Author Archives: Nadine Nandanari

Day 13: Thing I am Excited About

Standard

Sebenernya saya agak bingung, apa ya bedanya “thing I am excited about” dengan “things that make me really happy”. Toh keduanya sama-sama membuat senang atau bersemangat 😀 Karena buat saya yg membuat saya senang itu ya otomatis membuat saya semangat, begitupun sebaliknya 😀

Mungkin temen2 di sini yg sudah ngikutin 30 day writing challenge ini dari awal, sudah cukup hapal dengan beberapa hobi saya, yaitu traveling dan making itinerary. Basically, hal-hal inilah yg selalu membuat saya bersemangat dalam menyongsong hari-hari saya #eeaa. Ketika saya tahu saya akan berlibur ke suatu tempat, maka mulai dari persiapannya hingga hari demi hari menuju the D-Day itu benar-benar penuh dengan penantian yg menggembirakan.

Namun, rasa-rasanya saya sudah cukup sering dan banyak mengupas tentang hobi jalan-jalan ini, sehingga sepertinya sudah tidak ada yg bisa dituliskan lagi (untuk saat ini). Akhirnya, setelah berpikir keraass, saya menemukan juga hal yg membuat saya bersemangat namun tidak otomatis membuat saya senang. He he. Karena hal yg membuat bersemangat ini terkadang juga penuh dengan aral lintangan serta cobaan berliku. Eeaa.

So without further a do, here it is…

Baru-baru ini saya menemukan hobi baru mencoba membangkitkan kembali hobi lama saya yaitu berjualan. Awalnya saya kira berjualan itu mudah ya kayak gitu aja, cari supplier, posting foto-foto yg bagus, membuat kata-kata yg mengundang, terkadang memberi diskon pada event-event tertentu, menjadi contact person yg ramah bagi pembeli. Sudah. Setelah saya mempraktikkannya selama beberapa waktu, ternyata berjualan is not easy AT ALL! Not even close ><

Saya jadi ketemu berbagai tipe customer dan jadi belajar bagaimana cara menghandle-nya (psst, tidak semua customer menganggap penjual itu juga manusia yg punya rasa punya hati loh >< ). Saya jadi tahu cara promosi toko itu tidak hanya melalui cara-cara yg gratis, terkadang ada sedikit yg harus kita korbankan demi hasil yg lebih besar lagi. Dan masih banyak lagi.

Herannya, mempelajari trik-trik berjualan ini membuat saya bersemangat, walaupun sebenarnya jatuh-bangun juga, sering bapernya, dan saya jadi pernah merasakan ditusuk dari belakang oleh teman sendiri. Oh yes, life is hard, kawan T_T

Dengan berjualan, saya jadi lebih bisa merasakan bahwa “rejeki itu tidak akan tertukar”. Udah titik. Tapiii bukan berarti kita diam saja menunggu rejeki yg memang sudah ditakdirkan untuk kita itu. Kita harus berusaha semaksimal mungkin meraihnya dengan cara-cara yg kita bisa dan tentunya juga harus halal caranya 🙂

Selain itu, sebisa mungkin apa yg kita jual harus dapat bermanfaat bagi sekitar. Atau minimal hasil dari penjualan kita, kita sisihkan juga bagi yg membutuhkan. Memberi dulu, baru menerima 🙂

Rasa-rasanya sejak benar-benar men-seriusi jualan, saya jadi merasa makin keciilll banget di hadapan Allah. Berbeda dengan ketika saya dulu mendapat “rejeki” yg rutin per bulan dengan jumlah yg sama, saya dulu rasa-rasanya menjalani hidup dengan monoton dan kurang bersemangat. Karena ada perasaan toh tiap bulan saya juga pasti akan dapat segitu (ini sih sayanya aja ya yg cetek imannya, insya Allah temen2 nggak kayak gitu ya 🙂 ). Tapi sejak merasakan tertatih-tatihnya jualan, saya jadi merasa setiap hari saya harus melakukan sesuatu jika ingin dapur terus ngebul toko saya bisa terus buka dan terus memberikan manfaat untuk sekitar.

