Author Archives: Nadine Nandanari

Menonton Fantastic Beasts The Crimes of Grindelwald di Bioskop 4Dx3D

Standard

Sebagai penggemar berat Harry Potter, tentunya film terbaru produksi J.K. Rowling ini sudah saya tunggu-tunggu sejak tanggal penayangan perdananya diumumkan. Sekitar seminggu sebelum tanggal yang diumumkan tersebut (16 November 2018), saya mendapat info dari suami bahwa pada tanggal 14 November, bioskop-bioskop di kota tempat kami tinggal sudah akan menayangkannya untuk pertama kalinya. Saya juga sebenarnya agak bingung kenapa bisa ditayangkan dua hari lebih awal dari tanggal resmi yang tertera di sosial media Fantastic Beasts (FB), tapi kami akhirnya memutuskan menonton pada tanggal 14 November tersebut. Alhamdulillah ada yang bisa menjaga anak di rumah selama kami pergi 🙂

Kebetulan suami punya satu tiket gratis menonton di bioskop CGV. Kami pun berencana menonton di sana. Namun sayangnya di CGV sini belum ada bioskop 3d maupun 4Dx3D. Maka kami hanya menonton di bioskop 2D.

Singkat cerita, tiga hari setelahnya saya ada keperluan ke Jogja bersama anak. Suami tidak ikut. Di Jogja saya menginap di rumah orang tua saya. Nah, di Jogja ada bioskop 4Dx3D, dan saya pun tergugah untuk menonton kembali. Kebetulan saya belum pernah menonton di bioskop 4Dx3D, dan setelah saya pikir-pikir, tidak ada film lain yang ingin saya tonton dengan efek 4Dx3D ini selain film FB. Akhirnya saya memutuskan untuk nonton sekali lagi, dan kali ini di bioskop 4Dx3D.

Saya memesan tiket menggunakan aplikasi. Karena menonton sendirian dan memesan tiket cukup awal, saya bisa mendapat tiket yang cukup di atas dan tengah. Setelah memesan tiket menggunakan aplikasi, kita tinggal datang ke bioskop lalu mencetak sendiri tiket kita di mesin self-ticketing. Oh ya, tiket bioskop 4Dx3D ini di Jogja dibanderol dengan harga Rp 80.000,00 untuk hari Senin, dan Rp 90.000,00 untuk hari lainnya.

imageedit_1_6847241479

 

Setelah pintu teater dibuka, kami dipersilakan mengambil kacamata, dan seperti ini tata tempat duduk di dalam teater 4Dx3D-nya.

imageedit_4_7342959202

imageedit_6_4486363220

Kursi saya di G8 (kursi A di yang paling dekat dengan layar), ketinggian pas serta posisi tengah. Di layar sedang ditayangkan trailer film yang akan datang.

Teater saat itu lumayan penuh karena saya menonton di hari Senin (yang harga tiketnya lebih murah) dan besoknya, hari Selasa, merupakan tanggal merah. Saya perhatikan banyak penonton yang sepertinya baru pulang kerja atau pun mahasiswa-mahasiswa yang baru pulang kuliah langsung ke bioskop.

Saya pun iseng-iseng mengobrol dengan penonton di sebelah saya. Saya bertanya apakah mereka pernah menonton di 4Dx3D juga sebelumnya, karena saya ingin tahu seberapa parah efek guncangan yang disajikan. Ternyata mereka pun baru pertama akan menonton di teater 4Dx3D sama seperti saya.

Tidak lama kemudian, lampu di dalam teater dipadamkan dan di layar diputar beberapa trailer film yang akan tayang di bioskop. Setelah beberapa trailer selesai ditayangkan, ditampilkan peraturan-peraturan menonton di bioskop seperti biasa, lalu setelah itu ada yang istimewa.

Apakah dia…

Ternyata penonton diberikan simulasi 4Dx3D dulu sebelum film benar-benar ditayangkan. Di simulasi singkat ini, kami jadi bisa tahu separah apa guncangan yang mungkin terjadi, serta efek-efek lain yang ditawarkan. Saya pun merasa lega karena saya jadi bisa siap-siap atau berekspektasi terhadap efek dari film sebenarnya.

Dan film pun dimulai. Selain merasa seperti benar-benar berada di lokasi film layaknya menonton di teater 3D, di teater 4D ini kami juga serasa ikut bergerak dengan tokoh-tokoh di filmnya. Sebagai contoh, saat kamera menyorot pemandangan dari atas, lalu bergerak dari atas ke bawah, kursi juga bergerak memberikan efek serupa sehingga penonton juga merasa seakan-akan terbang. Selain itu, saat kamera bergerak miring atau sang aktor terjatuh dari ketinggian, maka penonton pun merasakan yang sama. Bahkan botol minum yang saya taruh di tempat minuman di lengan kursi sampai hampir jatuh karena guncangannya.

Selain itu tentu saja ada efek lain, seperti cahaya, angin, dan… ah lebih baik ditonton sendiri saja supaya ada sensasi kagetnya. Kalau saya beri tahu semua sekarang, nanti tidak seru lagi 🙂

Nah, mengingat durasi film yang kebanyakan di antara satu setengah hingga dua jam, maka jika kalian memutuskan menonton film di teater 4Dx3D, pastikan kalian tidak punya motion sickness yang parah ya, karena menurut saya efeknya lumayan terasa walaupun tidak separah wahana-wahana ekstrim di taman bermain. Untuk ibu hamil, hmm sebetulnya tidak ada peringatan tertulis bahwa ibu hamil dilarang menonton di teater 4Dx3D (mohon dibetulkan jika saya salah), tapi kalau saya pribadi sepertinya lebih tidak dulu, karena seringan-ringannya, ibu-ibu bisa saja muntah atau pusing. Bersabar saja dulu ya, ibu-ibu 🙂

Apakah teater 4Dx3D ini worth the splurge? Menurut saya menonton di 4Dx3D ini lebih berfungsi sebagai refreshing daripada menikmati cerita dari filmnya sendiri. Jika saya menonton film FB ini untuk pertama kalinya di 4Dx3D, bisa jadi ada detail cerita atau film yang terlewat oleh saya. Karena kebetulan ini adalah kedua kalinya saya menonton film yang sama, maka kali ini saya lebih fokus di menikmati efeknya daripada di cerita filmnya sendiri. Lalu, untuk film lain yang tidak terlalu saya gemari seperti layaknya film FB ini, sepertinya 3D atau bahkan 2D saja sudah cukup bagi saya. Dan, kalau pun di lain waktu saya menonton di 4Dx3D untuk film lain lagi, saya rasa saya sudah dapat menduga efek apa yang akan terjadi untuk adegan-adegan yang ditampilkan, maka efek kagetnya sudah berbeda dengan saat menonton di 4Dx3D untuk pertama kalinya.

Nah, apakah teman-teman tertarik menonton film di 4Dx3D? Kalau iya, film apa yang menjadi wish list teman-teman untuk bisa ditonton dengan efek 4Dx3D? Lalu, apakah teman-teman penggemar berat Harry Potter seperti saya? Kalau iya, bagaimana tanggapan teman-teman untuk cerita FB di film keduanya ini? Coba ceritakan di kolom komentar di bawah ya! Eh tapi kalau teman-teman ada yang takut baca spoiler, lebih baik jangan baca komentar dulu sebelum menonton filmnya.

Sampai jumpa di post selanjutnya!

Advertisements

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 2.2

Standard

Halo! Kembali lagi dengan saya di sini. Sesuai judulnya, di post ini saya akan melanjutkan cerita dari post 2 bulan sebelum ini (ya! nggak nyangka sudah 2 bulan sejak saya menuliskan cerita tentang ini +_+). Buat yang belum baca part 2.1-nya, bisa lihat di sini ya.

