Monthly Archives: December 2013

A Very Blissful Year 2013

Standard

Tak ingin rasanya berhenti mengucap syukur kepada Allah atas berkah yang begitu berlimpah di tahun 2013 ini. Begitu banyak doa yang diijabah dan daftar mimpi yang tercoret. Belum lagi bonus-bonus nikmat lainnya tak pernah terbayangkan sebelumnya. Rasa-rasanya Allah memberi terlalu banyak pada diri yang begitu tak pantas ini ๐Ÿ˜ฆ

Januari – Maret 2013

Quality time bersama keluarga di Balikpapan sebelum berangkat ke Jepang. Alhamdulillah, setelah 7 tahun merantau, selama 3 bulan ini saya dapat kembali merasakan bangun di rumah hingga tidur lagi pun berada di rumah. Rasanya sangat ใชใคใ‹ใ—ใ„ or bring back memories. Sebelum berangkat ke Jepang, sebelum merantau lebih jauh lagi, Allah mengizinkan saya untuk tinggal di rumah dan bertemu ayah, ibu, dan adik 24 jam sehari selama 3 bulan penuh! Bagi saya yang merantau sejak SMA ini, bisa tinggal 3 bulan di rumah dan beraktivitas seperti biasa itu sesuatu sekali >_< Saya sempatkan ke TK, SD, dan SMP saya dulu serta bertemu beberapa guru. Saya sempatkan keliling tempat-tempat makan favorit saya sejak kecil di Balikpapan.ย Benar-benar waktu yang sangat berharga sebelum keberangkatan saya ke negeri impian ini.

Sambutan yang dibuat adik saya setelah setahun terakhir tidak pulang ke Balikpapan

Sambutan yang dibuat adik saya setelah setahun terakhir tidak pulang ke Balikpapan

April 2013

Akhirnya menginjakkan kaki di Jepang untuk tinggal di sini.ย Ini memang bukan kali pertama saya ke Jepang, namun merasakan tinggal di Jepang sudah menjadi impian saya sejak jaman lama. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun berdoa, berusaha dan gagal, berusaha lagi, akhirnya impian ini dapat terwujud di tahun 2013. Di tahun ini pula saya pertama kali melihat bunga sakura yang terkenal hanya muncul selama 2 minggu sepanjang tahun itu. Walaupun ketika saya datang kebanyakan daunnya sudah gugur, tapi saya merasa beruntung sempat mengambil foto yang lumayan bagus dengan sebatang pohon sakura di belakang asrama saya ๐Ÿ™‚

1

Pohon sakura yang sudah agak rontok bunganya

Pada bulan ini juga saya tergabung dalam Intensive Course Bahasa Jepang yang sangat menyenangkan dan mengakselerasi kemampuan bahasa Jepang saya. Karena tergabung di Internsive Course ini, saya bertemu dengan sensei-sensei yang keren dalam mengajar dan juga akrab dengan kami di luar waktu pelajaran. Saya juga jadi mengalami kelas bahasa Jepang yang tidak monoton dan memiliki program-program menarik di luar belajar bahasa Jepang saja. Saya pun jadi memiliki teman-teman dekat dari berbagai negara sesama peserta kelas Intensive ini. Bagaimana tidak dekat, kami bertemu setiap hari selama 6 jam, 5 hari dalam seminggu, selama 4 bulan. Setelah Intensive Course ini berakhir, kami masih sering kumpul-kumpul dan bertegur sapa di jalan ๐Ÿ™‚

DSCN0782

Mei 2013

Golden Week ke Kamakura dan Chichibu. Kamakura adalah salah satu destinasi wisata impian saya sejak 2 tahun lalu saat pertama kali ke Jepang. Namun saat itu, disebabkan jadwal yang begitu padat, saya dan teman-teman tidak jadi ke Kamakura ๐Ÿ˜ฆ Akhirnya pada saat Golden Week saya menyempatkan ke Kamakura bersama teman sesama penerima beasiswa Monbusho (Mbak Dina) dan beberapa teman kelas Intensive Course.

