Monthly Archives: June 2013

初めて皮膚科に行った (Pertama Kali ke Dokter Kulit)

Standard

Sebelum bercerita mengenai dokter kulit, saya mau bercerita sedikit mengenai pelajaran bahasa Jepang yang saya terima di sini.

Seperti sudah saya bahas sekilas di postingan sebelumnya, selama 6 bulan ini saya mendapat kelas intensif bahasa Jepang. Nah kalau biasanya kursus bahasa Jepang di Indonesia (sepengalaman saya), kita ‘hanya’ belajar grammar, vocabulary, dan kanji, lain halnya dengan kelas bahasa Jepang yang saya dapat di sini. Selain belajar hal-hal di atas, terdapat juga bab khusus mengenai ‘penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa Jepang dalam aplikasi kehidupan sehari-hari’. Keren kan kedengerannya? 😀

Pada bab ini, kami biasanya diperlihatkan video yang berisikan film singkat penggunaan ungkapan tersebut yang diperankan oleh orang Jepang dan orang asing yang ceritanya lagi belajar di Jepang. Pada video ini, terdapat beberapa pilihan, yaitu ungkapan dalam situasi formal dan kasual. Jadi kami bisa melihat dan mempelajari bagaimana jika menghadapi kedua situasi tersebut. Dan tak hanya menonton video, kami juga mempraktekkan dialog-dialog tersebut di kelas.

Contoh-contoh peristiwa yang sudah saya pelajari sejauh ini antara lain bagaimana memesan makanan di restoran, bagaimana meminta barang yang sesuai keinginan di departemen store, bagaimana memesan buku di toko buku, bagaimana cara menanyakan dan memberi tahu letak suatu tempat, bagaimana jika kehilangan suatu barang di suatu tempat, dan lain-lain. Dan tentu saja, yang mau saya bahas di sini, bagaimana cara ke rumah sakit atau ke dokter dan membaca keterangan dalam resep obat.

Mungkin hal-hal di atas terlihat sepele dan mungkin juga ada yang berpikir, ah kalau sudah mengerti grammar-grammar dasar, pasti juga bisa kok melakukan tanpa diajari secara langsung seperti ini. Tapi tidak halnya jika kamu sudah berada di Jepang. Semua terasa begitu berbeda.

Bagi saya yang majornya bukan bahasa Jepang dan hanya mempelajari bahasa Jepang melalui kursus bahasa di Indonesia, pertama kali saya datang ke Jepang, ternyata tidak semudah itu mengaplikasikan grammar dasar yang sudah dipelajari ke kehidupan sehari-hari di sini. Ternyata banyak sekali ungkapan yang (saat itu) belum pernah saya pelajari sepanjang sejarah saya belajar bahasa Jepang (kayak udah lama aja belajarnya 😛 ) Dan saya benar-benar merasakan manfaat belajar ungkapan sehari-hari tersebut saat saya mengalaminya langsung di sini.

Jadi ceritanya sudah sebulan ini kaki saya gatal-gatal. Ada satu bagian yang paling gatal dan sepertinya tidak sengaja saya garuk hingga luka. Kemudian luka tersebut saya olesi minyak tawon karena sepengalaman saya minyak tawon bisa menyembuhkan hampir semua penyakit kulit. Akhirnya luka tersebut mengering dan membentuk koreng. Lama kelamaan koreng tersebut mengelupas dengan sendirinya dan membentuk bagian kulit yang agak tipis dibanding bagian yang tidak ada korengnya (kebayang ga sih?).

