak ada yg bisa dituliskan lagi (untuk saat ini). Akhirnya, setelah berpikir keraass, saya menemukan juga hal yg membuat saya bersemangat namun tidak otomatis membuat saya senang. He he. Karena hal yg membuat bersemangat ini terkadang juga penuh dengan aral lintangan serta cobaan berliku. Eeaa.

So without further a do, here it is…

Baru-baru ini saya menemukan hobi baru mencoba membangkitkan kembali hobi lama saya yaitu berjualan. Awalnya saya kira berjualan itu mudah ya kayak gitu aja, cari supplier, posting foto-foto yg bagus, membuat kata-kata yg mengundang, terkadang memberi diskon pada event-event tertentu, menjadi contact person yg ramah bagi pembeli. Sudah. Setelah saya mempraktikkannya selama beberapa waktu, ternyata berjualan is not easy AT ALL! Not even close ><

Saya jadi ketemu berbagai tipe customer dan jadi belajar bagaimana cara menghandle-nya (psst, tidak semua customer menganggap penjual itu juga manusia yg punya rasa punya hati loh >< ). Saya jadi tahu cara promosi toko itu tidak hanya melalui cara-cara yg gratis, terkadang ada sedikit yg harus kita korbankan demi hasil yg lebih besar lagi. Dan masih banyak lagi.

Herannya, mempelajari trik-trik berjualan ini membuat saya bersemangat, walaupun sebenarnya jatuh-bangun juga, sering bapernya, dan saya jadi pernah merasakan ditusuk dari belakang oleh teman sendiri. Oh yes, life is hard, kawan T_T

Dengan berjualan, saya jadi lebih bisa merasakan bahwa “rejeki itu tidak akan tertukar”. Udah titik. Tapiii bukan berarti kita diam saja menunggu rejeki yg memang sudah ditakdirkan untuk kita itu. Kita harus berusaha semaksimal mungkin meraihnya dengan cara-cara yg kita bisa dan tentunya juga harus halal caranya 🙂

Selain itu, sebisa mungkin apa yg kita jual harus dapat bermanfaat bagi sekitar. Atau minimal hasil dari penjualan kita, kita sisihkan juga bagi yg membutuhkan. Memberi dulu, baru menerima 🙂

Rasa-rasanya sejak benar-benar men-seriusi jualan, saya jadi merasa makin keciilll banget di hadapan Allah. Berbeda dengan ketika saya dulu mendapat “rejeki” yg rutin per bulan dengan jumlah yg sama, saya dulu rasa-rasanya menjalani hidup dengan monoton dan kurang bersemangat. Karena ada perasaan toh tiap bulan saya juga pasti akan dapat segitu (ini sih sayanya aja ya yg cetek imannya, insya Allah temen2 nggak kayak gitu ya 🙂 ). Tapi sejak merasakan tertatih-tatihnya jualan, saya jadi merasa setiap hari saya harus melakukan sesuatu jika ingin dapur terus ngebul toko saya bisa terus buka dan terus memberikan manfaat untuk sekitar.

Mohon doanya ya kawan, semoga saya bisa selalu istiqomah, dan juga bisa lebih bermanfaat lagi bagi orang lain dengan hal yg saya bisa 🙂

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini, sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya ^_^

*****

PS: Untuk yg bertanya-tanya, apa sih yg saya jual, he he, karena postingan ini ceritanya bukan untuk mempromosikan toko saya, saya nggak ingin mencantumkan link menuju toko saya. But since you were asking (emangnya ada gitu yg nanya? 😛 ), saya sekarang punya dua toko online. Yang satu menjual jilbab dengan berbagai ukuran dan banyaakk warna yg insya Allah menutup dada, bisa dicek di http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse . Yang satunya lagi menjual snack impor Jepang yg halal dan juga barang2 lucu unik dari Jepang, bisa dicek di http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

Please kindly check my online store that sells hijab at http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse and sells Japanese halal snacks and unique goodies at http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

meiji-matcha

One of Michiko Goodies’ product 🙂

 

Krisis Identitas

Standard

Teman-teman yang budiman,

Sebelum saya melanjutkan tulisan dari 30 day writing challenge, saya mau cerita tentang suatu hal yang akhir-akhir ini menjadi pikiran saya. Nggak kepikiran sampe stres juga sih, cuma kalo nulis blog, saya selalu kepikiran hal ini. Dan saya juga nggak pengen ada dua tulisan dalam 1 hari, jadi writing challenge nya saya sambung besok ya.