Mohon doanya ya kawan, semoga saya bisa selalu istiqomah, dan juga bisa lebih bermanfaat lagi bagi orang lain dengan hal yg saya bisa 🙂

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini, sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya ^_^

*****

PS: Untuk yg bertanya-tanya, apa sih yg saya jual, he he, karena postingan ini ceritanya bukan untuk mempromosikan toko saya, saya nggak ingin mencantumkan link menuju toko saya. But since you were asking (emangnya ada gitu yg nanya? 😛 ), saya sekarang punya dua toko online. Yang satu menjual jilbab dengan berbagai ukuran dan banyaakk warna yg insya Allah menutup dada, bisa dicek di http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse . Yang satunya lagi menjual snack impor Jepang yg halal dan juga barang2 lucu unik dari Jepang, bisa dicek di http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

Please kindly check my online store that sells hijab at http://www.instagram.com/nadsbeautyhouse and sells Japanese halal snacks and unique goodies at http://www.instagram.com/michikogoodies 🙂

meiji-matcha

One of Michiko Goodies’ product 🙂

 

Day 12: Five Blessings in My Life

Standard

Halo, semuanya!!

Kyaaa sudah hampir 2 minggu saya nggak nulis apa-apa di sini T_T Bener-bener dalam 2 minggu ini saya ga sempat buka laptop dalam waktu cukup lama. Jadi ceritanya, saya ada acara keluarga saat Natal kemarin, adik suami saya nikah. Jadi mulai beberapa hari sebelum hari H pernikahannya, kami sekeluarga sudah keluar kota, yaitu ke rumah orang tua suami a.k.a kota asal sang adik di mana ia akan melangsungkan pernikahan.

Kemudian sepulang dari acara pernikahan, saya dan anak saya yg masih berumur 4 bulan sama-sama sakit. Si kecil baru pertama kali naik pesawat disambung kereta. Alhasil, kecapeanlah dia, dan selama di perjalanan kita kan tidak bisa mencegah dia terpapar banyak orang. Akibatnya terkaparlah kami berdua sampai beberapa hari bahkan hingga tahun baru. Barulah pada hari ini kondisi kami sudah agak baikan, jadi saya bisa punya waktu buat buka laptop lagi dan melanjutkan tantangan menulis ini. Fiuuhh..

 Baiklah, langsung aja ke tema hari ini yah, lima berkah dalam hidup saya.

Hmm, sebenarnya, saya merasa banyaakk sekali berkah yang Allah kasih hingga 26 tahun hidup saya sekarang ini. Kalau disuruh milih 5 pastinya susah banget. Dan pada akhirnya,, poin-poin yang saya tuliskan di sini insya Allah ga ada maksud untuk pamer ya >< Insya Allah tujuan saya hanya untuk menyelesaikan tantangan menulis ini mensyukuri apa yg sudah Allah berikan ke saya.

Merasakan tinggal di negara 4 musim

Sebelum saya tinggal di Jepang, saya hanya “melihat” negara 4 musim dari buku bacaan atau film2. Yang saya lihat tentu hanya yg indah-indahnya saja, seperti bagaimana cantiknya bunga-bunga saat musim semi, atau serunya bermain bola salju saat musim dingin.

Setelah mengalami langsung, saya jadi tahu bahwa tinggal di negara 4 musim justru memiliki tantangan yg jauuhh lebih besar daripada negara tropis. Itulah sebabnya orang-orang di negara 4 musim lebih bersemangat dan bekerja keras dalam menghadapi hidup, tidak seperti orang-orang dari negara tropis yg cenderung lay back.