Saat itu terjadi, saya senang karena saya pikir akhirnya kaki saya sembuh juga. Tapi tidak disangka-sangka dua hari yang lalu, bekas luka tersebut kembali mengeras dan membentuk permukaan kasar. Dan lebih parah lagi, tangan saya sekarang ikut gatal-gatal 😦

Ah sudahlah ini tak bisa dibiarkan seperti ini terus, pikir saya. Sudah sebulan tidak sembuh-sembuh dan makin parah sudah saatnya meminta pertolongan ahlinya. Akhirnya kemarin saya berniat ke klinik kampus hari ini setelah kelas bahasa Jepang. Namun karena saya belum pede harus menerangkan penyakit saya ini dalam bahasa Jepang, saya minta tolong kak Nagisa menemani saya. Kak Nagisa ini sama-sama penerima beasiswa Monbusho G2G dan berangkatnya juga bareng saya, tapi jurusannya bahasa Jepang, jadi tidak perlu diragukan lagi kemampuan bahasa Jepangnya 🙂

So, pergilah kami ke klinik kampus sore ini jam 3 setelah kelas bahasa Jepang. Sesampainya di klinik, kak Nagisa menanyakan ke uketsuke (resepsionis), kalau gatal-gatal, harus pergi ke dokter mana. Ternyata dokter umumnya klinik lagi libur sampai hari ini, hahaha, ga jodoh banget saya sama dokternya. Jadi besok baru terima pasien lagi. Terus sama uketsuke-nya kami diberitahu klinik khusus kulit yang sangat dekat dengan kampus, bahkan kami diberi peta menuju ke sana. Begitu melihat petanya, saya takjub sendiri, ga nyangka ternyata banyak kanji yang sudah bisa saya baca dan saya bisa memahami peta tersebut dengan baik 😥 Terharu…

photo

Dan pergilah kami ke klinik kulit tersebut yang memang terletak sangat dekat dengan kampus. Oya, klinik kulit ini dalam bahasa Jepang disebut ‘hifuka’ yang kanjinya ada di judul postingan ini (皮膚科).

Sampai di hifuka, kami disambut kembali di uketsuke, dan kalimat pertama yang diucapkan kak Nagisa, benar-benar sama persis dengan yang saya pelajari di kelas >_< “Kami baru pertama kali datang, harus bagaimana ya?” Sebenarnya dalam bahasa Jepang cuma “hajimete nan desu kedo…” kemudian biarkanlah kalimat tersebut menggantung, hahaha…

Dan seperti yang dialami si pemeran dalam video yang saya tonton di kelas, saya juga disuruh mengisi form bagi pasien yang baru pertama datang. Dari form ini kemudian kami akan dibuatkan kartu pasien klinik kulit ini. Kemudian saya diminta menunjukkan kartu asuransi kesehatan (hokenshou) yang sudah saya buat pada minggu pertama saya tiba di Jepang. Dengan kartu asuransi ini, kita hanya perlu membayar 30% dari biaya asli berobatnya. Alhamdulillah…

Kemudian resepsionisnya meminta saya untuk menunggu di kursi ruang tunggu yang tersedia. Sekitar 30 menit kemudian, nama saya dipanggil. Aaa..benar-benar seperti di video yang saya tonton di kelas, haha. Saya jadi excited sendiri.

Masuk ke ruang dokter, saya mencoba menjelaskan sendiri tanpa bantuan kak Nagisa. Saya bilang tangan dan kaki saya gatal-gatal. Yang kaki sudah gatal dari sebulan lalu, sedangkan yang di tangan baru dua hari yang lalu. Kemudian kak Nagisa menambahkan, kira-kira gatalnya kenapa ya dok, apa karena alergi, atau terkena kutu.

Kemudian dokter menjelaskan analisisnya dalam bahasa Jepang. Namun ada yang istimewa dari dokter ini. Selagi menjelaskan, beliau juga menuliskan penjelasannya tersebut dalam bahasa Inggris di secarik kertas, dan hebatnya, tulisannya bisa dibaca! >_<

photo (1)

Wow, ternyata sebagian penjelasan dokter bisa saya mengerti selagi mendengarkan sekaligus membaca terjemahannya. Namun tetap ada juga sebagian informasi yang ditambahkan oleh kak Nagisa. Wah senang sekali rasanya ternyata saya sudah bisa juga pergi ke dokter tanpa benar-benar blank dengan penjelasan dokternya 🙂 Ternyata kata dokter ini bukan karena kutu atau jamur, tapi kemungkinan karena kering, jadi gatal lalu digaruk, akhirnya lapisan kulitnya menebal dan kasar.