Ceritanya, saya merasa lagi krisis identitas. Hubungannya sama blog ini apa? Hehe, saya merasa, blog ini terlalu nano-nano dari segi penulisannya. Kadang saya nulis pake bahasa Inggris, kadang bahasa Indonesia. Kalopun nulis pakai bahasa Indonesia, kadang pakai bahasa Indonesia baku, kadang nggak.

Saya sejujurnya pengen membuat blog ini lebih mengerucut dari segi tema maupun penulisan. Supaya lebih mudah juga merutinkan nulis blognya, dan enak juga bagi yang membaca, kayak blognya Trinity, atau temen saya blogger kelas kakap Adam. Kalo pake bahasa Indonesia, pastinya lebih mudah dibaca bagi sebagian besar teman-teman saya. Tapi kadang saya ngerasa ada istilah yg lebih tersampaikan dengan bahasa Inggris. Tapi saya juga nggak mau dalam 1 postingan ada bahasa yg nyampur2 gitu. Karena saya menghargai both bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan tingkat penghargaan yg sama (nah loh udah nyampur2 lagi kan nulisnya).

Terus yg bikin bingung lagi, kalo bahasa Inggris, harusnya saya nulis dalam British English atau American English? Sebenernya kita orang Indonesia ini belajarnya British atau American English sih? Perasaan saya  sih emang American English, soalnya kita nulis beberapa kata sesuai kamus American English, seperti “cozy” bukan “cosy”, “color” bukan “colour”, dst. Tapi eh tapi, banyak banget kata2 bahasa Indonesia yg diserap dari British English, kayak huruf “z” kan dalam bahasa Indonesia kita baca “zet”, sama kayak orang Inggris, sementara orang Amerika kan bacanya “zee”. Trus “lift” yg ada di mall itu kan kita nyebutnya “lift”, bukan “elevator” (orang Inggris nyebutnya “lift”, orang Amerika nyebutnya “elevator”).

Akhirnya, saya mencoba merenungkan (caelaaa) permasalahan ini. Kalo postingan saya ga relevan untuk pembaca internasional, saya tulis dalam bahasa Indonesia. Tapi kalo sekiranya tulisan saya bisa bermanfaat for broader community (halah udah nyampur lagi), mungkin akan saya tulis dalam bahasa Inggris. Ini juga masih “mungkin” lho ya, soalnya saya juga ga bisa nulis bahasa Inggris effortlessly kayak Sasky >< Tapi saya selalu seneng ketika ada orang dari negara lain yg komen di blog saya. Seperti di kanal youtube saya. Karena saya konsisten memberi subtitle dan description dalam bahasa Inggris, saya jadi dapat banyak teman dari berbagai belahan dunia.

Minta sarannya dong temen-temen blogger semua 🙂 Kalo temen-temen gimana nulis blognya?

Day 1: 10 Things that Make Me Really Happy

Standard

Halo. Ketemu lagi dengan Nadine di sini. Hehe. Ceritanya masih semangat memulai 30 day writing challenge yg sudah saya tulis kemarin, hari pertama ini saya diminta menuliskan tentang “10 hal yg membuat saya benar-benar senang”.

Sejujurnya, saya orang yg mudah senang. Maksudnya, saya gampang senang akan hal-hal kecil dan sederhana. Tapi karena di judulnya ini ada kata-kata “really” atau “benar-benar”, berarti senengnya harus seneng banget gitu kan ya. Jadi saya mau coba membayangkan, kalo terjadi sesuatu apa sih yg bakal bikin saya seneng banget.

