Day 11: What If…

Standard

Udah hari ke-11, saya makin bingung harus mengawali setiap postingan dengan kalimat apa 😀 Tapi alhamdulillah, nggak nyangka, ternyata saya masih semangat menulis hingga hari ke-11 ini 🙂 yay!

Tema hari ini adalah, “sesuatu yang kita selalu merasa “kalau aja…”” Hmm..sejujurnya, banyaakkk banget yg saya kepikiran “kalau aja” ini >< Duh, emang ya manusia, selalu aja ga puas sama apa yg dimiliki, selalu aja rumput tetangga kelihatan lebih hijau 😦 Saya sadar sih kita seharusnya nggak boleh seperti ini. Rasulullah sendiri melarang umatnya untuk berandai-andai bukan?

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Jadi selama ini sih, meskipun ada selentingan perasaan ”kalau aja” di hati saya, saya selalu berusaha menyingkirkannya. Karena saya juga merasa, kita sebagai manusia tidak pernah tahu yg mana yg terbaik untuk kita. Segala yg terjadi di hidup kita, sudah pasti atas takdir Allah semata.

Jadiiii…supaya postingan ini nggak tersia-sia, saya mau ngebalik deh konotasi “kalau aja”-nya 😀 Bukan “kalau aja saya begini”, tapi “kalau aja saya nggak begini”, kayaknya akan lebih menimbulkan semangat positif ya 🙂 Mudah-mudahan… 🙂

Yang pertama, kalau aja saya nggak sekolah SMA di MAN Insan Cendekia Serpong (IC), kayaknya saya nggak akan tahu gimana saya bisa mewujudkan impian saya buat melihat salju, karena kalau saya nggak sekolah di IC, saya mungkin ga akan tahu informasi beasiswa sekolah di luar negeri.

Yang kedua, kalau aja saya nggak kuliah di ITB, saya mungkin juga ga akan bisa bener-bener sampai ke Jepang, karena dengan saya berkuliah di ITB, saya jd bisa les bahasa Jepang di BLCI yg notabenenya deket kampus, jadi ketemu sama temen-temen yg juga tertarik buat ke Jepang, jd punya pengalaman nge-guide mahasiswa Jepang, dan lain sebagainya. Dan kalau saya nggak kuliah di ITB, saya juga ga akan ketemu sama suami saya ><

Yang ketiga, kalau aja saya nggak ke Jepang, saya mungkin ga akan pernah nyadar bahwa bumi Allah itu luaass banget >< Saya mungkin ga akan ketemu temen-temen luar biasa yg banyak menginspirasi. Saya mungkin nggak akan ketemu temen-temen Monbusho yg foreigner, yg walaupun bukan Muslim tapi sangat sangat menghormati keterbatasan saya sebagai seorang Muslim :’) Wah, kalau saya disuruh ngelist hal-hal yg saya syukuri dengan rejeki Allah mencicipi Jepang kemarin, kayaknya akan butuh postingan tersendiri :’)

Untuk saat ini, saya mau mensyukuri dulu kembalinya saya ke Indonesia. Walaupun culture shock (sebagian besar temen saya yg kembali dari Jepang ke Indonesia rata-rata merasakan yg sama 😛 ), tapi di mana pun sama-sama di bumi Allah kan? Yang penting, apa pun aktivitas kita, dapat memberikan keberkahan bagi diri sendiri maupun sekitar. Lagipula, walaupun Indonesia ini semrawut, kalau dibandingkan dengan negara konflik, masih jauh lebih mending kan? Kita masih bisa tidur tanpa ketakutan akan melihat matahari lagi nggak besok 😥

Baiklaahh..demikian kontemplasi hari ini. Sampai ketemu di postingan hari berikutnya :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s