Jilbabku, Identitasku (Part 1)

Standard

International Hijab Solidarity Day kemarin membuat saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga yang sangat saya syukuri berkaitan dengan jilbab yang saya pakai ini. Sebenarnya ada 2 pengalaman, karena itu postingan ini saya bagi dalam 2 part.

Part 1: Di Kedai Mie

Peristiwa ini saya alami ketika saya dan seorang teman berkunjung ke sebuah kedai mie di suatu kota di Indonesia. Kami mengunjungi kedai ini sebenarnya karena kebetulan. Ketika itu kami baru saja menempuh perjalanan jauh, lalu kami merasa lapar dan kebetulan melewati depan kedai ini. Kedai ini memiliki merk yang cukup terkenal di masyarakat dan ketika itu ada banyak mobil yang parkir di depannya. Jadi kami menduga, pastilah mie di sini enak rasanya. Karena itu, kami memutuskan mampir untuk makan sebentar.

Begitu kami masuk, saya langsung merasakan keanehan. Memang benar kedai ini banyak pengunjungnya, tapi anehnya, kenapa semuanya bermata sipit ya. When I say “semua” here, I mean it. Bener2 semua pengunjung tanpa terkecuali, seperti berasa dari etnis yang sama. Tanpa bermaksud rasis, saya sebenarnya jadi agak khawatir. Khawatir mie di sini mengandung sesuatu yang haram (to the point aja: babi). Tapi karena sudah terlanjur masuk, kami pun langsung duduk di salah satu meja yang kosong.

Begitu melihat menu, tidak ada menu yang mencurigakan satu pun. Mie baso, mie ayam, dll, biasa saja. Tidak ada pilihan daging sapi atau babi misalnya. Ya sudah, saya dan teman saya pun memesan salah satu menu yang kayaknya namanya paling aman. Yang agak melegakannya, pegawainya tidak ada satu pun yang berwajah seperti etnis tersebut. Semuanya berwajah Indonesia asli. Tapi setelah itu, saya langsung nge-bbm salah seorang teman saya yang saya tahu pengetahuan kulinernya cukup bagus. Saya tanya, mie merk ini halal ga sih?

Mengagetkannya, teman saya pun saat itu menjawab, “Itu dia Nadine, waktu itu pernah ada isu mie di situ emang ga halal. Tapi gw ga tau kelanjutan isunya gimana.” Huaaa..kami mau nangis rasanya..Tapi udah terlanjur mesen. Harusnya sih, sebagai Muslim, kami bisa saja langsung pergi dengan bilang tidak jadi memesan. Toh ini demi mempertahankan izzah kami sebagai Muslim yang taat. Tapi entah kenapa saat itu, kami ga ada yang berani beranjak dari situ. Kami cuma celingak-celinguk merhatiin sekitar, dan pengunjung lain pun seperti menatap kami dengan pandangan aneh. Saat itu saya mikir, “duh, jangan2 ini pada ngeliatin kami gara2 mereka bingung kali yak. di sini kan mengandung babi. kenapa ini ada orang berjilbab berani masuk sini?” Haduuhh stres deh pokoknyaaa.. T_T

Ketika pesanan datang, si mbak2 (atau mas2 ya? saya lupa) sambil menaruh mangkuk kami, dia bilang, “Ini saya kasih yang halal kok, mbak, daging sapi. kuahnya juga ga mengandung babi”. Huaahh..rasanya (agak) lega..

Di satu sisi saya bersyukur, tapi di sisi lain, sepertinya kecurigaan saya ada benarnya deh. Sepertinya memang mie merk itu menyajikan juga daging ya nggak halal. Tapi alhamdulillah, karena memakai jilbab-lah, pegawainya tahu kalau saya Islam, dan karenanya saya dikasih daging yang halal.

Tapi setelah itu, saya tidak pernah pergi ke kedai itu lagi, karena kita kan tidak pernah tahu bagaimana pengolahan daging tersebut di dapurnya. Bisa saja alat2 masaknya bekas alat2 masak yang dipakai memasak babi juga. Hiii, ya Allah, ampunilah dosaku saat itu ya T_T

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Ayat Allah memang tidak pernah ada yang salah dan selalu untuk kebaikan kita umat-Nya. Karena pengalaman ini, saya benar-benar bersyukur saat itu saya telah mengenakan jilbab saya, dan karenanya saya menjadi dikenali sebagai seorang Muslimah, dan terhindar dari memakan makanan yang tidak halal.

Ini ceritaku, mana ceritamu?🙂

3 responses »

  1. Pingback: Jilbabku, Identitasku (Part 2) « Atashi no Hanashi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s