Monthly Archives: November 2012

Trip to KL-Singapore Day #2 : Genting Highland, Islamic Arts Museum, Masjid Negara, Bukit Bintang, Twin Tower

Standard

Setelah postingan sebelumnya menceritakan tentang hari pertama saya di KL, sekarang berlanjut ke hari keduanya. Hari ini, 16 November 2012, tujuan wisata utama kami adalah Genting Highland. Apa itu Genting Highland? Ada apa saja di sana?

Secara singkat, Genting merupakan daerah wisata yang terletak di atas gunung. Mirip Puncak kalau di Indonesia. Di Genting ini, wisatanya terpusat di sebuah tempat bernama Resort World Genting Highland. Terdapat berbagai wahana yang menarik untuk dikunjungi di sini, antara lain theme park outdoor dan indoor, skyway (alias cable car), snow world, museum Ripley’s Believe it or not, dan yang paling terkenal adalah casino legalnya 😀 Oiya, ada hotel juga.

Saya dan Nisa yang sama-sama belum pernah ngerasain salju seumur hidup hanya berniat ke Snow World-nya Genting Highland, dengan sarana transportasi skyway untuk menuju ke wahana Genting-nya sendiri dan opsi tambahan Museum Ripley’s jika masih ada waktu. Sedangkan untuk theme park, kami tidak terlalu tertarik karena kami berpikir tidak akan banyak perbedaan dengan theme park lain yang sudah pernah kami kunjungi sebelumnya.

Genting Highland

Pagi ini kami awali dengan sarapan roti yang sudah disediakan hotel pada pukul 08.00. Sebenarnya, seorang teman di Indonesia sebelumnya menyarankan saya untuk segera membeli tiket bus menuju Genting pukul 08.00. Namun menurut informasi dari Kak Syarifah, bus menuju Genting baru ada jam 09.00, jadi kami tidak terburu-buru berangkat ke terminal. Lagipula terminalnya dekat, yaitu Terminal Pudu Sentral yang hanya berjarak 200 m dari hotel.

Selesai sarapan pukul 08.30 kami segera berjalan santai menuju Terminal Pudu Sentral. Sampai di terminal sekitar pukul 08.45 (karena jalannya santai :D), kami langsung menuju konter bus menuju Genting yang terletak di lantai 2 terminal. Konter tersebut bertuliskan “Go Genting” di atasnya.

Saat tiba di sana, kami langsung menyatakan hendak memesan tiket bus ke Genting untuk keberangkatan pukul 09.00 alias 15 menit lagi. Dan tahukah Anda saudara-saudara?? Tiket untuk bus jam 09.00 sudah habiiissss 😦 Ternyata benar kata teman saya, jam 08.00 harusnya saya sudah memesan tiket karena jam 09.00 adalah jam favorit keberangkatan ke Genting (karena keberangkatan pertama), dan busnya cuma ada sejam sekali, yang artinya saya baru bisa berangkat ke Genting jam 10.00!! Huaaa rugi sejam deh saya.. 😦

Seakan tak cukup cobaan hari itu, seharusnya tiket skyway juga dapat dibeli di konter tersebut. Namun ternyata, terdapat pengumuman di kaca konternya yang kira-kira tulisannya begini:

“Skyway ditutup sementara sejak tanggal 15-17 November 2012 karena sedang ada maintenance

Subhanallah, ternyata belum rejeki kami untuk naik skyway. Bahkan skyway-nya benar-benar ditutup di tanggal kami berada di KL yaitu 15-17 November -_-” Ya sudahlah, karena sebenarnya kami sudah pernah merasakan cable car di Taman Mini, kami ikhlaskan saja rencana yang belum bisa terlaksana ini.. 😦

Jadi, berdasarkan pengalaman ini, saya menyarankan:

  1. Belilah tiket bus ke Genting sepagi mungkin, paling aman mulai jam 08.00 untuk keberangkatan jam 09.00.
  2. Cek waktu maintenance cable car di website ini. Saya sendiri sih tidak merasa melihat ada info mengenai maintenance tersebut hingga saat saya berangkat ke KL. Mudah-mudahan di masa yang akan datang ada info lebih jelasnya.

Selain membeli tiket bus pergi, kami juga sekalian membeli tiket bus kembali ke Pudu Sentral. Kami memilih bus jam 15.00 karena masih banyak tempat-tempat yang harus kami kunjungi di KL hari ini.

Dari jam 09.00 hingga jam 10.00 kami jalan-jalan keliling terminal untuk melihat-lihat apa yang dijual. Tak disangka saya menemukan komik Doraemon berbahasa Melayu. Iseng saja saya beli untuk bacaan di kala senggang sekaligus sebagai souvenir 😀

Pukul 09.50 kami turun ke platform 1 (jadi ruang tunggu terminal ini terletak di lantai 1-3, sedangkan platform busnya di basement), dan pukul 10.00 lebih dikit bus bertuliskan Genting berwarna ungu pun datang. Kami duduk sesuai nomor kursi yang ada di tiket. Dan ternyata bus jam 10 ini ga terlalu penuh, jadi memang jam keberangkatan favorit adalah jam 9 tadi. Dicatat ya 😀

Dari Pudu Sentral kita akan naik bus menuju lower skyway. Dari lower skyway ini kita akan seharusnya naik skyway (cable car) ke upper skyway. Di upper skyway inilah Resort World Genting Highland berada. Perjalanan ke lower skyway dari Pudu Sentral memakan waktu 1 jam. Sampai di lower skyway sebenarnya ada juga konter untuk membeli tiket skyway, jadi bisa juga kalau baru mau beli di sini.

Karena pada saat kami di sana skyway sedang di-maintenance, disediakan free shuttle yang akan membawa kami ke upper skyway. Free shuttle ini bus yang menyerupai bus Aerobus yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Perjalanan dari lower skyway ke upper skyway ini melewati pemandangan yang sangaaatt indah. Jalannya menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat. Di kanan-kiri jalan terhampar hutan yang rindang dan hijau. Selain itu, ada juga kuil yang sangat indah. Saya bingung, ngapain ya susah-susah ngebangun kuil di situ dan gimana caranya ngangkutin batu-batu dan material bangunan di tempat setinggi itu pada jaman dulu?

Kuil di atas gunung

Ternyata track yang kami lalui ini sejalan dengan track skyway. Saya menyadarinya ketika melihat kabel besar tempat tergantungnya cable car yang terbentang di atas hutan. Wah, kebayang pasti seru sekali kalau naik cable car di atas hutan rindang itu >_<(tapi Nisa  yang takut ketinggian, bersyukur kami ga jadi naik cable car :D) Sekitar 15 menit dari lower skyway, kami mulai dikelilingi kabut alias awan tipis. Benar-benar indah deh pokoknya, rasanya beda dengan dikelilingi awan waktu naik pesawat 😀 Tapi saya juga agak pusing karena jalannya yang menanjak tinggi dan berkelok-kelok.

Perjalanan ini memakan waktu setengah jam sendiri. Jadi total 1,5 jam kami baru sampai di Resort World-nya, alias sudah jam 11.30. Oleh sebab itulah keberangkatan jam 09.00 sangat favorit (dan sangat saya sarankan), semakin cepat sampai semakin baik supaya Genting-nya belum terlalu penuh dan bagi yang mau ke theme park, ngantre-nya juga ga terlalu panjang.

Btw, hari ini kan padahal hari Jumat di mana para lelaki akan melaksanakan solat Jumat. Tapi Genting-nya tetap penuh, lho. Mungkin ada tempat untuk solat Jumat kali ya di sana.

Kemudian kami langsung mencari lokasi Snow World. Hasil bertanya-tanya dengan beberapa pak satpam, katanya Snow World terletak di indoor theme park, yaitu di First World Hotel (ini nama hotel yang ada di Genting). Kami pun berjalan kaki ke sana karena letak hotelnya agak jauh dari tempat kami turun dari Shuttle Bus.

Suhunya -6 derajat celcius

Sampai di konter pembelian tiket Snow World, kami membayar RM 25 untuk masing-masing, dan kami diberi tahu mbak-mbak kasirnya bahwa jam masuk berikutnya adalah jam 12.30. Saat itu saya baru tau kalau di dalam ruangan bersalju itu dibatasi waktu kunjungannya cuma 40 menit. Ya sudah deh, kami nunggu lagi sambil berjalan-jalan di dalam indoor theme park melihat-lihat wahana, toko-toko, serta suguhan hiburan yang ada di sana.

Pukul 12.20 kami sudah mengantre masuk ke Snow World. Alhamdulillah mengantrenya tidak lama. Begitu masuk, kami diberikan kunci loker untuk menaruh tas dan sepatu. Kamera dan hp juga tidak boleh dibawa masuk. Lalu kami dipersilakan memilih winter coat, sarung tangan, serta sepatu boot sesuai ukuran. Habis itu masuk deh ke ruangan bersaljunya.

Di ruangan yang bersuhu -6 derajat celcius ini rasanya seperti di dalam kulkas. Ternyata seperti ini ya rasanya winter. たいへんだ~。 😦 Maaf ya saya norak, secara belum pernah ngerasain salju seumur hidup. 😛

Di dalam ruangan ada beberapa fotografer yang siap memfoto kita di beberapa spot menarik. Selesai difoto dengan beberapa gaya, kami diberikan karcis yang dapat “ditukar” foto di pintu keluar nanti. Maksudnya “ditukar” ini tentu saja ditukar dengan uang alias beli. Hehe.. 😀

Seru juga bermain-main di sini. Kita bisa bermain seluncuran dengan ban yang sudah disediakan, atau bisa juga main lempar-lemparan salju. Beberapa menit sekali ada salju yang turun dari atap. Hahaha 😀 Ada rumah igloo, ada juga ruangan mirip taman yang agak lebih hangat lengkap dengan kursi tamannya.

