Mimpi Setinggi Surga

Standard

“Assalamu’alaykum,” sapa adik-adik mentorku dengan senyum menghiasi wajah mereka.

“Wa’alaykum salam,” jawabku ikut tersenyum, melihat wajah-wajah ceria mereka hari ini.

Pagi ini aku akan mengisi mentoring pekanan yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis pukul 08.00 di selasar masjid kampusku. Adik-adikku berjumlah sepuluh orang, dan Alhamdulillah, semuanya telah menutup aurat dengan baik. Mereka semua masih tingkat 2 di kampus ini, perbedaan usianya 3 tahun denganku yang sudah lulus. Namun di usia mereka yang sebagian besar belum menginjak 20 tahun, sama sekali tidak terlihat keengganan dalam mengikuti “lingkaran” ini setiap pekannya. Masya Allah, sungguh hidayah hanya Allah berikan bagi yang Ia kehendaki. Dan bersyukurlah jika kita menjadi yang terpilih itu.

Kami pun bersalam-salaman satu sama lain sambil duduk membentuk lingkaran. Aku pun menanyakan kabar beberapa anggota lain yang belum hadir.

“Atika dan Farah masih di jalan, Kak. Yang lainnya, saya kurang tahu,” ujar Aulia, ketua kelompok mentoring ini.

Sambil menunggu yang belum hadir, aku membiarkan mereka mendiskusikan pelajaran. Rupanya siang nanti mereka akan UTS Matematika Teknik untuk yang pertama kalinya. Aku pun iseng-iseng melihat soal-soal yang sedang mereka kerjakan. Ternyata beberapa masih bisa aku ingat cara mengerjakannya, padahal otak ini sudah tidak dipakai untuk menghitung matriks-matriks seperti itu selama kurang lebih setahun belakangan ini. Maklum, TA-ku sama sekali tidak menggunakan prinsip-prinsip yang dulu aku pahami mati-matian ini.

Selang sepuluh menit berikutnya seluruh adik mentorku pun telah hadir. Disty yang hari ini bertugas menjadi MC pun membuka kegiatan hari ini.

“Assalamu’alaykum, teman-teman semua. Alhamdulillah kita dapat berkumpul kembali untuk melaksanakan mentoring hari ini. Segala puji bagi Allah yang telah…,” Disty pun melanjutkan pembukaan dengan kalimat yang telah menjadi template ini. Meskipun sudah berulang kali kudengar, namun berkumpul dengan adik-adik yang memiliki semangat belajar tinggi ini selalu memberikan kesenangan tersendiri bagiku. Rasanya seperti ada yang men-charge kembali setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan di laboratorium.

Seperti biasa, mentoring selalu diawali dengan tilawah dan pembacaan terjemahnya. Damai sekali mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an ditingkahi dengan kicau burung gereja di pagi hari yang sejuk serta suara sapu Pak Mamat, petugas cleaning service masjid,  menyapu daun-daun di kejauhan. Aku pun terhanyut dalam alunan ayat-ayat cinta-Nya ini.

Hingga sampai pada terjemahan sebuah ayat yang dibacakan oleh Atika,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan [yang sebenar-benarnya]. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(QS.21 Al-Anbiya:35)

Deg! Astaghfirullah, sudah begitu lama aku tidak mengingatnya. Ia yang sudah pasti datangnya. Maut..

Aku pun tercenung..

Tanpa terasa tilawah pun selesai. Kegiatan dilanjutkan dengan materi yang sudah aku persiapkan dengan baik semalam. Hari ini aku akan memberi tahu mereka sebuah rahasia. Sebuah kunci yang dapat membantu mereka mewujudkan impian-impian mereka.

“Adik-adik, kalian memiliki impian tidak?” tanyaku pada mereka.

“Iya punya dong, kak!” jawab Rika yang paling ceria dan bersemangat. Yang lain ada yang mengangguk-angguk, ada pula yang hanya mesem-mesem.

“Nah kalian pernah tidak menonton sebuah video yang menceritakan seorang pemuda yang menuliskan mimpi-mimpinya, kemudian mimpi tersebut menjadi kenyataan?” tanyaku lagi.

“Wah pernah..pernah, kak. Yang anak IPB itu bukan?” kata Aulia.

“Iya, betul sekali. Coba dong Aulia ceritain ke temen-temen isi dari video tersebut,” ujarku.

Aulia lalu menceritakan isi video tersebut, di mana ada seorang mahasiswa IPB yang menuliskan 100 mimpinya di atas kertas, lalu kertas tersebut ditempelnya di dinding kamarnya. Dan satu per satu, atas seizin Allah, mimpi-mimpi tersebut terwujud. Mulai dari menjadi mahasiswa berprestasi di kampusnya, mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Jepang, menyelam ke dasar laut, hingga menancapkan bendera merah-putih di puncak sebuah gunung di Jepang.

Aku lihat beberapa pasang mata berbinar-binar mendengar cerita itu. Aku bisa memakluminya. Aku pun merasakan yang sama saat pertama kali melihat video itu sekitar 4 tahun lalu, saat aku baru menginjakkan kaki di kampus ini. Memang video tersebut sangat memotivasi, terutama bagi mahasiswa tahun-tahun awal yang masih mencari jati diri.