Setelah melewati ujian dan alhamdulillah dinyatakan lulus, maka kami tinggal menunggu tahun ajaran baru pada bulan April tahun berikutnya. Selama 6 bulan ini, saya (dan mahasiswa beasiswa MEXT lainnya) hanya fokus mempersiapkan penelitian yang akan dilakukan ketika memulai kuliah S2 nanti.

Kemudian, tahun ajaran baru pun dimulai. Karena satu jurusan, saya sering menanyakan S mata kuliah apa saja yang akan dia ambil tiap semester. Saya ingin ikut mengambil mata kuliah tersebut supaya ada teman kuliah dan ada tempat bertanya seputar tugas dan ujian. Beberapa mata kuliah yang dia ambil ada yang tidak terlalu dekat keilmuannya dengan lab saya, maka tidak saya ambil. Teman-teman juga kadang seperti itu kan ya, mengambil mata kuliah karena ada teman. Hehehe :D.

Jujur saja di saat benar-benar mulai kuliah ini, saya sangat sibuk tidak hanya dengan jadwal kuliah dan tugas-tugasnya, namun juga dengan penelitian yang ternyata tidak semudah itu. Banyak sekali paper yang harus saya baca agar mendapat referensi serta mengetahui penelitian mana yang sudah pernah dilakukan agar saya tidak dituduh mem-plagiat paper orang lain.

Berbeda dengan teman-teman yang jurusannya sebagian besar banyak kegiatan lab yang sifatnya percobaan, kegiatan lab saya sebagian besar adalah pemrograman. Hari-hari saya sebagian besar BANGET dihabiskan di depan laptop, dan sejujurnya itu agak sangat membosankan bagi saya. Saya tahu ada orang yang sangat menikmati ngoding, maka ia bisa lupa waktu jika sedang ngoding, debugging, extracting data, lalu menganalisis hasilnya. Sangat disayangkan saya bukanlah orang seperti itu, dan di saat inilah saya mulai menyadari sepertinya salah pilih jurusan dan terutama salah pilih lab. Padahal di saat S2 seperti ini, sangatlah krusial untuk tidak salah pilih jurusan maupun bidang keilmuan, karena keilmuan inilah yang akan kita pegang terus ke depannya saat melanjutkan karir +_+

Kemudian, untuk hal yang sifatnya penelitian yang belum dipublikasikan seperti ini, kami tidak boleh membicarakan penilitian kepada orang di luar lab. Alhasil ketika saya kebingungan, saya hanya bisa berdiskusi dengan sensei (profesor supervisor penelitian) saya atau teman satu lab. Nah mengenai diskusi ini ternyata jadi masalah yang cukup membebani saya di masa S2 saya.

Jadi, teman satu lab saya sebagian besar BANGET tidak dapat berbahasa Inggris. Sementara, saya yang memang saat menjalani S2 ini sudah cukup lancar berbahasa Jepang level SEHARI-HARI, selalu berusaha berbicara menggunakan bahasa Jepang  setiap mengobrol dengan teman lab. Oleh sebab itu, teman-teman lab saya berasumsi bahwa saya sudah dapat berbahasa Jepang selayaknya orang Jepang sehingga mereka tidak berusaha berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan saya sama sekali, begitu pun ketika kami mendiskusikan penelitian. Padahal, bahasa Jepang untuk sehari-hari itu sangat berbeda level dengan bahasa Jepang yang terkait masalah penelitian. Banyak sekali technical term yang tidak saya pahami yang berhubungan dengan penelitian kami.  Akibatnya, sulit sekali bagi saya untuk berdiskusi atau meminta tolong teman lab mengajari saya di saat ada yang tidak saya pahami.

Bagaimana dengan sensei saya? Tentu sensei saya cukup lancar berbahasa Inggris (ya, saya bilang ‘cukup’ karena sensei saya tidak selancar itu bahasa Inggrisnya). Namun ternyata, berdiskusi masalah penilitian dengan sensei juga tidak lebih mudah daripada dengan teman lab 😦 Entah mengapa, saya selalu kesulitan menyampaikan ide-ide maupun kesulitan saya kepada sensei. Sehingga tidak jarang setelah berdiskusi dengan sensei, malah timbul pertanyaan yang lebih banyak daripada sebelum berdiskusi. Padahal harusnya sensei lah orang pertama dan utama yang bisa kita curhatin masalah penelitian ini. Turned out that’s not always the case.

Lalu, kepada siapa kah saya bisa mencari jawaban ketika sedang kesulitan masalah penelitian? Ya, pasti teman-teman sudah bisa menebak. Kepada S lah akhirnya saya bertanya dan berdiskusi. Tak jarang setelah saya berdiskusi dengan sensei dan malah tambah bingung, saya diskusi dengan S masalah yang sama persis dan S dengan mudahnya memberikan solusi atas permasalahan saya.

S ini tidak pernah menolak kalau saya meminta waktunya untuk berdiskusi. Dan saat berdiskusi dia juga benar-benar mengajari sampai saya paham dan sampai selesai permasalahan yang saya tanyakan.

Meskipun dengan tertatih-tatih, akhirnya berhasil juga saya menyelesaikan pendidikan S2 serta penelitian saya. Tibalah waktu sidang penelitian saya (dan juga S) pada akhir bulan Januari 2016. Saya pun memberi tahu teman-teman Indonesia maupun internasional termasuk S jadwal sidang saya secara sekilas saja karena saya tidak berharap ada yang punya waktu luang untuk datang. Tidak saya sangka, di antara sekian banyak teman yang saya beri tahu, S-lah satu-satunya yang datang menonton sidang saya.

Mulai dari belajar untuk ujian masuk universitas, tugas kuliah, permasalahan terkait penelitian, semua saya tanyakan ke S. Bisa dibilang saya tidak tahu bagaimana nasib S2 saya kalau saya tidak bertemu dengan S. But indeed, everyone comes in our life for a reason, right?

*****

PS: Sejak lulus pada Maret 2016 lalu hingga saat ini, S masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jepang.

Tes 17 Jam Pemakaian Foundation Estee Lauder Double Wear Stay in Place

Standard

Halo, semuanya!

Dari judulnya, teman-teman yang follow blog ini pasti sudah bisa menebak bahwa postingan kali ini akan membicarakan hal yang sangat-sangat berbeda dengan yang biasa saya tulis di sini. Bagi teman-teman beauty lovers yang sampai di blog ini karena ingin membaca review tentang foundation ini, selamat datang dan salam kenal!

Mungkin untuk perkenalan sedikit, saya sendiri adalah seorang beauty enthusiast yang sebenarnya sudah cukup lama hobi mencoba-coba beauty products, tapi baru kali ini saya benar-benar ingin menuliskan review sebuah produk seperti ini. Ini adalah kali pertama saya menulis post dengan tema seperti ini jadi mohon maaf jika ada yang kurang jelas dalam penjabarannya nanti, ya. Baiklah tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai saja reviewnya! ^^

Intro

Seperti yang mungkin sudah teman-teman ketahui, foundation (mulai sekarang disebut foundie saja ya) Estee Lauder adalah salah satu foundie high end paling tersohor di kalangan beauty guru. Namun, disebabkan harganya yang memang tidak terjangkau, saya selalu maju mundur untuk membelinya, meskipun dia telah ada di wish list saya sangat lama.

Saya sendiri, selama sekitar 4 tahunan ini lumayan suka mencoba-coba berbagai produk kecantikan, tidak pernah memiliki produk high end apa pun. Semua produk yang saya pakai adalah drugstore atau lokal. Namun saya tahu, jika suatu saat ini saya akan pada akhirnya membeli produk high end, produk pertama yang saya beli akan berupa foundie. Karena menurut saya, make up akan terlihat bagus jika base-nya atau dasarnya lah yang bagus. Oleh sebab itu, foundie estee lauder ini memang ada di no.1 wish list saya.