  1. Nomer 1 ini bisa dibilang sangat obvious. Buat temen-temen yg ngikutin blog ini, pasti tau deh hobi saya yg satu ini ^_^ Yes bener banget, JALAN-JALAN! Saya suka banget traveling. Traveling itu buat saya bener-bener stress reliever. Ga mesti jauh, ga mesti mahal, ga mesti mewah, asalkan saya bisa lihat tempat baru yg belum pernah saya lihat, saya pasti udah bahagiaaa banget.
  2. Ini masih berkaitan dengan nomor 1. MENYUSUN RENCANA PERJALANAN. Buat saya, membuat itinerary itu sama excitingnya dengan traveling itu sendiri. Seperti nyusun rute untuk mendapatkan waktu dan biaya paling efisien, nyari-nyari penginapan, nyari info alat transportasinya, dan seterusnya.
  3. HARRY POTTER MARATHON, buku maupun film. Temen-temen yg kenal saya juga pasti tahu kalo saya ini maniak HP. Ketika saya libur panjang, pasti ada aja kalanya saya ngulang nonton HP dari  nomor 1 sampe 8 berurutan. Kalo baca bukunya, dulu masih sering marathon, tapi akhir-akhir ini saya lagi suka baca buku yg lain, jd belum sempet ngulang baca buku HP lagi.
  4. BERADA DI JEPANG. Sebagai satu-satunya negara di mana saya pernah tinggal lama selain Indonesia, Alhamdulillah, Jepang meninggalkan kenangan indah yg begitu membekas di hati saya. Saya bahagia di sana karena saya nggak pernah mengalami dizolimi sama birokrasi, saya juga betah karena mau ke mana-mana mudah, informasinya jelas, dan selalu ada orang yg bisa ditanyai. Saya juga senang dengan bantuan yg selalu diberikan oleh siapa saja. Memang setiap negara pasti ada plus-minusnya. Dan mungkin, justru karena saya cuma 3 tahun di sana, saya cuma ngerasain yg indah-indah aja. But honestly, as soon a I left Japan, I realize that a piece of my heart stays there, even until now (eeaa baper).
  5. Mengetahui bahwa ORANG-ORANG YANG KITA SAYANGI BAIK-BAIK SAJA (cieee). Karena saya dari SMA sudah jauh dari orang tua (saya sekolah SMA di boarding school), saya sudah terbiasa tidak bertatap langsung dengan orang2 terdekat saya. Ditambah lagi pernah menjadi pejuang LDM (long distance marriage) bersama suami saya selama hampir 2 tahun, berada dekat dengan keluarga dan sahabat merupakan privilege tersendiri. Karena itu, tidak perlu deh bertatap wajah, hanya dengan tau kabar mereka baik-baik saja sudah membuat saya benar-benar lega 🙂
  6. Anak saya TERLAHIR SEHAT dan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Sepertinya semua ibu di dunia ini akan merasa yang sama ya. Beratnya mengandung dan melahirkan seakan lupa seketika saat melihat si kecil untuk pertama kalinya. Walaupun tentu saja, PR kita dalam membesarkannya masih sangat panjang.
  7. Apa yang saya lakukan BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN. Ketika ada yg bilang ke saya bahwa apa yg pernah saya lakuin ke orang itu sangat membantunya, atau ketika ada yg menghargai usaha yg saya lakukan, rasanya bersyukur banget. Tidak sia-sia saya ada di dunia ini (halah).
  8. FOTO ALA-ALA. Jujur saja, saya bukan orang yg tertarik belajar fotografi. Selama ini saat saya traveling, saya cuma foto-foto pakai kamera digital Canon G15 yg udah lumayan banget bisa diatur2 ISO dan fokusnya. Udah gitu ringan sehingga gampang dibawa ke mana-mana. Jadi buat saya kamera saya sekarang ini sudah lebih dari cukup untuk mendokumentasikan perjalanan saya. Tapi saya sering juga mengabadikan momen-momen paling penting dalam hidup saya dengan berfoto ala-ala dan minta tolong temen yg memang jago fotografi. Seperti waktu wisuda S2 saya kemarin. Kan sayang saya udah nyewa hakama mahal-mahal tapi ga difoto dengan kamera bagus hehehe. Oia, sejak tahun 2011 saya sudah rutin menyimpan semua foto perjalanan saya dengan rapi dalam satu folder per bulan atau per event, lho 🙂
  9. Nomor 9 dan 10 ini sebenernya sesuatu yg belum pernah terjadi dalam hidup saya, tapi saya udah bisa ngebayangin kalo saya pasti akan bahagia banget seandainya mimpi saya ini menjadi kenyatan. HARRY POTTER TOUR. Lagi-lagi berhubungan sama si HP >< Salah satu bucket list saya adalah ke Inggris dan liburan khusus lihat tempat-tempat syutingnya si HP, termasuk juga ke Warner Bros Studios di Leavesden. Sampai saat ini saya nggak tahu kapan mimpi ini akan terwujud, karena anak saya masih kecil banget, dan suami saya kerja kantoran. Pasti bakal susah nyari waktu libur yg cukup panjang plus harus nunggu si kecil sudah cukup umur untuk dibawa jalan-jaan. Tapi saya udah ngesave info-info yg berhubungan sama HP tour ini, seperti list tempat-tempatnya. Bahkan saya sudah ngelist mau beli souvenir apa aja di tempat-tempat itu berikut harganya. Jadi saya bisa mengira-ngira saya akan bawa uang berapa kalau ke sana. Freak banget ya 😛 haha.
  10. Meninggal dalam keadaan KHUSNUL KHOTIMAH. No need explanation, just action. Temen-temen sama2 mengamini doa ini yuk. Aamiin 🙂