Sebagai contoh, saat musim dingin, tidak semua tanaman bisa tumbuh. Apalagi daerah dengan curah salju yg tinggi, boro-boro bisa ditanami, sawahnya aja ketutupan salju. Memang jika dilihat dengan mata, pemandangan hamparan salju di padang kosong terlihat indah, namun nyatanya, hal itu menyebabkan mereka yg mata pencahariannya bertani, otomatis tidak dapat melakukan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan, negara 4 musim harus mengimpor sayur-sayuran, buah-buahan, dan juga beras dari negara lain. Hal ini berdampak juga ke kami sebagai kosumen. Kerasa banget lho harga sayur dan buah jadi mahal saat musim dingin.

Kemudian pakaian juga harus menyesuaikan musimnya. Lagi-lagi, mungkin mengenakan coat dan sepatu boot terlihat keren bagi kita yg hidup di negara tropis ini. Di Indonesia sih mana mungkin bisa pakai baju kayak gitu kan. Namun kenyataannya, pakai baju-baju kayak gitu tuh ribet lho. Pakai baju kayak gitu kan tidak hanya saat kita lagi jalan-jalan dan foto-foto cantik aja. Mau keluar ke warung dekat rumah aja kita harus pake baju berlapis-lapis ><

Yah demikianlah sebagian struggle yg kami rasakan dengan hidup di negara 4 musim. Lho, bukannya tadi judulnya blessing ya, kok jadi struggle 😀 Iya, dengan hidup di negara 4 musim ini, saya jadi lebih open-mind, jadi tau bahwa hidup di Indonesia itu enaakk banget. Tapi kalau ditanya mau atau ga balik ke negara 4 musim, jawabannya tentu saja, MAU BANGET!! ><

Dianugerahi keluarga yg baik dan saling menguatkan

Saya bersyukur sekali dilahirkan dari ayah dan ibu saya ini, juga punya saudara laki-laki yg alhamdulillah nyambung banget walaupun terpaut usia yg jauh (9 tahun lho hehe). Dan juga sekarang setelah saya membina keluarga sendiri, saya bersyukur dipertemukan dengan suami yg banyak mengajak saya dalam kebaikan. Juga dianugerahi amanah buah hati yg insya Allah menjadi penyejuk mata dan hati. Semoga teman-teman yg membaca artikel ini juga dapat mensyukuri keluarga yg sudah ditakdirkan Allah ya. Aamiin 🙂

Diberikan lingkungan pergaulan yg baik

Lingkungan pergaulan yg baik itu mahal sekali lho harganya, bahkan mungkin tak ternilai oleh uang. Teman-teman sayalah yang membentuk diri saya. Dan mungkin saya tidak akan sampai di titik ini kalau tidak bergaul dengan teman-teman saya sekarang, baik itu teman-teman di Balikpapan dulu (yg alhamdulillah sampai sekarang banyak yg masih keep contact), teman-teman di IC (terima kasih sudah jadi pembuka hidayah untuk saya yg pengetahuan agamanya cetek banget), teman-teman ITB (terima kasih sudah jadi contoh dan panutan bagi saya untuk berkarya di berbagai bidang), dan juga teman-teman di Jepang (terima kasih telah menjadi keluarga di tanah rantau).

Bisa bangun setiap hari tanpa bingung mau makan apa dan tanpa perasaan takut akan bahaya mengancam

Akhir-akhir ini dengan banyaknya berita peperangan di negara lain, kadang saya suka sedih dan miris sendiri, di sini kita bisa menjalani kehidupan normal dengan tenang, sementara di belahan bumi lain ada saudara kita yg mendengar ledakan bom seperti makan 3x sehari. Mungkin mereka setiap hari bangun dengan perasaan was-was, akankah mereka kehilangan anggota keluarganya hari ini, ataukah mereka yg akan meninggalkan anggota keluarganya ><

Kita kan tidak bisa memilih dilahirkan sebagai warga negara apa. Jadi saya bersyukur sekali dilahirkan sebagai orang Indonesia di mana saya bisa mengenal Islam dengan mudahnya. Bagaimana kalau saya lahir jadi orang Palestina, yg negaranya direbut oleh orang lain? Lalu bagaimana kalau saya lahir jadi orang Jepang, okelah saya terlahir di negara maju dan aman dari perang, namun akankah saya bertemu Islam hingga akhir hayat saya?   ><