Setelah itu saya membayar biaya konsultasi dokter lalu pergi ke apotek (yakkyoku) yang terletak di gedung yang sama dengan hifuka. Di apotek saya ditanya apakah punya ‘kusuri techou’ alias ‘catatan obat’. Wah apa ya kusuri techou itu? Kak Nagisa juga ga tau, akhirnya saya bilang saja belum punya. Dan saya diminta mengisi form yang menanyakan riwayat penyakit yang pernah saya derita. Mungkin kusuri techou itu catatan obat-obat yang pernah kita gunakan selama ini kali ya.

Tidak lama kemudian saya pun diberikan salep dan dijelaskan cara menggunakannya. Wah ternyata hal ini pun sudah pernah saya pelajari di kelas jadi Alhamdulillah saya sudah tidak asing dengan beberapa istilahnya dan bisa memahami penjelasan mbak-mbak apoteknya dengan baik 🙂

photo (2)

Ini bungkus obatnya. Menurut tulisan di covernya ini obat luar, dipakainya 2 kali sehari dengan cara dioleskan. Hiks, tapi nulis namanya salah, padahal waktu ngisi formnya saya udah nulis katakana-nya juga lho 😦

Yeay, Alhamdulillah hari ini saya memperoleh skill baru yaitu pergi ke dokter. Senang sekali rasanya jika apa yang kita pelajari di kelas benar-benar bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata memang benar ya, cara terbaik mempelajari suatu bahasa adalah dengan merasakan tinggal di negara yang menggunakan bahasa tersebut 🙂

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?

First 2 Months in Japan

Standard

Alhamdulillah akhirnya bisa nulis blog lagi. Setelah beberapa bulan terakhir disibukkan dengan persiapan ke Jepang dan juga menyelesaikan kerjaan sebelum berangkat, blog jadi benar-benar terlantar gini L Gomen nasai..

Hmm, tanpa terasa sudah dua bulan saya di sini. Banyak juga suka-duka yang dialami, tapi banyakan sukanya sih, Alhamdulillah 🙂

Sakura

Ketika saya datang ke sini yaitu tanggal 2 April, seharusnya bunga-bunga sakura baru saja bermekaran. Saya sudah membayangkan akan disambut bunga sakura di kiri-kanan jalan, membayangkan bakal hanami sama temen-temen di sini, dan foto-foto di taman dengan latar belakang bunga sakura. Tapi ternyata, semua berubah ketika negara api menyerang (karena global warming). Tanpa disangka, sakura mekar sebelum waktunya. Yang biasanya awal April, ini akhir Maret sudah pada bermekaran. Dan karena memang si sakura hanya mekar sekitar 1 atau 2 minggu, ketika saya datang, sakuranya udah pada rontok L Jadi saya cuma dapet sisa-sisa sakura yang ada. Walaupun tak seindah foto yang biasa diliat di website-website tentang Jepang, Alhamdulillah saya masih tetap bisa melihat cantiknya bunga ini saat mekar 🙂

1

Spring

Bayangan saya tentang spring adalah cuaca yang sejuk dan pemandangan yang indah. Tapi ternyata bukan sejuk yang saya dapat melainkan dingiiinn bangeett >_< Selama 2 minggu awal menurut ramalan cuaca built-in hp saya, suhu sering sekali di bawah 150C, bahkan saat malam hingga pagi bisa sampai di bawah 100C! Dan pada suatu pagi saya terbangun dalam keadaan menggigil dan jendela kamar saya bagian dalam basah semua. Ketika saya cek ramalan cuaca, suhu saat itu 00C! Ga tau bener apa lebay doang si aplikasi, tapi ternyata seperti ini rasanya 0 derajat ya. Antara ga kuat dan excited. Hehe 😀

