Krisis Identitas

Standard

Teman-teman yang budiman,

Sebelum saya melanjutkan tulisan dari 30 day writing challenge, saya mau cerita tentang suatu hal yang akhir-akhir ini menjadi pikiran saya. Nggak kepikiran sampe stres juga sih, cuma kalo nulis blog, saya selalu kepikiran hal ini. Dan saya juga nggak pengen ada dua tulisan dalam 1 hari, jadi writing challenge nya saya sambung besok ya.

Ceritanya, saya merasa lagi krisis identitas. Hubungannya sama blog ini apa? Hehe, saya merasa, blog ini terlalu nano-nano dari segi penulisannya. Kadang saya nulis pake bahasa Inggris, kadang bahasa Indonesia. Kalopun nulis pakai bahasa Indonesia, kadang pakai bahasa Indonesia baku, kadang nggak.

Saya sejujurnya pengen membuat blog ini lebih mengerucut dari segi tema maupun penulisan. Supaya lebih mudah juga merutinkan nulis blognya, dan enak juga bagi yang membaca, kayak blognya Trinity, atau temen saya blogger kelas kakap Adam. Kalo pake bahasa Indonesia, pastinya lebih mudah dibaca bagi sebagian besar teman-teman saya. Tapi kadang saya ngerasa ada istilah yg lebih tersampaikan dengan bahasa Inggris. Tapi saya juga nggak mau dalam 1 postingan ada bahasa yg nyampur2 gitu. Karena saya menghargai both bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan tingkat penghargaan yg sama (nah loh udah nyampur2 lagi kan nulisnya).

Terus yg bikin bingung lagi, kalo bahasa Inggris, harusnya saya nulis dalam British English atau American English? Sebenernya kita orang Indonesia ini belajarnya British atau American English sih? Perasaan saya  sih emang American English, soalnya kita nulis beberapa kata sesuai kamus American English, seperti “cozy” bukan “cosy”, “color” bukan “colour”, dst. Tapi eh tapi, banyak banget kata2 bahasa Indonesia yg diserap dari British English, kayak huruf “z” kan dalam bahasa Indonesia kita baca “zet”, sama kayak orang Inggris, sementara orang Amerika kan bacanya “zee”. Trus “lift” yg ada di mall itu kan kita nyebutnya “lift”, bukan “elevator” (orang Inggris nyebutnya “lift”, orang Amerika nyebutnya “elevator”).

Akhirnya, saya mencoba merenungkan (caelaaa) permasalahan ini. Kalo postingan saya ga relevan untuk pembaca internasional, saya tulis dalam bahasa Indonesia. Tapi kalo sekiranya tulisan saya bisa bermanfaat for broader community (halah udah nyampur lagi), mungkin akan saya tulis dalam bahasa Inggris. Ini juga masih “mungkin” lho ya, soalnya saya juga ga bisa nulis bahasa Inggris effortlessly kayak Sasky >< Tapi saya selalu seneng ketika ada orang dari negara lain yg komen di blog saya. Seperti di kanal youtube saya. Karena saya konsisten memberi subtitle dan description dalam bahasa Inggris, saya jadi dapat banyak teman dari berbagai belahan dunia.

Minta sarannya dong temen-temen blogger semua🙂 Kalo temen-temen gimana nulis blognya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s