Hingga akhirnya pada bulan Juni 2018 lalu, ceritanya tabungan saya sudah terkumpul alhamdulillah, saya pun mulai browsing shade foundie estee ini yang cocok untuk warna kulit saya. Dari hasil browsing ini, sebenarnya saya masih ragu mau ambil shade yang mana. Sementara, saya memang berniat beli online saja karena harganya yang jauh lebih murah daripada di konter resmi (maaf ya, estee). Ada juga online shope yang menjual versi shared-nya, namun saya merasa harganya tidak worth it dibanding beli langsung full sized (karena saya sudah yakin saya mau beli full sized jadi tidak merasa perlu beli shared). Alhasil saya pun belum jadi beli online.

Hingga pada bulan Juli 2018, saya ada keperluan ke Singapura, maka saya pun memutuskan membeli di duty free bandara Changi saja sekalian swatch shade-nya langsung di kulit saya. Akhirnya, inilah shade tercocok bagi kulit saya, yaitu Estee Lauder Double Wear Stay in Place SPF 10 2N2 Buff.

Kondisi Wajah Saya

Sebelum kita lanjut ke review pemakaian, ada baiknya saya jelaskan juga tipe kulit saya. Kulit saya termasuk oily-combination, berminyak di bagian T-zone namun tidak terlalu parah, kering sekali di bawah mata, dan normal di bagian lain. Bagian yang kering di bagian bawah mata ini sering patchy jika foundienya tidak cocok, dan pasti creasing kalau pakai concealer terlalu banyak, jadi memang agak tricky.

Saya memiliki jerawat hormonal, yaitu PASTI berjerawat satu dua biji saat lagi ‘dapet’. Jadi di wajah saya banyak bekas jerawat yang menghitam. Namun untuk tekstur cenderung rata, tidak bopeng-bopeng, dan tidak ada jerawat meradang yang merah-merah.

Selain itu, hidung saya cukup sering komedoan, dan pori-pori di sekitar hidung cukup besar.

Review Pemakaian Selama 17 Jam

Sejak saat beli itu hingga sekarang ini, saya sudah cukup sering menggunakan foundie ini dan alhamdulillah cocok di kulit saya yang oily-combination serta tidak menimbulkan jerawat atau breakout. Namun, saya belum pernah benar-benar memakainya dalam waktu yang lama dan dalam kondisi tidak ideal (cuaca panas dan mobilitas tinggi). Jadi saya belum pernah benar-benar membuktikan claim-claim yang disebutkan estee di websitenya ini:

Flawless. Natural. Matte. Feels lightweight and so comfortable, you won’t believe it’s super long wear. No touchups needed.

Unifies uneven skintone and covers imperfections with buildable, medium-to-full coverage.

Stays color true. Won’t look grey on deeper skintones.

Double Wear is oil-free and oil-controlling. Waterproof and transfer-resistant, it lasts in hot and humid weather.

Keeps up with your busy day. For millions of women, it’s Double Wear or nothing. Put it on once and don’t think twice.

Kesempatan itu akhirnya datang pada akhir Oktober 2018 lalu. Saya dijadwalkan untuk menghadiri pelantikan dokter sepupu saya. Acara akan berlangsung dari pukul 07.30 pagi hingga 13.00 siang, lokasi semi-outdoor (di ruangan terbuka namun ada atapnya), ada jadwal makan siangnya, dan saya akan mengenakan kebaya. Saya pun lagi ‘dapet’ jadi tidak perlu wudhu sama sekali. Pas sekali ya semua kondisi ini sangat mendukung untuk mencoba ketahanan suatu foundie. Maka saya pun sudah meniatkan akan memakai foundie estee dari pagi sampai malam sebelum tidur.

Semalam sebelum hari H, saya juga menyempatkan membersihkan komedo dengan Innisfree Blackhead Balm dan Biore Pore Pack, serta memakai sheet mask. Bisa dibilang kondisi kulit saya sedang cukup prima.

Oke, pagi harinya, saya selesai memakai foundie pada pukul 06.00. Ini foto ketika saya baru memakai riasan mata dan foundie, belum selesai make up seluruh wajah, dan TANPA concealer ataupun color-corrector sama sekali.

154157203795160705

Bisa dilihat bahwa warna kulit sudah rata sepenuhnya, namun di dahi memang ada jerawat kecil yang muncul (jerawat hormonal karena lagi ‘dapet’). Namun semua bekas-bekas jerawat dan warna yang tidak rata sudah tertutupi sempurna dan menghasilkan base makeup yang flawless.

Saat baru pakai foundie ini, saya langsung merasa wajah saya sangat matte dan tidak tacky. Maka saya pun memutuskan untuk tidak menggunakan loose powder dengan teknik baking, melainkan hanya dab-dab dengan pressed powder karena saya juga tidak mau look ini terlihat banyak layer dan powdery.

154157203795160705 (1)

Oh ya, saya akan menuliskan di akhir post ini semua produk yang saya pakai di makeup look kali ini supaya teman-teman juga bisa tau produk apa yang mendukung dalam uji coba pemakaian foundie estee kali ini.

Pada pukul 07.30 saya dan sepupu otw ke lokasi acara lalu foto-foto di luar gedung hingga pukul 09.30. Selama 2 jam ini, tidak ada oil yang terproduksi dan saya tidak melihat adanya keperluan untuk touch up sama sekali. Untungnya memang cuaca sedang cerah berangin (bukan terik panas menggentang), jadi meskipun memakai kebaya, saya juga tidak merasa terlalu bekeringat. Acara pelantikan pun mulai pada pukul 09.30 hingga 12.00. Selama acara berlangsung saya hanya duduk bersama tamu-tamu lainnya di semacam tenda beratapkan tarup dan di depan kami ada kipas angin yang sangat memadai. Foundie masih sangat sangat aman.

Sekitar pukul 12.00 tamu undangan dipersilakan makan siang prasmanan seperti kalau kita ke undangan pernikahan. Saya memilih menu sup, capcay, fillet ikan rica-rica, serta minum teh hangat. Sengaja pilih yang panas, berkuah, berminyak, dan pedas supaya bisa melihat apakah akhirnya foundienya goyah 😀 Tapi maaf lupa banget ngefoto makanannya sebagai bukti karena waktu itu sudaah sangat kelaparan secara terakhir makan adalah sebelum jam 6 pagi 😀

Setelah selesai makan dan minum, saya pun membersihkan sekitar mulut saya dengan kertas tisu, dan sangat-sangat surprisingly, foundienya tidak ada yang menempel sama sekali di tisunya. Namun di bagian T-zone sudah muncul shine tapi masih terlihat seperti glowy sehat bukan minyak yang greasy ataupun foundie yang mulai meleleh *nangis terharu*. Sebagus itu T_T

Ini foto setelah makan siang. Saya sudah touch up lipstiknya ya ini. Bisa dilihat bahwa wajah masih sangat-sangat terkontrol.

154157203795160705 (2)

Oke lanjut. Sekitar jam 1 siang kami pulang ke rumah, namun jam 4 sore berencana keluar lagi untuk makan malam dalam rangka syukuran keluarga. Saya tidak menghapus makeup, dan memang makeupnya terasa sangat nyaman sampai saya pun tidak merasa harus buru-buru membersihkannya. Beda yang ketika kita selesai suatu acara dan makeupnya sudah tidak karuan bentuknya, bleber ke saana kemari, patchy, luntur, dan segala macem, pasti kita pengennya segera cuci muka. Nah kalau ini tidak ada perasaan seperti itu sama sekali. Saya bahkan sempat tidur siang masih menggunakan makeup 😀

Bangun sekitar jam 3 sore, saya touch up sedikit karena memang mukanya beler banget secara baru bangun tidur. Touch upnya hanya menggunakan bloting paper, bedak, dan setting spray. Seperti ini penampakan saya setelah bangun tidur masih dengan makeup yang sama.

154157203795160705 (3)

Acara makan malam pun berlangsung, saya makan ayam ungkep, ayam goreng, dan tempe mendoan plus sambal yang cukup pedas. Hingga saat akhir waktu makan yaitu sekitar pukul 7 malam, foundie bener-bener masih menempel dengan baik, bahkan tidak ada bagian yang mulai luntur di T-zone yang notabenenya mulai oily.