Ternyata 40 menit itu memang waktu yang pas untuk main-main di dalam “kulkas” ini. Kalo lebih dari itu, kayaknya saya juga ga akan  kuat >_< Pukul 13.10 ada peluit yang ditiup seperti di akhir pertandingan sepak bola 😀

Setelah mengembalikan jaket, sarung tangan, dan sepatu boot, kami langsung mengantre untuk ambil foto. FYI, harga selembar fotonya RM 40, kalau beli 3 jadi RM 100. Mahal ya 😦 Lebih mahal daripada masuk ke wahananya sendiri. Tapi kami tetap beli 3 foto. Haha. Ini salah fotonya

Antre foto ini ternyata memakan waktu 40 menit sendiri. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.45. Karena bus yang akan membawa kami ke Pudu Sentral berangkatnya dari lower skyway, kami harus memperhitungkan waktu 30 menit dari upper skyway ke lower skyway. Berarti paling lambat 14.15 kami harus sudah naik shuttle. Tadinya kami ingin mengunjungi Museum Ripley’s. Namun rasanya 30 menit tidak akan cukup dan malah boros tiket masuk museum yaitu RM 22 tapi ga puas. Jadi kami memutuskan tidak jadi ke sana 😦

Jadi saran saya jika mau puas main-main di Genting Highland, menginaplah di salah satu hotel di sana dan habiskan sekitar 2 hari untuk keliling-keliling. Satu hari untuk outdoor theme park, dan satu harinya untuk indoor theme park plus snow world dan museum ripley’s.

Sesuai dugaan, shuttle bergerak turun pukul 14.15. Sampai di lower skyway pukul 14.45, kami langsung menuju platform bus keberangkatan ke Pudu Sentral. Dan pukul 15.00 bus pun datang, kami pun kembali ke KL.

Pukul 16.00 kami sampai di Pudu Sentral. Rencana hari ini dilanjutkan dengan mengunjungi Islamic Arts Museum, Masjid Negara, Bukit Bintang, dan Twin Tower.

Islamic Arts Museum KL

Begitu sampai Pudu Sentral, kami langsung bertanya-tanya bagaimana cara ke Islamic Arts Museum dari terminal. Dari sekian banyak orang yang kami tanyain, mencakup satpam, bagian informasi, dan warga, semua membari tahu bahwa tidak ada cara lain selain naik taksi. Padahal kami menduga naik taksi pasti mahal harganya. Namun karena tidak ada pilihan lain, kami pun akhirnya tetap naik taksi.

Sampai di Islamic Arts Museum, kami harus membeli tiket masuk di bagian resepsionisnya. Mbak resepsionisnya ramah sekali. Begitu kami datang dia langsung menjelaskan bahwa tiket masuk untuk umum RM 12 dan untuk pelajar RM 6. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung bilang “Jadi adik-adik mau beli 2 tiket pelajar kan?” Kami berdua otomatis langsung mengangguk kompak. Hahaha. Dasar sama-sama anak kos, ga bisa lihat diskonan 😛

Museum ini koleksinya sangat lengkap. Di lantai dasar ada ruangan khusus penjelasan asal mula negara Malaysia. Di lantai 1 ada miniatur berbagai masjid terkenal di dunia, seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Quba, dan lain-lain. Selain itu ada berbagai naskah Islam, berbagai jenis tajwid, cara baca Al Qur’an dari jaman dulu sampe modern, Al Qur’an dari masa ke masa, alat-alat rumah tangga dengan ukiran Islam, Al Qur’an terkecil di dunia, dan masih banyak lagi deh pokoknya. Sayang sekali karena kami datang sudah terlalu sore, jadi tidak bisa lama-lama di sana, karena jam tutupnya adalah jam 18.00. Jadi ga bisa mengamati semua barang yang dipamerkan di sana dengan detail 😦

Miniatur Masjidil Haram

Masjid Negara

Pukul 18.00 kami menuju Masjid Negara untuk solat. Jam segini baru solat Ashar? Ga parah-parah banget sih, soalnya solat Maghribnya masih sekitar jam 19.00, jadi jam 18.00 itu mirip-mirip jam 17.00 lah kalo di Indonesia. Oh iya, Masjid Negara ini terletak sangat dekat dengan Museum, jalan kaki juga ga capek, kok.

Masjid Negara ini dekorasinya bagus dengan dominasi warna biru. Tapi karena saya tidak terlalu mengerti arsitektur, saya tidak bisa menggambarkan dengan detail seperti apa.

Bagian dalam masjidnya yang buat tempat solat sangat nyaman. Karpetnya empuk, jadi sehabis solat, kami sempet tidur-tiduran sebentar untuk meluruskan badan. Ini fotonya

Bagian dalam masjid negara

Foto ini diambil dari luar tempat solat karena di dalam tidak boleh foto-foto.

Banyak juga turis bule dan chinese yang datang berkunjung. Karena mereka tidak menutup aurat, mereka diberikan semacam jubah berwarna ungu yang menutup tubuh mereka dari atas-sampe bawah. Sayangnya saya ga kepikiran buat ngefoto mereka 😛

Selesai solat kami berjalan-jalan sejenak di sekitar masjid untuk foto-foto. Di salah satu bagian masjidnya ada taman makan pahlawan Malaysia. Banyak warga yang terlihat berziarah dan berdoa di situ (tapi bukan doa minta rejeki, ya, melainkan mendoakan pahlawan yang sudah wafat) 😀

Di bagian luar masjidnya ada taman yang cukup luas untuk duduk-duduk dan main-main. Tak disangka di salah satu sudutnya, terlihat pemandangan puncak Menara KL. Jadi kami iseng foto-foto 😀

Tak terasa hari mulai gelap dan perut kami keroncongan. Kami pun segera mencegat taksi di jalan untuk mengantarkan kami ke Jalan Alor di Bukit Bintang. (Kami tidak berusaha mencari sarana transportasi lain karena benar-benar sudah lelah dan lapar :D)

Jalar Alor

Sopir taksi kami baik sekali. Beliau mau memakai “meter”, atau “argo” dalam bahasa Indonesia (beberapa kali kami bertemu supir taksi yang tidak mau memakai meter. Sesampainya di Jalan Alor, sebelum turun, beliau memperingatkan, “di sini kebanyakan chinese food, hanya beberapa saja yang masakan melayu”. Mungkin karena kami memakai jilbab, beliau memperingatkan akan kemungkinan tidak halalnya makanan di sini. Sekali lagi I found benefit from wearing hijab kalo lagi di luar negeri 🙂

Kami pun mengucapkan terima kasih dan langsung turun. Ternyata, benar kata pak supir itu. Sejauh mata kami memandang hanya ada tulisan kanji..kanji..dan kanji.. -__- Karena haus, kami membeli minum air mata kucing yang khas Malaysia itu.

Kami pun menyusuri jalan sambil berusaha mencari restoran yang halal. Jujur, saya kecewa dengan ulasan yang saya baca di internet tentang jalan alor, tidak ada yang bilang kalau di sini mayoritas chinese food, argh! 😦

Akhirnya kami menemukan beberapa restoran Melayu, namun entah kenapa tidak menarik di mata kami. Sejujurnya, jalan alor ini mirip malioboro. Jadi agak kotor gitu. Ada juga beberapa gerobak yang menjual chestnut, es krim turki yang kalo beli dikerjain dulu sama pedagangnya, dan kacang rebus. Ada juga yang jual mainan dan cinderamata. Hingga sampai ujung jalan ini, kami benar-benar tidak menemukan makanan yang sesuai selera kami 😦

Tapiii, buat kamu yang tidak ada food restriction, di sini banyak sekali makanan chinese dan thailand sejauh yang saya lihat. Ada seafood, sayur-sayuran, tom yum, dan lain-lain. Jadi, ulasan yang bilang bahwa Jalan Alor itu pusat kuliner KL memang ada benarnya. So, maybe it’s really highly recommended and you’ll find some delicious foods here 🙂

Twin Tower Malam Hari

Keluar dari jalan alor, kami masih berusaha mencari makan. Ternyata, ga jauh dari jalan alor, ada restoran India Muslim, namanya “Hanifa”. Akhirnya kami makan roti nan dengan lauk semacam kacang arab berbumbu khas rempah India. Cukup enak, tapi porsinya gede banget. Jadi kami agak menyesal beli 2, harusnya beli 1 saja buat berdua. Tapi alhamdulillah kenyang 🙂

Roti nan

Di restoran ini, tanpa sengaja kami bertemu seorang ibu-ibu TKW. Ibu itu yang pertama menegur kami. Beliau bisa melihat kalo kami dari Indonesia mungkin mendengar percakapan kami. Beliau bertanya, sedang apa kami di sini? Kami bilang, jalan-jalan aja. Lalu ibu itu mengingatkan, hati-hati ya di sini, tasnya ditaruh di depan. Lalu beliau juga bertanya kami menginap di mana. Kami bilang di Jalan Pudu. Wah jauh sekali, kata ibu itu, cepet pulang ya kan udah malam (saat itu sudah hampir pukul 21.00). Dengan sederet peringatan dari ibu itu, kami pun merasa agak was-was dan mempercepat makan kami.