Huft selesai jugaa. Ternyata menulis ini membuat saya jadi bisa merefleksikan lagi hidup saya akhir-akhir ini, dan menata ulang mimpi-mimpi saya. Susah-susah gampang juga yah nulisnya. Di antara list di atas, ada yg sama dengan temen-temen nggak?

Sampai jumpa di tantangan menulis Day 2!

picsart_11-29-08-00-55

Foto ala-ala waktu wisuda S2. Photo credit: Riska Ayu Purnamasari.

 

30 Day Writing Challenge

Standard

Halo semua.

Ceritanya di rumah saya baru pasang indihome, trial 3 bulan pertama gratis. Alhamdulillah internet jadi kenceng dan saya jadi semangat buat nulis lagi ^_^ Kemarin2 kalo internetan di laptop kan pakai modem. Mau buka wordpress nya aja udah loading dulu. Kalo mau cepet internetannya di HP yg pakai kuota, tapi ngetik di HP males soalnya kekecilan. Jadilah saya ga update-update ini blog (banyak excuse 😛 ).

Demi menandai kembalinya saya aktif ngeblog (semoga!), saya terinspirasi dari tulisan temen saya, Saskya, yaitu 30 day writing challenge, atau tantangan menulis selama 30 hari. According to Sasky, doi dapet list writing challenge ini di pinterest. Saya pun iseng coba-coba juga cari di pinterest. Ternyata tentang writing challenge ini sendiri sebenernya banyak jenis list-nya. Tapi setelah membandingkan sana-sini, akhirnya pilihan list saya jatuh ke list yg juga dipakai Sasky, karena saya lihat topiknya cukup objektif. Kalo yg lain-lain terlalu banyak ngebahas diri sendiri, kasian nanti yg baca emangnya ada yg mau kepoin saya gituh? Wkwkwk.. Jadi saya pilih list ini supaya yg baca jg bisa mengambil manfaat dari apa yg saya tulis. Aamiin 🙂

Ini list judul tulisannya:

30-day-writing-challenge-1

Semoga saya bisa rutin nulisnya tiap hari, atau paling lambat per dua hari yah >< Mari berjuang!!!

#DIY: The Power of Kepepet

Standard

Judulnya mainstream yah. Hehe. Tapi semoga isinya ga mainstream dan bisa menginspirasi teman-teman yang sedang dalam keadaan kepepet seperti saya hari ini.

Jadi ceritanya hari ini saya bawa bento untuk makan malam di lab. Ternyata oh ternyata, saya lupa bawa sendok, guys.

Sebenarnya di dekat gedung lab saya ada kantin yang jual sup yang bisa saya makan. Dan jika beli sup itu, saya akan mendapatkan sendok plastik yang bisa saya pakai untuk makan bento saya. Namun sejujurnya saya lagi pengen ngirit dan malas turun ke bawah (lab saya ada di lantai 3-red) untuk menuju kantin itu.

Seperti banyak orang bilang, kemampuan manusia bisa tak terduga saat dalam keadaan kepepet. Dengan berbekal bekas bungkus cemilan Happy Tan, lakban yang kebetulan ada di lab, dan penggaris

Bahan yang diperlukan (plus gunting untuk memotong lakban, lupa difoto)

Bahan yang diperlukan (plus gunting untuk memotong lakban, lupa difoto)

Jadilah sendok dadakan seperti berikut ini

Selamat makan!!

Selamat makan!!

Demikian update singkat hari ini. Semoga bermanfaat, paling nggak, bisa bikin senyum yang baca lah ya 🙂

Disclaimer: Saya biasanya ga bawa bento semengenaskan ini kok. Cuma kebetulan hari ini aja >_<

Pindahan Rumah

Standard

Halo!