Tubuh yang sehat

Dan yang terakhir adalah nikmat kesehatan yg seringkali kita sepelekan. Banyak sekali orang yg kondisi fisiknya tidak sebaik saya, namun mereka tetap bersemangat hidup dan bisa berkarya dengan segala keterbatasan yang mereka punya. Kita sebagai orang yg dikaruniai kesehatan dan tubuh yg berfungsi sebagaimana mestinya, seharusnya bisa lebih bersyukur dan juga tidak mau kalah bersemangat dalam menjalani hidup 🙂

Day 11: What If…

Standard

Udah hari ke-11, saya makin bingung harus mengawali setiap postingan dengan kalimat apa 😀 Tapi alhamdulillah, nggak nyangka, ternyata saya masih semangat menulis hingga hari ke-11 ini 🙂 yay!

Tema hari ini adalah, “sesuatu yang kita selalu merasa “kalau aja…”” Hmm..sejujurnya, banyaakkk banget yg saya kepikiran “kalau aja” ini >< Duh, emang ya manusia, selalu aja ga puas sama apa yg dimiliki, selalu aja rumput tetangga kelihatan lebih hijau 😦 Saya sadar sih kita seharusnya nggak boleh seperti ini. Rasulullah sendiri melarang umatnya untuk berandai-andai bukan?

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Jadi selama ini sih, meskipun ada selentingan perasaan ”kalau aja” di hati saya, saya selalu berusaha menyingkirkannya. Karena saya juga merasa, kita sebagai manusia tidak pernah tahu yg mana yg terbaik untuk kita. Segala yg terjadi di hidup kita, sudah pasti atas takdir Allah semata.

Jadiiii…supaya postingan ini nggak tersia-sia, saya mau ngebalik deh konotasi “kalau aja”-nya 😀 Bukan “kalau aja saya begini”, tapi “kalau aja saya nggak begini”, kayaknya akan lebih menimbulkan semangat positif ya 🙂 Mudah-mudahan… 🙂

Yang pertama, kalau aja saya nggak sekolah SMA di MAN Insan Cendekia Serpong (IC), kayaknya saya nggak akan tahu gimana saya bisa mewujudkan impian saya buat melihat salju, karena kalau saya nggak sekolah di IC, saya mungkin ga akan tahu informasi beasiswa sekolah di luar negeri.

Yang kedua, kalau aja saya nggak kuliah di ITB, saya mungkin juga ga akan bisa bener-bener sampai ke Jepang, karena dengan saya berkuliah di ITB, saya jd bisa les bahasa Jepang di BLCI yg notabenenya deket kampus, jadi ketemu sama temen-temen yg juga tertarik buat ke Jepang, jd punya pengalaman nge-guide mahasiswa Jepang, dan lain sebagainya. Dan kalau saya nggak kuliah di ITB, saya juga ga akan ketemu sama suami saya ><

Yang ketiga, kalau aja saya nggak ke Jepang, saya mungkin ga akan pernah nyadar bahwa bumi Allah itu luaass banget >< Saya mungkin ga akan ketemu temen-temen luar biasa yg banyak menginspirasi. Saya mungkin nggak akan ketemu temen-temen Monbusho yg foreigner, yg walaupun bukan Muslim tapi sangat sangat menghormati keterbatasan saya sebagai seorang Muslim :’) Wah, kalau saya disuruh ngelist hal-hal yg saya syukuri dengan rejeki Allah mencicipi Jepang kemarin, kayaknya akan butuh postingan tersendiri :’)

Untuk saat ini, saya mau mensyukuri dulu kembalinya saya ke Indonesia. Walaupun culture shock (sebagian besar temen saya yg kembali dari Jepang ke Indonesia rata-rata merasakan yg sama 😛 ), tapi di mana pun sama-sama di bumi Allah kan? Yang penting, apa pun aktivitas kita, dapat memberikan keberkahan bagi diri sendiri maupun sekitar. Lagipula, walaupun Indonesia ini semrawut, kalau dibandingkan dengan negara konflik, masih jauh lebih mending kan? Kita masih bisa tidur tanpa ketakutan akan melihat matahari lagi nggak besok 😥

Baiklaahh..demikian kontemplasi hari ini. Sampai ketemu di postingan hari berikutnya :’)

Day 10: Something for Which I Feel Strongly

Standard

Halo, semua!

