Monthly Archives: May 2014

Fujikyu Highland

Standard

Setelah sibuk membereskan apato hingga layak huni, sekarang saatnya jalan-jalan lagi menikmati sisa Spring Recess yang tinggal kurang dari seminggu ๐Ÿ˜ฆ Karena kami sama-sama menyukai amusement park, sementara Disney Resort sudah pernah kami kunjungi, maka kali ini tempat yang kami pilih adalah Fujikyu Highland.

Honeymoon Part 2 – 3 April 2014

Bagi penyuka amusement park, saya yakin Fujikyu Highland akan memberikan pengalaman berbeda dari amusement park lainnya ๐Ÿ™‚

Dalam bahasa Jepang, Fujikyu ditulis sebagai ๅฏŒๅฃซๆ€ฅ (ๅฏŒๅฃซdibaca fuji dan ๆ€ฅ dibaca kyuu). Sesuai namanya, amusement park ini terletak dekat dengan Gunung Fuji. Jika cuaca cerah, kita dapat bermain-main di sini sekaligus menikmati pemandangan Gunung Fuji di latar belakangnya. Indah sekali ๐Ÿ™‚ Kemudian kanji ๆ€ฅ berarti fast atau cepat, dan inilah yang menjadi daya tarik utama park ini. Fujikyu menawarkan wahana-wahana ekstrim yang memiliki kecepatan lebih (maupun tingkat ke-ekstrim-an lainnya) daripada wahana yang pernah ada di park-park lain.

Akses : Dari stasiun Shinjuku, naik Highway Bus dari west exit. Tiket dapat dipesan secara online di website ini http://www.fujiq.jp/en/qpack/. Dapat juga dibeli langsung di counter Highway Bus tersebut yang ada di west exit juga.

Tiket : Untuk masuk ke Fujikyu Highland, kita dapat membeli tiket terusan maupun tidak. Harga tiket terusan untuk dewasa 5200 yen, dengan tiket ini kita bisa masuk wahana apa pun sepuasnya. Harga tiket tidak terusan untuk dewasa 1400 yen. Dengan tiket ini, kita hanya membayar masuknya saja, nanti untuk main di wahana-wahananya, akan ada harga yang berbeda dari masing-masing wahana.

Terdapat juga tiket Q-Pack, yaitu tiket masuk terusan plus Highway Bus round trip. Waktu saya ke sana, harga tiket ini satu orang 7000 yen. Sekarang saat saya cek di website di atas, harganya menjadi 7300 yen. Mungkin memang sudah naik disebabkan naiknya pajak di Jepang yang mempengaruhi harga semua barang.

IMG_4007

Ya, bisa dilihat di foto di atas, sewaktu kami ke sini, cuaca sedang hujan ๐Ÿ˜ฆ Namun karena sisa waktu suami saya di sini tinggal sampai tanggal 8 dan hari-hari setelah ini jadwal kami sudah padat lagi, kami pun memutuskan tetap pergi. Alhamdulillah karena hujan, tidak terlalu banyak yang datang hari ini ๐Ÿ˜€

Kembali ke wahana-wahana Fujikyu. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Fujikyu menawarkan wahana-wahana ekstrim, beberapa yang terkenal yaitu

IMG_4083

Takabisha, roller coaster with “the steepest drop in the world at 121ยฐ

Fujiyama, the "KING OF COASTERS"

Fujiyama, the “KING OF COASTERS”

“Eejanaika” yang disebut sebagai 4th dimension roller coaster karena selain mengikuti rel roller coasternya, kursi kita juga akan diputar-putar +_+ Dan masih banyak lagi silakan cek di sini http://www.fujiq.jp/en/attraction/ ๐Ÿ˜€

Ketika kami sampai di sini sekitar pukul 10.00, hujan masih agak lebat, akibatnya wahana-wahana ekstrim ini tidak ada yang dibuka. Saat hendak menukarkan tiket yang dibeli di Shunjuku West Exit dengan tiket yang ada barcode-nya di sini, petugasnya bertanya, apakah mau tetap menukarkan tiketnya meskipun hujan. Ternyata tiket ini masih berlaku hingga seminggu ke depan. Jadi jika kami berubah pikiran, kami masih masih bisa kembali lagi di hari lain saat cuaca cerah. Namun karena keterbatasan waktu kami, kami tetap menukarkan tiket pada hari ini.

Alhamdulillah, masih banyak wahana-wahana lain yang dapat dinikmati meskipun hujan, yaitu wahana indoor dan wahana outdoor yang tidak terlalu ekstrim.

Wahana pertama yang kami masuki yaitu Evangelion. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang wahana, secara isinya hanya semacam museum figur-figur dari anime Evangelion. Jika kamu mengikuti anime ini, worth it banget masuk sini karena banyak spot-spot foto yang nampak seperti real.