Sayangnya selesai makan, masih ada 1 spot yang harus kami kunjungi yaitu Twin Tower malam hari. Bukan rahasia lagi bahwa Twin Tower terlihat sangat indah kalau malam dengan lampu-lampunya. Kami pun bermaksud mencari taksi untuk langsung ke sana. Tapi ternyata, peringat ibu tadi sangatlah benar.

Begitu keluar dari restoran dan ke jalan untuk mencari taksi, ternyata di jalan kanan kiri jalan ini, semuanya pub alias diskotek ga bener. Ada juga pijat plus-plus. Aaaaaa. Can you imagine??? Dua cewek polos berjilbab, perawan, tanpa kenalan dan hanya bermodal peta jalan-jalan di tempat kayak gituuu >_< Kami pun mempercepat langkah, pas nemu taksi, supirnya mukanya serem dan badannya gede. Mana berani kami naik. Alhamdulillahnya, twin tower yang sangat tinggi itu kelihatan dari jalan ini, tapi dari peta kelihatannya jauh banget. Akhirnya kami nekad, kami putuskan untuk berjalan kaki ke twin tower dengan modal melihat puncaknya dari kejauhan >_<

Sudah berjalan sekitar setengah jam dengan bantuan peta, kok ga sampe-sampe ya? Memang sih makin kelihatan gede twin towernya (artinya hingga saat ini kami masih di jalan yang benar). Dalam hati, saya ga berhenti berdoa, “ya Allah jagalah kami, tunjukkan jalannya bagi kami” >_<

Kemudian alhamdulillah akhirnya kami menemukan penunjuk jalan gede yang bertuliskan “twin tower 1 km, KL tower 800 m”. Oalaah ternyata masih 1 km lagi. Semangaatt!!! Kami pun mengikuti petunjuk jalan itu. Sekitar 15 menit setelah melewati penunjuk jalan itu, masih belum sampe juga. Haha. Tapi tanpa sengaja kami menemukan spot untuk foto dengan puncak KL tower malam hari. Akhirnya kami istirahat sambil foto-foto di situ.

Setelah foto, kami melanjutkan perjalanan, dan tepat jam 22.00 kami pun sampai di Twin Tower!!! Alhamdulillah wa syukurillah. It was worth the pain though 😀 Emang beneran indah banget si Twin Tower malam hari ini. Kami pun foto-foto hingga batere kamera kami habis 😀

*****

Alhamdulillah rencana hari ini berjalan dengan lancar. Ini ringkasan itinerary kami hari ini:

  • 09.00     Beli tiket bus ke Genting
  • 10.00     Bus berangkat ke Genting
  • 11.00      Sampai lower skyway, naik free shuttle ke upper skyway
  • 11.30      Sampai upper skyway, genting highland theme park
  • 11.55      Beli tiket masuk snow world
  • 12.30     Masuk snow world
  • 13.10     Keluar snow world, antre beli foto
  • 13.45     Selesai antre foto, menuju free shuttle
  • 14.15     Free shuttle berangkat ke lower skyway
  • 14.45     Sampai lower skyway
  • 15.00     Naik bus kembali ke Pudu Sentral
  • 16.00     Sampai Pudu Sentral, makan, cari transport ke Islamic Arts Museum
  • 17.00     Sampai Museum
  • 18.00     Ke masjid Negara
  • 19.00     Ke Jalan Alor, Bukit Bintang
  • 21.00     Ke Twin Tower jalan kaki
  • 22.00     Sampai twin tower, foto-foto
  • 23.00     Sampai hotel

Trip to KL-Singapore Day #1 : Masjid Jamek, Merdeka Square, Central Market, Petaling Street

Standard

Heyho! Alhamdulillah saya telah tiba lagi di tanah air tercinta Indonesia Raya 🙂 Tak sabar rasanya hendak membagikan pengalaman saya menjelajahi negeri jiran Malaysia (Mal) dan Singapore (Sg) seminggu kemarin. Sampai bingung mau cerita bagian mana terlebih dahulu. Karena itu, mari kita mulai dari hari pertama saya tiba di Mal, lebih tepatnya di Kuala Lumpur (KL).

Take off

15 November 2012. Pesawat saya dijadwalkan take off pukul 07.35 WIB, yang artinya saya harus check in mulai pukul 05.30. Dari Bandung ke Jakarta saya menumpang travel Cipaganti yang menjemput saya di kosan pukul 00.30 T_T So early in the morning ya.. Sebetulnya saya bisa saja memesan travel yang pukul 02.00, namun pihak Cipagantinya tidak mengijinkan karena khawatir ada apa-apa di jalan. Ya sudahlah, lebih baik tiba terlalu cepat daripada panik karena hampir terlambat >_<

Pukul 03.45 saya sampai di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Terminal 3 ini adalah terminal khusus low cost airlines, tapi terminalnya sangat bagus dan nyaman. Walaupun masih sangat dini hari, sudah banyak calon penumpang di terminal ini. Maklumlah, namanya juga low cost airlines, jadwal terbangnya pasti ga nyaman. Entah tengah malam, atau dini hari.

Saya langsung mencari musola untuk ngadem dan menunggu waktu solat subuh. Musolanya enak sekali. Walaupun ukurannya tidak terlalu besar, tapi ber-AC, berkarpet yang hangat, dan tempat wudhu cewe-cowo dipisah, serta tempat wudhu cewenya tertutup, lho. Waktu saya sampai musola, sudah ada beberapa orang yg lagi numpang tidur. Saya pun menyempatkan qiyamul lail serta solat sunnah safar. Tidak beberapa lama, adzan subuh pun berkumandang. Saya pun solat berjamaah dengan beberapa calon penumpang lain.

Sekitar pukul 05.30 sepupu saya, Nisa, (yang semalam menginap di kosan temennya di Jakarta) sampai juga di terminal 3. Kami pun langsung menuju konter Mandala untuk check in (jadi Tiger Airways kalo di Indonesia dioperasikan oleh Mandala). Saat itu antrian  untuk check in tujuan Bangkok panjang sekali, sementara yang KL tidak terlalu panjang. Rupanya banyak juga yang memanfaatkan momen libur panjang ini untuk jalan-jalan keluar negeri 🙂

Selesai check in kami harus mengantre untuk cap imigrasi dulu sebelum bisa masuk ke ruang tunggu. Setelah cap imigrasi, barang bawaan kabin saya harus melewati scanner. Saat itu ketahuan lah kalo saya membawa 2 minuman kotak. Alhasil saya disuruh minum sekarang sama petugasnya. Saya mengiyakan, tapi begitu petugasnya sibuk memeriksa penumpang lain, saya langsung menjauh dan ga jadi meminum minumannya 😛

Ruang tunggunya ternyata digabung untuk semua tujuan, tidak seperti ruang tunggu di terminal lain yang 1 ruangan untuk 1 tujuan. Tapi ruangannya cukup luas kok, jadi tidak terlalu terlihat penuh. Tidak beberapa lama, penumpang Mandala tujuan KL pun dipanggil untuk boarding.

Malaysia, here I come!! Bismillahi majreha wa mursaha inna robbi la ghafururrahiim..

Tiba di Kuala Lumpur

Dua jam kemudian pesawat pun landing di LCCT Kuala Lumpur. Saat itu waktu setempat sudah menunjukkan pukul 10.30. Terdapat perbedaan waktu 1 jam lebih cepat antara Jakarta dan KL.

Sesampainya di KL, kami berencana memesan tiket bus untuk ke Sg terlebih dahulu untuk hari Sabtu malam sebelum memulai penjelajahan di KL. Tiket ini dapat dibeli di Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Untuk menuju ke TBS, kami harus naik bus dulu ke terminal KL Sentral. Dari terminal inilah perjalanan ke segala penjuru KL dapat dilakukan.

Terdapat beberapa armada bus yang melayani jurusan LCCT-KL Sentral. Saya memilih menaiki bus AEROBUS. Tiket Aerobus dapat dibeli di konter tepat di pintu keluar setelah pengambilan bagasi. Harga tiketnya RM 8 saja. Busnya sendiri ngetem di pintu keluar bandara. Dari pintu keluar belok kiri, jalan terus aja mengikuti jalur, bus-bus yang menuju KL Sentral terdapat di ujung jalur ini.

Bus Aerobus

Bus ini berangkat saat penumpang sudah penuh. Ketika kami masuk bus, hanya tinggal beberapa kursi lagi yang belum penuh, karena itu kami menunggu tidak terlalu lama hingga bus ini berangkat.

Bus ini ber-AC dan kursinya empuk. Tapi lantainya tidak terlalu bersih. Penampakan bagian dalam bus menyerupai bus Damri, tapi masih lebih bagus bus Damri karena bus Damri bersih dan tidak berdebu. Secara umum, not bad lah..

Perjalanan LCCT-KL Sentral memakan waktu 1 jam. Setibanya di KL Sentral, kami bertanya ke 2 orang mbak-mbak Malaysia berjilbab bagaimana caranya ke TBS dari sini. Kata si mbak-mbak kita bisa naik KTM, tiketnya bisa dibeli di loket KTM.