Di depan patung Budha raksasa yang terkenal itu

Di depan patung Budha raksasa yang terkenal itu

Masih saat Golden Week juga, saya dan Mbak Dina jalan-jalan ke Chichibu demi berburu foto-foto cantik bersama bunga tulip. Saya pertama kali mupeng banget sama Chichibu ini sejak melihat foto teman saya (Dwina) yang waktu itu sedang exchange di Jepang. Taman bunga di Chichibu ini warnanya pink semua dan terhampar luas seperti karpet >_< Karena itu saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan benar-benar meniatkan ke sini saat musim semi. Alhamdulillah kesampaian juga ๐Ÿ™‚

Hamparan bunga yang seperti karpet berwarna pink

Hamparan bunga yang seperti karpet berwarna pink

Juni 2013

Satu lagi destinasi wisata yang tidak sempat saya kunjungi 2 tahun lalu adalah Nikko. Katanya Nikko ini adalah tempat yang tepat jika kamu ingin melihat sisi jaman dahulu Jepang tanpa perlu jauh-jauh ke Kyoto (kalau kamu berada di Tokyo dan sekitarnya loh ya). Nikko ini juga terkenal dengan patung kucing tidur (Nemuri Neko) dan patung 3 monyet (Kikazaru, Iwazaru, Mizaru)-nya. Patung 3 monyet ini sampai ada di emoticon di iphone loh ๐Ÿ˜›

Patung Nemuri Neko yang terkenal ternyata kecil sekali

Patung Nemuri Neko yang terkenal tapi ternyata kecil sekali

Ini asal muasal emoticon monyet yang di iphone

Ini asal muasal emoticon monyet yang di iphone

Peserta kelas Intensive Course memiliki program jalan-jalan ke salah satu spot wisata di Jepang. Karena itu, ketika sensei kelas bahasa Jepang menanyakan saran tempat wisata yang ingin dikunjungi, langsung saja saya menyarankan Nikko. Tak disangka, saran saya yang diambil! Padahal biasanya program jalan-jalan ini hanya ke Tsukuba-san ๐Ÿ˜€ Tapi tahun ini kami bisa berjalan-jalan gratis ke Nikko. Alhamdulillah.. Baca cerita lengkapnya di sini ๐Ÿ™‚

Juli 2013

Bulan ini adalah bulan terakhir program Intensive Course kami. Tak disangka dalam 4 bulan program ini, kami telah mempelajari banyak kemampuan berbahasa Jepang, salah satunya adalah kemampuan presentasi. Sebagai tugas akhir “kuliah” ini, kami diminta mempresentasikan tentang topik riset kami dalam bahasa Jepang! Awalnya tidak terbayang dapat menjelaskan hal sesulit riset dalam bahasa Jepang, apalagi di depan banyak orang >_< Namun dengan bantuan dari Sensei-sensei kami dalam menerjemahkan istilah-istilah sulit, kami semua dapat melewati tantangan ini dengan baik ๐Ÿ™‚ Cerita lengkapnya, juga bisa dibaca di sini.

Dalam bulan ini juga, salah satu bulan terpenting umat Islam yaitu Ramadhan berlangsung. Bersamaan dengan masuknya musim panas di mana waktu siang menjadi lebih panjang daripada waktu malam, berpuasa Ramadhan di Jepang sungguh bukan hal yang mudah, namun tak berarti mustahil dilaksanakan. Di sini kami harus sahur sekitar pukul 02.00 karena waktu subuhnya sekitar pukul 03.00, sementara waktu maghribnya adalah sekitar pukul 19.00. Praktis setiap hari kami berpuasa sekitar 16 jam. Tak hanya waktunya yang panjang, namun cuaca yang panas dan kelembaban yang tinggi sungguh membuat peluh terus mengalir dan dahaga semakin tak tertahankan.

Alhamdulillah itu semua tak membuat saya jera menghadapi Ramadhan di Jepang. Justru Ramadhan ini terasa sangat spesial. Setiap akhir pekan komunitas Muslim di Tsukuba mengadakan Ifthar bersama di Masjid Tsukuba. Penyedia menu berbukanya bergantian antara satu komunitas dengan komunitas lain. Misalnya pekan ini komunitas negara-negara Arab (Arab, Mesir, Suriah, dll), pekan berikutnya komunitas Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh, dll), kemudian komunitas Melayu (Indonesia dan Malaysia), dan yang terakhir komunitas Turki (sebenarnya ada beberapa komunitas lain tapi lupa apa lagi). Senang sekali rasanya tiap minggu berkumpul dengan saudara senasib sepenanggungan, sekaligus merasakan berbagai jenis masakan yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Alhamdulillah meskipun jauh dari tanah air, tetap dapat merasakan budaya berbuka bareng yang kental nuansa ukhuwahnya ๐Ÿ™‚

photo

Salah satu suasana Ifthar di Masjid

Awalnya saya kira, musim panas tidak akan terasa terlalu berat, secara di Indonesia juga sepanjang tahun panas. Namun ternyata, musim panas di Jepang lebih berat daripada musim panas sepanjang tahun di Indonesia!! >_< Banyak sekali kedodolan dan kebodohan yang saya alami due to lack of experience in dealing with summer ๐Ÿ˜› Saya bakal cerita nih, tapi janji jangan pada ketawa ya ๐Ÿ˜„