Ngomong-ngomong tentang weather forecast, saya di sini jadi terbiasa mengecek weather forecast sebelum bepergian. Soalnya mau menentukan hari ini pakai baju apa, hehehe. Eits tapi bukan untuk gaya-gayaa, lho, melainkan menyesuaikan dengan keadaan cuaca saat itu. Sebagai contoh, kalau diramalkan hari ini akan hujan, saya bawa payung, pakai jaket yg ga menyerap air, dan pakai sepatu yang juga tahan air. Kalau suhu di bawah 150C, saya bakal pakai baju beberapa lapis dan bawa syal. Sebaliknya, kalau cuaca (agak) hangat, lapisan baju saya lebih sedikit supaya ga kepanasan. Hehe, seru ya J

Kembali ke cuaca. Selain cuaca yang dingin, angin di Tsukuba juga sangat kencang. Itulah yang menyebabkan sakura pada cepat rontok semua. Hiks. Ini perbandingan foto yang saya ambil dalam rentang waktu 2 minggu

2

Karena tadinya saya pikir saat spring ga akan dingin-dingin banget, saya cuma bawa satu jaket yang agak tebal dari Indonesia. Sisanya saya cuma bawa cardigan-cardigan tipis, cuma buat gaya doang, bukan untuk menghangatkan. Ternyata, jaket ‘tebal’ saya ini pun tak mampu menahan dinginnya musim semi tahun ini. Terpaksalah saya akhirnya beli jaket lagi di sini. Alhamdulillah, di Jepang banyak sekali toko pakaian second yang masih sangat bagus, jadi saya bisa membeli jaket dengan harga sangat murah. Selain itu saya juga dapat jaket dan scarf/syal dari senpai di sini karena pada kasian melihat saya kedinginan. Hehe..

Di Jepang ini saya baru mengenal yang namanya ‘kairo’. Dulu saya cuma melihat kairo di dorama-dorama Jepang dan Korea. Kairo ini sering dipegang-pegang saat cuaca dingin. Katanya bisa menghangatkan. Dulu saya bingung gimana cara benda berbentuk segi empat itu bisa menghangatkan. Eh ternyata bener lho, kalau dipegang dan digosok-gosok, kairo jadi hangat sekali jadi bisa disimpan di saku jaket dan dipegang-pegang waktu jalan. Ini karena kairo berisi serbuk karbon yang jika digosok-gosok terjadi perpindahan kalor dan akan menghasilkan panas (kalo ga salah 😛 )

Asrama

Alhamdulillah University of Tsukuba (Tsukuba-dai) otomatis menyediakan asrama bagi mahasiswa asing, jadi saya tidak mengalami bersusah payah mencari tempat tinggal sebelum datang ke Jepang. Asrama Tsukuba-dai terletak di dalam areal kampus, karenanya sangat dekat dengan lab dan gedung perkuliahan. Karena areal kampus Tsukuba sangat luas (katanya Tsukuba-dai kampus terluas se-Jepang, bener ga ya?) untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain terkadang tidak cukup dengan berjalan kaki seperti di ITB, namun memerlukan sepeda atau bus kampus. Di tiap bus stop, bus datang setiap 20 menit sekali dan di tiap stasiun sudah terpampang jadwal kedatangan tiap bus, jadi kita tinggal memfoto jadwal dari bus stop yang akan sering kita lewati supaya tidak terlambat untuk naik bus. Harga tiket untuk naik bus ini bagi pelajar adalah 4200 yen per tahun, dan bagi yang bukan pelajar harga tiketnya tergantung jarak.

Bagi yang belum punya sepeda, bus ini sangat praktis karena bus stop terakhir dari bus ini adalah Tsukuba Sentaa di mana terletak berbagai shopping mall dan supermarket. Tentu saja ini sangat memudahkan jika tiba-tiba kita perlu mecari barang yang tidak ada di konbini dekat asrama masing-masing. Kelemahan bus ini hanya memang kita harus sabar menunggu.