Dari dulu pengen jadi pemain piano tapi ga kesampean :D

Dari dulu pengen jadi pemain piano tapi ga kesampean ๐Ÿ˜€

Wahana kedua adalah Ultimate Fort. Di wahana ini, ceritanya kita terjebak di suatu penjara, dan kita harus memecahkan kode-kode yang ada untuk dapat kabur dari penjara tersebut. Suami saya yang awalnya semangat sekali masuk wahana ini, karena telah membaca ulasannya di internet bahwa ini bukan bohong-bohongan. Saya sendiri awalnya tidak terlalu percaya bahwa akan sulit teka-tekinya.

Selama mengantre, terdapat beberapa monitor yang menjelaskan stage-stage yang harus dilalui dalam wahana ini. Total ada 4 stage. Masing-masing stage ada batas waktunya, jadi jika kita tidak berhasil memecahkan teka-teki di satu stage, kita tidak dapat melanjutkan ke stage berikutnya. Di monitor ini, ditampilkan gambaran umum stage 1 sampai stage 3, sedangkan stage 4 “is a mistery world” katanya, kita tidak diberi tahu apa yang akan kita hadapi di stage 4.

Di stage 1, kita diberi kartu seperti ini.

photo

Kartu ini harus kita masukkan ke slot tersembunyi seperti di mesin ATM. Nanti di kartu tersebut akan di-print gambar-gambar tertentu pada baris pertama. Kemudian kita harus mencari slot lain dan kita harus mendapatkan gambar yang sama persis di kolom yang sama. Jika kita memasukkan ke mesin yang salah, gambar kita akan dicoret, yang artinya kita harus mengulang mencari lagi sampai benar-benar ketemu 3 buah gambar yang sama persis dengan gambar di baris 1.

Dan ternyata tidak mudah sama sekali mencari slot ini! Banyak slot-slot jebakan, dan tentu saja jika salah, harus mengulang lagi >_< Hasilnya bisa ditebak, saya dan suami tidak dapat menyelesaikan misi ini dalam batas waktu yang ditentukan. Bisa dilihat bahwa kami tidak berhasil mendapat gambar “map”, dan gambar “lilin” serta “baju” yang sudah kami dapatkan dengan benar juga ikut disilang. Kami dan (ternyata) semua pengunjung lain pun gagal di stage 1 >_<

Sekeluarnya dari wahana ini, kami pun penasaran, lalu iseng mencari ulasannya di internet. Siapa tahu ada yang pernah berhasil dan menuliskan kunci jawabannya atau trik-triknya ๐Ÿ˜€ Dan ternyata saudara-saudara,ย  sejauh ini baru 2 orang yang berhasil sampai stage 4 dan lolos dari “penjara” (menurut website ini http://kitsuneverse.blogspot.jp/2013/08/japancan-you-escape-ultimate-fort.html), dan itu pun setelah mencoba ribuan kali. Oke, jadi memang wahana ini tidak main-main, dan wajib dicoba buat kamu yang suka dengan teka-teki ๐Ÿ˜€ Dan tebak apa, karena penasaran, kami pun masuk ke wahana ini sekali lagi dengan membawa kartu yang sudah kita gunakan di percobaan pertama, untuk dicoba lagi dimasukkan ke slot-slot lain. Tapi kami pun masih gagal di percobaan kedua ini ๐Ÿ˜›

Wahana lain yang kami naiki antara lain Tondemina, dan Nagashimasuka yang basah banget jadi kalau tidak mau basah-basahan, jangan ke wahana ini di awal. Dalam kasus kami, karena kami sudah basah karena hujan, jadi tidak terlalu berpengaruh ๐Ÿ˜€

Satu lagi wahana yang ingin saya ulas adalah “Super Scary Labyrint of Fear”. Lagi-lagi suami saya duluan yang sudah membaca ulasannya di internet, yaitu bahwa wahana ini pernah didatangi oleh personel JKT48, dan sekeluarnya dari wahana ini, mereka pada nangis ๐Ÿ˜€ Wow, sepertinya memang benar-benar seram ya. Sayang sekali, kami tidak sempat mencoba wahana ini karena wahana ini memiliki batas waktu. Wahana ini hanya dibuka hingga pukul 16.30 dan saat kami mendatangi wahana ini sudah pukul 16.45 sehingga sudah ditutup ๐Ÿ˜ฆ Gedung wahana ini didesain seperti bangunan rumah sakit lama yang sudah bobrok, lengkap dengan burung gagak bohong-bohongan khas cerita-cerita horor.

