Monthly Archives: March 2014

Naik-naik ke Puncak Gunung

Standard

Minggu lalu, saya dan Dea iseng-iseng jalan ke Tsukuba san atau Mount Tsukuba. Selama ini saya sering jalan-jalan ke tempat wisata di Tokyo, Tokyo pinggiran, bahkan sampai ke daerah Kansai, masa tempat wisata di dalam kota tempat tinggal sendiri belum pernah didatangin 😀 Jadilah saya minta Dea nemenin saya jalan-jalan kali ini 🙂

Dulu ketika saya baru datang ke Tsukuba, saya bertanya kepada senpai-senpai, tempat wisata apa yang recommended di sini. Dan jawabannya salah satunya Tsukuba san. Setiap weekend kalau kebetulan lewat terminal bus di Tsukuba Senta, memang benar, antrian di bus menuju Tsukuba san selalu panjang mengular. Dari anak kecil sampe kakek-nenek pada semangat hiking semua lho. Jadi penasaran ada apa sih di sini. Tapi karena saya dan Dea males, jadi kami ga berniat hiking, melainkan hanya ingin naik cable car 😛

Informasi mengenai Tsukuba san bisa dibaca di sini, atau googling juga pasti menemukan banyak link lain yang memberi informasi detail.

So, pagi ini kami berangkat dari Ichinoya jam 10 😀 (bukan pagi lagi ya berarti..hehe..maklumlah, hanya ingin jalan-jalan santai). Naik campus loop bus, sampe Tsukuba Senta hampir jam setengah 11, dan sesuai dugaan, antrian sudah panjang, sementara bus ke Tsukuba san berikutnya jam 10.30. Karena tidak kebagian seat di bis yang jam tersebut, akhirnya kami naik bis yg jam 11.

Terdapat 3 pemberhentian pada jalur bus ini, yaitu Numata, Tsukuba san jinja iriguchi, dan Tsutsujigaoka. Saya kurang tahu ada apa di Numata, tapi sepertinya hanya rumah-rumah penduduk. Bagi yang ingin naik cable car ke puncak, bisa turun di Tsukuba san jinja iriguchi, dan bagi yang ingin naik ropeway bisa turun di Tsutsujigaoka. Sedangkan yang ingin hiking pada umumnya turun di Tsukuba san jinja iriguchi. Dari sini ke puncak dengan jalan kaki (bukan dengan cable car) memakan waktu 1,5 sampai 2 jam (menurut website di atas).

Perjalanan normal dengan traffic lancar seharusnya memakan waktu 45 menit saja dari Tsukuba Senta ke Tsukuba san jinja iriguchi. Namun di luar dugaan, hari ini jalanan macet sekali. Mungkin karena hari Minggu dan kabarnya bunga-bunga mulai bermekaran di puncak. Perjalanan kami pun memakan waktu 1,5 jam. Kami membayar tiket sebesar 700 yen. Mengenai tiket ini, ada yang membeli tiket di tiket uriba di Tsukuba senta, namun dapat juga dibayar langsung sebelum turun dari bis.

Setelah sampai, yang pertama kami lakukan adalah ke Tourism Information Center untuk mengambil peta dan informasi lainnya agar dapat memutuskan akan jalan-jalan ke mana saja.

Tourism Information Center

Tourism Information Center

Peta sekitar Tsukuba san

Peta sekitar Tsukuba san

Kemudian kami pun berjalan-jalan santai saja di sekitar situ sambil mencari tulisan arah menuju cable car. Di tengah jalan, kami membeli soft ice cream. Soft ice cream ini sepertinya memang jajanan yang pasti ada di tempat wisata di Jepang. Rasanya pun sangat variatif. Kali ini Dea membeli rasa Ume (bunga yang baru saja tumbuh di Tsukuba san), dan saya membeli mixberry.

IMG_3470

Dari bus stop, kami jalan melalui gerbang oren ini, lalu cari saja tulisan “ケーブルカー“

photo

Tulisan arah jalan ini mengarahkan kami untuk melalui dan memasuki Tsukuba san jinja terlebih dulu sebelum sampai ke stasiun cable car-nya sendiri.

Tsukuba san Jinja

Tsukuba san Jinja

Dan dari sinilah kami menaiki cable car.