Asrama yang saya tempati ini terletak di area yang bernama Ichinoya. Ternyata (lagi-lagi) Alhamdulillah asrama yang saya dapatkan ini adalah asrama terbaik di Tsukuba-dai. Di dalam kamar ada kamar mandi, tempat tidur, meja belajar dan kursi, serta lemari baju. Yang dipakai bersama penghuni lain hanya dapur, mesing cuci, serta pengering baju. Asrama di area lain tidak memiliki kamar mandi dalam, tidak disediakan lemari baju, serta ukurannya jauh lebih sempit.

Untuk mencuci baju dan mengeringkannya menggunakan mesin cuci dan pengering yang tersedia, kami harus memasukkan koin 100 yen untuk masing-masing mesin. Jadi total untuk mencuci baju memerlukan uang 200 yen alias 20ribu rupiah. Karena mahal, saya mencuci baju seminggu sekali saja, jadi sekaligus banyak baju yang dicuci. Dan saya juga tidak perlu khawatir kehabisan baju karena mesin pengering di sini ajaib banget >_< Bajunya benar-benar kering dan hangat seperti habis dijemur di bawah terik matahari seharian. Jadi saya ga perlu repot-repot menjemur baju seperti di Indonesia deh 🙂

Disiplin

Jepang sangat terkenal dengan disiplin waktunya, semua orang sudah tau ini ya kayaknya. Dua tahun lalu saat saya pertama kali datang ke Jepang, saya ga ngerti kenapa orang suka lari-lari waktu mau naik kereta. Saya pikir kalau terlambat toh nanti beberapa menit lagi juga bakal ada kereta dengan tujuan yang sama kan, jadi buat apa lari-lari? Sekarang saya sudah tahu jawabannya. Contoh kasusnya adalah apa yang saya alami sendiri di Tsukuba.

Suatu malam, hari ketiga saya tiba di Jepang, saya dan seorang teman yang sama-sama baru datang bermaksud untuk membeli hape di Tsukuba Sentaa. Kami pun keluar setelah solat isya sekitar jam setengah 8 malam. Saat itu kami belum ngeh mengenai jadwal bus yang cuma lewat 20 menit sekali itu, jadi kami jalan dengan santai.

Ketika melewati sebuah gomi (tempat sampah yang berukuran besar dan bersekat-sekat sesuai jenis sampahnya), saya melihat ada yang membuang rak buku, dan kondisinya masih sangat bagus dan bersih. Kami pun berhenti sebentar dan mempertimbangkan apakah mengambil rak buku tersebut dan balik ke asrama sebentar untuk menaruhnya, atau tetap meneruskan perjalanan ke bus stop. Akhirnya karena males, kami memutuskan tetap lanjut ke bus stop dengan harapan, kalau rejeki, rak buku itu masih akan ada di situ sepulangnya kami dari membeli hape.

Begitu mendekati bus stop, busnya sudah terlihat di kejauhan. Kami pun lari-lari menuju bus stop tersebut. Sebelum kami sampai bus stop, busnya udah berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di bus stop itu. Ketika penumpang terakhir sudah turun, tepat sejengkal lagi kami sampai di bus stop. Tak disangka, pintu bus langsung tertutup tanpa menunggu kami, dan bus pun pergi begitu saja. Saya dan teman saya langsung speechless dan tertawa miris. Ketika itu kami langsung melihat jadwal bus dan kami baru tau kalau bus berikutnya datang 20 menit kemudian yaitu jam 20.03. Kami pun menunggu bus berikutnya.

Perjalanan dari bus stop terdekat asrama ke Tsukuba Sentaa memakan waktu 20 menit, jadi kami sampai sekitar jam 20.25. Karena belum tau letak persis tempat beli hapenya, kami mencari-cari dulu dan sekitar jam 20.30 baru menemukan kantornya Softbank, salah satu provider di Jepang yang banyak dipake orang Indonesia karena harganya paling murah 😀

Sampai di kantornya kami langsung masuk dan bilang ke mbak salesnya kalau kami mau beli hape. Ternyata oh ternyata pemirsa, memang saat itu kantornya belum tutup, tapi jam terakhir mereka dapat menerima pelanggan untuk beli hape adalah jam 20.15. Jadi bagi pelanggan terakhir yang datang masih dapat dilayani hingga pukul 20.30. Jadi untuk kami yang datang pukul 20.30 sudah tidak diterima lagi karena dapat membuat mereka telat tutup kantornya.