Kedodolan 1 : Suatu saat saya lagi pengen bikin bubur kacang hijau. Menurut saran ibu saya, kacang hijau direndam dulu semalaman supaya lembut dan besok merebusnya tidak terlalu lama. Saya turutilah nasihat ibu. Malam hari saya rendam sebelum tidur. Pagi keesokan harinya, begitu bangun saya langsung berniat merebut si kacang hijau. Namun begitu saya cek rendaman kacang hijaunya, tebak apa yang terjadi saudara-saudara. Kacang hijaunya sudah tumbuh akar hampir menjadi kecambah! Rupanya, kelembaban yang tinggi menyebabkan dia cepat sekali tumbuh dan berkembang ๐Ÿ˜ฆ Ini dia fotonya

photo(1)

Kedodolan 2 : Di saat lain saya iseng lagi pengen minum susu kedelai. Saya pun membeli susu kedelai kemasan kotak 1 Liter di supermarket. Pada suatu malam sebelum tidur, saya minum susu kedelai tersebut, lalu saya ketiduran dalam keadaan lupa menutup kemasannya dan lupa memasukkannya ke kulkas. Keesokan paginya saat bangun, saya ingin minum susu kedelai lagi. Waktu saya mau menuang ke gelas, sudah saya miringkan kemasannya, tidak ada susu yang keluar dari mulut kemasannya. Berkali-kali saya coba, tetap tidak ada yang keluar. Akhirnya saya nekad mencoba meminum langsung dari mulut kemasaannya. Ketika saya tenggak langsung, akhirnya ada yang keluar dari kemasannya, tapi bukan susu kedelai lagi, melainkan tahu!!! Jadi yang keluar berupa padatan yang berasa seperti susu kedelai, benar-benar mirip tahu mentah. Ternyata hanya dalam waktu beberapa jam saya tidur itu, susu kedelainya sudah terfermentasi sempurna ๐Ÿ˜ฆ

Selain kedodolan di atas, banyak juga hal menyebalkan yang terjadi saat musim panas ini. Contohnya, kecoak-kecoak pada keluar dari lubangnya di dalam tanah untuk mencari kehangatan ๐Ÿ˜ฆ Kecoak di Jepang berbeda dengan kecoak di Indonesia. Di sini kecoaknya kecil-kecil tapi banyak. Sudah dibunuh berkali-kali tetap saja muncul lagi. Padahal kamar saya bersih, lho. Memang waktunya mereka keluar aja. Selain itu, di dindinh, rak, dan lemari jadi banyak jamurnya. Bukan jamur berbentuk payung yang suka nempel di batang pohon, tapi jamur berbentuk serbuk kecil-kecil yang warnanya putih atau hijau. Baru dibersihkan beberapa hari, sudah muncul lagi. Baju-baju yang sedang tidak terpakai juga jadi banyak yang jamuran. Saya jadi harus mencuci baju-baju tersebut ๐Ÿ˜ฆ

Agustus 2013

Pertama kalinya merasakan Idul Fitri jauh dari keluarga T_T Awalnya cukup mellow dan mewek, membayangkan semua saudara pada kumpul di rumah kakek-nenek. Tapi ternyata berlebaran tak bersama keluarga tak separah itu rasanya. Alhamdulillah, di sini kami mengadakan halal bihalal sendiri. Beberapa mbak-mbak masak opor, sambal goreng kentang, goreng-gorengan, es buah, dan makanan khas Lebaran lainnya. Saya sih cuma nyumbang kerupuk ๐Ÿ˜› Alhamdulillah, cukup mengobati kerinduan akan kehangatan Lebaran di tanah air ๐Ÿ™‚

photo(2)

Pada bulan ini juga saya harus mengikuti ujian masuk Graduate School. Setelah Lebaran, Waktu saya kebanyakan dihabiskan untuk belajar soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah di kelas Intensive Course ada 2 orang teman yang sejurusan jadi kami akan menghadapi ujian yang sama. Setiap hari kami pun belajar bersama sampai larut malam. Waktu saya yang tidak belajar hanya untuk solat, makan, dan mandi >_< Akhirnya pada hari H ujian, soalnya memang cukup susah, tapi Alhamdulillah ada yang bisa saya jawab dengan baik.

Dan akhirnya, tanggal yang dinanti-nantikan pun tiba, yaitu kepulangan ke Indonesia, 25 Agustus 2013! Setelah 5 bulan berpisah sejauh ini dan disebabkan kepulangan ini untuk menyambut sebuah episode penting dalam hidup, benar-benar kerasa rindunya akan kampung halaman. Berangkat 25 Agustus jam 23.30 dari Haneda Airport, Alhamdulillah sampai dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta pada 26 Agustus jam 11.00 WIB.