Sepulang makan malam, saya masih melanjutkan jalan-jalan ke taman bermain lampion bersama anak dan orang tua saya. Seperti ini penampakan saat jalan-jalan sekitar pukul 8 malam.

154157203795160705 (4)

Mukanya udah capek 😀

154157203795160705 (5)

Di T-Zone terlihat shiny tapi masih wajar

Dan pada akhirnya, hari saya pun berakhir pada pukul 20.30. Kami pun pulang ke rumah. Berikut foto saya sesaat setelah pulang. Masih terlihat glowy sehat.

154157203795160705 (6)

Saya pun melepas jilbab serta dalaman jilbab yang berbahan rajut. Dan ternyata bahkan tidak ada foundie yang menempel di jilbab maupun di dalaman jilbab saya. Lalu saya mencoba bloting pakai tisu, seperti ini penampakan tisunya.

154157203795160705 (7)

Sebersih ini, hanya ada warna coklat muda sedikit di kiri bawah.

Sekitar pukul 23.00, saya akhirnya memutuskan sudah saatnya membersihkan wajah karena saya sudah sangat mengangtuk. Saya lalu mencoba men-swipe bagian di dekat hidung sebelah kiri dan dagu untuk melihat apakah foundienya terangkat. Ternyata setelah 17 jam sejak pemakaian pertama, foundie pun mulai transfer sedikit.

154157203795160705 (8)

Semoga bisa terlihat dari foto di atas, di bagian dekat hidung sebelah kanan dan dagu ada foundie yang sudah terhapus.

Lalu saya pun membersihkan wajah dengan face wipes, seperti ini hasilnya.

IMG_20181025_230049

Masih ada sebanyak ini foundie yang menempel di wajah saya bahkan setelah 17 jam.

Kesimpulan

Setelah saya sendiri mencoba foundie ini selama 17 jam dan full kegiatan dari pagi hingga malam, maka berikut ini kesimpulan yang saya dapatkan mengenai foundie ini:

  • Ringan di wajah, seperti tidak memakai foundie
  • Hasil natural
  • Warna tidak abu-abu di wajah, tidak oxidize
  • Tidak tacky atau lengket-lengket saat baru dipakai, langsung matte
  • Tidak memerlukan pemakaian bedak berlebihan untuk menge-setnya
  • Tidak transfer, tidak menempel di pakaian
  • Tidak mudah luntur dan pudar
  • Tahan tanpa touch up sekitar 9 jam
  • Tidak greasy sama sekali bahkan hingga pemakaian selama 17 jam
  • Tidak crease sama sekali di bawah mata dan smile line meskipun tidak pakai concealer
  • Tidak cakey
  • Coverage medium dan buildable, dapat menutupi warna tidak rata dengan baik meskpun tanpa concealer
  • Menyamarkan pori-pori
  • Tidak mengaksentuasi komedo dan jerawat
  • Semakin lama dipakai, semakin menyatu dengan kulit

Beberapa kondisi yang menurut saya mendukung percobaan ini bisa memberikan hasil yang baik adalah:

  • Karakter kulit saya yang berminyak namun memang tidak berlebihan dan bukan acne prone skin
  • Kondisi kulit wajah saya sedang cukup baik (komedo baru dibersihkan, tidak banyak jerawat matang, lumayan smooth)
  • Cuaca yang tidak terlalu panas dan lumayan berangin sehingga membuat saya tidak terlalu berkeringat dan mengeluarkan minyak

Dan terakhir, berikut daftar produk yang saya pakai di makeup look ini:

  • Wet n Wild & Canmake Brushes
  • Etude House Drawing Eye Brow – gray brown
  • Maybelline Brow Precise Fiber Volumizing Eyebrow Gel – medium brown
  • Colourpop No Filter Concealer – medium 28 (was medium 30) untuk membingkai alis
  • Innisfree Eye Primer
  • Colourpop Eye Shadow Palette – Give it To Me Straight
  • Maybelline Hyper Impact Eye Liner
  • L’oreal Lash Paradise Mascara
  • Wet n Wild Photofocus Primer – matte finish
  • Estee Lauder Double Wear Stay in Place SPF 10 – 2N2 Buff
  • Fanbo Beauty Blender
  • Wet n Wild Photofocus Pressed Powder – neutral buff
  • Wet n Wild Contouring Palette – dulce de leche
  • Elf Blush Palette – light
  • Wet n Wild Megaglo Highlighter – precious petals
  • Wardah Exclusive Lip Cream – 17 rosy cheeks
  • Wet n Wild Photofocus Setting Spray – matte finish

Penutup

Baiklah, demikian cerita pengalaman saya menggunakan foundie ini selama 17 jam dari jam 6 pagi hingga 11 malam. Semua cerita yang saya sampaikan di atas insya Allah jujur, mungkin ada yang lupa-lupa sedikit, namun insya Allah tidak mengubah kenyataan yang ingin disampaikan. Saya merasa sangat puas bisa membuktikan sediri kualitas dari foundie ini. Saya jadi bisa bilang sendiri bahwa foundie ini benar-benar worth the price.

Satu catatan adalah, karena foundie ini ternyata terbukti sangat sweat-proof, water-prrof, dan oil-proof, saya tidak menyarankan untuk dipakai jika teman-teman yang muslimah akan melewati waktu solat dan harus berwudhu, karena saya cukup yakin air tidak akan sampai ke kulit jika kita memakai foundie ini.

Semoga review ini bermanfaat bagi teman-teman yang baru akan membeli foundie ini, ya! Sampai ketemu di review beauty products selanjutnya!

*****

PS: 

Mohon tidak mengambil foto yang saya unggah di post ini, baik tanpa izin maupun tidak.

Mohon tidak mengambil review saya tanpa izin.

Mohon mencantumkan tautan post ini jika teman-teman mengambil sebagian atau seluruh isi post ini karena saya membuat post ini dengan usaha yang murni saya lakukan sendiri.

Mohon tidak mengambil hasil kerja orang lain tanpa izin dan tanpa memberikan tautan ke post aslinya.

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 2.1

Standard

Halo, temen-temen! Sekarang saya mau melanjutkan lagi cerita tentang stereotip yang saya alami ketika tinggal di Jepang. Nah kenapa judulnya Part 2.1, akan saya ceritakan di akhir ya. Bagi yang belum membaca part 1-nya, bisa dibaca di sini ya. Kali ini juga masih sama dengan post sebelumnya, saya ingin bercerita tentang anggapan salah yang saya miliki terhadap bangsa atau ras tertentu.

Berkuliah di kampus yang cukup banyak menerima mahasiswa asing membuat saya dapat bertemu teman-teman dari berbagai belahan dunia. Lagi-lagi termakan oleh apa yang selama ini diberitakan media, saya memiliki anggapan tertentu terhadap beberapa etnis budaya. Sebagai contoh, mereka yang berasal India atau Singapura pasti cenderung lebih pandai dari yang lainnya, dan sebaliknya, mereka yang berasal dari negara-negara Afrika dan berkulit hitam pasti cenderung lebih terbelakang pendidikannya. Tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa anggapan ini akan dipatahkan mentah-mentah oleh pengalaman yang akan saya ceritakan di post kali ini.

Sebut saja S. Dia adalah penerima beasiswa Monbusho G2G angkatan 2013, sama seperti saya dan teman saya J yang saya ceritakan di post sebelumnya. Dia juga seorang Muslim, berasal dari negara S di Afrika, dan berkulit hitam. S ini satu jurusan dengan saya di kampus, tapi berbeda lab.