“Tentu adik-adik juga ingin kan impiannya terwujud seperti pemuda tersebut? Nah kalau begitu, coba sekarang adik-adik tuliskan impian adik-adik, untuk 4 tahun ke depan saja, hingga adik-adik lulus kelak, di secarik kertas, beserta usaha yang sudah, sedang, dan akan adik-adik lakukan demi mencapai impian-impian itu,” kataku.

Aku perhatikan semua tampak bersemangat menuliskannya. Setelah lima menit berlalu, aku pun meminta mereka satu per satu membacakan apa yang telah mereka tulis.

Ada yang ingin lulus tepat waktu, ada ingin menjadi asisten lab tahun depan, ada yang ingin mendapat beasiswa S2 di luar negeri, bahkan ada yang ingin menikah sebelum lulus kuliah! Subhanallah, mimpi-mimpi yang luar biasa. Aku pun mengaminkan dalam hati.

Lalu tiba saatnya Farah, yang paling pendiam dan suaranya pelan sekali, membacakan mimpi-mimpinya.

“Kalau saya, kak, pertama tentu saya ingin masuk surga,” katanya dengan suara sayup.

Tunggu, sepertinya ia salah memahami instruksiku. Maksudku, mimpi yang harus dituliskan itu adalah mimpi 4 tahun ke depan, bukan mimpi jangka panjang seperti itu. Kemudian aku pun menyela, “Wah iya tentu saja kita semua ingin masuk surga. Kalau mimpi 4 tahun ke depannya apa, Farah?”

Lalu, masih dengan suara pelan, ia menjawab,

“Maaf kak, ini saya tulis pertama kali, karena menurut saya, kita tidak akan pernah tahu, 4 tahun ke depan, impian atau maut yang akan mendahului.”

Deg! Untuk kedua kalinya aku tertampar hari ini. Sebuah jawaban yang tak pernah kusangka akan keluar. Tidak dari ia yang biasanya hanya diam dan mendengarkan. Tidak dari ia yang jarang sekali berpendapat. Yang bahkan terkadang ditanya pun tidak mau menjawab.

Farah pun melanjutkan penjelasannya, “Saya akan tetap mengutamakan mimpi ini di atas mimpi-mimpi lainnya. Karena maut bisa datang menjemput kapan saja. Saya tidak ingin ketika ia datang, saya tidak memiliki persiapan apa-apa karena terlalu sibuk mewujudkan impian duniawi saya..”

Bodohnya aku. Bagaimana aku bisa yakin 4 tahun ke depan aku masih akan hidup. Dengan sombongnya aku memenuhi catatan impianku dengan impian-impian duniawi. Impian-impian yang begitu fana. Ingin keliling Indonesia lah, ingin keliling dunia lah. Buat apa semua tempat yang aku kunjungi itu jika pada akhirnya aku tidak dapat “mengunjungi” surga karena aku tidak mempersiapkannya dengan baik? Astaghfirullah..

Tentu saja aku tak ingin sekedar “mengunjungi” surga, aku pun ingin tinggal di dalamnya..

Dengan rasa malu aku terus mendengar pemaparan Farah mengenai mimpi-mimpinya. Aku pun tersadar, sudah seharusnya aku tuliskan “ingin masuk surga” itu di nomor 1 catatan impianku. Dan sudah seharusnya aku mempersiapkannya sedini mungkin. Sudah semestinya kujadikan ia sebagai mimpi jangka pendek dan mimpi utama, sehingga kapan pun malaikat Izrail menghampiri, aku memiliki bekal yang cukup untuk menyongsongnya.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS.3 Ali-Imran:185)

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.”
(QS. Al-Jumu’ah:8)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Munaafiquun:11)

Ya, kehidupan dunia ini hanya kesenangan sementara. Bahkan sejatinya ia memperdayakan. Sedangkan maut itu pasti datangnya, hanya misteri waktunya yang membuat kita kerap terlupa.

Gantungkanlah mimpimu setinggi langit, karena jika terjatuh, kau masih akan berada di antara bintang-bintang.
Namun gantungkanlah mimpimu setinggi surga, mungkin kau akan terjatuh di taman firdaus atau di telaga al kautsar.

Ku akhiri mentoring hari ini dengan kegalauan yang kuharap tak nampak jelas di mata adik-adik mentorku. Di kejauhan masih kudengar suara sapu Pak Mamat menyapu dedaunan yang terus saja diterbangkan angin. Aku pun berharap anganku bertemu dengan-Nya terbawa angin hingga setinggi surga.

*****

Catatan:
Cerita ini disadur dari kisah nyata yang dialami oleh penulis, dengan berbagai penyesuaian. Semua nama tokoh dan tempat di atas hanyalah fiktif belaka, kecuali tentang pemuda yang menuliskan mimpinya. Video tersebut dapat dilihat di sini:

2 responses »

  1. terima kasih, ada beberapa ayat Al Qur;an diatas membuat inspirasi dan tekad bagi saya untuk memperbaiki amal dan ibadah saya…..
    Saya secara tidak sengaja membuka laman ini, karena tadinya saya bermaksud browsing untuk mencari pengertian “Raw Fare” dalam istilah penerbangan

    Semoga ini menjadi ibadah bagi ananda….. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s