Di gerbang belakang ada tulisan "筑波山ケーブルカー" atau "Tsukuba san Cable Car"

Di gerbang belakang ada tulisan “筑波山ケーブルカー” atau “Tsukuba san Cable Car”

IMG_3505

Rel kereta dari tempat menunggu

Cable Car yang miring mengikuti kemiringan rel

Cable Car yang miring mengikuti kemiringan rel

Harga tiket cable car ini 560 yen sekali jalan, sedangkan kalau bolak-balik 1020 yen. Kami membeli tiket yang bolak-balik. Ini memang lebih hemat, tapi jika ingin merasakan naik cable car dan ropeway, lebih baik membeli 1 tiket saja di sini. Nanti setelah sampai puncak, hiking ke Nyotaisan Top, dan naik ropeway dari sana.

Perjalanan ke puncak memakan waktu kurang lebih 8 menit. Pemandangan di kiri-kanan sebenarnya biasa saja karena cable car ini berada di tengah hutan. Namun pemandangan dari rel keretanya persis naik jet coaster yang sangat curam. Sepertinya kemiringan kereta dan relnya lebih dari 45 derajat >_<

IMG_3527

Setelah sampai, bisa dibilang ini miriipp banget sama puncak-puncak di Indonesia, cuma kurang bandrek, wedang jahe, ama jadah tempe aja nih >_< Orang-orang pada makan cup noodle sambil duduk-duduk menikmati pemandangan. Bahkan ada yang bawa noodle boiler portable loh. Jadi apinya mirip banget sama kompor gas portable tapi ukurannya jauh lebih kecil. Sayang saya ga punya fotonya, soalnya ga enak ngefoto bawaan orang 😛

Dari sini, ada dua pilihan puncak lagi yang bisa didaki yaitu Nyotaisan (女体山) dan Nantaisan (男体山). Kami memilih mendaki Nantaisan karena jaraknya lebih dekat (300 meter) 😀 Sementara, jika kalian ingin pulang menaiki ropeway, harus mendaki Nyotaisan (berjarak 600 meter) karena ropeway-nya turun dari sana, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya.

300 meter itu kalau jalan kaki sepertinya ringan, ternyata kalau hiking, capek dan ngos-ngosan juga >_< Ditambah lagi jalan mendakinya tidak mudah, beberapa tempat penuh dengan batu-batu berserakan. Jadi inget film 5 cm 😀 Saking lambatnya kami berdua jalan, pendakian ini memakan waktu 20 menit.

Jalan mendaki yang penuh batu terjal

Jalan mendaki yang penuh batu terjal

Begitu sampai puncak, kami langsung disambut pemandangan indah kota Tsukuba.

Sampaaiii

Sampaaiii…

Agak berkabut

Agak berkabut

Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kami pun turun ke dekat stasiun cable car, solat, dan langsung turun dengan cable car ke stasiun awal.

Setelah ini, kami pun memutuskan berjalan-jalan ke 梅まつり (Ume Matsuri). Ini merupakan taman yang penuh ditumbuhi dengan bunga ume atau plum. Dari gerbang oren tadi, jalan terus turun saja mengikuti petunjuk bertulisan梅まつりtadi sekitar 5 menit.

Begitu sampai, ada the plum gratis. Rasanya aneh, asin, seperti sup 😛 Saya dan Dea sih kurang suka, akhirnya saya buang tehnya >_<

Foto bubuk teh sebelum diberi air

Foto bubuk teh sebelum diberi air

Kami pun mengambil foto-foto sejenak.

White Plum

White Plum

Magenta Plum

Magenta Plum

Pink Plum

Pink Plum

Sekitar pukul 16.30 kami memutuskan sudah saatnya pulang, karena 2 bis terakir adalah jam 16.40 dan 17.10. Berbeda dengan saat pergi tadi yang bus stopnya ada 3, di jalur pulang, ada bus stop tambahan tepat di seberang pintu keluar Ume Matsuri. Jadi kami tidak perlu naik ke atas lagi. Perjalanan pulang ini sangat melelahkan karena kami tidak dapat tempat duduk dan bis sangat penuh penumpang >_<

Alhamdulillah lalu lintas di perjalanan pulang lancar dan kami pun kembali ke Tsukuba cukup cepat. Ga nyangka, di kota yang isinya sekolahan dan tempat riset seperti ini, ada juga tempat wisata yang lumayan bisa sedikit melepas penat dari aktivitas sehari-hari 🙂

Allah ta’ala berfirman dalam surat al-ghasiyah:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (17). Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19). Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21).
*****

NB: Sekedar informasi tambahan, waktu-waktu terbaik untuk mengunjungi Tsukuba san adalah saat Spring karena bunga-bunga tumbuh mekar, dan saat Autumn karena pemandangan daun berwarna kuning, merah, dan coklatnya sangat indah.

Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 2)

Standard

Melanjutkan postingan sebelumnya

Belum begitu lama setelah “tamparan” itu berlalu dan masih membekas di benak saya, suatu ketika saya sedang mengobrol santai dengan sahabat seiya-sekata saya di sini, Kak Riska 😉 Ketika itu yang kami bicarakan adalah tentang fashion 😀 Kak Riska ini sama seperti saya, seorang jilbaber juga, yang juga punya prinsip sama dengan saya untuk selalu mengenakan jilbab panjang menutup dada dan tidak transparan. Bedanya dengan saya, pakaian Kak Riska selalu warna-warni. Maklumlah, beliau berasal dari universitas dan jurusan yang mayoritas mahasiswanya adalah wanita. Sedangkan saya, jurusan Teknik Elektro yang wanitanya hanya sekian belas dari jumlah keseluruhan mahasiswa 100-an lebih, ditambah beban kuliah, praktikum, dan tugas-tugas yang menyita pikiran, tidak pernah membuat saya merasa punya waktu lebih untuk tampil stylish. Hehe..

Bukan berarti saya tidak feminin dan tidak bisa mix-and-match baju. Saya juga suka pakai rok, tapi baru saya sadari, rok yang saya miliki dominan berbahan jeans dan berwarna navy, hitam, atau abu-abu, alias warna-warna yang bisa dipakai dengan baju apa saja. Jadi biasanya saya hanya mix-and-match atasan dan jilbabnya. Jika saya pakai baju warna pink, jilbabnya juga pink. Hanya begitu saja.

Memang dalam Islam kita tidak diwajibkan memakai pakaian matching from head to toe. Di mata Allah yang penting menutup aurat dengan sempurna. Tapi ternyata, memakai pakaian yang lebih cerah berpengaruh ke mood juga ya. Entah kenapa lebih ada perasaan terbawa optimis dan ceria jika melihat orang yang berpakaian menarik. Semua ini baru saya sadari setelah saya mengenal Kak Riska, yang bajunya macem-macem namun tetap dalam “koridor” 😀

Pembicaraan pun berlanjut ke perkembangan  fashion hijab di Indonesia yang semakin variatif dengan makin banyaknya desainer yang masing-masing punya karakter sendiri. Jadi kita tinggal pilih yang sesuai dengan selera kita. Hingga tiba-tiba Kak Riska menyebutkan suatu brand baju muslimah yang punya tagline “Syar’i dan Stylish”. Herannya, saya kok belum pernah denger sebelumnya >_< Kak Riska pun menunjukkan akun instagram brand tersebut, dan sampailah saya pada instagram dan blog founder sekaligus desainernya, Kak Fitri Aulia.

Pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta. Hehe.. Karena benar seperti tagline-nya, Kak Fitri sendiri selalu pakai baju yang stylish namun tetap syar’i. Beliau selalu memakai pakaian longgar dengan jilbab panjang yang tidak transparan dan menutup dada serta punggung.

Karena ketertarikan saya yang begitu besar pada brand ini, saya pun mulai membaca setiap postingan di blog Kak Fitri hingga awal mula blog tersebut dibuat. Bahkan saya jadi menonton semua video youtube yang ada Kak Fitrinya >_<

Saya jadi tahu bahwa beliau memiliki mimpi untuk berkarya di bidang yang ia minati yaitu fashion, dengan tetap mengedepankan syariat Islam. Dan saya kagum dengan konsistensi Kak Fitri dalam mengembangkan bisnis ini bersama suaminya. Dari blog beliau saya jadi mengikuti brand-nya yang sejak awal berdiri hanya berupa online shop hingga sekarang sudah punya toko sendiri, dari yang pegawainya masih sedikit hingga sekarang sudah banyak. Saya jadi tahu kalau tim Kak Fitri punya kegiatan pengajian mingguan (bener ga, Kak?). Saya sangat terinspirasi akan kegiatan positif yang beliau terapkan pada pegawai yang tidak melulu soal bisnis, namun juga sesekali mengadakan tadabbur alam. Dan yang lebih mengena lagi, Kak Fitri ternyata baru mengenakan jilbab pada tahun 2008, namun sekarang sudah dapat memberikan manfaat bagi pengguna jilbab lainnya. Sementara saya yang sudah berjilbab dari SMP ini tidak pernah terpikir melakukan yang sama T_T