Semua penerima beasiswa Monbusho G2G harus mengikuti kelas Bahasa Jepang selama 1 tahun sebelum memulai pendidikan S2. Ada sekitar 20-an penerima beasiswa Monbusho G2G di kampus saya pada tahun 2013 itu, dan kami dibagi jadi 2 kelas Bahasa Jepang. Satu kelas berisi 7 orang (termasuk saya) adalah kelas bagi kami yang sudah pernah mempelajari Bahasa Jepang sebelum datang ke Jepang. Kelas ini disebut kelas B. Dan satu kelas lagi adalah kelas bagi mereka yang belum pernah belajar Bahasa Jepang sama sekali. Kelas ini disebut kelas A, dan S ada di kelas tersebut. Oya FYI juga, semua teman saya yang berkulit hitam ada di kelas itu termasuk J dan S ini.

Di tahun pertama ini, kami juga akan mengikuti tes masuk ke jurusan masing-masing, sama seperti mahasiswa lulusan S1 Jepang pada tahun itu. Tes ini diadakan pada bulan Agustus, sementara tahun ajaran baru dimulai bulan April tahun depannya. Jadi jika kami lolos tes masuk ini, kami punya satu semester kosong sebelum memulai perkuliahan.

Mendekati ujian masuk, saya pun sibuk belajar mempersiapkannya dengan mengerjakan soal-soal yang pernah dikeluarkan tahun-tahun sebelumnya. Sama ya dengan calon mahasiswa di Indonesia 🙂 Jujur aja, soal tes masuk kampus saya ini susah banget. Hampir sama tingkat kesulitannya kayak lomba. Saya jadi harus baca-baca lagi teori dari buku pelajaran (atau dalam hal ini search di google sih sebenernya 😀 ).

Suatu hari saya sedang belajar di jam istirahat kelas Bahasa Jepang bareng temen sekelas yang juga satu jurusan dengan saya, sebut saja F, dan dia ini juga cowo (maklumlah kalau teman saya kebanyakan cowo, jurusan saya memang jurusan yang didominasi oleh para pria). Di salah satu soal, saya dan F mengalami kesulitan dan stuck. Kemudian salah satu teman kami dari kelas A main ke kelas kami dan melihat kami sedang stuck. Dia pun menyarankan, “Go ask S, he’s very genius!” Kami (saya dan F) yang tidak tahu menahu bahwa S adalah seorang jenius karena kami tidak sekelas bahasa dengannya sehingga jarang mengobrol dengan dia, mencoba menanyakan soal tsb ke S. Dan benar saja, he solved it in no time!

Sejak saat itu, kami selalu belajar bareng S. Usut punya usut, ternyata S ini memang benar-benar pinteeerrr banget dalam bidang keilmuan kami. Kayaknya isi buku kalkulus, matematika teknik, dan pemrograman udah ditelen mentah-mentah sama dia, karena dia ini nggak hanya pandai dalam hal yang bisa dinalar dengan logika, namun juga dia hapal semua teorema, prinsip, dan rumus dalam matematika. Kebayang kan pinternya kayak gimana?

Hingga akhirnya tibalah musim panas pertama saya di Jepang. Ternyata, rasanya berat sekali belajar untuk persiapan ujian masuk di musim panas ini, yang suhu dan kelembapan rata-rata per harinya lebih tinggi daripada di Indonesia. Selain karena udaranya yang panas dan pengap, hawanya memang sangat hawa liburan, karena anak-anak sekolah libur selama 3 bulan. Sedangkan mahasiswa, meskipun tidak ada kuliah selama 3 bulan, lab dan kampus tetap buka 24 jam seperti biasa.

Walaupun berat, saya sendiri memang tipenya tidak tenang kalau tidak belajar setiap hari untuk ujian yang penting seperti ini. Namun lama kelamaan semangat F agak menurun untuk belajar karena musim panas ini memang susah banget buat bikin otak konsentrasi. Bawaannya pengen tidur-tiduran di depan kipas angin terus sambil makan es loli. Alhasil tinggal saya dan S yang lebih sering belajar bareng, atau lebih tepatnya, saya yang meminta S menemani saya belajar hampir setiap hari.

Kenapa saya bilang “lebih tepatnya S yang menemani saya belajar”, karena sebenernya S ini sudah tidak perlu belajar lagi menurut saya. Semua soal tahun-tahun sebelumnya bisa dia kerjakan dalam waktu singkat. Kalau ada yang sedikit susah, dia akan bilang, “Let me finish it and then I’ll tell you how to solve it,” dan biasanya soal-soal kayak gini pun dia selesaikan dalam waktu paling lama 1 jam, lalu dia akan mengajari saya.

Buat temen-temen yang jurusan kuliahnya IPA pasti sering kan mengerjakan soal yang harus ditulis cara mendapatkan jawabannya. Nah S ini pun sangat rapi dan runut dalam menuliskan jawaban dari soal-soal ujian ini, sehingga membuat saya mudah dalam memahami cara mengerjakannya. Kalau melihat S ini kayaknya dia bener-bener cocok jadi penulis buku teorema matematika, karena nggak cuma pinter, dia juga bisa mengajarkan orang lain sampai orang tersebut paham.

Singkat cerita waktu ujian pun tiba. Alhamdulillah saya lumayan bisa mengerjakan soal yang diberikan karena memang mirip sekali polanya dengan soal tahun-tahun sebelumnya. Setelah ujian, maka kami tinggal menunggu tahun ajaran baru pada bulan April tahun berikutnya.

Wah saya tidak menyangka ternyata sudah sepanjang ini tulisannya, cerita tentang S belum selesai. Insya Allah saya lanjutkan lagi di Part 2.2 ya ^^

Untuk post ini segini dulu. Semoga ada yang bisa temen-temen ambil dari cerita kali ini 🙂 Sampai ketemu di post selanjutnya! Semoga belum bosan ya!

Siapa yang Tidak Ingin Traveling Gratis?

Standard

Seharusnya postingan kali ini adalah melanjutkan cerita saya tentang stereotip di Jepang. Namun, saya ingin berbagi sedikit kesan saya setelah membaca sebuah buku karya penulis favorit saya, sekaligus salah seorang inspirasi yang bisa dibilang membentuk pribadi saya hingga seperti sekarang ini. Beliau adalah Kak Trinity.

Saya yakin pasti teman-teman pun sudah tahu siapa sosok Kak Trinity ini. Beliau adalah seorang travel blogger. Namun uniknya dari Kak Trinity adalah, di saat para travel blogger kebanyakan membahas dengan detail bagaimana ‘cara’ jalan-jalan di suatu tempat, Kak Trinity lebih sering membahas hal-hal lucu dan unik dari perjalanan yang pernah ia alami. Sebagai pembaca bukunya, kita serasa ikut mengalami hal-hal tersebut dan jadi ingin juga pergi ke tempat-tempat yang pernah beliau datangi.

Saya ingat pertama kali saya membaca “The Naked Traveler” (buku seri cerita perjalanan Kak Trinity) adalah pada saat saya kuliah. Saat itu saya menjadi benar-benar terinspirasi untuk bisa banyak jalan-jalan dan menuliskan perjalanan saya. Dan karena itulah blog ini lahir :’) Bisa dibilang, Kak Trinity dan karyanya memiliki kedekatan emosional dengan saya dan blog ini (ih ngaku-ngaku 😛 ).

Berkat Kak Trinity dan cerita-ceritanya, saat (kuliah) itu saya makin yakin bahwa saya harus melihat bumi Allah yang begitu luas ini lebih banyak lagi. Singkat cerita, saya yang memang bercita-cita ingin sekali melihat negara Jepang sejak kecil, jadi semakin mantap mengikuti seleksi beasiswa Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang, karena saya sadar saya tidak berasal dari keluarga berlebih, maka saya harus mencari cara agar bisa ke Jepang gratis tanpa memberatkan orang tua.

Baru-baru ini, Kak Trinity merilis sebuah buku terbaru berjudul “69 Cara Traveling Gratis”. Sebagai emak-emak yang sudah punya anak dan jadi lebih sering di rumah, sebenarnya hobi jalan-jalan saya tidak pernah padam ataupun menurun dibandingkan dengan saat masih single dulu. Saya tahu saya harus baca buku ini. Saya harus bisa jalan-jalan (gratis) lagi!