IMG_4053

*****

Saya sangat merekomendasikan amusement park ini bagi kamu yang suka wahana-wahana menantang yang menguji adrenalin. Tapi, untuk yang ingin jalan-jalan dengan membawa anak kecil, rasanya kurang worth it kalau jauh-jauh ke sini, karena meskipun memang ada wahana yang diperuntukkan bagi anak-anak, wahana tersebut sangat standar dan bisa ditemukan di amusement park mana pun di tengah kota (tidak perlu jauh-jauh ke Gunung Fuji). Restoran dan toko souvenirnya pun biasa banget karena amusement park ini tidak memiliki tokoh yang iconic seperti layaknya Disneyland. Akhir kata, wahana favorit saya dan suami adalah “Ultimate Fort”. Bahkan kami berencana ke sini lagi suatu saat nanti untuk mencobanya lagi ๐Ÿ˜€

Advertisements

Pindahan Rumah

Standard

Halo!

Kali ini saya ingin membagikan cerita mengenai proses pindahan saya dari asrama kampus ke apartemen (atau apato dalam bahasa Jepang). Semoga bisa memberikan gambaran bagi penduduk baru di Jepang mengenai tahap-tahap pindahan maupun mencari apato yang tepat dan hemat ๐Ÿ˜€

Honeymoon Part 2 – 28 Maret sampai 2 April 2014

Kunjungan suami saya kali ini memang tujuan utamanya adalah membantu saya pindahan ๐Ÿ˜€ Soalnya saya nggak mau ngangkat-ngangkat barang saya yang banyak ini sendiri *manja* dan merasa agak kurang nyaman juga kalau merepotkan bapak-bapak atau mas-mas di sini ๐Ÿ˜€ Jadi lebih baik merepotkan “mas” sendiri ๐Ÿ˜›

Asrama saya sekarang ini memang cuma boleh saya tempati selama setahun, terhitung mulai 2 April 2013-31 Maret 2014. Karena itu saya terpaksa harus mencari tempat tinggal lain selepas bulan Maret kemarin. Pilihannya adalah pindah ke asrama kampus dengan tipe berbeda atau ke apato.

Memilih Antara Asrama atau Apato

Sebenarnya terdapat berbagai tipe asrama yang disediakan oleh kampus saya, seperti asrama family, asrama couple, dll. Namun yang paling mungkin saya tempati sebagai seorang singel lokal adalah asrama bertipe single ๐Ÿ˜€ Jika ingin tinggal di asrama family, tentu harus ada visa dependen dari family yang ikut tinggal bersama kita. Karena suami saya tidak tinggal di sini, saya tidak dapat apply asrama tipe ini. Asrama bertipe single sendiri ada dua jenis. Mari kita bahas secara singkat satu per satu.

Asrama tipe single yang pertama. Kamar berukuran 2×4 meter persegi, dilengkapi tempat tidur, meja belajar, kursi, dan wastafel. Tidak ada kamar mandi dan dapur dalam. Toilet luar sharing bertipe western (yang duduk, bukan jongkok tipe Jepang), hanya dilengkapi tissue pembersih. Shower bertipe koin. Maksudnya adalah, untuk dapat mandi, kita harus memasukkan koin 100 yen ke slot yang tersedia, dan air pun akan keluar selama 9 menit. Mesin cuci dan pengering baju juga bertipe koin. Dapur sharing. Biaya sewa per bulan sekitar 14000 yen. Murah bukan? ๐Ÿ˜€

Yang membuat saya tidak cenderung tinggal di sini adalah, saya tidak bisa sharing toilet >_< Saya adalah orang yang sangat parno terhadap kebersihan. Jadi saya tidak mungkin duduk di toilet yang bekas diduduki orang lain membuang hajat. Dan saya ini juga sangat Indonesia sekali yang setiap habis buang air harus membersihkan dengan air dulu baru dengan tissue. Jadi, mengingat urusan buang-membuang ini merupakan salah satu syarat kenyamanan hidup saya, saya mengeliminasi asrama ini dari pilihan.

Asrama tipe single yang kedua. Saya kurang paham ukurannya, namun kamar ini sudah lengkap dengan dapur, toilet, dan shower di dalamnya. Disediakan juga kasur, meja belajar, kursi, sebuah lemari, dan AC! Mesin cuci dan pengering baju sama dengan sebelumnya yaitu bertipe koin. Biaya sewa per bulannya kurang lebih 30000 yen.

Sebenarnya asrama ini sudah memenuhi kualifikasi kenyamanan hidup saya. Namun apa daya, asrama yang bagus memenuhi standar kenyamanan di sini hanya boleh ditempati selama setahun, sama dengan asrama yang saya tempati selama setahun kemarin. Padahal saya masih di sini insya Allah dua tahun lagi. Artinya jika saya pindah ke sini, tahun depan saya harus pidah lagi. Oh no… ๐Ÿ˜ฆ

Baiklah dengan ini disimpulkan, saya tidak dapat pindah ke pilihan asrama mana pun yang disediakan kampus saya. Maka sudah saatnya lah saya berburu apato.