September 2013

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengijinkan saya mengenapkan separuh agama pada bulan ini. 7 September 2013. Tanggal di mana saya dan seorang lelaki bernama Araf Pratamanaim membuka lembaran baru dalam hidup kami. Lembaran kosong yang siap ditulisi bersama, dikoreksi, dan diedit, hingga akhirnya menghasilkan kisah indah yang siap dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Seorang lelaki yang dengannya saya harap bukan jatuh cinta, melainkan membangun cinta bersama, merajut kebahagiaan hakiki, mengharap ridha Ilahi dalam setiap langkah kami.

IMG_7412

Alhamdulillah, pada bulan ini kami juga diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk jalan-jalan keliling Kansai. Selama seminggu setelah rangkaian acara pernikahan di Indonesia, kami sempatkan untuk keliling Osaka, Himeji, Kobe, Nara, dan Kyoto, demi melihat sisi lain dari negara Jepang.

Kinkakuji Temple

Kinkakuji Temple

Oktober – November 2013

Sepulangnya suami ke tanah air, kembali lagi saya harus berjuang menghadapi kelanjutan hidup di sini. Hehe, agak lebay ya. Masih ada dua setengah tahun perjuangan sebelum akhirnya bisa benar-benar menatap dunia bersama suami tercinta >_<

Bulan ini adalah musim gugur pertama saya. Takjub rasanya bisa melihat bagaimana daun-daun itu berubah warna dari hijau, kucing, merah, coklat, sebelum akhirnya gugur ke tanah, meninggalkan batang pohon yang siap ditumbuhi dedaunan baru. Benar-benar fenomena yang membuat saya semakin mengagumi keagungan Allah dan semua ciptaannya.

photo(3)

โ€œDan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).โ€ย QS. al-Anโ€™am (6) : 59

Pada 15 November 2013, kami, mahasiswa yang tergabung dalam PPI Ibaraki mengadakan perhelatan kebudayaan Indonesia yang bertajuk Malam Cinta Indonesia (MCI). Pada acara ini saya menampilkan tiga tarian, Tari Nandak Betawi, Tari Saman, dan Tari Poco-poco. Sudah menjadi impian saya sejak lama untuk menampilkan kebudayaan Indonesia di depan penonton mancanegara, Alhamdulillah salah satu wish-list ini akhirnya tercoret juga ๐Ÿ™‚

48

Desember 2013

My very first snow!! Dan tak hanya sekedar melihat salju, namun saya juga berkesempatan mencicipi olahraga ski di Nagano. Alhamdulillah, sebuah hadiah penutup tahun yang indah dari Allah SWT.

IMG_3415

*****

Ya, Allah, ย terima kasih atas segala pengalaman hidup yang berharga, baik suka maupun duka. Semoga hamba senantiasa bersyukur atas nikmat usia, kesempatan, dan kesehatan yang Engkau berikan pada Hamba hingga detik ini. Jagalah selalu orang tua Hamba, di kala penjagaan Hamba tak sampai kepada mereka. Jauhkanlah yang haram dari rizki suami Hamba, ya Allah. Lapangkanlah jalan kakek-nenek yang telah mendahului Hamba. Curahkanlah karuniamu kepada adik-adik Hamba, sahabat-sahabat Hamba, dan seluruh mukmin di muka bumi ini. Semoga tahun depan Hamba bisa lebih dekat kepada-Mu lagi, dan bisa menjadi pribadi yang terus lebih baik. Aamiin.

“Maka nikmat Tuhan-Mu yang mana yang kamu dustakan?”

Melengkapi Dokumen Lagi

Standard

Tahap sebelumnya : Seleksi Wawancara

Pengumuman Lolos Primary Screening

Pengumuman hasil wawancara dijanjikan sekitar awal Agustus 2012 oleh Kedubes. Sisa bulan Juli pun saya lewati dengan deg-deg-plas, pada tahap ini, benar-benar sudah pasrah dengan hasil apa pun yang akan diterima.

Pagi tanggal 31 Juli saya terbangun tanpa ada firasat apa pun. Tapi karena sudah mendekati hari dijanjikannya pengumuman, saya berpikir iseng-iseng ngecek website kedubes. Biasanya hasilnya sudah muncul walaupun belum tanggal yang dijanjikan. Begitu masuk ke website kedubes, yappari, belum ada pengumumannya. Pasti besok, pikir saya. Saya pun siap-siap berangkat ke kampus seperti biasa (saat ini saya sedang mengisi kekosongan dengan menjadi Asisten Peneliti di lab tempat saya TA kemarin).

Sampai kampus, kerja-kerja sebentar, pas jam makan siang, iseng buka fb. Eh tak disangka-sangka, ada wall dari dosen Kalkulus TPB saya. Pertama, ada wall dari beliau saja sudah mengagetkan (bagaimana bisa si bapak masih inget sama saya? ketemu juga cuma 2 semester, itu pun 4 tahun yang lalu). Kedua, isinya lebih mengagetkan lagi.