Buku kali ini agak berbeda style-nya dengan buku-buku Kak Trinity sebelumnya. Buku kali ini sengaja dibuat berilustrasi full-colour karena diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia sekarang untuk lebih cinta buku dan tentu saja lebih cinta traveling!

Nah, siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Ada sih, tapi anggap aja sebagian besar BANGET orang suka jalan-jalan ya (maksa), apalagi kalau gratis. Ya kan? Namun tentu saja, namanya manusia itu hidup, pasti punya tanggung jawab yang harus dilakukan sehari-hari, yang menyebabkan kita harus menunggu waktu cuti/libur untuk bisa traveling atau jalan-jalan (kecuali kalau kamu anak konglomerat yang Sabtu-Minggu aja mainnya ke Singapura ya). Lalu bagaimana supaya kita bisa jalan-jalan terus, dan terutama gratis?

Jawabannya mudah saja. Pilihlah profesi yang menyebabkan kamu bisa banyak jalan-jalan! Jika kamu bisa traveling karena tugas dari profesimu itu, maka kamu tidak perlu membayar (setidaknya sebagian) biaya yang normalnya kamu keluarkan untuk traveling pada umumnya. Profesi apa saja itu? Jawabannya ada di buku ini.

Sesuai judulnya, Kak Trinity (dan Kak Yasmin, partner-in-crime per-traveling-an Kak Trinity), menjabarkan berbagai profesi yang berpotensi untuk sering traveling. Dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu-lucu, buku ini sangat ringan dibaca, dan saya pun selesai membacanya hanya dalam beberapa jam saja (sambil diselingi mengasuh anak).

Alhamdulillah, saya pernah mengalami dari beberapa profesi yang disebutkan di buku ini. Dan tak dapat dipungkiri, waktu-waktu ketika saya menjalani profesi ini adalah waktu-waktu terbaik dalam hidup saya.

Pertama, beasiswa. Dengan kesempatan berkuliah dan tinggal di negara orang, saya jadi dapat kesempatan untuk mengeksplor negara tersebut selama beberapa tahun, sehingga sangat banyak tempat-tempat yang saya datangi, yang mungkin tidak bisa saya kunjungi jika saya hanya berlibur ke negara itu. Dan dengan tinggal di negaranya, saya juga merasakan menjadi bagian dari penduduk negara tersebut, yang secara tidak langsung, membuat saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai budaya dan kebiasaan.

Kedua, KKN, atau dalam kasus saya disebut KP (Kerja Praktek). Sebenarnya saya KP sengaja di kota kelahiran agar bisa tinggal di rumah. Saya KP di salah satu foreign oil & gas company di kota kelahiran saya, Balikpapan. Saat itu saya ditugaskan untuk memeriksa sebuah alat di salah satu tempat pengeboran minyak yang terletak di tengah laut. Maka saya pun berkesempatan naik chopper (helikopter) untuk menuju tempat tersebut dan menginap di sana selama 5 hari! Saat itu saya benar-benar wanita sendirian selama 5 hari di antara bapak-bapak dan mas-mas XD Akibatnya, saya mendapat perlakuan istimewa, dong. Dikasih tempat tidur di satu-satunya kamar di kilang minyak itu dengan kamar mandi pribadi (asalnya kamar ini milik pemimpin kilang, tapi bapaknya jadi ngalah sama saya selama saya menginap di sana). Pegawai biasa yang lain tidur di bunk bed di kamar berisi 3 bunk bed dengan kamar mandi luar bareng-bareng.

Walaupun ini disebut kilang minyak, namun jangan salah, fasilitasnya top notch, karena mereka juga sering kedatangan ekspat yang inspeksi ke kilang. Makan tiga kali sehari lengkap dengan pembuka, inti, dan penutup yang dibuatkan oleh chef beneran. Bisa pilih mau Indonesian style atau western style (demi mengantisipasi jika ada bule yang lagi datang dan tidak cocok dengan makanan Indonesia). Makannya pun bisa tambah sepuasnya, bisa request dibikinin telor berbagai macem. Uniknya, saat malam menjelang, kadang kamar saya terasa bergetar jika ombak sedang kencang. Hiii…

Ketiga, lomba. Sejak SD, SMP, dan SMA, saya sering dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat atau pun olimpiade bidang mata pelajaran Matematika dan Fisika. Akibatnya, saya pun beberapa kali dikirim keluar kota untuk mewakili sekolah saya. Bahkan saat SMP, saya pernah masuk TV lokal provinsi untuk mengikuti cerdas cermat tersebut. Salah satu puncaknya, saat SMP, saya mengikuti Olimpiade Sains Nasional dan alhamdulillah lolos dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dan mewakili provinsi saya di tingkat nasional tersebut. Saat itu puncak olimpiade dilaksanakan di Kota Pekanbaru, Riau. Saya yang tidak memiliki kerabat di Kota Pekanbaru, tidak pernah terpikir bisa ke sana, jika bukan karena lomba ini.

Keempat, nikah (bukan jadi simpanan orang kaya, lho ya). Karena suami saya berasal dari kota yang sangaaat jauh dari kota asal saya, saya jadi punya kesempatan berlibur di sekitar kota kelahiran suami, yaitu Ciamis. Salah satu tempat yang berkesan adalah Green Canyon, saat itu kami melakukan body rafting di sungainya. Jika biasanya rafting dengan naik boat, ini hanya badan kita berlapis pelampung telempar-lempar oleh arus sungai. Seru banget! Kalau tidak karena mengenal suami saya, mungkin saya nggak akan seniat ini buat jalan-jalan sampai ke Green Canyon.

Kelima, outing kantor, atau dalam kasus saya outing bersama teman-teman lab saat kuliah S2 di Jepang. Di lab kami ada sebuah tradisi setiap musim panas untuk menginap di penginapan ala Jepang untuk membahas riset sekaligus berlibur, dengan tujuan refreshing agar tidak terlalu mumet membahas riset di lab terus-menerus. Umumnya penginapan ini tidak terletak di kota-kota besar di Jepang, melainkan di kota kecil dan bahkan pedesaan. Jika bukan karena outing lab ini, saya mungkin tidak tahu kota ini ada. Alhamdulillah saya jadi pernah mengunjungi kota-kota non-touristy di Jepang, yang sebenarnya tak kalah indah dengan kota yang sering kamu dengar namanya.

Keenam, peneliti. Masih saat saya S2 di Jepang, sebagai mahasiswa S2, kami juga bagian dari peneliti di lab kami. Beberapa kali kami mengadakan konferensi kecil dan bertemu dengan peneliti dari universitas lain untuk saling bertukar ide dan pemikiran, juga menjalin koneksi.

Di luar keenam ‘profesi’ ini, sebenarnya masih ada lagi seperti kunjungan keluarga/berlibur bersama keluarga. Namun tentu saja teman-teman pernah mengalami ini juga, kan?

Setelah ditulis seperti ini, saya jadi bersyukur sekali akan rejeki jalan-jalan yang sudah Allah kasih ke saya hingga saat ini. Namun, selama masih ada umur, saya masih ingin terus berjalan-jalan dan mengalami berbagai hal unik yang tidak bisa saya dapatkan jika hanya berdiam di rumah saja. Dan dari membaca buku “69 Cara Traveling Gratis” ini, saya menjadi tersadar masih banyak cari lain yang belum pernah saya coba. Saya berjanji akan mencobanya juga mulai sekarang. Saya yakin berkeluarga dan memiliki anak tidak menjadi hambatan kan? Mohon doanya, ya!

Untuk teman-teman yang suka jalan-jalan juga, coba baca buku ini deh, siapa tau ternyata teman-teman juga sudah tanpa sadar mengalami yang dituliskan di buku ini. Kalau malas beli di toko buku, belinya online aja di www.bentangpustaka.com.