Memilih Apato

Saya sudah harus pindah pada akhir bulan Maret, maka mulai bulan Januari saya mulai bertanya-tanya pada rekan-rekan di sini yang tinggal di apato untuk membanding-bandingkan antara apato yang satu dengan yang lain. Saya pribadi memiliki requirement: ada AC, kamar mandi dalam dan dapur, kamar mandinya digabung antara toilet dan shower, dekat dengan bus stop, dengan kisaran biaya sewa per bulan di bawah 30.000 yen. Alhamdulilah, di Tsukuba memang kisaran biaya apatonya mulai dari 20.000 yen pun ada, jadi tidak susah mencari yang biayanya di bawah 30.000 yen.

Apato pertama yang saya survei memiliki semua kualifikasi di atas, dengan harga 20.000, namun ternyata tidak memiliki balkon untuk menjemur pakaian, ukurannya pun juga sangaatt kecil. Ya wajar memang dengan harga segitu ๐Ÿ˜€ Maka apato ini pun dieliminasi.

Apato kedua memiliki semua kualifikasi di atas, dengan biaya sewa 30.000 belum termasuk internet. Ukuran kamar jauh lebih besar dari apato pertama, cukup lah buat sendirian. Maka apato ini di-keep dulu ๐Ÿ˜€

Apato ketiga merupakan apato yang sudah ditinggali salah satu teman di sini. Apato ini juga memenuhi kualifikasi di atas dengan harga 27.000, ada balkon dan ada mesin cuci koin, jadi saya tidak perlu mencari mesin cuci lagi. Dan lagi, harga 27.000 ini sudah termasuk internet dan air. Ukuran kamar memang lebih kecil dari apato kedua. Namun dengan mempertimbangkan harga dan semua fasilitas yang disediakan, akhirnya saya memilih apato ini ๐Ÿ™‚

Teken Kontrak

Ternyata tidak sulit untuk teken kontrak dengan apato di Jepang. Salah satu yang menjadi kekhawatiran tentu saja uang pangkalnya ๐Ÿ˜ฆ Memang uang pangkal untuk sewa apato di Jepang ini sangatlah mahal. Jangan dirupiahin kalau nggak mau sakit hati ๐Ÿ˜ฆ Namun Alhamdulillah karena saat teken kontrak saya bersama teman yang jago bahasa Jepang dan teman yang sudah duluan tinggal di apato ini, saya jadi bisa menawar uang pangkalnya hingga lebih murah sampai 30.000 yen >_<

Secara umum tidak ada hal khusus yang harus disiapkan. Saya hanya diminta surat guarantor dari kampus yang harus ditandatangi profesor saya. Surat ini bertujuan sebagai penjamin agar kita tidak mangkir dari membayar apato ๐Ÿ˜€ Selebihanya saya hanya mengisi form-form yang dijelaskan oleh agen apatonya. Nah dalam proses teken kontrak dan penjelasan-penjelasan ini saya memang ditemani oleh teman yang jago bahasa Jepangnya. Saya tidak tahu apakah mereka akan berusaha menjelaskan dengan bahasa Inggris jika kita tidak bisa bahasa Jepang. Namun kalau saran saya. lebih baik bersama teman yang jago bahasa Jepang supaya tidak ada yang miskom dan kita benar-benar detail akan hal-hal yang wajib kita bayar apa, yang tidak wajib yang mana supaya dapat dieliminasi.

Pindahan!!

Pindahan adalah hal yang paling mendokusai menurut saya, karena kita harus mengepak barang-barang dengan rapi agar mudah dibawa, dan kemudian mengeluarkanya dan menatanya lagi dengan rapi -.-”

Sebenarnya saya punya suatu sifat, saya ga tahu ini positif atau negatif, yaitu terlalu attached dengan lingkungan where I used to be. Akibatnya saya jadi mellow harus meninggalkan kamar yang sudah menjadi tempat saya bernaung selama setahun ke belakang. Saking susahnya move on, saya jadi menunda-nunda packing sampai suami saya datang ๐Ÿ˜€

Berkat bantuan suami, berhasil juga saya membereskan semua barang-barang yang ada di dorm saya, kemudian mengangkutnya ke apato baru saya. Untuk mengangkutnya ini, saya meminjam mobil masjid dan disupiri oleh salah seorang rekan di sini yang punya SIM Jepang.

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi :P

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi ๐Ÿ˜›

Ga kebayang pindahan tanpa orang satu ini >_< Makasih udah bantuin ngepakin barang, angkut-angkutin ke mobil lagi hujan-hujanan, ngeluarin lagi dari mobil dan masukin ke kamar, dan udah bantuin ngedesain dan menata kamar juga :)ใŠ็–ฒใ‚Œๆง˜ใงใ—ใŸ!!