Loket KTM ini terletak di lantai 1 (bus Aerobus sendiri parkir di basement), jadi kami harus naik tangga sambil bawa koper kami yang berat-berat ini. Sampai di lantai 1 yang berbentuk seperti hall besar, saya langsung salut sama pemerintah Mal. Terminal KL Sentral ini bersih banget, luas, ber-AC, dan semua petunjuk jelas terlihat dalam bahasa Melayu dan Inggris. Di bagian pinggir hall terdapat konter tiket dan bagian informasi, di bagian tengahnya ada toko-toko yang menjual cemilan, majalah, dan pernak-pernik lainnya. Ada juga beberapa restoran seperti McD dan lainnya. Pokoknya, kalau menunggu kereta di sini, pasti tidak akan bosan dan merasa nyaman.

Kami menuju konter yang ada mbak-nya untuk bertanya bagaimana cara ke TBS. Mbaknya ramah banget dan berusaha mendengarkan bahasa Indonesia saya. Katanya kalau mau ke TBS, naik KTM tujuan Bandar Tasik Selatan. Nanti turun di sana, akan langsung terlihat gedung TBS itu sendiri. Harga tiket KTM ke TBS hanya RM 1. Nah buat yang belum tau apa itu KTM, nanti akan saya jelaskan secara mendetail mengenai berbagai mode transportasi di KL di postingan tersendiri 😀

Saat menunggu di platform yang disebutkan si mbak, kami tanpa sadar mendengar 2 orang mas-mas dan bapak-bapak lagi ngobrol pakai bahasa Indonesia, dan dari obrolannya sepertinya mereka akan ke TBS juga. Saya pun memberanikan diri menegur mereka. Ternyata benar mereka orang Indonesia. Si mas adalah pelancong seperti kita, tapi si bapak sudah beberapa tahun tinggal dan bekerja di KL. Kami pun langsung meminta ditunjukkan kalau sudah sampai TBS.

15 menit kemudian KTM yang ditunggu tiba. Kami naik bersama mas dan bapak tersebut.

bagian dalam KTM

Sekitar pukul 12.45, kami sampai di Bandar Tasik Selatan. Dari platform kami harus berjalan agak jauh untuk menuju TBS. Sebenarnya jaraknya tidak jauh, bahkan gedung TBS itu sudah terlihat dari sejak turun KTM. Namun kami harus melewati semacam jembatan penyebrangan untuk menuju bagian dalamnya.

Terminal Bersepadu Selatan

Di bagian dalam TBS, ternyata lebih nyaman lagi daripada KL Sentral. Suasananya mirip bandara. Ada papan penunjuk digital mengenai bus-bus yang datang dan berangkat seperti di bandara, konter pembelian tiketnya pun seperti konter check in bandara. Wah saya norak banget pokoknya karena merasa tidak ada terminal bus dan kereta yang sebagus ini di Indonesia >_<

Sebelum berpisah dengan mas dan bapak tersebut, kami menanyakan bagaimana caranya dari TBS ke Jalan Pudu, yaitu letak hotel kami. Kata si bapak dari bagian bawah TBS ada Bus RapidKL yang melayani tujuan Jalan Pudu. Nanti tinggal naik itu saja.

Kami pun langsung menuju salah satu konter yang ada tulisan dengan tujuan Singapore-nya. Di situ kami menyebutkan bus yang kami inginkan, yaitu bus malam pada hari Sabtu tanggal 17 November. Pada awalnya si mbak konter memberikan pilihan pukul 22.30. Ternyata yang itu harganya RM 70 dan bermerk FiveStar. Saya pun langsung menanyakan bus merk lain yang sudah saya cari tahu ketika di Indonesia, yaitu bus Transnasional. Ternyata dengan bus Transnasional ke Singapore adanya pukul 23.59 dan harganya cuma RM 46,3. Kami pun lebih memilih bus Transnasional. Untuk mem-booking bus tersebut, kami harus menunjukkan paspor kami. Setelah itu, kami pun diberi print-out tiket bus dan membayar.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan kami merasa kelaparan. Kami pun memutuskan untuk makan di food court di TBS sebelum melanjutkan perjalanan ke hotel.

Untuk makan di food court ini, kami harus membayar dengan menggunakan kartu yang diisi pulsa. Kartu tersebut dapat dibeli di konter di sebelah jalan masuk food court. Karena yang makan 2 orang, maka kami harus mengisi kartu minimal RM 20. Nanti kalau di kartunya masih ada sisa saldo, dapat diuangkan kembali.

Saya pun memesan nasi goreng Thailand dan minuman Ribena Laici. Apa itu Ribena Laici? Ribena itu black currant dan Laici itu Leci. Jadi intinya minuman rasa black currant yang dikasih beberapa buah leci. Lumayan enak :9 Makan siang hari ini saya habis RM 8,7. Harga standar food court dengan rasa standar food court juga. Lumayan.. 🙂

Nasi Goreng Thailand dan Ribena Laici

Selesai makan, kami menuju pemberhentian bus RapidKL yang diberi tahu bapak tadi. Kebetulan sekali ketika kami datang, bus tujuan Pudu lah yang lagi ngetem di situ. Langsung saja kami naik dengan membayar RM 2 ke pak supir di depan pintu masuk.

Bus ini berbeda dengan Aerobus tadi. Bus ini lebih mirip bus dalam kota seperti di Jepang. Ada tempat duduk khusus ibu hamil, orang tua, serta orang cacat. Busnya nyaman sekali. Alhamdulillah sejauh ini moda transportasi yang kami naiki nyaman semua.

Dari TBS ke Pudu memakan waktu sekitar 20 menit. Bus ini berhenti di terminal Pudu Sentral. Dari Pudu Sentral ke hotel kami tinggal berjalan kaki. Tapi jalan kakinya lumayan sih, sekitar 200 m. Capek juga kalau sambil bawa-bawa koper 😦

Sampai di hotel kami langsung check in dan si mbak resepsionis sudah mengenali nama saya karena sebelumnya sudah beberapa kali menelepon. Nama mbaknya Syarifah. Kami memanggilnya Kak Syarifah. Usianya sudah paruh baya, sih, sekitar 30-an. Orangnya sangat ramah dan helpful.

Tapi ada yang saya sayangkan. Dari website hotel ini, disebutkan kamar superior (yang berisi bed untuk 2 orang dan kamar mandi pribadi) berharga RM 60 semalam. Tapi begitu sampai sana ternyata harganya RM 90. Rupanya websitenya kurang update 😦 Karena sudah lelah dan malas mencari penginapan lain yang lebih murah, kami deal saja dengan harga tersebut. Begini penampakan kamarnya. Bagian tengah itu adalah dinding yang memisahkan kasur dan kamar mandi.

kasur dan kamar mandi

Setelah check in, kami beristirahat sebentar sembari solat jamak zuhur-ashar. Setelah tenaga cukup terkumpul kembali, kami pun memulai penjelajahan kami di KL!! \^o^/

Masjid Jamek, Merdeka Square, Central Market, Petaling Street

Tempat-tempat di atas kami pilih untuk kami datangi hari ini karena tempat-tempat tersebut terletak saling berdekatan satu sama lain. Saya pun menanyakan Kak Syarifah bagaimana cara ke Masjid Jamek dari hotel. Ternyata bisa dengan berjalan kaki. Dengan berbekal peta KL dari temennya Nisa, kami pun berjalan kaki ke Masjid tersebut.

Ternyata, jalan kakinya cukup jauh juga T_T sekitar 500 m. Daann sesampainya di masjid yang dimaksud, ternyata masjid tersebut lagi direnovasi dan ditutup hinggal 6 bulan ke depan. Yahh..sayang banget ga bisa lihat masjid yang terkenal karena sejarah panjangnya serta keindahannya ini.. 😦

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Merdeka Square (masih dengan berjalan kaki). Di seberang Merdeka Square terletak Sultan Abdul Samad Building yang bagus sekali cahaya lampunya kalau malam. Namun siang-siang juga tetap bagus buat foto-foto 🙂

Di sebelah Merdeka Square terdapat Museum tentang KL sangat menarik. Namanya Galeri KL. Di depannya ada monumen bertuliskan I Love KL yang jadi spot foto wajib buat orang-orang yang ke sini 😀

saya dan Nisa

Di Galeri KL ini pertama-tama kami diajak masuk ke ruangan yang gelap dan luas. Di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat meja yang sangat besar dan berisi peta KL beserta diorama gedung-gedungnya dengan letak yang sesuai dengan kenyataan. Kemudian kami diputarkan video tentang pariwisata di KL. Saat video diputar, lampu-lampu di diorama tersebut menyala sesuai penjelasan. Menarik sekali. Sayang fotonya ga ada yang bagus soalnya ruangan gelap dan skill fotografi kami berdua sama-sama pas-pasan. Hehe..

Ada juga toko souvenirnya yang bagus-bagus sekali. Saya tidak membeli apa-apa di sini karena harganya lumayan mahal. Tapi sekarang saya menyesal tidak membeli notebook berdesain khas KL padahal saya sering banget nulis di notebook 😦

Tujuan kami selanjutnya adalah Central Market atau Pasar Seni. Kami juga ke sini dengan berjalan kaki karena tidak tahu harus naik bus apa dari Galeri KL dan jaraknya juga tanggung kalau naik bus kayaknya.