Untuk adik-adik yang masih di bawah SMA usianya dan pengen jalan-jalan gratis juga, yuk baca buku ini supaya kalian bisa dapat inspirasi profesi apa yang akan kalian pilih jika sudah dewasa nanti dan bisa mempersiapkannya dari sekarang sesuai bakat dan minat adik-adik, karena tidak pernah terlalu dini untuk merencanakan masa depan. Percayalah pada kakak! *atau ‘tante’ ya? 😦

******

Psst, siapa yang sudah baca buku ini selain saya? Nyadar nggak kalau urutan penulisan profesinya berdasarkan abjad? 🙂

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 1

Standard

Stereotype, atau dalam bahasa Indonesia disebut stereotip, menurut KBBI daring memiliki makna:

n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman berharga yang saya dapatkan berkaitan dengan stereotip ini. Pengalaman ini terjadi saat saya masih tinggal di Jepang, namun hikmahnya masih saya rasakan hingga sekarang.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 3 part, setiap partnya akan menceritakan seseorang yang saya kenal saat saya tinggal di Jepang, yang bantuannya tidak akan pernah saya lupakan.

Pertama kali saya tiba di Jepang untuk tinggal dalam waktu yang lama adalah pada tahun 2013. Bagi yang tidak mengikuti blog ini sejak dulu mungkin tidak tahu, jadi akan saya ceritakan sedikit penyebab saya tinggal di Jepang.

Alhamdulillah, saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho atau disingkat Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang keberangkatan tahun 2013. Cerita lengkapnya sudah saya tuliskan di blog ini, silakan bagi yang ingin membaca bisa klik tab ‘monbusho’ di blog saya ini.

Saat tinggal di Jepang inilah pertama kalinya saya akan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, mengingat kampus saya merupakan kampus negeri yang banyak menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar Jepang, sehingga menerima banyak sekali mahasiswa asing tiap tahunnya. Sebelum ini, saya hanyalah seorang pelajar biasa yang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang homogen. SD dan SMP saya di Balikpapan bersekolah di sekolah swasta yang siswa-siswanya berasal dari kalangan tertentu, saat SMA saya bersekolah asrama di madrasah aaliyah (otomatis teman-teman saya Muslim semua), dan saat S1 saya kuliah di kampus teknik (lagi-lagi bergaul dengan teman-teman yang memiliki keilmuan serupa). Sangat jarang saya bertemu dan berteman dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Mungkin nanti setelah teman-teman selesai membaca tulisan saya ini, teman-teman akan berpikir bahwa saya polos sekali, namun memang begitulah saya, terutama saat kedatangan saya pertama kalinya untuk tinggal di Jepang. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah belajar lebih banyak 🙂

Besar di lingkungan yang homogen membuat saya memiliki stereotip terhadap orang yang saya anggap ‘berbeda’ dari saya. Stereotip ini terjadi sebagai akibat dari hal-hal yang saya lihat, yang menyebabkan saya memiliki anggapan khusus terhadap kalangan tertentu. Sebagai contoh: orang Jepang disiplin dan tepat waktu, orang Amerika pasti berkulit putih, orang yang berwajah India pasti berasal dari negara India, orang Afrika pasti berkulit hitam, dan yang terakhir, inilah yang akan menjadi inti dari tulisan ini, orang berkulit hitam memiliki sifat kasar. Beberapa stereotip ini ada yang benar, namun ada juga yang tidak.

Saya yang dari kecil memperoleh hiburan dari film-film barat, sering sekali melihat orang berkulit hitam yang menjadi penjahat, pengkhianat dari suatu badan, polisi yang semena-mena, pokoknya orang berkulit hitam selalu menjadi antagonis di film-film tersebut. Dari sini saya melihat bahwa tak dapat dipungkiri, media memegang peran penting akan terbentuknya stereotip ini. Ditambah dengan pertama kalinya saya tinggal di LUAR NEGERI sendirian yang mengakibatkan saya menjadi ekstra hati-hati dalam bertindak, saya menjadi agak takut untuk bergaul dengan mereka yang berkulit hitam saat pertama saya bertemu dengan mereka.

Setibanya di Jepang, saya harus belajar Bahasa Jepang selama satu tahun, selama 5 hari dalam seminggu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, sebelum memulai pendidikan S2. Di kelas Bahasa Jepang, saya sekelas dengan teman-teman penerima beasiswa Monbusho dari negara lainnya. Mereka ada yang berasal dari Asia, Amerika latin, dan juga Afrika. Teman yang berasa dari Afrika ini ada lebih dari satu orang, dan mereka semua berkulit hitam.

Saat pertama kalinya saya bertemu dengan teman dari Afrika ini, saya sangat ingat saya berusaha untuk tidak berada di dekat mereka, karena saya sangat takut untuk bergaul dengan mereka. Hingga suatu ketika salah satu dari mereka menyapa saya terlebih dahulu. Oh ya, teman ini laki-laki, sebut saja J.

Dia menyapa dengan, “Salam ‘alaikum.” Saat itu saya terdiam sambil menoleh ke arahnya karena saya tidak menyangka akan disapa duluan. Lagipula saya juga bingung, mengapa dia menyapa saya dengan ucapan demikian, itu ‘kan hanya ucapan yang disampaikan kepada sesama Muslim. “Mengapa dia bisa tahu ucapan itu? Oh mungkin karena saya mengenakan hijab,” pikir saya waktu itu.

Karena terlalu kaget, I end up didn’t answer his greeting at all but only starred at him with blank face. Untungnya J ini tidak berubah menjadi menjauhi saya walaupun saya tidak menjawab salamnya. Dia malah bertanya, “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Bahkan saya tidak menanyakan balik dia dari negara mana saking sebegitu jaga jaraknya saya 😦

And then he said, “You are Muslim, right? You wear hijab. I am Muslim, too.” Dan saya langsung shocked. Ternyata dia Muslim juga walaupun berkulit hitam. Saya saat itu benar-benar tidak menyangka ada orang berkulit hitam yang Muslim. Saya benar-benar tidak tahu bahwa sebagian besar negara di Afrika utara berpenduduk mayoritas Muslim 😦 Maklum, terakhir belajar Geografi saat SMP, dan seingat saya waktu SMA tidak ada pelajaran yang membahas negara-negara di seluruh dunia 😦

Maka sejak dia menyapa saya terlebih dahulu itu, saya mulai membuka hati terhadap teman-teman berkulit hitam di kelas Bahasa Jepang saya lainnya. And turned out they are just as normal as we all are. Tidak ada satu pun yang kasar seperti yang saya lihat di film-film. Mereka juga ramah, bisa bergurau, belajar bareng, juga jalan-jalan bareng.

Karena saya selalu bersama teman-teman ini sebagian besar dalam waktu hidup saya selama satu tahun awal di Jepang, kami jadi benar-benar dekat seperti saudara. Karena kami juga satu asrama (tentu saja laki-laki dan perempuan dipisah, namun bersebalahan gedungnya), kami sering melakukan aktivitas bersama di luar waktu belajar. Dan pertemanan saya dengan J pun semakin normal, semakin seperti saya berteman dengan teman-teman di Indonesia saja. Dia (juga teman laki-laki lainnya) sopan kok terhadap perempuan, jadi saya tidak merasa takut diajak pergaulan yang aneh-aneh seperti yang saya lihat di film (lagi-lagi menyalahkan film 😀 ).

Singkat cerita, tibalah bulan Ramadhan pertama saya di Jepang. Alhamdulillah, terdapat satu masjid yang terletak cukup dekat dengan asrama saya. Kalau naik sepeda memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan standar, NAMUN harus melewati jalan yang sangat sepi dan pinggirnya terdapat hutan, sawah, dan lahan kosong. Kalau malam, hanya satu dua mobil saja yang melintasi jalanannya.

