Tiga Bulan

Standard

Rasa-rasanya, tak adil kalau saya tidak menceritakan peristiwa penting ini. Peristiwa yang merupakan pintu gerbang menuju babak baru dalam hidup saya. Jika banyak orang mengatakan lulus S1 berarti selamat datang di kehidupan yang sebenarnya, bagi saya, peristiwa inilah yang mengantarkan kita sebagai manusia ke kehidupan nyata. Bagi saya, tanpa adanya peristiwa ini, hidup saya tak akan pernah terasa lengkap.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga bulan saya memiliki status baru. Status yang sama sekali tidak remeh, dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nantinya. Status yang menimbulkan tanggung jawab baru. Peran baru. Status yang mengubah segalanya dalam hidup saya bahkan hingga sel terkecil dalam tubuh saya. Kelihatannya lebay banget ya? Namun tidak, itulah kenyataannya.

Peristiwa itu adalah pernikahan.

Mengapa menikah?

Well, it requires some times to explain why I finally decided to get married😀 Sebenarnya tadinya saya biasa saja dengan yang namanya pernikahan. Ingin menikah, pasti. Tapi tidak benar-benar memasang target kapan akan menikah. Nanti juga kalau sudah waktunya pasti in sha Allah akan menikah juga, pikir saya dulu saat masih SMA. Waktu SD dan SMP, jangan ditanya lagi, tidak pernah terpikir sama sekali tentang pernikahan.

Hanya saja, ketika SMA saya pernah diberi tugas oleh seorang guru untuk membuat life-plan hingga umur 60 tahun. Life-plan tersebut berbentuk kotak-kotak seperti mainan ular tangga yang masing-masing kotaknya merepresentasikan 1 tahun usia. Ketika itu saya menuliskan di kotak no. 18 masuk kuliah, no. 22 lulus kuliah, dan iseng saja di kotak no. 23 menuliskan “menikah”. Waktu itu mikirnya, 23 umur yang cukup sehat untuk mulai mengandung anak, dan bisa punya beberapa anak sebelum usia 30 tahun. Katanya di atas 30 tahun cukup beresiko untuk melahirkan. Saya mengetahui ini dari pengalaman ibu saya sendiri yang melahirkan adik saya di umur 34 dan 40 tahun (sekarang satu di antara dua adik saya tersebut telah meninggal karena ada masalah saat melahirkan).

Hebat ya, masih SMA udah bisa mikir gitu? Sebenarnya tidak juga, alasan yang lebih utama kenapa menuliskan “menikah” di umur 23 itu karena iseng saja. Tidak terlalu cepat (ada jeda setahun setelah lulus kuliah), dan tidak terlalu terlambat.

Tapi memang banyak yang bilang, berhati-hatilah dengan perkataan, nanti bisa menjadi doa.

Lulus SMA masuk ke dunia kuliah masih belum terpikir “inilah saatnya mencari jodoh”😛 walaupun banyak yang bilang biasanya orang ketemu jodohnya di jaman kuliah. Tahun pertama dan kedua lempeng aja, sekolah yang baik, jadi mahasiswa baik-baik, ikut organisasi sana-sini selayaknya mahasiswa lainnya. Saya masih belum menemukan keinginan, ATAU alasan, kenapa saya harus menikah.

Sampai suatu ketika, saya ikut kajian yang diadakan oleh rohis keputrian kampus saat solat Jumat. Kajian ini memang rutin saya ikuti daripada tidak melakukan apa pun selagi laki-laki pada solat jumat. Waktu itu akhir tahun kedua kalau tidak salah. Pembicaranya seorang Teteh yang baru saja menikah (mungkin saat itu si Teteh umurnya sama kayak saya sekarang ya). Dan temanya, sudah jelas, “Pernikahan”.

Di situ si Teteh menceritakan salah satu motivasi beliau menikah (yang sepertinya sekarang menjadi motivasi pertama saya menikah). Intinya sederhana saja, yaitu karena hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, shaum/puasa wajib sebulan, memelihara kemaluannya, serta taat kepada suaminya, maka ia pasti masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendaki.”

Pada hadits tadi disebutkan syarat-syarat bagi seorang wanita yang ingin masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. In sha Allah di antara kita sudah biasa melakukan tiga yang pertama, yaitu shalat lima waktu, shaum Ramadhan, dan memelihara kemaluan. Namun syarat yang terakhir, yaitu taat kepada suami akan terpenuhi “jika dan hanya jika” kita “menikah”. Kalau belum menikah, tidak ada suami yang bisa ditaati, kan. Karena itu dengan menikah “saja” (asal kita taat pada suami) terpenuhilah sudah syarat untuk bisa masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendaki. Tanpa menikah, syarat di atas tidak akan pernah lengkap.

Sejak itu, saya memutuskan, saya ingin menikah, saya akan menikah, dan saya harus menikah. Saya ingin memiliki satu tiket untuk masuk surga dari pintu mana saja yang saya kehendaki, in sha Allah.

“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”. (QS. Ali Imran: 159)

Mengapa menikah muda?