Central Market merupakan bangunan 2 lantai berisi stall-stall yang berjualan macem-macem oleh-oleh khas Malaysia, seperti gantungan kunci, kaos, mug, patung Twin Tower kecil, dompet, kain, baju, sandal, coklat, minuman, dan lain-lain. Di lantai 2 ada food court, jadi kalo kecapekan abis belanja, bisa makan di sini. Harga souvenirnya murah meriah banget. Di sini tempat souvenir termurah yang saya temukan selama berjalan-jalan di KL. Pokoknya saya merekomendasikan tempat ini untuk belanja oleh-oleh, deh 🙂

Bagian depan Central Market

Sepuasnya belanja oleh-oleh untuk sanak saudara dan handai taulan, kami melanjutkan eksplorasi ke Petaling Street atau Chinatown. Namun saya agak kecewa dengan chinatown ini.

  1. Tidak ada yang jualan souvenir khas cina sama sekali (atau ada tapi sangat dikit), kayak jimat-jimat yang bisa dijadiin gantungan kunci, kipas, dompet, atau tas motif cina. Yang dijual malah kaos-kaos biasa (yang bahkan bukan kaos bertulisan KL atau Malaysia) dan tas-tas yang bisa saya temukan di Pasar Baru, Bandung. Bahkan masih lebih bagus di Bandung -_-“
  2. Pilihan kulinernya juga sedikit. Kebanyakan chinese food yang tidak dapat dijamin kehalalannya. Akhirnya kami berdua cuma jajan chestnut yang terkenal khas Malaysia itu (padahal ga beda jauh sama biji salak rebus). Untungnya chestnutnya enak jadi bisa dijadiin cemilan di kala lapar di tengah jalan.
  3. Tidak ada kuil cina yang sangat bagus. Yang ada cuman kuil kecil yang sangat minim dekorasi.
  4. Tempatnya kotor jadi kurang nyaman untuk jalan-jalan.

Kami pun tidak lama di sini. Dan tanpa terasa hari sudah mulai gelap, sudah pukul 19.00. List tempat-tempat yang mau kami datangi hari ini sudah didatangi semua. Tapi kami merasa jam segini masih terlalu sore untuk pulang 😛 Akhirnya kami memutuskan kembali ke Central Market karena Nisa merasa kakinya sakit kalo 6 hari ke depan jalan-jalan pake sepatu cantik yang dia bawa, jadi dia ingin membeli sandal di Central Market. Setelah itu kami pun makan sambil menghitung-hitung pengeluaran hari ini di foodcourt-nya Central Market.

Sekitar pukul 20.00 kami memutuskan untuk pulang karena besok kami akan ke Genting Highland dan harus bangun pagi-pagi supaya tidak terlambat untuk naik bus menuju ke sana.

Sampai jumpa di destinasi-destinasi berikutnya!! ^_^d

*****

Ringkasan itinerary kami hari ini sebagai berikut:

  • 05.30     Check in di konter Mandala tujuan KL, terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
  • 07.35     Take off
  • 10.30     Landing di LCCT KL, melewati konter imigrasi, ambil bagasi
  • 11.00     Keluar bandara, beli tiket Aerobus
  • 12.15      Sampai KL Sentral, beli tiket KTM ke Bandar Tasik Selatan
  • 12.30     Naik KTM
  • 12.45      Sampai Bandar Tasik Selatan, ke TBS, booking tiket bus malam Transnasional ke Sg, makan siang
  • 14.00     Naik bus RapidKL menuju Jalan Pudu
  • 14.45      Sampai hotel, check in, solat
  • 15.00     Ke masjid Jamek, sultan abdul samad building, merdeka square, galeri KL, central market, petaling street
  • 20.00     Balik ke hotel

Japanese Curry Rice

Standard

Bahan-bahan:
1 buah kentang gede
1/2 buah wortel gede
1/2 potong bawang bombay
4 siung bawang putih
1 bungkus bumbu kari
5 gelas air matang (sekitar 500 ml)
180 gr daging sapi (atau daging lain)

Porsi: 4 orang

Cara membuat:

  • Rebus daging hingga empuk. Angkat, tiriskan
  • Wortel dan kentang dipotong dadu
  • Bawang bombay dan bawang putih dipotong kecil-kecil
  • Tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum
  • Masukkan bumbu kari dan 5 gelas air
  • Masukkan daging, wortel, dan kentang. masak hingga wortel dan kentang menjadi empuk

So easy, so fun! ^_^

Tempe Mendoan

Standard

Bahan-bahan tempe:

2 siung bawang putih
4-5 siung bawang merah
1/2 sendok teh ketumbar
garam secukupnya
tepung terigu 3 ribu (mestinya sih tepung beras, tapi ga ada)
tempe 2 ribu (minta emang-emangnya potongin tipis-tipis kalo males)
daun sop seribu (pake secukupnya sesuai tepung)

Buat sambelnya:

3 sendok makan kecap manis
12 biji cengek (cabe rawit ya nama yg biasa didenger?)
1 siung bawang putih
air putih secukupnya

Untuk porsi: 15 potong mendoan dengan ukuran kayak di foto

Cara membuat tempe:

  • Bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan garam diulek sampai halus
  • Tepung terigu dicampur air matang secukupnya
  • Aduk hingga menjadi adonan tepung yang sesuai untuk mendoan
  • Tambahkan daun sop serta bumbu yang tadi sudah diulek, lalu aduk lagi hingga merata
  • Celupkan tempe ke tepung, goreng dengan minyak yang sudah dipanaskan sebelumnya

Cara membuat sambal:

  • Potong kecil-kecil cengek dan bawang putih, lalu goreng dengan sedikit minyak hingga wangi (jangan sampe bawang putihnya gosong, ya)
  • Campurkan dengan kecap manis dan air secukupnya (supaya cair) lalu aduk hingga rata

So easy, so fun! ^_^

Tips Independent Traveling untuk Pemula (Part 2)

Standard

Wah ga kerasa udah D-2 dari rencana trip saya ke Mal dan Sg. Selama 10 hari dari postingan terakhir, saya sibuk mengerjakan macem-macem, mulai dari working stuffs, JLPT preparation, and of course, trip finishing plan. Hufft >_<

So, setelah di postingan sebelumnya saya membahas persiapan awal untuk traveling independen bagi pemula, sekarang saya akan membahas persiapan lanjutannya. Semoga bermanfaat! ^_^d

Tentukan Tema Jalan-jalanmu

Saat datang ke suatu negara, sebenarnya banyaakk sekali yang bisa kita explore dari negara tersebut, tidak hanya tempat-tempat wisata yang memang sudah sering kita dengar dipromosikan oleh kementrian pariwisata negara tersebut.

Karena itu, untuk dapat menentukan tempat-tempat yang ingin kamu datangi, terlebih dahulu tentukan tujuan utama traveling-mu kali ini. Apakah wisata budaya? wisata kuliner? wisata alam? wisata bawah laut? shopping? atau yang lainnya?

Jika ini adalah pertama kalinya kamu ke negara tersebut dan waktumu singkat, menurut saya yang paling tepat adalah mendatangi landmark-landmark yang menjadi ciri khasnya, sekaligus mencoba beberapa makanan khas utama negara tersebut. Tapi kalo waktumu panjang, jangan ragu-ragu,coba saja semuanya! Kapan lagi ada di negara itu, belum tentu di masa depan akan ada kesempatan mengunjungi negara itu lagi >_<

Susun Rencana Perjalanan

Nah, karena ini pertama kalinya saya ke Mal dan Sg, tempat-tempat yang saya rencanakan untuk saya datangi adalah tempat-tempat mainstream yang didatangi turis kalo ke sana 😛 Tempat-tempat tersebut antara lain mencakup:

Untuk Malaysia:

1. Landmark utama: Twin Tower, KL Tower
2. Pusat perbelanjaan: Pasar Seni, Petaling Street, KLCC
3. Wisata kuliner: Jalan Alor
4. Pusat hiburan: Bukit Bintang, Genting Highland
5. Tempat peribadatan: Masjid Negara, Masjid Jamek, Batu Caves
6. Pusat pemerintahan: Putrajaya, Merdeka Square

Untuk Singapore:
1. Landmark utama: Merlion, Esplanade, Marina Bay Sands
2. Pusat perbelanjaan: Bugis, Little India, China Town, IKEA, Orchard road
3. Wisata kuliner: Seoul Garden, The Banquet
4. Pusat hiburan: Clark Quay, Vivo city, Sentosa Island, Suntec city
5. Tempat peribadatan: Masjid Sultan, Masjid Al Falah
6. Taman: Garden by the bay

Hitung Budget

Dari tempat-tempat yang sudah kamu tentukan akan kamu datangi, cari tahu tempat mana yang perlu ada tiket masuk, wahana mana yang harus bayar, serta transportasi apa untuk mencapai tempat tersebut dan berapa biayanya. Dari situ kamu bisa menghitung budget utama yang akan kamu keluarkan.

Untuk trip ke Mal, saya mematok budget transport dalam sehari RM 10, sedangkan untuk trip ke Sg, saya mematok budget transportnya SGD 7. Selain itu ada juga tambahan beberapa wahana yang memerlukan tiket masuk, seperti skyway menuju Genting Highland, Snow World dan Museum Ripley’s di Genting, pertunjukan Song of The Sea, serta beberapa wahana di Sentosa Island.

Kemudian tentukan juga dalam sehari kamu mau menghabiskan berapa duit untuk makan. Mungkin ada satu hari yang budget makannya sedikit, tapi di hari lain karena kamu ingin mencoba makanan tertentu yang lebih mahal, ada budget tambahan yang harus dikeluarkan.