“Halo Nadine. Rupanya Anda ikut seleksi beasiswa Monbukagakusho juga ya? Selamat ya. Seorang mahasiswa saya juga lolos wawancara tsb. Belajar ke mana rencananya Anda?”

Mana nyangka saya akan mengetahui pengumuman lolos Primary Screening dengan cara seperti ini? >_< ๐Ÿ˜€

Setelah membaca wall dari si bapak, saya pun langsung mengecek website kedubes, dan benarlah, nama saya tertulis sebagai salah satu dari 35 peserta seleksi yang dinyatakan lolos Tahap Primary Screening. Alhamdulillah…

(NB: setelah itu saya pun membalas wall dari ย bapak sambil menanyakan bagaimana bapak bisa masih ingat saya. Ternyata mahasiswa yang bapaknya maksud adalah Samy, temen seperjuangan dari awal tes Monbusho. Waktu si bapak mengecek nama Samy, beliau rupanya melihat nama saya juga dan tetiba ingat bahwa saya adalah mahasiswa Kalkulus bapaknya 4 tahun yang lalu. Kata si bapak, sebenarnya si bapak tidak ingat wajah saya, tapi ingat nama saya. Hebaattt…)

Mengambil Dokumen Lain

Jika kita lolos seleksi wawancara dan dinyatakan lolos Primary Screening, maka langkah berikutnya sebelum kita benar-benar dinyatakan lolos Secondary Screening adalah kita harus melengkapi dokumen yang diberikan saat sebelum wawancara dan memperolehย Letter of Acceptanceย (LA) dari profesor di Jepang. Dokumen tersebut sebenarnya sama saja dengan dokumen pada waktu seleksi dokumen awal, hanya saja ditambah fotocopy KTP, legalisasi ijazah, legalisasi transkrip, attachment, dan health certificate. Semuanya harus dalam bahasa Inggris (eh kecuali fotocopy KTP, ding), namun untuk attachment dan health certificate, formnya sudah diberikan kedubes, sehingga kita tinggal mengisinya.

Selain dokumen di atas, ternyata masih ada satu berkas dokumen lain yang harus diisi-isi. Dokumen ini bisa dipilih mau dikirim ke rumah atau mabil sendiri di kedubes. Waktu itu karena saya banyak sekali pertanyaan mengenai isi dokumen, saya pun memutuskan untuk mengambil langsung saja di kedubes. Iseng saya tanya Samy, mau ngambil dokumen ke Jakarta nggak. Ternyata si Samy mau. Jadilah saya ke Jakarta sama Samy naik kereta.

Ini pertama kalinya saya ke Jakarta naik kereta dari Bandung ๐Ÿ˜€ Biasanya selalu naik travel. Tapi lucu ya, naik kereta malah lebih lama daripada naik travel ๐Ÿ˜€ Selain itu dari stasiun kami masih harus naik busway lagi. Saat itu busway lumayan penuh (emang pernah ga penuh ya?)

Anyway, sesampainya di Kedubes, kami pun mengambil dokumen yang dimaksud sambil menanyakan pertanyaan yang telah sama-sama kami kumpulkan. List pertanyaannya bisa dilihat di blog si Samy ๐Ÿ˜€

Penerjemah Tersumpah

Ok, balik lagi ke melengkapi dokumen-dokumen tadi. Untuk health certificate tidak susah mengurusnya. Waktu itu saya pergi ke RS Borromeus, bilang mau cek kesehatan sambil menunjukkan form yang diberikan kedubes. RS sudah biasa mengisi form-form semacam itu sehingga saya langsung diarahkan ke dokter yang bersangkutan. Keesokan harinya saya sudah dapat mengambil hasil MCU saya.

Namun, salahnya saya adalah karena saya tidak menyangka saya akan lolos dan tidak berani berharap lebih, setelah saya lulus dan diwisuda, saya tidak terpikir untuk meminta terjemahan dan legalisasi ijazah serta transkrip saya! Aaa, sejak menerima kenyataan ini (bahwa saya lolos Primary Screening) barulah saya terpikir untuk meminta semua dokumen itu ke TU Prodi Elektro >_<