Pertanyaan ini banyak sekali saya terima sejak saya merilis undangan kepada teman-teman. Sebenarnya sekali lagi, pun ketika saya telah memutuskan saya ingin menikah, saya tidak pernah memasang target umur berapa harus sudah menikah. Ketika itu keinginan saya hanya sebatas keinginan yang kerap saya ucapkan dalam doa. Y Allah, semoga saya sempat merasakan berkeluarga dalam hidup saya.

Tapi memang benar ya, berhati-hatilah dengan perkataan, nanti bisa menjadi doa.

Alhamdulillah, karena takdir Allah, saya diperkenankan menikah 15 hari sebelum ulang tahun saya yang ke-23. Saya bersyukur, apa yang saya tuliskan secara iseng di life-plan waktu saya SMA dulu memang menjadi kenyataan. Saya bersyukur keisengan yang saya tuliskan adalah sebuah keisengan yang baik🙂 Dari sini saya mengambil hikmah, bahwa memang perkataan yang keluar dari mulut kita harus lah perkataan yang baik-baik saja🙂

Namun, apakah benar 23 tahun itu muda? Perasaan banyak juga yang lebih muda dari saya sudah pada menikah. Saya rasa tua atau muda itu relatif dalam memutuskan pernikahan. Jadi saya memutuskan menikah pada umur ini bukan karena angkanya, namun karena keadaannya. Keadaan yang seperti apakah?

Pertama, pada saat itu Alhamdulillah saya sudah lulus dari bangku kuliah. Jadi saya merasa salah satu tahap penting dalam hidup saya telah saya selesaikan.

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7).

Karena itu saya rasa, sekarang lah saatnya saya kerjakan dan saya pikirkan dengan sungguh-sungguh “urusan lain” tersebut. Saya sendiri salut dengan teman-teman yang berani menikah sebelum lulus kuliah. Jika itu saya, saya mungkin tidak dapat membagi pikiran saya antara menyelesaikan studi saya dan mengurus keluarga saya. Dan memang Allah selalu memberi cobaan sesuai kemampuan hamba-Nya, ya. Jadi saya sangat bersyukur saya ditakdirkan menikah setelah saya lulus kuliah.

Kedua, tak dapat dipungkiri bahwa menikah dan berumah tangga itu memerlukan biaya (terutama setelah hari H pernikahan itu sendiri).  Saya sendiri memiliki keinginan jika saya menikah nanti adalah saat di mana saya sudah dapat berdiri di atas kaki saya sendiri.

Pada saat hari H wisuda (Juli 2012), saya dan suami (waktu itu bahkan belum jadi calon suami karena belum khitbah) sama-sama sedang menunggu pengumuman akhir beasiswa Monbusho. Pada akhir Agustus 2012 kami mendapat pengumuman bahwa saya lolos sedangkan dia tidak. Dengan pengumuman lolosnya saya mendapat beasiswa ini, maka dapat dikatakan bahwa saya in sha Allah akan dapat berdiri di atas kaki saya sendiri, paling tidak selama tiga tahun ke depan (jangka waktu memperoleh beasiswa ini). Karena bagi saya saat itu saya tidak ada bedanya dengan teman-teman yang melamar kerja dan mendapatkannya.

Di satu sisi, dengan pengumuman tidak lolosnya dia, dia harus mencari cara lain untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri. Sejak saat itu, dia mulai merintis usaha bersama teman-temannya, yang Alhamdulillah berlanjut hingga sekarang.

Pada saat itulah, setelah kami yakin kami dapat berdiri di atas kaki kami sendiri, kami memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah

Dengan keadaan kami saat ini (saya S2 di Jepang dan dia merintis usahanya di Indonesia), selama tiga bulan ini kami belum dapat tinggal bersama. Berat? Pasti. Kangen? Sudah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tentu saja rasanya tidak lengkap dan setiap hari saya selalu merasa ada yang hilang. Namun konsekuensi ini telah kami pikirkan sebelum menikah dan kami tidak menyesalinya. Kami telah bertekad memilih jalan ini. Bismillah, in sha Allah, Allah-lah yang akan menguatkan kami.

Banyak juga yang bertanya, mengapa menikah sekarang kalau belum bisa tinggal bersama?

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya“. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Yang ada di pikiran kami adalah, selama kami menikah karena Allah, karena ingin menjalin hubungan yang halal di mata-Nya, selama kami shalat dan tidak meninggalkan Al Qur’an dan sunnah Rasul (loh kok jadi banyak syaratnya😀 ), kami memiliki keyakinan bahwa berkah dan karunia Allah akan senantiasa datang. Mungkin sekarang nampaknya berat hidup berpisah, tapi selama doa-doa untuk bersatu itu selalu dipanjatkan, kami yakin ada jalan suatu saat nanti untuk akhirnya bisa hidup bersama, mungkin dengan cara yang tidak terpikir saat ini. Mungkin saat ini pun kami bukan pasangan yang memiliki banyak materi, hidup juga sangat sederhana, tapi kami yakin Allah yang akan mencukupkan kami.

Justru saat-saat tidak bersama ini, datangnya pertemuan selanjutnya selalu dinantikan.

Saat-saat tidak bersama ini, hari-hari kami senantiasa terisi dengan mendoakan satu sama lain, karena hanya itulah pengikat kami saat ini. Doa.

IMG_7415

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s