Kali ini saya ingin membagikan cerita mengenai proses pindahan saya dari asrama kampus ke apartemen (atau apato dalam bahasa Jepang). Semoga bisa memberikan gambaran bagi penduduk baru di Jepang mengenai tahap-tahap pindahan maupun mencari apato yang tepat dan hemat 😀

Honeymoon Part 2 – 28 Maret sampai 2 April 2014

Kunjungan suami saya kali ini memang tujuan utamanya adalah membantu saya pindahan 😀 Soalnya saya nggak mau ngangkat-ngangkat barang saya yang banyak ini sendiri *manja* dan merasa agak kurang nyaman juga kalau merepotkan bapak-bapak atau mas-mas di sini 😀 Jadi lebih baik merepotkan “mas” sendiri 😛

Asrama saya sekarang ini memang cuma boleh saya tempati selama setahun, terhitung mulai 2 April 2013-31 Maret 2014. Karena itu saya terpaksa harus mencari tempat tinggal lain selepas bulan Maret kemarin. Pilihannya adalah pindah ke asrama kampus dengan tipe berbeda atau ke apato.

Memilih Antara Asrama atau Apato

Sebenarnya terdapat berbagai tipe asrama yang disediakan oleh kampus saya, seperti asrama family, asrama couple, dll. Namun yang paling mungkin saya tempati sebagai seorang singel lokal adalah asrama bertipe single 😀 Jika ingin tinggal di asrama family, tentu harus ada visa dependen dari family yang ikut tinggal bersama kita. Karena suami saya tidak tinggal di sini, saya tidak dapat apply asrama tipe ini. Asrama bertipe single sendiri ada dua jenis. Mari kita bahas secara singkat satu per satu.

Asrama tipe single yang pertama. Kamar berukuran 2×4 meter persegi, dilengkapi tempat tidur, meja belajar, kursi, dan wastafel. Tidak ada kamar mandi dan dapur dalam. Toilet luar sharing bertipe western (yang duduk, bukan jongkok tipe Jepang), hanya dilengkapi tissue pembersih. Shower bertipe koin. Maksudnya adalah, untuk dapat mandi, kita harus memasukkan koin 100 yen ke slot yang tersedia, dan air pun akan keluar selama 9 menit. Mesin cuci dan pengering baju juga bertipe koin. Dapur sharing. Biaya sewa per bulan sekitar 14000 yen. Murah bukan? 😀

Yang membuat saya tidak cenderung tinggal di sini adalah, saya tidak bisa sharing toilet >_< Saya adalah orang yang sangat parno terhadap kebersihan. Jadi saya tidak mungkin duduk di toilet yang bekas diduduki orang lain membuang hajat. Dan saya ini juga sangat Indonesia sekali yang setiap habis buang air harus membersihkan dengan air dulu baru dengan tissue. Jadi, mengingat urusan buang-membuang ini merupakan salah satu syarat kenyamanan hidup saya, saya mengeliminasi asrama ini dari pilihan.

Asrama tipe single yang kedua. Saya kurang paham ukurannya, namun kamar ini sudah lengkap dengan dapur, toilet, dan shower di dalamnya. Disediakan juga kasur, meja belajar, kursi, sebuah lemari, dan AC! Mesin cuci dan pengering baju sama dengan sebelumnya yaitu bertipe koin. Biaya sewa per bulannya kurang lebih 30000 yen.

Sebenarnya asrama ini sudah memenuhi kualifikasi kenyamanan hidup saya. Namun apa daya, asrama yang bagus memenuhi standar kenyamanan di sini hanya boleh ditempati selama setahun, sama dengan asrama yang saya tempati selama setahun kemarin. Padahal saya masih di sini insya Allah dua tahun lagi. Artinya jika saya pindah ke sini, tahun depan saya harus pidah lagi. Oh no… 😦

Baiklah dengan ini disimpulkan, saya tidak dapat pindah ke pilihan asrama mana pun yang disediakan kampus saya. Maka sudah saatnya lah saya berburu apato.