Untuk trip ke Mal, saya mematok budget makan dalam sehari RM 15 dengan asumsi sekali makan RM 5 dan makan 3x. Sedangkan untuk trip ke Sg, saya mematok budget makan dalam sehari 12 dengan asumsi sekali makan 4 dan makan 3x. Tapi, khusus untuk kuliner di Sg, saya berencana mencoba Seoul Garden, restoran khas Korea yang bersertifikasi halal. Loh, jalan-jalan di Sg kok malah makan makanan Korea? Hehe, gapapa, abis belum dapet kesempatan pergi ke negaranya langsung 😛 Lagian kalo di negaranya sana, belum terjamin kehalalannya >_< Btw, restoran Seoul Garden ini juga ada di Jakarta loh, kalo ga salah di PIM.

Lalu, list siapa saja yang mau kamu beri oleh-oleh sepulangnya dari negara tersebut, dan tentukan budgetnya.

Terakhir, siapkan juga sejumlah uang untuk keperluan tak terduga atau jajan-jajan tambahan.

Oiya, jangan lupa juga menambahkan budget ini dengan biaya penginapan yang sudah dibahas di postingan sebelumnya, ya! 🙂

So, setelah dihitung-hitung dari semua perintilan di atas, saya “hanya” memerlukan masing-masing RM 250 dan SGD 250, lho! Kalo dirupiahin dengan kurs 1 RM = IDR 3200 dan 1 SGD = IDR 7800, maka saya “hanya” memerlukan  IDR 2.750.000 untuk trip selama seminggu ini! Murah apa mahal ya? Hehe, itu sebenarnya relatif. Silakan kamu menilai sendiri 🙂

Tukar Uang

Untuk penukaran uang ini, ada trik-trik khusus yang saya terapkan.

    1. Tukarkan uang ke beberapa pecahan agar untuk beberapa keperluan, kamu tiak memerlukan kembalian. Sebagai contoh, harga sewa kamar saya di Mal adalah RM 60 untuk 2 malam (liat di postingan sebelumnya). Jadi saya usahakan ada pecahan 50 dan 10 ringgit yang saya tukarkan. ya, kira-kira seperti itulah.
    2. Ada beberapa negara yang nilai beli mata uangnya lebih mahal di negaranya daripada di Indonesia, namun ada juga yang sebaliknya. Waktu saya ke Jepang tahun lalu, saat itu nilai tukar JPY 1 di Indonesia sebesar IDR 100, sedangkan waktu di Tokyo, nilai tukarnya menjadi 120. Lebih mahal kan? Lain halnya dengan Sg. Seorang teman memberi tahu nilai tukar SGD di Sg lebih murah daripada di Indonesia. Jadi kalo mau irit, tukarkan sedikit saja di Indonesia untuk keperluan awal, lalu bawalah rupiah untuk ditukarkan di sana.

Well, mari kita buktikan apakah benar demikian! 🙂

Packing!!

Salah kostum is a big no-no untuk seorang traveler >_< Sebelum kamu pergi ke suatu negara, lakukanlah riset kecil-kecilan, bagaimana kondisi cuaca saat kamu datang nanti. Untuk negara tropis seperti Mal dan Sg (atau negara-negara Asia Tenggara lainnya) sih mudah saja, karena tidak jauh berbeda dengan Indonesia, yaitu cuaca hangat sepanjang tahun. Bawalah baju-baju yang nyaman untuk jalan-jalan. Namun karena ada kemungkinan hujan yang tidak diduga-duga, bawa payung juga, ya! Ga asik kan kalo jadi ga bisa ke mana-mana hanya gara-gara hujan >_<

Sementara untuk negara sub tropis, pastikan dulu lagi musim apa di saat kamu datang nanti. Btw, waktu 4 musim di negara sub tropis yang di utara dan selatan berbeda, lho. Jadi jangan sampe salah perkiraan ya. Hanya karena di Inggris winternya bulan Desember, bukan berarti di Australia juga, namun justru kebalikannya. Australia yang bagian selatan malah lagi summer pas waktu itu.

Lalu, lihat juga di antara tempat-tempat yang kamu datangi, adakah yang memerlukan kostum khusus. Seperti saya yang akan ke Genting. Karenanya katanya Genting itu dingin banget, jadi saya sudah menyiapkan jaket dan syal untuk bekal perjalanan ke sana karena saya cenderung kurang tahan dingin.

Selain kostum, terdapat beberapa perlengkapan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu:

  1. Perlengkapan mandi: Bawalah pack-pack kecil yang sekarang sudah banyak dijual. Untuk sampo, bawa sachet saja supaya habis dipake bisa langsung dibuang dan mengurangi bawaan pulang. Untuk handuk, jika tidak disediakan di hostel/hotel, bawa saja handuk kecil supaya ga ngeberat-beratin.
  2. Gadget: kamera dan chargernya, hp dan chargernya, laptop dan chargernya, dan lain-lain sesuai kebutuhanmu. Pastikan juga jenis colokan di negara tersebut sama atau nggak dengan di Indonesia. Jika tidak, jangan lupa bawa converter, ya!
  3. Alas kaki: kalo saya selalu bawa sepatu yang nyaman seperti crocs, dan sandal jepit untuk jaga-jaga. Tapi kalo ke negara yang lagi winter, kayaknya sih perlu bawa sepatu boot ya 😕
  4. Obat-obatan: obat-obatan standar yang selalu saya bawa adalah antimo, tolak angin, new diatab, panadol, dan obat flu. Selain itu saya juga bawa balsem yang serba guna, bisa buat sakit perut, pusing, ataupun digigit serangga. Bawa juga plester dan hand sanitizer.
  5. Kosmetik: yang saya maksud kosmetik di sini bukan untuk make-up kondangan gitu, lho, namun semacam sunblock untuk yang kulitnya ga tahan panas (tergantung cuaca sih), lip balm untuk yang bibirnya sensitif, dan lotion (supaya kulit ga kering di musim dingin).
  6. Lain-lain: kacamata hitam, topi, plastik untuk baju kotor, hanger untuk gantung baju (bawa sedikit saja), kaos kaki, dan lain-lain according to your preferences 🙂

Yah seperti inilah segelintir persiapan yang sudah saya lakukan. Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan untuk perjalanan ke negara lainnya.

And finally, let’s see whether all goes according to plan >_< I’ll report after I get back later 🙂 Wish me a safe trip, ya!!! 😉

“Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)

Tips Independent Traveling untuk Pemula (Part 1)

Standard

Tak terasa sudah memasuki 2 November. Itu artinya, D-13 dari rencana traveling saya ke Malaysia dan Singapore!! Woohoo!!

Jadi insya Allah saya akan merayakan 1 Muharram 1434 H, yang jatuh pada 15 November 2012, di luar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya!! \^o^/*haha ga penting.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke luar negeri. Sebelumnya alhamdulillah saya sudah pernah ke Arab Saudi untuk umroh dan ke Jepang untuk mengikuti konferensi pemuda internasional. Namun, ini insya Allah adalah kali pertama saya pergi ke luar negeri tanpa orang tua dan tanpa temen cowok yang bisa baca peta! Yeah, I’am a kind of woman that can’t read maps 😦

Karena itu, persiapan matang pun harus dilakukan. Nah berikut ini, saya mau nge-share bagaimana mempersiapkan sendiri perjalanan ke luar negeri tanpa harus ikut tour dan tanpa harus ngeluarin duit banyak. Semoga bermanfaat! 😉

Tentukan Tujuanmu

Yaiyalah yaa..kalo ga tau mau ke mana, gimana mau nyiapinnya? hehe 😀

Menurut saya, Malaysia (Mal) dan Singapore (Sg) adalah dua negara yang sangat layak untuk dikunjungi oleh traveler pemula atau kamu yang baru akan pertama kali ke luar negeri. Karena Mal dan Sg terletak sangat dekat dengan Indonesia, tidak memerlukan visa, dan memiliki budaya yang mirip dengan Indonesia. Jadi kalo kita jalan-jalan ke kedua negara tersebut, kita ga akan terlalu mengalami culture shock maupun jetlag.

Untuk kita yang muslimah berjilbab juga ga perlu khawatir. Secara mereka sudah sangat mengenal Islam, dalam artian gampangnya, tau kalo yang pake jilbab itu ga makan babi dan ga minum alkohol. Senang ya jadi muslimah berjilbab! 🙂

Nah saya sendiri kenapa memilih Mal dan Sg, soalnya saya udah traveling negara yang lebih jauh tapi kok malah belum pernah ke negara tetangga sendiri 😦 Jadi saya penasaran, pengen liat gimana sih sodara-sodara kita di negara sebelah 😀 Dan lagi, budget dan waktu yang tersedia saat ini memang bukan untuk jalan-jalan yang jauh >_<

Kemudian jika kamu berencana mengunjungi beberapa negara/kota dalam satu perjalanan, tentukan kota tempat memulai dan kota tempat mengakhirinya. Kalau saya, saya pilih ke Mal dulu baru ke Sg. Soalnya dari saran beberapa teman, Mal itu ga jauh beda sama Indonesia, sedangkan Sg kan negara yang maju banget. Jadi kalo ke Sg dulu baru ke Mal, ntar kebanting rasanya, abis enak-enak naik MRT ke mana-mana eh tiba-tiba balik lagi ke yang mirip Indonesia. Jadi mendingan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian 🙂

Tentukan Style-mu

Apakah mau jadi backpacker gembel, budget traveler, atau luxury tour?