Ternyata oh ternyata, meminta dokumen-dokumen itu tak semudah membalik telapak tangan dan harus melalui beberapa prosedur. Tapi saya yakin ini berbeda di tiap universitas bahkan di tiap prodi di ITB. Saya tanya Samy, dia bisa memperoleh berkas itu hanya dalam waktu 1 minggu. Sementara saya waktu itu, dijanjikan 2 minggu. Padahal batas pengumpulan dokumen ini pun hanya 2 minggu. Saya pun me-request kepada bapak staf TU bisa tidak punya saya saja dipercepat. Tentu saja tidak bisa, sebab saat itu juga banyak yang meminta dokumen serupa. Saya juga sempat bertanya bisa kah saya saja yang meminta tanda tangan ke ketua Prodi dan Dekan, kebetulan saya kenal secara pribadi bapak-bapak dosen ini. Tapi ternyata tidak boleh juga. Semua harus melalui prosedur TU. Malahan bapaknya memarahi saya, kalau memang butuh cepat kenapa tidak dari sejak lulus mintanya. Ya saya tidak menyangkal sih, ini memang salah saya, saya terima dimarahi si bapak dengan lapang dada >_< Akhirnya karena si bapak TU kasihan sama saya, bapaknya bilang coba saja balik minggu depan, mudah-mudahan sudah bisa jadi.

Sembari menunggu minggu depan, saya menelepon kedubes mengenai ijazah saya yang kemungkinan tidak dapat diserahkan tepat waktu ini. Alhamdulillah, staf kedubes memang baik-baik dan sangat membantu, saya pun diberi saran untuk meminta terjemahan ke penerjemah tersumpah saja. Ah, kenapa tidak terpikirkan sedari awal, ya. Saya pun segera mencari jasa penerjemah tersumpah di Bandung. Dari hasil googling dan tanya sana-sini, akhirnya terpilihlah “Triad English Centre” yang berlokasi di Jl. Baladewa No. 77, Bandung.

Saya menghubungi mereka lewat email yang tercantum di websitenya. Prosesnya mudah dan cepat sekali. Saya cuma diminta mengirimkan scan dokumen yang hendak diterjemahkan, lalu transfer sejumlah uang. Tidak mahal, tidak sampai seratus ribu rupiah. Setelah transfer saya menghubungi mereka lagi dan mereka langsung mengerjakan dokumen saya. Saya sudah dapat mengambil dokumen saya 2 hari setelah saya memesan.

Jadi saran saya, segeralah meminta terjemahan ijazah dan transkrip nilai Anda setelah Anda lulus, tidak perlu menunggu hingga pengumuman Primary Screening keluar ๐Ÿ˜€

(NB: Temen saya yang lain yang juga lolos Primary Screening dan sejurusan dengan saya, Ririn, juga mendapat masalah dalam memperoleh terjemahan ijazahnya. Akhirnya dia pun mengikuti saya dengan membuat terjemahan ke penerjemah tersumpah :D)

*****

Alhamdulillah selain ijazah terjemahan ini, tidak ada masalah lain dalam kelengkapan dokumen. Dokumen-dokumen itu adalah :

  1. Formulir yang sama dengan fomr saat seleksi dokumen dulu plus foto (Asli 3)
  2. Abstrak Tesis (Asli 1, copy 2)
  3. Form Attachment plus foto (Asli 2)
  4. Field of Study (Asli 1, copy 2)
  5. Surat rekomendasi dari universitas (Asli 1, copy 2)
  6. Terjemah ijazah dan transkrip nilai dilegalisasi (Asli 1, copy 2)
  7. Health Certificate (cap dan ttd dokter) (Asli 1, copy 2)
  8. Fotocopy KTP (Copy 1)
  9. Foto 3×4 dan 4×6 (Asli masing-masing 2)

Setelah mengumpulkan semua dokumen ini ke Kedubes by airmail, tinggal 1 lagi langkah yang harus kami tempuh, yaitu :
Memperoleh Letter of Acceptance !!! >_<

Tiga Bulan

Standard

Rasa-rasanya, tak adil kalau saya tidak menceritakan peristiwa penting ini. Peristiwa yang merupakan pintu gerbang menuju babak baru dalam hidup saya. Jika banyak orang mengatakan lulus S1 berarti selamat datang di kehidupan yang sebenarnya, bagi saya, peristiwa inilah yang mengantarkan kita sebagai manusia ke kehidupan nyata. Bagi saya, tanpa adanya peristiwa ini, hidup saya tak akan pernah terasa lengkap.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga bulan saya memiliki status baru. Status yang sama sekali tidak remeh, dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nantinya. Status yang menimbulkan tanggung jawab baru. Peran baru. Status yang mengubah segalanya dalam hidup saya bahkan hingga sel terkecil dalam tubuh saya. Kelihatannya lebay banget ya? Namun tidak, itulah kenyataannya.

Peristiwa itu adalah pernikahan.

Mengapa menikah?