Memilih Apato

Saya sudah harus pindah pada akhir bulan Maret, maka mulai bulan Januari saya mulai bertanya-tanya pada rekan-rekan di sini yang tinggal di apato untuk membanding-bandingkan antara apato yang satu dengan yang lain. Saya pribadi memiliki requirement: ada AC, kamar mandi dalam dan dapur, kamar mandinya digabung antara toilet dan shower, dekat dengan bus stop, dengan kisaran biaya sewa per bulan di bawah 30.000 yen. Alhamdulilah, di Tsukuba memang kisaran biaya apatonya mulai dari 20.000 yen pun ada, jadi tidak susah mencari yang biayanya di bawah 30.000 yen.

Apato pertama yang saya survei memiliki semua kualifikasi di atas, dengan harga 20.000, namun ternyata tidak memiliki balkon untuk menjemur pakaian, ukurannya pun juga sangaatt kecil. Ya wajar memang dengan harga segitu 😀 Maka apato ini pun dieliminasi.

Apato kedua memiliki semua kualifikasi di atas, dengan biaya sewa 30.000 belum termasuk internet. Ukuran kamar jauh lebih besar dari apato pertama, cukup lah buat sendirian. Maka apato ini di-keep dulu 😀

Apato ketiga merupakan apato yang sudah ditinggali salah satu teman di sini. Apato ini juga memenuhi kualifikasi di atas dengan harga 27.000, ada balkon dan ada mesin cuci koin, jadi saya tidak perlu mencari mesin cuci lagi. Dan lagi, harga 27.000 ini sudah termasuk internet dan air. Ukuran kamar memang lebih kecil dari apato kedua. Namun dengan mempertimbangkan harga dan semua fasilitas yang disediakan, akhirnya saya memilih apato ini 🙂

Teken Kontrak

Ternyata tidak sulit untuk teken kontrak dengan apato di Jepang. Salah satu yang menjadi kekhawatiran tentu saja uang pangkalnya 😦 Memang uang pangkal untuk sewa apato di Jepang ini sangatlah mahal. Jangan dirupiahin kalau nggak mau sakit hati 😦 Namun Alhamdulillah karena saat teken kontrak saya bersama teman yang jago bahasa Jepang dan teman yang sudah duluan tinggal di apato ini, saya jadi bisa menawar uang pangkalnya hingga lebih murah sampai 30.000 yen >_<

Secara umum tidak ada hal khusus yang harus disiapkan. Saya hanya diminta surat guarantor dari kampus yang harus ditandatangi profesor saya. Surat ini bertujuan sebagai penjamin agar kita tidak mangkir dari membayar apato 😀 Selebihanya saya hanya mengisi form-form yang dijelaskan oleh agen apatonya. Nah dalam proses teken kontrak dan penjelasan-penjelasan ini saya memang ditemani oleh teman yang jago bahasa Jepangnya. Saya tidak tahu apakah mereka akan berusaha menjelaskan dengan bahasa Inggris jika kita tidak bisa bahasa Jepang. Namun kalau saran saya. lebih baik bersama teman yang jago bahasa Jepang supaya tidak ada yang miskom dan kita benar-benar detail akan hal-hal yang wajib kita bayar apa, yang tidak wajib yang mana supaya dapat dieliminasi.

Pindahan!!

Pindahan adalah hal yang paling mendokusai menurut saya, karena kita harus mengepak barang-barang dengan rapi agar mudah dibawa, dan kemudian mengeluarkanya dan menatanya lagi dengan rapi -.-”

Sebenarnya saya punya suatu sifat, saya ga tahu ini positif atau negatif, yaitu terlalu attached dengan lingkungan where I used to be. Akibatnya saya jadi mellow harus meninggalkan kamar yang sudah menjadi tempat saya bernaung selama setahun ke belakang. Saking susahnya move on, saya jadi menunda-nunda packing sampai suami saya datang 😀

Berkat bantuan suami, berhasil juga saya membereskan semua barang-barang yang ada di dorm saya, kemudian mengangkutnya ke apato baru saya. Untuk mengangkutnya ini, saya meminjam mobil masjid dan disupiri oleh salah seorang rekan di sini yang punya SIM Jepang.

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi :P

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi 😛

Ga kebayang pindahan tanpa orang satu ini >_< Makasih udah bantuin ngepakin barang, angkut-angkutin ke mobil lagi hujan-hujanan, ngeluarin lagi dari mobil dan masukin ke kamar, dan udah bantuin ngedesain dan menata kamar juga :)お疲れ様でした!!