Nah ini sih pengelompokan menurut sesuka hati saya, berdasarkan pengetahuan saya dari membaca berbagai buku tentang traveling 😀

Backpacker gembel (sebenernya ga gembel-gembel banget sih, jadi no offense ya :D) secara harfiah berarti mereka yang traveling dengan menggunakan backpack. Artinya, bawaannya sebisa mungkin diuwel-uwel sampe bisa masuk ke backpack yang setinggi punggung orang bule dan beratnya paling “cuma” 10 kg *tapi inget, 10 kg itu harus kamu bawa ke mana-mana di punggungmu. Backpacker ini memiliki ciri-ciri meminimalisasi pengeluaran sesedikit mungkin. Tinggal di hostel semurah mungkin di kamar mixed dorm (cewe-cowo gabung di satu kamar berisikan 4-5 kasur bertingkat), makan di gerobak atau stall pinggir jalan, dan ke mana-mana diusahakan jalan kaki. Bahkan beberapa backpacker biasa tidur di mana saja, misalnya emperan toko, masjid, atau kalau PD, numpang di rumah warga >_< Secara penampilan, mereka biasanya pake kaos oblong, celana kargo, topi, dan sendal jepit atau sendal gunung. Penerbangan yang mereka pilih, tentu saja low cost airlines 😀

Banyak yang menyamakan backpacker dengan Budget Traveler. Tapi kalo saya punya definisi sendiri. Budget traveler adalah traveler yang memiliki budget terbatas (tapi ga kere-kere amat) dan memperhitungkan pengeluarannya sebaik mungkin namun juga nyaman untuk dirinya. Budget traveler biasanya menggunakan koper atau suitcase instead of backpack. Budget traveler juga berusaha tinggal di penginapan yang murah namun tetap nyaman dan aman dari segi lokasi (jadi ga ngasal-ngasal banget lah). Secara penampilan, budget traveler lumayan agak bervariasi bajunya, ga cuma kaos oblong yang bisa digulung-gulung masukin koper. Dari segi penerbangan, tetep dong milih yang low cost airlines. Yang penting mah selamat sampe tujuan 🙂

Luxury tour biasanya dipilih sama mereka yang ga bermasalah sama duit. Tinggalnya aja di hotel minimal bintang 4, bahkan bisa di villa atau cottage pribadi. Jalan-jalannya ke tempat-tempat hip yang ngerogoh kocek nggak sedikit. Bawaannya koper gede, biasanya kalo pulang malah nambah koper baru gara2 kebanyakan belanja >_< Penerbangannya pun pilih yang high class kayak Garuda. hoho.

Setelah 3 tipe tadi, tentukan juga mau jadi solo traveler, duo, trio, atau group (yang anggotanya 4 orang atau lebih). Kalau menurut saya pribadi, makin sedikit anggota semakin baik. Ga ribet dalam memenuhi kemauan tiap orang yang beda-beda. Dan lagi, kamu bisa patungan beberapa biaya, seperti taksi, private room yang cuma buat 2-3 orang, makanan yang bisa sepiring berdua, dll. Kalo pun ga dapet temen jalan, sapa bilang solo traveler itu menyedihkan? Kamu bisa jalan-jalan membolang ke mana pun yang kamu suka tanpa ada yang menghalangi! Tapi jangan lupa bawa tripod, ya, buat foto diri dengan landmark tempat yang kamu kunjungi 😀

Nah untuk trip saya ke Mal dan Sg nanti ini, saya masuk ke kategori budget-duo-traveler. Karena saya akan membawa suitcase untuk barang-barang saya yang ga sedikit meliputi celana panjang, baju lengan panjang, jilbab, kaos kaki, manset tangan, and the other girl stuffs; dan saya juga sudah merancang itinerary+budget saya sedemikian rupa sehingga murah namun tetap gemah ripah loh jinawi 😀 Dan saya akan pergi bareng seorang sepupu saya (cewek) yang sebaya sama saya dan memiliki budget serta karakteristik jalan-jalan yang serupa.
Nah, jadi mulai sekarang hingga postingan selanjutnya, saya akan memberikan tips-tips bagi kamu yang ingin menjadi budget traveler seperti saya. *ting! 😉

Siapkan Paspormu

Tentu saja ini benda keramat yang wajib dimiliki traveler untuk keluar negeri. Jadi, untuk kamu yang belum punya paspor, ayok buruan bikin! Ga ribet dan ga perlu calo kok. Cuma butuh segudang kesabaran dan sejumlah uang, yang tentu saja bukan buat menyogok petugas imigrasinya loh, tapi murni untuk biaya administrasi.

Nah buat kamu yang berdomisili di Bandung, bisa liat tata cara pembuatan paspor di website ini. Lama pembuatan cuma satu hingga dua minggu. Ga lama kan?

Cari Tanggal

Nah sekarang saatnya menentukan tanggal kepergianmu. Karena saya dan sepupu saya sama-sama sudah bekerja, kami langsung mencari tanggal di mana ada liburan yang mepet sama weekend supaya kami ga perlu cuti lama-lama 😀

Di akhir tahun ini, terpilihlah tanggal 15 November hari Kamis yang merupakan libur 1 Muharram, di mana hari Jumatnya cuti bersama, jadi kami tinggal izin cuti 3 hari pada hari Senin-Selasa-Rabu minggu depannya. Berhasil deh dapet waktu jalan-jalan seminggu, yaitu 15-21 November, tanpa menghabiskan jatah cuti! 😀

Cara lain, jika kamu melihat ada penerbangan yang lagi promo ke tempat yang sangat kamu inginkan, bisa juga kamu segera booking pada tanggal tersebut, baru deh mikir gimana cutinya (buat yang sudah bekerja) atau ijin kuliahnya (buat yang masih kuliah). Inilah yang terjadi saat tahun lalu saya ke Jepang. Secara penerbangan ke Jepang mahal buanget kalo normal, ketika itu ada promo Air Asia yang pas dengan tanggal konferensi yang saya ikuti, namun artinya saya harus bolos kuliah 2 minggu! Hajar aja lah, kapan lagi bok! >_< Udah itu saya bikin surat ijin deh ke masing-masing dosen yang saya tinggalin kuliahnya. Alhamdulillah ga bermasalah sama sekali.

Cara lain lagi, jika kamu memiliki beberapa kandidat tanggal yang potensial, carilah harga-harga penerbangan pada tanggal-tanggal tersebut. Kemudian pilihlah tanggal di mana harga penerbangannya paling murah. Simpel kan? 🙂

Booking Tiket PP

Udah nemu tanggal yang pas, rajin-rajinlah browsing harga beberapa low cost airlines pada tanggal tersebut agar kamu dapat menemukan harga tiket yang benar-benar paling murah. Syukur-syukur kalo kebetulan lagi ada promo pas tanggal tersebut.

Tapi ingat, di low cost airlines, harga tiket itu belum termasuk harga bagasi, harga kalo milih kursi, dan services fees. Jadi kalo pengen semurah mungkin, jangan bawa bagasi! hehe, tapi kan saya ga mungkin. Jadi tinggal pilih mau bawa bagasi 15 kg, 20 kg, 25 kg, atau 30 kg karena harganya juga beda. Trus kalau mau milih seat duluan, harus bayar lagi -__-

Nah untuk masalah booking ini memang untung-untungan. Sudah pasti semakin jauh jarak booking dengan waktu berangkat akan dapat tiket makin murah. Tapi yang namanya low cost airlines, bisa aja tiba-tiba mepet suatu tanggal dia ngadain promo! Jiah, udah terlanjur beli tiket jauh-jauh hari malah jadi lebih mahal. Kalo ini yang terjadi, ingat saja bahwa rejeki itu sudah ditentukan, jadi ga nyesel-nyesel banget, insya Allah ini yang terbaik :’)

Dari kandidat Air Asia, Lion Air, dan Tiger Airways yang kami browsing, kami memutuskan untuk terbang dengan Tiger Airways yang pada tanggal 15 (tanggal berangkat) dan 21 (tanggal pulang) November harga tiketnya paling murah, dengan pilihan bagasi 20 kg dan tidak memilih tempat duduk.

Berikut rincian biayanya:
15 Nov: CGK-KL IDR 534000 (raw fare)
21 Nov: SIN-CGK SGD 76 (raw fare)

FYI:
1. Raw fare artinya harga tiket saja tanpa bagasi dll yang sudah saya sebutkan di atas tadi.
2. 1 SGD kurang lebih IDR 7800 saat ini

Booking Penginapan

Supaya aman, lebih baik booking penginapan dari sebelum berada di negara yang ingin kamu kunjungi. Walaupun go show juga sebenernya bisa dapat, dengan booking terlebih dahulu, kita bisa dapat info lebih detail mengenai penginapan yang diinginkan beserta review dari orang-orang yang pernah menginap di sana. Supaya bener-bener ga salah pilih. Tapi buat kamu yang cuek dan ga mau ribet, ga masalah juga kalo mau nyari penginapan yang kosong pas udah sampe tujuan.