Kembali lagi dengan Nadine di sini. Alhamdulillah, sudah sepertiga jalan melalui tantangan ini ^_^ Tema hari ini adalah (kalau diterjemahin kira-kira) “sesuatu yang kita yakini” atau bisa juga “sesuatu yang kita pegang teguh” kali yah.

Untuk saya, hmm, saya adalah orang yang selalu berpegang pada impian dalam melalui hari-hari saya #eeaa. Sebagai contoh, dulu saya mimpi pengen liat salju gara-gara baca buku cerita anak-anak yg ngegambarin salju dan juga nonton film natal anak-anak yg selalu aja settingnya lagi winter bersalju. Selama belasan tahun ada satu perkataan yang selalu saya ingat dan membuat saya bersemangat dalam menggapai mimpi saya itu,

“Bermimpilah setinggi langit, karena jika kamu terjatuh, kamu masih akan berada di antara bintang-bintang”

Perkataan ini jika dimaknai secara harfiah artinya walaupun kita terjatuh, kita masih akan melihat sesuatu yg indah yaitu bintang-bintang. Dan jika dimaknai secara implisit, jika punya impian, sekalian yg tinggi aja, karena walaupun impian yg tinggi itu tidak terkabul, kita masih akan memperoleh hal lain yg juga tidak kalah indahnya.

Oleh sebab itu, saya pegang terus impian sederhana masa kecil saya itu. Nggak tau caranya, pokoknya suatu saat saya harus bisa melihat salju dengan mata kepala saya sendiri.

Long story short, mulai dari SMA, saya semakin melihat peluang ke luar negeri bukan hal yg  mustahil. Oya, sekadar gambaran saja, saya berasal dari keluarga menengah, jadi jalan-jalan keluar negeri (bahkan “cuma” ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia) bukan tujuan utama liburan kami. Apalagi ke negara yg bisa lihat salju. Selain itu, jaman saya remaja dulu, traveling keluar negeri belum banyak pilihan murahnya seperti sekarang. Nah sejak SMA, saya jadi semakin diperkenalkan akan adanya beasiswa studi keluar negeri. Perlahan-lahan saya semakin melihat bahwa impian saya bisa jadi kenyataan.

Alhamdulillah, setelah berbagai perjuangan meraih beasiswa saya lalui, ternyata ke Jepang melalui beasiswa MEXT/ Monbusho lah rejeki saya. Tentu saja rejeki ini tak lepas dari takdir Allah, namun mungkin jika dulu saya nggak pernah bermimpi bisa melihat salju, saya nggak akan kepikiran untuk keluar negeri sama sekali.

Karena itu, untuk adik-adik di luar sana yg kebetulan sampai di artikel ini, bermimpilah setinggi-tingginya, lalu kerahkan usaha maksimalmu untuk meraih mimpi itu. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha 🙂

ski

I miss skiing so badly 😥

Day 9: Some Words of Wisdom that Speak to Me

Standard

Tema hari ini adalah “kata-kata bijak yg mengena di hati”. Jujur saja, saya termasuk orang yang sering berpegang ke kata-kata penyemangat kalau lagi galau. Dengan baca-baca kata-kata penyemangat itu lagi, saya jadi lebih bisa kuat dalam mengarungi hidup ini #eeaa

Salah satu kata bijak yg selalu saya ingat adalah sebuah hadits berikut ini:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Hadits tersebut bener-bener menunjukkan bahwa kita sebagai orang mukmin sungguh sangat beruntung. Tidak ada perkara yg buruk yg terjadi dalam hidup kita. Yang ada hanyalah bagaimana kita menyikapinya. Kalau saja kita selalu ingat ini dalam setiap episode kehidupan yg kita lalui, niscaya kita akan selalu bersyukur kepada-Nya.