Ada satu kesamaan saya dan beliau. Beliau dan suaminya menikah di umur yang sama dengan saya dan suami saya menikah. Saya 22 tahun dan suami saya 24 tahun. “Hanya” dalam kurun waktu 3 tahun dari pernikahan mereka, dengan ikhtiar bersama, mereka dapat membangun sebuah brand yang kini mulai dikenal masyarakat. Hal ini membuat saya jadi mewek kangen suami di tanah air ingin membangun sesuatu yang bermanfaat bersama suami saya juga kelak. Terbayang betapa menyenangkannya merajut mimpi bersama dan berikhtiar bersama mewujudkannya 🙂

Setelah “tamparan” beberapa waktu lalu, ditambah dengan inspirasi yang saya dapat dari membaca blog Kak Fitri, saya semakin menyadari bahwa tiap orang dapat bermanfaat dengan cara dan kekuatannya sendiri. Dan ketika kita sudah menetapkan jalan dalam meraih mimpi yang kita cita-citakan, konsistenlah dalam melaksanakannya.

Saya jadi teringat kembali niat saya membuat blog ini hampir 2 tahun yang lalu.

Saya sangat hobi traveling. Hal yang lebih menyenangkan dari traveling adalah merencanakan traveling itu sendiri. Awal-awal saya menulis di blog ini saya begitu rajin menuliskan tips-tips jalan-jalan dan juga report dari jalan-jalan yang pernah saya lakukan. Alhamdulillah, jika melihat “Top Post dan Pages” dari blog saya, sebagian besar orang-orang membaca postingan saya tentang trip yang pernah saya lakukan. Dan jika melihat “Search Engine Terms”, kebanyakan orang menemukan blog saya karena kata kunci beberapa tempat yang pernah saya kunjungi. Namun, seiring dengan pindahnya saya ke Jepang, meskipun saya melakukan trip minimal 1 bulan sekali, saya jarang sekali menuliskannya karena kesibukan studi saya di sini >_<

Sekarang saya jadi bersemangat kembali untuk terus update cerita jalan-jalan saya, dan juga menuliskan perjalanan terdahulu yang belum sempat saya tulis, insya Allah. Seperti yang saya lihat di salah satu video wawancara Kak Fitri ketika ditanya tips sukses menjadi blogger, yaitu dengan konsisten untuk terus meng-update blog kita itu sendiri 🙂

Bismillah, insya Allah tidak ada yang terlambat dalam memulai sesuatu yang baik! ^_^

Sebuah Tamparan dan Secercah Inspirasi (Part 1)

Standard

Beberapa minggu lalu, seperti biasa saya mengikuti pengajian pekanan muslimah yg pesertanya adalah mbak-mbak dan ibu-ibu yang tinggal di sini. Pengajian ini selalu diadakan setiap hari jumat malam mulai pukul 19.00 waktu Jepang. Setelah makan malam, acara dilajutkan dengan peserta masing-masing tilawah setengah halaman, kemudian masuk ke acara utama yaitu materi atau kultum yg diberikan bergantian oleh semua peserta tiap minggunya. Kali itu materinya adalah tentang “Merancang Mimpi”.

Mungkin sebenarnya terdengar klise dan kita pun sudah sering mendapatkan materi ini di pengajian atau acara motivasi lainnya. Apalagi di masa-masa setelah lulus kuliah, pasti banyak di antara kita yang sudah mulai merancang masa depan kita, dan mungkin banyak juga yang sudah rutin menuliskan goal-goal per-tahunnya setiap tahun baru. Namun Alhamdulillah ada hal baru yang saya dapat dari materi ini.

Jadi lebih tepatnya, judul dari materi ini adalah “Writing SMART Goals”. SMART sendiri merupakan singkatan dari

Specific : Tujuan harus dengan jelas mendefinisikan apa yang akan kita lakukan. Apa mimpi atau rencana kita, mengapa, dan bagaimana kita mencapainya.