Sebagai informasi, karena Ramadhan tahun itu bertepatan dengan musim panas (yang mana siang lebih panjang daripada malam), waktu maghrib jatuh pada sekitar pukul 7 malam, isya pukul setengah 9 malam, dan subuh pukul setengah 3 pagi. Tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan menghabiskan bacaan 1 juz Al Qur’an setiap harinya. Oleh sebab itu, karena isya baru pukul setengah 9 malam, shalat tarawih selalu selesai pukul setengah 11, naik sepeda 30 menit, sampai rumah pukul 11 malam. Maka, saya selalu ke masjid beramai-ramai dengan teman Indonesia lainnya (mengingat jalanannya yang sepi seperti yang tadi sudah saya sebutkan dan waktu yang sangat larut). Dan kalau berencana sahur, maka harus bangun jam 2 pagi. Beginilah jadwal saya setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Di masjid ini terdapat kebiasaan di bulan Ramadhan yang hingga kini saya rindukan (selain tentu saja agenda shalat tarawih), yaitu adanya jadwal buka puasa bersama pada hari-hari tertentu, dan yang menyiapkan bergantian setiap negara/komunitas. Misal hari ini komunitas Arab menyiapkan buka puasa, kemudian 3 hari lagi komunitas Pakistan, lalu 3 hari lagi komunitas Mesir, dan tentu saja ada komunitas Indonesia, dan masih banyak negara lainnya.

Suatu hari, saya sedang ‘berhalangan’ (biasalah wanita), padahal hari itu ada jadwal buka puasa dari komunitas negara lain. Biasanya saat ada jadwal buka puasa bersama ini, makanan di masjid selalu berlebih dan tidak habis sehingga sering dibawa pulang oleh peserta tarawih. Saya sih senang saja makanannya jadi bisa dimakan untuk sahur lagi. Bahkan saking banyaknya, kadang dimakan sahur pun masih tidak habis.

Awalnya saya mau tetap ke masjid bersama dengan teman Indonesia lainnya, tapi tiba-tiba saya galau karena merasa tidak enak mengambil makanan gratis padahal tidak berpuasa, jadi saya batalkan janji saya dengan teman Indonesia tersebut, sehingga teman tersebut berangkat ke masjid duluan naik sepeda. Setelah teman saya pergi, saya masih di luar asrama dengan sepeda, muncul-lah J ini dari asrama laki-laki, dan sepertinya dia mau berangkat ke masjid.

Seperti biasa dia menyapa duluan, “Salam’alaikum, Nadine, are you going to the masjid?” Duh saya bingung harus jawab apa, kalau tidak ke masjid, saya terpaksa harus bilang alasan saya, padahal malu banget bilang lagi ‘berhalangan’ ke temen cowok gitu. Kalau saya bilang mau ke masjid, pasti dia ngajak bareng naik sepeda. Akhirnya saya pun jujur saja, “No, I’m not going to the masjid today.” Terus dia nanya lagi, “Why? There’s ifthar schedule today. It’s such a waste if you didn’t come.”

Karena dia bertanya dan saya juga tidak punya alasan lain, akhirnya saya jujur saja ke dia, “Actually I’m not fasting today. You know..that woman thing..” Dan untungnya dia langsung paham. “Ah I see. But it’s okay if you just come to get the food. There are so many leftovers everyday,” said him. Yaa bener juga sih, daripada makanannya terbuang percuma, mendingan saya bantu menghabiskan. Tapi saya tetap bingung bagaimana pulangnya, karena saya takut naik sepeda malam-malam melewati jalanan sepi tersebut.

Saya pun bilang lagi, “But I’m not doing tarawih prayer. I can’t go home alone after dinner since it would be too late and the road is kinda creepy,” ‘Late’ di sini maksudnya ‘sudah larut malam’. Jadi saya bilang ke dia, bagaimana saya bisa pulang habis makan malam, kan sudah malem banget padahal harus melewati jalanan sepi, gitu..

Lalu dia bilang lagi, “It’s ok. Just message me when you want to go home, I’ll go with you,” What??? Jadi dia menawarkan untuk mengantar saya pulang 😥

Ya sudahlah since he insisted (dan karena saya juga lapar 😀 ) saya terima saja ajakan dia ke masjid. Sepanjang perjalanan ke masjid seingat saya kami tidak mengobrol terlalu banyak. Sesampainya di masjid, dia masuk ke ruangan untuk laki-laki, dan saya masuk ke ruangan untuk perempuan.

Oh ya, jangan bayangkan masjid ini berbentuk masjid seperti di Indonesia yang berbentuk lantai luas dengan barisan laki-laki di depan barisan perempuan serta langit-langitnya tinggi ada kubahnya. Masjid kami tidak seperti Masjid Camii di Tokyo, atau Masjid Kobe yang berbentuk layaknya masjid di Indonesia. Masjid kami ini hanyalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa ruangan. Jadi ada ruangan yang dipakai oleh jamaah laki-laki dan ada yang untuk jamaah perempuan.

Singkat cerita, tibalah waktu ifthar, lalu shalat maghrib (saya melipir di pojokan karena tidak shalat), lalu makan malam. Setelah makan malam saya pun mengirim pesan melalui Line ke J, “J, I’m finished. I think I want to go home now.” Tadinya saya tidak berekspektasi di akan membalas. Mungkin dia sudah sibuk ngobrol dengan jamaah laki-laki lainnya jadi tidak akan sering-sering mengecek hpnya. Eh, tidak disangka dia langsung membalas, “Okay, let’s meet outside.”

Kami pun bertemu di luar masjid lalu naik sepeda menuju asrama. Sepanjang perjalanan pulang dia bersepeda dengan jarak sekitar 2 meter di belakang saya dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, which I really appreciate. Biar bagaimana pun juga dia bukan muhrim, tapi saya takut juga kalau pulang sendirian, dan sepertinya dia juga paham hal ini :’)

Begitu kami sudah sampai di jalanan yang agak ramai, saya bilang ke dia,”I think you can leave me here,” soalnya saya nggak enak juga sama dia yang masih harus balik ke masjid untuk shalat tarawih. Dia bertanya, “is it really okay?” “Yeah, it’s okay. And thank you so much,” jawab saya. Kami pun berpamitan dan dia bersepeda balik ke arah masjid.

Hingga saat ini this one particular episode masih sangat teringat jelas di ingatan saya, karena saya merasa mendapat bantuan yang tidak disangka-sangka and even from the least likely person, ditambah bahkan saya pernah su’udzon duluan ke dia 😥 Kalau dipikir-pikir, sampai saya meninggalkan Jepang, saya belum pernah benar-benar membalas perbuatan baiknya. Hhh.. I should’ve treated him better.. Well, I just pray that Allah will repay his good deeds.. Aamiin..

Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini hingga selesai 🙂 Sampai jupa di part 2 yang insya Allah nggak kalah seru ceritanya. Di part 2 teman-teman akan tahu the real struggle of studying in Japan. Kehidupan di Jepang itu tidak melulu seindah pepohonan yang menguning di kala musim gugur, seputih salju di musim dingin, apalagi secerah matahari yang jatuh di antara ranting bunga sakura di musim semi.

Eeaa..

PS: Sekadar informasi, tahun 2015, J sudah menikah dan saat ini telah memiliki seorang anak.

Sorry

Standard

I feel so sorry that I left this blog for quite a long time. I didn’t even finish the 30-day writing challenge I promise myself to finish. Ini semua bermula sejak saya pindah ke kota baru, di mana saya harus mengurus rumah dan anak saya sendirian tanpa ada yang membantu sama sekali. Alhasil, saya tidak bisa menemukan waktu untuk menulis (atau memang niat saya kurang kuat saja). Saat anak tidur dan rumah sudah selesai diurus, saya lebih sering merasa kelelahan dan akhirnya ikut tidur juga.

Things have become better by now. I finally found my regular schedule as my son grows up. That’s why I want to go back here. I still have a lot of drafts I haven’t finished yet 😦 And also many things I want to write that I hope can be useful for ones who read them.

Would you let me start all over again? 😥