Well, it requires some times to explain why I finally decided to get married ๐Ÿ˜€ Sebenarnya tadinya saya biasa saja dengan yang namanya pernikahan. Ingin menikah, pasti. Tapi tidak benar-benar memasang target kapan akan menikah. Nanti juga kalau sudah waktunya pasti in sha Allah akan menikah juga, pikir saya dulu saat masih SMA. Waktu SD dan SMP, jangan ditanya lagi, tidak pernah terpikir sama sekali tentang pernikahan.

Hanya saja, ketika SMA saya pernah diberi tugas oleh seorang guru untuk membuat life-plan hingga umur 60 tahun. Life-plan tersebut berbentuk kotak-kotak seperti mainan ular tangga yang masing-masing kotaknya merepresentasikan 1 tahun usia. Ketika itu saya menuliskan di kotak no. 18 masuk kuliah, no. 22 lulus kuliah, dan iseng saja di kotak no. 23 menuliskan “menikah”. Waktu itu mikirnya, 23 umur yang cukup sehat untuk mulai mengandung anak, dan bisa punya beberapa anak sebelum usia 30 tahun. Katanya di atas 30 tahun cukup beresiko untuk melahirkan. Saya mengetahui ini dari pengalaman ibu saya sendiri yang melahirkan adik saya di umur 34 dan 40 tahun (sekarang satu di antara dua adik saya tersebut telah meninggal karena ada masalah saat melahirkan).

Hebat ya, masih SMA udah bisa mikir gitu? Sebenarnya tidak juga, alasan yang lebih utama kenapa menuliskan “menikah” di umur 23 itu karena iseng saja. Tidak terlalu cepat (ada jeda setahun setelah lulus kuliah), dan tidak terlalu terlambat.

Tapi memang banyak yang bilang, berhati-hatilah dengan perkataan, nanti bisa menjadi doa.

Lulus SMA masuk ke dunia kuliah masih belum terpikir “inilah saatnya mencari jodoh” ๐Ÿ˜› walaupun banyak yang bilang biasanya orang ketemu jodohnya di jaman kuliah. Tahun pertama dan kedua lempeng aja, sekolah yang baik, jadi mahasiswa baik-baik, ikut organisasi sana-sini selayaknya mahasiswa lainnya. Saya masih belum menemukan keinginan, ATAU alasan, kenapa saya harus menikah.

Sampai suatu ketika, saya ikut kajian yang diadakan oleh rohis keputrian kampus saat solat Jumat. Kajian ini memang rutin saya ikuti daripada tidak melakukan apa pun selagi laki-laki pada solat jumat. Waktu itu akhir tahun kedua kalau tidak salah. Pembicaranya seorang Teteh yang baru saja menikah (mungkin saat itu si Teteh umurnya sama kayak saya sekarang ya). Dan temanya, sudah jelas, “Pernikahan”.

Di situ si Teteh menceritakan salah satu motivasi beliau menikah (yang sepertinya sekarang menjadi motivasi pertama saya menikah). Intinya sederhana saja, yaitu karena hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

โ€œApabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, shaum/puasa wajib sebulan, memelihara kemaluannya, serta taat kepada suaminya, maka ia pasti masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendaki.โ€

Pada hadits tadi disebutkan syarat-syarat bagi seorang wanita yang ingin masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. In sha Allah di antara kita sudah biasa melakukan tiga yang pertama, yaitu shalat lima waktu, shaum Ramadhan, dan memelihara kemaluan. Namun syarat yang terakhir, yaitu taat kepada suami akan terpenuhi “jika dan hanya jika” kita “menikah”. Kalau belum menikah, tidak ada suami yang bisa ditaati, kan. Karena itu dengan menikah “saja” (asal kita taat pada suami) terpenuhilah sudah syarat untuk bisa masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendaki. Tanpa menikah, syarat di atas tidak akan pernah lengkap.

Sejak itu, saya memutuskan, saya ingin menikah, saya akan menikah, dan saya harus menikah. Saya ingin memiliki satu tiket untuk masuk surga dari pintu mana saja yang saya kehendaki, in sha Allah.

“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”. (QS. Ali Imran: 159)

Mengapa menikah muda?

Pertanyaan ini banyak sekali saya terima sejak saya merilis undangan kepada teman-teman. Sebenarnya sekali lagi, pun ketika saya telah memutuskan saya ingin menikah, saya tidak pernah memasang target umur berapa harus sudah menikah. Ketika itu keinginan saya hanya sebatas keinginan yang kerap saya ucapkan dalam doa. Y Allah, semoga saya sempat merasakan berkeluarga dalam hidup saya.

Tapi memang benar ya,ย berhati-hatilah dengan perkataan, nanti bisa menjadi doa.