Measurable : Tujuan harus terukur jadi kita dapat melihat ketercapaiannya. Misal, pada 30 April 2014 saya sudah menambah hafalan Al Qur’an sebanyak 1 juz. Sehingga kita bisa melihat pada tanggal yang kita tentukan tadi apakah hafalan 1 juz tercapai? Atau seberapa banyak hafalan yang bertambah hingga tanggal tersebut? Dari sini kita dapat mengevaluasi diri kita sendiri.

Achievable : Tujuan harus sesuatu yang sesuai kemampuan kita, namun ia juga harus cukup menantang sehingga ada usaha lebih yang kita lakukan untuk dapat mencapainya. Jadi jangan juga menetapkan tujuan yang terlalu mudah.

Results-focused : Tujuan harus berfokus pada hasil, bukan aktivitas untuk mencapai hasil tersebut. Nah ini yang agak berbeda dari yang selama ini kita (atau saya) tahu. Biasanya untuk menghibur diri, kita sering sekali bilang, “yah walaupun belum bisa mencapai ini, Alhamdulillah yang penting saya sudah berusaha melakukan ini dan ini”. Nah ini sebenarnya kurang tepat. Bersyukur akan adanya sesuatu yang dapat dilakukan itu benar, namun ketidakmampuan kita mencapai tujuan kita sebenarnya menunjukkan kita kurang disiplin dalam usaha mencapainya.

Time-bound : Tujuan harus terikat oleh waktu agar kita benar-benar merasakan adanya urgensi untuk mencapainya seiring dengan berjalannya waktu mendekati deadline yang sudah kita tetapkan di awal.

Kira-kira ini sebagian dari isi utama materi kultum pengajiannya. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca postingan ini  dan membantu bagi yang baru akan merancang mimpi masa depannya 🙂 Namun inti yang ingin saya bagikan di postingan kali ini sebenarnya belum saya sampaikan 😀

Di akhir kultum, seperti biasa dibuka sesi diskusi. Setelah berdiskusi dalam beberapa tanya-jawab, tidak disangka –sangka pemateri kultum merequest sesuatu, “Coba dong yuk kita semua bergiliran ceritain apa sih mimpi jangka panjang yang ingin kita capai di masa depan. Bukan untuk pamer atau gimana, tapi supaya kita juga bisa saling mengingatkan, menyemangati, dan mendoakan.”

Wah jujur saya kaget ditembak pertanyaan seperti itu. Karena kebetulan saya duduk berdekatan dengan pemateri, setelah pemateri menceritakan mimpi beliau, tibalah giliran saya. Dan ketika itu saya tidak punya jawaban, jadi saya minta di-skip dulu, biar yang lain duluan yang cerita.

Akhirnya saya pun mendengarkan peserta pengajian satu persatu menceritakan mimpinya. Ada yang mau buka usaha kuliner, ada yang mau jadi direktur di organisasi X, ada yang mau buka pesantren, ada yang mau buka bisnis les, ada yang mau membangun desa dengan penelitian yang sedang dilakukannya, dll. Wah semuanya masya Allah sekali mimpinya. Dan yang lebih penting lagi, semuanya adalah mimpi yang berorientasi pada kebermanfaatan bagi orang lain. Seiring saya mendengarkan mereka satu per satu menceritakan mimpi mereka, saya makin menyadari saya tidak punya mimpi seperti itu T_T

Memang saya punya plan dalam beberapa tahun ke depan, sebagai contoh saya sudah punya target kapan naik haji bersama suami saya. Karena itu mulai sekarang saya sudah menabung untuk itu, baca-baca bekal ilmu dan amalan berkaitan haji sendiri, dan tentu saja senantiasa berdoa agar Allah benar-benar memanggil saya ke tanah sucinya. Karena biar bagaimana pun, hanya Allah yang dapat memanggil hamba-Nya untuk dapat melaksanakan ibadah yang satu ini. Namun saya benar-benar tersadar, saya belum punya mimpi atau rencana yang dapat bermanfaat bagi banyak orang maupun agama T_T Kebanyakan rencana-rencana yang sudah saya tuliskan itu hanya bermanfaat bagi diri saya sendiri atau minimal keluarga saya.

Hingga semua orang sudah menceritakan mimpinya, saya akhirnya menyerah dan tidak menceritakan apa-apa. Materi hari ini benar-benar menjadi sebuah tamparan keras  yang menyadarkan saya bahwa hidup ini singkat dan terlalu singkat untuk dihabiskan bagi diri sendiri. Saya HARUS melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Tangan di atas akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah

karena tangan di atas akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah

…bersambung…