Saya dan teman saya lagi-lagi cuma ketawa aja dengan pengalaman kami hari ini. Sudah tertinggal bus, ga bisa beli hape pula karena telat datang. Akhirnya kami mencari konter Softbank di dalam mall yang ada di Tsukuba Sentaa, dan Alhamdulillahnya masih ada yang buka dan menerima pelanggan. Jadi juga kami beli hape malam ini. 🙂

Hikmah dari pengalaman ini adalah : seandainya kami tidak berhenti untuk melihat rak buku di gomi, mungkin kami akan tiba di bus stop 1 menit lebih awal, dan artinya kami tidak akan tertinggal bus. Dan kalau kami tidak tertinggal bus, artinya kami bisa sampai di Tsukuba Sentaa 20 menit lebih awal, dan artinya kantor Softbank yang pertama kali kami datangi masih mau menerima pelanggan, dan artinya kami tidak perlu bersusah payah mencari konter Softbank di tempat lain lagi.

Sejak malam ini, saya langsung memfoto jadwal kedatangan bus di bus stop terdekat asrama saya itu. Dan karena busnya cuma datang 20 menit sekali, artinya jika ada appointment saya harus siap 30 menit sebelum appointment tersebut jika tidak mau terlambat. Dan sekarang saya mengerti kenapa orang-orang Jepang sering lari-lari untuk menuju kereta atau bus di sini karena waktu 1 menit saja bisa begitu berharga.

Membeli hape

Nah sekarang saya mau cerita tentang proses membeli hape di sini.

Beli hape dan nomor di Jepang tidak semudah di Indonesia. Di sini beli hape harus di konter provider yang diinginkan, karena provider tersebutlah yang menyediakan berbagai jenis hape yang dapat kita pilih. Jadi di sini beli hape dan nomor itu satu kesatuan, bukan 2 hal yang berbeda, dan karenanya kita tidak dapat ganti-ganti nomor hape seenaknya.

Jadi jika sudah memutuskan mau pake provider apa, datanglah ke konter provider tersebut, dan pilihlah jenis hape yang diinginkan. Setelah itu kita harus mengisi berbagai formulir berkaitan dengan data pribadi kita. Kalau sudah, kita bisa bawa pulang hape tanpa mengeluarkan uang sedikitp pun J

Loh, jadi gimana system pembayarannya?

Nah pembayaran hape di sini sistemnya kredit. Per bulan kita akan mendapat tagihan yang include cicilan hape serta pulsa telepon, sms, dan internet yang kita gunakan pada bulan itu. Sebagai contoh provider yang saya pakai, Softbank. Tagihan dasar hape saya per bulan adalah 5000 sekian yen. Uang tersebut sudah termasuk cicilan harga hape, sms dan telepon gratis ke sesame Softbank, serta internet 8 Gb. Nah kalau kita menggunakan hape di luar hal-hal di atas, akan ada biaya tambahan lagi. Jadi kita baru akan mengkhawatirkan tagihan hape kita di akhir bulan, hihi 😀 Tapi kita bisa kok mengecek tagihan hape kita di website provider masing-masing.

Belajar Bahasa Jepang

Alhamdulillah penerima beasiswa Monbusho G2G mendapat kesempatan 6 bulan untuk fokus belajar bahasa Jepang. Sebenarnya untuk menentukan level atau kelas bahasa Jepang mana yang harus kita ambil, ada placement test yang wajib dilakukan di awal kedatangan di sini. Namun untuk penerima Monbusho G2G, test itu cuma untuk mengetahui siapa yang sudah pernah belajar bahasa Jepang sebelum datang ke Jepang, dan siapa yang belum pernah sama sekali. Jadi kami terbagi menjadi 2 kelas intensif, kelas pertama bagi yang belum pernah belajar sama sekali jadi mulai dari belajar katakana-hiragana, sedangkan saya masuk ke kelas yang sudah pernah belajar, jadi kami belajarnya tinggal melanjutkan grammar dan kanji yang selama ini sudah dipelajari.