Alhamdulillah, karena takdir Allah, saya diperkenankan menikah 15 hari sebelum ulang tahun saya yang ke-23. Saya bersyukur, apa yang saya tuliskan secara iseng di life-plan waktu saya SMA dulu memang menjadi kenyataan. Saya bersyukur keisengan yang saya tuliskan adalah sebuah keisengan yang baik ๐Ÿ™‚ Dari sini saya mengambil hikmah, bahwa memang perkataan yang keluar dari mulut kita harus lah perkataan yang baik-baik saja ๐Ÿ™‚

Namun, apakah benar 23 tahun itu muda? Perasaan banyak juga yang lebih muda dari saya sudah pada menikah. Saya rasa tua atau muda itu relatif dalam memutuskan pernikahan. Jadi saya memutuskan menikah pada umur ini bukan karena angkanya, namun karena keadaannya. Keadaan yang seperti apakah?

Pertama, pada saat itu Alhamdulillah saya sudah lulus dari bangku kuliah. Jadi saya merasa salah satu tahap penting dalam hidup saya telah saya selesaikan.

โ€œMaka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lainโ€. (QS. Al Insyirah: 7).

Karena itu saya rasa, sekarang lah saatnya saya kerjakan dan saya pikirkan dengan sungguh-sungguh “urusan lain” tersebut. Saya sendiri salut dengan teman-teman yang berani menikah sebelum lulus kuliah. Jika itu saya, saya mungkin tidak dapat membagi pikiran saya antara menyelesaikan studi saya dan mengurus keluarga saya. Dan memang Allah selalu memberi cobaan sesuai kemampuan hamba-Nya, ya. Jadi saya sangat bersyukur saya ditakdirkan menikah setelah saya lulus kuliah.

Kedua, tak dapat dipungkiri bahwa menikah dan berumah tangga itu memerlukan biaya (terutama setelah hari H pernikahan itu sendiri).ย  Saya sendiri memiliki keinginan jika saya menikah nanti adalah saat di mana saya sudah dapat berdiri di atas kaki saya sendiri.

Pada saat hari H wisuda (Juli 2012), saya dan suami (waktu itu bahkan belum jadi calon suami karena belum khitbah) sama-sama sedang menunggu pengumuman akhir beasiswa Monbusho. Pada akhir Agustus 2012 kami mendapat pengumuman bahwa saya lolos sedangkan dia tidak. Dengan pengumuman lolosnya saya mendapat beasiswa ini, maka dapat dikatakan bahwa saya in sha Allah akan dapat berdiri di atas kaki saya sendiri, paling tidak selama tiga tahun ke depan (jangka waktu memperoleh beasiswa ini). Karena bagi saya saat itu saya tidak ada bedanya dengan teman-teman yang melamar kerja dan mendapatkannya.

Di satu sisi, dengan pengumuman tidak lolosnya dia, dia harus mencari cara lain untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri. Sejak saat itu, dia mulai merintis usaha bersama teman-temannya, yang Alhamdulillah berlanjut hingga sekarang.

Pada saat itulah, setelah kami yakin kami dapat berdiri di atas kaki kami sendiri, kami memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah

Dengan keadaan kami saat ini (saya S2 di Jepang dan dia merintis usahanya di Indonesia), selama tiga bulan ini kami belum dapat tinggal bersama. Berat? Pasti. Kangen? Sudah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tentu saja rasanya tidak lengkap dan setiap hari saya selalu merasa ada yang hilang. Namun konsekuensi ini telah kami pikirkan sebelum menikah dan kami tidak menyesalinya. Kami telah bertekad memilih jalan ini. Bismillah, in sha Allah, Allah-lah yang akan menguatkan kami.

Banyak juga yang bertanya, mengapa menikah sekarang kalau belum bisa tinggal bersama?

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya“. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Yang ada di pikiran kami adalah, selama kami menikah karena Allah, karena ingin menjalin hubungan yang halal di mata-Nya, selama kami shalat dan tidak meninggalkan Al Qur’an dan sunnah Rasul (loh kok jadi banyak syaratnya ๐Ÿ˜€ ), kami memiliki keyakinan bahwa berkah dan karunia Allah akan senantiasa datang. Mungkin sekarang nampaknya berat hidup berpisah, tapi selama doa-doa untuk bersatu itu selalu dipanjatkan, kami yakin ada jalan suatu saat nanti untuk akhirnya bisa hidup bersama, mungkin dengan cara yang tidak terpikir saat ini. Mungkin saat ini pun kami bukan pasangan yang memiliki banyak materi, hidup juga sangat sederhana, tapi kami yakin Allah yang akan mencukupkan kami.

Justru saat-saat tidak bersama ini, datangnya pertemuan selanjutnya selalu dinantikan.

Saat-saat tidak bersama ini, hari-hari kami senantiasa terisi dengan mendoakan satu sama lain, karena hanya itulah pengikat kami saat ini. Doa.

IMG_7415