Untuk memilih tempat menginap, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Carilah lokasi yang strategis. Pilih penginapan yang dekat dengan banyak tourism spot, seperti tempat belanja souvenir, tempat nyari makanan khas, tempat ibadah tertentu (masjid, gereja, kuil, dll) yang menarik, museum, dan lain-lain sesuai keinginanmu. Dengan begini kamu bisa pergi ke banyak tempat hanya dengan berjalan kaki, yang artinya irit ongkos transportasi kan? 🙂 Pilih juga yang dekat dengan stasiun atau terminal, jadi kalo mau ke mana-mana naik bus atau kereta, ga perlu jauh-jauh jalan kaki.
  2. Mau tinggal di penginapan seperti apa, hotel, hostel, guest house, dll. Hostel jelas jauh lebih murah daripada hotel, ada tempat penitipan barang walaupun belum check in maupun ketika sudah check out, dan cukup nyaman. Di Mal nanti saya insya Allah akan menginap di EV World Puduraya Hotel. Walapun namanya hotel, tp (kayaknya) fasilitasnya ga jauh beda sama hostel. Saya pilih hotel ini atas rekomendasi teman saya yang sudah pernah menginap di sana, dan karena hotel ini dekat dengan terminal bus yang dapat membawa saya ke Genting Highland, salah satu tujuan wisata saya kelak. Di hotel ini saya akan tinggal di private room untuk 2 orang dengan attached shower di dalamnya. Sementara di Sg saya akan tinggal di ABC Backpackers Hostel. Saya memilih hostel ini setelah membaca berbagai review yang ditulis oleh traveler Indonesia yang pernah menginap di sana. Selain itu tempatnya pun sangat strategis karena dekat dengan sebagian besar tourism spot di Sg, seperti Little India, China Town, Esplanade, Clark Quay, dll. Nah di hostel ini, tipe kamarnya dorm, artinya kita bakal sekamar sama traveler-traveler lain dari berbagai negara. Ada female-only dorm, ada juga mixed dorm. Tentu saja saya pilih yang female-only. Selain itu, kamar mandinya juga shared. Tapi berdasarkan review yang saya baca, katanya kamar mandinya selalu bersih karena lumayan sering dibersihkan. Well, let’s see then.

Mengenai shared bathroom ini, ada pengalaman yang ingin saya ceritakan. Ketika ke Jepang tahun lalu, saya juga menginap di hostel dengan tipe kamar female-only dorm. Di websitenya juga disebutkan bahwa kamar mandinya shared. Dan yang namanya shared di hostel itu artinya kamar mandi di luar kamar tidur, ada kamar mandi khusus pria dan khusus wanita, tapi digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar lain. Sejak itu di mindset saya, shared bathroom berarti seperti itu.

Pada awalnya, saya sudah book hostel dengan inisial BB di Sg. Di website resminya BB hostel ini dituliskan bahwa kamar mandinya shared, dan saya membayangkan shared itu ya seperti yang di Jepang. Saya sih ga masalah jika harus berbagi kamar mandi dengan tamu wanita yang lain.

Suatu saat saya sedang baca The Naked Traveler (lupa no berapa). Di situ mbak Trinity menceritakan tentang shared bathroom di sebuah hostel (bukan di Sg tapi), di mana yang namanya shared itu benar-benar berbagi antara laki-laki dan perempuan *AAA!!! dan kamar mandinya hanya diberi tirai yang kalo kita mandi itu bagian bawah kaki kita keliatan dari luar *AAAA!!!! >_< Ga mungkin banget bagi saya yang berjilbab ini 😦 Kemudian saya langsung mengemail BB hostel itu untuk menanyakan tentang shared bathroom di sana, dan ternyata memang benar bahwa shared itu artinya berbagi antara laki-laki dan perempuan. *hiks

Lalu saya pun segera mencari hostel lain yang kamar mandinya lebih baik. Ternyata ga ada (ada sih, tapi mahal banget). Kemudian saya nanya seorang temen cewek yang pake jilbab, waktu di Sg nginep di mana. Katanya di ABC hostel ini, kamar mandinya bersih walaupun shared. Lalu saya cari reviewnya melalui google, ternyata memang cukup bagus juga. Karena itu akhirnya saya memutuskan booking ABC hostel dan mencancel BB hostel.

Jadi, untuk kamu yang tidak nyaman dengan shared bathroom (saya juga ga nyaman sih sebenarnya, namun demi dompet yang aman sejahtera ya mau gimana lagi :(), lebih baik mencari yang attached shower tapi siap-siap bayar lebih mahal. Kalo mau tetap murah, pastiin aja hostelnya memang reliable.

Untuk pencarian penginapan bisa melalui website hostelbookers.com, tripadvisor.com, hostels.com, asia.hostels.com, asiatravel.com, dan lain-lain masih banyak lagi. But basically, you can just simply googling it. 🙂

Jadi, rincian biaya untuk booking penginapan ini adalah:
EV World Puduraya Hotel – Superior room (RM 60 per night untuk 2 orang selama 2 malam): RM 60/2×2= RM 60
ABC Backpackers Hostel – Female-only dorm (SGD 24 per night per orang selama 3 malam): SGD 24×3= SGD 72

FYI:
1. RM 1 kurang lebih IDR 3200.
2. Pembayaran EVWorld Hotel dilakukan secara cash saat check in.
3. Untuk ABC Hostel harus transfer 50% pembayaran sebagai tanda jadi booking, 50% sisanya akan dibayar cash pada saat check in.

***

Paspor udah punya, booking tiket PP udah, booking penginapan juga udah, tinggal tentuin deh mau keliling ke mana aja!
insya Allah, sampai jumpa di postingan berikutnya! 😉

 

*ini foto waktu saya transit di LCCT KL dalam perjalanan menuju Jepang tahun lalu

Bukan apa filmnya, tapi sama siapa nontonnya

Standard

Ini sebenarnya pemikiran yang sangat ga penting. Tapi yang namanya pemikiran, sayang jika tidak dituliskan. Minimal untuk dibaca ulang oleh diri sendiri suatu hari nanti, sebagai bahan pelajaran, sejauh apa diri ini telah menjadi lebih baik.

Yang diceritakan dalam postingan ini pun bukan merujuk ke satu orang tertentu, tapi beberapa orang yang memiliki karakteristik serupa. Jadi, tidak usah menebak-nebak apalagi sebut merek ya. Hehe 😀

Oke, jadi intinya mau ngomongin apa sih saya ini?

Pernah dengar ungkapan [Bukan “apa filmnya”, tapi “sama siapa nontonnya”]? Hmm, ini gombalan yang rada jadul sih sebenernya. Intinya maknanya adalah “yang membuat menyenangkan adalah teman nontonnya, bukan filmnya”. Jadi mau filmnya jelek kek, kalo nontonnya sama orang yang kita senengin, pasti jadi menyenangkan juga acara nonton tersebut. Yah begitulah kira-kira.

Dengan fenomena jejaring sosial yang makin marak akhir-akhir ini, saya menemukan ungkapan baru yang saya lihat sering terjadi, terutama di status-status facebook (atau twitter dan kawan-kawannya). Ungkapan itu adalah [Bukan “isi statusnya”, tapi “siapa yang menulisnya”].

Terkadang kita lihat seseorang yang memang punya kedudukan di suatu lembaga (sebut saja kampus :P), sering menuliskan status yang isinya buah pemikiran dia yang memang berbobot, kritis, dan komprehensif. Alhasil banyak yang nge-like (minimal 30 lah, bahkan kadang-kadang mencapai 100) dan ngomentarin. Terjadilah diskusi yang seru di komen statusnya itu. Terkadang dia menuliskan ulang pemikiran atau quote dari orang terkenal lain, seperti Ustadz Felix Siauw, Salim A Fillah, Mario Teguh, dan lain-lain. Atau terkadang juga ia menuliskan hadits-hadits. Yang nge-like juga banyak.

Ironisnya, saya pernah melihat status serupa yang dituliskan oleh orang lain (yang notabenenya kalah populer dibanding orang itu), ternyata yang nge-like dikit. Waduh, kenapa ya?

Dan lebih ironisnya lagi, pernah juga orang tersebut menuliskan status sangaaatt sederhana. Sebagai contoh “Selamat Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga dapat menjadi pribadi yang lebih baik” <– ini cuma contoh rekaan saya aja sih.

Ehh, yang nge-like juga tetep banyak, dong! Padahal yang nulis status serupa kan banyak, tapi kenapa yang di-like banyak orang cuma status orang itu?

Kemudian ketika saya membaca Al Qur’an surah Al Muzammil ayat 1-6. Yang artinya sebagai berikut:

1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari[1525], kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
5. Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.
6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Saya menjadi tersadar.

Terjemahan surah di atas jika saya rangkum, adalah sebuah seruan untuk mendirikan solat di malam hari, yang jika kita rutin melaksanakannya, maka hikmahnya akan dapat kita rasakan, yaitu pada ayat ke 5 dan 6:

5. Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.
6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Ya, Allah akan “menurunkan perkataan yang berat kepadamu”. Yang artinya, Allah akan membuat lisan kita mudah dalam mengeluarkan perkataan yang baik, bijaksana, berbobot, nancep, dalem, dll. Alhasil perkataan kita mudah didengar, disukai, dan disetujui oleh orang lain. Bahkan perkataan yang sederhana sekali pun.

Akhirnya saya menemukan jawabannya. Mungkin memang orang-orang tersebut tidak pernah lalai dalam solat malamnya. Akibatnya, Allah menganugerahkan mereka lisan yang mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah. Dan karena itulah perkataannya mudah didengar oleh orang lain.

*****

Sungguh, saya masih sangat jauh dari orang-orang tersebut.