Karena kelas saya ini judulnya kelas intensif, kami belajar dari jam 08.40-15.00 tiap hari dari Senin sampe Jumat! Haha, benar-benar intensif kan udah kayak kuliah bahasa Jepang deh saya. Kelas saya terdiri dari teman-teman yang berasal dari Kuba, Serbia, Brazil, Portugal, dan Chile. Senangnya, teman-teman kelas saya ini asyik semua orangnya, dan juga pinter-pinter jadi belajarnya cepat. Jadi saya selalu senang kembali ke kelas meskipun harus bangun pagi banget dan pulang sore banget J

Sholat

Jika di Indonesia kita bisa dengan mudah mengetahui waktu sholat karena adzan berkumandang dari segala penjuru, tidak demikian halnya dengan di sini.

Sebagai warga minoritas, tentu saja tidak bisa mengharapkan dengan mudah mendengar suara adzan. Walaupun ada masjid di beberapa kota besar, tapi (kalo ga salah) suara adzan ga boleh sampai keluar bangunan masjid karena khawatir mengganggu.

Namun jaman sekarang teknologi sudah canggih. Kita dapat mengunduh aplikasi yang bisa memberi tahu waktu solat dan arah kiblat kalau kita menggunakan smartphone. Jadi saya tau waktu sholat dari notification yang diberikan oleh aplikasi ini.

Tempat solatnya bagaimana?

Waktu sholat zuhur harus saya sempat-sempatkan di antara waktu istirahat makan siang kelas bahasa Jepang saya. Karena begitu banyaknya mahasiswa Muslim di Tsukuba, staf-staf Tsukuba sudah tau mengenai kami yang harus melaksanakan sholat di waktu-waktu tertentu. Jadi ketika saya meinta izin untuk sholat, mereka bilang saya boleh sholat di mana saja.

Tempat yang paling aman tentu saja kelas bahasa Jepang saya sendiri. Waktu istirahat teman-teman saya selalu makan di luar kelas. Biasanya selesai makan, saya izin kabur duluan ke kelas sementara yang lain masih pada ngobrol-ngobrol. Jadi saya bisa sholat di kelas dengan tenang.

Sholat ashar dan maghrib biasanya saya masih di lab. Jadi saya juga sudah meminta izin untuk menggunakan space kosong di pojokan tiap waktu sholat tiba untuk melaksanakan sholat. Alhamdulillah, teman-teman dan sensei semua memaklumi dan mengizinkan J

Bagaimana jika sedang jalan-jalan?

Biasanya kami diliatin sih kalau lagi wudhu di toilet L Ya mau bagaimana lagi, namanya juga minoritas. Biarin deh dibilang aneh juga.

Orang Jepang sangat menjaga kebersihan, karena itu toilet di Jepang sangat bersih dan kering. Sehabis wudhu, sebaiknya kita membersihkan wastafel dan lantai yang terkena cipratan air wudhu kita. Sudah sewajarnyalah kita mengikuti aturan yang berlaku di suatu tempat, karena kita tidak hanya membawa nama diri sendiri, namun juga nama Indonesia dan Islam pastinya. Ga mau kan orang Islam dicap jorok gara-gara kalau wudhu ngebasahin toilet  >_<

Mengenai tempat solatnya, saya sejauh ini pernah solat di densha, tapi kebanyakan solat sambil duduk, karena sulit sekali menemukan tempat yang cukup lowong untuk menggelar alas solat, dan saya juga kurang yakin dengan kebersihannya, habis orang Jepang sering banget bawa anjing jalan-jalan. Jadi yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah solat sambil duduk.

*****

Yah seperti inilah selayang pandang kehidupan saya selama dua bulan di sini. Alhamdulillah saya senang dan betah walaupun tiap hari sibuk dengan berbagai kegiatan. Insya Allah kalau ada cerita-cerita menarik lainnya akan segera saya share di sini di waktu yang akan datang 🙂