Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 1)

Standard

Beberapa minggu lalu, seperti biasa saya mengikuti pengajian pekanan muslimah yg pesertanya adalah mbak-mbak dan ibu-ibu yang tinggal di sini. Pengajian ini selalu diadakan setiap hari jumat malam mulai pukul 19.00 waktu Jepang. Setelah makan malam, acara dilajutkan dengan peserta masing-masing tilawah setengah halaman, kemudian masuk ke acara utama yaitu materi atau kultum yg diberikan bergantian oleh semua peserta tiap minggunya. Kali itu materinya adalah tentang “Merancang Mimpi”.

Mungkin sebenarnya terdengar klise dan kita pun sudah sering mendapatkan materi ini di pengajian atau acara motivasi lainnya. Apalagi di masa-masa setelah lulus kuliah, pasti banyak di antara kita yang sudah mulai merancang masa depan kita, dan mungkin banyak juga yang sudah rutin menuliskan goal-goal per-tahunnya setiap tahun baru. Namun Alhamdulillah ada hal baru yang saya dapat dari materi ini.

Jadi lebih tepatnya, judul dari materi ini adalah “Writing SMART Goals”. SMART sendiri merupakan singkatan dari

Specific : Tujuan harus dengan jelas mendefinisikan apa yang akan kita lakukan. Apa mimpi atau rencana kita, mengapa, dan bagaimana kita mencapainya.

Measurable : Tujuan harus terukur jadi kita dapat melihat ketercapaiannya. Misal, pada 30 April 2014 saya sudah menambah hafalan Al Qur’an sebanyak 1 juz. Sehingga kita bisa melihat pada tanggal yang kita tentukan tadi apakah hafalan 1 juz tercapai? Atau seberapa banyak hafalan yang bertambah hingga tanggal tersebut? Dari sini kita dapat mengevaluasi diri kita sendiri.

Achievable : Tujuan harus sesuatu yang sesuai kemampuan kita, namun ia juga harus cukup menantang sehingga ada usaha lebih yang kita lakukan untuk dapat mencapainya. Jadi jangan juga menetapkan tujuan yang terlalu mudah.

Results-focused : Tujuan harus berfokus pada hasil, bukan aktivitas untuk mencapai hasil tersebut. Nah ini yang agak berbeda dari yang selama ini kita (atau saya) tahu. Biasanya untuk menghibur diri, kita sering sekali bilang, “yah walaupun belum bisa mencapai ini, Alhamdulillah yang penting saya sudah berusaha melakukan ini dan ini”. Nah ini sebenarnya kurang tepat. Bersyukur akan adanya sesuatu yang dapat dilakukan itu benar, namun ketidakmampuan kita mencapai tujuan kita sebenarnya menunjukkan kita kurang disiplin dalam usaha mencapainya.

Time-bound : Tujuan harus terikat oleh waktu agar kita benar-benar merasakan adanya urgensi untuk mencapainya seiring dengan berjalannya waktu mendekati deadline yang sudah kita tetapkan di awal.

Kira-kira ini sebagian dari isi utama materi kultum pengajiannya. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca postingan ini  dan membantu bagi yang baru akan merancang mimpi masa depannya🙂 Namun inti yang ingin saya bagikan di postingan kali ini sebenarnya belum saya sampaikan😀

Di akhir kultum, seperti biasa dibuka sesi diskusi. Setelah berdiskusi dalam beberapa tanya-jawab, tidak disangka –sangka pemateri kultum merequest sesuatu, “Coba dong yuk kita semua bergiliran ceritain apa sih mimpi jangka panjang yang ingin kita capai di masa depan. Bukan untuk pamer atau gimana, tapi supaya kita juga bisa saling mengingatkan, menyemangati, dan mendoakan.”

Wah jujur saya kaget ditembak pertanyaan seperti itu. Karena kebetulan saya duduk berdekatan dengan pemateri, setelah pemateri menceritakan mimpi beliau, tibalah giliran saya. Dan ketika itu saya tidak punya jawaban, jadi saya minta di-skip dulu, biar yang lain duluan yang cerita.

Akhirnya saya pun mendengarkan peserta pengajian satu persatu menceritakan mimpinya. Ada yang mau buka usaha kuliner, ada yang mau jadi direktur di organisasi X, ada yang mau buka pesantren, ada yang mau buka bisnis les, ada yang mau membangun desa dengan penelitian yang sedang dilakukannya, dll. Wah semuanya masya Allah sekali mimpinya. Dan yang lebih penting lagi, semuanya adalah mimpi yang berorientasi pada kebermanfaatan bagi orang lain. Seiring saya mendengarkan mereka satu per satu menceritakan mimpi mereka, saya makin menyadari saya tidak punya mimpi seperti itu T_T

Memang saya punya plan dalam beberapa tahun ke depan, sebagai contoh saya sudah punya target kapan naik haji bersama suami saya. Karena itu mulai sekarang saya sudah menabung untuk itu, baca-baca bekal ilmu dan amalan berkaitan haji sendiri, dan tentu saja senantiasa berdoa agar Allah benar-benar memanggil saya ke tanah sucinya. Karena biar bagaimana pun, hanya Allah yang dapat memanggil hamba-Nya untuk dapat melaksanakan ibadah yang satu ini. Namun saya benar-benar tersadar, saya belum punya mimpi atau rencana yang dapat bermanfaat bagi banyak orang maupun agama T_T Kebanyakan rencana-rencana yang sudah saya tuliskan itu hanya bermanfaat bagi diri saya sendiri atau minimal keluarga saya.

Hingga semua orang sudah menceritakan mimpinya, saya akhirnya menyerah dan tidak menceritakan apa-apa. Materi hari ini benar-benar menjadi sebuah tamparan keras  yang menyadarkan saya bahwa hidup ini singkat dan terlalu singkat untuk dihabiskan bagi diri sendiri. Saya HARUS melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Tangan di atas akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah

karena tangan di atas akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah

…bersambung…

One response »

  1. Pingback: Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 2) | Atashi no Hanashi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s