Day 8: Something I Struggle With

Standard

Judul hari ini agak bingung gimana menerjemahkan ke bahasa Indonesianya 😀 Tapi kira-kira artinya “sesuatu yg saya berjuang untuk menghadapinya” (yeah kedengeran bagus ya bahasa Indonesia-nya 😀 ).

Seperti yg kebanyakan temen-temen saya tahu, saya adalah orang yg OCD terhadap kebersihan. OCD saya nggak sampai parah banget, sih. Terobsesi juga nggak. Tapi mungkin bisa dibilang saya punya standar yg cukup tinggi mengenai kebersihan dan kerapihan.

Kalo boleh sedikit cerita tentang OCD saya ini, misalnya di rak buku, saya selalu menaruh buku dengan tinggi yg paling tinggi di kiri, dan yg paling rendah di kanan. Sabun mandi dkk saya susun di kamar mandi dengan brand menghadap depan semua. Begitu juga dengan tempat bumbu di dapur, brand-nya harus menghadap depan. Jadi kalo benda-benda itu berubah posisi, saya pasti langsung ngerapiin lagi. Rasanya mata saya sakit kalau ngelihat benda yg tidak pada tempatnya atau posisinya tidak seharusnya 😄

Semenjak di Jepang, ke-OCD-an saya sepertinya bertambah >< Secara, Jepang juga sangat terkenal dengan kebersihannya, di fasilitas umum sekali pun (walaupun kadang ada jg yg kotor, tp mostly terjaga kebersihannya). Dan salah satu syarat krusial suatu tempat akan saya nilai bersih adalah….jika kamar mandinya bersih 😀

Pokoknya setiap saya ke kamar mandi umum di mana pun (Jepang maupun Indonesia), saya selalu melapisi dudukannya dengan tisu 😄 Jadi bagi saya, lebih baik toilet jongkok daripada toilet duduk yg kotor, karena kalau jongkok kan kekotorannya ga kena ke kulit kita sedikit pun.

Nah karena di Indonesia (mohon maaf) sebagian besar toilet umumnya masih kurang bersih, saya struggling banget kalau lagi jalan-jalan atau berwisata 😦 Malahan saya lebih baik ga makan-minum daripada harus ke toilet umum. Segitunya yaa..

Yah demikianlah ke-struggling-an saya. Ada nggak temen-temen yg kayak saya juga?

Day 7: 10 Songs that I am Loving Right Now

Standard

Halo semua!

Percaya atau tidak, saya ini termasuk yg jaraanngg banget dengerin lagu. Pas lihat tema tulisan hari ini, saya baru sadar kalau (terutama akhir-akhir ini) saya nggak terlalu update dengan lagu-lagu terbaru. Jadi saya coba scroll-scroll aja ya playlist saya di soundcloud (tuh bahkan playlist aja bukan di hp atau laptop, tapi di soundcloud >< )

  1. You are my everything (Gummy – Descendants of The Sun OST)
  2. When we were young (Adele)
  3. Love yourself (Justin Bieber)
  4. Classical song medley (Mozart, Bach, Beethoven)
  5. Me gustas tu (Gfriend)
  6. Rough (Gfriend)
  7. TT (Twice)
  8. Thinking out loud (Ed Sheeran)
  9. Shut up (Unnies)
  10. I am not the only one (Sam Smith)

Lagunya nggak update banget kaann..hehe.. Dan ketauan deh saya penggemar Kpop juga 😀 Baiklah, sekian untuk postingan hari ini. Maaf kalo nggak terlalu menarik, soalnya saya beneran deh jarang banget dengerin lagu akhir-akhir ini.

Sampai jumpa di postingan hari berikutnya! 🙂